cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
The effect of giving dates towards Low-Density Lipoprotein on experimental test: A systematic literature review Siti Ummubella Habiba; Endah Budi Permana Putri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).1-10

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan kadar kolesterol terutama kadar LDL sering dijumpai pada masyarakat umum. Tingginya kadar LDL sering dikaitkan dengan berbagai permasalahan kesehatan seperti Atherosklerosis, Stroke, dan lain sebagainya. Upaya untuk menurunkan kadar LDL terus dilakukan baik dengan menggunakan terapi obat-obatan ataupun terapi alternatif. Para peneliti telah menemukan adanya efek antikolesterol pada buah kurma. Kandungan senyawa penting seperti plant sterol, flavonoid, dan serat pada buah kurma sangat berperan terhadap penurunan kolesterol darah.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian kurma terhadap kadar LDL pada uji eksperimental hewan coba tikus dan manusiaMetode: Metode penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review. Sebanyak 133 artikel menggunakan keywords “The effect” AND “dates” AND “LDL” AND “rats” AND “humans” AND “RCT”. Terdapat 7 artikel eksperimental dengan Randomized Controlled Trial (inklusi) yang dipublikasikan melalui Pubmed, Google Scholar, Sciencedirect, EBSCO. Perlakuan intervensi pada hewan uji coba keseluruhan menggunakan ekstrak kurma dengan rata-rata 630,76 mg/kgBB selama 8-15 hari. Sedangkan, responden manusia mengkonsumsi buah kurma dengan rata-rata 70 g/hari selama 21-28 hari.Hasil: Analisis secara deskriptif yang dilakukan pada berbagai artikel bahwa mayoritas pemberian kurma pada subjek hewan uji coba tikus menunjukkan hasil uji p<0,05 yaitu adanya pengaruh signifikan terkait penurunan kadar LDL. Selain itu, mayoritas hasil pada subjek manusia menunjukkan hasil uji p<0,05 yaitu adanya pengaruh signifikan terkait penurunan kadar LDL.Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan untuk dapat mengkonsumsi kurma 7 buah per hari (100 g) dan menerapkan asupan makan dengan tinggi serat, vitamin dan mineral serta memberikan informasi gizi terkait pangan fungsional (kurma) dalam mengurangi tingkat risiko keparahan penyakit.KATA KUNCI: kurma; Low Density Lipoprotei; Randomized Controlled Trial  ABSTRACTBackground: Increased cholesterol levels, especially LDL levels, are often found in the general public. High levels of LDL are often associated with various health problems such as Atherosclerosis, Stroke, and so on. Efforts to reduce LDL levels continue to be made either by using drug therapy or alternative therapies. Researchers have found an anti-cholesterol effect in dates. The content of important compounds such as plant sterols, flavonoids, and fiber in dates plays a very important role in reducing blood cholesterolObjectives: To analyze the effect of dates on LDL levels in experimental animal rats and humansMethods: his research method uses a Systematic Literature Review. A total of 133 articles used the keywords "The effect" AND "dates" AND "LDL" AND "rats" AND "humans" AND "RCT". There are 7 experimental articles with Randomized Controlled Trial (inclusion) published through Pubmed, Google Scholar, Science direct, EBSCO. The overall intervention treatment in experimental animals used date palm extracts with an average of 630.76 mg / kgBB for 8-15 days. Meanwhile, human respondents consumed dates with an average of 70 g / day for 21-28 days.Results: escriptive analysis carried out on various articles showed that the majority of dates given to rat experimental animal subjects showed p <0.05, which was a significant effect related to the reduction of LDL levels. Also, the majority of the results on human subjects showed p <0.05, which was a significant effect on the reduction of LDL levels.Conclusions: From the results of this study, it can be suggested to be able to consume 7 dates per day (100 g) and to implement a diet high in fiber, vitamins and minerals and provide nutritional information related to functional foods (dates) in reducing the risk level of disease severity.KEYWORDS: dates; Low Density Lipoprotein; Randomized Controlled Trial 
The addition of snakehead fish (Channa Striata) and bitter ginger (Zingiber zerumbet L) to fish floss Windawati Dewi; Tri Marta Fadhilah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).27-39

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Abon ikan merupakan jenis makanan olahan yang terbuat dari ikan yang diberi beberapa bumbu, cara pengolahannya dengan pengukusan dan penggorengan. Ikan gabus mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan jenis ikan lainnya. Lempuyang gajah dapat digunakan untuk obat gatal, perut nyeri, disentri, sesak nafas, wasir, cacing dan penambah nafsu makan. Tujuan: Untuk menganalisis skor dan uji perbedaan pada uji inderawi, uji hedonik, kadar albumin, kadar air, dan kadar abu pada abon ikan gabus dengan lempuyang gajah. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 2 faktor 3 taraf perlakuan terdiri dari daging ikan gabus 90%, 80%, 70% dan lempuyang gajah 10%, 20%, 30%. Hasil: Hasil skor uji inderawi dari indikator aroma, tekstur, dan rasa tertinggi pada formula 1 (90% ikan gabus : 10% lempuyang gajah) dan dari indikator warna tertinggi pada formula 2 (80% ikan gabus : 20% lempuyang gajah). Sedangkan uji beda inderawi menggunakan analisis Kruskall Wallis untuk uji beda inderawi didapatkan hasil yang memiliki perbedaan signifikan yaitu aroma,tekstur dan rasa (P-Value < 0,05). Uji hedonik tertinggi di masyarakat umum termasuk dalam kategori suka (77%) dengan perbandingan  ikan gabus 70% dan lempuyang gajah 30%, sedangkan pada mahasiswa gizi termasuk dalam kategori suka (69,57%) dengan perbandingan ikan gabus 80% dan lempuyang gajah 20%. Dari hasil penelitian ini untuk kandungan albumin tertinggi pada formula 1 sebesar 2,57%, kadar air ketiga formula belum sesuai dengan SNI 01-37707-1995 dan kadar abu ketiga formula sudah sesuai dengan SNI  01-37707-1995 pada produk abon. Kesimpulan: abon ikan gabus dengan lempuyang gajah dapat diterima oleh masyarakat.KATA KUNCI: abon ikan; albumin; ikan gabus; lempuyang gajahABSTRACTBackground: Fish Floss is a type of processed food made from seasoned fish, which is processed by steaming and frying. Snakehead fish contain higher protein than other fish. Bitter ginger can be used for itching medicine, stomach pain, dysentery, asphyxiate, hemorrhoids, worm disease and appetite enhancer. Objectives: For analyzing scores and test differences in sensory test, hedonic test (preference), albumin content, water content, and ash content in Snakehead fish with the addition of Bitter Ginger.Methods: The research design that was used was experimental with 2 factors 3 treatment levels consisting of 90%, 80%, 70%  snakehead fish’ meat and 10%,20%,30% bitter ginger. Results: the result of sensory test scores from indicators of the aroma, texture, and highest test in formula 1 (90% snakehead fish: 10% bitter ginger) and from the highest color in formula 2 (80% snakehead fish: 20 % bitter ginger). Meanwhile, the sensory difference test using Kruskal Wallis analysis for sensory difference test showed that the result had significant differences such as aroma, texture and taste (P-Value <0,05). While the highest hedonic test in general public was included in like category (77%) with the ratio of  70% snakehead fish and 30% bitter ginger, in nutritional science department students were included in like category (69.57%) with the ratio of 80% snakehead fish and 20% bitter ginger. From the result of this research for highest albumin content in formula 1 was 2.57%, water content for all formulas are not appropriate with SNI 01-37707-1995 in fish floss products because it has more than 7% and ash content for all formulas are already appropriate with SNI 01-37707-1995 was less than 7%. Conclusions: Fish floss with the addition of bitter ginger can be accepted by society. KEYWORDS:  albumin; Bitter ginger; fish floss; Snakehead fish
The status of dietary diversity score among school-aged children between rural and urban areas Pramesthi Widya Hapsari; Katri Andini Surijati; Windri Lesmana Rubai
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).11-18

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Bagi anak sekolah dasar (SD) status gizi yang cukup akan menunjang kemampuan akademiknya di sekolah. Akan tetapi, disaat pembatasan social berskala besar (PSBB) berlaku pengukuran status gizi tidak mungkin dilakukan karena dapat meningkatkan resiko penularan.Tujuan: mengetahui status gizi anak sekolah dasar (SD) menggunakan skor keberagaman makanan.Metode: Metode cross sectional digunakan pada penelitian ini dengan mengikutsertakan 58 pasang ibu dan siswa SD di wilayah Banyumas. Pengambilan data keberagaman makanan dilakukan menggunakan kuesioner online melalui google form. Uji analisis yang digunakan adalah uji chi square.Hasil: Rata-rata siswa SD di Kabupaten Banyumas mengonsumsi 6 kelompok makanan dalam sehari dimana kelompok makanan yang sangat jarang dikonsumsi adalah kelompok daging yaitu sebesar 17.2%. Tiga kelompok makanan yang paling sering dikonsumsi adalah kelompok susu (74.1%), telur (67.2%) dan kacang-kacangan (62.1%). Berdasarkan hasil analisis bivariat, tidak ada perbedaan yang signifikan antara keberagaman makanan siswa SD di wilayah perkotaan dan perdesaan. Namun ada kecenderungan siswa yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki skor keberagaman yang lebih tinggi.Kesimpulan: Tidak ada perbedaan antara keberagaman makanan antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Banyumas. Namun ada kecenderungan bahwa siswa di wilayah SD lebih beragam.KATA KUNCI: COVID 19; keberagaman makanan; perdesaan dan perkotaan; siswa SD ABSTRACTBackground: School-aged children should maintain a better nutritional status to ensure the quality of their academic performance. However, during pandemic COVID 19 the weight and height measurement could increase the risk of spreading the virus.Objectives: To determine the the indicators of school-aged children’s nutritional status using dietary diversity score (DDS).Methods: In total 58 pairs of mothers and children were included in a cross-sectional study. The data of dietary diversity was collected using an online questionnaire through a google form. The chi-square analysis was used to assess the significant differences.Results: On average, school-aged children consumed six food groups a day. The three most consumed food groups were oil and fats, sweet and dark leafy vegetables, namely 51, 56, and 53 students respectively. There was a significant difference in the consumption of fresh meat and other fruits between urban and rural areas. Based on bivariate analysis, there was no significant difference in DDS within students’ characteristics. However, there was a better DDS trend within fathers’ occupation, mothers working status, and mothers’ knowledge level.Conclusions: There was a tendency that plant-based food was mostly consumed in rural areas and animal-based food was mostly consumed in urban areas. Furthermore, the study confirmed parental factors on students' food consumption.KEYWORDS: COVID 19; dietary diversity score; urban dan rural; school-aged children
The relation between “Picky Eating” behavior and nutritional status of pre-school children Dian Isti Angraini; Rizki Arisandi; Emantis Rosa; Reni Zuraida
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).49-55

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Picky eating dicirikan sebagai penolakan terhadap jenis makanan tertentu. Perilaku makan ini berpotensi menyebabkan masalah pada status gizi karena asupan makan yang tidak adekuat. Status gizi yang bermasalah ini dapat menyebabkan berbagai gangguan, kekurangan gizi menyebabkan perkembangan fisik dan mental tertunda, menurunkan kapasitas intelektual dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, sedangkan kelebihan nutrisi meningkatkan kerentanan terhadap penyakit metabolik dan kardiovaskular. Tujuan: Menentukan prevalensi picky eating dan hubungan picky eating dengan status gizi anak prasekolah di Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional. Sampel terdiri atas 160 anak prasekolah berusia 36-72 tahun (3-6 tahun) pada PAUD di Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung. Sampel diambil menggunakan metode Multistage Random Sampling dan dianalisis menggunakan uji Chi Square.Hasil: Sebanyak 100 anak (62,5%) teridentifikasi sebagai picky eater. Sebanyak 21 anak (13,1%) memiliki status gizi kurus berdasarkan IMT/U, 118 anak (73,8%) normal, dan 21 anak (13,1%) tergolong gemuk. Secara statistik, tidak ada hubungan antara perilaku makan picky eating dengan status gizi anak prasekolah dengan nilai p = 0,914.Kesimpulan: Prevalensi picky eating sebesar 62,5% dan tidak ada hubungan antara picky eating dengan gizi anak prasekolah di Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung.KATA KUNCI: picky eating; prasekolah; status gizi ABSTRACTBackground: Picky eating is characterized by the refusal of a certain type of food. This eating behavior potentially causes a nutritional status problem because of inadequate intake of food. This nutritional status can lead to many problems, undernutrition causes delayed mental and physical development, decrease intellectual capacity, and higher susceptibility to disease, while overnutrition increases the susceptibility of metabolic and cardiovascular diseases.Objectives: This study aims to determine the prevalence of picky eating and the relation of picky eating behavior and nutritional status of pre-school children in Rajabasa Bandar Lampung.Methods: This study uses a quantitative method with a cross-sectional approach. The sample consisted of 160 pre-school children aged 36-72 months (3-6 years) in kindergartens located in the Rajabasa subdistrict, Bandar Lampung. Sampling was done by multistage random sampling and the data were analyzed by chi-square test.Results: As many as 100 preschool children (62.5%) were identified as picky eaters. A total of 21 children (13.1%) were classified as thin by BMI/Age nutritional status, 118 children (73,8%) were normal, and 21 children (13.1%) were overweight. Statistically, picky eating behavior is not related to the nutritional status of preschool children with a p-value = 0.914.Conclusions: The prevalence of picky eating is 62.5% and there is no relation between picky eating behavior and the nutritional status of pre-school children in Rajabasa Bandar Lampung. KEYWORDS: nutritional status; picky eating; preschool
The effectiveness of Jicama Yogurt (Pachyrhizus erosus) to Lipid Profile and Triglyceride Levels Hasneli Hasneli; Kasmiyetti Kasmiyetti; Fitria Mushollini; Susi Rahmayeni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).94-99

Abstract

ABSTRACTBackground: Cardiovascular disease is the number one cause of death in the world. One of the causes is hypercholesterolemia. The management of hypercholesterolemia can be done through non-pharmacological efforts by consuming hypocholesterolemic foods, including jicama and probiotic drinks. Probiotic and jicama drinks contain active compounds inulin and lactic acid bacteria which can control total cholesterol levels.Objectives: to determine the effectiveness of jicama yogurt probiotics on lipid profile and trygliceride levels of hypercholesterolemic employees of the Campus I Health Polytechnic of the Ministry of Health Padang.Methods: This study used a quasi-experimental study with pre-posttest design. The sample was 18 people from the Campus I Health Polytechnic of the Ministry of Health Padang with hypercholesterolemia, the study was conducted in January - November 2019. Respondents were given 120 ml of jicama yogurt probiotic for 14 days. Analysis using the dependent t-test.Results: The results showed that the average initial total cholesterol level was 218.33 mg/dL, HDL 51.11 mg/dL, LDL 145.11 mg/dL, triglycerides 111.39 mg/dL and the final total cholesterol level was 217.78 mg/dL, HDL 56.67 mg/dL, LDL 139.56 mg/dL, Triglycerides 109.22 mg/dL. The average reduction in total cholesterol levels in the group was 0.56 mg/dL, LDL was 5.56 mg/dL, triglycerides 2.17 mg/dL, an average increase in HDL levels was 5.56 mg/dL. The results of statistical tests showed that there was a significant difference between HDL levels before and after intervention (p 0.05).Conclusion: Jicama yogurt probiotics are more effective in positively modifying the lipid profile levels. Jicama yogurt probiotic can be used as an alternative complementary therapy for hypercholesterolemic sufferers.KEYWORDS: Hypercholesterolemia; jicama; Lipid profile; probiotics
Effect of nutrition counseling and self-monitoring mobile application (MyFitnessPal) on iron and calcium intake among overweight and obese college students Eka Nuryandini; Arif Sabta Aji; Sorra Milwayani Septiyana; Esti Nurwanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).68-76

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Prevalensi obesitas terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Penelitian terkini memperlihatkan bahwa orang dengan status gizi obesitas cenderung memiliki asupan kalsium dan kadar serum besi lebih rendah dibandingkan dengan orang yang memiliki status gizi normal. Pengaturan pola makan yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi obesitas. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian asupan makan pada individu obesitas dengan memanfaatkan kombinasi konseling gizi dan pengendalian asupan makanan harian dengan bantuan aplikasi self-monitoring (MyFitnessPal).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asupan zat besi dan kalsium pada subyek overweight dan obesitas dan pengaruh penggunaan konseling gizi dan aplikasi self-monitoring asupan (MyFitnessPal).Metode: Rancangan penelitian experimental dibuat dengan pretest-posttest with control group design pada 68 mahasiswa (32 mahasiswa setiap kelompok) di Universitas Alma Ata Yogyakarta. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney.Hasil: Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara asupan zat besi sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok eksperimen (p=0,001) sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,417). Ada perbedaan yang signifikan antara asupan kalsium sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok eksperimen (p=0,002) sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,126). Terdapat perbedaan yang signifikan pada asupan zat besi (p=0,005) dan kalsium (p=0,001) antara kelompok eksperimen dan kontrol.Kesimpulan: Ada pengaruh konseling gizi dan self-monitoring asupan (MyFitnessPal) memengaruhi asupan zat besi dan kalsium pada mahasiswa overweight dan obesitas.KATA KUNCI: asupan kalsium; asupan zat besi; konseling gizi; MyFitnessPal; self-monitoring  ABSTRACT Background: Prevalence of obesity gradually increasing in the worldwide. People who had obesity status tend to have lower calcium and iron intake levels compared to non-obese people. Unhealthy diet practice is one of the causes of high prevalence of obesity. Therefore, it is necessary to control food intake of obese individuals by utilizing a combination of nutritional counseling and monitoring food intake using mobile apps MyFitnessPal.Objectives: This study aimed to determine intake of iron and calcium among overweight and obese student and whether effect of nutritional counseling and self-monitoring mobile application (MyFitnessPal) associated with their food intake.Methods: This experimental study was made by pretest-posttest with control group design. Of 68 students (34 subjects in each groups) at Alma Ata University Yogyakarta were recruited. Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann Whitney test created to assess the statistical analysis.Results: The results of this study found that there was a significant difference between iron intake before and after the intervention in the experimental group (p = 0.001), however, there was not significant difference in the control group (p = 0.417). There was a significant difference between calcium intake before and after intervention in the experimental group (p = 0.002), but not in the control group (p = 0.126). This study found a significant difference between intake of iron (p = 0.005) and calcium (p = 0.001) in each group.Conclusions: Using mobile apps for self-monitoring intake in combination with nutritional counseling could be considered as it was proven to be associated with iron and calcium intake among overweight and obese students in this study. Further studies are required to confirm our findings.KEYWORDS: calcium intake; iron intake; MyFitnessPal; nutrition counselling; self-monitoring
Relationship of food consumption pattern with goiter incidence in farmers Ahshaina Ramadhaningtiyas; Yulia Lanti Retno Dewi; Sugihardjo Sugihardjo
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).100-109

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dapat menghambat peningkatan mutu sumber daya manusia. Penyebab kekurangan iodium yaitu rendahnya asupan iodium yang dapat menyebabkan ekskresi hormon tiroid tidak maksimal, paparan polusi lingkungan dan zat goitrogenik alami dalam bahan makanan. Keadaan alam di Kecamatan Kismantoro didominasi dengan tanah tegalan sebagai lahan bercocok tanam, sehingga sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan singkong menjadi tanaman yang paling banyak ditanam.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi makanan sumber iodium dan sumber goitrogenik dengan kejadian gondok pada petani di Kecamatan Kismantoro.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case control. Jumlah sampel 82 orang dengan perbandingan 1:1, 41 orang kelompok kasus (positif gondok) dan 41 orang kelompok kontrol (negatif gondok). Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuisioner dan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Bahan makanan yang tercantum dalam FFQ ditentukan dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dengan kader kesehatan di Balai Desa Kecamatan Kismantoro. Data sekunder diambil dari data rekam medis Puskesmas Kecamatan Kismantoro. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square, fisher exact.Hasil: Pola konsumsi sumber goitrogenik yang berhubungan dengan kejadian gondok pada petani di Kecamatan Kismantoro adalah singkong (OR= 15,261; CI 95%= 3,242-71,835; p= 0,000) p < 0.05 , sawi (OR= 4,608; CI 95%= 1,494-14,213; p= 0,005), gatot (OR= 5,556; CI 95%= 1,923-16,046; p= 0,001), dan tape singkong (OR= 5,205; CI 95%= 2,031-13,337; p= 0,000). Sementara pola konsumsi makanan sumber iodium yang berhubugan dengan kejadian gondok pada petani yaitu ikan laut (OR= 0,078; CI 95%= 0,009-0,638; p= 0,004).Kesimpulan: Terdapat hubungan pola konsumsi makanan dengan kejadian gondok pada petani di Kecamatan Kismantoro. Makanan yang paling sering dikonsumsi oleh responden adalah singkong. Makanan sumber goitrogenik yang berhubungan dengan kejadian gondok adalah singkong, sawi, gatot dan tape singkong.KATA KUNCI: goitrogenik; gondok; Iodium, Kecamatan Kismantoro; pola makanan ABSTRACTBackground: Iodine Deficiency Disorders (IDD) are one of the public health problems that can hinder the quality of human resources. The causes of iodine deficiency are low intake of iodine, which can cause the excretion of thyroid hormones not maximal, exposure to environmental pollution, and natural goitrogenic substances in foodstuffs. The natural conditions in Kismantoro subdistrict are dominated moorland as farmland, so that most of the population livelihoods as farmers and cassava become the most widely planted cropsObjectives: This study aims to determine the relationship between iodine sources and goitrogenic sources with the incidence of goiter in farmers in the Kismantoro Subdistrict. Methods: This research is analytical observational research with a case-control design. The sample number of 82 people with a ratio of 1:1, 41 people case group (positive goiter) and 41 person control group (negative goiter). Data collection uses interviews with questionnaires and the Food Frequency Questionnaire (FFQ). The foodstuffs listed in the FFQ are determined by means of Focus Group Discussion (FGD) with health cadres at Kismantoro Subdistrict Village Hall. Secondary data are taken from the medical record data of Kismantoro Subdistrict Health Center. The sampling technique used is purposive sampling. Data analysis using chi-square statistical test, fisher exact.Results: The consumption pattern of goitrogenic sources related to the incidence of goiter in farmers in Kismantoro Subdistrict is cassava (OR= 15,261; CI 95%= 3,242-71,835; p= 0.000) p < 0.05 , mustard (OR= 4.608; CI 95%= 1,494-14,213; p= 0.005), gatot (OR= 5.556; CI 95%= 1.923-16.046; p= 0.001), and cassava tape (OR= 5,205; CI 95%= 2.031-13.337; p= 0.000). While the consumption pattern of iodine source food that is related to the incidence of goiter in farmers namely sea fish (OR= 0.078; CI 95%= 0.009-0.638; p= 0.004).Conclusions: There is a relationship of food consumption patterns with the incidence of goiter in farmers in Kismantoro Subdistrict. The food most often consumed by respondents was cassava. Food sources of goitrogenic sources associated with the occurrence of goiter are cassava, mustard, gatot and cassava tape.KEYWORDS: dietary patterns; goiter; goitrogenic; Iodium; Kismantoro Subdistrict
Utilization of noni fruit (Morinda citrifolia L) and green tea (Camellia sinensis) on herbal tea drinks for diabetes mellitus Usman Muhammad Budianto; Tri Marta Fadhilah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).57-67

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Teh herbal merupakan salah satu produk minuman campuran teh dan tanaman herbal yang memiliki khasiat dalam membantu pengobatan suatu penyakit. Teh herbal umumnya campuran dari beberapa bahan yang biasa disebut infusi/tisane. Infusi/tisane terbuat dari kombinasi daun kering, biji, kayu, buah, bunga dan tanaman lain yang memiliki manfaat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik inderawi, mutu dan kandungan aktivitas antioksidan, serta penerimaan masyarakat terhadap produk teh herbal.Metode: Desain penelitian ini adalah true eksperimental design yang diambil secara acak di Kota/kabupaten Bekasi. Jumlah sampel yang digunakan adalah 35 panelis dengan menggunakan kuesioner hedonik (kesukaan) dan organoleptik. Teh herbal diformulasikan dalam bentuk konsentrasi yaitu F1 (buah mengkudu kering 0,4 gr, teh hijau 1,6 gr, stevia 1 gr), F2 (buah mengkudu kering 0,7 gr, teh hijau 1,3 gr, stevia 1 gr), dan F3 (buah mengkudu kering 1 gr, teh hijau 1 gr, stevia 1 gr). Perbedaan antara formula dianalisis menggunakan Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan menggunakan Mann Whitney dan daya terima diuji oleh pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan DPPH.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa analisis perbedaan kualitas teh herbal indikator rasa menunjukkan ada perbedaan F1 dengan F2 dan F1 dengan F3 dari hasil uji statistik didapatkan nilai p< 0,05. Uji aktivitas antioksidan pada teh herbal paling tinggi yaitu F2 sebesar 33,6%. Kualitas teh herbal tidak sesuai dengan SNI dengan kadar air >8%, sedangkan kadar abu sesuai dengan SNI sebesar <8%. Daya terima pada teh herbal paling banyak memilih F2.Kesimpulan: Teh herbal yang terdiri dari buah mengkudu, teh hijau dan daun stevia dapat di terima oleh masyarakat.KATA KUNCI: aktivitas antioksidan; buah mengkudu; teh herbal; teh hijauABSTRACTBackground: Herbal tea is one of the products of mixed tea and herbal plants that have the efficacy in helping the treatment of a disease. Herbal tea is generally a mixture of some ingredients commonly called infusion/Tisane. Infusion/Tisane is made from a combination of dried leaves, seeds, wood, fruit, flowers and other plants that have benefits. Objectives: The research aims to determine the difference in the characteristics of the sensing, quality and content of antioxidant activity, as well as the public acceptance of herbal tea productsMethods: The design of this research is True experimental design taken randomly in the city/Regency of Bekasi. The number of samples used are 35 panelists with a hedonic (favorite) and organoleptic questionnaire. Herbal tea is formulated in the form of concentration F1 (dried noni fruit 0.4 gr, Green tea 1.6 gr, stevia 1 gr), F2 (dried noni fruit 0.7 gr, Green tea 1.3 gr, stevia 1 gr), and F3 (dried noni fruit 1 gr, green tea 1 gr, stevia 1 gr. Differences between formulas are analyzed using Kruskal-Wallis and in continued with Mann-Whitney, while the receiving power is tested by calculating the score. Measurement of antioxidant activity using DPPH test.Results: Results showed that the quality difference analysis of herbal tea indicator flavor indicates there is a difference of F1 with F2 and F1 with the F3 of the statistical test results obtained the value P < 0.05. Test the antioxidant activity in the highest herbal tea is F2 by 33.6%. The quality of herbal tea is not in accordance with SNI with water content > 8%, while ash content corresponds to SNI of < 8%. Power Accept on herbal tea most select F2.Conclusions: The herbal tea consisting of noni fruit, green tea and stevia leaves can be received by the communityKEYWORDS: antioxidant activity; green tea; herbal tea; Noni fruit
Effect of Sago worm flour (Rhynchhorus feirugineus) on Albumin and Haemoglobin in Protein Energy Malnutrition (PEM) Wistar rats Aleda Florince Oyay; Muchlis Achsan. Udji Sufro; Gemala Anjani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).77-84

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kurang energi protein (KEP) merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia. Dampak kekurangan protein yang parah umumnya terjadi pada bayi dan balita. Dalam keadaan KEP terdapat perubahan nilai Hemoglobin dan albumin dalam darah. Ulat sagu dikenal sebagai makanan yang kaya akan protein, sehingga diharapkan dapat memperbaiki status albumin dan Hemoglobin anak dengan KEP.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian tepung ulat sagu terhadap kadar albumin dan Hemoglobin (Hb) tikus wistar KEPMetode: Penelitian true experimental dengan Pre post test control group design. Menggunakan 24 ekor tikus wistar kemudian dibagi menjadi 4 kelompok: K- (tikus normal); K+(tikus KEP); P1(tikus KEP dengan intervensi tepung ulat sagu 0,36gr/100grBB); dan P2(tikus KEP dengan intervensi tepung ulat sagu 1,36gr/100grBB). Intervensi dilakukan selama 28 hari. Analisis statistik menggunakan metode Shaphiro Wilk, One Way Anova.Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada berat badan, kadar albumin, dan Hemoglobin pada intervensi pemberian tepung ulat sagu pada tikus wistar KEP.Kesimpulan: Tepung ulat sagu meningkatkan berat badan, kadar albumin, dan kadar Hb tikus wistar KEP.KATA KUNCI: Albumin; Hemoglobin; Kurang energi protein (KEP); tepung ulat sagu  ABSTRACT Background: Protein energy malnutrition (PEM) is one of the most important nutrition disorder in Indonesia. The impact of a severe protein deficiency generally occurs in infants and toddlers. In the PEM there is a change in the albumin and Hemoglobin (Hb) levels. Sago caterpillar flour contain high protein, so it can improve the nutritional status of albumin and Hemoglobin levels in children with PEM.Objectives: To observe the effect of sago caterpillar flour on albumin and Hemoglobin (Hb) levels on PEM Wistar rats.Methods: True experimental pre-post control group design. 24 Wistar rats were divided into 4 groups: K-(normal rats); K+(PEM rats); P1(PEM rats with intervention of 0.36gr/100grBW sago caterpillar flour); P2(PEM rats with intervention of 1.36gr/100grBW sago caterpillar flour). Statistical analysis using Shapiro Wilk method and One Way ANOVA.Results: There were significant differences (p.0.05) in body weight, albumin levels, and Hemoglobin in the intervention of sago caterpillar flour in PEM Wistar Rats. Conclusions: Sago caterpillar flour increased body weight, albumin levels, and Hemoglobin levels in PEM Wistar RatsKEYWORDS: Albumin; Hemoglobin; Protein energy malnutrition (PEM); Sago worm flour
Iron status and Hepcidin Level of normal and obese adolescents Setyo Utami Wisnusanti; Lily Arsanti Lestari; Siti Helmyati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 2, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(2).85-93

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Faktor risiko anemia pada remaja obesitas meningkat dengan adanya gangguan homeostasis besi yang terjadi, ditandai dengan kadar feritin dan kadar hepcidin tinggi namun kadar hemoglobin rendah yang disebabkan oleh adanya inflamasi kronik derajat ringan terkait obesitas.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara obesitas, faktor perantara yang memengaruhi, dan kejadian anemia pada remaja usia 12-15 tahun di SMP di Kota Yogyakarta.Metode: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian potong lintang pada 68 siswa SMP di Kota Yogyakarta yang mempunyai status gizi normal dan obesitas. Pengukuran tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, kadar hepcidin, kadar feritin, kadar hemoglobin, dan penilaian asupan zat gizi responden dilakukan dalam satu kurun waktu yang hampir bersamaan.Hasil: Persentase anemia pada kelompok normal sebesar 15,15% sedangkan pada kelompok obesitas sebesar 2,85%. Pada penelitian ini, tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada prevalensi anemia antara remaja status gizi normal dan obesitas (p=0,074). Median data kadar hemoglobin pada kelompok normal 14,2 g/dl dan kelompok obesitas 14,5 g/dl. Kadar feritin pada kelompok obesitas lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok normal, masing-masing 9,7 ng/ml pada kelompok normal, 11,59 ng/ml pada kelompok obesitas sedang dan 15,81 ng/ml kelompok obesitas berat. Terdapat perbedaan signifikan pada kadar leukosit pada kedua kelompok responden (p=0,0443), namun tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar hepcidin (p=0,511). Tidak terdapat korelasi antara kadar hepcidin dan feritin pada seluruh responden (p=0,396), serta terdapat korelasi positif tingkat rendah antara kadar feritin dan hemoglobin pada seluruh responden (p=0,0008).Kesimpulan: Terjadi proses inflamasi kronis derajat ringan pada kelompok obesitas, namun tidak terjadi gangguan metabolisme besi akibat inflamasi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menggali hubungan anemia dengan obesitas di masa dewasa.KATA KUNCI: anemia; gizi remaja; Hemoglobin; obesitas    ABSTRACT Background: The risk factor for anemia in obese adolescents is increased by the presence of iron homeostatic disorder that occurs, characterized by high levels of ferritin and hepcidin levels but low hemoglobin levels which is caused by mild chronic inflammation associated with obesity.Objectives: This study was conducted to determine the relationship between obesity and intermediary factors that affect the incidence of anemia in adolescents aged 12-15 years in Junior High School, Yogyakarta.Methods: This study was observational research with a cross-sectional study design on 68 junior high school students in Yogyakarta City who had normal and obese nutritional status. Measurement of height, weight, body mass index, hepcidin levels, ferritin levels, hemoglobin levels, and assessment of nutrient intake of respondents performed in a period of time.Results: The percentage of anemia in the Normal Group (NG) was 15.15% meanwhile in the Obese Group (OG) was 2.85%. In this study, there was no significant difference in the prevalence of anemia between NG and OG (p=0.074). Median data hemoglobin levels in the NG were 14.2 g/dl and in the OG was 14.5 g/dl. Surprisingly, there was a significantly higher level of ferritin found in the OG than NG, respectively 9,7 ng/ml in NG, 11.59 ng/ml in the moderately obese group, and 15.81 ng/ml severe obese. There was a significant difference in leukocyte levels between groups (p = 0.0443), however, there was no significant difference in hepcidin levels (p=0.511). There was no correlation between hepcidin and ferritin levels in all respondents (p=0.396), and there was a low positive correlation between ferritin and hemoglobin levels in all respondents (p=0.0008).Conclusions: Low-grade chronic systemic inflammation occurs in the OG, but no iron metabolism disorder occurs due to inflammation. Further study is needed to explore the correlation between anemia and obesity in adulthood.KEYWORDS: adolescents; anaemia; Haemoglobin; obesity