cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Sistem Bilangan Beberapa Bahasa di Wilayah Papua, NTT, dan Maluku Utara Sri Winarti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 2 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.941 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v6i2.450

Abstract

This paper wishes to describe the numeral systems in the regions of Papua, East Nusa Tenggara (NTT) and North Maluku, namely Marind language (Papua), Tarfia language (Papua), Alor language (NTT), Adang language (NTT), Eastern Makian language (North Maluku) and Ternate language (North Maluku). This paper aims to determine the similarities and the differences among the six languages. This research uses a qualitative method. The result of this study is explaining that all those six languages have unique numeral systems, which differs from one regional language to other regional languages. Although they are different, the six languages also have similarities, that is they have cardinal numbers and the development of cardinal numbers. The lexical shapes used in the six languages in forming the numbers can be grouped into two, namely (1) the cardinal number and (2) the development of the cardinal number. The cardinal numbers in the six languages can be grouped into two parts, namely (1) languages that fall under the category of less-than-en cardinal number system and (2) the languages that fall under the category of ten cardinal numbers.  Abstrak Makalah ini mendeskripsikan sistem bilangan beberapa bahasa di wilayah Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku Utara, yaitu bahasa Marind (Papua), bahasa Tarfia (Papua), bahasa Alor (NTT), bahasa Adang (NTT), bahasa Makian Timur (Maluku Utara), dan bahasa Ternate (Maluku Utara). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kesamaan dan perbedaan keenam bahasa-bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Temuan yang didapat dalam penelitian ini adalah bahwa keenam bahasa tersebut memiliki sistem bilangan yang khas, yang berbeda antara satu bahasa daerah dengan bahasa daerah lainnya. Walaupun berbeda, keenam bahasa-bahasa itu juga memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki bilangan pokok dan pengembangan bilangan pokok. Bentuk leksikal yang digunakan pada keenam bahasa tersebut dalam membentuk bilangan-bilangan dapat dikelompokkan atas dua, yaitu (1) bilangan pokok dan (2) pengembangan bilangan pokok. Bilangan pokok pada keenam bahasa itu dapat dikelompokkan atas dua bagian, yaitu (1) bahasa-bahasa yang termasuk kategori sistem bilangan pokok yang kurang dari sepuluh dan (2) bahasa-bahasa yang termasuk kategori bilangan pokok sepuluh. 
KONSEP HEWAN DAN PESANNYA DALAM PARIBASA DAN BABASAN SUNDA Kartika Kartika
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6470.129 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v2i1.52

Abstract

Manusia dan hewan telah lama hidup berdampingan dan berinteraksi. Kedekatan hubungan hewan dan manusia dalam kehidupan ini tercermin dalam hubungan rantai makanan, alat bantu dalam sistem produksi, investasi atau kekayaan, atau sekadar sebagai peliharaan. Sama halnya, kehidupan keseharian masyarakat Sunda pun tidak dapat dilepaskan dari hewan. Secara verbal kedekatan hubungan itu tercermin pada penggunaan konsep hewan dalam paribasa dan babasan Sunda. Tulisan ini hendak mengungkap konsep hewan apa yang digunakan dalam paribasa dan babasan Sunda, serta pesan yang terkandung di dalamnya. Paribasa dan babasan Sunda yang dijadikan data dalam tulisan ini dipilih yang khusus mengandung nama atau jenis hewan dengan menggunakan teknik simak dan catat. Data kemudian diklasifikasi berdasarkan jenisnya dan kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis hewan yang digunakan dalam paribasa dan babasan Sunda sangat bervariasi mulai hewan berkaki empat seperti kerbau sampai organisme mikroskopis semacam tungau. Pesan yang terkandung di dalam paribasa dan babasan Sunda itu kemudian digeneralisasi ke dalam beberapa kategori, seperti nasihat, cemoohan, deskripsi, perbuatan yang sia-sia, perasaan (takut, gelisah, senang), dan lain-lain.
DISTRIBUSI VERBA BERPREFIKS {N-} PADA BAHASA LAMPUNG DALAM KITAB KUNTARA RAJA NITI DAN BUKU AJAR: KAJIAN MORFOLOGI Farida Ariyani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7406.389 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v3i2.43

Abstract

Artikel ini membahas secara morfologis proses distribusi verba berprefiks {N-} pada verba bahasa Lampung dalam kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam pembahasannya, data yang berisi verba berprefiks {N-} yang ditemukan pada kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar dikumpulkan dan kemudian pendistribusiannya dianalisis secara morfologis. Pada penelitian ini ditemukan dua jenis pendistribusian bentuk verba berprefiks {N-}, yaitu berupa verba infleksional dan verba derivasional. Verba infleksional adalah bentukan verba yang berasal dari dasar yang juga berkategori verba. Sementara itu, verba derivasional adalah bentukan verba yang diperoleh dari dasar yang berkategori selain verba. Verba infleksional ini sangat produktif pada bahasa Lampung dan ditemukan pada seluruh verba berprefiks {N-}. Selain itu, ditemukan lima buah kategori pembentuk verba derivasional, yaitu nomina, adjektiva, adverbia, pronomina, dan numeralia yang diperoleh dari kitab Kuntara Raja Niti dan buku ajar.
Ranah: Volume 7, Nomor 1, Juni 2018 Cover Depan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.672 KB)

Abstract

KRITERIA VITALITAS BAHASA TALONDO Buha Aritonang
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.08 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.34

Abstract

This research was conducted in the village of Talondo Kondo, District Bonehau, Mamuju, West Sulawesi province with the aim to determine the  vitality of the Talondo languages criteria.The methods of the research was done by doing the field research and the literature study.A fieldwork was conducted to obtain primary data while the library research obtaining secondary data. The sources of data in this study were 81 respondents from Talondo language native speakers. The datas are obtained from observations and questionnaires.To determine the vitality of Talondo language criteria the research used Likert scale models to test and compare the mean index of vitality. The calculation result of subindex groups with respondent characteristics (based on gender, age group, education level, and occupation) showed that the vitality of a Talondo language was setbacks. Because the average value addition and division of the total index of the four variables with the variables gender, age group, education level, and type of work is 0.58. The range value of its included in the index line 3—4 based on visualization in a spider diagram. ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Desa Talondo Kondo, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dengan tujuan untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan pustidaka. Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer, sedangkan penelitian pustidaka untuk memperoleh data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah 81 responden penutur bahasa Talondo. Data diperoleh dari hasil pengamatan dan kuesioner. Untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo digunakan model skala Likert dan indeks dengan uji compare mean. Hasil perhitungan kelompok subindeks dengan karakteristik responden (jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan) menunjukkan bahwa vitalitas bahasa Talondo masuk kriteria mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan karena nilai penjumlahan dan pembagian rerata indeks total keempat variabel dengan variabel jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan adalah 0,58. Nilai 0,58 termasuk pada garis indeks 3—4 berdasarkan visualisasinya pada diagram laba-laba.
ANALISIS PENGGUNAAN JUJU HYOUGEN 授受表現 DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Sri Iriantini
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7931.75 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v2i2.236

Abstract

Keberagaman struktur dalam bahasa Jepang membuat bahasa ini menjadi salah satu bahasa yang cukup sulit dipelajari oleh pembelajar asing. Unsur budaya yang sering tercermin dalam berbahasa sehari-hari pun menjadi salah satu sebab mengapa bahasa Jepang menjadi salah satu bahasa yang sulit untuk dipelajari. Misalnya dalam penggunaan struktur kalimat yang menggunakan giving receiving verbs ‘verba memberi menerima’ yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah verba yarimorai (juju doushi) yang terdiri dari verba yaru, ageru, kureru, morau, sashiageru, kudasaru, dan itadaku. Penggunaan verba yarimorai dalam suatu situasi ujar tertentu yang disebut dengan juju hyougen ini, digunakan untuk menyatakan adanya perpindahan barang atau jasa dari pembicara atau seseorang kepada orang lain, yang berhubungan erat dengan budaya masyarakat Jepang yang menganut konsep uchi – soto, yang sangat menjaga kehidupan sosialnya supaya tetap harmonis, sehingga dalam berbahasa pun mereka sangat menjaga supaya tidak menyakiti hati lawan bicara, dengan cara meninggikan lawan bicara, dan merendahkan diri sendiri. Selain itu, penggunaan verba yarimorai ini ada yang berkaitan dengan onkeisei ‘kebaikan’ untuk atau dari seseorang. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang baik supaya dapat memilih dengan tepat verba yarimorai yang digunakan sehingga aktivitas komunikasi pun dapat berjalan dengan lancar. Verba yarimorai ini dapat digunakan pula sebagai verba bantu yang melekat dengan verba lainnya sebagai hojo doushi, yang menambahkan makna kepada verba intinya, untuk menjelaskan pemberi dan penerima dalam kalimat tersebut.
SIKAP KALANGAN DEWASA-MUDA JABODETABEK TERHADAP PENGGUNAAN SALAM SAPAAN “ASSALAMUALAIKUM” DAN NETRALITAS SALAM SAPAAN KEAGAMAAN Adhitya Alkautsar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4780.935 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.25

Abstract

Sebagai masyarakat yang mayoritas memeluk Islam, penggunaan kata assalamualaikum sebagai salam sapaan adalah hal yang lumrah di kalangan dewasa-muda berumur 20-29 yang menetap di Jabodetabek. Namun, sebagai kawasan urban yang menjadi tujuan arus urbanisasi, dan tempat di mana komunikasi dan perputaran informasi terjalin intensif, kebutuhan untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang plural dan heterogen menjadi pertimbangan penting dalam berkomunikasi satu sama lain, termasuk dalam menggunakan salam sapaan. Faktor ini mempengaruhi sikap terhadap salam sapaan yang digunakan, juga kesopanan dalam berbahasa. Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu sikap masyarakat Jabodetabek umur 20-29 tahun terhadap salam sapaan assalamualaikum dan pandangan mereka terhadap netralitas salam sapaan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap masyarakat Jabodetabek berumur 20-29 tahun terhadap salam sapaan assalamualaikum cenderung positif, namun sebaliknya netralitas salam sapaan keagamaan seperti assalamualaikum dipandang rendah. Hasil analisis secara kualititatif dan kuantitatif pun sama-sama menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara sikap terhadap salam sapaan assalamualaikum dan pandangan terhadap netralitas salam sapaan keagamaan dalam masyarakat Jabodetabek berumur 20-29 tahun.
KEBANGGAAN MASYARAKAT SEBATIK TERHADAP BAHASA INDONESIA, BAHASA DAERAH, DAN BAHASA ASING: DESKRIPSI SIKAP BAHASA DI WILAYAH PERBATASAN Retno Handayani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.007 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.148

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai sikap bahasa masyarakat di Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan membandingkan rasa kebanggaan mereka terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam metode kuantitatif, data diolah dengan menggunakan kalkulasi statistik, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada 108 responden dengan karakteristik sosial tertentu berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di antara ketiga variabel penelitian, kebanggaan masyarakat Sebatik terhadap bahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan terhadap bahasa daerah dan bahasa Melayu Malaysia.
Strategi Komunikasi Pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Asal Filipina Yeyen Purwiyanti; Sarwiji Suwandi; NFN Andayani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 2 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.557 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v6i2.448

Abstract

This research aims to describe and explain the communication strategy used by BIPA students from Philippines during BIPA learning. This research is a study case using natural background. The researcher will describe and explain both verbal and non-verbal communication strategy used by BIPA students of UPT Bahasa UNS who come from Philippines. Data of this research are result of observation and interview note from BIPA students from Phillipines as well as BIPA teachers. The result of this research is communication strategy used by BIPA students from Philippines, which are equivallance, borrowing, dictionary, self-correction, prefix, role play, phrase, preposition, similar pronounciation and diction. Communication strategy that is dominantly used by BIPA students is borrowing English in the communication of targeted language. Targeted language in this research is Indonesian. Verbal and non-verbal communication strategy has benefit toward BIPA students to understand the on-going event. Moreover, it could bridge the gap between the students and the teachers, as well as among the students.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi yang digunakan oleh pemelajar BIPA asal Filipina dalam pembelajaran BIPA. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan menggunakan latar natural. Peneliti akan mendeskripsikan dan menjelaskan strategi komunikasi verbal dan nonverbal yang digunakan oleh pemelajar BIPA UPT Bahasa UNS yang berasal dari negara Filipina. Data penelitian ini berupa catatatan lapangan hasil observasi dan catatan lapangan hasil wawancara pemelajar BIPA yang berasal dari Filipina dan pengajar BIPA. Hasil dari penelitian ini adalah strategi komunikasi yang digunakan oleh pemelajar BIPA asal Filipina, yaitu ekuivalensi, peminjaman, kamus, koreksi diri, imbuhan, peragaan, frasa, preposisi, kemiripan lafal, dan diksi. Strategi komunikasi yang dominan digunakan adalah peminjaman bahasa Inggris dalam menggunakan komunikasi bahasa target dalam penelitian ini adalah bahasa Indonesia.
KETIDAKEFEKTIFAN SEBUAH PESAN MELALUI FITUR “PESAN” PADA SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK Doni Jaya
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.83 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v1i1.14

Abstract

Komunikasi elektronik membuat hubungan antarmanusia semakin cepat, murah, dan efisien. Bagaimanapun, tidak semua orang memahami sepenuhnya kelebihan/kekurangan media komunikasi yang mereka gunakan sehingga membawa akibat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Artikel ini membahas mengenai salah satu fitur dalam situs jejaring sosial Facebook, yakni “pesan”. Korpus penelitian berupa sebuah pesan dan 118 buah balasan. Makalah ini bertujuan untuk mengukur dan membuktikan ketidakefektifan penyampaian suatu pesan dengan parameter khusus yang dilandaskan pada model Organon Bühler (1990) yang terdiri atas empat unsur, yakni tanda (sign), simtom, simbol, dan sinyal. Tingkat ketidakefektifan penyampaian pesan diukur dengan membandingkan parameter-parameter interpretasi ideal dengan balasan-balasan aktual dari korpus. Analisis menunjukkan bahwa semua balasan tidak efektif dan mengalami derajat penyimpangan yang berbeda-beda terhadap topik pesan yang dipicu oleh masalah pelanggaran privasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi ilustrasi tentang dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh penggunaan media elektronik secara kurang bijaksana.

Page 7 of 32 | Total Record : 312