cover
Contact Name
Agus Susanto
Contact Email
agus.susanto0508@unsoed.ac.id
Phone
+6285642805008
Journal Mail Official
animalproduction@unsoed.ac.id
Editorial Address
R 108 Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Jl. dr. Soeparno Utara No 60, Grendeng, Purwokerto Utara 53123 phone (0281) 638792 email: redaksijap@gmail.com - animalproduction@unsoed.ac.id
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Production : Indonesian Journal of Animal Production
Animal Production is a peer-reviewed journal published by the Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University in association with the Animal Scientist Society of Indonesia. The journal was established in 1999 and available online since May 4, 2011. Animal Production was initially published twice a year, then three times a year starting in 2005. The journal coverage focused on small scale livestock farming and technologies which includes the recent science development in animal production, including all aspects of nutrition, breeding, reproduction, post-harvest processing and socio-economics. All articles are available online. Full text available in pdf format and can be downloaded for free. Starting Vol 22 No 1 the papers have been and will be published in our new website (http://animalproduction.id), as the continuation of our previous but still active website (http://animalproduction.net).
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2015): January" : 10 Documents clear
Iodine Mineral Status of Etawah Crossbred Goat at Different Physiological Stages Fed Elephant Grass and Tofu Byproduct Widiyanto, Widiyanto; Sumarsono, Sumarsono; Sudjatmogo, Sudjatmogo; Prasetiyono, Bambang W.H.E; Setiadi, A; Surahmanto, Surahmanto
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.382 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.477

Abstract

Abstract. The objective of the study was to determine the iodine status and to map the thyroxin hormone concentration in etawah crossbred goat (ECG) at different physiological stages and its interrelation to the nutrition and performance. Fifteen female ECG was allotted in three physiolgical stage groups:  female kid, young female goat and lactating goat, fed elephant grass and tofu byproduct. The study was conducted  in Tossa Shakti Agro Company (TSA), Central Java, Indonesia. Analysis of variance in completely randomized design was used to determine the effect of physiological stages on soil and feed iodine content, blood serum thyroxin hormone concentration, nutrient and feed dry matter consumption, average daily gain and milk production. Result showed that soil iodine content was adequate to stimulate plant growth (3.109 mg/kg). Consumed feed iodine content  was adequate to all physiological stages, female kid, young female and lactating goat (1.003; 0.940 and 0.820 mg/kg, respectively). Thyroxin hormone concentration in blood serum of female kid and young female goat was  in normal range (8.23 and 10.05 µg/dl) but the concentration of thyroxin hormone in blood serum of lactating goat was  marginal ( 6.17 µg/dl).  Iodine supplementation was required for  lactating etawa crossbred goat  if tofu byproduct was included in its ration.Key words : nutrient, iodine, thyroxin hormone, etawah crossbred goat Abstrak.  Penelitian ini bertujuan mengkaji status iodine dan memetakan konsentrasi hormone tiroksin kambing peranakan etawah (PE) pada berbagai status fisiologis dan interelasinya dengan status nutrisi serta performans ternak.  Sebanyak 15 ekor kambing PE betina digunakan dalam penelitian yang terbagi atas tiga kelompok status fisiologis, yakni: cempe betina, kambing dara dan kambing laktasi.  Sebagai pakan, digunakan rumput gajah dan ampas tahu.  Penelitian ini dilakukan di PT. Tossa Shakti Agro (TSA) Kendal, Jawa Tengah.  Variabel yang diukur meliputi kandungan iodin tanah dan pakan, kadar hormon tiroksin serum darah, konsumsi bahan kering pakan dan nutrien, pertambahan bobot badan serta produksi susu. Data yang terkumpul diolah secara statistik dengan analisis variansi dalam rancangan acak lengkap guna mengetahui pengaruh status fisiologis terhadap variable-variabel tersebut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan iodine tanah memadai untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman (3,109 mg/kg).  Kandungn iodin pakan terkonsumsi memadai untuk semua status fisiologis, dalam hal ini cempe betina, kambing dara dan kambing laktasi (masing-masing: 1,003; 0,940 dan 0,820 mg/kg).  Konsentrasi hormon tiroksin serum darah cempe betina dan kambing dara dalam kisaran normal (8,23 dan 10,05 ug/dl), tetapi konsentrasi hormon tiroksin serum darah kambing laktasi berada pada batas normal (borderline), yakni 6,17 ug/dl.  Suplementasi iodin diperlukan bagi kambing peranakan etawa yang sedang laktasi, jika ampas tahu digunakan sebagai bagian dari ransum.Kata kunci:  nutrien, iodin, hormone , kambing peranakan etawah
Phytobiotic Properties of Garlic, Red Ginger, Turmeric and Kencur in Growing Ducks Ismoyowati, Ismoyowati; Indrasanti, Diana; Mufti, Mochamad; Farjam, Abdoreza Soleimani
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.209 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.484

Abstract

Abstract. Phytobiotic properties of garlic (Allium sativum), turmeric (Curcuma domestica), red ginger (Zingiber officinale) and kencur (Kaempferia galangal) were studied using standard in vitro antibacterial test and in vivo feeding trial with ducklings. In the in vitro experiment, potency of aqueous extract of these phytobiotic agents were tested against Salmonella pullorum and Escherichia coli. Feeding trial was carried out for 6 week starting at day 28 using ducklings fed diets supplemented with 1% of each of four phytobiotic agents. The highest antibacterial activity against S. pullorum and E. coli was observed with garlic and no additive effect when mixture of phytobiotics was used. Weight gain, fed intake and feed conversion ratio of ducklings were not affected by inclusion of garlic, red ginger and kencur. However, 1% turmeric supplementation significantly reduced growth performance to ducklings. Key words: phytobiotic, antibiotic, duck, medicinal plants Abstrak.  Penelitian karakteristik fitobiotik dari bawang putih (Allium sativum), kunyit (Curcuma domestica), jahe merah (Zingiber officinale) dan kencur (Kaempferia galangal) telah dilakukan secara in vitro melalui uji aktivitas antibakteri dan secara in vivo dengan perlakuan suplemetasi fitobiotik didalam pakan anak itik. Pada percobaan  in vitro, potensi  aktivitas antibakteri dari ektrak  fitobiotik diuji menggunakan Salmonella pullorum and Escherichia coli.  Percobaan suplementasi fitobiotik diberikan masing-masing sebesar 1% didalam pakan anak itik.  Pemberian pakan perlakuan dilakukan selama 6 minggu,  dimulai pada saat anak itik berumur 28 hari.  Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. pullorum dan E. coli paling tinggi adalah ektrak bawang putih dan tidak ada pengaruh yang lebih baik apabila dicampur dengan ektrak fitobiotik lainnya.  Pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan anak itik tidak dipengaruhi oleh penambahan bawang putih, kunyit, jahe merah dan kencur.  Akan tetapi, suplementasi kunyit nyata menurunkan performan pertumbuhan anak itik. Kata kunci: fitobiotik, antibiotik, itik, tanaman obat-obatan.
Nutritional Dried Matter, Crude Protein and Crude Fiber on Lowland Tidal Grass Fermented by Probiotic Microorganisms for Use Bali Cattle Feed Muhakka, Muhakka; Wijaya, A; Ammar, M
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.619 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.478

Abstract

Abstract. This study was aimed to determine nutritional value of lowland tidal grass fermented by probiotic microorganisms. This study used a completely randomized design and investigated two factors, namely varieties of lowland tidal grass (kumpai tembaga (Ischaemum rugosum), kumpai minyak (Hymenachne amplexicaulis) and kumpai padi (Oryza rufipogon)) and probiotic microorganism concentration (0.3, 0.5, 0.7 and 0.9 percent). The following parameters were observed, including dried matter content, crude protein content and crude fiber content.  The results showed that the use of probiotics have significant effects on crude protein content and crude fiber content. In conclusion, the use of probiotics can improve the nutritional value of grass. The best result was obtained on kumpai tembaga grass (Ischaemum rugosum) fermented with 0.7% probiotic microorganism. Keywords: nutritional evaluation, lowland tidal grass, fermentation, probiotics microorgansms Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai nutrisi rumput tidal dataran rendah yang difermentasi menggunakan mikroba probiotik. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan mengamati dua faktor, yaitu varitas rumput tidal dataran rendah (kumpai tembaga (Ischaemum rugosum), kumpai minyak (Hymenachne amplexicaulis) dan kumpai padi (Oryza rufipogon)) dan mikroba probiotik (0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 persen). Parameter yang diamati meliputi kandungan bahan kering, protein kasar, dan serat kasar. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan probiotik memiliki pengaruh nyata terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar. Dapat disumpulkan bahwa penggunaan probiotik dapat meningkatkan nilai nutrisi dari rumput. Hasil terbaik diperoleh pada rumput kumpai tembaga (Ischaemum rugosum) yang difermentasi menggunakan 0,7% mikroba probiotik. Kata kunci: evaluasi nutrisi, rumput tidal dataran rendah, fermentasi, mikroba probiotik
Evaluation on Performances of Yoghurt Used Modern Technology Versus Natural One Yupardhi, W Sayang; Oka, I G.L.; Pratiwi, Ayu; Sutarpa, I N.S.; Miwada, I N.S.
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.034 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.486

Abstract

Abstract. A research for studying performances (aromatics including colour, taste, smell, texture and its financial benefit) of milk products i.e. yoghurt which used modern technology versus the natural one was conducted at PT Prima Rasa, Denpasar. The research consisted of two treatments (A = modern technology and B = natural technology). The objective of the research were: 1) to study the differences of aromatic and financial benefit of yoghurt with modern technology versus the natural one, 2) to use as a reference in the future on milk products business, and 3) to increase the quantity and quality of yoghurt and income per capita in the Bali Island. In this research, yoghurt production which used modern technology (treatment A) used some ingredients i.e. fresh milk, skimmed milk, starter (imported Lactic Acid Bacteria from Canada) and modern equipments i.e. electric incubator for milk fermentation. While the natural technology (treatment B) used a slightly different ingredients and equipments i.e. non imported starter and non electric incubator (ampel bamboo). The starter used was lactic acid bacteria naturally found in the ampel bamboo as incubator at once. The incubator was covered with aged banana leaf on the fermentation processes. These ingredients and equipments were very easy to find, available through the year and cheap. There were six replicates in each treatment. Data obtained were analyzed with t test and financial benefit was analyzed descriptively.  Results of the research showed that yoghurt aromatics which used natural technology was 14.29% significantly higher than modern one but its texture was 20.31% or significantly lower. The differences did not seem to cause difference on the taste between them. The average taste score was the same (7.1), indicating that both treatments had the same taste. The financial benefit of the natural yoghurt was much higher (90.74%) than that of the modern one (127.40% versus 10.80%). Key words: yoghurt, fresh milk, lactic acids bacteria, incubator, ampel bamboo Abstrak. Penelitian untuk mempelajari performans (cita-rasa termasuk: warna, aroma/bau, tekstur, keasaman/rasa asam/pH, dan finansial) suatu produk susu yaitu yogurt yang menggunakan teknologi modern versus alami (bambu ampel) telah dilakukan di PT Perusahaan Prima Rasa, Denpasar. Penelitian ini terdiri atas dua perlakuan (perlakuan A = teknologi modern, dan B = teknologi alami). Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mempelajari perbedaan cita-rasa dan keuntungan finansial yogurt yang menggunakan teknologi modern dan alami, 2) dipakai sebagai acuan dalam membuat suatu usaha bisnis produk susu dimasa yang akan datang, dan 3) meningkatkan kuantitas dan kualitas yogurt serta pendapatan asli daerah Bali. Dalam penelitian ini pembuatan yogurt yang menggunakan teknologi modern (perlakuan A) menggunakan beberapa bahan-bahan dan alat-alat seperti susu sapi segar, skim, starter (bakteri asam laktat impor dari Kanada dan harganya mahal), inkubator listrik atau steroform untuk pemeramannya. Sedangkan pembuatan yogurt yang menggunakan teknologi alami (perlakuan B) prosesnya hampir sama dengan yang menggunakan teknologi modern, hanya saja tidak menggunakan starter impor dan tidak menggunakan inkubator listrik (menggunakan bamboo ampel) dan starter yang digunakan adalah bakteri asam laktat yang secara alami terdapat dalam bambu ampel tersebut. Bambu ampel yang digunakan sebagai inkubator itu ditutupi dengan daun pisang yang telah dilayukan. Bambu ampel ini mudah didapat, tersedia sepanjang tahun dan murah harganya. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak enam kali. Data yang diperoleh dianalisa dengan t test, keuntungan finansial dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yogurt dengan teknologi alami mempunyai aroma lebih kuat secara nyata sebesar 14,29% dibandingkan yogurt dengan teknologi modern, tetapi teksturnya (kelembutannya) adalah sebaliknya, yogurt dengan teknologi modern lebih tinggi secara nyata sebesar 20,31% dibandingkan derngan yogurt teknologi alami. Namun demikian, perbedaan tersebut tidak menyebabkan perbedaan rasa di antara semuanya. Dalam hal ini rata-rata nilai rasa adalah sama (7,1). Artinya, kedua perlakuan tersebut mempunyai rasa sama. Namun demikian, keuntungan dari hasil penjualan yogurt dengan teknologi alami lebih tinggi (90,74%) dibandingkan teknologi modern (127,40% versus 10,80%). Kata kunci : yogurt, susu sapi segar, bakteri asam laktat, inkubator, bambu ampel 
Excretions of Urinary Creatinine on Young and Mature Kacang Goat under Different Feeding Levels Mukminah, Nurul; Rianto, Edy; Purbowati, Endang
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.106 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.479

Abstract

Abstract. This study was aimed to examine the excretion of urinary creatinine in young and mature Kacang goat bucks under different feeding levels. This study used 16 Kacang goat bucks consisting of 2 groups of age, i.e. eight young bucks (aged 6-7 months, weighed 12.75±2.68 kg) and 8 mature bucks (age 9-12 months, weighed 17.34±3.32 kg). The bucks were fed pelleted complete feed containing 78.82% dry matter (DM), 18.80% crude protein (CP), and 76.29% total digestible nutrients (TDN). The bucks were allocated into a 2x2 nested design with four replications. The treatment was the amount of  2.24% dry matter intake  (T1) and 4.48% of body weight (BW) (T2) for the young goat, while the mature buck was 1.87% and 3.74%, respectively. The results showed that DM, CP and TDN intake were significant different across ages and highly significantly different between feeding levels. Changes of urinary creatinine from week 0–12 showed no differences in the age group (142 mg/dl) and feeding level (143 mg/dl). Conclusively, age and feed level affected body weight, feed intake and creatinine excretion of Kacang Goat.  The more body weight gain (age) and feed level, the more urinal creatinine excretion in male Kacang goat. Key words: Kacang goat, ages, feeding level, and creatinine Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kadar kreatinin pada kambing Kacang muda dan dewasa dengan jumlah pemberian pakan yang berbeda. Materi berupa 16 ekor kambing Kacang jantan, terdiri dari 8 ekor umur muda (6-7 bulan) dan 8 ekor umur dewasa (9-12 bulan). Pakan komplit yang diberikan memiliki kandungan bahan kering (BK) 78,82%, protein kasar (PK) 18,80%, dan total digestible nutrients (TDN) 76,29%. Rancangan penelitian ini adalah pola tersarang 2x2 dengan 4 ulangan. Perlakuan pakan berupa jumlah BK pakan yang diberikan yaitu 2,24% bobot badan (BB) (T1) dan 4,48% BB (T2) untuk kambing muda, sedangkan kambing dewasa sebesar 1,87% BB (T1) dan 3,74% BB (T2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi BK, PK dan TDN berbeda nyata pada kelompok umur dan berbeda sangat nyata pada perlakuan pakan. Kadar kreatinin pada minggu ke 0-6 tidak berbeda nyata, namun pada minggu ke 12 berbeda nyata baik kelompok umur maupun akibat perlakuan pakan. Perubahan kadar kreatinin dari minggu ke 0-12 menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada kelompok umur dan perlakuan pakan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar kreatinin semakin meningkat dengan semakin meningkatnya bobot badan (umur) dan pakan ternak. Kata kunci : kambing Kacang, umur, level pakan, dan kreatinin
Broiler Farmers’ Behavior in Administering Antibiotic and Types of Antibiotic Content in Commercial Feed (A Case Study) Wasnaeni, Yulia; Iqbal, Achmad; Ismoyowati, Ismoyowati
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.126 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.487

Abstract

Abstract. The objective of this research was to describe broiler farmers’ behavior including knowledge level, attitude, antibiotic practice and analysis of the antibiotic content in broiler chicken commercial feed. Survey method was conducted with purposive and random sampling, applying Nomogram Harry King to determine total sample. Ninety-six farmers met the sampling criteria, comprising 33 respondent farmers along with survey and feed sampling in each farmer. Interview and questioner result on knowledge level and farmers’ attitude and observation on farmers practice in administering antibiotic were subject to description in data tabulation. Laboratory analysis result using Bioassay method on antibiotic content in feed was described in data tabulation. Broiler farmers in Pengadegan municipality, Purbalingga Regency generally showed moderate knowledge level (60% above average, 40% under average). Farmers with supportive attitude on good antibiotic administration was 48.48%, while those less supportive reached 51.52%. Farmers’ level of obedience in proper antibiotic practices was only 21.21%, almost half (45.45%) defiled the proper antibiotic administration. Most farmers (96.97%) used commercial feed containing AGP (Antibiotic Growth Promoter) not recommended by government, namely penicillin, kanamycin, erythromycin andoxytetracycline. Farmer administered overdosed antibiotic as growth booster, anti-stress, disease control and medication. Research concluded that most broiler farmers violated the rules of antibiotic practices, in which overdosed content was administered to stimulate growth, anti-stress, disease control and medication. Antibiotic as growth booster was contained in feed. Commercial broiler feed (complete feed) contained four types of antibiotic, namely penicillin, kanamycin, erythromycin andoxytetracycline. Key words:  Farmer practice, broiler,  antibiotics Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan perilaku peternak broiler mencakup tingkat pengetahuan, sikap, penggunaan antibiotik, dan analisa kadar antibiotik pada pakan komersial broiler. Metode survey dilakukan dengan sampling acak bertujuan dengan Nomogram Harry King untuk menentukan total sampel. Sembilan puluh enam peternak memenuhi kriteria, mencakup 33 responden peternak dengan survey dan sampel pakan untuk setiap peternak. Hasil interview dan kuesioner tentang tingkat pengetahuan dan perilaku peternak dalam menggunakan antibiotik dideskripsikan dalam tabulasi data. Hasil analisa laboratorium menggunakan metode Bioassay untuk kandungan antibiotik dalam pakan disajikan pada tabulasi data. Peternak broiler di Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga umumnya memiliki tingkat pengetahuan sedang (60% diatas rata-rata, 40% dibawah rata-rata). Peternak dengan sikap mendukung penggunaan antibiotik sebanyak 48,48%, sedangkan yang kurang mendukung sebanyak 51,52%. Tingkat kepatuhan peternak pada penggunaan antibiotik yang benar hanya 21,21%, hampir separuh (45,45%) tidak mematuhi penggunaan antibiotik yang benar. Sebagian peternak (96,97%) menggunakan pakan komersial yang mengandung AGP (Antibiotic Growth Promotor) yang tidak direkomendasikan oleh pemerintah, yaitu penisilin, kanamisin, eritromisin andoksitetrasiklin. Peternak menggunakan antibiotik melebihi dosis untuk memacu pertumbuhan, sebagai anti stres, mengendalikan penyakit dan pengobatan. Penelitian menyimpulkan bahwa sebagian besar peternak broiler melanggar aturan penggunaan antibiotik, dimana kandungan yang overdosis digunakan untuk memacu pertumbuhan, sebagai anti stres, mengendalikan penyakit, dan pengobatan. Antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan terkandung pada pakan. Pakan broiler komersial (complete feed) mengandung empat jenis antibiotik yaitu penisilin, kanamisin, eritromisin andoksitetrasiklin. Kata kunci: perilaku peternak, broiler, antibiotik
Potency and Characteristics of Bali Cattle Twin Birth Utami, Anastasia Sischa Jati; Suyasa, I Nyoman
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.553 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.474

Abstract

Cattle twin birth is a rare occurrence that might be due to two factors, natural factors or external interventions such as the use of hormones. This study was aimed to determine to what extent Bali cattle were potential to deliver twin birth. Natural twin birth observation was conducted by survey method and data service while for super ovulation was conducted on 6 cows that never gave birth to twins. The Intervention method used a variety of hormonal preparations started with installing CIDR implant on day 1 to day 7 of CIDR removal of the implant, injecting 1 cc of GnRH hormone injections intra-muscular on day 9, injecting 800 mg intra-muscular PMSG on day 20, injecting 2 cc PGF2alpha intra-muscular on day 22, then conducting artificial insemination after lust symptoms appeared after day 24 applicated 3 times. Control treatments were applied on 6 cattle without hormone injection. Data were analyzed descriptively. The survey data showed Bali cattle twin birth in Bali Island was 64 heads of parent population in Bali from a total of 203,727 breeding or 31.9%, but cattle with hormone manipulation delivered 30% of the total treatment although no previous twin birth history was recorded. Conclusively, manipulation of external stimuli such as hormones gained good response although no genetic ever gave birth to twins.Sapi lahir kembar adalah kejadian langka yang mungkin disebabkan karena dua faktor, faktor alam atau intervensi eksternal seperti penggunaan hormon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana sapi Bali memiliki potensi untuk memberikan kelahiran kembar. Pengamatan kelahiran kembar alami dilakukan dengan metode survei dan layanan data sedangkan untuk kegiatan super ovulasi dilakukan pada 6 sapi yang tidak pernah punya riwayat melahirkan anak kembar sebelumnya. Metode Intervensi digunakan berbagai persiapan hormonal mulai dengan pemasangan CIDR implant pada hari 1 sampai hari 7 CIDR implant diangkat, suntikan hormon GnRH sebanyak 1cc intra-muscular pada hari 9, dilanjutkan dengan penyuntikan 800 mg PMSG intra-muscular pada hari 20, selanjutnya suntikan PGF2alpha sebanyak 2cc intra-muscular pada hari 22, kemudian inseminasi buatan dilakukan seelah gejala birahi muncul pada hari 24 dan diinseminasi sebanyak 3 kali. Sedangkan perlakuan kontrol yang diterapkan pada 6 sapi tanpa injeksi hormon. Data dianalisis secara deskriptif. Data hasil survei menunjukkan sapi Bali kelahiran kembar di Pulau Bali sebanyak 64 induk melahirkan kembar dari total 203.727 atau 31,9%, tetapi dengan memanipulasi hormon pada ternak menghasilkan 30% lahir kembar dari keseluruhan treatment meskipun tidak ada tercatat riwayat kelahiran kembar sebelumnya. Kesimpulan dengan manipulasi rangsangan eksternal seperti hormon ternyata memperoleh respon yang baik meskipun tidak ada genetik pernah melahirkan anak kembar.
Quality Evaluation of Complete Feed with Ramie Waste Added With Different Protein Source in Nutrient Composition and Ensilage Parameter Susanti, Emmy; Agus, Ali; Suraningdyah, Yuni; Suhartati, FM
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.071 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.480

Abstract

Abstract.  The objective of this research was to evaluate the effect of ensilage technology (with and without ensilage) and protein sources (plant and animal) in complete feed with ramie-waste on nutrient composition and ensilage parameter. Ensilage process decreased significantly dry matter (DM), organic matter (OM) and neutral detergent fiber (NDF), but it increased  ensilage parameter i.e. acetate acid (C2), propionic acid (C3), butyric acid (C4), lactic acid (LA), and decreased pH. It also had non-significant effect on crude fibre (CP), acid detergent fiber (ADF) and ammonia (NH3-N). Animal protein source in silage making decreased nutrient composition i.e. OM and CP and ensilage parameter i.e. C2, but it increased NH3-N.  Interaction between ensilage treatment and protein sources affected CP and pH also ensilage parameter of C2 and C3. In conclusion, plant protein used in silage of complete feed with ramie waste was better than animal protein, despite that both ensilage were not better due to pH over 4.5. Key words: ramie, ensilage technology, protein source, nutrient composition, ensilage parameter Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh teknologi ensilage (dengan dan tanpa ensilage) dan sumber protein (nabati dan hewani) pada complete feed menggunakan limbah rami terhadap komposisi nutrien dan parameter ensilage. Perlakuan teknologi ensilage menurunkan komposisi nutrien pada bahan kering (BK), bahan organik (BO) dan neutral detergent fiber (NDF, meningkatkan kuantitas parameter ensilage pada asam asetat (C2), asam propionat (C3), asam butirat (C4) dan asam laktat (LA) dan menurunkan pH serta tidak nyata pada protein kasar (PK), acid detergent fiber (ADF) dan ammonia (NH3-N).  Perlakuan sumber protein menurunkan nutrien BO dan PK dan C2 serta meningkatkan konsentrasi NH3-N secara sangat nyata pada complete feed dengan protein hewani. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh pada PK dan pH serta C2 dan C3. Kesimpulannya adalah penggunaan protein nabati pada silage complete feed menggunakan limbah rami lebih baik dari pada yang menggunakan protein hewani meskipun kedua jenis silage tidak lebih baik karena pH lebih dari 4,5. Kata kunci: rami, teknologi ensilage, sumber protein, komposisi nutrien, parameter ensilage
Production of Superior Pigs by Injecting the Sows with Gonadotropin Prior to Mating Rayer, Debby Jacqueline Jochebed; Maheswari, Hera; Muladno, Muladno; Manalu, Wasmen
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.862 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.475

Abstract

Abstract. An experiment was conducted to produce superior pigs with improved growth phenotypes and survival during postnatal growth by injecting the sows with gonadotropin prior to mating.  The experiment consisted of 2 stages.  In the first stage, 12 sows were divided into 2 groups i.e., sows injected with NaCl0.95% as a control (NSO) and sows injected with PG600 (SO) prior to mating.  Parameters measured were growth phenotypes and survival at birth and during pre-weaning period.  In the second stage, 24 of weaned pigs (age 8 weeks) from the first stage were selected (6 males and 6 females from NSO group and 6 males and 6 females from SO group) to be used for measurement of growth performance.  The experimental pigs were raised and observed until the age of 28 weeks (7 month).  The body weights were measured monthly.  The results of the experiment showed that improvement of uterine environment by gonadotropin injection of the sows prior to mating dramatically improved birth weight with a very homogenous birth weight within litter size.  Improved birth weight and within-litter variation of birth weight improved pre-weaning growth performance and survival that finally dramatically increased weaning weight and total weight of weaned pigs per sow.  After weaning, pigs born to SO sows grew faster and had around 10 kg higher body weight as compared to control at the age of 7 month.   It was concluded that superior pigs could be produced by improving endogenous secretion of pregnant hormone during pregnancy. Key words: Birth weight, growth phenotypes, survival, prenatal growth, postnatal growth Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan anak-anak babi unggul dengan fenotipe pertumbuhan dan daya hidup yang lebih baik selama pertumbuhan pascalahir dengan cara menyuntik induk babi dengan gonadotropin sebelum pengawinan.  Penelitian terdiri atas dua tahapan.  Penelitian tahap pertama, 12 ekor induk babi dikelompokkan ke dalam 2 kelompok, 1) kelompok kontrol, yaitu induk yang disuntik dengan NaCl 0.95% (NSO) dan 2) kelompok yang disuntik dengan PG600 sebelum pengawinan (SO).  Parameter yang diukur ialah fenotipe pertumbuhan dan daya hidup anak pada saat lahir dan selama periode prasapih.  Tahap kedua, 24 anak babi lepas sapih dari percobaan tahap pertama (umur 8 minggu) dipilih (6 jantan dan 6 betinadari kelompok NSOdan 6 jantan dan 6 betina dari kelompok SO) untuk digunakan dalam pengukuran kinerja pertumbuhan pascasapih.  Babi percobaan dibesarkan dan diamati sampai umur 28 minggu (7 bulan).  Bobot badan diukur setiap bulan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan uterus dengan cara penyuntikan induk dengan gonadotropin sebelum pengawinan secara dramatis memperbaiki bobot lahir anak dengan bobot lahir per induk yang lebih seragam.  Perbaikan bobot lahir dan keseragaman bobot lahir memperbaiki kinerja pertumbuhan prasapih dan kelangsungan hidup anak yang pada akhirnya secara dramatis meningkatkan bobot sapih dan total bobot anak yang disapih per ekor induk.  Setelah penyapihan, anak babi yang dilahirkan oleh induk yang disuntik gonadotropin tumbuh lebih cepat dengan bobot badan yang lebih tinggi sekitar 10 kg dibandingkan dengan kontrol pada umur 7 bulan.  Disimpulkan bahwa anak babi unggul dapat dihasilkan melalui perbaikan sekresi endogen hormon kebuntingan selama kebuntingan. Kata kunci: Bobot lahir, fenotipe pertumbuhan, daya hidup, pertumbuhan prenatal, pertumbuhan pascalahir
The Correlation of Body Morphological Size Toward the Body Weight of PO Steers and Heifers Efendy, Jauhari; Prihandini, P W; Sulistya, T A
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.67 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.483

Abstract

Abstract. The study was conducted to determine the correlation between the body morphology size  of  PO steers and heifers which kept in the group housing of Litbangtan Models. The materials of this study used 24 PO steers and heifers (each cow was 15 to 18 months old). The  data were analyzed using descriptive statistics and correlation analysis. Due to the significant value, it stated that the body length and chest circumference influenced positively to the gain of the weight body of PO steers and heifers . The value of determination analysis (R2) both PO steers  and heifers was 92.70% and 86.80%; It indicated that the gain of the body length size and chest circumference would  increase the body weight. The result of calculation shown that the average of body weight of PO steers and heifers after having used two body morphological measurement (body length and chest circumference) was relativeely close to the real measurement. This phenomenon indicated that the body length and chest circumference had a close relationship with the body weight either in PO steers and heifers. Key words: PO steers and heifers, body morphological size, body weight Abstrak.  Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan korelasi antara ukuran morfologi tubuh PO steers dan heifer yang dipelihara di kandang kelompok Litbangtan Model. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 PO steer dan heifer (masing-masing berumur 15 sampai 18 bulan). Data dianalisis menggunakan deskriptif statistik dan analisis korelasi. Berdasarkan nilai signifikan, dinyatakan bahwa panjang badan dan lingkar dada berpengaruh positif terhadap peningkatan bobot badan PO steer dan heifer. Nilai koefisien determinsasi (R2) PO steer dan heifer adalah 92,70% dan 86,80%; mengindikasikan bahwa peningkatan ukuran panjang badan dan lingkar dada akan meningkatkan bobobt tubuh. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rataan bobot tubuh PO steer dan heifer setelah menggunakan dua ukuran morfologi tubuh (panjang badan dan lingkar dada) serupa dengan ukuran nyata. Fenomena ini menunjukkan bahwa panjang badan dan lingkar dada berkaitan erat dengan bobot tubuh pada PO steer maupun heifer. Kata kunci: PO steer dan heifer, ukuran morfologi tubuh, bobot tubuh

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No.2 (2023) Vol. 25 No. 1 (2023) Vol. 24 No. 3 (2022) Vol. 24 No. 2 (2022) Vol. 24 No. 1 (2022) Vol. 23 No. 3 (2021) Vol. 23 No. 2 (2021) Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016): September 2016 Vol 18, No 2 (2016): May Vol 18, No 2 (2016): May Vol 18, No 1 (2016): January Vol 18, No 1 (2016): January Vol 17, No 3 (2015): September Vol 17, No 3 (2015): September Vol 17, No 2 (2015): May Vol 17, No 1 (2015): January Vol 16, No 3 (2014): September Vol 16, No 3 (2014): September Vol 16, No 2 (2014): May Vol 16, No 1 (2014): January Vol 15, No 3 (2013): September Vol 15, No 3 (2013): September Vol 15, No 2 (2013): May Vol 15, No 2 (2013): May Vol 15, No 1 (2013): January Vol 14, No 3 (2012): September Vol 14, No 2 (2012): May Vol 14, No 1 (2012): January Vol 14, No 1 (2012): January Vol 13, No 3 (2011): September Vol 13, No 2 (2011): May Vol 13, No 2 (2011): May Vol 13, No 1 (2011): January Vol 12, No 3 (2010): September Vol 12, No 2 (2010): May Vol 12, No 2 (2010): May Vol 12, No 1 (2010): January Vol 11, No 3 (2009): September Vol 11, No 2 (2009): May Vol 11, No 1 (2009): January Vol 11, No 1 (2009): January Vol 10, No 3 (2008): September Vol 10, No 3 (2008): September Vol 10, No 2 (2008): May Vol 10, No 1 (2008): January Vol 10, No 1 (2008): January Vol 9, No 3 (2007): September Vol 9, No 2 (2007): May Vol 9, No 1 (2007): January Vol 9, No 1 (2007): January Vol 8, No 3 (2006): September Vol 8, No 2 (2006): May Vol 8, No 1 (2006): January Vol 7, No 3 (2005): September Vol 7, No 3 (2005): September Vol 7, No 2 (2005): May Vol 7, No 1 (2005): January Vol 6, No 2 (2004): May Vol 6, No 2 (2004): May Vol 6, No 1 (2004): January Vol 6, No 1 (2004): January Vol 5, No 2 (2003): May Vol 5, No 1 (2003): January Vol 5, No 1 (2003): January Vol 4, No 2 (2002): May Vol 4, No 1 (2002): January Vol 3, No 2 (2001): May Vol 3, No 1 (2001): January Vol 2, No 2 (2000): May Vol 2, No 1 (2000): January Vol 1, No 2 (1999): May Vol 1, No 2 (1999): May Vol 1, No 1 (1999): January More Issue