cover
Contact Name
Pangeran Paita yunus
Contact Email
pangeranpaita69@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pangeranpaita69@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nuansa Journal of Arts and Design
ISSN : 25974041     EISSN : 2597405X     DOI : -
Nuansa Journal of Arts and Design menerbitkan artikel pada bidang Pendidikan Seni dan Desain. Nuansa Journal of Arts and Design terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan September dan Maret.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2024): Maret" : 7 Documents clear
KAJIAN BENTUK, MAKNA DAN FUNGSI KERIS TATARAPANG KESULTANAN BIMA SERTA SISTEM PEWARISANNYA Hadikusuma, Risman; Jayadi, Karta; Syahrir, Nurlina
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.59157

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi keris tatarapang Kesultanan Bima serta sistem pewarisannya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan survei deskriptif, yakni penelitian yang secara utuh terfokus pada objek yang diteliti dan menggambarkannya secara detail. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk utuh keris tatarapang Kesultanan Bima yaitu terdiri dari tiga rangkaian komponen utama yaitu uru (gagang), lapi (sarung) dan bila (bilah). Keseluruhan bilah keris tatarapang semuanya bergelombang, ada sebagian yang berpamor dan sebagian juga tidak berpamor. Makna simbolik keris tatarapang dapat ditinjau dari aspek bentuk, aspek warna material dan aspek penempatan. Makna yang terkonfirmasi dalam aspek bentuk meliputi bentuk ragam hias, bentuk bilah berluk dan bentuk pamor. Sedangkan makna keris tatarapang pada aspek warna material meliputi material emas dan material batu permata. Kemudian dari aspek penempatan meliputi posisi penempatan motif hias sang Bima pada gagang keris. Segala aspek yang disebutkan tersebut memiliki makna dan simbol perlambangan tertentu.. Disamping itu terkait fungsi keris tatarapang secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga fungsi dasar yaitu fungsi teknomik, fungsi sosial dan fungsi religius. Fungsi teknomik digunakan sebagai senjata tikam, fungsi sosial keris tatarapang dijadikan sebagai penanda status jabatan pada kalangan pejabat kesultanan, kemudian untuk fungsi religus keris tatarapang lebih condong digunakan sebagai alat upacara keagaaman. Teruntuk sistem pewarisan bahwasannya keris tatarapang menggunakan tiga jenis sistem pewarisan yaitu sistem pewarisan tertutup melalui pertalian darah, sistem pewarisan terbuka melalui jalur rekomendasi dan sistem pewarisan kolektif. ABSTRACTThis research aims to describe the form, meaning and function of the Bima Sultanate keris tatarapang and its inheritance system. This research uses a type of qualitative research with a descriptive survey approach, namely research that is completely focused on the object being studied and describes it in detail. The results of this research show that the complete form of the Bima Sultanate keris tatarapang consists of three main components, namely uru (hilt), lapi (sheath) and bila (blade). The entire blade of the Tatarapang keris is all wavy, some have pamor and some also have no pamor. The symbolic meaning of the Tatarapang keris can be viewed from the shape aspect, material color aspect and placement aspect. Confirmed meanings in the form aspect include decorative shapes, curved blade shapes and prestige shapes. Meanwhile, the meaning of the Tatarapang keris in terms of material color includes gold material and gemstone material. Then, from the placement aspect, it includes the position of the Bima ornamental motif on the keris handle. All the aspects mentioned have certain meanings and symbols. Apart from that, the function of the Tatarapang keris is broadly grouped into three basic functions, namely technical function, social function and religious function. The technical function was used as a stabbing weapon, the social function of the Tatarapang keris was used as a marker of position status among Sultanate officials, then for the religious function the Tatarapang keris was more likely to be used as a religious ceremonial tool. Regarding the inheritance system, the Tatarapang keris uses three types of inheritance systems, namely a closed inheritance system through blood ties, an open inheritance system through the recommendation route and a collective inheritance system.
COSPLAYER: KETEGUHAN DIRI PADA VISUALISASI KOSTUM BERDASARKAN KONSEP SELF-DETERMINATION THEORY Muhaemin, Muhammad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.61776

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keteguha ndiri Cosplayer di Makassar melalui visualisasi karakter kostum yang digunakan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif-analisis dengan konsep Self-determination theory yang membahas konsep otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, sebagai kerangka analitis untuk memahami bagaimana cosplayer merasakan kepuasan dan kebahagiaan pada aktivitas mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi dalam memilih kostum memberikan cosplayer kebebasan untuk mengekspresikan identitas pribadi dan kreativitas mereka, yang secara signifikan meningkatkan kepuasan diri. Kompetensi yang diperoleh melalui proses pembuatan dan penyempurnaan kostum memungkinkan cosplayer untuk mengembangkan keterampilan teknis dan artistik mereka, yang pada gilirannya memperkuat rasa percaya diri dan pencapaian meski harus mengorbankan finansial. Selain itu, hubungan yang dijalin melalui partisipasi dalam komunitas cosplay memberikan dukungan sosial dan perasaan diterima, yang esensial untuk kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga menemukan bahwa cosplayer yang merasa kebutuhan psikologis dasar mereka terpenuhi cenderung lebih termotivasi dan bahagia dalam aktivitas cosplay walaupun tantangannya terdapat cara berpakaian yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, terjebak dalam peran mereka hingga kehilangan jati diri, tekanan dari komunitas, serta ekspektasi orang lain di media sosial. Tulisan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur mengenai motivasi dalam konteks hobi yang kreatif. This study aims to explain the self-determination of cosplayers in Makassar through the visualization of the costumes they use. A descriptive-analytical method with Self-Determination Theory (SDT) is employed, focusing on autonomy, competence, and relatedness as the analytical framework to understand how cosplayers derive satisfaction and happiness from their activities. The findings reveal that autonomy in costume selection allows cosplayers to express their personal identity and creativity, significantly enhancing self-satisfaction. The competence gained through the process of creating and refining costumes enables cosplayers to develop technical and artistic skills, thereby boosting confidence and a sense of achievement, despite financial sacrifices. Additionally, the relationships formed through participation in the cosplay community provide social support and a sense of belonging, essential for psychological well-being. The study also identifies that cosplayers who feel their basic psychological needs are met tend to be more motivated and happier in their cosplay activities, even though they face challenges such as societal norms regarding dress, identity loss, community pressure, and social media expectations. This paper contributes significantly to the literature on motivation in the context of creative hobbies.
QUOVADIS KOREOGRAFI GENERASI MASYARAKAT TANA TORAJA DALAM RITUS MA’MARO DI RAMBU TUKA’ Farhan, Ahmad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.59359

Abstract

Quovadis Toraja dalam penciptaan karya ini menguraikan tentang penyajian gerak hewan Babi yang digambarkan berupa sifat babi yang rakus dalam memakan apapun itu dan juga menggambarkan secara singkat bentuk fisik dari hewan Babi tersebut. Menggambarkan secara singkat tentang kegelisahan yang akan dialami sekarang dan nanti kedepannya dengan menampilkan beberapa gerakan-gerakan bingung dan mencari cari dimana dan bagaimana sebenarnya kebenaran itu.Penggambaran secara imajiner ini dapat membuat posisi sebenarnya dimana penari ini berada dan sedang berada didalam titik gelisah dan dilema. penggambaran klimaks dari film tari ini dimana adegan ini terdapat konflik batin yang dihadirkan antara hati dan realita bertolak belakang. Disisi ini konflik kepercayaan yang tidak diyakini mendatangkan dampak yang kurang baik sehingga menimbulkan rasa resah dan dilema secara berkepanjangan dan tidak memperoleh kesembuhan atas apa yang diinginkan.Metode yang digunakan pada penciptaan ini adalah Roland Barthes Roland (1985) berpendapat bahwa di dalam teks setidak-tidaknya beroperasi lima kode pokok (cing codes) yang di dalamnya terdapat penanda tekstual (baca: leksia) yang dapat dikelompokkan. Setiap atau tiap-tiap leksia dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kode ini. Kode sebagai suatu sistem makna luar yang lengkap sebagai acuan dari setiap tanda, menurut Barthes terdiri atas lima jenis kode, yaitu kode hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proaretik (logika tindakan), kode gnomik (kode kultural).Proses penciptaan karya ini bertujuan untuk menghasilkan film tari yang dapat menggambarkan kegelisahan dari karya Quovadis ini. Dengan konsep film tari ini dapat memudahkan para pembuat film dan koreografer dalam berkarya lebih aktif dan dikomunikasikan dengan berbagai media baru sehingga mampu menciptakan berbagai bentuk ekspresi lain.
Pengembangan Video Pembelajaran Kriya Teknik Ikat Celup untuk Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar Nurdin, Aulia Evawani; Hasnawati, Hasnawati; Aziz, Baso Indra Wijaya
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.62999

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan video pembelajaran kriya teknik ikat celup untuk mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar. jenis penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan menerapkan model 4D oleh Thiagarajan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawamcara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan tahapan pengembangan video pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa video pembelajaran kriya teknik ikat celup yang dikembangkan melalui beberapa tahapan yakni: 1) define (menganalisis kebutuhan mahasiswa melalui studi pustaka dan studi lapangan, 2) design (merancang video pembelajarana) dilakukan dengan pengmbangan RPS, menentukan materi dan membuat storyboard. 3) develop (mengembangkan video pembelajaran) dilakukan dengan mengembangkan storyboard menjadi video pembelajaran, setelah itu dilakukan pengeditan video.video yang tekah dikembangkan selanjutnya divalidasi oleh ahli materi dan media dan direvisi berdasarkan hasil validasi tersebut. Video pembelajaran kriya teknik ikat celup untuk mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar telah melalui validasi dari ahli materi dan media. Hasil validasi tersebut menunjukkan video pembelajaran tersebut layak untuk digunakan mahasiswa.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGAMBAR ORNAMEN DESAIN HENNA BERBASIS AUGMENTED REALITY Balise, Hasniyati; Syahrir, Nurlina; Alimuddin, Alimuddin
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.57569

Abstract

Research and development of augmented reality-based learning media that can visualize decorative/ornament materials can make it easier for students to understand the material. The type of research used is research and development (Research and Development), using the ADDIE development model (Analyze, Design, Development, Implementation and evaluation) which is limited to the formative evaluation stage due to time constraints. The products that have been developed are then validated by experts, namely material experts, media experts, and users. After going through the validation stage and also revision, it was then field tested to find out the response of students and the effective trial of drawing augmented reality-based henna design ornaments on Class VII students of UNISMUH Makassar Junior High School. The results of research and development that have been carried out obtained (1) the average score of the material expert validation score of 4.72 (2) The average score value of media expert validation is 4.8 These results indicate that the validity level of the learning media developed is declared very valid (1) Practicality Test with an average user validation score of 5 very practical criteria. (2) The results of the learner response test obtained an average score of 5 and the drawing effectiveness test of 5 average score value of very effective criteria, thus in terms of the attractiveness of learning media drawing augmented realitybased henna design ornaments is very interesting to use in learning. 
Analisis Semiotika pada Produk Kemasan Kopi Siap Minum Nescafe Purnama, Andry Priyadharmadi
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.65968

Abstract

Penelitian ini menganalisis semiotika pada kemasan produk kopi siap minum Nescafe varian Ice Black Lychee dan Biskoffee. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk memahami makna yang terkandung dalam elemen visual kemasan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua varian memiliki pola desain yang serupa, namun dibedakan dengan warna dominan untuk menunjukkan varian rasa yang berbeda. Elemen visual seperti bentuk, warna, dan tipografi menunjukkan kesamaan identitas merek Nescafe, yaitu modern, terjangkau, dan konsisten dalam mempertahankan kualitas bahan baku serta kesegaran varian rasa. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan pentingnya elemen visual dalam desain kemasan untuk menyampaikan pesan merek kepada konsumen.This research analyzes the semiotics of Nescafe ready-to-drink coffee packaging, specifically the Ice Black Lychee and Biskoffee variants. The analysis uses Charles Sanders Peirce’s semiotic theory to understand the meaning embedded in the visual elements of the packaging. The analysis reveals that both variants share a similar design pattern, but are differentiated by their dominant color to indicate different flavor variations. Visual elements like shape, color, and typography demonstrate the consistency of the Nescafe brand identity, which is modern, affordable, and consistent in maintaining the quality of raw materials and the freshness of flavor variations. The findings support previous research that highlights the importance of visual elements in packaging design for conveying brand messages to consumers.
KELAYAKAN BAHASA PADA BUKU TEKS SENI BUDAYA SMP/MTS KELAS VIII BAB 7: TEKNIK DASAR PANTOMIM, KURIKULUM 2013 EDISI REVISI 2017 Samparadja, Nurmala; Irfan, Irfan
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.61860

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan bahasa pada buku teks seni budaya SMP/MTs kelas VIII, fokus pada Bab 7: Teknik Dasar Pantomim, dalam konteks kurikulum 2013 edisi revisi 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten (content analysis), yang memungkinkan mengkaji kelayakan bahasa dalam buku teks Seni Budaya SMP/MTs kelas VIII, fokus pada Bab 7: Teknik Dasar Pantomim, dalam konteks kurikulum 2013 edisi revisi 2017, berdasarkan pada ketentuan standar-standar kelayakan isi oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Berdasarkan analisis bahasa pada buku teks yang telah dilakukan dapat dinyatakan Buku teks buku teks Seni Budaya SMP/MTs kelas VIII, fokus pada Bab 7: Teknik Dasar Pantomim, dalam konteks kurikulum 2013 edisi revisi 2017 memenuhi aspek kelayakan Bahasa dengan persentase 90% kelayakan penggunaan Bahasa di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori baik. Pada bagian dialogis dan interaktif juga sudah baik, sudah mencakup semua penilaian buku yang ada. Dan terakhir kesesuaian dengan perkembangan peserta didik buku teks Seni Budaya SMP/MTs kelas VIII, fokus pada Bab 7: Teknik Dasar Pantomim, dalam konteks kurikulum 2013 edisi revisi 2017 sudah baik, banyak didalam buku terdapat kesesuaian perkembangan peserta didik dan sangat relevan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7