cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman
ISSN : -     EISSN : 24776300     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman adalah jurnal peer-review yang diterbitkan oleh UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin. Jurnal ini terbit sebanyak dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini menerbitkan penelitian dan artikel konseptual yang berkaitan dengan bidang ilmu bimbingan dan konseling, pendidikan, dan psikologi pendidikan..
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Perilaku Bullying pada Siswa Sekolah Dasar: Analisis Berdasarkan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Irshofa Hany; Ningsih Fadhilah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.21820

Abstract

This study aims to describe bullying behavior among elementary school students and analyze it based on Albert Bandura’s Social Learning Theory. This research employed a qualitative approach with a case study design conducted at an elementary school involving 6 students from grades IV–VI consisting of 3 victims, 1 perpetrator, 1 victim-perpetrator, and 2 bystanders selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and documentation. Data validity was ensured through source triangulation, technique triangulation, and member checking. The data were analyzed using thematic analysis through the stages of coding, data sorting, and data grouping. The results showed that bullying behavior was dominated by verbal and social bullying, such as mocking parents’ names, physical ridicule, and social exclusion. Victims experienced sadness, anger, disappointment, and decreased comfort at school, while bystanders demonstrated empathy and attempted to help victims. Teachers had provided interventions such as advice, warnings, and punishment, but bullying behavior still recurred in several cases. The findings also indicate that bullying behavior emerged through observational learning, imitation of peer behavior, and social reinforcement from classmates who considered bullying as a joke. Based on Albert Bandura’s Social Learning Theory, bullying behavior is learned through observation, modeling, and reinforcement within the social environment. Therefore, schools need comprehensive prevention strategies through positive modeling, social-emotional learning, strengthening counseling services, and collaboration with parents._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku bullying pada siswa sekolah dasar serta menganalisis perilaku tersebut berdasarkan Teori Belajar Sosial Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di salah satu sekolah dasar dengan melibatkan 6 siswa kelas IV–VI yang terdiri atas 3 korban, 1 pelaku, 1 korban sekaligus pelaku, dan 2 saksi bullying yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik melalui tahap coding, pemilahan data, dan pengelompokan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk bullying yang dominan adalah bullying verbal dan sosial, seperti ejekan nama orang tua, ejekan fisik, dan pengucilan sosial. Korban menunjukkan respon emosional negatif berupa sedih, marah, kecewa, dan tidak nyaman berada di sekolah, sedangkan saksi menunjukkan empati dan upaya menolong korban. Guru telah melakukan intervensi berupa nasihat, teguran, dan hukuman, namun pada beberapa kasus perilaku bullying masih berulang. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku bullying terbentuk melalui observational learning, peniruan perilaku teman sebaya, dan reinforcement sosial dari lingkungan yang menganggap bullying sebagai candaan. Berdasarkan Teori Belajar Sosial Albert Bandura, perilaku bullying dipelajari melalui proses observasi, modeling, dan penguatan dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, sekolah memerlukan strategi pencegahan yang komprehensif melalui modeling positif, pendidikan sosial-emosional, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta kolaborasi dengan orang tua.
Intervensi Cognitive Behavioral Therapy pada Fenomena Body Dissatisfaction: Kajian Literatur Sistematis Salsabila Ayuning Santi; M. Ramli; Fitri Wahyuni
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.22016

Abstract

Body dissatisfaction is a psychological concern experienced by adolescents and adults and is associated with low self-esteem, eating problems, anxiety, depression, and sociocultural pressure related to unrealistic appearance standards. This study aimed to systematically review the effectiveness, mechanisms, and intervention formats of Cognitive Behavioral Therapy (CBT) for reducing body dissatisfaction. The review followed PRISMA 2020 reporting guidance and synthesized 14 selected articles published between 2015 and 2025 from Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. Study selection was conducted through identification, screening, eligibility assessment, and inclusion stages, while methodological quality and risk of bias were appraised qualitatively using the principles of the Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018. The findings indicate that CBT generally shows beneficial effects in reducing body dissatisfaction and improving positive body image, particularly through cognitive restructuring, emotion regulation, behavioral exercises, and exposure-based techniques. Group-based CBT appears useful for strengthening social support and self-acceptance, whereas digital CBT offers brief and flexible access for adolescents and young adults. However, the evidence should be interpreted cautiously because several studies used small samples, pre-experimental designs, short follow-up periods, and heterogeneous outcome measures. Therefore, CBT can be considered a promising intervention, but stronger randomized studies and culturally diverse trials are still needed.____________________________________________________________________Fenomena body dissatisfaction merupakan permasalahan psikologis yang dialami remaja dan dewasa, serta berkaitan dengan rendahnya harga diri, gangguan makan, kecemasan, depresi, dan tekanan sosial akibat standar penampilan yang tidak realistis. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis efektivitas, mekanisme kerja, dan bentuk intervensi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dalam menurunkan body dissatisfaction. Penelitian menggunakan desain Kajian Literatur Sistematis dengan mengacu pada pedoman pelaporan PRISMA 2020. Sebanyak 14 artikel terpilih yang dipublikasikan pada periode 2015–2025 diperoleh dari Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Seleksi artikel dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan inklusi, sedangkan kualitas metodologis serta risiko bias dinilai secara kualitatif menggunakan prinsip Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018. Hasil kajian menunjukkan bahwa CBT secara umum memberikan manfaat dalam menurunkan body dissatisfaction dan meningkatkan citra tubuh positif, terutama melalui restrukturisasi kognitif, regulasi emosi, latihan perilaku, serta teknik paparan. CBT kelompok bermanfaat untuk memperkuat dukungan sosial dan penerimaan diri, sedangkan CBT digital menawarkan akses singkat dan fleksibel bagi remaja dan dewasa muda. Namun, temuan perlu ditafsirkan secara hati-hati karena beberapa studi menggunakan sampel kecil, desain pra-eksperimen, periode tindak lanjut singkat, dan ukuran luaran yang heterogen. Dengan demikian, CBT merupakan intervensi yang menjanjikan, tetapi masih diperlukan penelitian acak terkontrol dengan konteks budaya yang lebih beragam.
Hubungan Resiliensi Akademik Dengan Disiplin Belajar Siswa Ainun Maulidya; Arifin Nur Budiono; Fakhruddin Mutakin
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.22888

Abstract

This study aims to investigate the correlation between academic resilience and learning discipline among eighth-grade students at SMPN 1 Pakusari. Using a quantitative approach, data were collected via questionnaires from 115 randomly selected respondents. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis indicate a significant positive relationship between the two variables, with a correlation coefficient of 0.223. However, this relationship falls into the weak category, suggesting that while a connection exists, academic resilience is not the primary determinant of students' learning discipline. These findings provide a foundational framework for developing school counseling programs that address both constructs. Ultimately, this research is intended to assist school counselors in designing interventions tailored to student needs, thereby optimizing both academic resilience and learning discipline within the school environment._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi akademik dan disiplin belajar pada siswa kelas VIII SMPN 1 Pakusari. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa angket. Adapun jumlah  responden yang dilibatkan sejumlah 115 dengan pilihan secara acak. Hasil dari Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kedua variabel dengan nilai korelasi sebesar 0,223. Namun demikian kekuatan hubungan tersebut tergolong dalam kategori lemah. Hal ini memiliki makna bahwa meskipun terdapat keterkaitan, resiliensi akademik bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi disiplin belajar siswa. Temuan ini dapat dijadikan dasar dalam perancangan program layanan bimbingan dan konseling yang mendukung kedua aspek tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat membantu Guru BK dalam membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga dapat meningkatkan resiliensi dan kedisiplinan belajar  siswa di sekolah meningkat secara optimal.
Pengaruh Layanan Kelompok Psikoedukasi Teknik Case Based Learning untuk Meningkatkan Individual Work Performance Student Employment Hurina Nasibatun Sholehah; Caraka Putra Bhakti; Tri Sutanti; Arif Budi Prasetya
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.22943

Abstract

Individual work performance is an abstract and multidimensional construct that reflects individual behavior in the workplace that is relevant to organizational goals. This study used an experimental method with a one-group pretest-posttest design on student employment. The intervention was carried out through psychoeducation with case-based learning techniques for four sessions. The purpose of the study was to determine the effect of psychoeducational group services using case-based learning techniques to improve individual work performance. This study used a one-group pre-test post-test design. The subjects in the study were 10 student employment / student work scholarships selected using a purposive sampling technique with scale results in the low category. The research instrument was an individual work performance scale that refers to Koopmans' theory (2011). The data results were tested for validity using product moment while reliability was tested with Cronbach's alpha. The data obtained were tested using Shapiro Wilk to determine the distribution of the instrument and then retested with the non-parametric Wilcoxon signed rank test. Based on the results of the Wilcoxon test, data was obtained that there was an influence on the pretest and posttest, so it can be concluded that psychoeducational services using case-based learning techniques have an effect on increasing individual work performance of student employment. _____________________________________________________________Individual work performance merupakan konstruk abstrak dan multidimensional yang mencerminkan perilaku individu di tempat kerja yang relevan dengan tujuan organisasi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain one group pretest-posttest terhadap student employment. Intervensi dilakukan melalui psikoedukasi dengan Teknik case-based learning selama empat sesi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh layanan kelompok psikoedukasi teknik case-based learning untuk meningkatkan individual work performance. Penelitian ini menggunakan desain one-group pre-test post-test. Subjek dalam penelitian berjumlah 10 student employment / beasiswa karya mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan hasil skala dengan kategori rendah. Instrumen penelitian berupa skala individual work performance yang mengacu pada teori koopmans (2011). Hasil data di uji validitas dengan menggunakan product moment sedangkan reliabilitas dengan alpha cronbach. Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan shapiro wilk untuk mengetahui distribusi instrumen dan selanjutnya diuji kembali dengan uji non parametrik wilcoxon signed rank test. Berdasarkan hasil uji wilcoxon diperoleh data bahwa terdapat pengaruh pada pretest dan posttest sehingga dapat disimpulkan bahwa layanan psikoedukasi teknik case based learning berpengaruh meningkatkan individual work performance student employment. 
Efektifitas Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama untuk Mereduksi Kecemasan Akademik Siswa Menghadapi Asesmen Sumatif Tengah Semester Delia Irana Dewi; Drajat Edy Kurniawan
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23056

Abstract

Academic anxiety is a common psychological problem experienced by students when facing academic evaluations, particularly summative assessments. This study aims to examine the effect of group guidance using the sociodrama technique on reducing students’ academic anxiety. The study employed a quantitative approach with a pre-experimental one group pre-test post-test design. The population consisted of tenth-grade students, with a sample of six students selected through purposive sampling based on high levels of academic anxiety. The intervention was conducted in five sessions, each lasting 60–90 minutes, following sociodrama stages including warm-up, role selection, enactment, discussion, and reflection. The instrument used was an academic anxiety scale in Likert form that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using a paired sample t-test after normality testing. The results indicated a decrease in academic anxiety scores after the intervention with a significance level of p < 0.05. The hypothesis stating that group guidance with the sociodrama technique influences academic anxiety was statistically supported. However, the small sample size limits the generalizability of the findings. These results suggest that the sociodrama technique has potential as an alternative intervention to help students manage academic anxiety. ____________________________________________________________________Kecemasan akademik merupakan masalah psikologis yang sering dialami siswa dalam menghadapi evaluasi pembelajaran, khususnya asesmen sumatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap penurunan kecemasan akademik siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test. Populasi penelitian adalah siswa kelas X, dengan sampel sebanyak 6 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tingkat kecemasan akademik tinggi. Intervensi dilakukan dalam 5 sesi dengan durasi 60–90 menit per sesi menggunakan tahapan sosiodrama yang meliputi pemanasan, penentuan peran, pementasan, diskusi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah skala kecemasan akademik berbentuk Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan paired sample t-test setelah dilakukan uji normalitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan akademik setelah intervensi dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hipotesis penelitian yang menyatakan adanya pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap kecemasan akademik didukung secara statistik. Namun demikian, ukuran sampel yang kecil membatasi generalisasi hasil penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik sosiodrama berpotensi menjadi alternatif intervensi dalam membantu siswa mengelola kecemasan akademik.
Potret Pribadi Hari Esok: Kajian Perspektif Carl Rogers pada Siswa Sekolah Menengah Fitri Yulianti; Astri Rachmahyani; M. Fiqri Syahril
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23060

Abstract

Adolescence is an important phase in personality formation and individuals’ orientation toward the future. From the perspective of humanistic psychology, Carl Rogers introduced the concept of the person of tomorrow as an individual who holds a positive view of the self and the future and is capable of functioning optimally. This study aims to describe the profile of the person of tomorrow among senior high school/vocational school students based on Carl Rogers’ perspective. The study employed a descriptive quantitative approach using a survey method involving 241 students from SMA/SMK in Bandung Regency, selected through purposive sampling. The instrument used was the Person of Tomorrow Scale consisting of 33 Likert-type items (1–5) covering seven indicators. Instrument validity testing using the Rasch model showed that all items met the criteria of Outfit MNSQ (0.5–1.5), ZSTD (-3.3 to 2.9), and Point Measure Correlation (0.34–0.53). The instrument reliability demonstrated a Cronbach’s Alpha of 0.91 (excellent), person reliability of 0.85 (good), and item reliability of 0.98 (excellent). Data analysis was conducted using descriptive statistics through mean scores, standard deviation, and empirical norm-based categorization (M ± 1SD). The results indicated that the profile of the person of tomorrow was at a moderate level (72%), with 15% in the high category and 13% in the low category. All indicators were also at a moderate level, indicating that the characteristics of the person of tomorrow have begun to develop among students but have not yet reached an optimal condition and still require further strengthening. This study provides empirical contributions to the humanistic concept of Rogers in the Indonesian student context and serves as a basis for developing counseling and guidance services focused on strengthening the characteristics of the person of tomorrow. ____________________________________________________________Masa remaja merupakan fase penting pembentukan kepribadian dan orientasi individu terhadap masa depan. Dalam perspektif psikologi humanistik, Carl Rogers mengemukakan konsep the person of tomorrow sebagai gambaran individu yang memiliki pandangan positif terhadap diri dan masa depan serta kemampuan berfungsi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil the person of tomorrow pada peserta didik SMA/SMK berdasarkan perspektif Carl Rogers. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei terhadap 241 siswa SMA/SMK di Kabupaten Bandung yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah The Person of Tomorrow Scale yang terdiri dari 33 item skala Likert (1–5) dengan tujuh indikator. Uji validitas instrumen menggunakan model Rasch menunjukkan seluruh item memenuhi kriteria Outfit MNSQ (0,5–1,5), ZSTD (-3,3 hingga 2,9), serta Point Measure Correlation (0,34–0,53). Reliabilitas[FY1]  instrumen menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,91 (sangat baik), reliabilitas person 0,85 (baik), dan reliabilitas item 0,98 (sangat baik). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan skor rata-rata, standar deviasi, serta kategorisasi berbasis norma empiris (M ± 1SD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil the person of tomorrow berada pada kategori sedang (72%), kategori tinggi (15%), dan kategori rendah (13%). Seluruh indikator juga berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa karakteristik pribadi hari esok telah mulai berkembang pada peserta didik, namun belum mencapai kondisi yang optimal dan masih memerlukan penguatan lebih lanjut. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam mengkaji konsep humanistik Rogers pada konteks peserta didik Indonesia serta menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling berbasis penguatan karakteristik the person of tomorrow.
Dinamika Hubungan Parasosial dan Koping Emosional dalam Interaksi dengan AI: Kajian Literatur Sistematis Irena Rambu Wasak Lodang; I Putu Agus Apriliana
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23111

Abstract

The development of artificial intelligence (AI) in the digital age has given rise to a new phenomenon: the use of AI as a confidant, which has the potential to influence individuals’ psychological well-being. Intensive interaction with AI can foster parasocial relationships—that is, an emotional closeness felt by users despite the absence of a real, reciprocal relationship. This phenomenon is also linked to emotional coping strategies, where individuals utilize AI to manage stress, loneliness, and psychological pressure. This study aims to examine the relationship between human-AI interaction, the formation of parasocial relationships, and their role in emotional coping among users, particularly the younger generation. The method employed is a Systematic Literature Review, analyzing various scientific literature from 2021 to 2025. The findings indicate that AI can provide temporary emotional support that helps enhance psychological well-being. However, excessive use may lead to emotional dependency and diminish the quality of direct social interactions. Additionally, factors such as loneliness, the need for a safe space, and ease of access to technology contribute to the intensity of AI usage. Therefore, the wise use of AI is necessary to ensure it continues to support mental health without displacing the role of real-world social relationships. ____________________________________________________________________Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam era digital telah memunculkan fenomena baru, yaitu penggunaan AI sebagai media curhat yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis individu. Interaksi yang intens dengan AI dapat membentuk hubungan parasosial, yaitu kedekatan emosional yang dirasakan pengguna meskipun tidak terjadi relasi timbal balik secara nyata. Fenomena ini juga berkaitan dengan strategi koping emosional, di mana individu memanfaatkan AI untuk mengelola stres, kesepian, dan tekanan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara interaksi manusia dengan AI, pembentukan hubungan parasosial, serta perannya dalam koping emosional pada pengguna, khususnya generasi muda. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan menganalisis berbagai literatur ilmiah dalam kurun waktu 2021–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dapat memberikan dukungan emosional sementara yang membantu meningkatkan kenyamanan psikologis. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional dan mengurangi kualitas interaksi sosial secara langsung. Selain itu, faktor seperti kesepian, kebutuhan akan ruang aman, serta kemudahan akses teknologi turut mendorong intensitas penggunaan AI. Oleh karena itu, diperlukan pemanfaatan AI secara bijak agar tetap mendukung kesehatan mental tanpa menggeser peran hubungan sosial yang nyata.
Mengelola Tekanan Skripsi : Peran Solidaritas dan Kelekatan Sosial dalam Strategi Koping Akademik Mahasiswa Akhir Nadya Ovianti; Adnan Achiruddin Saleh; Emilia Mustary; Ulfah Ulfah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23168

Abstract

Academic pressure in the thesis-writing process is one of the main challenges faced by final-year students and may influence the academic coping strategies they employ. This study aims to analyze the effect of social solidarity and social attachment on academic coping strategies among final-year students at IAIN Parepare. The study used a quantitative approach with a non-experimental correlational design. The research sample consisted of 306 students selected using a stratified proportional random sampling technique. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results show that social solidarity (β = 0.191; p < 0.05) and social attachment (β = 0.360; p < 0.05) have a positive and significant effect on academic coping strategies, both partially and simultaneously. The coefficient of determination (R² = 0.209) indicates that the independent variables explain 20.9% of the variation in academic coping strategies, which is categorized as low to moderate. In conclusion, social relationships play a role in helping students manage academic pressure in a more adaptive manner, although their influence remains relatively limited. ____________________________________________________________________Tekanan akademik dalam penyusunan skripsi menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir dan dapat memengaruhi strategi koping akademik yang mereka gunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh solidaritas sosial dan kelekatan sosial terhadap strategi koping akademik mahasiswa tingkat akhir di IAIN Parepare. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental. Sampel penelitian berjumlah 306 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik stratified proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas sosial (β = 0,191; p < 0,05) dan kelekatan sosial (β = 0,360; p < 0,05) berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi koping akademik, baik secara parsial maupun simultan. Nilai R² sebesar 0,209 menunjukkan bahwa variabel independen mampu menjelaskan 20,9% variasi strategi koping akademik yang termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Kesimpulannya, hubungan sosial berperan dalam membantu mahasiswa mengelola tekanan akademik secara lebih adaptif, meskipun pengaruhnya relatif terbatas.
Kontribusi Regulasi Emosi terhadap Tingkat Stres pada Siswa Nada Fristy Yusri; Reggiana Brescia; Deasy Dwi Cahayaningtyas Arifin; Farouq Fathurrahman; Risma Kumara Rani
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23488

Abstract

The increasing academic and psychosocial pressures experienced by junior high school students highlight the importance of understanding factors that influence stress levels, particularly emotional regulation. This study aimed to identify the levels of emotional regulation and stress among students at SMPN 243 Jakarta and examine the role of emotional regulation in predicting students’ stress levels. A quantitative correlational design was employed involving 133 students selected through purposive sampling. Data were analyzed using normality and linearity tests, followed by Pearson correlation and simple linear regression analyses. The results revealed that emotional regulation had a significant effect on students’ stress levels (p < .001). The regression equation obtained was Y = 121.606 − 0.481X, with a standardized beta coefficient of β = −0.391. These findings indicate a negative relationship between emotional regulation and stress, suggesting that students with better emotional regulation tend to experience lower levels of stress. Emotional regulation accounted for 15.3% of the variance in students’ stress levels, while the remaining variance was explained by other factors not examined in this study. The findings emphasize the importance of implementing social-emotional learning programs, stress management training, and preventive counseling services to strengthen students’ emotional regulation skills and help them cope more effectively with academic and psychosocial demands. _____________________________________________________________Tekanan akademik dan psikososial yang semakin meningkat pada siswa sekolah menengah pertama menjadikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stres, khususnya regulasi emosi, semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat regulasi emosi dan stres siswa SMPN 243 Jakarta serta menguji peran regulasi emosi dalam memprediksi tingkat stres siswa. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 133 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji linearitas, korelasi Pearson, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres siswa (p < 0,001). Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 121,606 − 0,481X dengan koefisien beta terstandarisasi sebesar β = −0,391. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres, yang berarti siswa dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah. Regulasi emosi memberikan kontribusi sebesar 15,3% terhadap variasi tingkat stres siswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hasil penelitian menegaskan pentingnya pengembangan program pembelajaran sosial-emosional, pelatihan manajemen stres, dan layanan konseling preventif untuk memperkuat kemampuan regulasi emosi siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan psikososial.
Konstruksi dan Validasi Isi Instrumen Uji Kemampuan Konseling Rational-Emotive-Behavior Indri Reskiana; Anelvi Novita Sari; Faisal Asmen; Yulia Astuti; Siti Maripah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 12 No 1 (2026): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v12i1.23673

Abstract

This study aimed to construct and examine the content validity of a counseling skills instrument based on the Rational Emotive Behavior (REB) approach. The instrument was developed using the A-B-C-D-E framework to assess counselors’ cognitive restructuring skills in individual counseling sessions. This study employed an instrument development design focused on initial instrument construction and content validation. Validation involved two expert validators and one practitioner validator selected through purposive sampling. The instrument consisted of 18 items distributed across five REB dimensions. Content validity was analyzed using Aiken’s V coefficient. The findings showed that all instrument items had high content validity, with Aiken’s V coefficients ranging from 0.82 to 0.98. Revisions based on validator feedback improved the clarity, readability, and applicability of the instrument. These findings indicate that the instrument has initial feasibility as an observational instrument for assessing counseling skills based on the REB approach._____________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi dan menguji validitas isi instrumen kemampuan konseling Rational Emotive Behavior (REB). Instrumen dikembangkan menggunakan kerangka A-B-C-D-E untuk mengukur kemampuan restrukturisasi kognitif konselor dalam layanan konseling individual. Penelitian ini menggunakan desain pengembangan instrumen yang difokuskan pada tahap awal konstruksi dan validasi isi instrumen. Validasi melibatkan dua validator ahli dan satu validator praktisi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen terdiri atas 18 butir yang terbagi ke dalam lima dimensi REB. Validitas isi dianalisis menggunakan koefisien Aiken’s V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh butir instrumen memiliki validitas isi tinggi dengan rentang koefisien Aiken’s V sebesar 0,82–0,98. Revisi berdasarkan masukan validator meningkatkan kejelasan, keterbacaan, dan keterterapan instrumen. Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki kelayakan awal sebagai instrumen observasional keterampilan konseling REB.