cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Naskah Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās: Tafsir Antikolonialisme Abdul Latif Syakur Zikra Fadilla
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.176

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan menghadirkan analisis respons Syekh Abdul Latif Syakur terhadap kolonialisme pada sebuah naskah yang berjudul Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās (TAYN). Naskah ini merupakan sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang berawalan yā ayyuhā al-nās. Sebagai wujud interaksi pengarang dan budaya lokal, tak terkecuali karya tafsir akan menggambarkan pemikiran penulisnya. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang bertujuan untuk mengungkap pemikiran Syekh Abdul Latif Syakur mengenai kolonialisme berdasarkan naskah Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās. Temuan peneliti ini menunjukkan bahwa Syekh Abdul Latif Syakur menentang aktifitas kolonialisme, menurutnya semua manusia memiliki hak yang sama untuk memerdekakan diri sendiri dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Abstract: This article aims to present an analysis of Sheikh Abdul Latif Syakur's response to colonialism in a manuscript entitled Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās (TAYN). This manuscript is an interpretation of the verses of al-Qur’an which begin with yâ ayyuhâ al-nâs. As a form of interaction between the author and the local culture, the work of interpretation will also describe the writer's thoughts. This descriptive qualitative research uses a critical discourse analysis approach which aims to reveal the thoughts of Sheikh Abdul Latif Syakur regarding colonialism based on the text of Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās. The findings of this research indicate that Sheikh Abdul Latif Syakur is against colonialism activities, according to him all human beings have the same right to free themselves and defend national independence. Keywords: Sheikh Abdul Latif Syakur, colonialism, freedom, naskah Tafsīr Āyāt Yā Ayyuhā al-Nās
Menelusuri Jejak Kuliner Tembayat dalam Serat Centhini Minardi Minardi; Samidi Samidi; Yulinar Aini Rahmah
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.180

Abstract

Abstract This study aims to determine the kinds or variety of food that was in Tembayat listed in Serat Centhini. For administration, said Tembayat is no longer entered in the population, but at least the word Tembayat the show to an area of old are now in the whole territory of the District of Bayat and most Kecamatan Wedi, still belongs to the region of Klaten Regency to the South. In addition, the study also aims to describe the political atmosphere manufacture of fiber or the work of this paper. This study used qualitative methods, including in the research literature. The object of research, reference, and referral-other referral obtained through written sources. Then confirmed by interviews with community leaders, to know the existence of the names of the food at the moment. In explaining the political atmosphere during the manufacture of Serat Centhini, researchers using the Theory of Soft Power by Joseph Nye. The resulting conclusion is that there are around 48 the name of the food that is written in the Serat Centhini. The condition of this culinary rarely heard by the public, the bias is said to have been a rare occurrence in Tembayat. About the political atmosphere, Serat Centhini was written by the candidate Pakubuwana V, while the father that Pakubuwana IV still reigned in the Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Current conditions, Kraton Surakarta besieged by Pura Mangkunegaran, the Palace of the Sultanate Ngayogyakarta and the Netherlands, or better known as Pakepung. Then to raise the prestige or name Kraton Surakarta then this paper to be a form of resistance from Surakarta. Since that time, no paperwork, as complete as that by loading all the potential of the Island of Java, it is often referred to as the Encyclopedia of Java. --- Abstrak Kuliner merupakan kekayaan khazanah kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Kuliner-kuliner di Indonesia berkembang sejak dahulu sampai sekarang dan menjadi identitas di setiap daerah. Tulisan-tulisan kuno telah mencatat menu-menu kuliner Nusantara, baik di prasasti, serat kuno, lontar maupun relief candi. Namun juga terdapat menu-menu lain yang tidak tercatat dan hanya diturunkan melalui tutur lisan. Serat kuno yang menyebutkan tentang kuliner diantaranya Serat Centhini Jilid III. Serat Centhini Jilid karya putra mahkota yang bergelar Pakubuwono V dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari sekian banyak kuliner yang disebut dalam Serat Centhini Jilid III, menyebutkan juga aneka macam kuliner dari Tembayat. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan metode kualitatif. Sumber utama adalah Serat Centhini Jilid III, sedangkan sumber pendukungnya adalah tulisan-tulisan yang relevan. Terhitung tidak kurang dari 50 menu kuliner Tembayat yang tersaji. Semuanya yang disampaikan hanya mengenai makanan, sedangkan minuman dan jamu tidak disebutkan. Jenis makanan yang disebutkan meliputi sayuran, urapan, tumis dan lauk-pauk. Masih ada makanan yang dapat dilacak keberadaannya, namun ada makanan yang sudah tidak terdengar lagi di Bayat atau mungkin telah dimodifikasi maupun berganti nama. Kata Kunci: Serat Centhini, Kuliner, Tembayat
Pajak Pendapatan dalam Naskah Peraturan Pajak Pendapatan Ternate Latifah Kurnia Hapsari; Priscila Fitriasih Limbong
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.179

Abstract

Tax is a compulsory contribution paid by each citizen to the government. Tax can be used to fulfill the country’s needs for the greatest prosperity of the people. Income tax is one of tax that levied by the government from worker’s income. Income tax has been applied since colonial era. In the colonial era, income tax can be found in Income Tax Regulation 113 H 8/14. This research will discuss about the prevailing income tax rules in Ternate and explain the effect of Income Tax Regulation 113 H 8/14 to the taxpayer. This research uses philology methods with tax theory approach. The result showed that there are regulations that regulate the taxpayer, calculation of the aanslag, the tax collection methods and fines. The regulation was applied by the royal government to all citizens who lived in Ternate in 19th century. According to the regulation, this research also found the intervention of the Dutch government on the management in Ternate’s income tax. It can be seen from the clauses of the regulation that shows an agreement between the Dutch and the royal government caused by economical interest. --- Pajak merupakan salah satu iuran yang harus dibayarkan oleh setiap warga yang bermukim di suatu negara dan digunakan untuk kepentingan masyarakat. Salah satu pajak yang berperan adalah pajak pendapatan. Pajak pendapatan telah diterapkan sejak zaman kolonial. Hal ini dapat ditemukan dalam naskah Peraturan Pajak Pendapatan 113 H 8/14. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aturan pajak pendapatan yang berlaku pada masyarakat Ternate dan menjelaskan penerapan pajak terhadap pembayarpajak yang telah ditentukan dalam naskah Peraturan Pajak Pendapatan 113 H 8/14. Metode penelitian yang digunakan adalah metode filologi dengan pendekatan teori perpajakan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa di dalam naskah ini terdapat aturan mengenai pembayar pajak, orang yang dibebaskan dari pajak, perhitungan jumlah aanslag, cara pemungutan pajak serta perihal denda. Aturan ini diterapkan kepada seluruh masyarakat yang bermukim di Ternate pada abad XIX. Selain itu, pada peraturan ini ditemukan pula bahwa Belanda ikut campur tangan dalam pengelolaan pajak pendapatan di daerah Ternate. Hal tersebut terlihat dari pasal-pasal di dalam PPPT yang menunjukkan adanya kesepakatan keputusan antara pemerintah kerajaan dan pegawai pemerintah Belanda.
Ciri, Peran, dan Kedudukan Seorang Istri terhadap Suami dalam Naskah Babad Awak Salira Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma'mun; Undang Ahmad Darsa
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.172

Abstract

Abstract The entry of Islam in Tatar Sunda also influenced the written tradition that was present before. One of the results of cultural acculturation is the ancient manuscript Babad Awak Salira (BAS), which contains Islamic teaching values. The BAS manuscript is identified into the category of the Sundanese manuscript of the Pesantren literature. The teachings of morals contained in the BAS text relate to the characteristics of a woman, the role of a wife, and the position of a wife in Islamic view. The author chooses to use an Islamic perspective because the relationship between the discussion in the value of the content is analyzed with the wife and recommendation in Islamic teachings, as well as the relevance of the value of the content to the conditions of Islamic teachings that enter and affect the written tradition. The results showed the same correlation between the content values ​​contained in the BAS text and the content values ​​in Islamic teachings. In other findings, the BAS text contains high language, because the form of the text is a wawacan (poetry), however, the aesthetic value of past poetry forms does not hinder the delivery of the content value in the text. --- Abstrak Masuknya Islam di Tatar Sunda turut memengaruhi tradisi tulis yang hadir sebelumnya. Salah satu hasil akulturasi budaya adalah naskah kuna Babad Awak Salira (BAS), yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Naskah BAS teridenfikasi masuk ke dalam kategori naskah Sunda pustaka pesantren. Ajaran adab atau akhlak yang terkandung di dalam teks BAS berkaitan dengan ciri wanita salihah, peran seorang istri, dan kedudukan seorang istri dalam pandangan Islam. Penulis memilih menggunakan pandangan Islam, karena keterkaitan pembahasan dalam nilai kandungan dianalisis dengan anjuran istri dalam ajaran Islam, serta relevansi nilai kandungan dengan kondisi ajaran Islam yang masuk dan berpengaruh pada tradisi tulis. Hasil Penelitian menunjukkan korelasi yang sama antara nilai kandungan yang terdapat di dalam teks BAS, dengan nilai-nilai kandungan dalam ajaran Islam. Dalam temuan lain, teks BAS mengandung bahasa yang tinggi, karena bentuk teks merupakan sebuah wawacan (puisi), meskipun demikian, keterikan nilai estetis trhadap bentuk puisi masa lalu tidak menghambat penyampaian nilai kandungan dalam teks.
Diplomasi Politik Belanda terhadap Kerajaan Banggai dalam Naskah Perjanjian 113 8/21 Siti Aliyah; Dewaki Kramadibrata
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.162

Abstract

This article discusses the manuscript 113 8/21 in the collection of the National Library of Indonesia. This manuscript is a letter of agreement between the Kingdom of Banggai, the Dutch East Indies Government, and Ternate which was made in 1828 AD. Treaty Manuscript 113 8/21 contains 13 articles that regulate all aspects of the life of the Kingdom of Banggai. This study was researched using the literature study method and historical approach. This research was conducted to analyze the forms of political power and diplomacy used by the Dutch East Indies and Ternate Governments toward the life of the Banggai people in the Treaty Manuscript 113 8/21. Based on the analysis, there are three aspects that are controlled by the Dutch East Indies and Ternate Governments: political, legal, and economic aspects. To be able to do this, the Dutch East Indies Government launched a strategy of Coercive Diplomacy and Market Diplomacy.---Penelitian ini membahas naskah dengan kode 113 8/21 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Naskah ini merupakan surat perjanjian antara Kerajaan Banggai, Pemerintah Belanda, dan Ternate yang dibuat pada tahun 1828 M. Naskah 113 8/21 berisi 13 pasal yang mengatur segala aspek kehidupan Kerajaan Banggai. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan sejarah, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis bentuk kekuasaan dan diplomasi politik yang digunakan Pemerintah Belanda dan Ternate terhadap kehidupan masyarakat Banggai dalam Naskah Perjanjian 113 8/21. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap naskah perjanjian 113 8/21, terdapat tiga aspek yang dikuasai Belanda dan Ternate terhadap Kerajaan Benggai, yaitu aspek politik, hukum, dan ekonomi. Untuk dapat melakukan hal tersebut, Pemerintah Belanda melancarkan strategi Coercive Diplomacy dan Market Diplomacy.
Yoga-Estetis dalam Kakawin Lambang Pralambang sebagai Ikhtiar Mencapai Kemanunggalan dengan Tuhan Naufal Anggito Yudhistira; I Made Suparta
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.191

Abstract

Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ is one of the lyric poetry texts contained in the lontar manuscript coded CP.25 LT-223 which is stored in the manuscript collection of the University of Indonesia. The manuscript was written in 1799 AD in Lombok using a Balinese script. This study aims to reveal the form of literary yoga and the relationship of religious expression in Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ with other Old Javanese and Balinese literary works. This research is qualitative research using a reception approach. To prepare the object of research, a philological work step was used to extract the Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ text from the manuscript. The single-text method was used because only one witness manuscript is known to contain this text. The text Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ shows the wandering of the poet in an attempt to do literary yoga (yoga-aesthetic). In addition, there is also the concept of worship in the form of cai librarians as a metaphorical expression of the poet to worship (manembah) God. This Kakawin also contains an overview of religious concepts related to the love of men and women. In addition, this text is also related to efforts to achieve the union of man with God. --- Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ merupakan salah satu teks puisi lirik yang terdapat dalam naskah lontar berkode CP.25 LT-223 yang disimpan dalam koleksi naskah Universitas Indonesia. Naskah tersebut ditulis pada tahun 1799 Masehi di Lombok dengan menggunakan aksara Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk yoga sastra dan kaitan espresi religius dalam Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ dengan karya sastra Jawa Kuna dan Bali lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan resepsi. Untuk mempersiapkan objek penelitian digunakan Langkah kerja filologi untuk mengekstrak teks Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ dari naskah. Metode naskah tunggal digunakan sebab hanya ada satu naskah saksi yang diketahui mengandung teks ini. Dalam teks Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ memperlihatkan pengelanaan pujangga dalam usaha melakukan yoga sastra (yoga-estetis). Selain itu terdapat pula konsep pemujaan dalam bentuk caṇḍi pustaka sebagai suatu ekspresi metaforis sang pujangga untuk menyembah (manembah) Tuhan. Kakawin ini juga memuat gambaran konsep religius terkait percintaan laki-laki dan perempuan. Selain itu, teks ini juga terkait dengan upaya untuk mencapai penyatuan manusia dengan Tuhan.
Seksualitas dan Daulat Tubuh Perempuan dalam Cherita Pandawa Lima Rizqi Handayani
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.193

Abstract

The paper aims to see the contestation and struggle for discourse on sexuality and the female body in Cherita Pandawa Lima. This research is literature research that uses critical discourse analysis as an approach in analyzing literary texts. Critical discourse analysis is used to dismantle the presumptions and ideologies of patriarchal power that are stored in androcentric literary discourses. The data that will be identified and classified are aspects related to women's bodies and sexuality which are exploited and maintained through patriarchal culture. These data will be analyzed using a feminist literary criticism approach to dismantle the patriarchal ideology that is hidden behind the text and reconstruct it within the framework of feminism. By using Cheritera Pandawa Lima edited by Khalid Hussain as the main data, this study shows that the female characters in Cheritera Pandawa Lima are the main axis in the storyline, and even become one of the main myths that drive the occurrence of the masculine Bharatayuddha war. Based on this, female figures try to get out of the patriarchal cultural norms and social constructs that develop in society, by seizing the discourse of patriarchal hegemony through sexuality and body sovereignty. Thus the female characters in this story try to align themselves with the ranks of the men. --- Tulisan ini bertujuan untuk melihat kontestasi dan perebutan wacana terhadap seksualitas dan tubuh perempuan dalam Cherita Pandawa Lima. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan analisis wacana kritis sebagai pendekatan dalam menganalisa teks sastra. Analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar praduga dan ideologi kekuasaan patriarki yang tersimpan dalam wacana-wacana sastra yang androsentris. Adapun data yang akan diidentifikasi dan diklasifikasikan adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan tubuh dan seksualitas perempuan yang dieksploitasi dan dipertahankan melalui budaya patriarkhi. Data-data tersebut akan dianalisa dengan pendekatan kritik sastra feminis untuk membongkar ideologi patriarkhis yang tersimpan di balik teks, serta merekontruksinya dalam kerangka pikir feminisme. Dengan menggunakan Cheritera Pandawa Lima yang disunting oleh Khalid Hussain sebagai data utama, maka penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam Cheritera Pandawa Lima menjadi poros utama dalam jalan cerita, bahkan menjadi salah satu mitos utama yang mengendarai terjadinya perang Bharatayuddha yang maskulin. Berdasarkan hal tersebut tokoh-tokoh perempuan berusaha mencoba keluar dari norma-norma budaya patriarki dan konstruk sosial yang berkembang di tengah masyarakat, dengan cara merebut wacana hegemoni patriarki melalui seksualitas dan kedaulatan tubuhnya. Dengan demikian tokoh-tokoh perempuan dalam cerita ini berusaha menyejajarkan diri dengan barisan para laki-laki.
Esoteris-Mistik dalam Teks Pangujanan Muhammad Heno Wijayanto; I Made Suparta
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.192

Abstract

Pangujanan is a Javanese-Bali text containing means and spells to making rain based on the local wisdom of Balinese culture. The aim of this research is to examine the esoteric and mystical aspects contained in the Pangujanan text. The theoretical basis used in this research is Philo-ethnography to reveal the esoteric and mystical in the Pangujanan text. The result is esoteric aspects that are prohibitive and guiding, as well as mystical aspects in the form of presenting the power of Iadewata 'Dewa Pujaan' to a practitioner through mentioning aspects of Iṣṭadewata, such as Kanda Mpat, Pañcaṛṣi, Catur Lokapala, Dewata Nawasanga, and Daśākṣara to bring down rain. The causality between esotericism and mysticism is that bringing Iṣṭadewata into the soul is secret and limited to certain circles. From the results of the analysis, it can be concluded that the esoteric-mystical aspect that involves God in it is a symbol that God's involvement in all aspects of life is still considered important. --- Pangujanan merupakan teks berbahasa Jawa-Bali berisi sarana dan mantra untuk menurunkan hujan berdasarkan kearifan lokal budaya Bali. Penelitian ini mencoba menelaah aspek-aspek esoteris dan mistik yang terdapat dalam teks Pangujanan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah filoetnografi untuk mengungkap esoteris dan mistik dalam teks Pangujanan. Hasilnya adalah aspek-aspek yang bersifat esoterik bersifat larangan dan tuntunan, serta aspek yang bersifat mistik berupa menghadirkan kekuatan Iṣṭadewata ‘Dewa Pujaan’ kepada seorang praktisi melalui penyebutan aspek-aspek dari Iṣṭadewata, seperti Kanda Mpat, Pañcaṛṣi, Catur Lokapala, Dewata Nawasanga, dan Daśākṣara untuk menurunkan hujan. Kausalitas antara esoteris dan mistik adalah menghadirkan Iṣṭadewata ke dalam jiwa bersifat rahasia dan terbatas untuk kalangan tertentu saja. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa aspek esoteris-mistik yang melibatkan Tuhan di dalamnya merupakan simbol bahwa keterlibatan Tuhan dalam segala aspek kehidupan masih dianggap penting.
Variasi Terjemahan Surah Al-Fātiḥah dalam Bahasa Jawa Pada Naskah Kuran Jawi dan Kitab Kuran Fitri Febriyanti; Nur Khafidoh
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.190

Abstract

One of the messages conveyed through Javanese literary works is a guide to religious life. These guidelines can be translated through the holy book on every religious community that has ever been embraced by the Javanese people. This study uses two Javanese scripts and is written using Javanese script (Javanese script), namely Kuran Jawi and Kitab Kuran. This type of research is a qualitative descriptive research, namely the resulting data is described using sentences. Methods of data collection by means of literature study. The results showed that the Javanese language used in the two manuscripts was New Javanese. The Javanese language used is not only one level of speech, but there are various Javanese ngoko, madya, krama, and krama inggil languages. To find out the variation of the Javanese translation in Surah Al-Fātiḥah in the Kuran Jawi and the Kuran manuscripts is to compare the literal translations. the characteristics of variations in Javanese translation, namely in word formation, include reduplication and affixation. In addition, variations in the use of the lexicon can be caused by the level of speech and the form of sentences translated from Arabic. --- Salah satu pesan yang disampaikan melalui karya sastra berbahasa Jawa adalah pedoman hidup beragama. Pedoman tersebut dapat diterjemahkan melalui kitab suci pada setiap umat beragama yang pernah dianut oleh masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan dua naskah berbahasa Jawa dan ditulis dengan menggunakan aksara Jawa (carakan Jawa) yakni Kuran Jawi dan Kitab Kuran. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yakni data yang dihasilkan dideskripsikan dengan menggunakan kalimat-kalimat. Metode pengumpulan data dengan cara studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa yang digunakan dalam kedua naskah adalah bahasa Jawa Baru. Bahasa Jawa yang digunakan bukan hanya satu tingkat tutur saja, melainkan terdapat ragam bahasa Jawa ngoko, madya, krama, dan krama inggil. Untuk mengetahui adanya variasi terjemahan bahasa Jawa dalam Surah Al-Fātiḥah pada naskah Kuran Jawi dan Kitab Kuran adalah membandingkan terjemahan secara harfiah. karakteristik variasi terjemahan bahasa Jawa yakni dalam pembentukan kata meliputi reduplikasi dan afiksasi. Selain itu variasi penggunaan leksikon dapat disebabkan karena tingkat tutur maupun bentuk kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Arab
Penguatan Rasa Kebangsaan: Identitas, Demokrasi, dan Kearifan Lokal dalam Undang-Undang Simbur Cahaya Mu'jizah Mu'jizah
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.194

Abstract

The political rifts and tensions after the 2014 elections cannot just disappear, they even penetrate to the grassroots and are increasingly felt to be able to shake the Indonesian nationality. Political rifts and tensions spread to social aspects and cause discomfort for people who want to live in peace. In fact, during the 76 years of Indonesia which was formed by the fathers of the Indonesian nation, it has proven its determination in building Indonesian unity. Therefore, we must study and reflect on how Indonesia builds its nationality through one of the texts entitled the Simbur Light Law. The text describes the strength of building identity, applying local wisdom values ​​in strengthening customs, and teaching democratic ways of life. The purpose of this research is to explore and find out how identity is built and the national values ​​that become the local wisdom of the Palembang people are held. The method used is a qualitative approach with analysis and interpretation of the text. From the results of the study, it was found that the people of Palembang have a strong and high sense of nationality. This sense of nationality is evidenced by a strong strong identity supported by firmness in holding on to customs, and building a high sense of solidarity with a democratic system that is adhered to together. The values ​​that become local wisdom are also applied in their social behavior. In conclusion, the text of the Undang-Undang Simbur Cahaya can be a reference for national life. --- Keretakan dan ketegangan politik setelah pemilu 2014 tidak dapat hilang begitu saja bahkan menyerap ke akar rumput dan semakin dirasa dapat menggoyah kebangsaan Indonesia. Keretakan dan ketegangan politik merambat ke aspek sosial dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi masyarakat yang ingin hidup damai. Padahal selama 76 tahun keindonesiaa yang dibentuk oleh para bapak bangsa Indonesia telah membuktikan keteguhanannya dalam membangun persatuan Indonesia. Oleh sebab itu, kita harus belajar dan merefleksi cara Indonesia membangun kebangsaan melalui salah satu naskah yang berjudul Undang-Undang Simbur Cahaya. Dalam naskah itu digambarkan kuatnya membangun identitas, menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam memperkuat adat, dan pengajaran cara hidup berdemokrasi. Tujuan penelitian ini menelusuri dan menemukan bagaimana identitas dibangun dan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi kearifan lokal masyarakat Palembang dipegang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis dan interpretasi teks tersebut Dari hasil penelitian ditemukan bahwa masyarakat Palembang memiliki rasa kebangsaan kuat dan tinggi. Rasa kebangsaan itu dibuktikan dengan kuatnya identitas yang kuat didukung oleh keteguhan memegang adat, dan membangun rasa solidaritas yang tinggi dengan sistem demokrasi yang dipatuhi bersama. Nilai-nilai yang menjadi kearifan lokal juga diterapkan dalam perilaku sosialnya. Kesimpulannya naskah Undang-Undang Simbur Cahaya dapat menjadi rujukan untuk kehidupan berkebangsaan.