cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman
ISSN : -     EISSN : 24776300     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman adalah jurnal peer-review yang diterbitkan oleh UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin. Jurnal ini terbit sebanyak dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini menerbitkan penelitian dan artikel konseptual yang berkaitan dengan bidang ilmu bimbingan dan konseling, pendidikan, dan psikologi pendidikan..
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Dinamika Interaksi Sosial Mahasiswa Broken-home dengan Teman Sebaya di Perguruan Tinggi Al Fitri Nur Hidayah; Evi Winingsih; Najlatun Naqiyah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.20754

Abstract

Coming from an incomplete family background or a broken home can significantly impact the psychological and social development of college students. In college, these students face complex challenges in building social interactions with peers, who often serve as their primary support system. The dynamics of these interactions remain poorly understood. This study aims to describe and analyze the dynamics of social interactions between students from broken homes and their peers in college. Using a qualitative approach with descriptive analysis methods, this study involved four female students as subjects. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using an interactive model. The results indicate that the interaction dynamics stem from unresolved emotional burdens from family circumstances, which drain their social energy. Furthermore, a behavioral paradox arises between the need for connection and self-protection mechanisms triggered by fear of vulnerability. Nevertheless, students demonstrate agency and resilience by developing active coping strategies. The culmination of this process is the transformation of friendship into a "chosen family" that provides emotional support and a sense of psychological security. In conclusion, the social interactions of students from broken homes are a complex adaptive process, in which successful friendships serve as a key protective factor.____________________________________________________________Latar belakang keluarga yang tidak utuh atau broken home memberikan dampak signifikan bagi perkembangan psikologis dan sosial mahasiswa. Di perguruan tinggi, mahasiswa ini menghadapi tantangan kompleks dalam membangun interaksi sosial dengan teman sebaya, yang seringkali menjadi sistem pendukung utama mereka. Dinamika interaksi ini belum banyak dipahami secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dinamika interaksi sosial mahasiswa berlatarbelakang broken home dengan teman sebaya di perguruan tinggi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif, penelitian ini melibatkan empat orang mahasiswi sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika interaksi berawal dari beban emosional yang tidak terselesaikan dari kondisi keluarga, yang menguras energi sosial mereka. Selanjutnya, terjadi paradoks perilaku antara kebutuhan untuk terhubung dan mekanisme perlindungan diri yang dipicu oleh ketakutan akan kerentanan. Meskipun demikian, mahasiswa menunjukkan agensi dan resiliensi dengan mengembangkan strategi koping aktif. Puncak dari proses ini adalah transformasi makna pertemanan menjadi "keluarga pilihan" (chosen family) yang menyediakan dukungan emosional dan rasa aman psikologis. Kesimpulannya, interaksi sosial mahasiswa broken home adalah proses adaptif yang kompleks, di mana pertemanan yang sukses berfungsi sebagai faktor protektif utama.
Pengembangan Panduan Model Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Komunikasi Empatik dalam Pencegahan Bullying di Sekolah Bantaran Sungai Ririanti Rachmayanie; Shoofii Syammari; Asih Nor Zahidah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.20756

Abstract

This study aimed to develop and test the effectiveness of a Think-Pair-Share (TPS) guideline to enhance empathic communication as a preventive effort against bullying among junior high school students. The study employed the Borg and Gall Research and Development model, limited to the initial product trial stage because the guideline was not yet ready for broader dissemination. Participants consisted of seven ninth-grade students at SMP Negeri 24 Banjarmasin who were selected based on low to moderate levels of bullying behavior, recommendations from the school counselor, and willingness to participate. The instruments included expert validation sheets, an empathic communication questionnaire based on Adler and Towne’s indicators, process evaluation, outcome evaluation, and a student satisfaction questionnaire. The feasibility test showed that the guideline was valid, with scores of 79.6% from the material expert, 91.5% from the media expert, and 97.9% from the practitioner. Normality testing indicated that the data were not normally distributed; therefore, the Wilcoxon Signed Rank Test was used. The results showed a significance value of 0.000 (p < 0.05), which indicates a significant increase in students’ empathic communication after participating in group guidance using TPS. In addition, process, outcome, and satisfaction evaluations were in the very high category._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas panduan model Think-Pair-Share (TPS) untuk meningkatkan komunikasi empatik sebagai upaya pencegahan bullying pada siswa SMP. Penelitian menggunakan metode Research and Development model Borg dan Gall, namun hanya dilaksanakan sampai tahap uji coba produk awal karena produk belum siap disebarkan secara luas. Subjek penelitian terdiri dari tujuh siswa kelas IX SMP Negeri 24 Banjarmasin yang dipilih berdasarkan tingkat perilaku bullying rendah–sedang, rekomendasi guru BK, serta kesiapan bekerja sama. Instrumen yang digunakan meliputi validasi ahli, angket komunikasi empatik berdasarkan indikator Adler & Towne, evaluasi proses, evaluasi hasil, dan angket kepuasan siswa. Hasil validasi menunjukkan kelayakan panduan dengan persentase 79,6% (ahli materi), 91,5% (ahli media), dan 97,9% (praktisi). Uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal sehingga analisis efektivitas menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil uji menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), menandakan adanya peningkatan komunikasi empatik setelah layanan diberikan. Evaluasi proses, hasil, dan kepuasan juga berada pada kategori sangat tinggi, masing-masing 90%, 91,4%, dan 94%. Dengan demikian, panduan TPS dinyatakan layak dan efektif digunakan dalam bimbingan kelompok untuk meningkatkan komunikasi empatik siswa sebagai upaya pencegahan bullying.
Strategi Coping Anak Broken-home dalam Menghadapi Tekanan Ananda Dwi Shepty Mi&#039;rajtul Jannah; Evi Winingsih; Najlatun Naqiyah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.20761

Abstract

A broken-home refers to a family condition marked by disharmony, parental conflict, or separation that disrupts emotional stability and adaptation in children. University students from broken-home backgrounds often experience psychological pressures such as loneliness, loss of parental figures, and difficulties in regulating emotions. This study aims to describe the types of pressures encountered, the coping strategies employed, and the role of social support in helping students deal with these challenges. The research used a qualitative descriptive method. Data were collected through semi-structured interviews with four students from broken-home families. The results revealed that students used two main types of coping strategies: problem-focused coping through problem-solving efforts and seeking social support, and emotion-focused coping through self-control, reflection, and positive activities such as writing or praying. Peer support emerged as a crucial factor that strengthened resilience and promoted self-acceptance among participants. This study suggests that guidance and counseling services in higher education should focus on reinforcing adaptive coping strategies, fostering supportive social environments, and developing psychoeducational programs to enhance resilience and psychological well-being among students from broken-home families. ____________________________________________________________Keluarga broken-home merupakan kondisi di mana keharmonisan keluarga terganggu akibat konflik, perceraian, atau ketidakhadiran salah satu orang tua, yang berdampak pada kestabilan emosional dan kemampuan adaptasi anak. Mahasiswa yang berasal dari keluarga broken-home sering menghadapi tekanan psikologis seperti kesepian, kehilangan figur, dan kesulitan dalam mengelola emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tekanan yang dialami, strategi coping yang digunakan, serta peran dukungan sosial dalam membantu mahasiswa menghadapi tekanan tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif  deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap empat mahasiswa dari keluarga broken-home. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan dua bentuk strategi coping utama, yaitu problem-focused coping melalui upaya penyelesaian masalah dan pencarian dukungan sosial, serta emotion-focused coping melalui pengendalian diri, refleksi, dan kegiatan positif seperti menulis atau berdoa. Dukungan teman sebaya terbukti menjadi faktor penting yang memperkuat resiliensi dan menumbuhkan rasa penerimaan diri. Penelitian ini menyarankan agar layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi lebih berfokus pada penguatan strategi coping adaptif, membangun lingkungan sosial yang suportif, serta mengembangkan program psikoedukasi untuk meningkatkan resiliensi dan kesejahteraan psikologis mahasiswa broken-home.
Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Prokrastinasi Akademik Siswa Sekolah Menengah Pertama Miswanto Miswanto; Fernando Sihite
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21090

Abstract

This study aims to analyze the direction and strength of the relationship between social media use and academic procrastination among seventh-grade students at SMP Negeri 27 Medan, while also providing an empirical foundation for the development of school-based guidance and counseling services. The research employed a quantitative approach using a correlational design. The sample consisted of 133 seventh-grade students selected through a convenience sampling technique from a single school population. Research instruments included a social media use scale and an academic procrastination scale, both of which fulfilled established validity and reliability requirements. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation technique. The results indicated a correlation coefficient of r = 0.483 with a significance value of p = 0.000 (p < 0.05), demonstrating a positive and statistically significant relationship between social media use and academic procrastination. The coefficient of determination showed that social media use contributed 1.7% to students’ academic procrastination, while the remaining 98.3% was influenced by other factors not examined in this study. Although the contribution was relatively small, social media use can still be considered a potential risk factor. _____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan menganalisis arah dan kekuatan hubungan antara penggunaan media sosial dan prokrastinasi akademik pada siswa kelas VII SMP Negeri 27 Medan serta memberikan dasar empiris bagi pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 133 siswa kelas VII yang dipilih melalui teknik convenience sampling pada satu sekolah. Instrumen yang digunakan berupa skala penggunaan media sosial dan skala prokrastinasi akademik yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi sebesar r = 0,483 dengan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya hubungan positif dan signifikan antara penggunaan media sosial dan prokrastinasi akademik siswa. Koefisien determinasi menunjukkan nilai R² sebesar 0,017, artinya penggunaan media sosial memberikan kontribusi sebesar 1,7% terhadap prokrastinasi akademik, sedangkan 98,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun kontribusinya relatif kecil, penggunaan media sosial tetap menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan. Secara praktis, hasil penelitian ini berimplikasi pada pentingnya layanan Bimbingan dan Konseling yang bersifat preventif dan pengembangan, melalui layanan informasi, bimbingan klasikal, serta konseling
Efektivitas Konseling Kelompok Teknik Cinematherapy untuk Meningkatkan Self-esteem Siswa Madrasah Tsanawiyah Siti Aisah; Yurike Kinanthy Karamoy; Fakhruddin Mutakin
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21171

Abstract

This study examined the effectiveness of group counseling using cinematherapy to improve self-esteem among seventh-grade students in Islamic secondary schools. The research was motivated by students’ tendencies to experience low self-esteem due to academic pressures and social–religious expectations within the school environment. A quantitative method with a pre-experimental one-group pretest–posttest design was applied. Participants were ten students identified as having low self-esteem through an initial assessment. Data were collected using a self-esteem scale that had been tested for validity and reliability, then analyzed with a paired-sample t-test. The findings showed a statistically significant increase in self-esteem after six group counseling sessions integrating cinematherapy (p < 0.05). The films encouraged self-reflection, helped students identify positive values, and strengthened self-image through structured and empathetic group discussions. Although the sample size was limited and no control group was used, the results indicate that cinematherapy is an innovative approach for group counseling services in Islamic schools to support students’ self-esteem development. ____________________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas layanan konseling kelompok dengan teknik cinematherapy dalam meningkatkan self-esteem siswa kelas VII di madrasah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan rendahnya self-esteem siswa akibat tuntutan akademik serta ekspektasi sosial dan religius di lingkungan sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimental tipe one-group pretest–posttest. Subjek penelitian terdiri atas sepuluh siswa yang memiliki skor self-esteem rendah berdasarkan hasil asesmen awal. Data dikumpulkan menggunakan skala self-esteem yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji paired-sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan self-esteem siswa yang signifikan secara statistik setelah mengikuti enam sesi konseling kelompok berbasis cinematherapy (p < 0,05), yang mengindikasikan peningkatan yang substansial setelah intervensi diberikan. Penggunaan film dalam layanan konseling kelompok memfasilitasi proses refleksi diri, identifikasi nilai positif, serta penguatan citra diri melalui diskusi kelompok yang terstruktur dan empatik. Meskipun penelitian ini memiliki keterbatasan pada ukuran sampel dan desain tanpa kelompok kontrol, temuan ini menunjukkan bahwa cinematherapy berpotensi menjadi pendekatan yang efektif dan inovatif dalam layanan Bimbingan dan Konseling di madrasah.
Pengaruh Konseling Kelompok Teknik Self-Management terhadap Disiplin Belajar Siswa Madrasah Aliyah Syahro Unzilatur Rohman; Yurike Kinanthy Karamoy; Fakhruddin Mutakin
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21172

Abstract

Learning discipline is a crucial factor in students’ academic success; however, Islamic senior high school students (Madrasah Aliyah) often experience problems such as tardiness, task procrastination, and poor time management. This study aimed to examine the effect of group counseling services using the self-management technique on students’ learning discipline. A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design was employed. The participants consisted of seven eleventh-grade students selected through purposive sampling. The intervention was conducted in four group counseling sessions focusing on self-monitoring, self-evaluation, and self-reinforcement. Data were collected using a learning discipline scale with established validity and reliability, and analyzed using a paired sample t-test. The results indicated a significant difference in students’ learning discipline levels before and after participating in the group counseling sessions. These findings suggest that strengthening self-regulation through group-based self-management activities is positively associated with improved learning discipline. This study concludes that group counseling with the self-management technique has the potential to serve as a contextual guidance and counseling strategy for fostering learning discipline among Madrasah Aliyah students. _____________________________________________________________Disiplin belajar merupakan aspek penting dalam keberhasilan akademik siswa, namun pada jenjang Madrasah Aliyah masih ditemukan berbagai permasalahan seperti keterlambatan hadir, prokrastinasi tugas, dan rendahnya pengelolaan waktu belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh layanan konseling kelompok dengan teknik self-management terhadap disiplin belajar siswa Madrasah Aliyah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one-group pretest–posttest. Subjek penelitian berjumlah tujuh siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui empat sesi konseling kelompok yang menekankan tahapan self-monitoring, self-evaluation, dan self-reinforcement. Data dikumpulkan menggunakan skala disiplin belajar yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat disiplin belajar siswa sebelum dan sesudah mengikuti layanan konseling kelompok dengan teknik self-management. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan pengelolaan diri melalui dinamika kelompok berasosiasi positif dengan peningkatan disiplin belajar siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konseling kelompok dengan teknik self-management berpotensi menjadi strategi layanan bimbingan dan konseling yang kontekstual dalam membina disiplin belajar siswa Madrasah Aliyah.
Pengembangan Sistem Pakar BK Berbasis Web: Analisis Kebutuhan dan Akuisisi Pengetahuan dengan Metode Forward Chaining Ai Lena; Irdam Denni; Demmy Dharma Bhakti
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21174

Abstract

Guidance and Counseling Services in schools often experience operational inefficiencies, such as manual recording of consultation histories and slow and unstandardized identification of student problems (personal, social, and learning). These problems underlie the need to develop a web-based expert system capable of providing a systematic initial diagnosis. This study aims to analyze the functional requirements of the system and acquire and formulate an initial knowledge base from Guidance and Counseling Teachers as domain experts. The method used is Research and Development guided by the Expert System Development Life Cycle framework, with a focus on the Planning and Knowledge Definition stages through structured interviews. This study specifically fills the gap in the literature on the formalization stage of the initial knowledge base of an expert system focused on guidance and counseling services. The results are the definition of the system's functional requirements (digital history module and PDF reporting) and an initial knowledge base in the form of a structured IF-THEN rule set. This knowledge base justifies the use of the Forward Chaining method as an inference logic that runs from student symptoms to diagnostic conclusions. With this valid rule base, the system is ready to become the foundation for an accurate diagnosis. ___________________________________________________________________Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah seringkali mengalami inefisiensi operasional, seperti pencatatan riwayat konsultasi yang masih manual dan identifikasi masalah siswa (pribadi, sosial, belajar) yang lambat dan belum terstandar. Permasalahan ini mendasari kebutuhan untuk mengembangkan sistem pakar berbasis web yang mampu memberikan diagnosis awal secara sistematis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan fungsional sistem dan mengakuisisi serta merumuskan basis pengetahuan awal dari Guru Bimbingan dan Konseling sebagai pakar domain. Metode yang digunakan adalah Research and Development yang dipandu oleh kerangka Expert system Development Life Cycle, dengan fokus pada tahap Perencanaan dan Pendefinisian Pengetahuan melalui wawancara terstruktur. Penelitian ini secara spesifik mengisi kekosongan literatur pada tahap formalisasi basis pengetahuan awal sistem pakar yang berfokus pada layanan bimbingan dan konseling. Hasilnya adalah terdefinisinya kebutuhan fungsional sistem (modul riwayat digital dan pelaporan PDF) dan basis pengetahuan awal berupa set aturan IF-THEN yang terstruktur. Basis pengetahuan ini menjustifikasi penggunaan metode Forward Chaining sebagai logika inferensi yang berjalan dari gejala siswa menuju kesimpulan diagnosis. Dengan basis aturan yang valid ini, sistem siap menjadi fondasi diagnosis yang akurat.
Pengaruh Iklim Sekolah dan Self Control terhadap Perilaku Membolos Siswa SMP Berlian Mayang Indraswari; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi; Wiryo Nuryono
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21278

Abstract

The study aimed to determine the influence of school climate and self-control on truancy behavior among junior high school students. A quantitative approach with an ex-post facto design. The sampling technique is purposive sampling in three schools in Surabaya City for grades 7 and 8, involving 143 students. Data collection was conducted using questionnaires on school climate (133 items), self-control (29 items), and truancy behavior (45 items). Data analysis was performed using normality, multicollinearity, heteroscedasticity, simple and multiple linear regression tests. The research findings revealed that there was an effect of X1 on Y (t value = |-11.966| > 1.977; sig 0.00 < 0.05) of 50.4%, there was an effect of X2 on Y (t value = |-11.317| > 1.977; sig 0.00 < 0.05) of 47.6%, and there is an effect of X1 and X2 on Y (F value = 99.044 > 3.06; sig 0.001< 0.05) of 58.6%. Descriptive analysis shows that all three variables are in the moderate range, namely X1 72.7%, X2 67.1%, and Y 67.8%. The research results can provide additional data to schools to improve the quality of the school climate and increase self-control through counseling services with the support of various parties.  ____________________________________________________________________Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh iklim sekolah dan self control terhadap perilaku membolos siswa SMP. Pendekatan secara kuantitatif dengan desain ex-post facto. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling di tiga sekolah Kota Surabaya kelas 7 dan 8 sebanyak 143 siswa. Pengumpulan data melalui angket iklim sekolah (133 item), self control (29 item), dan perilaku membolos (45 item). Analisis data dengan uji normalitas, multikoleniaritas, heteroskedastsitas, regresi linear sederhana dan berganda. Temuan riset mengungkapkan ada pengaruh X1 terhadap Y (nilai t= |-11,966| > 1,977; sig 0,00 < 0,05) sebesar 50,4%, ada pengaruh X2 terhadap Y (nilai t = |-11,317| > 1,977; sig 0,00 < 0,05) sebesar 47,6%, dan ada pengaruh X1 dan X2 terhadap Y (nilai F = 99,044 > 3,06; sig 0,001< 0,05) sebesar 58,6%. Analisis deskriptif menunjukkan ketiga variabel pada kelompok sedang yaitu X1 72,7%, X2 67,1%, dan Y 67,8%. Hasil riset dapat menambah data kepada pihak sekolah untuk memperbaiki kualitas iklim sekolah dan meningkatkan self control melalui layanan BK dengan dukungan berbagai pihak.
Self-Objectification dan Kepuasan Hidup Pada Dewasa Awal Pengguna Aktif Media Sosial Instagram Mulya Puspita Sari; Yeni Anna Appulembang
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21347

Abstract

Many young adults use Instagram due to its convenience. However, excessive use can negatively impact life satisfaction. A decrease in life satisfaction occurs when individuals excessively self-evaluate and internalize unrealistic beauty standards. The subjects in this study were 260 female young adults aged 18-22 who actively used Instagram for at least 3 hours a day and utilized Instagram's beauty filters. This study employed a non-probability sampling technique. This research utilized two psychological scales: (1) a Self-objectification scale developed by the researchers based on the theory of Dahl et al. (2014), and (2) a life satisfaction scale used in this study based on the aspects of life satisfaction proposed by Diener et al. (1999). The results of this study indicate a relationship between self-objectification and life satisfaction, with a significance of 0.040 (p < 0.05) and showing a negative correlation (r = -0.127), meaning that higher self-objectification is associated with lower life satisfaction. Based on these findings, it can be concluded that the hypothesis of this study is accepted. This research can provide knowledge to young adults about the importance of building self-awareness regarding the negative impacts of excessive internet use. ___________________________________________________________________Banyak dewasa awal yang menggunakan instagram karena memberikan kemudahan. Namun jika digunakan berlebihan akan memberikan terhadap kepuasan hidup. Penurunan kepuasan hidup terjadi ketika individu secara berlebihan menilai diri dan memicu internalisasi standar kecantikan yang tidak realistis. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 260 dewasa awal perempuan berusia 18-22 tahun yang aktif menggunakan instagram minimal 3 jam sehari dan menggunakan filter percantik Instagram. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang nonprobability sampling. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) skala psikologi yaitu (1) alat ukur Self Objectification disusun oleh peneliti berdasarkan teori Dahl dkk. (2014) dan alat ukur kepuasan hidup yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan aspek kepuasan hidup yang dikemukakan oleh Diener dkk. (1999). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara self-objectification dan kepuasan hidup yaitu sig 0,040 (p < 0,05) dan menunjukkan arah hubungan yang negatif (r = -0,127) yang berarti semakin tinggi self-objectification maka semakin rendah kepuasan hidup. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Melalui penelitian ini maka dapat memberikan pengetahuan kepada dewasa awal bahwa penting untuk membangun kesadaran diri terhadap dampak negatif dari penggunaan internet yang berlebihan
Dinamika Perilaku Fidgeting sebagai Regulasi Emosi pada Remaja dengan Kecenderungan Perfeksionis Esa Jihan Salsabila; Muhammad Arif Budiman Sucipto; Alifta Nur Lutfia; Jihaan Nabilah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v11i2.21638

Abstract

The phenomenon of fidgeting in perfectionist adolescents is characterized by the emergence of small, repetitive movements in response to academic pressure, anxiety, and the demand for perfection. This study aims to describe the forms of fidgeting behavior, the factors underlying its emergence, and its impact on perfectionist adolescents. This study used a descriptive qualitative approach with a single-case qualitative study design conducted from September to November in Penusupan Village, Pangkah District, Tegal Regency. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation with one primary source and two secondary sources, then analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions with validity tests using source and technique triangulation. The results of the study indicate that fidgeting behavior appears as a response to academic anxiety, perfectionistic pressure, and emotional tension, and functions as a temporary mechanism to relieve stress, but also has the potential to cause negative perceptions from the social environment. Based on the case findings, this study identified that service approaches focused on emotion management, self-awareness enhancement, and cognitive restructuring, such as emotion regulation, mindfulness, and cognitive-behavioral counseling, have conceptual relevance for helping perfectionist adolescents manage fidgeting behavior adaptively, while still considering the limitations of the case study design. ___________________________________________________________________ Fenomena fidgeting pada remaja perfeksionis ditandai oleh munculnya gerakan kecil berulang sebagai respons terhadap tekanan akademik, kecemasan, dan tuntutan untuk tampil sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk perilaku fidgeting, faktor-faktor yang melatarbelakangi kemunculannya, serta dampaknya pada remaja perfeksionis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal (single-case qualitative study) yang dilaksanakan pada bulan September hingga November di Desa Penusupan, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap satu narasumber primer serta dua narasumber sekunder, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku fidgeting muncul sebagai respons terhadap kecemasan akademik, tekanan perfeksionistik, dan ketegangan emosional, serta berfungsi sebagai mekanisme sementara dalam meredakan stres, namun juga berpotensi menimbulkan persepsi negatif dari lingkungan sosial. Berdasarkan temuan kasus tersebut, penelitian ini mengidentifikasi bahwa pendekatan layanan yang berfokus pada pengelolaan emosi, peningkatan kesadaran diri, dan restrukturisasi kognitif seperti regulasi emosi, mindfulness, dan konseling CBT memiliki relevansi konseptual untuk membantu remaja perfeksionis mengelola perilaku fidgeting secara adaptif dengan mempertimbangkan keterbatasan desain studi kasus.