cover
Contact Name
MUHAMMAD SIDDIQ ARMIA
Contact Email
msiddiq@ar-raniry.ac.id
Phone
+6281317172202
Journal Mail Official
jurnal.petita@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
http://petita.ar-raniry.ac.id/index.php/petita/about/editorialTeam
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
PETITA: Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah (PJKIHdS)
ISSN : 25028006     EISSN : 25498274     DOI : https://doi.org/10.22373/petita.v6i1
Core Subject : Religion, Social,
PETITA journal has aimed to deliver a multi-disciplinary forum for the discussion of thoughts and information among professionals concerned with the boundary of law and sharia, and will not accept articles that are outside of PETITA’s aims and scope. There is a growing awareness of the need for exploring the fundamental goals of both the law and sharia systems and the social consequences of their contact. The journal has tried to find understanding and collaboration in the field through the wide-ranging methods represented, not only by law and sharia, but also by the social sciences and related disciplines. The Editors and Publisher wish to inspire a discourse among the specialists from different countries whose various legal cultures afford fascinating and challenging alternatives to existing theories and practices. Priority will therefore be given to articles which are oriented to a comparative or international perspective. The journal will publish significant conceptual contributions on contemporary issues as well as serve in the rapid dissemination of important and relevant research findings. The opinions expressed in this journal do not automatically reflect those of the editors. PETITA journal have received papers from academicians on law and sharia, law theory, constitutional law, research finding in law, law and philosophy, law and religion, human rights law, international law, and constitutionality of parliamentary products. In specific, papers which consider the following scopes are cordially invited, namely; • Sharia Law • Constitutional Law • International Law • Human Rights Law • Land Property Law • Halal Law • Islamic Law • Sharia Court • Constitutional Court • Refugee Law • Transitional Justice • Trade Law • Regional Law • Institutional Dispute Law • Legal Thought • Law and Education • Humanitarian Law • Criminal Law • Islamic Law and Economics • Capital Punishment • Child Rights Law • Family Law • Anti-Corruption Law • International Trade Law • Medical Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 174 Documents
MALADMINISTRATION AND INTENTIONALITY ON THE CRIMINAL CORRUPTION COURT IN INDONESIA Elstonsius Banjo; Surastini Fitriasih; Eva Achjany Zulfa
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v7i2.147

Abstract

Maladministration and state financial losses have been the basis of the Criminal Court of Corruption’s decision to punish the defendant. Judges' decisions are often based on proven objective facts while subjective facts, including the "intentions" of offenders, are often disregarded even though the principle of criminal responsibility presupposes both objective and subjective aspects as a basis sentencing defendants. As a result, the enforcement of corruption in Indonesia has become a long-standing and polemic issue of justice. This study examines how "intention" is the main element used to determine whether the defendant is guilty under Article 2 and Article 3 of the "PTPK Law" in the Indonesian Corruption Court. The analysis is based on the theory of Criminal Responsibility through the "analytical and critical approach" in which its aim is to avoid "liability without fault" and to ensure that "committed intentionally" is the main element used in decision making regarding corruptor sentencing. Abstrak: Maladministrasi dan perhitungan riil kerugian keuangan negara telah menjadi dasar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi untuk memidana terdakwa sesuai Pasal 2 dan Pasal 3 UU PTPK. Keputusan hakim lebih membuktikan/mempertimbangkan fakta objektif daripada fakta subjektif atau "niat jahat" pelaku atas perbuatan yang dilakukan. Padahal asas pertanggungjawaban pidana mensyaratkan unsur objektif dan subjektif sebagai dasar pengadilan untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa. Akibatnya, penegakan hukum kasus korupsi di Indonesia menjadi polemik keadilan yang berkepanjangan, terutama terhadap seseorang yang telah dipidana bersalah. Penelitian ini mengkaji bagaimana “niat jahat" pelaku menjadi unsur utama untuk menyatakan kesalahan atas tindak pidana korupsi pada Pasal 2 dan Pasal 3 “UU PTPK” di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia. Analisis didasarkan pada asas dan teori Kesalahan melalui “pendekatan analitis-kritis”. Tujuannya untuk menghindari “pertanggunjawaban pidana tanpa kesalahan”, dan “melakukan dengan sengaja” adalah unsur utama untuk menyatakan kesalahan dan memidana pelaku.Kata Kunci: Maladministrasi, Kesengajaan, Pengadilan Korupsi, Keadilan
APPLICATION OF NO-FAULT DIVORCE LEGAL RULES AS A BASIS FOR JUDGES' CONSIDERATIONS: A CASE STUDY OF INDONESIA Khairani Mukdin; Zahrul Bawady; Tarmizi M.Djakfar; Muhammad Riza Nurdin
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v7i2.149

Abstract

No-Fault Divorce is a legal rule in divorce, involving a couple who wants to divorce without proof of their cause or reason in court. The concept first appeared in California in 1970 and has been used in Indonesia as legal material for judges considering divorce cases. The involved parties must assert that there is no match between the two or a difference that cannot be compromised. No-Fault Divorce is considered in accordance with the values contained in the fiqh. However, employing No-Fault Divorce as the primary consideration of judges in deciding divorce cases or generalizing each divorce case using this rule of law is inconsistent with the purpose of marriage (maqāṣid) in fiqh. This paper utilizes a descriptive comparative study to qualitatively analyze and compare the legal principle concept of No-Fault Divorce and its use in religious courts in Indonesia with the values originating from the fiqh mazhab. The study reviews several judges' decisions based on the legal rules of No-Fault Divorce in addition to scholars' books of fiqh mazhab. Knowing the cause of divorce without generalizing the issue could make the judicial process more transparent so that a judge's legal justification can be seen. In general, the divorce decision is used as a basis for determining other judgments related to family matters, such as determining child custody and common property rights. Divorce is not a trivial action without basis since marriage is sacred in religion and Indonesian society. Abstrak: No-Fault Divorce adalah suatu kaidah hukum dalam perceraian yang mengandung maksud bahwa ketika suatu pasangan ingin bercerai, maka keduanya tidak perlu membuktikan sebab atau alasan mereka bercerai didepan pengadilan. Mereka cukup menegaskan bahwa di antara keduanya sudah tidak ada kecocokan, atau terdapat perbedaan yang tidak dapat dikompromikan lagi. Paham ini pertama sekali muncul di California tahun 1970 dan telah digunakan di Indonesia sebagai salah satu pertimbangan hukum materiil hakim dalam perkara perceraian. Penggunaan kaidah hukum No-Fault Divorce sebagai salah satu penguat pertimbangan hakim dianggap sejalan atau sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam fiqh mazhab. Namun demikian menjadikan No-Fault Divorce sebagai pertimbangan utama hakim dalam memutuskan perkara perceraian atau menyamaratakan setiap kasus perceraian dengan menggunakan kaidah hukum ini dianggap tidak sejalan dengan tujuan pensyariatan (maqāṣid) pernikahan dalam fiqih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif komparatif yang dianalisis secara kualitatif dengan cara membandingkan pemahaman konsep kaidah hukum No-Fault Divorce dan penggunaannya pada Pengadilan Agama di Indonesia dengan nilai-nilai yang terkandung dalam fiqh mazhab. Data yang menjadi objek penelitian adalah beberapa putusan hakim yang mencantumkan langsung kaidah hukum No-Fault Divorce dan kitab-kitab fiqh mazhab karya ulama. Kaidah hukum No-Fault Divorce ini kurang relevan dan sejalan dengan nilai-nilai fiqh meskipun dapat mempercepat proses peradilan. Bagaimanapun mengetahui sebab perceraian tanpa menyamaratakan persoalan akan lebih jelas proses mengapa putusan itu diberlakukan dan dan lebih jelas siapa yang salah dan siapa yang benar sehingga terlihat keadilan hukum dari suatu putusan. Karena biasanya putusan perceraian ini akan menjadi dasar bagi penetapan putusan lain terkait dengan hak-hak dalam keluarga seperti hak penetapan hak asuh anak maupun hak harta bersama dan lain sebagainya. Lebih dari itu terjadinya perceraian bukanlah hal yang sepele yang tanpa dasar, karena pernikahan merupakan suatu yang sakral dalam agama dan dalam masyarakat Indonesia. Kata Kunci: No-Fault Divorce, Pertimbangan Hakim, Fiqh Mazhab
THE MBOJO LOCAL WISDOM AS AN ALTERNATIVE FOR THE SETTLEMENT OF INDUSTRIAL RELATIONS DISPUTES Asri Wijayanti; Lelisari; Indah Kusuma Dewi; Chamdani; Satria Unggul Wicaksana Prakasa
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v7i2.151

Abstract

This study addresses the inability of workers to resolve industrial relations disputes, thus eliminating their rights. Being unable to settle industrial relations disputes can result in losses jobs, strikes, lockouts, demonstrations, defamation, destruction of property, or even the loss of one's life. These negative impacts greatly affect the peace and comfort of work, national security, and stability. These problems, among others, can be overcome through advocating for workers who are dealing with industrial relations disputes. Mechanisms for resolving industrial relations disputes often do not give satisfactory results or fail if they are carried out based on formal regulations. However, the advocacy model for workers in industrial relations disputes based on the local wisdom of the Mbojo Tribe, Bima, Nusa Tenggara, can be an alternative solution for both anticipating industrial relations disputes that cannot be resolved and for achieving social justice for workers without harming employers. The purpose of this study is to describe the substance and procedure for resolving industrial relations disputes based on the local wisdom of the Mbojo Tribe, Bima, Nusa Tenggara, which is based on Islamic sharia. This legal research uses a conceptual and historic legislative approach. The results of the research find that the local wisdom of the Mbojo tribe written in the BO book can be the basis for alternative solutions that can build an industrial relations dispute resolution system that is closer to the sense of community justice than the current system. Abstrak: Problem dalam penelitian ini, yaitu adanya ketidakmampuan pekerja dalam menyelesaikan sengketa hubungan industrial yang menghilangkan haknya. Tidak dapat terselesainya sengketa hubungan industrial, dapat mengakibatkan kerugian, terjadinya mogok, lock out, unjukrasa, demonstrasi, pencemaran nama baik, pengrusakan barang milik orang lain sampai dengan hilangnya nyawa seseorang. Dampak negatif ini, sangat mempengaruhi ketenangan dan kenyamanan kerja, keamanan dan stabilitas nasional. Problem ini diantaranya akan dapat diatasi melalui advokasi kepada pekerja dalam menghadapi sengketa hubungan industrial. Mekanisme upaya penyelesaian sengketa hubungan industrial, seringkali belum memberikan hasil yang memuaskan atau gagal apabila dilakukan berdasarkan kebenaran formal. Model advokasi pada pekerja dalam sengketa hubungan industrial berbasis kearifan lokal Suku Mbojo, Bima, Nusa Tenggara, akan dapat menjadi alternatif solusi atas antisipasi terjadinya sengketa hubungan industrial yang tidak dapat terselesaikan, serta untuk mencapai keadilan sosial bagi pekerja tanpa merugikan pemberi kerja. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan substansi dan prosedur penyelesaian sengketa hubungan industrial berbasis kearifan lokal Suku Mbojo, Bima, Nusa Tenggara, berdasarkan syariah Islam. Penelitian hukum ini menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan konseptual dan sejarah. Hasil penelitian yang diperoleh adalah kearifan lokal suku Mbojo yang tertulis dalam kitab BO dapat menjadi dasar alternatif solusi untuk membangun sistem penyelesaian sengketa hubungan hubungan industrial yang lebih dekat dengan rasa keadilan masyarakat. Kata Kunci: Sengketa Hubungan Industrial, Suku Mbojo, Kearifan Lokal, Kitab BO, Hukum Islam
INTRODUCTION Muhammad Siddiq Armia; Muhammad Syauqi Bin-Armia
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v7i2.154

Abstract

BUILDING A CONSTITUTIONAL AWARE CULTURE TO CREATE A DEMOCRATIC LAW STATE Jimly Asshiddiqie
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v7i2.128

Abstract

This article investigates on how the 1945 Constitution has changed the landscape of Indonesian’s legal system as well as creating democratic law state. In contrast, before the amendment of 1945 Constitution, the state power has centred in the hand of president, including the power of legislative, judicative, and also executive. In this period of time, it is hard to build constitutional awareness as people do not feel a democratic law state, affecting the people have low trust to the government. This condition has asked for amending the constitution and sharing state power instead of centring in one hand with principle of check and balances. This article has used constitutional black-letter law method, focusing on constitution norms in specific articles as main data. The main points can conclude that the 1945 Constitution after amendment has democratically created law state as several foundamental rights of people has been absorbed in the Constitution 1945, including human rights and priciple check and balances. Abstrak: Artikel ini membahas tentang bagaimana Undang-Undang Dasar 1945 telah mengubah wajah sistem hukum Indonesia serta menciptakan negara hukum demokratis. Hal ini bertolak belakang sebelum adanya amandemen Undang-Undang Dasar 1945, dimana kekuasaan negara berpusat di tangan presiden, bersamaan dengan kekuasaan legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Pada periode tersebut sangat susah membangun kesadaran berkonstitusi karena rakyat tidak merasakan bernegara secara demokratis, yang mengakibatkan rendahnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kondisi seperti ini mengakibatkan tuntutan untuk mengamandemen undang-undang dasar dan membagi kekuasan negara dengan prinsip saling memeriksa dan berimang, bukan mempusatkan pada satu tangan kekuasaan. Artikel ini menggunakan metode constitutional black-letter law denga fokus pada norma konstitusi yang terdapat pada pasal-pasal khusus sebagai data utama. Kesimpulan utama dalam artikel ini adalah Undang-Undang Dasar 1945 setelah diamandemen telah menciptakan negara demokratis. Beberapa hak-hak dasar rakyat telah di serap didalamnya, termasuk hak asasi manusia dan prinsip-prinsip saling periksa dan berimbang. Kata Kunci: Kesadaran Berkonstitusi, Negara Hukum Demokratis, Undang-Undang Dasar 1945
DISPUTE SETTLEMENT BETWEEN THE ACTIVITY EXECUTION TEAM AND THE GOODS PROVIDER REGARDING THE USE OF VILLAGE FUNDS Nurdin Bakry; Faisal Fauzan
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v8i1.164

Abstract

According to Law Number 6 of 2014 concerning Villages, villages have a strategic and vital role in development which is carried out using the development budget in the form of Village Fund Allocation (ADD). Villages can self-manage the use of village funds by procuring goods and services. Procurement of goods or services using village funds often experiences problems because the providers do not hand over the product to the activity execution team. This situation happens even though the provider has received a down payment for purchasing goods the village needs. As a result, development in the village is constrained. This condition gave rise to disputes between the activity execution team and the appointed goods or service provider, which may be reported to the authority. Disputes between the activity execution team and the provider in procuring goods and services using village funds are settled through administrative and civil law because the act is a default. The settlement is carried out through discussions to achieve consensus. If it fails, the settlement is carried out through discussions led by the village head. If it fails again, the procurement contract resolution service will conduct the settlement. The final way of settlement is by filing a lawsuit in court, not through criminal law. Abstrak: Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, menempatkan desa mempunyai peran strategis dan penting dalam pembangunan, melalui anggaran pembangunan secara dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD). Desa dalam melaksanakan swakelola penggunaan Dana Desa dapat melakukan pengadaan barang dan jasa. Pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang dilakukan dengan menggunakan dana desa yang melibatkan penyedia barang/jasa sering mengalami permasalahan yang disebabkan penyedia barang/jasa tidak menyerahkan barang yang dibutuhkan oleh desa kepada Tim Pelaksana Kegiatan (TPK). Sementara penyedia barang/jasa sudah menerima dana dalam bentuk panjar, untuk kebutuhan pembelian barang yang dibutuhkan oleh desa, sehingga pelaksanaan pembangunan di desa menjadi terkendala. Kondisi ini menimbulkan perselisihan antara Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) di Desa dengan pihak penyedia barang/jasa yang sudah ditunjuk, bahkan sampai membuat laporan ke penegak hukum. Penyelesaian perselisihan antara Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dengan Penyedia dalam pengadaan barang dan jasa yang menggunakan dana desa dilakukan melalui hukum administrasi dan hukum perdata karena perbuatan tersebut adalah wanprestasi. Sehingga penyelesaian sengketa yang terjadi antara penyedia dan TPK dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Apabila tidak berhasil, maka penyelesaian perselisihan dilakukan melalui musyawarah yang dipimpin oleh Kepala Desa. Apabila tidak berhasil juga maka penyelesaian perselisihan tersebut dapat dilakukan melalui Layanan Penyelesaian Sengketa Kontrak Pengadaan dan jalan terakhir penyelesaian tersebut dengan cara mengajukan gugatan ke pengadilan. Jadi bukan melalui jalur hukum pidana. Kata Kunci: Penyelesaian Sengketa, Hukum Penyedia Barang, Dana Desa, Penegakan Hukum, Gugatan Di Pengadilan
THE EFFORTS OF PREVENTING BRIBERY AND GRATIFICATION AT THE LAND OFFICE Agus Kasiyanto; Sri Wahyu Jatmikowati
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v8i1.165

Abstract

Bribery can be interpreted as facilitating money for certain interests. Gratuity is a gift in a broad sense, including giving money, goods, rebates (discounts), commissions, interest-free loans, travel tickets, lodging facilities, tours, free medical treatment, and other facilities (within the country or abroad) using electronic or without electronic means). Bribery and gratuity occurred in the Land Agency, fo example the sting operation at the Sorong City Land Agency, is the tip of the iceberg, caused by many factors. Therefore, prevention efforts can be started from oneself. Building an Anti-Bribery Management System [ABMS] and the Gratuity Control Unit [GCU] at the Land Agency and the support from Notary/Land Deed Officials (Notaris-PPAT) who runs their business free from Bribery and Gratuity are another efforst. These efforts are expected to be able to create a Land Agency who serve the public with integrity and free from corruption. Abstrak: Suap diartikan secara lebih sederhana, yaitu uang pelicin atau alat sogok untuk kepentingan tertentu. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya (baik yang diterima didalam negeri, maupun diluar negeri, dan baik yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik). Suap dan Gratifikasi yang tumbuh subur di Kantor Pertanahan, sebagaimana pernah terjadi Operasi Tangkap Tangan [OTT] di Kantor Pertanahan Kota Sorong merupakan puncak gunung es, yang disebabkan banyak faktor, oleh karena itu upaya pencegahannya bisa dimulai dari diri sendiri, membangun Sistem Manajemen Anti Penyuapan [SMAP] pada Kantor Pertanahan, dan Unit Pengendaliann Gartifikasi [UPG] yang dibuat serta diterapkan pada internal Kantor Pertanahan, serta adanya dukungan dari Notaris-PPAT yang menjalankan bisnisnya secara bebas dari Suap dan Gratifikasi. Upaya tersebut kedepan diharapkan dapat mewujudkan Kantor Pertanahan yang berintegritas, bebas korupsi, dan melayani. Kata Kunci: Suap dan Gratifikasi, Badan Pertanahan, Tindak Pidana Korupsi
GENOCIDE: CAUSES BEHIND A GRAVEST STATE CRIME Syed Enam Ahammad
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v8i1.167

Abstract

This article will investigate the underlying conditions that make genocide possible, analysing the facts, examining how and why human beings are capable of such criminal action. Throughout the history many intellects including Raphael Lempkin (1944) came up with the definition for the term genocide. Genocide is understood as the gravest crime that is possible to commit against humanity. This is a deliberate action to destroy an ethnic, national, racial or religious group in whole or in part. Genocide is not simply unjust, but it is also evil. It is referred to mass murder that is usually carried out by a state or group, caused by many conflicts and tensions between various sects’ overtime and lead to anxiety that turns into mass murder. The reason for such crime against humanity can vary from people to people - such as, to gain power, greed, political influence, vengeance or religious reasons. It is characteristics, includes the one-sided killing of defenceless civilians. Furthermore, it will explain the unique cases and patterns of genocide along with Stanton's discussion of the ten stages that lead to a state or an individual to carry out the mass killing. Also, it will discuss the negative propaganda of governments and groups that cause division amongst communities. Finally, it will explore the grounds of genocide where nationalism drives to genocide and its implications in the twenty-first century. However, many scholars do not agree with the interpretations of genocide that is led by various conflicts such as historic, religious, ethnicity and many more. Moreover, it will discuss the functionalist and intentionalist and the connections to the contemporary day that links the origins of genocide. Also, it will annotate the statement of Fein of twentieth-century genocide being the “virtual state crime”. In summary, the article will have encountered the causes of genocide and the reasons for various stages which genocide occurred. It will also be understood that the era of modern technology has a great influence in propagating and transmitting communications amongst states and groups more efficiently. Abstrak: Artikel ini akan menyelidiki kondisi mendasar yang memungkinkan terjadinya genosida, menganalisis fakta, memeriksa bagaimana dan mengapa manusia mampu melakukan tindakan kejahatan seperti itu. Sepanjang sejarah banyak intelektual termasuk Raphael Lempkin (1944) yang mendefinisikan istilah genosida. Genosida dipahami sebagai kejahatan paling berat yang dilakukan terhadap kemanusiaan. Tindakan ini dilakukan untuk menghancurkan suatu kelompok etnis, bangsa, ras atau agama secara keseluruhan atau sebagian. Genosida bukan hanya tidak adil, tetapi juga jahat. Genosida adalah pembunuhan massal yang biasanya dilakukan oleh suatu negara atau kelompok, disebabkan oleh konflik dan ketegangan antara berbagai aliran yang berlangsung lama dan menimbulkan kecemasan yang berujung pada pembunuhan massal. Alasan tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut bervariasi, dari orang ke orang - seperti, untuk mendapatkan kekuasaan, keserakahan, pengaruh politik, balas dendam atau alasan agama. karakteristik genosida adalah pembunuhan terhadap warga sipil yang tak berdaya. Selanjutnya akan dijelaskan kasus dan pola genosida yang unik serta pembahasan Stanton mengenai sepuluh tahapan yang menyebabkan suatu negara atau individu melakukan pembunuhan massal. Juga akan dibahas propaganda negatif pemerintah dan kelompok yang menyebabkan perpecahan di antara masyarakat. Terakhir, artikel ini akan menjelajahi dasar genosida di mana nasionalisme mengarah pada genosida dan implikasinya di abad ke-21. Namun, banyak sarjana tidak setuju dengan interpretasi genosida yang dipicu oleh berbagai konflik seperti sejarah, agama, etnis, dan banyak lagi. Selain itu, ini akan membahas fungsionalis dan intensionalis serta kaitannya dengan zaman kontemporer yang menghubungkan asal-usul genosida. Juga, itu akan disertai dengan keterangan dan pernyataan Fein tentang genosida abad ke-20 sebagai "kejahatan negara virtual". Terakhir, artikel ini akan membahas penyebab genosida dan alasan berbagai tahapan terjadinya genosida. Juga kaitannya dengan era teknologi modern yang memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan dan mentransmisikan komunikasi antar negara dan kelompok secara lebih efisien. Kata Kunci: Genosida, Komitmen Terhadap Kemanusiaan, Kejahatan Negara Virtual, Hukum Internasional
THE ROLE OF LOCAL GOVERNMENT IN MAINTAINING COFFEE PRICES VOLATILITY IN GAYO HIGHLAND OF INDONESIA Chairul Fahmi; Rahmi Putri Febriani; Laila Muhammad Rasyid; Ahmad Luqman Hakim
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v8i1.168

Abstract

During the Covid pandemic from 2019 until 2022, coffee prices in Gayo Highland have experienced multiple drops and high volatility. This study aims to investigate the role of the local government in maintaining the volatility of coffee prices in the Bener Meriah district of the Gayo Highland area. This study used data on coffee prices at the producer level, the planters and the reseller. o examine the local government policy and practice, we use the theory of Tas'ir al-Jabari. The results show that the local government has issued several policies to protect the planters' coffee prices, including activating the Warehouse Receipt System (WRS), conducting training and socialization on coffee management, and conducting coffee rehabilitation and rejuvenation programs. However, the local government's effort has yet to be maximized due to the lack of power of the local government to intervene over the price volatility. The prices are heavily influenced by supply and demand, as are the prices of other commodities. Therefore, the local government's policies for securing coffee prices have yet to be able to reflect the principles of at-Tas'ir Aljabari, in which the ruler has absolute authority to control and manage the market price of coffee beans in the Gayo Highland region. Abstrak: Selama pandemi Covid dari tahun 2019 hingga 2022, harga Kopi di dataran tinggi Gayo penurunan dan berfluktuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan pemerintah daerah dalam menjaga volatilitas harga di pasar lokal di wilayah Gayo. Penelitian ini menggunakan data harga kopi di tingkat produsen, pekebun dan reseller. Untuk mengkaji kebijakan dan praktik pemerintah daerah, kami menggunakan teori Tas’ir al-Jabari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam melindungi harga kopi pekebun, antara lain dengan mengaktifkan Sistem Resi Gudang (SRG), melakukan pelatihan dan sosialisasi pengelolaan kopi, melakukan program rehabilitasi dan peremajaan kopi. Namun, upaya pemerintah daerah belum maksimal karena kurangnya kekuatan pemerintah daerah untuk melakukan intervensi atas anjloknya harga biji kopi di pasar. Semua harga sangat dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah daerah untuk mengamankan harga kopi belum mampu mencerminkan prinsip at-Tas’ir Aljabari, yang mana pemerintah mempunyai hak absolut untuk mengontrol harga pasar terhadap komoditas biji kopi diwilayah dataran tinggi Gayo. Kata kunci: Pemerintah Daerah, Jaga Harga Kopi, Volatilitas Di Dataran Tinggi Gayo
INTRODUCTION Muhammad Siddiq Armia; Muhammad Syauqi Bin-Armia
PETITA: JURNAL KAJIAN ILMU HUKUM DAN SYARIAH Vol 8 No 1 (2023): MAINTAINING THE CONSTITUTIONAL RIGHTS TO CREATE A BETTER SOCIETY
Publisher : LKKI Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/petita.v8i1.172

Abstract