cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
momentumjournal@unikama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Momentum: Physics Education Journal
ISSN : 25489127     EISSN : 25489135     DOI : 10.21067
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Sudi Dul Aji; Agustinus Bernadino; Muhammad Nur Hudha
Momentum: Physics Education Journal Vol 1 No 2 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.488 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i2.2148

Abstract

The purpose of this study is to describe the quality of learning Inkuiri model Guided by Scientific Approach (scientific approach) and know the improvement of critical thinking skills of SMK students on the topic Fluid Static. This research uses qualitative approach and the type of research used is Classroom Action Research (PTK), carried out through a process of gradual assessment consisting of 4 stages of planning, implementation, observation, and reflection. Based on the analysis of Learning Outcomes in the first cycle is 73.45% and on the second cycle 81.77%. The students' critical thinking ability in the first cycle of the average of 71.67 students who meet the KKM is 17 students or 56.66% and on the second cycle 80.16 that meet the KKM is 23 students or 76.66%. Based on this research can be concluded that Inkuiri model Guided by Scientific Approach (Scientific Approach) can increase critical thinking of student Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan kualitas pembelajaran model Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan Saintifik (scientific approach) dan mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa SMK pada topik Fluida Statis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dilaksanakan melalui proses pengkajian bertahap yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Berdasarkan analisis hasil Keterlaksanaan Pembelajaran pada siklus I adalah 73,45% dan pada siklus II 81,77%. Kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I rata-rata siswa 71,67 yang memenuhi KKM adalah 17 siswa atau 56,66% dan pada siklus II 80,16 yang memenuhi KKM adalah 23 siswa atau 76,66%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) dapat meningkatkan berpikir kritis siswa.
Identifikasi pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa SMA pada materi fluida statis Vicki Dian Prastiwi; Parno Parno; Hari Wisodo
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.046 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2216

Abstract

Abstract: Understanding of concepts and scientific reasoning are an important components of the Physics learning process. One of the importance of understanding the concept and scientific reasoning is facilitating students in understanding and applying concepts obtained for everyday life. This article aims to describe students' understanding of concept and scientific reasoning on Static Fluid topic. This research used mixed methods explanatory design with 31 students of class XII IPA who have obtained Fluid Static topic. The instruments used are 10 items of essay for conceptual comprehension and 20 multiple choice items justified for scientific reasoning with substantial reliability in order, ie 0.702 and 0.745. The results show that students still have difficulty in understanding the concept of Fluid Static and still have a low scientific reasoning. Students' understanding of hydrostatic pressure sub topic is 18%, Pascal's Law of 21%, and Law Archimedes of 2.2%. Scientific reasoning aspects used in this research are mass conservation reasoning, proportional reasoning, variable control, reasoning probability, correlation reasoning, and hypotetical deductive reasoning. Sequentially, the low level of students' scientific reasoning on Static Fluid material in each criterion is indicated by the following percentages: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, and 20%. Based on the results obtained, that the difficulties of students in general exist on the determination of factors that affect the phenomenon of each sub-material. Abstrak: Pemahaman konsep dan penalaran ilmiah merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran Fisika. Salah satu pentingnya dari pemahaman konsep dan penalaran ilmiah adalah dapat memberikan kemudahan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis. Jenis penelitian ini menggunakan mixed methods explanatory design dengan subyek penelitian 31 siswa di kelas XII IPA yang telah memperoleh materi Fluida Statis. Instrumen yang digunakan dengan 10 butir soal esai untuk pemahaman konsep dan 20 butir soal pilihan ganda beralasan untuk penalaran ilmiah dengan besar reliabilitas secara berurutan, yaitu 0,702 dan 0,745. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep Fluida Statis dan masih memiliki penalaran ilmiah yang rendah. Pemahaman konsep siswa pada sub materi tekanan hidrostatis sebesar 18%, Hukum Pascal sebesar 21%, dan Hukum Archimedes sebesar 2,2%. Aspek penalaran ilmiah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penalaran konservasi massa, penalaran proporsional, kontrol variabel, penalaran probabilitas, penalaran korelasi, dan hypotetical deductive reasoning. Secara berurutan rendahnya tingkat penalaran ilmiah siswa pada materi Fluida Statis di masing-masing kriteria, ditunjukkan dengan persentase sebagai berikut: 24%, 40%, 34%, 25%, 48%, dan 20%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahwa kesulitan siswa secara umum terdapat pada penentuan faktor-faktor yang berpengaruh pada fenomena masing-masing sub materi.
Keterampilan berpikir kritis pada Bounded Inquiry Lab: analisis kuantitatif dan kualitatif Anisak Intan Eka Prani; Parno Parno; Arif Hidayat
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.306 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2217

Abstract

Abstract: Critical thinking skills as an important skill in the 21st century is a major goal of science education. Therefore the researchers develop various learning strategies to enhance and develop students' critical thinking skills. They develop learning materials that integrated with ability to think critically. However, the strategy makes students less understand to the concept of the material. Learning strategy as bounded inquiry lab model can improve both critical thinking skill and students' comprehension of the material. This study aims to determine effectiveness of bounded inquiry lab to critical thinking skills in high school students. This study focuses on hydrostatic pressure, Pascal's law, and Archimedes’ law. Mixed methods of embedded model design were used during the study. A total of 30 students in major natural science program undergo pre test, followed by learning using bounded inquiry lab, doing post test and then interview. The results showed that students' critical thinking skills on hydrostatic pressure, Pascal's law, and Archimedes’ law increased from an average of 20.00 in pretest to 80.67 in post test. In addition, students said that they can improve their understand concepts of matter, determine the variables, how to create and test hypotheses through scientific work, and make good conclusion through classroom learning. So, bounded inquiry lab should be used as an alternative learning to enhance critical thinking skills in static fluids. Abstrak: Keterampilan berpikir kritis sebagai keterampilan penting di abad 21 merupakan tujuan utama pendidikan sains. Hal tersebut membuat para peneliti mengembangkan berbagai strategi pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Sebagian besar peneliti mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang terintegrasi dengan materi pembelajaran. Namun, strategi tersebut membuat siswa kurang memahami konsep dari materi. Strategi pembelajaran berupa model bounded inquiry lab merupakan salah satu model yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus meningkatkan pemahaman siswa pada materi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas bounded inquiry lab terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian ini berfokus pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes. Mixed methods desain embedded model digunakan selama penelitian. Sebanyak 30 siswa kelas XI IPA SMA menjalani pre test, dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan bounded inquiry lab, mengerjakan soal post test kemudian wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa pada materi tekanan hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes meningkat dari rata-rata nilai pre test sebesar 20,00 ke nilai post test sebesar 80,67. Di samping itu, menurut siswa, pembelajaran di kelas membuat mereka lebih memahami konsep materi, menentukan variabel, cara membuat dan menguji hipotesis melalui kerja ilmiah, serta membuat kesimpulan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, bounded inquiry lab dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi fluida statis.
Identifikasi kesulitan siswa SMA pada materi usaha-energi Desella Inna Rahmatina; Sutopo Sutopo; Wartono Wartono
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.472 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2240

Abstract

Abstract: This study identified student’s difficulty on doing test about work and energy. This study was conducted on 68 high school students at 11th grade who had took work and energy material. Type of this research was descriptive with survey method. Technique of collecting data was test with 15 items two tier's instruments which have been validated by expert. The student’s reasons in answering were used to identify possible causes of errors. Test result showed that the average student's test score is 50.65 with a scale of 100. Common difficulties for students were applying multiplication of the dot product force acting on objects and the movement objects when the movement of objects is presented through graphs, applying work-kinetic energy theorems, misinterpreting relations of gravity and height of objects on the incline, and determine the graph relation of energy with height object as a description of the movement of objects with parabolic paths and influenced by the external forces of the system. This finding can be used as a reference to overcome student difficulties through appropriate learning strategies. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa SMA dalam mengerjakan soal-soal usaha energi. Penelitian dilakukan pada 68 siswa SMA kelas XI yang telah menempuh materi usaha-energi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes dengan instrumen berupa soal pilihan ganda beralasan berjumlah 15 butir yang telah divalidasi oleh ahli. Alasan siswa dalam menjawab digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab kesalahan. Hasil tes menunjukkan bahwa skor tes rata-rata siswa adalah 50,65 dengan skala 100. Kesulitan yang umum terjadi pada siswa yaitu menerapkan perkalian dot product gaya yang bekerja pada benda serta perpindahan benda jika pergerakan benda disajikan melalui grafik, menerapkan teorema usaha energi kinetik, salah memaknai hubungan usaha oleh gaya gravitasi dengan ketinggian benda pada bidang miring, serta menentukan grafik hubungan energi dan ketinggian yang benar sebagai deskripsi pergerakan benda dengan lintasan parabola dan dipengaruhi gaya eksternal sistem. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa melalui strategi pembelajaran yang tepat.
Kesalahan siswa SMA dalam memecahkan masalah pada materi Hukum Newton Dheka Januarifin; Parno Parno; Arif Hidayat
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.017 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2292

Abstract

Abstract: This study described students mistake on solving newton’s law problems. The subjects were 60 students of high school in 11th grade. This study used survey method with data collection technique was test. Test consisted of 10 items about the description of Newton's law (cronbach alpha 0.638). The results showed that many students mistake on solving problems about 1st Newton’s Law, 2nd Newton’s law, 3rd Newton’s law and concept of friction. Students just rememberred the mathematical equations of Newton's law without understanding the physical meaning. It was advisable to conduct further research as an effort to reduce students' mistakes, one of them is through learning that involves students participating on problem solving and given assistance so that students can do problem solving independently. Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan kesalahan siswa dalam memecahkan masalah hukum newton. Subyek penelitian siswa kelas XI SMA berjumlah 60. Penelitian menggunakan meteode survey dengan teknik pengumpulan data yaitu tes. Tes terdiri atas 10 butir soal uraian materi hukum Newton (cronbach alpha 0,638). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa banyak mengalami kesalahan dalam memecahkan masalah hukum I Newton, hukum II Newton, hukum III Newton dan konsep gaya gesek. Faktor penyebab kesalahan tersebut adalah karena siswa kurang memahami hukum I Newton, hukum II Newton, hukum III Newton dan konsep gaya gesek. Siswa hanya hanya menghafal persamaan matematis hukum Newton tanpa memahami makna fisis. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut sebagai upaya mengurangi kesalahan siswa, salah satunya melaui pembelajaran yang melibatkan siswa ikut serta dalam pemecahan masalah dan diberi bantuan agar siswa dapat melakukan pemecahan masalah secara mandiri.
Eksplorasi LOTS dan HOTS materi optik geometri siswa kelas 12 SMAN 9 Malang Fery Hadi Sutrisno; Supriyono Koes-H; Edi Supriana
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.309 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2293

Abstract

Abstract: Higher order thinking is one of the abilities that must be mastered by students. This research is a quantitative descriptive research with the aim to describe how high student’s LOTS and HOTS on topic of geometrical optics. The subjects of the study were the 12th grade MIA students who had learned optics at the previous level. The instrument used consisted of 16 multiple-choice questions related to geometrical optics with reliability coefficient 0.714. An analysis of the descriptive statistics was made to the students' answers according to the cognitive level of the questions. The results of this study indicate that the average LOTS score of students is 44.44 (SD = 22.29) with the highest score of 83.3 and the lowest 25. Furthermore the average HOTS score of students is 53.57 (SD = 22.29 ) with the highest value of 75 and the lowest value of 25. This shows both skills still need to be improved. Based on the results of this study, it can be used as an indicator that student’s high-level thinking ability has to be practiced by a certain learning strategy. Abstrak: Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan seberapa tinggi LOTS dan HOTS siswa pada materi optik geometri. Subjek penelitian adalah siswa kelas 12 MIA yang sudah menerima materi optik pada jenjang sebelumnya. Instrumen yang digunakan berupa 16 soal pilihan ganda terkait materi optik geometri dengan koefisien reliabilitas 0,714. Analisis statistik deskriptif dilakukan terhadap jawaban siswa sesuai tingkat kognitif soal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata LOTS siswa adalah 44,44 (SD = 22,29) dengan nilai tertinggi 83,3 dan nilai terendah 25. Selanjutnya nilai rata-rata HOTS siswa adalah 53,57 (SD = 22,29) dengan nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 25. Hal ini menunjukkan keduanya masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dijadikan sebagai salah satu indikator bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa harus dilatih dengan menggunakan strategi belajar tertentu.
Pendekatan Saintifik di Sekolah Dasar Nurul Ain; Choirul Huda
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.542 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2368

Abstract

Abstract: One of the features of the 2013 Curriculum is a scientific-based learning approach. The purpose of this study was to describe the understanding, implementation, and barriers of elementary school teachers towards a scientific approach. This research method is descriptive qualitative. Respondents were 50 teachers of SDN at Kecamatan Sukun Malang. Data were obtained through open questionnaire techniques and document Teachers' learning plan. The data are described and analyzed to get an overview of elementary school teacher's understanding of the scientific approach. The results show that the scientific approach can serve as a science process skill and a scientific method. Teachers at the SDN in Kecamatan Sukun Malang understand the scientific approach as a science process skill, not yet understanding the scientific approach as a scientific method. These results can be used as a reference to train elementary school teachers in implementing a scientific approach. Abstrak: Salah satu ciri Kurikulum 2013 adalah pembelajaran berbasis pendekatan saintifik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman, pelaksanaan, dan hambatan guru sekolah dasar terhadap pendekatan saintifik. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Responden sejumlah 50 guru SDN di Kecamatan Sukun Kota Malang. Data diperoleh melalui penyebaran angket terbuka dan dokumen rencana pembelajaran. Data yang diperoleh dideskrpsikan dan dianalisis sehingga didapatkan gambaran umum tentang pemahaman guru Sekolah Dasar terhadap pendekatan saintifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan saintifik dapat berfungsi sebagai keterampilan proses sains dan metode ilmiah. Guru-guru Sekolah Dasar di Kecamatan Sukun Kota Malang memahami pendekatan saintifik sebagai keterampilan proses sains, belum memahami pendekatan saintifik sebagai metode ilmiah. Hasil penelitian dapat dijadikan referensi untuk melatih guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik.
Pembelajaran fisika menggunakan inkuiri terbimbing dengan metode eksperimen dan proyek ditinjau dari kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa Purwandari Purwandari
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.704 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v2i1.2369

Abstract

Tujuan penelitian: 1). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek. 2). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah. 3). Mengetahui adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan kreativitas rendah. 4). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar siswa. 5). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. 6). Mengetahui adakah interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. 7). Mengetahui adakah interaksi antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain faktorial 2x2x2. Hasil dari penelitian :1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan Fobs = 12.208 > Fα = 4,02, 2) Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah dengan Fobs = 7.826 > Fα = 4,02 3) Ada perbedaan hasil belajar siswa antara kreativitas tinggi dan rendah dengan Fobs = 7.600 > Fα = 4,02 4) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dengan Fobs = 4.564 > Fα = 4,02. 5) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kreativitas dengan Fobs = 8.061 > Fα = 4,02. 6) Ada interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dengan Fobs = 8.910 > Fα = 4,02. 7) Ada interaksi antara inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan metode proyek dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dengan Fobs = 5.122 > Fα = 4,02.
Strategi Mind Map dalam Pembelajaran Group Investigation terhadap Keterampilan Proses Sains dan Prestasi Belajar Siswa Ari Handayani
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.293 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v2i1.2370

Abstract

Abstract: Physics Learning is a learn that is not only emphasized on the concept as a product, but also need to consider the scientific process in learning. Integrated science process skills and learning achievements are two important learning outcomes in learning Newton's legal concepts. Integrating Mind Map strategy in Group Investigation learning will help students in learning. This study aims to assess empirically the influence of Mind Map strategy in Group Investigation study able to improve the skills of science process and student achievement.This research is an experimental research with pretest posttest control group design. This study used three research samples divided into experiment class 1, experiment 2 class and control class. The determination of the three classes was done by cluster sampling sampling technique from population in SMAN 1 Singosari. Research instruments used in the form of multiple choice test instruments and questionnaires. Analysis of hypotesis using one-way MANOVA. The results of this study obtained 0.000 significance less than 0.05 which means there are differences in the science process skills and student achievement learning with mind mapping strategies in Group Investigation learning, students who learn with Group Invesigation learning and students learning with conventional learning. Abstrak: Pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang tidak hanya ditekankan pada konsep sebagai produk, namun perlu juga mempertimbangkan proses ilmiah dalam pembelajaran. Keterampilan proses sains terintegrasi dan prestasi belajar merupakan dua hasil belajar yang penting dalam mempelajari konsep hukum Newton. Memadukan strategi Mind Map dalam pembelajaran Group Investigation akan membantu siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empirik pengaruh strategi Mind Map dalam pembelajaran Group Investigation mampu meningkatkan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain pretest posttest control group. Penelitian ini menggunakan sampel penelitian sebanyak 3 kelas yang terbagi dalam kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol. Penentuan ketiga kelas dilakukan dengan teknik cluster sampling dari populasi di SMAN 1 Singosari. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen tes pilihan ganda dan angket. Analisis uji hipotesis menggunakan uji MANOVA satu jalur. Hasil penelitian ini diperoleh signifikansi 0,000 kurang dari 0,05 yang berarti terdapat perbedaan keterampilan proses sains dan prestasi belajar siswa yang belajar dengan strategi mind map dalam pembelajaran Group Investigation, siswa yang belajar dengan pembelajaran Group Invesigation dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional.
Cara siswa menyelesaikan masalah suhu dan kalor dari sudut pandang keterampilan metakognisi Susanti Rahayu; Supriyono Koes-H; Siti Zulaikah; Ninik Munfarikha
Momentum: Physics Education Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.27 KB) | DOI: 10.21067/mpej.v1i1.2219

Abstract

Abstract: The ways students solve problems become one of the main target of physics learning. Investigation about how students solve problems is explored in the context of metacognition skills. The steps of metacognition skills in physics problem solving include: planning, monitoring, evaluation, and controlling. This is a preliminary exploration study that aims to: 1.) mapping the metacognition skills that are used in physics problem solving of temperature and heat, 2.) exhibiting students’ self evaluation of his/her metacognition skills in problem solving, and 3.) identifying the relationship between students answer and their self evaluation. This is a descriptive qualitative study. The data were obtained by test and questionnaire. The physics problem solving test was given to 35 students of 11th grader. After doing test, they filled the 22 items of questionnaire adapted from Physics Metacognition Inventory (PMI). The result shows that none of the students solved all the problems optimally. The result of questionnaire showed that the average of metacognitive skills 64%, with the maximum and the minimum scores is 87% and 35% respectively. The correlation between the analyses of students’ answer and their self evaluation shows a negative value that indicates no relationship. Specifically, students pass the planning and controlling phase quite well, even though they tend to be poor in monitoring and evaluation. This findings must become a particular attention for the researchers and teachers in providing the learning strategy to habit the phases of metacognition skills in order to improve students’ metacognitive skills. Abstrak: Cara siswa dalam menyelesaikan masalah menjadi salah satu sasaran utama dalam pembelajaran fisika. Penelusuran mengenai bagaimana cara siswa menyelesaikan masalah dieksplorasi dalam konteks keterampilan metakognisi. Tahapan keterampilan metakognisi dalam menyelesaikan masalah fisika meliputi: planning, monitoring, evaluation, dan controlling. Penelitian ini merupakan studi eksplorasi awal bertujuan untuk: 1.) memetakan keterampilan metakognisi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah fisika pada materi Suhu dan Kalor, 2.) menunjukkan penilaian diri siswa terhadap keterampilan metakognisi yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah, dan 3.) mengidentifikasi hubungan antara analisis jawaban siswa dan penilaian diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui tes dan angket. Tes yang digunakan merupakan soal problem solving, yang diberikan kepada 35 siswa kelas XI. Setelah mengerjakan soal, siswa mengisi angket yang terdiri dari 22 item yang diadaptasi dari Physics Metacognition Inventory (PMI). Hasil penelitian menunjukkan belum ada siswa yang optimal menyelesaikan seluruh soal. Angket penilaian diri menunjukkan skor rerata 64%, dengan skor maksimum dan minimum masing-masing 87% dan 35%. Hubungan antara analisis jawaban siswa dan hasil penilaian diri menunjukkan nilai korelasi negatif yang mengindikasikan tidak sinkronnya hasil jawaban dan penilaian diri siswa. Secara spesifik, tahapan planning dan controlling dilakukan siswa dengan cukup baik, akan tetapi siswa cenderung lemah dalam memonitoring dan mengevaluasi ketika menyelesaikan masalah. Temuan ini menjadikan perhatian khusus untuk peneliti dan guru dalam menyajikan strategi belajar untuk membiasakan tahapan dalam keterampilan metakognisi dengan target peningkatan keterampilan metakognisi siswa.

Page 2 of 18 | Total Record : 180