cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal
ISSN : 24069825     EISSN : 26143178     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal is a scientific open access journal in the field of aquatic sciences, published periodically (April and October) by the Institute of Research and Community Service (LPPM) Universitas Malikussaleh (Malikussaleh University) in cooperation with Marine Center Universitas Malikussaleh, Department of Aquaculture Universitas Malikussaleh and Department of Marine Science Universitas Malikussaleh. Acta aquatica are publish original research, overviews and reviews relating to aquatic environments (wetlands, freshwater and marine waters) and the border limits of these environmental systems and the impacts of human activities on the environmental systems. Acta Aquatica has a related studies in aquatic bioecology, aquaculture, hydrology, biodiversity of aquatic biosphere, oceanology, exploitation and exploration technology of aquatic resources, fisheries product technology, aquatic microbiology, aquatic modeling, aquatic geographic information systems, and socio-economic of aquatic resources.
Arjuna Subject : -
Articles 341 Documents
Komunitas makrozoobentos dan kaitannya dengan kualitas air aliran sungai Senggarang, Kota Tanjungpinang Safitri, Aknes; Melani, Winny Retna; Muzammil, Wahyu
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 2 (August, 2021)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v8i2.4782

Abstract

Senggarang is one of the coastal villages in Tanjungpinang City which has a river that flows from the upstream downstream into the sea. The flow of the Senggarang river has distinctive characteristics that are commonly found in small island waters, namely having a relatively short upstream to downstream distance, and the downstream part is influenced by tidal conditions. Various activities along the Senggarang river flow would cause changes in water quality which would impact the presence of macrozoobenthic. The objective of this study was to determine the relationship between the macrozoobenthic community and the water quality of the Senggarang river. Macrozoobenthic sampling, and environmental parameters were carried out using random sampling methods. The results of this study were obtained 27 species from 6 phylum, namely phylum Arthropoda 13 species, phylum Ciliophora 3 species, phylum Echinodermata 1 species, phylum Mollusca 4 species, phylum Nematoda 5 species, and phylum Tardigrada 1 species. The average macrozoobenthic density is 172 ind./ m3 for freshwater and 704 ind./ m3 for brackish waters. The average diversity value for freshwater is 1.29 and 2.16 waters with medium salinity, the average uniformity value of 0.85 freshwater and 0.94 of high in brackish waters, the average dominance value of 0.32 freshwater and 0.13 of low in brackish waters. The relationship of macrozoobenthos with the quality of freshwater based on PCA analyses related to temperature and dissolved oxygen, in brackish waters to temperature, dissolved oxygen, and current.Keywords: Macrozoobenthic community, PCA, River flow, Water quality
Kelembagaan pengelolaan ekowisata mangrove di Pantai Bali Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara Muhtadi, Ahmad; Sitohang, Pesta Saulina
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 3: No. 1 (April, 2016)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v3i1.335

Abstract

Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata mangrove dapat dilakukan dalam bentuk kelembagaan yang dibangun berbasis masyarakat. Kelembagaan dapat berupa  organisasi atau wadah (players of the game) dan aturan main (rules of the game) yang mengatur kelangsungan organisasi maupun kerjasama antara anggotanya untuk mencapai tujuan bersama. kajian ini diperlukan untuk membuat suatu model atau pola pengelolaan ekowisata mangrove berbasis masyarakat. Kajian ini dilakukan di ekowisata mangrove di Pantai Bali, Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara. Data yang dikumpulkan adalah kondisi sosial-ekonomi  dan kelembagaan masayarakat sekitar serta karakteristik pengunjung. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif terrhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Analisis kelembagan mengacu pada konsep kelembagaan dari Taryono (2009) dan Ruddle (1998). Hasil yang diperoleh adalah karakteristik usia masyarakat yang banyak memanfaatkan Pantai Bali tertinggi pada usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 54%. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekowisata  mangrove, diperoleh 80%. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dilapangan diperoleh hasil karakteristik usia pengunjung yang paling banyak pada kisaran 20-29 tahun dengan latar belakangg pendidikan SLTA sebesar 65%. Saat ini terjadi dualisme pengelolaan mangrove antara masyarakat sekitar dengan PT. Obor. Perbaikan dalam struktur organisasi pengelolaan minawana menjadi langkah pertama dalam perbaikan pengelolaan. Oleh karena itu, pemerintah tentunya perlu memberikan kewewenangan terhadap Kelompok Tani Hutan sebagai organisasi resmi yang mengatur pengelolaan dilapangan. Langkah selanjutnya adalah perbaikan pengelolaan minawana adalah perbaikan dalam aturan main dalam pengelolaan. Aturan main ini terkait dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap pengelolaan minawana. Selain itu, tentunya sanksi atau imbalan apa yang diperoleh jika melanggar aturan yang ditetapkan.Community involvement in the management of mangrove ecotourism can be done in the form of community-based institutions are built. Institutions may be in an organization or container (players of the game) and rules (rules of the game), which regulates the survival of the organization as well as the cooperation between members to achieve a common goal. This study is required to make a model or pattern of mangrove community-based ecotourism management. The study was conducted in the mangrove eco-tourism in Bali Beach, District Talawi Coal County. The data collected is the socio-economic and institutional surrounding communities as well as the characteristics of the visitors. Data was analyzed using descriptive analysis terrhadap socio-economic conditions of society. Institutional analysis refers to the institutional concept of Taryono (2009) and Ruddle (1998). The results obtained are characteristic of the age of the people who are making use of the highest Bali Beach at the age of 20-29 years is 54%. Community involvement in ecotourism activities mangrove, gained 80%. Based on interviews conducted in the field result age characteristics of the visitors most in the range of 20-29 years old with a high school education background belakangg by 65%. When this happens the dualism between the surrounding community mangrove management with PT. Torch. Improvements in management organizational structure minawana be the first step in improving the management. Therefore, the government would need to give the authority to the Forest Farmers Group as an official organization governing the management field. The next step is to improve management of minawana is an improvement in the management rules. This rule is related to what can and can not do against minawana management. In addition, of course, sanctions or rewards what is gained if it violates the rules set.
Pengaruh penurunan salinitas terhadap laju konsumsi oksigen dan pertumbuhan ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina) Khalil, Munawar; Mardhiah, Ainol; Rusydi, Rachmawaty
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 2: No. 2 (October, 2015)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v2i2.720

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penurunan salinitas terhadap laju konsumsi oksigen dan pertumbuhan ikan kerapu lumpur (E. tauvina). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 April sampai 22 Mei 2015 di Laboratorium Hatchery dan Teknologi Perikanan Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tiga ulangan dan dilanjutkan dengan Tukey jika terdapat perbedaan. Perlakuan yang diberikan yaitu : perlakuan A (27 ppt), B (24 ppt), C (21 ppt), D (18 ppt) dan E (15 ppt). Parameter yang diamati adalah laju konsumsi oksigen, pertambahan bobot, pertambahan panjang dan kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi oksigen tertinggi terdapat pada pelakuan  E (15 ppt) yaitu 0,987±0,085 mgO2/gr/jam dan terendah pada perlakuan A (27 ppt) yaitu 0,612±0,033 mgO2/gr/jam. Pertambahan bobot, panjang dan kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan B (24 ppt) yaitu masing-masing sebesar 1,231±0,153 gram, 0,970±0,083 cm dan 90,476 %. Selama penelitian ini suhu bekisar antara 26,9 - 29 oC, pH 6,8 - 8,2 dan DO 6,8 - 8,1 mg/ L.The purpose of this study was to determine the effect of salinity reduction in the rate of oxygen consumption and growth grouper (E. tauvina). The research was conducted on April 22 to May 22, 2015. The research was conducted at the Laboratory of Aquatic Hatchery and Technology, Department of Aquaculture Faculty of Agriculture, University Malikussaleh. The study design used was completely randomized design (CRD) with three replication and five treatments followed by Tukey if there is a difference. The treatments were as follow: treatment A (27 ppt), B (24 ppt), C (21 ppt), D (18 ppt) and E (15 ppt). Parameters measured were oxygen consumption rate, weight gain, length and survival rate. The results showed that oxygen consumption is highest in the carrying out of  E (15 ppt) is 0,987±0,085 mgO2/gr/h and the lowest in treatment A (27 ppt) is 0,612±0,033 mgO2/gr/h. Weight gain, length and survival rate is highest in treatment B (24 ppt) are respectively 1,231±0,153 gr, 0,970±0,083 cm and 90,476 %. During this study the temperature ranged between 26,9 - 29 oC, pH 6,8-8,2 and DO 6,8-8,1 mg/L.
Infestation rate and impacts of Epipenaeon ingens on growth and reproduction of brown shrimp (Penaeus aztecus) Gokoglu, Mehmet; Teker, Serkan; Korun, Jale
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 7: No. 1 (April, 2020)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v7i1.2091

Abstract

In this study, 515 Farfantepenaeus aztecus specimens were investigated in the Gulf of Antalya and 304 (59,02%) specimens (167 females and 137 males) infested with Bopyrid isopod parasite Epipenaeon ingens were found. In this study, we aimed to define the rate of infestation and its impact on survival rate and growth rate. Relationship of length- weight and condition factor values were lower in infested specimens compared to non-infested ones. While gonadal development was observed in different stages of non-infested female specimens, no gonadal development was observed in any infested specimens. Moreover, darker color and harder shell structure were observed in parasitized shrimps. During this research, infestation onto P. semisulcatus and P. kerathurus had been seen rarely.Keywords: Gulf of Antalya; Epipenaeon ingens, Farfantepenaeus aztecus; growth; reproduction
Isolasi dan karakterisasi bakteri potensial probiotik pada saluran pencernaan ikan bandeng (Chanos chanos) Ginting, Sara Silva Beru; Suryanto, Dwi; Desrita, Desrita
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 5: No. 1 (April, 2018)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v5i1.390

Abstract

Bandeng (Chanos chanos) adalah ikan ekonomi penting yang dibudidayakan di tambak air payau. Bandeng relatif tahan terhadap penyakit yang mungkin disebabkan oleh bakteri usus terkait untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit. Di usus bandeng dilakukan pengamatan untuk mendapatkan bakteri probiotik potensial untuk dikembangkan sebagai probiotik. Beberapa pengamatan morfologi seperti bentuk dan warna sel dan uji biokimia seperti pati, hidrolisis kasein dilakukan. Uji antagonistik dari isolat bakteri potensial dilakukan pada Aeromonas hydrophila. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni hingga September 2017 di Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas 1 Medan, Kuala Namu. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri probiotik potensial dalam saluran pencernaan ikan bandeng adalah Staphylococcus spp. (UIM01), Micrococcus sadentarius (UIM02), Lactobacillus acidophillus (LIM01) dan Micrococcus lylae (LIM02). Bakteri ini menunjukkan aktivitas menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophila hingga rendah meluas.Milkfish (Chanos chanos) is an important economic fish that is cultured in brackish water ponds. Milkfish is relatively resistant to diseases that may be caused by associated gut bacteria to improve health and prevent from disease. In the gut of milkfish was screened to obtain potential probiotic bacteria to be developed as probiotic. Some morphological observation such as shape and color of cell and biochemical test such as starch, casein hidrolysis were conducted. Antagonistic test of the potential bacteria isolate was done to Aeromonas hydrophila. This study was conducted from June to September 2017 in Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas 1 Medan, Kuala Namu. The result indicated that potential probiotic bacteria in the digestive tract of milkfish were Staphylococcus spp. (UIM01), Micrococcus sadentarius (UIM02), Lactobacillus acidophillus (LIM01) and Micrococcus lylae (LIM02). These bacteria showed to inhibiting growth of Aeromonas hydrophila for low extend.
Penambahan Kalsium Tulang Ikan Kambing-kambing (Abalistes stellaris) pada pakan untuk keberhasilan gastrolisasi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) Restari, Ade Rizki; Handayani, Lia; Nurhayati, Nurhayati
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 6: No. 2 (October, 2019)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v6i2.1560

Abstract

AbstrakUdang galah mengalami pertumbuhan setelah molting, untuk pengerasan kulit udang membutuhkan kalsium. Tulang ikan kambing-kambing mengandung banyak kalsium sehingga dapat mempercepat proses pengerasan kulit pada udang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penambahan kalsium tulang ikan kambing-kambing dapat meningkatkan pertumbuhan dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan penambahan resirkulasi sebagai media dalam pemeliharaan kualitas air yang perlakuannya sebanyak empat perlakuan dan tiga ulangan yang terdiri dari A (0% CaO), B(1% CaO), C (2% CaO) dan D (3% CaO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kalsium berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup udang galah yaitu A 90%, B 95%, C 90% dan D 97.5% dan pertumbuhan berat harian pada masing-masing perlakuan yaitu A 1.76 g, B 1.72 g, C 1.60 g, dan D 1.86. Pertumbuhan panjang harian yaitu A 1.23 cm, B 1.26 cm, C 1.23 cm dan D 1.06 cm dengan frekuensi molting udang galah tertinggi yaitu C 0.75 kali/ekor, D 0.63 kali/ekor, A 0.59 kali/ekor dan yang terendah pada perlakuan B 0.45 kali/ekor.Kata kunci: kalsium; kelangsungan hidup; pertumbuhan; udang galahAbstractGiant shrimp growth after the molting process, for hardening shrimp shell requires calcium. Kambing-kambing fish bones contains lots of calcium so that they do accelerate the process of hardening the shell-on shrimp. This study was conducted to detect addition of kambing-kambing fish bone calcium get increase the growth and the molting frequency of giant shrimp. This study used was Completely Randomized Design (CRD) with additions recirculation system as media a medium in maintaining water quality with four treatments and three replications consist is A (0% CaO), B (1% CaO), C (2% CaO) and dan D (3% CaO). The results showed that real participation in the survival of giant prawns, namely A 90%, B 95%, C 90% dan D 97.5% and daily weight growth in each treatment that is A 1.76 g, B 1.72 g, C 1.60 g, and D 1.86. Daily long growth that is A 1.23 cm, B 1.26 cm, C 1.23 cm and D 1.06 cm by means of molting frequency of giant shrimp has the highest of C 0.75 times/tail, D 0.63 times/individual, A 0.59 times/ individual and the lowest is by treatment B 0.45 times/ individual.Keywords: calcium; survival rate; growth; giant prawn
Gastropoda test family of Neritidae as bioindicator to health status of mangrove forest Pulau Tunda Serang Banten, Indonesia Anggraini, Rika; Syahrial, Syahrial; Karlina, Ita; Mariati, Wandesi; Saleky, Dandi; Leni, Yusyam
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 1 (April 2021)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v8i1.3829

Abstract

Uji gastropoda famili Neritidae terhadap habitatnya di ekosistem mangrove dilakukan di dua stasiun pengamatan di Pulau Tunda Serang Banten pada Januari 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis gastropoda famili Neritidae terhadap kesehatan hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten. . Pengumpulan data kondisi gastropoda famili Neritidae dilakukan dengan menggunakan plot berukuran 1 x 1 m dan dipasang pada plot transek vegetasi mangrove berukuran 10 x 10 m, dimana transek garis dan plot vegetasi mangrove ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove bagian luar) dan tegak lurus terhadap garis pantai ke daratan.Kemudian keanekaragaman, dominansi, dan keseragaman gastropoda famili Neritidae dan hutan bakau Pulau Tunda Serang Banten dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Weaver. Indeks dominasi Simpson dan indeks keseragaman Shannon-Weaver. Sedangkan hubungan kerapatan gastropoda famili Neritidae dan kerapatan hutan bakau Pulau Tunda Serang Banten dilakukan dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan gastropoda famili Neritidae lebih tinggi dan lebih banyak ditemukan di mangrove kerapatan tinggi. Kemudian keanekaragaman dan dominasi gastropoda famili Neritidae rendah, sedangkan keseragamannya dalam keadaan seimbang.Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi kerapatan hutan mangrove maka kerapatan gastropoda famili Neritidae juga semakin tinggi, sehingga gastropoda famili Neritidae dapat digunakan sebagai bioindikator dalam menentukan kesehatan hutan mangrove.Sedangkan hubungan kerapatan gastropoda famili Neritidae dan kerapatan hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten dilakukan dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan gastropoda famili Neritidae lebih tinggi dan lebih banyak spesies ditemukan pada mangrove kerapatan tinggi. Kemudian keanekaragaman dan dominasi gastropoda famili Neritidae rendah, sedangkan keseragamannya dalam keadaan seimbang. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi kerapatan hutan mangrove maka kerapatan gastropoda famili Neritidae juga semakin tinggi, sehingga gastropoda famili Neritidae dapat digunakan sebagai bioindikator dalam menentukan kesehatan hutan mangrove. Sedangkan hubungan kerapatan gastropoda famili Neritidae dan kerapatan hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten dilakukan dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan gastropoda famili Neritidae lebih tinggi dan lebih banyak spesies ditemukan pada mangrove kerapatan tinggi. Kemudian keanekaragaman dan dominasi gastropoda famili Neritidae rendah, sedangkan keseragamannya dalam keadaan seimbang. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi kerapatan hutan mangrove maka kerapatan gastropoda famili Neritidae juga semakin tinggi, sehingga gastropoda famili Neritidae dapat digunakan sebagai bioindikator dalam menentukan kesehatan hutan mangrove. Kemudian keanekaragaman dan dominasi gastropoda famili Neritidae rendah, sedangkan keseragamannya dalam keadaan seimbang. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi kerapatan hutan mangrove maka kerapatan gastropoda famili Neritidae juga semakin tinggi, sehingga gastropoda famili Neritidae dapat digunakan sebagai bioindikator dalam menentukan kesehatan hutan mangrove. Kemudian keanekaragaman dan dominasi gastropoda famili Neritidae rendah, sedangkan keseragamannya dalam keadaan seimbang. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi kerapatan hutan mangrove maka kerapatan gastropoda famili Neritidae juga semakin tinggi, sehingga gastropoda famili Neritidae dapat digunakan sebagai bioindikator dalam menentukan kesehatan hutan mangrove.
Uji toksisitas serbuk daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terhadap benih ikan nila (Oreochromis niloticus) Ezraneti, Riri; Fajri, Nurul
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 3: No. 2 (October, 2016)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v3i2.325

Abstract

Ikan nila merupakan ikan yang hidup di air tawar, mudah dikembangbiakkan dan toleransinya tinggi terhadap perubahan lingkungan. Namun apabila lingkungan perairan mengalami penurunan kualitas akibat adanya pencemaran limbah baik organik maupun anorganik, maka organisme patogen seperti bakteri akan mudah berkembangbiak dan menyebabkan penyakit pada ikan. Phaleria macrocarpa adalah satu dari bahan antibiotik alami yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit pada ikan. Penelitian ini dilakukan pada janurai 2016 di laboratorium hatchery dan teknologi akuakultur programstudi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas P. Macrocarpa terhadap benih ikan Nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LC50 96 jam P. macrocarpa adalah 186.64 mg/l dan konsentrasi aman untuk benih ikan Nila adalah 18.664 mg/l.Tilapia is fresh water fish that easy to culture and tolerant to environmental change. But if the water quality decreased because organic and anorganic waste, pathogen organism easy to growth like bacteria and make disease to the fish. Phaleria macrocarpa is one of herbal antibiotic that can use for treat fish disease. This research was conducted on January 2016 held at the Laboratory of Hatchery and Aquaculture Technology Aquaculture departement, Agriculture Faculty Malikussaleh University. The purpose of this study was to determine the P. macrocarpa toxcicity to tilapia (Oreochromis niloticus). This research used experimental method namely a completely randomized design (CRD) non factorial with five treatments within three replications. The results showed that the P. macrocarpa gave different and changes in clinical symptoms on fish for 4 days. The concentration of P. macrocarpa showing LC50 186.64 mg/l for 96 hours and safe concentration of the P. macrocarpa for tilapia is 18.664 mg/l.
RETRACTED: Pengaruh metode perebusan terhadap uji fitokimia daun mangrove Excoecaria agallocha Puspitasari, Dian; Desrita, Desrita
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 6: No. 1 (April, 2019)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v6i1.1046

Abstract

AbstrakFollowing a rigorous and careful concerns and consideration in the review of the article published in JActa Aquatica entitled Pengaruh metode perebusan terhadap uji fitokimia daun mangrove Excoecaria agallocha Vol 6, No 1, pp. 28-31, April 2019, DOI: https://doi.org/10.29103/aa.v6i1.1046This paper has been found to violate the  principles of Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal publication and has been retracted. The article has been drawn by the Author. The document and its content have been removed from Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, and reasonable effort should be made to remove all references to this article.   
Komunitas fauna makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu: faktor lingkungan, distribusi, ekologi komunitas, pola sebaran dan hubungannya Syahrial, Syahrial; Larasati, Chandrika Eka; Saleky, Dandi; Isma, Muhammad Fauzan
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 7: No. 2 (October, 2020)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v7i2.2456

Abstract

AbstrakMangrove sangat penting bagi kehidupan biota pesisir dan laut, dimana telah mengalami kerusakan dan juga telah dilakukan rehabilitasi. Kajian komunitas fauna makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu berdasarkan faktor lingkungan, distribusi, ekologi komunitas, pola sebaran dan hubungannya telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengetahui faktor lingkungan, distribusi, ekologi komunitas, pola sebaran serta hubungannya. Faktor lingkungan diukur secara in situ, sedangkan fauna makrozoobentosnya dikumpulkan dengan transek garis dan plot. Kemudian ekologi komunitas fauna makrozoobentosnya dilihat berdasarkan indeks keanekaragaman, dominansi maupun keseragaman, sedangkan pola penyebarannya dianalisis dengan indeks morisita serta hubungan antara faktor lingkungan, ekologi komunitas dan pola penyebarannya dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Faktor lingkungan yang diukur tidak begitu berbeda dan juga tidak melebihi baku mutu. Sebanyak 6 spesies dengan 3 kelompok fauna makrozoobentos telah ditemukan di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Kemudian indeks keanekaragaman maupun keseragamannya tergolong rendah, dominansinya tergolong tinggi dan pola penyebarannya tergolong seragam (uniform). Selain itu, hubungan antara faktor lingkungan (suhu, salinitas dan DO perairan) dengan indeks keanekaragaman maupun keseragaman berkorelasi positif, sedangkan hubungan antara faktor lingkungan dengan indeks dominansinya berkorelasi negatif. Kemudian korelasi antara faktor lingkungan dengan pola penyebaran berkorelasi positif (membentuk kelompok) dan korelasi antara ekologi komunitas (keanekaragaman dan keseragaman) dengan pola penyebarannya juga berkorelasi positif serta membentuk kelompok.Kata kunci: fauna makrozoobentos; reboisasi mangrove; faktor lingkungan; distribusi; ekologi komunitas; pola sebaran; Kepulauan SeribuAbstractMangrove ecosystems are essential for the life of coastal and marine biota, which have been damaged and have been reforested. Study macrozoobenthos fauna community in mangrove reforestation area of Kepulauan Seribu was conducted in March 2014. This aimed to assess the relationship between environmental factors, distribution, ecology, and distribution patterns of the macrozoobenthos fauna community. The environmental factors were measured in situ, and macrozoobenthos was collected using line and plot transect. The ecology of macrozoobenthos fauna was analyzed based on diversity, uniformity, and dominance index. Distribution patterns were analyzed using Morisita index, and their relationships were analyzed using linear regression. Six species from 3 groups were found in this area. Diversity and uniformity index was classified low, dominance index was high, and the distribution patterns were relatively uniform. In addition, the relationship between the environmental factors (temperature, salinity, and DO) with diversity and uniformity index were positively correlated, and relationship between the environmental factors with dominance index were negatively correlated. The correlation between environmental factors with distribution patterns were positive (form groups), and the correlation between community ecology with distribution patterns were positive.Keywords: community ecology; distribution; Kepulauan Seribu; mangrove reforestation; macrozoobenthos fauna

Page 6 of 35 | Total Record : 341


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Acta Aquatica, Vol. 12: No. 3 (December, 2025) Acta Aquatica, Vol. 12: No. 2 (August, 2025) Acta Aquatica, Vol. 12: No. 1 (April, 2025) Acta Aquatica, Vol. 11: No. 3 (December, 2024) Acta Aquatica, Vol. 11: No. 2 (August, 2024) Acta Aquatica, Vol. 11: No. 1 (April, 2024) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 10: No. 3 (December, 2023) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 10: No. 2 (August, 2023) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 10: No. 1 (April, 2023) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 9: No. 3 (December, 2022) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 9: No. 2 (August, 2022) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 9: No. 1 (April, 2022) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 3 (December, 2021) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 2 (August, 2021) Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 1 (April 2021) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 7: No. 2 (October, 2020) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 7: No. 1 (April, 2020) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 6: No. 2 (October, 2019) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 6: No. 1 (April, 2019) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 5: No. 2 (October, 2018) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 5: No. 1 (April, 2018) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 4: No. 2 (October, 2017) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 4: No. 1 (April, 2017) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 3: No. 2 (October, 2016) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 3: No. 1 (April, 2016) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 2: No. 2 (October, 2015) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 2: No. 1 (April, 2015) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 1: No. 1 (October, 2014) More Issue