cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Bioedukatika
ISSN : 23386630     EISSN : 25415646     DOI : 10.26555
Core Subject : Education,
"JURNAL BIOEDUKATIKA" focuses on the publication of the results of scientific research related to the field of Biology Education. The article published on the internal and external academic community UAD especially in Biology Education. "JURNAL BIOEDUKATIKA" publishes scholarly articles in biology education scope covering: biology curriculum, teaching biology, instructional media, and evaluation. Published article published is the article the results of research, studies or critical and comprehensive scientific study on important issues and current job descriptions included in the journal.
Arjuna Subject : -
Articles 274 Documents
Pengaruh Penambahan Air Lindi terhadap Laju Dekomposisi Sampah Daun yang dikomposkan dalam Vessel Yahya Hanafi; Bernadetta Ocatvia
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.19 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v2i2.4125

Abstract

Sampah merupakan barang atau segala sesuatu yang dianggap sudah tidak berguna, tidak dipakai, tidak disenangi dan tidak dapat dipergunakan (tidak fungsional lagi). Sampah daun merupakan sampah organik terbanyak di lingkungan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pengomposan secara alami berlangsung cukup lama, dengan penambahan aktivator dapat mempercepat proses pengomposan. Alternatif aktivator yang dapat digunakan yaitu air lindi dari hasil proses pengomposan sampah daun di rumah Kompos UNY. Melalui penelitian ini akan diungkap kemampuan mikroorganisme di dalam air lindi untuk mempercepat laju dekomposisi sampah daun dan mengetahui dinamika densitas bakteri-fungi.Bahan utama penelitian yaitu sampah daun kelengkeng (Euphoria longana), daun ketepeng (Cassia tora L.), dan air lindi dari pengomposan di rumah kompos UNY. Penelitian ini memakai 6 taraf perlakuan air lindi, yaitu perlakuan A = kontrol (tanpa air lindi) ; B = 2,2 liter ; C = 3,2 liter ; D = 4,2 liter ; E = 5,2 liter ; F = 6,2 liter, jumlah volume sampah daun 8 kg setiap perlakuan. Penelitian dilakukan dengan skala kecil dalam vessel (ember) berukuran 8 liter selama 70 hari di rumah kompos UNY. Laju dekomposisi sampah daun ditentukan dari besarnya penurunan rasio C/N pada akhir pengomposan.Penambahan air lindi sebesar 5,2 liter dalam 8 kg sampah daun paling optimum menurunkan rasio C/N sebesar 43,18% dengan lama waktu pengomposan selama 70 hari. Dinamika densitas bakteri- fungi berkaitan dengan penurunan rasio C/N, kadar Karbon (C), kadar Bahan Organik (BO), kadar air, bobot kompos dan peningkatan kadar Nitrogen (N), kadar Phospor (P), kadar Kalium (K), dan pH kompos.
Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Lingkungan Masyarakat untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi di SMAN 1 Kota Padang Reny Dwi Riastuti
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.077 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v3i2.4152

Abstract

Artikel ini memaparkan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Lingkungan Masyarakat untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bioteklogi di SMAN 1 Kotapadang. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi di SMAN 1 Kotapadang melalui penerapan pendekatan Sains Teknologi Lingkungan Masyarakat. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Langkah-langkah dalam penelitian ini meliputi: perencanaan (planning) merupakan langkah pertama dalam setiap kegiatan, 2) tindakan (action) merupakan realisasi dari rencana yang dibuat, 3) observasi (observation) bertujuan untuk mengetahui kualitas tindakan yang dilakukan, 4) refleksi (reflection) bertujuan untuk melihat atau merenungkan kembali apa yang telah dilakukan dan apa dampaknya bagi proses belajar siswa. Pengumpulan data berupa lembar observasi dan tes, yang diolah secara deskriptif. Analisis data observasi menggunakan skala penilaian pengukuran, dan untuk hasil tes dengan persen ketercapaian. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata pada siklus I. aspek afektif adalah 69,14 dengan ketuntasan klasikal 43,75%; aspek psikomotorik adalah 75,21 dengan ketuntasan klasikal 68,75%, dan aspek kognitif adalah 6,2 dengan ketuntasan 43%. Sedangkan pada siklus ke II pada aspek afektif adalah 76,36 dengan ketuntasan klasikal 90,62%; aspek psikomotorik adalah 83,78 dengan ketuntasan klasikal 100%; dan aspek kognitif adalah 7,3 dengan ketuntasan 74%.
Paradigma Pembelajaran Biologi di Era Digital H.B.A. Jayawardana
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.963 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v5i1.5628

Abstract

Kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan oleh guru dengan siswa di sekolahan dikenal dengan istilah pembelajaran. Kualitas pembelajaran akan optimal apabila proses pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction), bukan berpusat pada guru (teacher centered instruction). Proses pembelajaran sebaiknya juga dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan, termasuk pada pembelajaran biologi. Anggapan bahwa pelajaran biologi merupakan sesuatu yang menakutkan, sulit dimengerti karena banyak dikombinasi dengan istilah Latin atau bahasa ilmiah, dan juga membosankan karena banyaknya materi, perlu segera diluruskan. Stigma negatif pada pelajaran biologi tersebut salah satu penyebabnya karena pembelajaran dilakukan dengan metode-metode konvensional dan cenderung monoton. Di era digitital seperti sekarang ini, guru sebaiknya mempunyai paradigma yang baru terhadap pembelajaran biologi. Sudah saatnya guru memanfaatkan kemajuan teknologi dan internet sebagai sarana pembelajaran biologi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana merubah paradigma lama menuju paradigma baru dalam pembelajaran biologi di era digital? Bagaimana menerapkan pembelajaran biologi di era digital? Dan bagaimana segi positif maupun negatifnya pembelajaran digital? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan benang merah yang akan dibahas dalam artikel ini.
ANALISIS VEGETASI STRATA SEMAK DI PLAWANGAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI PASCA ERUPSI MERAPI 2010 Dyna Natalia; Trikinasih Handayani
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2899.658 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v1i1.4095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi strata semak yang memiliki peranan paling besar berdasarkan Indeks Nilai Pentingnya, Indeks diversitas jenis strata semak dan pengaruh lingkungan abiotik yang meliputi (suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara, pH tanah, kandungan besi (Fe), kadar silika (Si), kadar mangan (Mn) dan kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam tanah) yang terdapat di daerah Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta. Pada penelitian ini digunakan tiga area kajian yaitu area kajian A (dekat dengan erupsi merapi), area kajian B (agak jauh dengan erupsi merapi) dan area kajian C (jauh dengan erupsi merapi). Adapun metode yang digunakan adalah metode Point Centered Quarter (PCQ). Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pola pengelompokan stand vegetasi strata semak terhadap faktor abiotik yang terukur adalah cluster dengan menggunakan program SPSS versi 16. Berdasarkan hasil penelitian di Palawangan Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta diperoleh 12 jenis vegetasi strata semak. Vegetasi strata semak yang memiliki rerata INP tertinggi pada area kajian A (dekat dengan erupsi merapi) yaitu Chromolaena odorata (80.071 4%), Eupatorium riparium (41.7777 5%), dan Crotalaria striata (33 .84885%). Area kajian B (agak jauh dengan erupsi merapi) yaitu Chromolaena odorata (82.17 01%), Lantana camara (55.68935%), dan Eupatorium riparium (51.53475%). Dan pada area kajian C (jauh dengan erupsi merapi) yaitu Chromolaena odorata (78.4494%), Bambusa Sp (61.029%), dan Clidemia hirta D.Don. (35.8157%). Rerata Indeks Diversitas pada Area kajian A (1.73 ), area kajian B (1.64) dan Area kajian C (1.7). Faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap pola pengelompokan stand vegetasi strata semak adalah Si, Fe dan Mn. Adapun kelembapan udara, suhu udara, suhu tanah, pH tanah, KPK tanah merupakan faktor abiotik yang tidak mempengaruhi pola pengelompokan stand. Melalui metode pengkajian, hasil penelitian yang dilakukuan di daerah Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar Biologi siswa SMA kelas X pada materi pembelajaran struktur dan fungsi ekosistem terestrial dalam bentuk CD pembelajaran.Kata kunci: Analisis vegetasi, Strata semak, Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Telaah Potensi Materi Ajar Biologi SMP Berbasis pada Potensi Lokal di Bantaran Sungai Winongo Kabupaten Bantul Muhammad Joko Susilo
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.26 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v2i2.4120

Abstract

Kebutuhan akan materi pembelajaran yang berbasis pada potensi lokal belum banyak ditemukan dalam referensi/buku pegangan guru. Materi ajar yang kontekstual sangat diharapkan dalam pengembangan standar isi pada Kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui potensimateri ajar biologi yang ditemukan di bantaran sungai winongo Kabupaten Bantul, (2) mengetahui kesesuaian temuan-temuan materi berbasis potensi lokal dengan kebutuhan materi ajar biologi SMP yang memenuhi prinsip-prinsip relevansi, adequacy, dan konsistensi, dan (3) mengetahui kualitas prototipe/desain suplemen materi ajar yang dikembangkan dengan isi/bahan materi ajar berbasis potensi lokal untuk 3 Kompetensi Dasar versi Kurikulum 2013 di jenjang SMP. Penelitian ini didesain dengan fragmen/penggalan dari penelitian pengembangan dengan langkah analisis kebutuhan dilakukan melalui penelitian eksplorasi di bantaran Sungai Winongo Kabupaten Bantul, selanjutnya dilakukan penelaahan mendalam tentang materi ajar yang ditemukan dari penelitian eksplorasi, dan dilanjutnya dengan mengembangkan prototipe suplemen materi ajar biologi SMP. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan potensi materi ajar yang ditemukan di bantaran Sungai Winongo cocok untuk materi pencermaran tanah dan air. Selanjutnya, hasil analisis mendalam ditemukan materi ajar yang ditemukan sudah memenuhi kriteria materi ajar yang mencakup pengetahuan, sikap, dan ketrampilan juga memenuhi prinsip pengembangan materi yaitu relevansi, adequacy, dan konsistensi. Hasil pengujian kualitas suplemen materi ajar menunjukkan bahwa buku suplemen materi ajar dinyatakan layak dengan kategori baik.
Pengaruh Penerapan Metode Guided Inquiry terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA N 2 Banguntapan H.B.A. Jayawardana
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.775 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v3i2.4147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh penerapan metode Guided Inquiry terhadap aktivitas belajar biologi pada materi avertebrata siswa kelas X SMA Negeri 2 Banguntapan. (2) mengetahui pengaruh penerapan metode Guided Inquiry terhadap hasil belajar biologi pada materi avertebrata siswa kelas X SMA Negeri 2 Banguntapan. Penelitian ini termasuk penelitian Quasi Experiment (eksperimen semu). Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 2 Banguntapan. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang diambil secara random (acak), yaitu kelas X2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X3 sebagai kelas kontrol. Data penelitian berupa hasil observasi aktivitas belajar siswa dianalisis dengan uji Two Independent Samples Kolmogorov-Smirnov dan data hasil belajar siswa berupa pretest dan posttest dianalisis menggunakan t-Test (uji-t) dengan bantuan program SPSS 17.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen dengan menerapkan metode Guided Inquiry dibandingkan dengan kelas kontrol yang menerapkan metode konvensional. Hal ini ditunjukkan dan dibuktikan dengan hasil uji Two Independent Samples Kolmogorov-Smirnov, dengan sig. (2-tailed) senilai 0,000 < taraf signifikansi (0,01). (2) tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar biologi pada kelas eksperimen dengan menerapkan metode Guided Inquiry dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini ditunjukkan dan dibuktikan dengan hasil uji-t dengan sig. (2-tailed) senilai 0,318 > taraf signifikansi (0,05). Kesimpulan hasil analisis data menunjukkan bahwa metode Guided Inquiry berpengaruh signifikan terhadap aktivitas belajar, dan dapat pula meningkatkan hasil belajar siswa meskipun tidak secara signifikan, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran biologi di sekolah.
Perangkat Pembelajaran Model Cooperative Scripts Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Mengeliminasi Miskonsepsi IPA pada Siswa Sekolah Dasar Dian Eka Indriani
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.175 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v4i2.5296

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran IPA di Sekolah Dasar model Cooperative Scripts dengan 4D modifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi Miskonsepsi pemahaman konsep IPA pada pokok bahasan materi sistem pernapasan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan perangkat pembelajaran valid, keterlaksanaan pembelajaran baik (3.97), kegiatan berpusat pada murid aktif. Hasil tes pemahaman konsep siswa dianalisis dengan N-gain menunjukkan pemahaman konsep IPA siswa meningkat (0.65) begitu pula dengan eliminasi Miskonsepsi siswa, sejalan dengan hasil penilaian afektif siswa menunjukkan hasil yang baik (3.9). Simpulan penelitian ini, bahwa perangkat pembelajaran IPA model Cooperative Scripts layak, dapat meningkatkan dan berpengaruh secara signifikan terhadap eliminasi Miskonsepsi pemahaman konsep IPA siswa di Sekolah Dasar.
Miskonsepsi ekologi: Sebuah analisis hasil tes kompetisi sains Madrasah Aliyah Jahidin Jahidin; La Rabani
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.61 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i1.7287

Abstract

Miskonsepsi materi ekologi adalah kesalahpahaman konsep atau sub konsep ekologi yang menyimpang dari kaidah-kaidah ilmiah. Kajian ini menjadi rujukan guru biologi Madrasah Aliyah (MA) dalam mereduksi miskonsepsi ekologi sebelum pelaksanaan lomba Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Penelitian ini bertujuan mengungkap persentase miskonsepsi materi ekologi dan menyusun deskripsi miskonsepsi pada setiap sub materi ekosistem, bioremediasi, konservasi, pencemaran, populasi, adaptasi, dan simbiosis. Instrumen tes yang digunakan adalah soal KSM-MA Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2017. Persentase soal materi ekologi adalah 15% dari total soal 100 nomor dengan gradasi 3 butir soal adaptasi, 3 butir soal pencemaran, 2 butir soal simbiosis, 3 butir soal ekosistem, dan masing-masing 1 butir soal populasi, komunitas, konservasi, dan bioremediasi. Subyek penelitian adalah peserta lomba KSM-MA Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2017 berjumlah 14 siswa, yaitu peserta dari 12 Kabupaten dan 2 Kota Madya. Analisis miskonsepsi melibatkan dua tahap kegiatan, yaitu pengidentifikasian dan pendeskripsian miskonsepsi. Hasil penelitian menunjukkan miskonsepsi materi ekologi mencapai 64%. Miskonsepsi terjadi pada semua sub materi dengan persentase yang berbeda, yaitu konservasi, bioremediasi, pupulasi, pencemaran, ekosistem, adaptasi, komunitas, dan simbiosis. Persentase miskonsepsi tertinggi terjadi pada sub materi konservasi, sedangkan terendah terjadi pada sub materi simbiosis.Misconception Ecology: An Analysis Of The Test Results Of Sains Madrasah Aliyah Competition. The misconception of ecological material is a misunderstanding of ecological concepts or sub-concepts that deviate from scientific rules. This study is important because it is the reference of the biology teacher of Madrasah Aliyah (MA) in reducing the ecological misconception before the implementation of the Madrasah Science Competition (KSM). This study aims to reveal the percentage of misconceptions of ecological material and develop a description of misconception on each sub-material ecosystem, bioremediation, conservation, pollution, population, adaptation, and symbiosis. The test instrument used is the KSM-MA of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia in 2017. The percentage of ecological matter is 15% out of a total of 100 questions. Gradation item consists of 3 items about adaptation, 3 items about contamination, 3 items about symbiosis, 2 items about ecosystem, and each 1 item about population, community, conservation, and bioremediation. The subjects were 14 participants of KSM-MA contest in Southeast Sulawesi Province in 2017. The contestants came from 12 regencies and 2 municipalities. Misconception analysis involves two stages of activity, the identification and description of misconception. The results showed 64% misconception of ecological material. Sub-material with a misconception level below 50% occurs in the symbiotic and the community, while the misconception level above 50% includes ecosystems, pollution, bioremediation, population, and conservation.
PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT( Ipomoea reptans Poir.) DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK BERBAHAN DASAR KOTORAN KELINCI Irawati Irawati; Zuchrotus Salamah
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2788.207 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v1i1.4079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman kangkung darat dengan pemberian pupuk organik berbahan dasar kotoran kelinci dan untuk mengetahui dosis kompos yang tepat untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat serta untuk mengetahui apakah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa SMA kelas XII pada materi pembelajaran pertumbuhan tumbuhan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu dosis kompos terdiri dari 5 perlakuan yaitu: D1=20 g/3 kg tanah, D2=40 g/3 kg tanah, D3=60 g/3 kg tanah, D4=40 g/3 kg tanah, D5=100 g/3 kg tanah masing-masing dengan 4 kali ulangan. Parameter pertumbuhan tanaman yang diukur meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, berat basah dan berat kering tanaman. Untuk mengetahui hasil penelitian diuji dengan Analisis Varian (ANAVA) dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Pertumbuhan tanaman kangkung darat dengan pemberian pupuk organik berbahan dasar kotoran kelinci yang berbeda-beda menunjukkan hasil yang berbeda pula. Dosis kompos yang tepat untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat adalah 60 g/3 kg tanah. Hasil penelitian ini melalui metode pengkajian diharapkan dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa SMA kelas XII pada materi pembelajaran pertumbuhan tumbuhan.
Variasi Morfologi Floral Anggota Suku Leguminosae Subsuku Lotoideae Zuchrotus Salamah
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.723 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v2i1.4106

Abstract

Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena sangat bervariasinya suku Leguminosae dimana salah satu subsukunya adalah Lotoideae. Struktur morfologi bunga dari anggota subsuku digunakan sebagai karakter state dalam membedakan anggota-anggotanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi morfologi floral vegetatif anggota subsuku Lotoideae serta untuk mengetahui variasi morfologi floral generatif anggota subsuku Lotoideae.Metode yang digunakan adalah eksplorasi ke Yogjakarta dan sekitarnya untuk mencari bunga tanaman anggota subsuku Lotoideae, kemudian dilakukan pengamatan terhadap struktur morfologi floralnya, baik vegetatif maupun generatif. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap morfologi serbuk sari yang sebelumnya telah dibuat preparat dengan menggunaan metode asetolisis. Data yang diperoleh berupa hasil pengukuran berbagai parameter bunga seperti petala, sepala, benangsari, serbuk sari, androecium, gynaecium, dan data hasil pengukuran serbuk sari dianalisis secara deskriptif.Hasil dari penelitian ini adalah Variasi morfologi floral vegetatif anggota sub-suku Lotoideae yaitu memiliki kelopak yang berbeda pada ukurannya sedangkan persamaannya berjumlah 5, aestivationya berlekatan. Perbedaan mahkotanya adalah pada warna dan ukuran dari masing-masing bagian bunga,sedangkan persamaannya terdiri atas 5 petala, bentuknya menyerupai kupu-kupu, Bentuk mahkotanya terbagi 3 yaitu, bendera di bagian terluar merupakan bagian yang terlebar, sayap dengan ujung runcing dan lunas yang saling berlekatan berbentuk seperti sekoci. Variasi morfologi floral generatif anggota subsuku Lotoideae yaitu memiliki perbedaan pada jumlah berkas. Persamaan benangsarinya berjumlah 10, dan tersusun dalam berkas. Gynaecium perbedaannya adalah pada ukuran dan warna, sedangkan persamaannya adalah posisi ovarium menumpang, jumlah carpel 1, plasentasi marginal, Aestivatio bebas. Ciri pada serbuksarinya berbeda dalam ukuran, aperture dan ornamentasi eksin sedangkan persamaannya adalah pada unit serbuk sari, simetri dan bentuknya.

Page 10 of 28 | Total Record : 274