cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman
ISSN : -     EISSN : 24776300     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman adalah jurnal peer-review yang diterbitkan oleh UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin. Jurnal ini terbit sebanyak dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini menerbitkan penelitian dan artikel konseptual yang berkaitan dengan bidang ilmu bimbingan dan konseling, pendidikan, dan psikologi pendidikan..
Arjuna Subject : -
Articles 276 Documents
Self-Objectification dan Kepuasan Hidup Pada Dewasa Awal Pengguna Aktif Media Sosial Instagram Sari, Mulya Puspita; Appulembang, Yeni Anna
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 11, No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21347

Abstract

Many young adults use Instagram due to its convenience. However, excessive use can negatively impact life satisfaction. A decrease in life satisfaction occurs when individuals excessively self-evaluate and internalize unrealistic beauty standards. The subjects in this study were 260 female young adults aged 18-22 who actively used Instagram for at least 3 hours a day and utilized Instagram's beauty filters. This study employed a non-probability sampling technique. This research utilized two psychological scales: (1) a Self-objectification scale developed by the researchers based on the theory of Dahl et al. (2014), and (2) a life satisfaction scale used in this study based on the aspects of life satisfaction proposed by Diener et al. (1999). The results of this study indicate a relationship between self-objectification and life satisfaction, with a significance of 0.040 (p < 0.05) and showing a negative correlation (r = -0.127), meaning that higher self-objectification is associated with lower life satisfaction. Based on these findings, it can be concluded that the hypothesis of this study is accepted. This research can provide knowledge to young adults about the importance of building self-awareness regarding the negative impacts of excessive internet use. ___________________________________________________________________Banyak dewasa awal yang menggunakan instagram karena memberikan kemudahan. Namun jika digunakan berlebihan akan memberikan terhadap kepuasan hidup. Penurunan kepuasan hidup terjadi ketika individu secara berlebihan menilai diri dan memicu internalisasi standar kecantikan yang tidak realistis. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 260 dewasa awal perempuan berusia 18-22 tahun yang aktif menggunakan instagram minimal 3 jam sehari dan menggunakan filter percantik Instagram. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang nonprobability sampling. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) skala psikologi yaitu (1) alat ukur Self Objectification disusun oleh peneliti berdasarkan teori Dahl dkk. (2014) dan alat ukur kepuasan hidup yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan aspek kepuasan hidup yang dikemukakan oleh Diener dkk. (1999). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara self-objectification dan kepuasan hidup yaitu sig 0,040 (p < 0,05) dan menunjukkan arah hubungan yang negatif (r = -0,127) yang berarti semakin tinggi self-objectification maka semakin rendah kepuasan hidup. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Melalui penelitian ini maka dapat memberikan pengetahuan kepada dewasa awal bahwa penting untuk membangun kesadaran diri terhadap dampak negatif dari penggunaan internet yang berlebihan
Peningkatan Kepercayaan Diri melalui Bimbingan Klasikal Berbasis Group Discussion dan Media Bamboozle Nadhifah, Hafsya Afra; Sucipto, Muhammad Arif Budiman; Nugraha, Rahmad Agung
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 11, No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.20226

Abstract

The analysis of the Student Needs Assessment Questionnaire (AKPD) indicated that 3.26% of respondents experienced problems related to low self-confidence. This study aims to examine students’ understanding of self-confidence before and after receiving classical guidance through the group discussion method assisted by Bamboozle Media, as well as to evaluate its effectiveness in enhancing self-confidence among seventh-grade students of class VII B at SMP Negeri 12 Kota Tegal. The research employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pre-test and post-test design, involving 32 students with low self-confidence who were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires, observation, and documentation. The research instrument showed high reliability, with a Cronbach’s Alpha score of 0.945. Data analysis employed normality tests, homogeneity tests, and a paired sample t-test. Findings revealed that the mean self-confidence score increased from the pre-test average of 78.21 (moderate category) to the post-test average of 170.18 (high category). Statistical testing showed a significant difference with a t-value of -40.096 and a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05, thus Ha was accepted. Effect size analysis using Cohen’s d yielded a score of 9.566, which indicates very large practical significance. This study provides strong empirical evidence that classical guidance through group discussion, supported by interactive digital media, is highly effective in improving students’ self-confidence, thereby offering innovative strategies for school counselors in the digital era. ____________________________________________________________Analisis Angket Kebutuhan Peserta Didik (AKPD) menunjukkan 3,26% responden menghadapi masalah kepercayaan diri rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pemahaman kepercayaan diri peserta didik sebelum dan sesudah diberikan bimbingan klasikal melalui metode group discussion berbantuan media Bamboozle, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman kepercayaan diri siswa kelas VII B SMP Negeri 12 Kota Tegal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pre-test dan post-test, melibatkan 32 siswa dengan kepercayaan diri rendah yang dipilih melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi, dan dokumentasi, dengan instrumen reliabel (Cronbach’s Alpha 0,945). Analisis data mencakup uji normalitas, homogenitas, dan paired sample t-test. Hasil menunjukkan rata-rata skor kepercayaan diri meningkat dari 78,21 (kategori sedang) pada pre-test menjadi 170,18 (kategori tinggi) pada post-test. Uji statistik menemukan perbedaan signifikan (t = -40,096; Sig. 0,000 < 0,05), sehingga Ha diterima. Analisis effect size menunjukkan Cohen’s d = 9,566 yang mengindikasikan signifikansi praktis sangat besar. Penelitian ini menegaskan bahwa bimbingan klasikal dengan metode group discussion berbantuan media digital interaktif Bamboozle terbukti sangat efektif meningkatkan pemahaman kepercayaan diri siswa, serta memberikan kontribusi nyata pada praktik bimbingan dan konseling di sekolah.
Potret Pribadi Hari Esok: Kajian Perspektif Carl Rogers pada Siswa Sekolah Menengah Fitri Yulianti; Astri Rachmahyani; M. Fiqri Syahril
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23060

Abstract

Adolescence is an important phase in personality formation and individuals’ orientation toward the future. From the perspective of humanistic psychology, Carl Rogers introduced the concept of the person of tomorrow as an individual who holds a positive view of the self and the future and is capable of functioning optimally. This study aims to describe the profile of the person of tomorrow among senior high school/vocational school students based on Carl Rogers’ perspective. The study employed a descriptive quantitative approach using a survey method involving 241 students from SMA/SMK in Bandung Regency, selected through purposive sampling. The instrument used was the Person of Tomorrow Scale consisting of 33 Likert-type items (1–5) covering seven indicators. Instrument validity testing using the Rasch model showed that all items met the criteria of Outfit MNSQ (0.5–1.5), ZSTD (-3.3 to 2.9), and Point Measure Correlation (0.34–0.53). The instrument reliability demonstrated a Cronbach’s Alpha of 0.91 (excellent), person reliability of 0.85 (good), and item reliability of 0.98 (excellent). Data analysis was conducted using descriptive statistics through mean scores, standard deviation, and empirical norm-based categorization (M ± 1SD). The results indicated that the profile of the person of tomorrow was at a moderate level (72%), with 15% in the high category and 13% in the low category. All indicators were also at a moderate level, indicating that the characteristics of the person of tomorrow have begun to develop among students but have not yet reached an optimal condition and still require further strengthening. This study provides empirical contributions to the humanistic concept of Rogers in the Indonesian student context and serves as a basis for developing counseling and guidance services focused on strengthening the characteristics of the person of tomorrow. ____________________________________________________________Masa remaja merupakan fase penting pembentukan kepribadian dan orientasi individu terhadap masa depan. Dalam perspektif psikologi humanistik, Carl Rogers mengemukakan konsep the person of tomorrow sebagai gambaran individu yang memiliki pandangan positif terhadap diri dan masa depan serta kemampuan berfungsi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil the person of tomorrow pada peserta didik SMA/SMK berdasarkan perspektif Carl Rogers. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei terhadap 241 siswa SMA/SMK di Kabupaten Bandung yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah The Person of Tomorrow Scale yang terdiri dari 33 item skala Likert (1–5) dengan tujuh indikator. Uji validitas instrumen menggunakan model Rasch menunjukkan seluruh item memenuhi kriteria Outfit MNSQ (0,5–1,5), ZSTD (-3,3 hingga 2,9), serta Point Measure Correlation (0,34–0,53). Reliabilitas[FY1]  instrumen menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,91 (sangat baik), reliabilitas person 0,85 (baik), dan reliabilitas item 0,98 (sangat baik). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan skor rata-rata, standar deviasi, serta kategorisasi berbasis norma empiris (M ± 1SD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil the person of tomorrow berada pada kategori sedang (72%), kategori tinggi (15%), dan kategori rendah (13%). Seluruh indikator juga berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa karakteristik pribadi hari esok telah mulai berkembang pada peserta didik, namun belum mencapai kondisi yang optimal dan masih memerlukan penguatan lebih lanjut. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam mengkaji konsep humanistik Rogers pada konteks peserta didik Indonesia serta menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling berbasis penguatan karakteristik the person of tomorrow.
Analisis Kuantitatif Self-Efficacy, Parental Involvement, dan Learning Engagement pada Siswa Penerima Beasiswa Program Afirmasi Rohmah Lulu Fitriani; Ernest Ceti Septyanti
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23777

Abstract

This study aimed to analyze the relationship and contribution of self-efficacy and parental involvement to the learning engagement of junior high school students participating in an affirmative program in Gunungpati District, Semarang City. A quantitative approach with a non-experimental causal design was employed. The study involved 169 students selected through purposive sampling. Data were collected using self-efficacy, parental involvement, and learning engagement scales that met validity and reliability requirements. Multiple linear regression was used for data analysis. The results showed that self-efficacy had a positive and significant effect on learning engagement (β = 0.452; p < 0.001; t = 7.154). Parental involvement also had a positive and significant effect on learning engagement (β = 0.374; p < 0.001; t = 5.488). Simultaneously, both variables made a significant contribution to learning engagement with a coefficient of determination (R²) of 0.459, indicating that 45.9% of the variance in learning engagement was explained by self-efficacy and parental involvement. These findings highlight the importance of internal and external factors in enhancing students’ learning engagement through self-efficacy development and school-parent collaboration._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dan kontribusi efikasi diri serta keterlibatan orang tua terhadap keterlibatan belajar siswa SMP penerima program afirmasi di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal non-eksperimental. Sebanyak 169 siswa dipilih sebagai responden melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala efikasi diri, keterlibatan orang tua, dan keterlibatan belajar yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan belajar (β = 0,452; p < 0,001; t = 7,154). Keterlibatan orang tua juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan belajar (β = 0,374; p < 0,001; t = 5,488). Secara simultan, kedua variabel memberikan kontribusi signifikan dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,459, yang menunjukkan bahwa 45,9% variasi keterlibatan belajar dapat dijelaskan oleh efikasi diri dan keterlibatan orang tua. Temuan ini menegaskan pentingnya faktor internal dan eksternal dalam meningkatkan keterlibatan belajar siswa melalui penguatan efikasi diri dan kolaborasi sekolah dengan orang tua.
Model Konseptual Intervensi Kesehatan Mental Berbasis AI-Cognitive Behavioral Therapy (AI-CBT) pada Generasi Z Annisa Fadillah
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23875

Abstract

This study aimed to develop a conceptual model of Artificial Intelligence–Cognitive Behavioral Therapy (AI-CBT) for Generation Z using a grounded theory approach. The study was motivated by the increasing prevalence of mental health issues, particularly anxiety and emotional regulation difficulties, associated with intensive digital technology use among Generation Z. A qualitative grounded theory design was employed to explore participants’ experiences and generate conceptual categories from the data. Participants included high school students, school counselors, and professional counselors selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis and analyzed using open, axial, and selective coding procedures. The findings revealed a core category: the need for adaptive, personalized, and technology-accessible mental health services. This category was connected to Generation Z characteristics, factors contributing to mental health problems, counseling service needs, CBT intervention components, and the role of Artificial Intelligence in counseling. These relationships formed the basis of the proposed AI-CBT model, which consists of three components: input (individual characteristics and psychological concerns), process (AI-supported CBT techniques, including chatbot interactions, automated cognitive restructuring, emotional monitoring, sentiment analysis, personalized feedback, and adaptive support), and output (improved emotional regulation and reduced anxiety). The study provides a foundation for developing and empirically testing technology-driven counseling interventions. _____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan mengembangkan model konseptual Artificial Intelligence–Cognitive Behavioral Therapy (AI-CBT) bagi Generasi Z dengan menggunakan pendekatan grounded theory. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan kesehatan mental, khususnya kecemasan dan kesulitan regulasi emosi, yang berkaitan dengan intensitas penggunaan teknologi digital pada Generasi Z. Desain penelitian kualitatif grounded theory digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman partisipan dan menghasilkan kategori-kategori konseptual yang muncul dari data. Partisipan penelitian terdiri atas siswa sekolah menengah, guru bimbingan dan konseling, serta konselor profesional yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan prosedur open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian mengidentifikasi kategori inti berupa kebutuhan akan layanan kesehatan mental yang adaptif, personal, dan mudah diakses melalui teknologi. Kategori ini terhubung dengan karakteristik Generasi Z, faktor-faktor penyebab masalah kesehatan mental, kebutuhan layanan konseling, komponen intervensi CBT, serta peran kecerdasan buatan dalam proses konseling. Hubungan antarkategori tersebut membentuk model AI-CBT yang terdiri atas tiga komponen utama, yaitu input (karakteristik individu dan permasalahan psikologis), proses (penerapan teknik CBT berbantuan AI melalui chatbot, restrukturisasi kognitif otomatis, pemantauan emosi, analisis sentimen, umpan balik personal, dan dukungan adaptif), serta output (peningkatan regulasi emosi dan penurunan tingkat kecemasan). Temuan ini memberikan landasan bagi pengembangan dan pengujian empiris intervensi konseling berbasis teknologi.
Mengelola Tekanan Skripsi : Peran Solidaritas dan Kelekatan Sosial dalam Strategi Koping Akademik Mahasiswa Akhir Nadya Ovianti; Adnan Achiruddin Saleh; Emilia Mustary; Ulfah Ulfah
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23168

Abstract

Academic pressure in the thesis-writing process is one of the main challenges faced by final-year students and may influence the academic coping strategies they employ. This study aims to analyze the effect of social solidarity and social attachment on academic coping strategies among final-year students at IAIN Parepare. The study used a quantitative approach with a non-experimental correlational design. The research sample consisted of 306 students selected using a stratified proportional random sampling technique. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results show that social solidarity (β = 0.191; p < 0.05) and social attachment (β = 0.360; p < 0.05) have a positive and significant effect on academic coping strategies, both partially and simultaneously. The coefficient of determination (R² = 0.209) indicates that the independent variables explain 20.9% of the variation in academic coping strategies, which is categorized as low to moderate. In conclusion, social relationships play a role in helping students manage academic pressure in a more adaptive manner, although their influence remains relatively limited. ____________________________________________________________________Tekanan akademik dalam penyusunan skripsi menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir dan dapat memengaruhi strategi koping akademik yang mereka gunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh solidaritas sosial dan kelekatan sosial terhadap strategi koping akademik mahasiswa tingkat akhir di IAIN Parepare. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental. Sampel penelitian berjumlah 306 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik stratified proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas sosial (β = 0,191; p < 0,05) dan kelekatan sosial (β = 0,360; p < 0,05) berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi koping akademik, baik secara parsial maupun simultan. Nilai R² sebesar 0,209 menunjukkan bahwa variabel independen mampu menjelaskan 20,9% variasi strategi koping akademik yang termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Kesimpulannya, hubungan sosial berperan dalam membantu mahasiswa mengelola tekanan akademik secara lebih adaptif, meskipun pengaruhnya relatif terbatas.
Konstruksi dan Validasi Isi Instrumen Uji Kemampuan Konseling Rational-Emotive-Behavior Indri Reskiana; Anelvi Novita Sari; Faisal Asmen; Yulia Astuti; Siti Maripah
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23673

Abstract

This study aimed to construct and examine the content validity of a counseling skills instrument based on the Rational Emotive Behavior (REB) approach. The instrument was developed using the A-B-C-D-E framework to assess counselors’ cognitive restructuring skills in individual counseling sessions. This study employed an instrument development design focused on initial instrument construction and content validation. Validation involved two expert validators and one practitioner validator selected through purposive sampling. The instrument consisted of 18 items distributed across five REB dimensions. Content validity was analyzed using Aiken’s V coefficient. The findings showed that all instrument items had high content validity, with Aiken’s V coefficients ranging from 0.82 to 0.98. Revisions based on validator feedback improved the clarity, readability, and applicability of the instrument. These findings indicate that the instrument has initial feasibility as an observational instrument for assessing counseling skills based on the REB approach._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi dan menguji validitas isi instrumen kemampuan konseling Rational Emotive Behavior (REB). Instrumen dikembangkan menggunakan kerangka A-B-C-D-E untuk mengukur kemampuan restrukturisasi kognitif konselor dalam layanan konseling individual. Penelitian ini menggunakan desain pengembangan instrumen yang difokuskan pada tahap awal konstruksi dan validasi isi instrumen. Validasi melibatkan dua validator ahli dan satu validator praktisi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen terdiri atas 18 butir yang terbagi ke dalam lima dimensi REB. Validitas isi dianalisis menggunakan koefisien Aiken’s V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh butir instrumen memiliki validitas isi tinggi dengan rentang koefisien Aiken’s V sebesar 0,82–0,98. Revisi berdasarkan masukan validator meningkatkan kejelasan, keterbacaan, dan keterterapan instrumen. Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki kelayakan awal sebagai instrumen observasional keterampilan konseling REB.
Kontribusi Regulasi Emosi terhadap Tingkat Stres pada Siswa Nada Fristy Yusri; Reggiana Brescia; Deasy Dwi Cahayaningtyas Arifin; Farouq Fathurrahman; Risma Kumara Rani
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23488

Abstract

The increasing academic and psychosocial pressures experienced by junior high school students highlight the importance of understanding factors that influence stress levels, particularly emotional regulation. This study aimed to identify the levels of emotional regulation and stress among students at SMPN 243 Jakarta and examine the role of emotional regulation in predicting students’ stress levels. A quantitative correlational design was employed involving 133 students selected through purposive sampling. Data were analyzed using normality and linearity tests, followed by Pearson correlation and simple linear regression analyses. The results revealed that emotional regulation had a significant effect on students’ stress levels (p < .001). The regression equation obtained was Y = 121.606 − 0.481X, with a standardized beta coefficient of β = −0.391. These findings indicate a negative relationship between emotional regulation and stress, suggesting that students with better emotional regulation tend to experience lower levels of stress. Emotional regulation accounted for 15.3% of the variance in students’ stress levels, while the remaining variance was explained by other factors not examined in this study. The findings emphasize the importance of implementing social-emotional learning programs, stress management training, and preventive counseling services to strengthen students’ emotional regulation skills and help them cope more effectively with academic and psychosocial demands. _____________________________________________________________Tekanan akademik dan psikososial yang semakin meningkat pada siswa sekolah menengah pertama menjadikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stres, khususnya regulasi emosi, semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat regulasi emosi dan stres siswa SMPN 243 Jakarta serta menguji peran regulasi emosi dalam memprediksi tingkat stres siswa. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 133 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji linearitas, korelasi Pearson, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres siswa (p < 0,001). Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 121,606 − 0,481X dengan koefisien beta terstandarisasi sebesar β = −0,391. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres, yang berarti siswa dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah. Regulasi emosi memberikan kontribusi sebesar 15,3% terhadap variasi tingkat stres siswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hasil penelitian menegaskan pentingnya pengembangan program pembelajaran sosial-emosional, pelatihan manajemen stres, dan layanan konseling preventif untuk memperkuat kemampuan regulasi emosi siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan psikososial.
Efektifitas Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama untuk Mereduksi Kecemasan Akademik Siswa Menghadapi Asesmen Sumatif Tengah Semester Delia Irana Dewi; Drajat Edy Kurniawan
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23056

Abstract

Academic anxiety is a common psychological problem experienced by students when facing academic evaluations, particularly summative assessments. This study aims to examine the effect of group guidance using the sociodrama technique on reducing students’ academic anxiety. The study employed a quantitative approach with a pre-experimental one group pre-test post-test design. The population consisted of tenth-grade students, with a sample of six students selected through purposive sampling based on high levels of academic anxiety. The intervention was conducted in five sessions, each lasting 60–90 minutes, following sociodrama stages including warm-up, role selection, enactment, discussion, and reflection. The instrument used was an academic anxiety scale in Likert form that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using a paired sample t-test after normality testing. The results indicated a decrease in academic anxiety scores after the intervention with a significance level of p < 0.05. The hypothesis stating that group guidance with the sociodrama technique influences academic anxiety was statistically supported. However, the small sample size limits the generalizability of the findings. These results suggest that the sociodrama technique has potential as an alternative intervention to help students manage academic anxiety. ____________________________________________________________________Kecemasan akademik merupakan masalah psikologis yang sering dialami siswa dalam menghadapi evaluasi pembelajaran, khususnya asesmen sumatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap penurunan kecemasan akademik siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test. Populasi penelitian adalah siswa kelas X, dengan sampel sebanyak 6 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tingkat kecemasan akademik tinggi. Intervensi dilakukan dalam 5 sesi dengan durasi 60–90 menit per sesi menggunakan tahapan sosiodrama yang meliputi pemanasan, penentuan peran, pementasan, diskusi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah skala kecemasan akademik berbentuk Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan paired sample t-test setelah dilakukan uji normalitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan akademik setelah intervensi dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hipotesis penelitian yang menyatakan adanya pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap kecemasan akademik didukung secara statistik. Namun demikian, ukuran sampel yang kecil membatasi generalisasi hasil penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik sosiodrama berpotensi menjadi alternatif intervensi dalam membantu siswa mengelola kecemasan akademik.
Pengaruh Konseling Individu dengan Teknik Expressive Writing Terhadap Resiliensi Akademik Mahasiswa yang Menempuh Skripsi Millatina Hanifa; Arifin Nur Budiono; Fakhruddin Mutakin
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 12, No 1 (2026): June (In Press)
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23771

Abstract

This study aimed to examine the effect of individual counseling using expressive writing techniques on improving students’ academic resilience at the Islamic University of Jember. A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design was employed. The participants were three students selected through purposive sampling due to their low levels of academic resilience based on pretest results. Data were collected using an academic resilience questionnaire covering self-adjustment, problem-solving, resourcefulness in dealing with challenges, and confidence and perseverance. The instrument demonstrated high reliability and was considered appropriate for measuring academic resilience. The findings indicated an increase in the average academic resilience score from 77 (low category) on the pretest to 88 (high category) on the posttest. The paired-sample t-test revealed a calculated t-value of 17.065, exceeding the critical t-value of 4.303, with a significance level of 0.003 (p < 0.05), indicating a statistically significant improvement. However, the findings should be interpreted cautiously due to the very limited sample size. Overall, the results suggest that individual counseling combined with expressive writing techniques has the potential to enhance students’ academic resilience and may serve as an alternative counseling intervention that addresses students’ emotional needs._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling individual dengan teknik expressive writing terhadap peningkatan resiliensi akademik mahasiswa di Universitas Islam Jember. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one-group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas tiga mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling karena memiliki tingkat resiliensi akademik rendah berdasarkan hasil pretest. Data dikumpulkan menggunakan angket resiliensi akademik yang mencakup aspek penyesuaian diri, pemecahan masalah, kemampuan memanfaatkan sumber daya dalam menghadapi masalah, serta kepercayaan diri dan ketekunan. Instrumen yang digunakan telah memenuhi kriteria reliabilitas tinggi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor resiliensi akademik dari rata-rata 77 (kategori rendah) pada pretest menjadi 88 (kategori tinggi) pada posttest. Uji paired sample t-test menunjukkan nilai t hitung sebesar 17,065 lebih besar daripada t tabel 4,303 dengan nilai signifikansi 0,003 (p < 0,05), sehingga hipotesis alternatif diterima. Meskipun demikian, hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati mengingat jumlah subjek yang sangat terbatas. Secara umum, temuan penelitian mengindikasikan bahwa konseling individual dengan teknik expressive writing berpotensi meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa dan dapat menjadi alternatif layanan bimbingan dan konseling yang responsif terhadap kebutuhan emosional mahasiswa.