AL-Hikmah: Jurnal Studi Agama-agama
Journal of Al-Hikmah: a journal of studies of religions that publishes the results of studies and original research with the latest editions in the religious and social fields from a multidisciplinary perspective. This journal aims to expand and create concepts, theories, paradigms, perspectives and methodologies in the religious and social fields. Scope of Al-Hikmah : Journal of Religious Studies 1. World religions 2. socio-religious 3. Islam 4. Religious organizations
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8 No 1 (2022)"
:
10 Documents
clear
Desain Kurikulum Berbasis Islamic Worldview
Mahmud Muhsinin;
Khozin Khozin
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.13169
Membentuk akhlak siswa merupakan hal yang mendasar dalam pendidikan Islam . Terbentuknya akhlak sangat berkaitan dengan konsep pandangan dunia seseorang. Membentuk pandangan dunia anak merupakan hal yang penting dalam sebuah pendidikan. Pendidikan Islam  harus memperhatikan Islamic worldview agar bisa membentuk siswa yang berakhlak dan berkepribadian Islam . Bagaimana konstruksi kurikulum pendidikan perspektif/berbasis Islamic worldview? inilah pertanyaan yang ingin dijawab oleh penelitian ini. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sebuah kurikulum yang berbasis Islamic worldview. Hasil penelitian : Komponen tujuan kurikulum adalah membentuk anak didik yang menghamba kepada Allah semata dan bersikap sebagai khalifah dalam keseharian. Komponen kedua isi kurikulum, yaitu mengenalkan Allah, manusia dan alam. Komponen ketiga strategi kurikulum, yaitu proses pembelajaran dilakukan dengan mengutamakan aspek amal atau perbuatan atau praktek. Pembelajaran dilakukan dengan strategi pengalaman siswa. Strategi pembelajaran ini mengajak siswa untuk praktek dan mengungkapkan pengalamannya untuk dilakukan pembinaan agar praktek yang dilakukan bisa lebih baik lagi. Komponen keempat evaluasi, yaitu kelulusan siswa dan evaluasi tingkat keberhasilan strategi kurikulum. Penilaian kelulusan siswa dengan komposisi 40% penilaian kognitif dan 60% penilaian akfektif dan moral.
Makna Kegiatan Keagamaan Komunitas Hidayatul Islamiyah Lidah Kulon pada Masa Pandemi Covid-19
Yunia Mulia Irianti;
Agus Machfud Fauzi
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12440
Kegiatan keagamaan mejadi suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu sebagai manusia beriman. Hal tersebut menjadikan manusia memiliki makna tersendiri dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan. Terutama pada komunitas Hidayatul Islamiyah yang terdapat di daerah Lidah Kulon. Komunitas tersebut telah terbentuk bersamaan setelah masjid hidyatul Islamiyah berdiri. Pada pandemi covid-19 membawa dampak signifikan terhadap aktivitas keagamaan yang dilakukan. Peraturan pemerintah yang menganjurkan untuk menerapkan protokol kesehatan menjadi hal yang wajib dipatuhi. Kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid seperti shalat, kajian agama dan tadarus harus mengikuti prokol kesehatan. Hal tersebut berfungsi untuk meminimalisir penyebaran covid-19. Kegiataan keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Hidayatul Islamiyah memiliki makna tersendiri dalam melakukan aktivitas sebagai manusia yang beriman. Penelitian ini menggunakan analogi interaksionalisme simbolik Herbert Blumer dalam pemaknaan kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Hidayatul Islamiyah Lidah Kulon. Penelitian meggunakan metode kualitatif dengan mencari data penelitian obeservasi, wawancara, dokumentasi. Diharapkan dapat mengetahui makna dari kegiatan yang dilakukan oleh komunitas tersebut. Data kualitatif dianalisis dengan tahapan reduction, display, conclution. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada komunitas Hidayatul Islamiyah terdapat interaksi yang berlangsung antar anggota, sehingga muncul makna yang dihasilkan dari kegiatan keagamaan tersebut.
Dampak Intensitas Game Online terhadap Remaja Desa Pohsangit Lor Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo
Usman Alkarim
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12276
Semakin berkembangnya dunia tekhnologi terutama dibidang Internet sehingga perusahaan – perusahaan seperti game online juga semakin gencar untuk membuat game online. Target utama mereka adalah remaja/pemuda dan pada akhirnya membuat para pemuda menjadi kecanduan dalam bermain game online dan pada akhirnya game online memberikan dampak pada religiusitas remaja. Permainan ini yang sangat diminati olehpara remaja setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama smartphone-nya tanpa mengetahui dampak yang akan mereka dapatkan sehingga membuat resah para orang tuanya bahkan dengan adanya game online ini para remaja ada yang sampai nekat mencuri, berbohong serta membentak-bentak orang tuanya bilamana orang tuanya tidak memberikan uang untuk membeli paket data/ kuota.Para remaja yang sudah kecanduan game online kini rasa sosial dan sikap keagamaannya sudah semakin berkurang, bahkan mereka sudah tidak memperhatikan kondisi kesehatannya. Maka di lakukannya penelitian ini dengan bertujuan untuk mengetahui intensitas game online pada remaja desa pohsangit lor kec.wonomerto serta dampak Intensitas game online pada religiusitas remaja desa pohsangit lor kec.wonomerto kab.probolinggo. Metode Kajian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis field research dengan pengumpulan data melalui pengamatan(observasi), wawancara, dan dokumentasi.Dengan demikian, kesimpulan yang didapat adalah bermain game online membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menaikkan level serta untuk memenangkan gane tersebut, sehingga hal ini juga membawa dampak pada religiusitas remaja desa pohsangit lor kecamatan wonomerto kabupaten probolinggo seperti halnya mereka mulai meninggalkan shalat 5 waktu ,kurangnya disiplin ,malas, berani berbohong kepada orang, membentak – bentak orang tuanya.
Internalisasi Nilai Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme pada Santri di Pondok Pesantren Al-Qur’an Ath-Thabraniyyah
Siti Juhaeriyah
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12981
Keberagaman yang ada pada Indonesia, terutama dalam konteks agama menjadi tantangan karena dapat menjadi sumber pemicu konflik dan perpecahan hingga memunculkan sikap radikal, selain itu radikalisme agama timbul dari sempitnya pemahaman keagamaan, tindakan radikalisme ini bukan hanya berwujud fisik namun juga berbentuk non-fisik misalnya menuduh individu atau kelompok lain yang berbeda pemahaman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi diskriptif. Maka dari itu pentingnya dilakukan internalisasi nilai moderasi beragama, internalisasi sebagai suatu proses pembelajaran untuk menanamkan suatu nilai yang diterapkan pada kehidupan bermasyarakat, merupakan bagian yang penting untuk membangun masyarakat yang hidup sesuai dengan nilai-nilai masyarakat itu sendiri. pada santri di Pondok Pesantren Al-Qur’an Ath-Thabraniyyah sebagai upaya pencegahan tindakan radikalisme. Proses ini tidak terlepas dari peran para Kiyai Pondok psantren Al-Qur’an Ath-Thabraniyyah yang memamng memiliki faham ahlussunnah wal jama’ah yang modrat, berdakwah secara damai menebarkan agama rahmatan lil alamiin mengikuti ulama-ulama shalafus sholih, mengajarkan kepada santri pemafahaman Islam yang komperhensif, mampu menerima perbedaan.
Gerakan Sosial Keagamaan dan Pendidikan Awal Abad ke 20
Asrori Asrori;
Rusman Rusman
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.13329
Pendidikan Islam sudah berlangsung di Indonesia sejak lama. Dalam definisi yang agak longgar, pendidikan Islam bisa dikatakan sudah berlangsung sejak penetrasinya Islam ke teritorial ini. Hanya saja kegiatan pendidikan Islam baru dianggap fenomenal dan mendapat perhatian serius dari para historian pada fase jayanya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Pada masa kerajaan-kerajaan Islam eksistensi dan maju mundurnya aktivitas pendidikan Islam sepenuhnya tergantung pada struktur dan perhatian yang diberikan kerajaan kepadanya.Lebih lanjut, dalam kenyataan di lapangan sangat terlihat jelas bahwa pendidikan Islam memperoleh support yang relatif baik dari para raja dan sultan muslim. Hal ini terbukti dengan jumlah saintis muslim dan literatur yang mereka tinggalkan sebagai khazanah klasik Islam Nusantara. Para saintis Nusantara bahkan diketahui telah membangun scientific network yang berwatak kosmopolitan, melibatkan pusat-pusat kegiatan ilmiah terkemuka di dunia Islam.Pada abad ke-20 –setelah melalui proses panjang pembusukan sistem kerajaan Islam Nusantara dan jatuhnya teritori ini ke bawah kolonialisme bangsa-bangsa Barat–watak pendidikan Islam Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Memudarnya kerajaan secara langsung menjadikan sistem pendidikan tradisional terdisolvasikan; lalu keadaan ini diperburuk pula oleh misi kolonialisme yang pada intinya tidak menghendaki majunya pendidikan Islam. Terdisolvasinya sistem politik dan lemahnya social system umat Islam memaksa umat Islam mengorganisasikan pendidikan dalam unit-unit dan bahkan sub-sub unit yang lebih kecil dari masyarakat Islam.Dengan kata lain, fragmentasi sosio-politik mengakibatkan fragmentasi sistem pendidikan. Salah satu aspek menarik dari totalitas proses ini adalah lahirnya sejumlah organisasi sosial keagamaan –Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PERSIS, Al-Jam’iyatul Washliyah, Al-Irsyad, dan lain-lain– yang menjadikan pendidikan sebagai bagian yang signifikan dari programnya.Peranan dari organisasi-organisasi ini dalam menggagas, melaksanakan, dan mengembangkan kegiatan pendidikan Islam tidak saja telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan umat Islam Indonesia, tetapi lebih dari itu juga telah memainkan peran yang lebih luas berdasarkan kondisi yang melingkupinya. Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli berkenaan dengan berbagai organisasi ini.
Radikalisme Agama Kaum Muda
Mukayat Al-Amin
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.13392
Diskursus tentang radikalisme dan terorisme di Indonesia seakan tiada henti. Belum sembuh luka aksi bom Bali yang kemudian disusul dengan serentetan aksi serupa, sehingga Indonesia selalu menjadi agenda Internasional Amerika Serikat. Penelitian ini merupakan peneolitian kualitatif. Data yang dikumpulkan merupakan fenomena sosial yang bersifat abstrak yang dianalisa dengan beberapa teori radikalisme yang berkembang. Kesimpulan penelitian ini bertujuan mencari solusi dari radikalisme. Hasil penelitian, praktik radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam di Indonesia tidak dapat dialamatkan kepada Islam saja sehingga propaganda media Barat yang memojokkan Islam dan umat Islam secara umum tidak dapat diterima. Islam tidak mengajarkan radikalisme, tetapi perilaku kekerasan sekelompok umat Islam atas simbol-simbol Barat memang merupakan realitas historis-sosiologis yang dimanfaatkan media pers Barat untuk memberi label dan mengampanyekan anti-radikalisme Islam.Â
The Dynamics Educational Model of Pesantren in the National Education System
Yusuf Hasyim
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12649
Secara historis pendidikan pesantren telah mengalami beberapa kali perubahan baik terkait model, kurikulum, tujuan, maupun sistem pengelolaannya. Pembaharuan tersebut dilakukan agar pendidikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam Indonesia mampu menjawab tantangan dan tuntutan perubahan zaman. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pendidikan Islam pesantren dan dinamikanya dalam sistem pendidikan nasional, karena sampai saat ini pesantren tampaknya masih berada dalam dua pilihan dilematis: apakah pesantren akan tetap mempertahankan tradisinya dengan menjaga nilai-nilai kekhasannya ataukah mengikuti perkembangan zaman dengan segala dinamikanya.Melalui metode library research dengan pendekatan deskriptif analisis, penulis menemukan adanya beberapa model pesantren yang diakui secara legal formal dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren. yaitu; a. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk pengkajian Kitab Kuning; b. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk Dirasah Islamiah dengan Pola Pendidikan Muallimin; atau c. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk lainnya yang terintegrasi dengan pendidikan umum
Pendidikan Karakter Menurut K.H. Ahmad Dahlan dan Relevansinya di Indonesia
April Dwi Wulandari
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12705
This paper seeks to uncover the thoughts on character education of K.H. Ahmad Dahlan, which he applied, and the pattern of application in his education system. This type of research is qualitative through literature study as a technique to confirm the validity of the data. Other relevant sources can also support and enrich the required data. The findings show that the character education activities taught by K.H. Ahmad Dahlan are based on his life experience. The character exemplified by K.H. Ahmad Dahlan attitude is open-minded (not excessive or moderate), regarding the homeland, tolerant, and charitable. He studied in the environment of religious and modernistic people such as reformers in the Islamic world, including Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Rida, and Muhammad Abduh. However, he still adheres to the main sources of Islamic teachings, namely the Qur'an and As-Sunnah. However, in his da'wah practice, K.H. Ahmad Dahlan uses innovative methods that modern and educated people can easily accept.
Filsafat Sistem dalam Studi Hukum Islam Prespektif Jasser Audah
Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.13328
Studi hukum Islam menjadi kajian menarik dan sangat dinamis dan hidup, maka selayaknya apabila terus dilakukan re-ijtihad. Re-ijtihad harus memperhatikan isu-isu kontemporer agar studi hukum Islam selalu adaptif dan solutif terhadap problematika kontemporer manusia yang cenderung melewati batas-batas kultur dan negara (nation) atau “globalisasiâ€. Isu globalisasi memilik dampak besar terhadap tata relasi dan problematika manusia, diantara problem tersebuat adalah: HAM, keadilan, toleransi, gender, korupsi, terorisme, illegal loging dan sabagainya. Untuk menjadikan studi hukum Islam selalu adaptif dan solutif terhadap problematika kontemporer, maka harus dilakukan rekonstruksi paradigma metodologi studi hukum Islam. Rekonstruksi tersebut tidak cukup hanya menggunakan perangkat ilmu-ilmu agama (ulumu ‘addin), namun harus melibatkan perangkat keilmuaan kontemporer semisal, filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, ekonomi dan sebagainya. Hal itu menjadikan metodologi studi hukum Islam adaptif dan solutif, sehingga kajian studi hukum Islam semakin luas dan komperhensif, tidak terkesan “kolotâ€, stagnan dan “autis sosialâ€. Maka disinilah makna penting kajian yang ditawarkan oleh Jasser Auda yang melakukan rekonstruksi terhadap metodologi studi hukum Islam dengan pendekatan filsafat analisis sistem.
Kecerdasan Moral Anak di Era Globalisasi Menurut Perspektif Imam Ghozali
Siti Ima Makhmudah
Al Hikmah Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/ah.v8i1.12407
AbstracEarly childhood is an age where all knowledge and development must begin to be stimulated. Knowledge as a source of world life and the hereafter. Children's moral education or better known as child morals will be perfect when using the correct religious order. One of the basic attitudes that must be possessed by children in order to have a good and right attitude is to have a good attitude, morals and religion as God's people. Therefore, a teacher in early childhood education must always try in various ways in order to be able to guide children to have a good personality that is based on moral and religious values. According to Imam Ghozali moral is the same as khuluq, which means morals. In his view, moral cultivation is better and more advisable from an early age. The purpose of moral education in the view of Imam Ghozali is to form a pure human soul in order to draw closer to Allah. The source of moral education according to Ghozali is revelation and through strict guidance through shaykh (teacher) so that it does not optimize the functioning of reason. Moral Ghozali's educational material is: the habituation method, the exemplary method, and the tazkiyah an-nafs (soul-cleansing) method. Therefore, a PAUD teacher must strive in various ways in order to be able to guide his students to achieve true moral intelligence in order to have a good personality. One of them is Imam Ghozali's understanding of early childhood moral intelligence that is widely known.Kerword : Intelligence Morals Analysis, Imam Ghozali Perspective, Early ChildhoodAbstrakAnak merupakan usia dimana semua pengetahuan dan perkembangan harus mulai di rangsangkan. Pengetahuan sebagai sumber kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan moral anak atau lebih dikenal dengan akhlak anak akan menuju sempurna apabila menggunakan tatanan agama yang benar. Salah satu sikap dasar yang harus dimiliki oleh anak agar mempunyai sikap yang baik dan benar adalah memiliki sikap, moral dan keagamaan yang baik sebagai umat Tuhan. Oleh karena itu seorang guru dalam pendidikan Anak harus selalu berupaya dalam berbagai cara agar dapat membimbing anak mempunyai kepribadian yang baik yang dilandasi dengan nilai moral dan agama. Menurut Imam Ghozali moral sama dengan khuluq, yang artinya akhlak. Dalam pandangannya, penanaman moral lebih baik dan lebih dianjurkan sejak usia dini. Tujuan pendidikan moral dalam pandangan Imam Ghozali adalah membentuk manusia yang suci jiwanya dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sumber pendidikan moral menurut Ghozali adalah wahyu dan melalui bimbingan yang ketat melalui syaikh (guru) sehingga kurang mengoptimalkan fungsi akal. Materi pendidikan moral Ghozali adalah: metode pembiasaan, metode keteladanan, dan metode tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa). Oleh karena itu seorang guru PAUD harus berupaya dengan berbagai cara agar dapat membimbing anak didiknya mencapai kecerdasan moral yang sebenar-benarnya agar mempunyai kepribadian yang baik. Salah satunya pemahaman imam Ghozali tentang kecerdasan moral Anak yang sudah banyak diketahui.Â