cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
High Waist to Height Ratio (WHtR) worsens inflammatory and adiposity profiles in adult women with abdominal obesity Etika Ratna Noer; Sophia Rose; Alifia Mukti Fajrani; Devi Elvina Rachma; I Edward Kurnia Setiawan Limijadi; Deny Yudi Fitranti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 1, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(1).30-36

Abstract

ABSTRACTBackground: Women gain weight more easily due to hormonal factors. Abdominal obesity is more at risk for metabolic disease than general obesity. Inflammation in the body is intimately linked to obesity. Adipocytokines are leptin and adiponectin, while IL-6 is a pro-inflammatory cytokine. These three biomarkers are frequently used to describe abdominal obesity individuals.Objective: This study aimed to analyze between Waist-to-Height Ratio (WHtR) with the inflammatory and adiposity profiles in adult women with abdominal obesity.Methods: This study was a cross-sectional research with a total of 88 adult women with abdominal obesity aged 25-45 years who work in the Diponegoro University area of Semarang. Samples were taken by consecutive sampling technique. A serum inflammation profile was measured using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method.Results: The mean waist circumference of the research subjects was 93.82 ± 10.64. The mean WHtR, adiponectin, leptin and IL-6 were 0.61 ± 0.07; 14.15 ± 9.71; 4.64 ± 0.79; 6.49 ± 3.19. The results of the correlation test between WHtR with adiponectin, leptin and IL-6 were (r=-0.279; p=0.005), (r=0.233; p=0.029) and (r=0.271; p=0.011). Compared with anthropometric measurements using BMI, visceral fat, and WC, the WHtR was statistically higher (p<0.05).Conclusion: WHtR was significantly negatively correlated with adiponectin and positively correlated with leptin and IL-6 KEYWORD: Abdominal Obesity; WHtR; Adiponectin; Leptin; Interleukin 6  ABSTRAK Latar Belakang: Wanita lebih mudah mengalami kenaikan berat badan karena faktor hormonal. Obesitas abdominal lebih berisiko terkena penyakit metabolik daripada obesitas umum. Peradangan dalam tubuh berkaitan erat dengan obesitas. Adipositokin merupakan leptin dan adiponektin, sedangkan IL-6 adalah sitokin pro-inflamasi. Ketiga biomarker ini sering digunakan untuk menggambarkan individu dengan obesitas abdominal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Waist-to-Height Ratio (WHtR) dengan profil inflamasi dan adipositas pada wanita dewasa dengan obesitas abdominal.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah 88 wanita dewasa dengan obesitas abdominal berusia 25-45 tahun yang bekerja di lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Profil peradangan serum diukur menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil: Rerata lingkar pinggang subjek penelitian adalah 93,82 ± 10,64. Rerata WHtR, adiponektin, leptin dan IL-6 adalah 0,61 ± 0,07; 14,15 ± 9,71; 4,64 ± 0,79; 6,49 ± 3,19. Hasil uji korelasi antara WHtR dengan adiponektin, leptin dan IL-6 adalah (r=-0,279; p=0,005), (r=0,233; p=0,029) dan (r=0,271; p=0,011). Dibandingkan dengan pengukuran antropometri menggunakan BMI, lemak visceral, dan WC, WHtR secara statistik lebih tinggi (p<0,05).Kesimpulan: WHtR secara signifikan berkorelasi negatif dengan adiponektin dan berkorelasi positif dengan leptin dan IL-6 KATA KUNCI: Obesitas Abdominal; WHtR; Adiponektin; Leptin; Interleukin 6 
Factors associated with stunting among children below five years of age: A mixed method study Mona Yulianti; Puji Nurfauziatul Hasanah; Sutisna Sutisna; Karwati Karwati; Cucum Suminar
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 2, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(2).61-70

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Indonesia saat ini menghadapi beban ganda masalah gizi pada anak salah satunya masalah stunting pada balita. Desa Sukamukti menjadi lokus prioritas stunting 2019 di Kabupaten Sumedang dengan angka kejadian 33%. Eksplorasi faktor risiko stunting perlu dilakukan untuk merancang intervensi berkelanjutan .Tujuan:Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di Desa Sukamukti Kabupaten Sumedang tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian mixed method dengan rancangan concurrent mixed method. Penelitian kuantitatif melibatkan 37 responden dan penelitian kualitatif melibatkan 2 partisipan yang merupakan ibu balita di Desa Sukamukti Kecamatan Tanjungmedar yang diambil dengan teknik Total Sampling pada bulan Juni 2020. Interpretasi status gizi diukur dengan kurva pertumbuhan WHO tinggi badan per usia pada balita. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dikembangkan dari Faktor Risiko Stunting WHO tahun 2014. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji univariat, bivariat dan multivariat. Serta dielaborasikan dengan hasil penelitian kualitatif yang dianalisis dengan metode Coalizzi.Hasil: Angka kejadian stunting di Desa Sukamukti Kabupaten Sumedang sebesar 37,8%. Faktor tinggi badan ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan risiko stunting di Desa Sukamukti (OR= 8,55; CI95%=1,8 - 39,7; p=0,006). Tinggi badan ibu yang pendek (<150 cm) mempengaruhi kejadian risiko stunting sebesar 8,55 kali.  Hasil kualitatif menghasilkan 7 tema diantaranya adalah: 1) Persepsi ibu tentang penyakit (stunting), 2) perkembangan kesehatan anak, 3). Riwayat kesehatan ibu, 4) perilaku adaptif dan maladaptif ibu selama merawat anak 5) bentuk dan sumber dukungan yang diperoleh ibu selama merawat anak, 6) Bentuk dan sumber hambatan yang ditemui ibu selama merawat anak, serta 7) respon psikologis yang ditunjukan ibu. Kesimpulan: Tinggi badan ibu menjadi determinan faktor risiko stunting dalam penelitian ini. Intervensi gizi sensitif penting untuk dilakukan dengan upaya perbaikan gizi secara komprehensif dari hulu ke hilir. Pemberdayaan remaja putri dalam meningkatkan pola hidup sehat dan gizi seimbang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mencegah stunting.  KATA KUNCI: anak; ibu; pengalaman; risiko; stuntingABSTRACTBackground: Indonesia is currently facing a duble burden of nutritional problems in children. Stunting is one of them. Sukamukti Village became the priority locus of stunting, with the prevalence of 33% in 2019. Exploration on stunting risk factors is necessary to identify sustainable interventions.Objective: This study was conducted to determine the factors associated with the risk of stunting in Sukamukti Village, Sumedang Regency, West Java, Indonesia.Methods: This study is mixed-method research with concurrent mixed-method design. The quantitative study involved 37 respondents and the qualitative study involved 2 participants who are mothers of children under five years of age in Sukamukti Village, taken using the Total Sampling technique in June 2020. Interpretation of nutritional status was measured by th WHO growth curve for height per age in toddlers. Data collected using questionnaire developed from WHO Stunting Risk Factor in 2014. Quantitative data analyzed using univariate, bivariate and multivariate tests using logistic regression. Qualitative data analyzed using Coalizzi method. Results: The quantitative study showed that 37.8% of children under five years of age were at risk of stunting. Maternal height is a factor associated with the risk of stunting in Sukamukti Village (OR = 8.55; 95% CI = 1.8 - 39.7; p = 0.006). The mother's short height (<150 cm) affects the incidence of stunting risk by 8.55 times. The qualitative results produced seven themes, including 1) Mother's perception of illness (stunting), 2) child health development, 3) Maternal health history, 4) mother's adaptive and maladaptive behavior during child care, 5) mother's form and source of support during child care, 6) mother's form and source of obstacles during child care, and 7) mother's psychological response.Conclusion: Mother's height is a determinant factors for stunting in this study. Sensitive intervention such as nutrition must be carried out with comprehensive nutrition improvement efforts. Empowering teenagers to improve a healthy lifestyle and balanced nutrition is necessary to prevent stunting.  KEYWORDS: children; mother; experience; risk; stunting
Changes in sugar, salt, and fat intake among obese adults: cohort study Shabrina, Erfin; Briawan, Dodik; Ekayanti, Ikeu; Riyadina, Woro
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 3, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(3).109-118

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Asupan gula, garam, dan lemak yang berlebih merupakan salah satu faktor risiko terjadinya obesitas dan penyakit tidak menular. Perubahan asupan gula, garam, dan lemak pada orang dewasa dengan kasus obesitas baru belum diteliti di Indonesia.Tujuan: Menganalisis pola asupan dan besaran perubahan asupan gula, garam, lemak pada orang dewasa obese selama dua tahun pemantauan. Metode: Desain pada penelitian ini yaitu studi longitudinal dengan menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Subjek pada penelitian ini yaitu penyandang obesitas baru sebesar 138 subjek. Nilai cut-off obesitas yang digunakan dalam penelitian yaitu IMT ≥25.00 kg/m2. Asupan gula, garam, dan lemak diperoleh dari food recall 1x24 jam dan FFQ. Pola asupan gula, garam, dan lemak dikategorikan menjadi meningkat atau menurun berdasarkan perbandingan asupan pada akhir penelitian dengan asupan GGL di T2 (tertile sedang) pada awal penelitian. Besar perubahan asupan gula, garam, dan lemak adalah selisih asupan gula, garam, dan lemak subjek penelitian di dua tahun pengamatan.Hasil: Mayoritas penyadang obesitas yaitu perempuan dengan rentang usia 35-44 tahun dan mempunyai kadar LDL yang tergolong tinggi. Adanya perubahan pada asupan gula, garam, dan lemak pada penyandang obesitas yang meningkat secara signifikan khususnya pada gula, dan lemak. Besar perubahan asupan gula, garam, dan lemak pada orang dewasa obese sebesar 10.5 g (p<0.05), 0.02 g (p>0.05), dan 10.7 g (p<0.05) selama dua tahun. Asupan pangan sumber gula, garam lemak seperti kue manis, minuman berpemanis, dan minuman sachet dengan penambahan gula, makanan kaleng, kecap, dan gorengan serta daging juga meningkat selama dua tahun pemantauan.Kesimpulan: Asupan gula, garam, dan lemak pada orang dewasa yang obesitas cenderung meningkat, dan kemungkinan besar dapat meningkatkan prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia. KATA KUNCI: dewasa; asupan gula-garam-lemak; obesitas; perubahan asupan; studi longitudinalABSTRACTBackground: Excessive intake of sugar, salt, and fat (SSF) is a risk factor for obesity and non-communicable diseases. Changes in sugar, salt, and fat intake in adults with new obesity cases have not been studied in Indonesia.Objective: To analyze dietary trajectories and sugar, salt, and fat intake changes in obese adults.Methods: The design of this study was a longitudinal study using secondary data from the Study on Non-Communicable Disease Risk Factors by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The subjects in this study were 138 subjects with obesity. The obesity cut-off value used in the study was BMI 25.00 kg/m2. Sugar, salt, and fat intake were obtained from food recall 1x24 hours and FFQ. The dietary trajectories of sugar, salt, and fat intake were categorized as increasing or decreasing based on the comparison of intake at the end of the study with the intake of SSF at T2 (medium tertile) at the beginning of the study. The change in the intake of sugar, salt, and fat was the difference in the subjects' intake of sugar, salt, and fat in the two years of observation.Results: The majority of obese adults were women aged 35-44 years and had high LDL levels. There was a change in the intake of sugar, salt, and fat, which increased significantly, especially sugar and fat. Changes in sugar, salt, and fat intake in obese adults were 10.5 g (p<0.05), 0.02 g (p>0.05), and 10.7 g (p<0.05) for two years. Intake of food sources of sugar, salt, and fat such as sweet food, sugar-sweetened drinks, instant powder drink with added sugar, canned food, soy sauce, fried foods, and meat also increased during the two years of monitoring.Conclusion: The intake of sugar, salt, and fat in obese adults tend to increase and is likely to increase the prevalence of obesity and non-communicable diseases in Indonesia. KEYWORDS: adult; sugar-salt-fat intake; obesity; dietary behaviour changes; longitudinal study
Maternal anxiety to visit the integrated health center and infant food intake with wasting Shofura Hanum Firdausa; Izka Sofiyya Wahyurin; Pramesthi Widya Hapsari; Hiya Alfi Rahmah; Ajeng Dian Purnamasari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 2, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(2).79-86

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pada era pandemi, kekhawatiran dan kecemasan yang ditakutkan yaitu anak dan dirinya terpapar COVID-19. Ibu yang tidak menimbang balitanya ke Posyandu dapat menyebabkan tidak terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita serta asupan makan balita. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kecemasan ibu untuk datang ke posyandu dan asupan makan balita dengan kejadian wasting di era pandemi pada wilayah kerja Puskesmas Purwokerto SelatanMetode: Penelitian menggunakan metode studi observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan pada bulan Juni-Juli 2021 dengan mengikutsertakan 64 ibu yang memiliki balita berusia 6-59 bulan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kecemasan yang dilakukan di rumah responden dan melalui telepon, kejadian wasting dilihat dari nilai z-score BB/TB balita dan recall 2x24 jam untuk melihat asupan makan balita. Analisis hasil menggunakan uji Fisher’s exact.Hasil: Sebanyak 70,3% balita berusia 6-35 bulan dan sebanyak 56,3% merupakan anak pertama. Hasil analisis menunjukkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kejadian wasting (p value = 0,125) serta antara asupan makan dengan kejadian wasting (p value = 0,406).Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara kecemasan ibu untuk datang ke posyandu dan asupan makan balita dengan kejadian wasting pada wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan.KATA KUNCI: asupan; kecemasan; posyandu; wasting ABSTRACT Background: During the pandemic, the concern and anxiety felt by the mother is the fear of the child and herself exposed to COVID-19. Mothers who do not weigh their toddlers to Integrated Health center can cause unmonitored growth and development also feeding intake of toddlers. The purpose of the study was to find out the relationship between maternal anxiety to come to Integrated Health center and infant feeding intake with wasting incident in the pandemic era in South Purwokerto Health Center working area.Methods: Observational study using a cross sectional approach was done in Teluk Village, South Purwokerto in June-July 2021. Sixty-four mothers who had toddlers aged 6-59 months were included in the study. Data collection was conducted in respondents' homes and over telephones due to the implementation of lockdown. Anthropometrics measurements were done to measure toddlers wasting status. To assess energy adequacy, a 2x24-hour recall was done. Using Fisher’s exact testResults: According to the result, 70.3% of toddlers aged 6-35 months and 56.3% received the first birth order. There was no significant association between anxiety and wasting incidence (p value = 0.125). There was no significant association between feeding intake and wasting incidence (p value = 0.406)Conclusions: There was no significant association between maternal anxiety to come to the Integrated Health center and toddler feeding intake with the wasting incident in the South Purwokerto Health Center working area. KEYWORDS: anxiety; intake; Integrated Health Center; wasting
Fe content in “dragon fruits and Moringa oleifera” milk candy for stunting toddlers Elisanti, Alinea Dwi; Rindiani, Rindiani; Ardianto, Efri Tri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 3, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(3).131-136

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Produk pangan fungsional telah menjadi trend sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini tentunya sejalan dengan fokus bidang prioritas pada Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045 terkait penerapan teknologi pengembangan nutrisi untuk mengatasi masalah stunting. Adapun salah satu kunci tren penggunaan pangan fungsional untuk permasalahan gizi adalah buah-buahan sebagai pangan fungsional. Terkait fokus stunting, selain makronutien, mikronutrien juga memegang peranan penting. Berbagai macam pangan fungsional telah di kaji, mulai dari biskuit, bubur, modisco, yogurt, susu. Namun masih sangat jarang pangan fungsional tentang produk permen susu berbahan dasar sayur dan buah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kandungan zat besi pada permen susu berbahan dasar buah naga dan daun kelor.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif laboratorium, dengan sampel penelitian adalah produk permen susu buah naga dan daun kelor yang telah melalui uji organoleptik dan hedonik. Terdapat 3 sampel dalam penelitian yang masing-masing terdiri dari tepung buah naga: daun kelor: susu sapi yaitu P1 (12:1); P2 (14:2) dan P3 (16:3) dengan penambahan susu sapi 200 ml untuk semua sampel. Adapun preparasi sampel untuk proses pengujian diambil sebanyak 0,5 mg/sampel. Analisis kandungan zat besi pada permen menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometer Hasil: Nilai rata-rata kadar zat besi pada permen adalah 393,31ppm sampai dengan 545,13 ppm. Kadar zat besi tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yaitu 545,15 ppm dan perlakuan terendah terdapat pada P2 393,31 ppm. Nilai Fe dalam permen setara dengan 0,39331 sampai 0,54515 mg. Sedangkan angka kecukupan mineral zat besi harian untuk balita usia 1-3 tahun adalah 7 mg/ hari dan balita usia 4-5 tahun 10 mg/hari.Kesimpulan: Kandungan Fe pada permen susu “Dragon Fruits and Moringa Oleifera” mencapai 1 gram/100 gr. Dalam 100 gram permen mampu memenuhi kebutuhan rata-rata mineral harian untuk balita usia 1 – 5 tahun.KATA KUNCI: Stunting; Buah Naga; Daun Kelor; Permen susu; Zat Besi ABSTRACTBackground: Functional food products have become a trend in recent years. This is in line with the focus on priority areas in the 2017-2045 National Research Master Plan related to the application of nutrition development technology to overcome stunting problems. One of the key trends of using functional food for nutritional problems is fruit as a functional food. Regarding the stunting focus, various kinds of functional foods have been studied, ranging from biscuits, porridge, modisco, yogurt, milk. However, functional foods are still very rare regarding milk candy products made from vegetables and fruit.Objectives: This study aims to analyze the iron content in “Dragon Fruits and Moringa Oleifera” milk candy made from dragon fruit and Moringa leavesMethods: The research design used is a descriptive laboratory study, with the research samples being dragon fruit milk candy and Moringa leaves that have been through organoleptic and hedonic tests. There were 3 samples in the study, each of which consisted of dragon fruit flour: Moringa leaves: cow's milk, namely P1 (12:1); P2 (14:2) and P3 (16:3) with the addition of 200 ml of cow's milk for all samples. The sample preparation for the testing process taken as much as 0.5 mg/sample. Analysis of iron content in candy using Atomic Absorption Spectrophotometer.Results: The average value of iron reached 393.31 ppm to 545.13 ppm. The highest iron content was found in the P2 treatment, namely 545.15 ppm and the lowest treatment was found at P2 393.31 ppm. The Fe value in milk candy is equivalent to 0.39331 to 0.54515 mg. While the daily mineral adequacy rate for toddlers aged 1-3 years is 7 mg/day and toddlers aged 4-5 years is 10 mg/day.Conclusions: The Fe content in “Dragon Fruits and Moringa Oleifera” milk candy reaches 1 gram/100gr. In 100 grams of candy can meet the average daily mineral needs for toddlers aged 1-5 years.KEYWORD: Stunting; Dragon Fruit ; Moringa leaves; Milk candy; Iron 
Gross domestic product and geographic area as social determinants of child stunting and severe stunting in Indonesia: A multilevel analysis Siswati, Tri; Waris, Lukman; Paramashanti, Bunga Astria; Kusnanto, Hari; Susilo, Joko
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 3, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(3).87-99

Abstract

Background: In Indonesia, socioeconomic disparities in childhood stunting is vast.Objectives: This study aimed to analyze the social determinants of stunting and severe stunting children in Indonesia.Methods: We analyzed data from cross-sectional surveys of Indonesia’s National Basic Health Research in 2013, the Central Bureau of Statistics, and the Ministry of Finance. Our samples were 3953 children aged 6-23 months and 10215 children aged 24-59 months. Dependent variables were the prevalence of child stunting and severe stunting. Independent variables covered factors at the social level while controlling structural and biological level-factors. Data were analyzed using multilevel analysis using generalized linear mixed models (GLMM).Results: Gross domestic product was associated with the reduced risk of stunting among children aged 6-23 months (ARRR= 0.99; 95%CI: 0.98-1.00) and 24-59 months (ARRR= 0.99; 95%CI: 0.97-0.99) as well as with the decreased risk of severe stunting among 6-23 months (ARRR= 0.99; 95%CI: 0.98-1.00) and 24-59 months (ARRR= 0.99; 95%CI: 0.97-0.99) old children. Tax ratio was a significant factor only for the severe stunting among 24-59 months old children (ARRR= 0.98; 95%CI: 0.96-0.99). There was also a geographical difference related to stunting and severe stunting.Conclusions: Equitable economic growth is an essential factor to improve the health and welfare of stunting and severe stunting children across the geographical setting in Indonesia. 
Nutrient and hedonic value in cookies with Moringa leaf fortification (Moringa oleifera) Rostika Flora; Karin Zikra Nisya; Indah Yuliana; Sugito Sugito
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 2, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(2).71-78

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi pada balita. Balita dengan status gizi kurang memiliki sistem imunitas yang lemah sehingga rentan terhadap penyakit. Sehingga, perlu memperhatikan sumber makanan yang dapat membantu pemeliharaan sistem imun balita. Daun kelor diketahui memiliki kandungan polifenol yang berperan sebagai antioksidan. Antioksidan berperan untuk meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan penyakit infeksi.Tujuan: Penelitian ini bertujun untuk mengetahui kandungan polifenol dan total fenol pada cookies daun kelor formula terpilihMetode: Penelitian ini  bersifat eksperimental dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 4 perlakuan penambahan tepung daun kelor pada pembuatan cookies yaitu, 0 gram, 3 gram, 5 gram, dan 7 gram. Dilakukan pemeriksaan kandungan  polifenol dan total fenol pada cookies daun kelor formula terpilih. Analisis kimiawi dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Politeknik Negeri Lampung. Analisis data hasil organoleptik menggunakan uji Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann Whitney. Sedangkan analisis data laboratorium menggunakan uji one-way ANOVA.Hasil: Hasil uji organoleptik yang dilakukan oleh 25 orang panelis semi terlatih diperoleh bahwa formulasi F1 yaitu penambahan tepung daun kelor sebanyak 3 gram merupakan formulasi yang paling disukai. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata pada penambahan formulasi tepung daun kelor terhadap parameter warna dan rasa cookies. Sedangkan, pada parameter aroma dan tekstur tidak berpengaruh nyata. Cookies formulasi terpilih F1 memiliki kadar air 3,24%, kadar abu 2,13%, total fenol 9,25 mgGAE/g eks, dan positif (+) memiliki kandungan polifenol.Kesimpulan: Cookies daun kelor formula F1 memiliki kandungan polifenol dengan total fenol sebesar 9,25 mgGAE/g eks. KATA KUNCI : gizi kurang; tepung daun kelor; polifenol; antioksidan ABSTRACT Background: Infectious diseases are one of the factors that cause nutritional problems in toddlers. Children with poor nutritional status have a weak immune system, so they are more susceptible to disease, thus it is necessary to pay attention to food sources that can help maintain the immune system. Moringa leaves are known to contain polyphenols that act as antioxidants. Antioxidants have a role in strengthening immunity to fight infectious diseases.Objectives: This study aim is to determine the polyphenols and total phenols content in selected moringa leaf cookies formula.Method: This research is an experimental study with the Completely Randomized Design (CRD) method. Moringa leaf flour was added to the cookie dough and divided into four groups that contained 0 grams, 3 grams, 5 grams, and 7 grams Moringa leaf flour. The polyphenols and the total phenol content in the moringa leaf cookies formula were then tested. Chemical analysis was carried out at the Food Technology Laboratory in Lampung Polytechnic. Organoleptic analysis results data were processed with the Kruskal-Wallis test and Mann Whitney follow-up tests and laboratory data analysis with a one-way ANOVA test.Results: Organoleptic test results conducted by 25 semi-trained panellists showed that the F1 formulation formulation with 3 grams Moringa leaf flour is the most preferred. Kruskal-Wallis test results showed a noticeable effect on adding moringa leaf flour formulations to the cookie color and taste parameters and no real effect on smell and texture parameters. Cookies with F1 formulation had a moisture content of 3.24%, ash content of 2.13%, total phenol 9.25 mgGAE / g ex, and positive (+)polyphenol content.Conclusion: Moringa leaf cookies with F1 formula have polyphenol content with a total phenol of 9.25 mgGAE / g ex. KEYWORDS: malnutrition; moringa leaf flour; polyphenols; antioxidant
The consumption of protein, zinc, and vitamin a associated with ferritin levels in pregnancy Siregar, Eka Darmayanti Putri; Amir, Arni; Irawati, Nuzulia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 3, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(3).100-108

Abstract

 ABSTRAKLatar Belakang: Permasalahan gizi dalam kehamilan berupa defisiensi makronutrien, mikronutrien, dan anemia. Kejadian anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2019 dan Riskesdas 2018 adalah 44,2% dan 48,9%. Persentase kasus anemia pada ibu hamil di Sumatera Barat dan Kota Padang tahun 2019 adalah 18,10% dan 11,2% dengan penyebab antara lain defisiensi makronutrien dan mikronutrien dan pola konsumsi. Defisiensi besi dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan kadar ferritin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan asupan protein, asupan zink, dan  vitamin A dengan kadar ferritin ibu hamil trimester III.Metode: Penelitian analitik cross sectional ini dilaksanakan di Puskesmas Lubuk Kilangan dan Laboratorium Biomedik Universitas Andalas pada November 2021-Juli 2022. Subjek penelitian sebanyak 64 orang ibu hamil trimester III dan teknik sampling menggunakan total sampling. Asupan protein, zink, dan vitamin A diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner SQ-FFQ dan kadar ferritin diperiksa dengan metode ELISA. Uji normalitas data mengunakan Kolmogorov Smirnov sementara analisis bivariat dan multivariat menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linear (p<0,05). Hasil: Rerata asupan protein adalah 92.56 gr, asupan zink 7.35 mg, vitamin A 824,98 µgRE dan kadar ferritin 16,267 µg/L. Asupan protein (p=0,001; r= 0,714), zink (p=0,001; r=0,428) dan vitamin A (p=0,001; r=0,531) memiliki hubungan bermakna dengan kadar ferritin. Hasil uji regresi linear menunjukkan asupan protein merupakan factor yang paling berhubungan dengan kadar ferritin (p= 0,001; β=0,598).Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan bermakna antara asupan protein, zink, dan vitamin A dengan kadar ferritin ibu hamil trimester III. Pada kelas ibu hamil perlu diberikan edukasi gizi mengenai jenis dan peran gizi dalam mencegah anemia dan defisiensi besi  KATA KUNCI: asupan protein;  ferritin; kehamilan; vitamin A; zink;   ABSTRACTBackground: Macronutrient and micronutrient deficiencies, as well as anemia, are nutritional issues during pregnancy. According to WHO in 2019 and Basic Health Research in 2018, 44.20% and 48.90% of pregnant women in Indonesia were anemic. In 2019 there were 18.10% and 11.20% respectively of pregnant women who were anemic in West Sumatra Province and Padang City. Macro and micronutrient deficiencies as well as poor eating habits were the main causes of anemia in pregnancy. A trustworthy sign to detect iron deficiency anemia was the ferritin level.Objectives: This research aimed to determine the association between protein, zinc, and vitamin A consumption  with ferritin level in third trimester of pregnancy.Methods: This analytical cross-sectional research was held in Lubuk Kilangan Health Center and the Biomedical Laboratory of Andalas University on November 2021-July 2022. The subject were 64 third trimester pregnant women. Protein, zinc, and vitamin A consumption were obtained by the SQ-FFQ questionnaire and the ferritin levels were examined by ELISA method. Normality test used Kolmogorov Smirnov. The bivariate and multivariate analysis used Pearson correlation and linear regression (p <0,05).Results: The mean level of protein, zinc, and vitamin A consumption  were 92.56 g, 7.35 mg and 824.98 µgRE and ferritin level 16.26 µg/L. Protein (p=0.001; r=0.771), zinc (p=0.001; r=0.428) and vitamin A consumption (p=0.001; r=0.531) were significantly associated with ferritin levels. The linear regression test revealed protein consumption was the most associated factor with ferritin levels (p = 0.001; β= 0.598).Conclusions: There was a significant association of protein, zinc, and vitamin A consumption with ferritin levels in third trimester of pregnancy. Nutritional education about the types and roles of nutrients should be given to pregnant women in the antenatal class to prevent anemia and iron deficiency. KEYWORD: ferritin; protein; pregnancy; vitamin A consumption; zinc
Scaling-up the role of housewives peer group activists as an effective promotor in early detection and prevention of malnutrition Sri Achadi Nugraheni; Apoina Kartini; Naila Fauziatin; Rizki Septia Saraswati; Niken Wening
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 2, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(2).46-52

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Angka kejadian gizi buruk di Indonesia maupun di Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang masih tinggi. Masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan terkait gizi di kalangan masyarakat, termasuk Aktivis Dasa Wisma. Salah satu alasan lainnya adalah kurangnya promotor gizi di tengah masyarakat, tokoh yang seharusnya berkaitan erat dengan kelompok sasaran, yaitu balita gizi buruk (stunting). Tujuan penelitian ini adalah melatih promotor gizi yang dapat melakukan deteksi dini dan pencegahan gizi buruk dengan baik dan efisien di tingkat Dasa Wisma sebagai upaya pencegahan stunting di tingkat masyarakat.Metode: Studi intervensi dengan rancangan kohort time series prospektif pada dua kelompok digunakan dalam penelitian ini. Tahapan kegiatannya adalah persiapan lapangan berupa Training of Trainer (TOT) bagi petugas gizi dan aktivis Dasa Wisma (66 aktivis terpilih), pengadaan sarana antropometrik penentuan status gizi, media, dan pelatihan bagi enumerator.Hasil: Aktivis Dasa Wisma yang dilatih mengalami peningkatan pengetahuan terkait gizi dan malnutrisi sebesar 2,66 poin (p<0,05) dan peningkatan keterampilan terkait pengukuran status gizi sebesar 0,68 poin (p<0,05).Kesimpulan: Peran Aktivis Dasa Wisma sangat penting untuk membantu ibu balita dalam melakukan pemantauan gizi anaknya; Selanjutnya, diharapkan semua ibu balita menyadari dan mempraktekkan keterampilan yang telah diperoleh untuk mencegah kejadian stunting sejak dini. KATA KUNCI: malnutrisi; stunting; pelatihan; Dasa Wisma; Promotor KesehatanABSTRACTBackground: The incidence of malnutrition in Indonesia especially in Central Java Province and in Semarang City is still high. The problem was due to lack of awareness and knowledge related to nutrition in the community, including Housewives Peer Group Activists. Another reason is due to the absence of nutrition promotors, persons who are closely related to the target group, under five children who were stunted. The objective of this study was to train efficient promotors in doing early detection and prevention of malnutrition at Housewives Peer Group Activists level as an effort to prevent stunting at the community level. Methods: An intervention study with a case control design in two groups used in this study. The stages of the activities were field preparation in the form of training of trainers (TOT) for nutrition officers and Housewives Peer Group Activists (66 activists selected), procurement of anthropometric infrastructure for determining nutritional status, media, and training for enumerator. Results: Housewives Peer Group Activists being trained had an increase in knowledge by 2.66 points (p <0.05) and an increase in skills related to measuring nutritional status by 0.68 points (p <0.05). Conclusion: The role of Housewives Peer Group Activists is very important in assisting mothers of children under five in conducting monitoring of their children’s nutrition; furthermore, it is hoped that all mothers of children under five realize and practice the skills they have acquired to prevent stunting.  KEYWORD: malnutrition; stunting; training; housewives peer group activist; health promotor
Quality of consumption and nutritional status of preschool children Agnes Meila Candrasari; Putri Ronitawati; Prita Dhyani Swamilaksita; Mertien Sa&#039;pang
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 10 ISSUE 2, 2022
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2022.10(2).53-60

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Usia prasekolah di Indonesia berkisar antara 3-6 tahun yang dimana pada masa ini telah memasuki masa growth plateau. Pada usia inilah kebiasaan anak mulai terbentuk, salah satunya adalah kebiasaan makannya. Hasil Riskesdas 2018 balita di Indonesia memiliki prevalensi status gizi sangat kurus, gizi buruk 10.2% dengan rincian 3.5% sangat kurus, status gizi kurang 6.7%, dan gizi lebih 8%. Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi adalah asupan makanan dan saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa anak bisa makan apa saja tanpa memperhatikan kualitasnya.Tujuan: Menganalisis hubungan antara kualitas konsumsi terhadap status gizi anak prasekolah di Kelurahan Sukabumi Selatan.      Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional dengan sampel 47 anak prasekolah dari TK An Nurmaniyah dan RA Al Ma’mur. Teknik analisis data menggunakan uji Chi Square. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Food Record 3x24 jam yang akan dianalisis menggunakan metode Diet Quality Index - International (DQI-I) dengan bantuan Microsoft excel 2013 dan untuk status gizi diukur menggunakan timbangan berat badan digital dan microtoise.Hasil: sebanyak 91,5% anak usia prasekolah dalam penelitian ini memiliki kualitas konsumsi yang rendah dan sebanyak 57,4% berstatus gizi normal dengan pendapatan orang tua dalam kategori lebih dari 4 juta sebanyak 51,1%. Hasil penelitian menyatkan bahwa tidak ada hubungan antara kualitas konsumsi dengan status gizi anak prasekolah di Kelurahan Sukabumi Selatan (p=0.298, p>0.05). Hal tersebut dikarenakan ada faktor lain selain kualitas konsumsi yang mempengaruhi status gizi anak prasekolah, seperti status infeksi, pola konsumsi rumah tangga dan akses pangan.Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa kualitas konsumsi tidak berhubungan dengan status gizi anak prasekolah di Kelurahan Sukabumi Selatan KATA KUNCI: anak prasekolah; DQI-I; kualitas konsumsi; status gizi ABSTRACTBackground: Preschool age in Indonesia ranges from 3-6 years which in this period has entered a growth plateaua. At this age that children's habits begin to form, one of which is eating habits which include eating habits. The results of Riskesdas 2018 under five years in Indonesia have a prevalence of very thin nutritional status, of 3.5% for malnutrition, 6.7% for underweight nutritional status, and 8% obesity. One of the many factors that affect nutritional status is food intake and currently, there are still many people who think that children can eat everything without regardless of the quality.Objectives: To analyze the relationship between quality of consumption on the nutritional status of preschool children in Kelurahan Sukabumi Selatan.Materials and Methods: This research using a cross-sectional design with the sampels are 47 preschool children from An Nurmaniyah Kindergarten and RA Al Ma'mur. Data analysis technique using Chi Square test. Data was collected using a 3x24 hours Food Record which will be analyzed using the Diet Quality Index - International (DQI-I) method with the Microsoft Excel 2013 and nutritional status was measured using a digital weight scale and microtoise.Results: Most of preschool-aged children in these two kindergartens have low quality of consumption as much as 91.5% and have normal nutrition status as much as 57.4% with their parents’ income in the category of more than 4 million as much as 51.1%. The result stated there is no relationship between the quality of consumption and the nutritional status of preschool-aged children in Kelurahan Sukabumi Selatan. (p=0.298, p>0.05). This is because any other factors besides the quality of consumption that affect the nutritional status of preschoolers, such as infection status, household consumption patterns and access to food.Conclusion: It can be concluded that the quality of consumption is not relationship between the nutritional status of preschool children in Kelurahan Sukabumi Selatan. KEYWORDS: DQI-I; nutritional status; preschool children; quality of consumption.