cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman
ISSN : -     EISSN : 24776300     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman adalah jurnal peer-review yang diterbitkan oleh UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin. Jurnal ini terbit sebanyak dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini menerbitkan penelitian dan artikel konseptual yang berkaitan dengan bidang ilmu bimbingan dan konseling, pendidikan, dan psikologi pendidikan..
Arjuna Subject : -
Articles 246 Documents
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK KELAS I SD Vinda Chairunnisa; M. Fauzi Hasibuan
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 4, No 2 (2018): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.084 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v4i2.1660

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kelayakan perangkat pembelajaran bimbingan dan konseling untuk mengoptimalkan perkembangan sosial peserta didik dan juga keterpakaian oleh guru kelas (guru BK/konselor) di SD. Metode penelitian ini dengan menggunakan model ADDIE. Subjek uji coba penelitian terdiri dari lima orang ahli untuk menguji kelayakan, dan tiga orang guru kelas (guru BK/konselor). Instrument yang digunakan ialah sklala likert, kuisioner dan Focus Group Discussion (FGD). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik nonparametrik. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa perangkat pembelajaran BK ini dapat dimanfaatkan oleh guru kelas untuk membantu guru dalam mengoptimalkan perkembangan sosial peserta didik.__________________________________________________________This research aims to formulate guidance and counseling learning toolto optimizing social development of student and describe the level of appalicability used by theacher or counselor. The method used was ADDIE model development. the properness tes was done by five experts and the practicality tes was done by three teacher or counselor. the instrument used were likert scale, questionnaire and Focus Group Discussion (FGD). The data statistic gathered in this research was analyzed by using descriptive statistic analysis and non-parametric statistic analysis. Based on thes results, in general, it was conclueded that the guidance and counseling learning tool's developed was appropriate and could be used to help the teacher to optimizing social development student.
PEMAHAMAN DIRI SISWA SMP TENTANG MASA PUBERTAS (BALIGH) SEBAGAI FONDASI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Ani Wardah
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 4, No 2 (2018): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.938 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v4i2.1661

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman diri siswa SMP tentang masa pubertas/baligh sebagai dasar layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMPN 13 Banjarmasin yang berjumlah 607 siswa dengan menggunakan teknik stratifikasi sampling. Jumlah sampel yang diambil 120 siswa yaitu  kelas VIII dan IX yaitu yang terdiri dari 60 siswa laki-laki dan 60 siswa perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan adalah angket. Tehnik analisis data menggunakan teknik analisa persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemahaman diri siswa SMP Negeri 13 tentang masa pubertas/baligh  adalah sebagian besar siswa laki-laki dan siswa perempuan sudah baligh pada rentang usia 11 dan 14 tahun, dan merasa biasa saja terhadap perubahan fisik, psikis, dan sosial emosional. Bagi siswa laki-laki pengalaman mimpi basah (baligh) sebagian besar tertutup kepada orangtua, sebaliknya siswa perempuan sangat terbuka terutama kepada ibu. Sebagian besar yang mengajari tatacara mandi wajib kepada siswa laki-laki adalah guru agama, dan bagi  siswa perempuan adalah ibunya. Siswa laki-laki ketika junub lebih banyak tidak mengerjakan mandi wajib, sebaliknya siswa perempuan selalu mengerjakan mandi wajib selesai menstruasi. Berdasarkan temuan hasil penelitian tersebut sebagai dasar pelayanan Bimbingan dan Konseling.__________________________________________________________This study aims to describe the self-understanding of middle school students about puberty / baligh as a basis for counseling and guidance services. This study uses a quantitative method with a descriptive analysis approach. The study population was all students of SMPN 13 Banjarmasin, totaling 607 students using sampling stratification techniques. The number of samples taken by 120 students is class VIII and IX, which consists of 60 male students and 60 female students enrolled in the 2018/2019 school year. The instrument used was a questionnaire. Data analysis techniques use percentage analysis techniques. The results showed that the self-esteem of SMP Negeri 13 students about puberty / baligh was that most male and female students were already high in the ages of 11 and 14 years, and felt normal towards physical, psychological, and social emotional changes. For male students the experience of baligh dreams is mostly closed to parents, whereas female students are very open especially to mothers. Most of those who teach mandatory bathing procedures for male students are religious teachers, and for female students are their mothers. Male students when Junub did not do mandatory bathing, on the other hand female students always did bathing and had to finish menstruation. Based on the findings of the research as a basis for Guidance and Counseling services.
HUBUNGAN KECERDASAN INTERPERSONAL DENGAN OCB DAN SIKAP PADA PROFESI KEGURUAN GURU MTSN SE-KOTA BANJARMASIN M. Yuliansyah; I Nyoman Sujana Degeng; Bambang Budi Wiyono; Achmad Supriyanto
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 4, No 2 (2018): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.488 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v4i2.1663

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Hubungan Kecerdasan  Interpersonaldan Sikap Pada Profesi Keguruan dengan OCB Guru MTs Negeri Se-Kota Banjarmasin.Hasil penelitian menunjukan bahwa (1)tidak Terdapat hubungan tingkat Kecerdasan  Interpersonal dengan  Organizational Cittizenship Behaviour (OCB) Guru-Guru MTs Negeri Se-Kota Banjarmasin. (2) Terdapat hubungan tingkat Kecerdasan  Interpersonal dan sikap Terhadap Profesi dengan OCB Guru-Guru MTs Negeri Se-Kota Banjarmasin.(3) Terdapat hubungan sikap Terhadap Profesi dengan OCB Guru-Guru MTs Negeri Se-Kota Banjarmasin. Direkomendasikan (1) Karena ada hubungan kecerdasan  Interpersonal dengan OCB guru Di Madrasah Tsanawiyah Negeri se- Kota Banjarmasin, maka dalam memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses belajar-mengajar di sekolah adalah untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan kerjanya untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dialami ketika melaksanakan tugassehingga ia bisa kreatif dinamis, (2) Penelitian menunjukan Sikap terhadap profesi yang baik menjadi salah satu dampak keberhasilan sekolah, karenanya sikap terhadap profesi seseorang guru yang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakter guru. Oleh karenanya setiap guru harus memiliki kemampuan secara internal yang melakukan hubungan secara vertikal maupun horizontal, (3) penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pengkajian peneliti selanjutnya sehingga dapat diperoleh perkembangan yang lainnya dari hubungan kecerdasan  Interpersonalonal  dan sikap terhadap profesi dengan OCB pada objek yang berbeda.__________________________________________________________This study was conducted to determine (1) The relationship between emotional intelligence with intelligence and attitude Against Profession together with Cittizenship Organizational Behavior (OCB)  Teachers MTs Negeri  Banjarmasin. The population in this study is MTsNegeri as the city of Banjarmasin, amounting to 142 people. Samples determined through measures such as: set the proportional random sampling technique from each member of the sub-population based on the number of schools under study it was determined the sample of 105 people. The test for determining the validity and reliability are used to collect research data were then analyzed using linear regression and multiple regression.The results showed that (1) There is a level of emotional intelligence relationship with OCB Teachers MTs Negeri Banjarmasin. (2) There is a relationship and attitude level of Emotional Intelligence Professionals Against the OCB  Teachers MTs Negeri  se-Banjarmasin (3) There is a relationship Profession Against attitude with OCB  Teachers MTs Negeri  se-Banjarmasin.. Recommended (1) Since there is a relationship of emotional intelligence with teachers OCB MTs Negeri Banjarmasin, then in empowering teachers to implement the teaching-learning process in schools is to be responsible for the work environment for overcome the various problems faced when implementing the tasks so that he can be creative dynamic, (2) Research shows that a good attitude towards the profession into one of the effects of school success, hence the attitude towards one's profession is closely related to the teacher's personality, behavior, and character of the teacher. therefore every teacher should have the capability internally that having vertically or horizontally, (3) This study is expected to be the next research assessment materials that can be obtained more development of emotional intelligence relationship and attitude towards the profession with the OCB on an object that different.
LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING: BAGI GURU MATA PELAJARAN Sutirna Sutirna
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.614 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1762

Abstract

Tujuan artikel ini memberikan gambaran pentingnya Guru Mata pelajaran melaksanakan layanan bimbingan dan konseling pada proses pembelajaran, karena guru memiliki tiga peran, yaitu sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing, hal ini telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Peran sebagai pendidik senantiasa wajib menjadi contoh teladan dalam gerak langkahnya baik dilingkungan sekolah maupun dimasyarakat, peran sebagai pengajar selalu memberikan ilmu pengetahuan dibidangnya secara humanistik, sedangkan peran sebagai pembimbing adalah mengantarkan peserta didik untuk dapat mengatasi permasalahannya sendiri dengan dorongan serta perhatian terhadap pribadinya.Metode dalam penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kajian literatur dengan mengkaji beberapa sumber terkait dengan peran guru mata pelajaran sebagai pembimbing serta landasan hukum pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bagi guru mata pelajaran. Hasil artikel ini diharapkan mengubah persepsiguru mata pelajaranyang keliruterhadap layanan bimbingan dan konseling menjadi persepsi positif. Oleh karena itu, untuk mengubah hal tersebut, perguruan tinggi kependidikan wajib memberikan mata kuliah bimbingan dan konseling dengan konten pelaksanaan bimbingan dan konseling saat pembelajaran dan memberikan rekomendasi kepada dinas pendidikan terkait tentang pentingnya pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bagi guru mata pelajaran melaluikegiatan pelatihan, seminar, workshop atau pembinaan guru-guru di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).__________________________________________________________This article aims at illustrating the importance of Subject Teachers in carrying out guidance and counseling services during the learning process, because the teacher has three roles namely the role of educator, teacher, and mentor. This has been stated in Law No. 14 of 2005 concerning Teacher and Lecturer. The role as educator is seen from the attitudes both in the school environment and community, the role as teacher is giving knowledge humanistically, and the role as mentor is guiding students to overcome their own problems with encouragement. The method used in this article is literature review research method by examining several sources related to the role of subject teachers as mentors and the legal foundation for the implementation of guidance and counseling services for subject teachers. The results of this article are expected to change negative perceptions of subject teachers toward guidance and counseling services into positive perceptions. Therefore,education colleges are obliged to provide guidance and counseling courses with the content of its implementationand provide recommendations to the education office regarding the importance of the implementation of guidance and counseling services for subject teachers through training activities, seminars, workshops or supervising teachers in MGMP (Subject Teacher Forum).
STUDI KOMPARATIF: PERBEDAAN STATUS IDENTITAS DIRI REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANGTUA DI UNIVERSITAS X DI JAKARTA Yeni Anna Appulembang; Agustina Agustina
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.328 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1767

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status identitas diri remaja ditinjau dari pola asuh. Subyek yang digunakan adalah remaja yang kuliah di Universitas X di Jakarta dipilih dengan menggunakan Purposive Sampling. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan melakukan uji perbedaan. Alat ukur yang digunakan ada dua yaitu pola asuh dan Identitas diri. Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas dan validitas maka diperoleh nilai  Alpha Cronbach pada pola asuh ayah dimensi acceptance sebesar 0.940  dan pola asuh Ibu sebesar 0.930 dan dimensi demandingness pada pola asuh ayah sebesar 0.825 dan pola asuh ibu sebesar 0.874. Sedangkan pada status identitas identity diffusion sebesar 0.567; identity foreclosure sebesar 0.652; identity moratorium sebesar 0.309 dan identity achievement sebesar 0.674. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji perbedaan Kruskal Wallis dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan status identity diffusion, identity moratorium, identity achievement, namun terdapat perbedaan status identity foreclosure  ditinjau pola asuh Ayah. Pada pola asuh ibu, ditemukan tidak terdapat perbedaan pada identity diffusion dan identity achievement  namun terdapat perbedaan status identity foreclosure dan identity moratorium. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah orangtua perlu mendampingi anak dalam tahap perkembangannya sehingga anak dapat menentukan status identitasnya.__________________________________________________________The aim of this research to determine differences  self identity with parenting style. Subject in this research used adolescences in University X Jakarta using purposive sampling. The study was a quantitative research with design was comparative study. The instrument used was a questionnaire such as Parenting style and Self Identity. The reliability and validity  test used Alpha Cronbach  and the values was 0.940  for acceptance of father’s  parenting style  and 0.930  of mother’s parenting style. Otherwhile, 0.825 for demandingness of father’s parenting style and 0.874 of mother’s parenting style. The validity dan reliability of self identity statuse was 0.567 for identity diffusion; identity foreclosure was 0.652; identity moratorium was 0.309 and identity achievement was 0.674. The analysis data used Kruskal Wallis and the result found that there is no difference between self identity in adolescent dimension  identity diffusion, moratorium and  identity achievement but  there is difference between self identity foreclosure  with the father’s parenting style. Otherwhile, there is no difference between identity diffusion and identity achievement  but there is difference between identity foreclosure and identity moratorium of mother’s parenting style. Recommend of this research to the parents can be monitor the development their children to found their identity statuse. 
MEMAHAMI RASA INGIN TAHU REMAJA DITINJAU BERDASARKAN JENIS KELAMIN Indra Prapto Nugroho
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.609 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1675

Abstract

Abstrak  Rasa ingin tahu diprediksi membantu remaja terus belajar dan tumbuh kembang didalam kehidupan. Rasa ingin tahu dapat digambarkan melalui sikap antusias remaja dengan mengamati, mendengar, mencari, dan menggali informasi untuk memperoleh kepastian akan kebenaran. Keingintahuan mengakibatkan remaja mendapatkan informasi baru yang memungkin remaja memiliki keyakinan dan termotivasi untuk mengeksplorasi lebih jauh perihal keingintahuannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rasa ingin tahu remaja ditinjau berdasarkan jenis kelamin. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif komparatif dengan menggunakan uji beda dengan penentuan sampel yang digunakan pada penelitian ini harus disesuaikan dengan tujuan peneliti yakni termasuk dalam kategori remaja akhir dengan jumlah partisipan sebanyak 50 remaja laki-laki dan 50 remaja perempuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan Curiosity and Exploration Inventory yang diadaptasi oleh Kashdan, Rose & Finchan (2004) dengan model skala Likert yang dianalisa menggunakan uji hipotesis independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t 2,088 dan uji signifikansi menunjukkan 0,004 < 0,05 artinya ada perbedaan rasa ingin tahu yang signifikan antara remaja laki-laki dan perempuan. __________________________________________________________ Abstract Curiosity is predicted, helping teenagers continue to learn and grow in life. Curiosity can be illustrated through the enthusiasm of teenagers by observing, listening, searching, and digging for information to obtain certainty about the truth. Curiosity causes teenagers to get new information that allows them to have confidence and be motivated to explore further about their curiosity. The purpose of this study was to determine differences in curiosity of teenagers by gender. The method used is a comparative quantitative approach using a different test with the determination of the sample used in this study must be adjusted to the objectives of the researcher that is included in the category of late teenagers with the number of participants is 50 boys and 50 girls. The data collection in this study was using the Curiosity and Exploration Inventory which was adapted by Kashdan, Rose & Finchan (2004) with a Likert scale model analyzed using hypothesis testing independent sample t-test. The results showed that the value of t was 2.088 and the significance test showed 0.004 <0.05, meaning there is a significant difference in curiosity between boys and girls.
PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING BERBASIS BIRO (STUDI DESKRIPTIF PADA BIRO KONSELING EDUPOTENSIA FOUNDATION BANDUNG) Hanna Permata Hanifa; Ratna Kusumaningtyas; Resha Yusmar Arvianto
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.93 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1835

Abstract

Kebutuhan akan manfaat pelayanan BK kian dirasakan masyarakat secara luas. Keberadaan BK di Indonesia memang berawal dari dunia pendidikan. Seiring perkembangannya, organisasi biro penyedia jasa layanan BK mulai bermunculan di tengah masyarakat. Namun tidak semuanya asli berlatar belakang lulusan BK, melainkan dari jurusan Psikologi. Keadaan ini mendorong berdirinya organisasi atau yayasan biro penyedia jasa layanan konseling yaitu Edupotensia Foundation. Edupotensia Foundation memberikan layanan Konseling yang dilakukan langsung oleh konselor profesional dan lulusan BK sendiri. Kegiatan konseling berbasis biro bagi perkembangan dunia konseling di Indonesia menjadi hal baru yang harus terus dikembangkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan alat pengumpulan data berupa wawancara mendalam guna mendapatkan informasi secara rinci. Hasil yang didapat melalui penelitian ini adalah pelaksanaan konseling oleh Edupotensia Foundation dilakukan sesuai dengan prinsip, fungsi dan asaz konseling, berfokus pada pendekatan CBT, SFBT dan Life-Choaching. Selain itu, Edupotensia Foundation juga memberikan workshop pengembangan kompetensi konseling dan beragam pelatihan yang sesuai._______________________________________________________________ The need for benefits from Guidance and Counseling services is increasingly felt by the community at large. The existence of Guidance and Counseling in Indonesia does start from the world of education. Along with its development, the bureau organization of Guidance and Counseling service providers began to appear in the community. However, not all of them are from Guidance and Counseling background, but from the Department of Psychology. This situation encourages the establishment of a bureaus organization or foundation for counseling service providers namely Edupotensia Foundation. Edupotensia Foundation provides Counseling services conducted directly by professional counselors and Guidance and Counseling graduates themselves. Bureau-based counseling activities for the development of the world of counseling in Indonesia are new things that must continue to be developed. This study uses qualitative methods with data collection tools with in-depth interviews to obtain detailed information. The results obtained through this study are that the implementation of counseling by the Edupotensia Foundation is carried out in accordance with the principles, functions and counseling, focusing on the CBT, SFBT and Life-Choaching approaches. In addition, the Edupotensia Foundation also provides counseling competency development workshops and a variety of appropriate training.
EFFORTS TO INCREASE THROUGH SELF EFFICACY WITH COUNSELING SERVICES TECHNICAL SELF MANAGEMENT TO CONVICTED CRIMINAL IN JAIL II B CLASS LABUHAN DELI 2018 Gusman Lesmana
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.697 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1968

Abstract

Prisoners have considered themselves to be a group that is considered dangerous and who consider themselves to have a large disability and are considered low in society. Therefore, there needs to be an effort to improve the prisoners' self-efficacy to improve their motivation in interacting and interacting with other normal communities when they join later in society by using relevant methods namely self management with indicators of development at the stage of self-monitoring or self-observation , self-evaluation and then self-improvement. The phenomenon of rejection of the presence of prisoners has sounded very common. This has a major impact on the survival of prisoners after being released from prison sentences. This study aims to improve the self efficacy of individual ex-prisoners in the Labuhan Deli Class IIB Detention Center using the services of Guidance and Counseling self management techniques. The subject of this study amounted to 85 people, namely inmates in the Labuhan Deli Class IIB Detention Center with a detention period of 6 months down to be free. Self management techniques are forming and changing desired behavior through three stages. The results of the study show that self management techniques are effective in increasing prisoners' self-efficacy to interact with the general public. This research was conducted to explain the quantitative relation between service of counseling technique of Self Management with Self efficacyof convict. The results of the research conclude that the state of Self efficacyof convict community members is at a low level due to the strong rejection from the community towards the convict community. The results and conclusion to answer the positive hypothesis is (r count> r table), so, thus (0.915> 0.304) The analysis process of SPSS from the questionnaire of the research respondents is 40 prisoners sample of 0.915 which means 91.5% with sig. 0,000 the magnitude of the influence of the application of self-management technique counseling to prisoners' self-efficacy.
TERAPI WUDU : SOLUSI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENCEGAH PERILAKU DELINKUENSI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH BERBASIS ISLAM Adelia Oky Setya Pratiwi; Novia Rissita Sari
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.581 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1840

Abstract

Sekolah berbasis islam merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berperan penting sebagai pembentuk kecerdasan spiritual siswa untuk mengelola sikap dan perilakunya dengan baik. Faktanya, semakin lama masyarakat menganggap bahwa sekolah berbasis islam atau dikenal dengan madrasah sudah tidak mampu menjaga dan memelihara tradisi keagaamannya. Hal ini diperoleh dari temuan bahwasanya perilaku siswa sekolah menengah di sekolah umum yang dianggap lebih baik dibandingkan di sekolah berbasis islam. Perlu adanya peningkatan tradisi keagamaan di sekolah berbasis islam untuk mencegah perilaku delinkuensi atau perilaku yang melanggar norma pada siswa, salah satunya melalui layanan bimbingan dan konseling. Terapi wudu menjadi alternatif layanan bimbingan dan konseling yang akan disajikan dalam tulisan ini. Metode atau pendekatan penulisan ini menggunakan kepustakaan dan pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis sumber-sumber data serta informasi yang relevan dengan tulisan. Dengan demikian, ditemukan hasil bahwasanya terapi wudu merupakan layanan bimbingan dan konseling yang sesuai diterapkan pada siswa sekolah menengah berbasis islam untuk mencegah perilaku delinkuensi.________________________________________________________________ The Islamic-based school is an educational institution that plays an important role as the defining spiritual intelligence of the student  to manage their attitudes and behavior well. In fact, many people consider that Islamic-based school or known as madrasa, is no longer able to preserve and maintain its religious traditions. This is obtained from the finding that the behavior of middle school’s students in public schools is considered better than in Islamic-based schools. There needs to be an increase in religious traditions in Islamic-based schools to prevent delinquency behavior or behavior that violates the value of students, one of which is through guidance and counseling services. Wudu therapy is an alternative guidance and counseling service that will be presented in this paper. This method or approach of this writing uses literature and data collection done by analyzing data sources and relevant information to this writing. Thus, it was found that wudu therapy is a guidance and counseling services that is suitable to be applied to Islamic middle school’s students to prevent delinquency behavior.
BAGAIMANA RASA INGIN TAHU REMAJA DITINJAU DARI KEINGINAN UNTUK MENGAKTUALISASIKAN DIRI DALAM RUANG LINGKUP SEKOLAH Angeline Hosana Zefany Tarigan; Indra Prapto Nugroho
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 5, No 1 (2019): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.252 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v5i1.1697

Abstract

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar. Keingintahuan ini dapat menyebabkan remaja semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Rasa ingin tahu pada remaja juga merupakan bagian dari usaha untuk menjadi bermakna tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga orang lain. Saat rasa ingin tahu remaja sudah terpenuhi, maka remaja akan terdorong untuk mengaktualisasikan dirinya. Hal ini merupakan bagian dari kebutuhan eksistensi dari remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan rasa ingin tahu dengan keinginan untuk mengaktualisasikan diri pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dimana jumlah partisipan sebanyak 100 orang serta menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara rasa ingin tahu dengan aktualisasi diri pada remaja dalam ruang lingkup sekolah (r = 0,581; p = 0,000). Artinya semakin tinggi rasa ingin tahu maka semakin tinggi kemampuan siswa untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara rasa ingin tahu dengan keinginan untuk mengaktualisasikan diri pada remaja dalam ruang lingkup sekolah. Rasa ingin tahu yang besar menyebabkan individu berusaha mengumpulkan informasi baru dan penting untuk memaksimalkan potensi dalam diri sehingga mampu mengaktualisasikan dirinya._______________________________________________________________ Teenagers have great curiosity. This curiosity can cause teenagers become more motivated to be a better person than before. Curiosity in adolescents is also part of the effort to be meaningful not only for themselves but also for others. When a teenager's curiosity is fulfilled, the teenager will be encouraged to actualize himself. This is the part of the existence needs of adolescents. The purpose of this study is to explain the relationship between curiosity and the desire to actualize themselves in adolescents. This research is a quantitative correlational study where the number of participants is 100 people in which uses Self Actualization Activity Inventory (SAAI). This study uses a simple purposive sampling technique. The results showed that there was a relationship between curiosity and self-actualization in adolescents in the school scope (r = 0.581; p = 0,000). This means that the higher the curiosity, the higher the ability of students to actualize themselves. From this study it can be concluded that there is a significant relationship between curiosity and the desire to actualize themselves in adolescents in the scope of the school. Great curiosity causes individuals to try to gather new information and it is important to maximize the potential in themselves so they are able to actualize themselves.

Page 5 of 25 | Total Record : 246