cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkomunikasi.untar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Komunikasi
ISSN : 20851979     EISSN : 25822727     DOI : https://doi.org/10.24912/jk
Core Subject : Education,
Jurnal Komunikasi (P-ISSN: 2085-1979 and E-ISSN: 2528-2727) http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/index is a national journal published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Jurnal Komunikasi are result from research and scientific studies conduct by academics and practitioners in communication field. Jurnal Komunikasi published twice a year. First volume will be publish on Juli and second volume on December. Articles published in Jurnal Komunikasi have been trough peer-review process by reviewer. Final decision of articles acceptance will be taken by editor team.
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Model Komunikasi Pemeriksaan Dalam Sidang Agenda Pembuktian Perkara di Pengadilan Aan Widodo
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.8447

Abstract

An examination of the case is conducted to reveal evidence and information that the defendant is considered to have committed a criminal offense that caused the victim to loss, and that the victim is the party who was harmed by the defendant. Case examination through communication activities in the case examination agenda session as examination communication. This article aims to find a model of examination communication in the agenda of proving a case in court. The concept in this research is Examination Communication and Communication Ethnography.  The research method used is descriptive qualitative research. Researchers interviewed 15 informants, observed 3 criminal cases, and documented the research. The results of this study indicate that the audit communication activities at the Court take place in the courtroom. The case evidence agenda forms three models of examination communication based on communication participants, namely (1) the law enforcement communication model with the defendant, namely the communication activities of judges, prosecutors, and legal advisers with the defendant (2) law enforcer communication model with victims, namely communication activities of judges , legal advisers, public prosecutors with victims (3) the model of communication between law enforcers and witnesses, namely the communication activities of judges, legal advisers, prosecutors with defendants. In practice, communication activities for the examination of defendants, victims and witnesses can be carried out simultaneously, which is called the cross examination communication model. The cross-examination communication model is carried out to verify and confirm evidence, the information provided by the accused, witnesses and victims simultaneously.  Pemeriksaan perkara dilakukan untuk mengungkap bukti dan informasi bahwa terdakwadianggap melakukan tindak pidana yang merugikan korban, dan bahwa korban adalah pihak yang dirugikan oleh terdakwa. Pemeriksaan perkara melalui kegiatan komunikasi dalam sidang agenda pemeriksaan perkara sebagai komunikasi pemeriksaan. Artikel ini bertujuan untuk menemukan model komunikasi pemeriksaan dalam agenda pembuktian perkara di Pengadilan. Konsep dalam penelitian ini adalah Komunikasi Pemeriksaan dan Etnografi Komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti mewawancarai 15 informan, mengamati 3 kasus pidana, dan mendokumentasikan penelitian tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan komunikasi pemeriksaan di pengadilan berlangsung di ruang sidang persidangan. Agenda pembuktian perkara membentuk tiga model komunikasi pemeriksaan berdasarkan peserta komunikasi, yaitu (1) model komunikasi penegak hukum dengan terdakwa, yaitu kegiatan komunikasi para hakim, jaksa, dan penasihat hukum dengan terdakwa (2) model komunikasi penegak hukum dengan korban, yakni kegiatan komunikasi hakim, penasihat hukum, penuntut umum dengan korban (3) model komunikasi antara penegak hukum dan saksi yakni kegiatan komunikasi hakim, penasihat hukum, jaksa, dengan terdakwa. Dalam praktiknya, kegiatan komunikasi pemeriksaan terdakwa, korban, dan saksi dapat dilakukan secara bersamaan, yang disebut model komunikasi pemeriksaan silang. Model komunikasi pemeriksaan silang dilakukan untuk memverifikasi dan mengkonfirmasi bukti, informasi yang diberikan oleh terdakwa, saksi dan korban secara bersamaan. 
Pemanfaatan Ragam Aplikasi Seluler Antikorupsi dalam Upaya Pencegahan Korupsi Ipi Maryati Kuding; Irwansyah Irwansyah
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.8626

Abstract

The industrial revolution brings benefits and challenges to every country involved in this transformation. The industrial revolution 4.0 has created an interconnection between all things and the internet so that it can send and receive data. The government is trying to adapt to this development, one of which is done by implementing open government commitments. In the concept of open government, open data is important as a form of openness and accountability of government. In realizing open government, the government is currently starting to implement mGov technology which provides a service system based on cellular application technology that is able to offer easy access, availability, is more dynamic, and is able to increase citizen participation. This paper discusses mobile applications launched by the Corruption Eradication Commission (KPK) as a means of socialization, anti-corruption education as well as opening spaces for participation and collaboration with all levels of society. Through these mobile applications the KPK also encourages the public to monitor public services and invites the public to take advantage of the information available on anti-corruption platforms and applications for advocacy purposes and convey the aspirations of the public to the government. This study uses the use and gratification theory, by interviewing 4 informants regarding their experiences using applications and as a management team. This study aims to determine the use of various mobile applications in fulfilling information needs in increasing public understanding and participation in preventing corruption. The research approach used is a qualitative approach with a case study method. The findings in the study indicate a positive response from application users to Android and iOS-based mobile applications launched by the KPK. From the user side, the anti-corruption mobile application is able to meet the needs, especially the ease of access that is not bound by time and space. However, development is still needed for these applications, both in terms of appearance, the value of content benefits, data reliability and how to use the content to prevent corruption. Revolusi industri membawa manfaat dan tantangan bagi setiap negara yang terlibat dalam transformasi tersebut. Revolusi industri 4.0 telah membuat interkoneksi antara semua hal dengan internet sehingga dapat mengirim dan menerima data. Pemerintah berupaya beradaptasi dengan perkembangan ini yang salah satunya dilakukan dengan implementasi komitmen open government. Dalam konsep open government, open data penting sebagai wujud keterbukaan dan akutanbilitas pemerintahan. Dalam mewujudkan open government pemerintah saat ini mulai menerapkan teknologi mGov yang menyediakan sistem layanan berbasis teknologi aplikasi selular yang mampu menawarkan kemudahan akses, ketersediaan, lebih dinamis, dan mampu meningkatkan partisipasi warga. Tulisan ini membahas tentang aplikasi-aplikasi seluler yang diluncurkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai sarana sosialisasi, edukasi antikorupsi sekaligus membuka ruang partisipasi dan kolaborasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Melalui aplikasi-aplikasi mobile tersebut KPK juga mendorong masyarakat untuk memonitor layanan publik serta mengajak masyarakat untuk memanfaatkan informasi yang tersedia dalam platform dan aplikasi antikorupsi untuk tujuan advokasi serta menyampaikan aspirasi dari masyarakat kepada pemerintah. Penelitian ini menggunakan teori penggunaan dan pemenuhan kebutuhan (uses and gratification theory) dengan mewawancarai 4 informan terkait pengalamannya menggunakan aplikasi dan sebagai tim pengelola. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan ragam aplikasi seluler dalam pemenuhan kebutuhan informasi dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan korupsi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Temuan dalam penelitian mengindikasikan respon positif pengguna aplikasi terhadap aplikasi-aplikasi seluler berbasis android dan iOS yang diluncurkan oleh KPK. Dari sisi pengguna, aplikasi seluler antikorupsi mampu memenuhi kebutuhan khususnya kemudahan dalam akses yang tidak terikat ruang dan waktu. Namun demikian, masih diperlukan pengembangan untuk aplikasi-aplikasi tersebut, baik terkait tampilan, nilai manfaat konten, keterandalan data dan bagaimana memanfaatkan konten tersebut untuk pencegahan korupsi. 
Hariring Indung Sebagai Media Komunikasi Ibu dan Anak Usia Dini Andalusia Neneng Permatasari; Dinar Nur Inten
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.8642

Abstract

Communicating with early childhood is certainly not the same as communicating with children in high school or adolescent. There needs to be a way that adults can enter the world of early childhood so that there is no distance between parents and children. When the distance is no longer stretched, the child will be more comfortable to express and convey his heart. This study aims to provide information and examine the use of the hariring indung in Lamajang Village, Pangalengan District, Bandung as a medium of communication between mothers and early childhood. Hariring Indung is a humming activity performed by a mother when putting her to sleep, accompanying play, and other activities with her child. Hariring Indung is part of the sekar tradition in Sundanese culture. Hariring Indung is a way for mothers to build communication with their children so that the relationship between mother and child will be more intimate. The theory used in this study is the theory of nursery rhymes and family communication. The research method used is quantitative with a descriptive analysis approach. Data collection was carried out by giving a questionnaire to 35 young mothers who had early childhood. The results of this study indicate that mothers in Lamajang Village, Pangalengan District, Bandung are still using Hariring Indung as a medium for communicating with their children. Through the indung day, mothers in Lamajang Village, Pangalengan District, Bandung send messages and hopes to their children. With the habits of mothers in Lamajang Village, Pangalengan District, Bandung, the Hariring Indung tradition which is a Sundanese tradition can be preserved and maintained. Berkomunikasi dengan anak usia dini tentu tidak akan sama dengan berkomunikasi anak di usia sekolah dasar kelas atas dan remaja. Perlu ada suatu cara yang membuat orang dewasa dapat masuk ke dunia anak usia dini sehingga tidak ada jarak antara orang tua dengan anak. Ketika sudah tidak ada jarak membentang, anak akan lebih nyaman untuk mengekspresikan dan menyampaikan isi hatinya. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi dan mengkaji penggunaan hariring indung oleh ibu-ibu di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung sebagai media komunikasi antara ibu dan anak usia dini. Hariring Indung adalah kegiatan bersenandung yang dilakukan seorang ibu ketika menidurkan, menemani bermain, dan aktivitas lainnya bersama anak. Hariring Indung termasuk tradisi sekar dalam kebudayaan Sunda. Hariring Indung adalah cara ibu membangun komunikasi bersama anak sehingga hubungan ibu dan anak akan semakin intim. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori tentang nursery rhymes dan komunikasi keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan angket pada 35 orang ibu muda yang memiliki anak usia dini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ibu-ibu di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung masih menggunakan hariring indung sebagai media untuk berkomunikasi dengan anak. Melalui hariring indung, ibu-ibu di di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung menyelipkan pesan dan harapan kepada anaknya. Dengan kebiasaan dari ibu-ibu di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, tradisi hariring indung yang merupakan tradisi Sunda dapat dilestarikan dan dipertahankan. 
Penerimaan Teknologi Konferensi Video dan Motivasi Belajar Triana Noermalia; Irwansyah Irwansyah
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.8653

Abstract

The Covid-19 pandemic that has hit all corners of the world including Indonesia is a phenomenon that has a major impact on all sectors of people's lives, including the education sector. Therefore, educational institutions immediately resolve this problem by implementing online lectures as a substitute for face-to-face lectures. However, student acceptance of video conferencing technology did not fully motivate students to undergo online classes. The purpose of this study was to describe student acceptance of video conferencing technology in distance learning during pandemic. Through the digital ethnography method, researchers will explore and obtain reflections on the experiences of students who use digital technology to carry out the learning process online through video conferencing technology. Data collection was carried out through interviews with four informants from four different departments and literature studies. Data analysis of student communication technology acceptance was carried out using the Technology Acceptance Model (TAM) which was adapted from Mayring's (2010) research. The results of the analysis of the interview data with four informants show that the acceptance of student technology is not the only factor that affects student motivation in running online lectures. Factors that also influence student motivation to run online courses include the demands of lectures, assignments given, and the learning system used when running online classes. Student motivation in running online lectures needs to be considered because it plays a role in their understanding of the material being studied. Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia merupakan fenomena yang memiliki dampak besar pada seluruh sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali sektor pendidikan. Oleh sebab itu, instansi pendidikan dengan segera menuntaskan permasalahan ini dengan menerapkan kuliah online sebagai pengganti kuliah tatap muka. Namun, penerimaan mahasiswa terhadap teknologi konferensi video ternyata tidak sepenuhnya memotivasi mahasiswa dalam menjalani kelas online. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerimaan mahasiswa terhadap teknologi konferensi video dalam pembelajaran jarak jauh di masa pandemi. Melalui metode etnografi digital, peneliti akan menggali hingga memperoleh refleksi dari pengalaman mahasiswa yang memanfaatkan teknologi digital untuk melakukan proses pembelajaran secara online melalui teknologi konferensi video. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap empat informan dari empat jurusan berbeda dan studi literatur. Analisis data penerimaan teknologi komunikasi mahasiswa dilakukan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) yang diadaptasi dari penelitian Mayring (2010). Hasil analisis dari data wawancara terhadap empat informan menunjukkan bahwa penerimaan teknologi mahasiswa tidak menjadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam menjalankan kuliah online. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi motivasi mahasiswa menjalankan kuliah online di antaranya adalah tuntutan perkuliahan, tugas yang diberikan, serta sistem belajar yang digunakan saat menjalankan kelas online. Motivasi mahasiswa dalam menjalankan kuliah online perlu diperhatikan karena berperan dalam pemahamannya mengenai materi yang dipelajari.
Back Matters Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1 Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i1.8682

Abstract

Back Matters Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1
Front Matters Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1 Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i1.8758

Abstract

Front Matters Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1
Cover Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1 Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i1.8760

Abstract

Cover Jurnal Komunikasi Vol 12 No 1
Konfigurasi Komunikasi Politik atas Fenomena Calon Tunggal Pada Pilkada Kabupaten Kediri Tahun 2020 Prilani Prilani; Setio Budi H Hutomo
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.9624

Abstract

The phenomenon of a single candidate in simultaneous regional elections in Indonesia has occurred since 2015. In 2018 there were 18 regional elections with a single candidate and 25 regions in 2020. The implementation of simultaneous regional elections in Kediri district in 2020 was marked by the presence of a single candidate is interesting to study more, because it is new. The main question in this research is why there is phenomenon a single candidate in the Kediri district election and how is the configuration of political communication for the emergence of a single candidate. The purpose of this study was to determine the process of the phenomenon emergence of a single candidate in the Kediri district election and to determine the configuration of political communication for the emergence of a single candidate. This research uses a case study approach by describing political facts in the field. Research informants are consisted of election administrators, members of political parties, academicians and community leaders. The results showed that the occurrence of a single candidate in the Kediri district was because all political parties provided support for 1 pair of candidates. This political fact is marked by the configuration of political communication through the recommendation of political parties from the central leadership council (DPP). Even though there has been a selection of prospective pairs of candidates at the regional level (DPC DPD), the transactional communication by candidatos uses an approach with a number of political party officials both at the regional and central levels. The recommendation of this research is to change the regulations to avoid the single candidate appear in the next regional election., especially the minimum requirement for support from candidates and the proposal to be returned to the election by DPRD members therefore would generate truly regional representatives. Fenomena calon tunggal pada pilkada serentak di Indonesia telah terjadi sejak tahun 2015 dengan 3 pasangan calon tunggal. Pada tahun 2018 terdapat 18 pilkada dengan calon tunggal hingga tahun 2020 ada sejumlah 25 daerah yang memiliki calon tunggal. Pelaksanaan pilkada serentak di kabupaten Kediri tahun 2020 diwarnai dengan hadirnya calon tunggal sehingga menarik untuk dikaji lebih mendalam karena merupakan fenomena baru bagi proses demokrasi di kabupaten Kediri. Masalah dalam penelitian ini, mengapa terjadi fenomena calon tunggal pada pilkada kabupaten Kediri dan bagaimana konfigurasi komunikasi politik atas munculnya calon tunggal pada pilkada kabupaten Kediri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses munculnya fenomena calon tunggal pada pilkada kabupaten Kediri dan untuk mengetahui konfigurasi komunikasi politik atas munculnya calon tunggal pada pilkada kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan mendeskripsikan fakta politik dilapangan. Informan penelitian terdiri dari penyelenggara pilkada, anggota partai politik, akademisi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadinya calon tunggal pada pilkada kabupaten Kediri tahun 2020 karena semua partai politik memberikan dukungan kepada 1 pasangan calon. Calon perseorangan tidak mampu memenuhi jumlah minimal dukungan yang dipersyaratkan. Fakta politik ini ditandai dengan adanya konfigurasi komunikasi politik melalui rekomendasi partai politik dari dewan pimpinan pusat (DPP). Meski sudah dilakukan penjaringan bakal pasangan calon di tingkat daerah/cabang (DPC/DPD). Komunikasi trasaksional oleh calon menggunakan pendekatan dengan sejumlah pengurus partai politik baik ditingkat daerah maupun pusat. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perubahan peraturan agar tidak muncul calon tunggal pada pilkada selanjutnya terutama syarat minimal dukungan calon perseorangan serta usulan pemilihan kepala daerah dikembalikan kepada pemilihan oleh anggota DPRD. Rekomendasi ini diharapkan dapat memunculkan beberapa calon kepala daerah yang benar-benar merupakan representasi daerah.
Pola Perilaku Konsumen Digital Dalam Memanfaatkan Aplikasi Dompet Digital Sisca Aulia
Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v12i2.9829

Abstract

This research is about consumer behavior in making digital payments in buying and selling transactions. Digital payment methods are a new way of making payments, especially in times of a pandemic like today, this is also a result of government policies, various countries globally to not do many activities outside the home and keep each other apart during the Covid-19 pandemic. Consumer behavior has begun to switch conventional payment instruments to digital payments. Payment via digital wallets has become popular and most accepted as an emerging payment method in both developed and developing countries. This research itself aims to determine the behavior patterns of millennial consumers with impulsive buying because of seeing promotions and digital payment facilities. Based on this, the use of digital wallets on millennial consumer behavior during the Covid-19 pandemic is the object of research. This study uses a qualitative descriptive method with a literature approach. The research data is obtained through literature study and theoretical studies from various scientific sources. The results of the study show that the Covid-19 pandemic has increased the use of digital wallets to the tendency of consumer consumerism to use electronic transactions that are more suitable and efficient for use during a pandemic. The digital era has developed rapidly in a society that has adapted to become an adaptive shopper in a cashless society that has developed a new normal culture, namely electronic payment transactions through digital wallets. Penelitian ini mengenai perilaku konsumen melakukan pembayaran digital dalam transaksi jual-beli. Metode pembayaran digital menjadi cara baru melakukan pembayaran terlebih lagi di masa pandemi seperti sekarang ini, hal ini juga sebagai dampak dari kebijakan pemerintah, berbagai negara secara global untuk tidak banyak melakukan kegiatan di luar rumah serta menjaga jarak satu sama lain di masa pandemi Covid-19. Perilaku konsumen mulai beralih alat pembayaran konvensional menjadi pembayaran digital. Pembayaran melalui dompet digital telah populer dan paling diterima sebagai metode pembayaran yang muncul di negara maju dan berkembang. Penelitian ini sendiri bertujuan untuk mengetahui pola perilaku konsumen milenial dengan pembelian yang cepat serta tidak direncanakan (impulsive buying) karena melihat promosi dan sarana pembayaran digital. Berdasarkan hal tersebut, penggunaan dompet digital pada perilaku konsumen milenial di saat pandemi Covid-19 menjadi obyek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode deksriptif kualitatif dengan pendekatan literature. Data penelitian diperoleh melalui studi pustaka dan kajian teoritis dari berbagai sumber ilmiah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pandemi Covid-19 memberikan peningkatan penggunaan dompet digital hingga kecenderungan konsumerisme konsumen dengan penggunaan transaksi elektronik yang lebih cocok dan efisien untuk digunakan dalam masa pandemi. Era digital sudah berkembang pesat dalam masyarakat yang sudah beradaptasi menjadi adaptive shopper di dalam cashless society yang mengembangkan budaya normal baru yaitu transaksi pembayaran elektronik melalui dompet digital.
Utilization of Virtual Community as a Communication Media For Pokemon Go Game Group (JPR) Using Social Media Yudha Pradhana
Jurnal Komunikasi Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v13i2.9935

Abstract

Basically, humans are social creatures that can’t live without interference from other humans, or it can be said that humans have the instinct to live in groups or communities. Groups or communities are formed because of shared goals and the existence of group communication between members in them. Along with advancement in technology, especially in the digital era at this time, groups or communities are not only intertwined in the real world but also in cyberspace or virtual. Virtual communities use social media to carry out group communication in it. This study aims to determine the use of virtual communities as communication media for Pokemon Go game groups in Jakarta, namely Jakarta Pogo Raiders (JPR) through social media Instagram and WhatsApp. This research uses a qualitative approach, researcher use the literature review and in-depth interviews methods with informants including initiators and members of the JPR community. The results of the study indicate that the group communication media used such as Instagram and WhatsApp groups are very effectives in delivering information between community members. The message construction conveyed through social media is understood and understood by all members of the JPR community. The success of JPR in utilizing social media as a media for group communication is marked by the comfort felt by members to remain and join the JPR community. Consciously and voluntarily they join the JPR community by taking benefits that they have gained while in that community. Another success is marked by the increasing number of community members who have joined JPR to date. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya campur tangan dari manusia lainnya, atau bisa dikatakan manusia memiliki naluri untuk hidup berkelompok atau berkomunitas. Kelompok atau komunitas terbentuk karena adanya kesamaan tujuan dan adanya komunikasi kelompok antar anggota di dalamnya. Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi khususnya di era digital pada saat ini, kelompok atau komunitas tidak hanya terjalin di dunia nyata saja tetapi juga di dunia maya atau virtual. Komunitas virtual menggunakan media sosial untuk melakukan komunikasi kelompok di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan komunitas virtual sebagai media komunikasi kelompok game Pokemon Go yang berada di Jakarta, yaitu Jakarta Pogo Raiders (JPR) melalui media sosial Instagram dan Whatsapp. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti menggunakan metode tinjauan pustaka dan wawancara mendalam dengan informan di antaranya penggagas dan anggota komunitas JPR. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa media komunikasi kelompok yang digunakan seperti Instagram dan grup Whatsapp sangat efektif dalam penyampaian informasi antar anggota komunitas. Kontruksi pesan yang disampaikan melalui media sosial tersebut dimengerti dan dipahami oleh seluruh anggota komunitas JPR. Keberhasilan JPR dalam memanfaatkan media sosial sebagai media komunikasi kelompok ditandai dengan kenyamanan yang dirasakan anggota untuk tetap berada dan tergabung di dalam komunitas JPR. Secara sadar dan sukarela mereka bergabung dengan komunitas JPR dengan memperhitungkan keuntungan yang telah didapatkan selama berada di dalam komunitas tersebut. Keberhasilan lainnya ditandai dengan semakin banyaknya jumlah anggota komunitas yang bergabung dengan JPR hingga saat ini.

Page 5 of 29 | Total Record : 286