Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Varian Ideologi Keberagamaan Di Muhammadiyah Huda, Sholihul
Islam Kontemporer Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muhammadiyah is "text" religious social realities vibrant and dynamic, so it continues to experience the dialectic movement and change in society. That is, the Muhammadiyah will continue in the construction by its members to be adjusted with the contemporary social reality, though not considered stagnant, old-fashioned "traditional". Moreover, by carrying the Islamic reform movement (Tajdid), it is increasingly affecting the natural thinking Muhammadiyah members to think and behave in the modern demand, and this requires continuous re-reading of the MuhammadiyahVarian Moderate religious ideology. This variant understand Muhammadiyah ideology openly (inclusive). That is, keberdaan Muhammadiyah in the community are not alone, but coincide with other religious social movements (NU, PERSIS, Al-Irsyad, Shia, FPI, HTI, etc.), so it must be mutual respect and tolerance. The group is open to new changes, but still consider the puritan tradition Muhammadiyah. The group is basing his understanding on the rules of Usul al-Fiqh "al-Mukhafadhatu ala al-ashlah qadhimi wal akhdzu jadidi ala al-ashlah" (Maintain a good long and mmengambil new good). This variant can accept the discourse of liberalism, secularism, pluralism, tolerance, but not to be followed by all, if there is good then it can be adopted with the tradition of Muhammadiyah.
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN MANAJEMEN PERAWATAN DIRI PADA PENDERITA HIPERTENSI DEWASA DI KABUPATEN JEPARA Sholihul Huda
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 6, No 1 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.474 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v2i5.158

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis di berbagai negara. Setiap tahun terdapat sekitar 8 juta populasi orang dewasa meninggal karena hipertensi di seluruh dunia. Di Indonesia, sekitar 32 % dari total populasi penduduk menderita hipertensi. Manajemen perawatan diri hipertensi adalah tindakan yang sangat penting dalam mengurangi angka kematian secara dini akibat hipertensi. Salah satu faktor penting dalam melakukan perawatan diri pada penyakit hipertensi adalah efikasi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan manajemen perawatan diri hipertensi pada orang dewasa. Desain cross sectional digunakan untuk mengetahui manajemen perawatan diri dari 145 pasien hipertensi di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Jepara, antara bulan Agustus sampai September 2015. Metode yang digunakan dalam pengumpulan sampel adalah multistage random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Hipertension Self-care Activity Level Effect (H-SCALE) dan self-efficacy questionnaire. Statistik deskriptif dan korelasi Person’s Product-moment digunakan untuk analisis data. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan manajemen perawatan diri hipertensi (r = 0,448, p <0,05). Hasil penelitian ini memberikan informasi umum yang berkaitan dengan faktor manajemen perawatan diri pada penderita hipertensi dewasa. Selain itu, temuan dari studi ini diharapkan bisa menjadi saran bagi penyedia layanan kesehatan setempat supaya dapat melaksanakan program manajemen perawatan diri, meningkatkan kesehatan, dan mencegah komplikasi dari hipertensi secara terpadu dan efektif.Kata kunci: Hipertensi, Self-Care Management, Efikasi diri
Apostate In Debate: Prespective Elite Muhammadiyah of East Java Sholihul Huda
TADARUS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam - Fakultas Agama Islam ( FAI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.099 KB) | DOI: 10.30651/td.v7i1.2269

Abstract

Abstract This paper is the result of field research, which wants to understand and map the elite view of Muhammadiyah East Java related to apostasy phenomenon in the frame of freedom of religion. The phenomenon of apostasy is a debate among movers and activists in the Muslim and Western worlds. The debate is sharpened when it is linked to issues of religious freedom as a point in the International Declaration of Human Rights and the response of OIC States implements the death penalty for apostates. The above issues arise in Indonesia, based on data from The Wahid Institute, East Java, including areas that still often occur intolerant action related freedom of religion (Shia-Sunni case in Sampang, FPI anarchism case in Lamongan). The action of intolerance is suspected to be an extension of the apostasy-related understanding, the more beginnings of theological problem now developing in socio-theological. Extension of meaning becomes the trigger of misunderstanding in society in responding to apostasy, even lead to violence in society. This condition is very dangerous for Indonesia multicultural country. Debate on the above issues occurred among the Muhammadiyah elite in understanding and addressing the issue of religious freedom (apostasy). The background of this study was developed through a qualitative research approach with the research subjects of Muhammadiyah East Java management, data collection techniques through interview method of snowball technique and library study, inductive triangulation-data analysis, through phenomenology theory framework, social elite and knowledge sociology. The results showed that among Muhammadiyah elites in relation to the phenomenon of freedom of religion (Apostasy), there are two currents of inclusive view and exclusive views flow. Differences in view due to differences in socio-theological and socio-cultural background. In principle disagree on the death penalty for the perpetrators of apostasy and still needed the Law Defamation of religion as a framework of inter-religious relationships. Keyword: Apostasy, Perspective, Elite Muhammadiyah of East Java
Fpi: Potret Gerakan Islam Radikal Di Indonesia Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.77 KB) | DOI: 10.30651/ah.v5i2.4282

Abstract

AbstrakFront Pembela Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam berideologi radikal yang berpusat di Jakarta. Disebut FRONT karena orientasi kegiatan yang dikembangkan adalah pada tindakan konkrit berupa aksi nyata dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Kata PEMBELA dengan harapan agar senantiasa bersikap proaktif dalam melakukan pembelaan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Adapun kata ISLAM menunjukan bahwa perjuangan FPI harus berjalan di atas ajaran Islam yang benar dan mulia. Pada tulisan ini akan dikaji profil gerakan FPI secara utuh mulai dari sejarah, ideologi, aksi gerakan hingga dampak geraka FPI terhadap wajah keagamaan Islam Indonesia yang cenderung damai, toleran dan inklusif.  Kata Kunci: Sejarah, Ideologi, Aksi Gerakan, FPI
Kampung Inklusif: Model Toleransi Antar Agama Di Balun Lamongan Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.23 KB) | DOI: 10.30651/ah.v1i1.959

Abstract

Desa Balun adalah desa yang paling unik di Kabupaten Lamongan, bahkan mungkin di Indonesia. Di desa ini terdapat tiga agama yang dipeluk oleh warganya, yaitu: Islam, Hindu, dan Kristen, namun relasi kehidupan sosio-kultur dan sosio-religi relatif damai dan penuh toleransi ditengah perbedaan agama, sehingga desa ini dikenal dengan “Desa Pancasila” atau “Kampung Inklusif. Tentu fenomena ini menarik karena ditengah perbedaan agama mereka dapat membangun tata kehidupan sosio-kultur yang damai dan harmonis. Sementara di daerah lain perbedaan agama atau keyakinan menjadi legitimasi atau pemicu terjadinya konflik dan kekerasaan antar kelompok di masyarakat. Dampak dari konflik atau kekerasan agama adalah terjadinya ketidaknyamaan, ketidakamanan (incsecurity), terutama bagi kelompok minoritas, yang pada giliranya akan berpengaruh pada integrasi dan persatuan bangsa. Dari fenomena inilah, menarik untuk diteliti bagaiaman masyarakat Balun dapat mengolah perbedaan agama, sehingga mampu membina dan membangun budaya toleransi di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap paradigma, faktor dan model atau bentuk toleransi di Desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, menggunakan metode peneltian dengan pendekataan kualitatif dengan unit informan adalah komunitas (tokoh) Kristen, Hindu dan Islam serta Perangkat Desa Balun. Metode pengumpulan data mengunakan metode pengamatan (observasi), wawancara mendalam (depth interview) dengan model Snowball dan telaah kepustakaan dan FGD (Focus Group Discusion). Analisa data menggunakan multidisiplin keilmuan, artinya tergantung data yang didapat, kalau data yang didapat data agama maka analisa mengunakan studi agama dan sebagainya. Hasil penelitian, pertama paradigma masyarakat Balun dalam memahami ajaran agamanya (Islam, Hindu, Kristen) adalah paradigma subtantif-inklusif. Kedua, faktor yang melatarbelakangi budaya toleransi di Balun adalah, faktor pemahaman terhadap ajaran agamanya yang subtantif-inklusif, kebijakan politik yang pluralis, tradisi sosio-kultur yang toleran, tradisi perkawinan beda agama yang terjaga. Adapun model toleransi yang terdapat di Balun adalah, pertama, Struktur (Perangkat) Desa yang Plural. Kedua, Keluarga Multikultural (Demokratis), Ketiga, Ngaturi/Kenduri Multikultural dan Keempat, Dakwah Inklusif. Semoga model tolreansi yang terbangun di Desa Balun dapat menjadi inspirasi dan cermin bagi masyarakat Indonesia lainya yang rawan akan terjadinya konflik, sehingga harapan kita membangun Indonesia yang bersatu, toleran, maju, damai dan harmonis dapat terwujud.
Keluarga Multikultural: Pola Relasi Keluarga Kawin Beda Agama Di Balun Lamongan Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.17 KB) | DOI: 10.30651/ah.v4i1.2306

Abstract

Abstrak  Perkawinan beda agama secara hukum agama (baca:fiqih) dilarang dilakukan.  Secara garis besar prinsip perkawinan diantara komunitas agama-agama tersebut adalah se-Iman, se-Agama, se-Aqidah. Artinya perkawinan boleh terjadi kalau dilakukan sesama pemeluk agamanya, misal laki-laki Muslim dengan wanita Muslim, laki-laki Kristen dengan wanita Kristen dan sebagainya. Bahkan ada juga perkawinan hanya boleh dilakukan dalam satu golongan atau aliran “Madzhab” dalam satu komunitas agama, misal wanita Syiah hanya boleh kawin dengan laki-laki Syiah tidak boleh dengan Sunni.Tujuan penelitian ini adalah ingin menemukan makna terhadap fenomena kawin beda agama dalam satu keluarga yang didalamnya terbangun relasi harmonis dengan penuh sikap toleransi diantara anggota keluraga tersebut di Desa Balun Kec. Turi Kab. Lamongan. Secara teoritis penelitian ini sangat strategis bagi pengembangan kajian sosiologi agama, karena data dan hasil kajian sangat terkait dengan persoalan-persoalan pemikiran keagamaan dan problematika sosial-keagamaan di masyarakat, sehingga dapat dijadikan pengembangan penelitian selanjutnya.Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif.yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial yang tengah diteliti, Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali dan memahami motif dan pola relasi dalam keluarga yang kawin beda agama. Selain itu, penelitian kualitatif digunakan untuk memahami fakta-fakta empiris terjadi dalam konteks prilaku sosial-keagamaan yang saling terkait.Lokasi penelitian bertempat di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Informan penelitianadalah keluarga yang terbangun atas kawin beda agama (bisa kawin antara Islam dengan Kristen, Kristen dengan Hindu, atau Islam dengan Hindu) di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah: pertama, wawancara mendalam (depth interview)dengan metode Snowbal.Kedua,Literatur kepustakaan (literature liberary). Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa deskriptif. Analisa deskriptif-fenomenologi  digunakan untuk menggambarkan gejala tampak  atau fakta realitas obyektif, berupa gejala sosial, politik, budaya, ekonomi, agama yang terjadi di masyarakat (komunitas). Hasil penelitian dapat temukan bahwa pemahaman informan yang melakukan kawin beda agama lebih didasarkan pada pertimbangan sosiologis yaitu relasi toleransi dan kebaikan perseduluran tidak didasarkan pada formalitas ajaran agama mereka masing-masing. Latar belakang perkawinan beda agama yang dilakukan karena faktor cinta dan kebiasaan bertemu di pasar atau dalam satu pekerjaan. Proses pernikahan kawin beda agama dilakukan dipengadilan. Dalam pola pengasuhan anak biasa diberi kebebasan tetapi kalau yang menikah keluarga Islam dan Non Islam biasa anaknya mengikuti pola pengasuhan Islam dalam kepercayaan atau pendidikan. Pola relasi dengan keluarga atau masyarakat sekitar lebih toleran artinya tidak begitu mempersoalkan yang penting rukun. Adapun pola perceraian banyak dilatari oleh ekonomi, kecemburuan dan perselingkuhan. Adapaun proses perceraian langsung dilaporkan ke pengadilan. Untuk pola warisan dari akwin beda agama biasa pihak manata suami tetap memberikan nafkah anaknya dan hartanya dibagi. Dampak dari perceraian adalah paling besar berdampak pada anak secara psyikologis karena orang tua tidak lengkap dalam mengasuh. Keyword : Keluarga, Multikultural, Kawin Beda Agama.
Mistisisme Islam: Prespektif Annemarie Schimmel Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.879 KB) | DOI: 10.30651/ah.v2i2.1105

Abstract

Membahas tasawuf (mistisisme Islam), merupakan tugas yang rumit, membutuhkan perenungan jiwa yang bersih dan tenang, karena semakin dalam memasuki dunia mistik (tasawuf) maka kita akan semakin larut asik dibuai dan pada suatu daerah perbukitan yang luas terbentang di depan mata dan semakin lama si sufi mencari jalan, semakin sulit rasanya mencapai tujuan. Ia mungkin tinggal di taman mawar duri mistik Parsi atau berusaha mencari puncak-puncak dingin renungan filosofi; ia mungkin tinggal di lembah pemujaan para wali yang termasyhur atau menaiki untanya sepanjang padang pasir. Hal tersebut pencatatan tasawuf yang tak bertepi tetapi mereka hanya mencapai apa yang telah ada di dalam diri mereka sendiri. Mangkaji mistisisme Islam (tasawuf), saya kira kita tidak dapat mengabaikan peran dan sumbangsi intelektual seorang orientalis wanita dari Jerman yang bernama Annemarie Schimmel. Pemikiran dan karya Annemarie Schimmel tentang mistisisme Islam sangat berpengaruh dan diakui dikalangan Sarjana Timur maupun Barat, terutama sumbangsi pemikiranya dalam pengembangan teori-teori dan wawasan spiritualisme. Pada kajian ini membahas pemikiran-pemikiran mistisisme Islam Annemarie Schimmel yang sangat dalam dan luas. Keyword: Annemarie Schimmel, Pemikiran Mistisisme Islam 
Melacak Geneologi Dan Dampak Gerakan Isis Bagi Keberagamaan Islam Di Indonesia Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.911 KB) | DOI: 10.30651/ah.v6i1.5409

Abstract

AbstrakKemunculan ISIS menjadi ancaman serius bagi dunia internasional. hal itu disebabkan aksi gerakan yang ditampilkan oleh ISIS jauh dari nilai-nilai kemanusian, mereka begitu muda membunuh, menyiksa, merampok orang tanpa pandang bulu (anak, wanita,orang tua). Dari aksi brutalisme inilah ISIS dicap sebagai organisasi teroris tran-nasional yang semakin menyembar keseluruh wilayah di dunia termasuk ke Indonesia. Gerakan ISIS mempunyai benang merah di Indonesia, hal itu dapat dilihat dari meluasnya orang atau kelompok yang bersedia berbait kepada ISIS dan dengan suka rela mau berjuang mengembangkan ISIS di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak bagi kehidupan relasi sosi-religi masyarakat Indonesia yang dikenal moderat, santun, tolren, damai, kemungkinan bergeser menjadi sikap keberagamaan yang mengeras, kasar, radikal dan arabisme, maka diperlukan strategi semesta (secara bersama-sama elemen masyarakat) untuk menanggulangi gerakan radikal (ISIS).Kayword: Geneologi, ISIS, Damapak, Islam IndonesiaA. Pendahuluan
Ulama Pewaris Para Nabi: Kajian Awal Tipologi Ulama Kontemporer Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 7 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.105 KB) | DOI: 10.30651/ah.v7i2.10674

Abstract

Al-‘ulama’ Warasatat al-Anbiya (‘Ulama pewaris para Nabi), andagium ini memberikan pengaruh besar terhadap posisi dan status institusi ‘Ulama di masyarakat Muslim. Dalam lintasan sejarah masyarakat Islam beranggapan bahwa pemegang otoritas kebenaran Islam pasca Nabi Muhammad wafat adalah ‘Ulama. Bagi mereka ‘ulama adalah orang-orang pilihan bahkan dianggap “orang suci” kerena penguasaan ilmu agama, prilaku zuhud, dan bersambung nasabnya sampai Nabi Muhammad. Namun seiring waktu dan dinamika perubahan masyarakat di dunia Islam pemaknaan terhadap institusi ‘Ulama mengalami pergeseran dan perubahan. Perubahan pemaknaan ‘ulama dapat dipetakan pada batasan era klasik dan era kontemporer. Era klasik pemaknaan ulama di standartkan pada penguasaan keilmuan Islam klasik (Tafisr, Hadits, Kalam, Tasawuf, Ushul fiqih, dll) dan penguatan spiritual yang termanifestasikan pada prilaku zuhud dan ma’rifatulllah atau khasyatullah. Adapun pemaknaan ‘Ulama di era masa kini (kontemporer) memiliki pemaknaan yang berbeda dengan era klasik, dibawah ini akan dibahas pemetaan awal terhadap karakter dan tipologi ulama di era kontemporer, yang tentu masih diperlukan pendiskusian secara holistik dan komperhensif.
Konversi Ideologi Muhammadiyah Ke Gerakan Front Pembela Islam (FPI) Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.996 KB) | DOI: 10.30651/ah.v4i2.2643

Abstract

Abstrak Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang ingin memotret fenomena terkait proses, faktor, bentuk dan dampak konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah ke FPI di daerah Paciran Lamongan. FPI merupakan salah satu pewujudan dari gerakan Islam Transnasional di Indonesia dengan mengusung ideologi keagamaan radikal, yang sangat berbeda dengan ideologi keagamaan yang dipraktekan oleh Muhammadiyah yaitu moderasi Islam. FPI memiliki model dakwah amar ma‟ruf nahi mungkar yang diaplikasikan secara fisikal-ekstrim dengan cara memaksa, intimidasi dengan swipping kepada kelompok yang dianggap melakukan maksiat. Model dakwah FPI ini disambut dan didukung oleh sebagian aktifis Muhammadiyah di Paciran Lamongan, padahal secara ideologi dan strategi dakwah kedua kelompok ini berbeda. Dan menariknya Muhammadiayah di Pantura secara ideologi dan jaringan dakwahnya sangat kuat dibanding dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur tetapi mengapa sebagian aktifisnya muda konversi ideologi. Fenomena ini tentu sedikit banyak akan menganggu konsolidasi Muhammadiyah dan citra Islam di Indonesia. Jenis penelitian adalah kualitatif-fenomenologis, informan penelitian adalah aktifis Muhammadiyah yang aktif di FPI, teknik pengumpulan data wawancara, SGD dan telaah kepustakaan, analisa data menggunakan multidisiplin keilmuan (politik, ideologi, sosiologi, dll). Hasil penelitian proses konversi terjadi melalui jalur kultural, dalam bentuk infiltrasi pemikiran (Ghazwul Fikri), dengan faktor kondisi obyektif masyarkat yang maksit dan kekecewaan terhadap elit Muhamamdiyah, berdampak pada radikalisasi, erosi ideologi dan arabisme tradisi keagamaan dikalangan Muhamamdiyah.