cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Kerajaan Selaparang sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Perdagangan pada Abad XVI Berdasarkan Data-Data Arkeologis dan Manuskrip Sasak Jamaluddin Jamaluddin
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.189

Abstract

Selaparang merupakan nama dari sebuah kerajaan Islam terbesar di Lombok yang didirikan oleh Prabu Rangkesari abad ke-16 M di wilayah timur pulau Lombok. Kerajaan ini telah menjadi penguasa di Lombok kurang lebih dua setengah abad, diperkirakan kerajaan ini berakhir pada abad ke-18. Selama menjadi penguasa di Lombok, kerajaan ini telah berhasil menjadi sebuah kerajaan besar dan berwibawa baik di kalangan Sasak maupun di masyarakat internasional. Artikel ini akan mengungkap sejarah pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Selaparang dan keterlibatan Selaparang dalam perdagangan, karena itu tulisan ini akan menggunakan pendekatan sejarah. Namun karena data-data yang digunakan berupa manuskrip dan data-data arkeologis, maka dalam menganalisis data, dua disiplin ilmu menjadi ilmu bantu dalam artikel ini, yaitu filologi dan arkeologi.
Dinamika Hubungan Pemerintah Kolonial Belanda dengan Raja-raja Badung-Bali Berdasarkan Naskah Surat Perjanjian ML. 487 Khopipah Indah Lestari; Dewaki Kramadibrata
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.188

Abstract

Bali adalah salah satu dari beberapa wilayah di Nusantara yang belum dapat dikuasai pemerintah kolonial Belanda hingga akhir abad ke-19. Faktor internal berupa perebutan kekuasaan antarkerajaan menjadikan wilayah Bali cukup sibuk dengan peperangan dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali dengan Kerajaan Badung. Semakin majunya kegiatan perekonomian di Badung membuat pemerintah kolonial Belanda merasa khawatir akan posisinya yang dapat diambil alih kekuatan Eropa lainnya. Berbagai pendekatan berupa perjanjian-perjanjian terus dilakukan untuk dapat menempatkan Kerajaan Badung di bawah kuasa pemerintah kolonial Belanda seutuhnya. Penelitian ini membahas salah satu perjanjian tersebut, yaitu perjanjian yang tercantum dalam naskah Surat Perjanjian ML. 487. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan Kerajaan Badung dengan pemerintah kolonial Belanda dan upaya penghapusan hak tawan karang di Kerajaan Badung oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi, yaitu pemilihan naskah, transliterasi, kemudian penelusuran latar belakang sejarah untuk membahas isi teks naskah. Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk pengaturan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap Kerajaan Badung, yaitu pembatasan hubungan dengan bangsa Eropa lainnya, pembongkaran benteng, pengiriman bantuan perang, dan pengembalian orang jahat kepada pemerintah kolonial Belanda. Upaya pengapusan hak tawan karang kemudian menjadi senjata utama pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukkan Kerajaan Badung seutuhnya.
Karakteristik Iluminasi dalam Naskah Betawi Koleksi Cohen Stuart di Perpustakaan Nasional RI Fiona Firdausa; Priscila Fitriasih Limbong
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.203

Abstract

The aim of this study is to explain characteristics of illumination in Betawi manuscript and reveal every culture that shows in it. The data used in this research is Betawi manuscript in Cohen Stuart’s collection (CS). This study uses documentation and literature review method to collect the data. Beside that, this research uses codicology method to analyze the characteristics of illumination in six Betawi manuscripts. The result of data analysis showed that there are three characteristics in Betawi manuscript’s illumination, which are (1) simplicity, (2) the illuminations are formed from a combination of floral and geometric patterns, and (3) the illuminations are made with certain colors, namely red, blue, yellow, and black. Those characteristics show several cultures that are stored in it, that are Betawi, Chinese, Arabic, and Indian cultures. It shows that, at that time, Chinese, Arabs, and Indians had contact with Betawinese. In addition, it also explains Betawinese’s egalitarian nature so that they can accept acculturation that happened in their culture. --- Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik iluminasi naskah Betawi koleksi Cohen Stuart (CS) dan khazanah budaya yang terdapat di dalamnya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan studi pustaka. Penelitian dilakukan dengan metode kodikologi untuk membahas karakteristik iluminasi di dalam enam naskah Betawi koleksi CS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga karakteristik yang terlihat dalam iluminasi-iluminasi tersebut, yaitu (1) bentuk iluminasi yang sederhana, (2) iluminasi dibentuk dari perpaduan motif floral dan motif geometris, dan (3) iluminasi dibuat dengan warna-warna tertentu, yakni merah, biru, kuning, dan hitam. Karakteristik-karakteristik tersebut mengungkap adanya beberapa khazanah budaya yang tersimpan di dalam iluminasi naskah-naskah Betawi koleksi CS, yaitu budaya Betawi, Cina, Arab, dan India. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Cina, Arab, dan India memiliki kontak dengan masyarakat Betawi pada masa itu. Selain itu, hal tersebut juga menjelaskan sifat egaliter yang dimiliki masyarakat Betawi sehingga dapat menerima terjadinya akulturasi di dalam budayanya.
Membakar Dupa di Masjid: Pandangan Keagamaan Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Naskah Arab Pegon Pesantren Fathurrochman Karyadi
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.204

Abstract

Burning dupa (incense) is a Javanese tradition that has existed for a long time. When Islam came, it turned out that this tradition was still carried out by some people, including santri in Pesantren (the students in Islamic boarding schools). This is evidenced by the discovery of a Javanese manuscript in the Pegon script written by Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947), founder of Nahdlatul Ulama (NU) and Pesantren Tebuireng. He did not even forbid the tradition of burning dupa. In fact, the traditional ulama leader of his time condemned it as sunnah. As is known, the sunnah is the perpetrator will be rewarded and the one who does not be punished. This paper will discuss of burning dupa in the perspective of philology, history, and also Islamic law or fiqh which is based on a text written in 1353 H (1934). --- Membakar dupa merupakan tradisi masyarakat Jawa yang ada sejak lama. Ketika Islam datang, ternyata tradisi ini masih dijalankan oleh sebagian orang, termasuk para santri di pondok pesantren. Hal ini terbukti dengan ditemukannya naskah berbahasa Jawa aksara pegon yang ditulis oleh Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng. Bahkan ia tidak mengharamkan tradisi membakar dupa itu. Justru, pemimpin ulama tradisional pada zamannya itu menghukuminya sunnah. Sebagaimana diketahui, sunnah adalah jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa. Makalah ini akan membahas membakar dupa dalam perspektif filologi, sejarah, dan juga hukum Islam atau fiqh yang bersumber pada naskah yang ditulis pada 1353 H (1934).
Lingkungan Hidup dalam Naskah Wawacan Ogin Amar Sakti Ruhaliah Ruhaliah
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.202

Abstract

This article is written as a result of the study of meaning of Sundanese manuscript of a folklore titled Wawacan Ogin Amar Sakti. The study was conducted based on story’s settings and structural approach. The purpose of this study was to reveal the contribution of story’s meanings towards humanity’s environmental quality. This study utilized descriptive comparative methods, while the data collection used documentation study. The findings are in the form of interpretations concluded based on the results of data analysis results found in the text as well as its comparison with data found in other relevant sources. Based on the data analysis results, it can be concluded that the story setting elements found in Ogin Amar Sakti script is environmental/ecosystem transmission or inheritance vehicles; those are (1) to not to cut down, pollute, or turn dense forests as covert for evil deeds, (2) to look after and maintenance mountains and forests as they embody various resources, (3) to not turn forests into hunting ground for animals, and (4) to arrange settlements as delightful and pleasing place. These messages are in line with other texts and symbols such as folklore and gunungan, as well as become concrete foundation for environmental preservation and food security strategy. --- Tulisan ini merupakan hasil kajian makna atas cerita naskah berbahasa Sunda “Ogin Amar Sakti.” Kajian dilakukan atas unsur latar cerita (setting), dengan menggunakan pendekatan struktural. Pengkajian dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap kontribusi makna cerita bagi kualitas lingkungan hidup manusia. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif komparatif. Teknik pengumpulan datanya ialah teknik studi dokumentasi. Temuan-temuan berupa tafsiran disimpulkan berdasarkan hasil analisis data yang terdapat dalam teks serta melalui perbandingannya dengan data yang terdapat dalam sumber lain yang relevan. Berdasarkan hasil analisis data bisa disimpulkan bahwa unsur latar cerita naskah Ogin Amar Sakti merupakan wahana transmisi atau pewarisan lingkungan hidup (ekosistem), yaitu (1) hutan lebat jangan ditebangi, dikotori, dijadikan tempat menyembunyikan perbuatan jahat, (2) awasi dan pelihara gunung-gunung dan hutan karena mengandung aneka kekayaan, (3) hutan jangan dijadikan lahan perburuan satwa, dan (4) lakukan penataan pemukiman menjadi tempat yang menyenangkan dan membahagiakan. Amanat mengenai pelestarian hutan tersebut sejalan dengan teks dan simbol lain, di antaranya cerita rakyat dan gunungan, serta menjadi landasan konkret bagi peletarian lingkungan hidup dan strategi ketahanan pangan.
Ragam Seni Pertunjukan Jalanan Awal Abad XX Salfia Rahmawati
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.196

Abstract

Data collection on the variety of street performing arts is important as a marker of the diversity of cultural arts as well as showing the diversity of the people who interacted at that time. This paper shows a record of data written and illustrated in the manuscript of the National Library's collection coded KBG 940. The data represents at least two periods, namely the period before the manuscript was written in 1929 (although some of it might not anymore existed) and the time when the manuscript was written (although some of it might not anymore existed when the manuscript is read and studied currently). Based on the list, descriptions, and illustrations depicted, the data reflects the plurality of the socio-cultural life of the community moving dynamically as a representation of the cultural intersection of the community. Javanese, Chinese, Indian, Arabic, and Betawi in Yogyakarta. --- Pendataan mengenai ragam seni pertunjukan jalanan menjadi hal yang penting sebagai penanda keberagaman seni budaya sekaligus menunjukkan kemajemukan masyarakat yang berinteraksi pada masa tersebut. Tulisan ini menunjukkan sebuah catatan dan pendataan seni pertunjukan yang terekam dalam naskah koleksi Perpustakaan Nasional berkode KBG 940. Variasi seni pertunjukan yang berhasil didata setidaknya merepresentasikan dua masa, yaitu masa sebelum naskah ditulis tahun 1929 (meskipun sebagian telah hilang saat naskah ditulis) dan masa saat naskah ditulis (meskipun bisa jadi sebagian telah hilang saat naskah dibaca dan dikaji di masa sekarang). Dilihat dari daftar, keterangan, serta ilustrasi yang digambarkan, data yang ditampilkan menjadi cerminan kemajemukan kehidupan sosial budaya masyarakat bergerak dengan dinamis sebagai representasi persinggungan budaya dari komunitas Jawa, Cina, India, Arab, dan Betawi yang ada di Yogyakarta.
Manuskrip Al-Qur’an dan Terjemah Jawa K.H. Bakri Koleksi Masjid Besar Pakualaman: Sejarah, Karakteristik, dan Identitas Hadiana Trendi Azami; Achmad Yafik Mursyid; Muhammad Bagus Febriyanto
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.213

Abstract

The article explains the Quranic manuscript and Javanese translation K.H Bakri collection Great Mosque of Pakualaman and its relevance to Clifford Geertz’s discourse on the typology of Javanese Muslim society. This study uses literature review and documentation method to analyze the characteristics of Quranic manuskrip and Javanese translation K.H. Bakri. This study uses the auxiliary science of Philology which is oriented towards disclosing the physical aspects of texts (codicology) and texts (textology). Descriptive-analytical method was used to describe and analyze the data. The research results show that (1) The acculturation of Islam and local culture in the manuscripts of the Qur’an KHB can be seen from the influence of Javanese literature on the writing of ruku’, surah heads with twisted decorative patterns, and translation techniques using Arabic-Jawi script; (2) The characteristics of the KHB Qur’an have similarities with the science that developed in santri; (3) Geertz's typology of abangan for Islam in the interior of Java cannot be generalized. --- Artikel ini menjelaskan tentang manuskrip Al-Qur’an dan terjemahan Jawa K.H. Bakri koleksi Masjid Besar Pakualaman dan merelevansikannya dengan wacana distingsi Clifford Geertz tentang tipologi masyarakat muslim Jawa. Pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan ilmu bantu Filologi yang berorientasi kepada pengungkapan aspek fisik naskah (kodikologi) dan pernaskahan (tekstologi). Metode deskriptif-analitis digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Akulturasi Islam dan budaya lokal dalam manuskrip Al-Qur’an KHB dapat terlihat dari keterpengaruhan sastra Jawa dalam penulisan tanda ruku’, kepala surah dengan pola hiasan dipilin-pilin, dan teknik penerjemahan dengan aksara Arab-Jawi (2) karakteristik manuskrip Al-Qur’an KHB memiliki kesamaan dengan keilmuan yang berkembang di kalangan santri mulai dari penggunaan rasm, qirā’āt, teknik dan bentuk terjemahan; (3) Tipologi Geertz tentang abangan untuk Islam wilayah pedalaman Jawa tidak dapat di generalisasi; meskipun Kadipaten Pakualaman secara stratifikasi sosial termasuk ke dalam priayi, dan abangan secara geografis, akan tetapi karakteristik Al-Qur’an KHB menunjukkan kesamaan keilmuan dengan kalangan santri.
Warisan Budaya Pantun dalam Manuskrip Surat Incung Hafiful Hadi Sunliensyar
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.218

Abstract

Pantun is one of the ancient poetry that is the cultural heritage of the society in the archipelago. At first, the Pantun tradition is an oral tradition that functioned for various purposes. However, Pantuns are also transformed into written form after. The text entity of the Pantun is inserted in various Hikayat Melayu and in local literary manuscripts, such as the Ulu manuscript and the Incung Kerinci manuscript. This study aims to identify Pantuns in the Incung manuscripts that have been translated. The result of this research shows that 14 Incung manuscripts containing the texts of Pantun. Its texts are categorized as “pantun biasa” dan “talibun” with distinctive characteristics. Its specific character is the existence of an interjection or a sentence containing interjection between the “sampiran” and “isi”. The availability of pantuns is only found in the Incung manuscript containing the prose of lamentations. The function of pantuns is as a "sweetener" element and adds poetic value in the Incung prose. the content of pantun always has a correlation with the mood expressed by the manuscript writer. -- Pantun merupakan salah satu karya sastra lama yang menjadi warisan budaya masyarakat di Kepulauan Nusantara. Tradisi pantun pada dasarnya adalah tradisi lisan yang difungsikan untuk berbagai tujuan. Namun demikian, pantun juga ditransformasikan dalam bentuk tulisan. Wujud teks pantun disisipkan dalam berbagai hikayat Melayu dan di dalam manuskrip kesusastraan lokal seperti dalam manuskrip Ulu dan manuskrip Incung Kerinci. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi teks-teks pantun dalam manuskrip Incung yang telah dialihaksarakan. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 14 manuskrip Incung yang memuat teks pantun. Teks pantun tersebut adalah pantun biasa dan talibun dengan karakteristik yang khas. Kekhasan tersebut adalah adanya interjeksi atau kalimat mengandung interjeksi di antara sampiran dan isi. Keberadaan pantun hanya terdapat pada manuskrip Incung yang berisi prosa ratap-tangis. Fungsi pantun adalah sebagai unsur “pemanis” dan penguat nilai puitis dalam sastra Incung. Isinya selalu berelasi dengan suasana hati yang diungkapkan oleh penulis manuskrip.
Melacak Pola Interteks Kawruh Islam Jawa melalui Naskah Serat Wirid Riwayat Jati terhadap Teks Mistik Yogyakarta-Surakarta Mohamad Wahyu Hidayat
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.199

Abstract

Sĕrat Wirid Riwayat Jati manuscript is now preserved in the Reksa Pustaka library, Pura Mangkunegaran Palace, Surakarta. It is a didactical prose genre written in Javanese script. This text describes the mystical teachings of Javanese Islam. From the contents of this manuscript, it opens a gap to trace the intertextual relationship with the texts that are thought to be the references or hypograms. The texts that are suspected to be hypograms from Sĕrat Wirid Riwayat Jati are Sĕrat Wirid Hidayat Jati from Surakarta, and three texts from Yogyakarta such as Wirid Para Wali, Sĕrat Panatagama, and Suluk Malang Sumirang. This study uses an intertextuality approach to examine the interrelationships pattern between texts in the manuscripts. The intertextual study in this research uses the transformation patterns analysis of the hypogram in Sĕrat Wirid Riwayat Jati such as the form of expansion, modification, excerption, and conversion. In addition, the purpose of using intertextual theory is also to reveal The Sĕrat Wirid Riwayat Jati’s position in the mystical literature which is based on the author’s ideology. --- Naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati tersimpan di perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran, Surakarta yang berjenis piwulang, beraksara Jawa dan berbentuk gancaran atau prosa. Teks ini memaparkan ajaran mistik Islam kejawen. Naskah ini membuka celah untuk melacak hubungan interteks dengan teks-teks yang diperkirakan menjadi acuannya atau hipogram. Teks-teks yang diduga menjadi hipogram dari naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati, antara lain Sĕrat Wirid Hidayat Jati dari Surakarta, dan tiga teks dari Yogyakarta yakni, Wirid Para Wali, Sĕrat Panatagama dan Suluk Malang Sumirang. Kajian dalam naskah ini menggunakan pendekatan intertekstualitas untuk menelaah pola keterkaitan antarteks dalam naskah. Studi interteks pada penelitian ini memakai analisis pola transformasi teks-teks hipogram pada naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati seperti bentuk ekspansi, modifikasi, ekserp, dan konversi. Selain itu, tujuan penggunaan teori intertekstual juga untuk mengungkap posisi naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati dalam kepustakaan naskah mistik yang didasarkan pada ideologi penulis naskah.
Serat Baron Sakendher dalam Pusaran Naskah Babad: Negosiasi Kultural Penguasa Jawa Pascaperang Diponegoro 1830 Widodo Widodo; Titik Pudjiastuti; Priscila Fitriasih Limbong; Sudibyo Sudibyo
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.214

Abstract

This article discusses historical construction of Baron Sakendher manuscripts in the collection of Yogayakarta Sonobudoyo Museum. Serat Baron Sakendher (SBS) was written in the main frame of Babad Tanah Jawi. Various stories frame SBS distinctively based on each manuscript. This study proposes to explain the position of SBS in the Javanese authority domain under the Colonial—which was increasingly entrenched. The study used historical philological research methods, namely by selecting manuscripts and tracing their historical backgrounds to discuss the contents. The results point out that there are six manuscripts containing SBS stories. Four are included in the big frame of Babad Tanah Jawi, one is in Babad Selahardi, and one is in Pakem Ringgit. None of the six was written as a single stand; they were always integrated with the monumental Javanese genealogical story and believed by the Javanese people. As a means of cultural arrangement, stories in SBS are incorporated in the midst of Javanese legendary figures or rulers with different secondary stories. Conquest and cultural approach through genealogy pedigree are crucial in babad (chronicle stories). --- Artikel ini membahas konstruksi historis naskah-naskah Baron Sakendher koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Naskah SBS ditulis dalam bingkai utama yakni naskah Babad Tanah Jawi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan posisi naskah SBS dalam lingkaran kekuasaan Jawa di bawah bayang-bayang Kolonial yang semakin kuat mengakar. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi historis, yaitu pemilihan naskah, kemudian penelusuran latar belakang sejarah naskah untuk membahas isi teks. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam naskah yang memuat cerita SBS. Empat naskah masuk dalam bingkai besar Babad Tanah Jawi satu naskah Babad Selahardi dan satu naskah masuk dalam bingkai Pakem Ringgit. Kelima naskah tidak ada yang ditulis berdiri tunggal tetapi, selalu menyatu dengan cerita genealogi Jawa yang monumental dan dipercaya kebenarannya oleh masyarakat Jawa. Sebagai sarana penataan kultural, cerita SBS dimasukan dalam lingkaran tokoh legenda penguasa Jawa dengan cerita penyerta yang berbeda-beda. Penaklukan dan pendekatan kultural melalui silsilah genealogi menjadi penting dalam cerita babad.