cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011" : 18 Documents clear
EFFECTS OF ORAL CLEAR KEFIR PROBIOTICS ON GLYCEMIC STATUS, LIPID PEROXIDATION, ANTIOXIDATIVE PROPERTIES OF STREPTOZOTOCIN INDUCED HYPERGLYCEMIA WISTAR RATS ., Judiono; ., Djokomoeljanto; S, Hadisaputro
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.95

Abstract

Hyperglycemia causes excessive free radicals, may increase reactive oxygen species, lipid peroxidation, and reduced antioxidants as well as dysfuntion of the pancreatic β cells. This study was aiming to investigate the effect of oral Clear kefir probiotic on glycemic status, lipid peroxidation and antioxidantive properties of Streptozotocin induced hyperglycemia Wistar Rats. The randomized pretest - posttest control group study design was conducted in 84 malehyperglycemia Wistar rats induced by 40 mg / kg bw streptozotocin (STZ) dissolved in 0,1 M buffer citrate pH 4,5. Rats were randomized into four groups, namely: (1) STZ-induced animals group and given insulin treatment UI/200 0.76 g bw, (2) STZ-induced animals group and given treatment clear kefir 3.6 cc/200 g bw/day for 30 days, (3) STZ-induced animalsgroup as a positive control (ad libitum), (4) normal animals group as a negative control (ad libitum).Blood glucose was measured by enzymatic method. Lipid peroxidation measured of MDA-TBARs by spectrophotometry. SOD and GPX Antioxidants were measured by ELISA. Catalase was measured by spectrophotometry. Probiotics Clear kefir characterization was done by microbiology identification. Data were analyzed by One Way Anova, Kruskall Walis, Duncan, Mann Whitneytest with significance level p 0.05. The result showed that clear kefir supplementation 3.6 cc / day for 30 days administration, affected on blood glucose, MDA and increased antioxidant capacity. Statistical analysis showed that there were respectively decreased of glucose (p0.001), MDA (p0.001). SOD antioxidant capacity was increased (0,05), in addition GPx and Cat were also inceased(p0,001), except in control groups. Probiotics kefir was found as many as 10(6)-10(9) cfu / mL and declined to 10(5) as the decrease in pH during storage, four species of probiotics were detected, such as: Lactobacillus Sp, Sp Lactococcus and Acetobacter and Saccharomyces Sp.In conclusion, kefir supplementation significantlydecreased the blood glucose level, level of MDA and increased of antioxidants capacity. The number of probiotics declined during storage.It is interesting to identify a potential clear kefir probiotics in a pathogenesis of the β cells pancreatic repair and stability product during storage for future study. Keywords: probiotic, hyperglycemia, free radicals, lipid peroxidation, antioxidant
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIS GAKI Puspitasari, Fithia Dyah; Sudargo, Toto; Gamayanti, Indria Laksmi
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.101

Abstract

Lebih dari sepertiga (36,1%) anak di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah. Pada sisi yang lain penelitian-penelitian di negara berkembang lebih mengutamakan faktor kesehatan dibandingkan faktor pengasuhan orangtua sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan fungsi kognitif seorang anak. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan faktor sosiodemografi dengan kemampuan  kognitif  anak  sekolah  dasar  di  daerah  endemis  GAKI.  Rancangan  penelitian  adalah  cross sectional. Subyek adalah anak usia 9-12 tahun yang bersekolah di daerah Kismantoro yang merupakan daerah endemis GAKI sedang. Sebanyak 69 anak sekolah dasar dipilih secara  simple random sampling untuk ikut serta dalam penelitian ini. Data sosiodemografi diperoleh lewat angket sedangkan data status gizi diperoleh lewat pengukuran antropometri secaralangsung.  Inform Consentdidapatkan dari masingmasing keluarga subyek. Hasil analisa bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizidengan  kemampuan  verbal  (p= 0,037)  dan  kemampuan  kognitif  total  subyek  (p=  0,021).  Subyek  yang mengalami  stunted memiliki  risiko  9,226  kali  lebih  besar  untuk  memiliki  nilai  IQ  dibawah  rata-rata dibandingkan  subyek  yang  berstatus  gizi  normal.  Hubungan  yang  signifikan  juga  ditunjukkan  oleh variabel lama pendidikan orangtua terhadap seluruh  aspek kemampuan kognitif (p  0,000-0,009). Setelah dilakukan  uji  multivariat  diketahui  bahwa  hanya  lama  pendidikan  orangtua  yang  tetap  berhubungan secara signifikan terhadap kemampuan kognitif subyek. Kemampuan kognitif total dan kemampuan verbal subyek dipengaruhi oleh lama pendidikan ibu. Sedangkan lama pendidikan ayah memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan non verbal subyek penelitian. Untuk itu, para orangtua harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya untuk mendukung perkembangan kemampuan kognitif anaknya. Kata kunci: status gizi, faktor sosiodemografi, kemampuan kognitif, anak sekolah dasar
HUBUNGAN STRES KERJA, STATUS GIZI, DAN SINDROM METABOLIK PADA KARYAWAN LAKI-LAKI DEWASA Sutadarma IWG; Purnawati S; Ruma IMW
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.96

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres kerja dan status gizi dengan risiko sindrom metabolik pada karyawan laki-laki dewasa. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada karyawan bank X di kota Denpasar. Sebanyak 32 orang ikut serta dari 35 orang karyawan laki-laki dewasa yang memenuhi kriteria penelitian. Data yang diambil meliputi usia, aktivitas fisik, merokok, minum alkohol, indeks massa tubuh, lingkar lengan atas, lingkar perut, tebal lemak trisep, tebal lemak suprailiaka, kadar glukosa puasa, HDL dan trigliserida. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan batas kemaknaan 5%. Median usia subyek penelitian adalah 42 (25-46)tahun dengan rerata IMT adalah obese I (27,49 kg/m2). Median tingkat stres subyek penelitian adalah ringan (nilai 62,5) dengan indeks aktivitas fisik tergolong kategori cukup. Didapatkan hubungan negatif lemah antara tingkat stres dengan sindrom metabolik yang secara statistik tidak signifikan.Didapatkan hubungan negatif sedang antara berat badan (p=0,025), tinggi badan (p=0,003) dan tebal lemak suprailiaka (p=0,014) dengan kadar HDL yang secara statistik signifikan.Didapatkan hubungan positif kuat antara lingkar perut dan kadar trigliserida yang secara statistik signifikan (p=0,035). Didapatkan hubungan positif sedang antara berat badan (p=0,024), IMT (p=0,018) dan lingkar perut (p=0,009) dengan rasio trigliserida dan HDL yang secara statistik signifikan dimana rasio tersebut merupakan indikator pembentukkan plak aterosklerosis. Hubungan status gizi dengan risiko sindrom metabolik secara statistik signifikan namun belum dapat dikatakan mendukung secara klinis karena minimal tiga faktor risiko harus terpenuhi.Kata kunci: laki-laki dewasa, stres, status gizi, sindrom metabolik
PENGARUH SUPLEMENTASI ZAT GIZI MIKRO TERHADAP STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA SISWA SLTP Dewi Permaesih; Fitrah Ernawati; Endi Ridwan; Sihadi .; Sukati Saidin
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.97

Abstract

Penelitian status gizi siswa sekolah lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa prevalensi anemia, yang dapat menyebabkan turunnya konsentrasi belajar, dan kurang vitamin A, yang dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, masih cukup tinggi, sehingga menjadi kendala dalam upaya mengoptimalkan prestasi belajar. Keadaannya semakin buruk jika kedua masalah ini diderita secara bersama-sama oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak suplementasi zat gizi mikro (Fe dan Vitamin A)terhadap perbaikan status besi dan status vitamin A. Penelitian dilaksanakan pada 150 siswa anemia yang tinggal di kabupaten Bogor. Data yang dikumpulkan meliputi: identitas siswa, kadar Hb, s-transferin, vitamin A serum (retinol), konsumsi makanan/zat gizi dan energi. Sebelum pemberian suplemen, dilakukan “deworming” dengan pemberian obat cacing dosis tunggal “Combantrin”. Sampel dibagi tiga kelompok, masing-masing 50 siswa. Pada kelompok A setiap siswa mendapat satu pil besi (ferro sulfat) dengan dosis 60 mg besi elemental +0,25 mg asam folat dan kapsul vitamin A (10.000 SI) dua kali per minggu. Kelompok B hanya mendapat satu pil besi seperti pada kelompok A, diberikan dua kali per minggu. Kelompok C adalah kelompok pembanding yang mendapat plasebo. Suplementasi berlangsung selama 12 minggu. Pemberian suplemen satu pil besi (60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat) dan vitamin A (10.000 SI) disertai pemberian snack mengandung energi (15% AKG), dua kali per minggu selama 12 minggu dapat memeningkatkan kadar Hb sebesar 1,40 g/dl, serum transferrin receptor (sTFR) sebesar – 1,0 µg/L, serum vitamin A (retinol) sebesar 6,1 µg/dl. Tidak ada perbedaan bermakna konsumsizat gizi (energi dan protein) sebelum dan sesudah pemberian suplementasi.Kata kunci: vitamin A, zat besi, siswa, anemia, KVA
PERBEDAAN POLA PERTUMBUHAN TINGGI BADAN, TINGGI DUDUK, INDEKS SKELIK ANTARA ANAK-ANAK DAERAH RURAL DAN URBAN USIA 7-15 TAHUN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Bayu Wijanarko; Neni Trilusiana Rahmawati; Toto Sudargo
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.103

Abstract

Status  gizi  merupakan  salah  satu tolok  ukur  yang  sering  digunakan  untuk  menilai  perkembangan  dan pertumbuhan individu. Salah satu indikator penilaian status gizi adalah pertumbuhan tinggi badan pada anak-anak.  Tinggi  badan  sering  digunakan  sebagai  indikator  karena  mudah  diukur  dan  diamati.  Tinggi badan  merupakan  hasil  penambahan  tinggi  duduk  dan  panjang  tungkai.  Pertumbuhan  indikator  ini dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor  diantaranya  lingkungan  tempat  tinggal  dan  status  ekonomi.  Daerah rural,  umumnya  memiliki  tingkat  aktivitas  yang  tinggi  dan  mempunyai  penghasilan  rata-rata  yang  lebih rendah  dibandingkan  daerah  urban.  Penelitian  bertujuan  mengkaji  perbedaan  pola  pertumbuhan  tinggi badan, tinggi duduk, dan indeks skelik pada anak-anak rural dan urban di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan rancangan  crosssectional. Rata-rata tinggi badan, tinggi duduk, dan indeks  skelik pada anak rural dibandingkan dengan anak  urban  untuk  mengetahui  signifikansi  perbedaannya.  Analisis  data  yang  digunakan  adalah  ANOVA satu arah dengan menggunakan program olah data SPSS. Sebelum dilakukan tes ANOVA, terlebih dahulu dilakukan uji normalitasan distribusi data sampel penelitian. Hasil studi menunjukkan bahwa pada anak urban memiliki rata-rata tinggi badan dan tinggi duduk yang lebih tinggi dibandingkan anak rural (p0,05). Rata-rata  indeks  skelik  pada  anak  urban  lebih  besar dibandingkan  anak  rural.  Lonjakan  pertumbuhan terjadi  paling  cepat  pada  saat  pubertas,  dan  anak  urban  memiliki  onset  terjadinya  pubertas  yang  lebih cepat  dibandingkan  rural.  Kesimpulan:  Pada  studi  ini  adalah  anak  urban  memiliki  onset  pubertas  yang lebih cepat dibandingkan anak rural. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah status ekonomi, ketersedian pelayanan kesehatan yang memadai, kecepatan maturitas, dan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.Kata kunci: tinggi badan, tinggi duduk, indeks skelik
HUBUNGAN ANTENATAL CAREDENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI INDONESIA (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) Fitrah Ernawati; Djoko Kartono; Dyah Santi Puspitasari
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.98

Abstract

Prevalensi BBLR di Indonesia cukup tinggi mencapai 11,5 persen (Riskesdas 2007). Berat badan lahir sangat berpengaruh terhadap status kesehatan di masa dewasa. Berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir kurang dari 2500 gr, berkorelasi erat dengan penyakit degenerative diusia dewasa (Barker 1998). Tujuan penelitian adalah meneliti hubungan kunjungan antenatal dengan berat badan lahir di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjutdata Riskesdas 2010. Sampel penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai anak usia satu tahun ke bawah yang mempunyai data berat badan lahir dari sampel Riskesdas 2010. Jumlah sampel 2926 anak usia kurang dari satu tahun. Variabel yang diteliti meliputi: ANC, paritas, umur ibu saat melahirkan, jarak kelahiran, ditimbang saat ANC, diukur tinggi badan, diukur tekanan darah, diperiksa air seni,diperiksa darah (hb),dijelaskan tanda komplikasi, disuntik TT, diberi pil besi, tinggi badan ibu, status ekonomi. ANC dikatagorikan baik jika memenuhi syarat minimal satu kali kunjungan pada trimester satu, satu kali pada trimester dua dan dua kali pada trimester tiga. Untuk mengetahui hubungan ANC dengan kejadian BBLR menggunakan uji statisik regresi logistik Ganda. Hasil uji bivariat menemukan variabel yang berpotensi menjadi variabel yang berhubungan dengan berat badan lahir (p0,05) yaitu kunjungan ANC, penjelasan tanda komplikasi saat ANC, dan jarak lahir. Setelah dilakukan uji multivariate menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ANC dengan kejadian BBLR dengan OR 1.8 (CI 95%: 1.3 - 2.5). Artinya ibuyang melakukan kunjungan ante-natal care lebih dari 4 kali mempunyai peluang untuk tidak melahirkan anak BBLR sebesar 1,8 kali dibandingkan dengan ibu yang melakukan ante-natal care kurang dari 4 kali. Hasil uji interaksi dan uji confounding tidak menemukan adanya interaksi diantara variabel independen dan pengaruh variabel confoundingterhadap hubungan antara ANC dengan kejadian BBLR.Kata kunci: antenatal care, BBLR, paritas, jarak kelahiran
EFEK PEMBERIAN SUPLEMEN SINBIOTIK DAN ZAT GIZI MIKRO (VITAMIN A DAN ZINC) TERHADAP STATUS GIZI PENDERITA TBC PARU ORANG DEWASA YANG MENGALAMI KEKURANGAN ENERGI KRONIK Hardinsyah, Suparman; Kusharto, Clara M; Sulaeman, Ahmad; Alisjahbana, Bachti
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.99

Abstract

Pasien  TB  paru  pada  akhirnya  akan  mengalami  keadaan gizi  buruk  dan  menurunnya  respon  imun. Kemoterapi  dengan  menggunakan  obat-obatan  TB  merupakan  langkah  yang  efektif  untuk  mengobati penyakit ini, tetapi mempunyai pengaruh negatif terhadap keseimbangan mikropola usus inflamasi karena infeksi TB paru, menurunkan pengaturan sintesa zat  gizi dan menurunkan nafsu makan, sehingga terjadi kekurangan  gizi.  Penelitian  bertujuan  untuk  menganalisa  efikasi  symbiotik  dan  suplemen zat  gizi  mikro terhadap status gizi pada pasien dewasa TB paru yang sedang diobati yang menderita kekurangan energi kronik  setelah  2  bulan  menjalani  intervensi.  Desain penelitian  “a  double-blind  randomized  treatment control trial“ dilakukan pada 2 pusat penyembuhan TB paru di Bandung dan Garut. Sejumlah 43 orang yang  menderita  kekurangan  energi  kronik  (KEK)  dipilih  dari  76  pasien  TB  paru  yang  terekrut  dengan variasi umur antara 20–45 tahun. Kelompok ini dibagi 2 kelompok, kelompok pertama diberikan susu yang berisi  protein,  symbiotik  dan  suplemen  micronutrien (MSM)  dan  kelompok  kedua  diberi  susu  yang berbasis protein saja (MO) sebagai kelompok kontrol. Seluruh pasien menerima terapi standar untuk TB paru, parameter status gizi (BB, IMT, masa Lemak, hemoglobin, serum vitamin A dan seng) dikumpulkan pada saat awal setelah 1 bulan, 2 bulan dari pemberian intervensi data di awalnya. Perbedaan antara dan dalam kelompok menggunakan statistik parametrik dannon parametric. Hasil menunjukan bahwa setiap kelompok  pada  akhir  intervensi  parameter  status  gizi  secara  signifikan  mengalami  perbaikan dibandingkan  pada  awal  penelitian  (P0,05)  tetapi  tidak  ada  perbedaan  signifikan  antara  dua  kelompok (p0,05). Ada pengaruh potensial dari setiap suplemen dalam meningkatkan status gizi, penelitian yang lebih lama dengan tidak memberikan susu berbasis protein pada kelompok kontrol dibutuhkan. Kata kunci: imunitas, zat gizi mikro, symbiotik, TBparu
KONSUMSI MINUMAN DAN PREFERENSINYA PADA REMAJA DI JAKARTA DAN BANDUNG Briawan, Dodik; ., Hardinsyah; ., Marhamah; ., Zulaikhah; Aries, M.
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.100

Abstract

Studi ini adalah cross-sectionalyangdilakukan di Jakarta (pantai) dan di Bandung (pegunungan) dengan suhu  rata-rata  harian  masing  masing  adalah  28 C  dan  22 C.  Sampel  dipilih  secara  acak  dari  sekolah berturut-turut  sebanyak  masing  masing  110  orang  dan 99  orang.  Data  dikumpulkan  melalui  pengisian kuesioner, dan recallselama satu minggu untuk konsumsi aneka jenis minuman. Sebagian besar (73,2%) remaja di Bandung lebih menyukai air minum tanpa kemasan. Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di Jakarta, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsiair minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%). Rata-rata konsumsi air minum tanpa kemasan per hari secara signifikan lebihrendah  di  Jakarta  (934  mL)  daripada  di  Bandung  (1038  mL)  (p0,05),  sedangkan  air  minum  kemasan secara  signifikan  berbeda,  yaitu  berturut-turut  1138  mL  dan  452  mL  (p0,05).  Remaja  di  pantai mengonsumsi air minum 500-600 ml lebih banyak dibandingkan di pegunungan. Lebih dari 16 kelompok minuman lainnya yang terdiri dari berbagai jenis minuman yang dikonsumsi oleh remaja, sehingga total asupan minuman per hari secara signifikan lebih besar di Jakarta (2787 mL) daripada di Bandung (2196 mL)  (p0,05).  Meskipun  asupan  air  minum  (plain  water)  remaja  di  pegunungan  hanya  sekitar  1500  mL, namun rata-rata total asupan cairan di kedua daerahsudah lebih tinggi jika dibandingkan dengan anjuran minum air (PUGS) sebanyak 2 liter.Kata kunci: konsumsi minuman, preferensi minuman, asupan cairan, remaja
HUBUNGAN STRES KERJA, STATUS GIZI, DAN SINDROM METABOLIK PADA KARYAWAN LAKI-LAKI DEWASA IWG, Sutadarma; S, Purnawati; IMW, Ruma
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.072 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres kerja dan status gizi dengan risiko sindrom metabolik pada karyawan laki-laki dewasa. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada karyawan bank X di kota Denpasar. Sebanyak 32 orang ikut serta dari 35 orang karyawan laki-laki dewasa yang memenuhi kriteria penelitian. Data yang diambil meliputi usia, aktivitas fisik, merokok, minum alkohol, indeks massa tubuh, lingkar lengan atas, lingkar perut, tebal lemak trisep, tebal lemak suprailiaka, kadar glukosa puasa, HDL dan trigliserida. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan batas kemaknaan 5%. Median usia subyek penelitian adalah 42 (25-46)tahun dengan rerata IMT adalah obese I (27,49 kg/m2). Median tingkat stres subyek penelitian adalah ringan (nilai 62,5) dengan indeks aktivitas fisik tergolong kategori cukup. Didapatkan hubungan negatif lemah antara tingkat stres dengan sindrom metabolik yang secara statistik tidak signifikan.Didapatkan hubungan negatif sedang antara berat badan (p=0,025), tinggi badan (p=0,003) dan tebal lemak suprailiaka (p=0,014) dengan kadar HDL yang secara statistik signifikan.Didapatkan hubungan positif kuat antara lingkar perut dan kadar trigliserida yang secara statistik signifikan (p=0,035). Didapatkan hubungan positif sedang antara berat badan (p=0,024), IMT (p=0,018) dan lingkar perut (p=0,009) dengan rasio trigliserida dan HDL yang secara statistik signifikan dimana rasio tersebut merupakan indikator pembentukkan plak aterosklerosis. Hubungan status gizi dengan risiko sindrom metabolik secara statistik signifikan namun belum dapat dikatakan mendukung secara klinis karena minimal tiga faktor risiko harus terpenuhi.Kata kunci: laki-laki dewasa, stres, status gizi, sindrom metabolik
EFEK PEMANFAATAN PROGRAM PEMANTAUAN DAN PROMOSI PERTUMBUHAN TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI KOTA CIREBON Nurcahyani, Lia; Hakimi, Mohammad; Sudargo, Toto
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.417 KB)

Abstract

Kekurangan  gizi  merupakan  kunci  pokok  persoalan  kematian  balita  di  dunia,  yang  salah  satu penyebabnya yaitu kurangnya pemanfaatan program pemantauan dan promosi pertumbuhan. Kasus gizi kurang di Kota Cirebon melebihi angka provinsi dan  nasional. Pada tahun 2008, partisipasi masyarakat dalam  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  meningkat  sebesar  19  persen  dari  tahun sebelumnya,  tetapi  kasus  gizi  kurang  meningkat  juga sebesar  0,23  persen.  Penelitian  bertujuan  untuk mengkaji efek pemanfaatan program pemantauan dan promosi pertumbuhan terhadap status gizi balita. Jenis  penelitian  observasional  dengan  rancangan  kohort  retrospektif.  Subjek  penelitian  sebanyak  246 balita  usia  17-59  bulan  beserta  ibu  yang  memenuhi  kriteria  inklusi  dan  eksklusi.  Pengambilan  sampel menggunakan teknik three stage samplingdipadukan dengan purposive dan random sampling.Data yang digunakan  berupa  data  primer  dan  sekunder  dengan  instrumen  penelitian  meliputi  kuesioner,  kartu menuju sehat, register gizi, laporan bulan penimbangan balita Kota Cirebon tahun 2008, timbangan injakdigital, length board/ microtoiseserta softwareantropometri WHO (2006). Pengolahan data menggunakan analisis univariabel, bivariabeldengan chi-square dan multivariabel dengan uji regresi logistik. Penelitian ini  didukung  oleh  data  kualitatif  untuk  mengetahui  indikator  input  dan  proses  serta  hambatan  dalam pemanfaatan  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa pemanfaatan  program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  berpengaruh  secara  signifikan  terhadap status  gizi  balita  dengan  p  <  0,05.  Insidensi  gizi  kurang  pada  balita  yang  tidak  memanfaatkan  program pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  secara  teratur  2,7  kali  lebih  besar  dibandingkan  balita  yang memanfaatkan  secara  teratur  setelah  mempertimbangkan  kontribusi  pengetahuan  dan  sikap  ibu  serta umur  balita.  Indikator  input,  khususnya  peran  kader dalam  proses  program  pemantauan  dan  promosi pertumbuhan tidak optimal. Hambatan pemanfaatan program meliputi faktor individu (kesehatan balita), faktor  provider  (alasan  sosial),  serta  faktor  komunitas  (lokasi  rumah  secara  geografis).  Pemantauan pertumbuhan  pada  balita  harus  dilakukan  setiap  bulan,  terutama  pada  umur   0-24  bulan.  Keberhasilan program  pemantauan  dan  promosi  pertumbuhan  dapat  dicapai  apabila  mendapat  dukungan  secara komprehensif dari segi penerima pelayanan, pemberi pelayanan dan pembuat kebijakan. Kata kunci: status gizi, pemantauan pertumbuhan,promosi pertumbuhan, balita

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue