cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
KETAKSANTUNAN KOMENTAR PADA LAMAN BERITA YAHOO: SEBUAH PENDEKATAN PRAGMATIK Edi Setiyanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v1i2.48

Abstract

Kajian ini membahas tuturan tak santun. Tuturan tak santun adalah tuturan yang melanggar muka positif atau muka negatif lawan tutur. Data diambil dari kolom Komentar laman Yahoo Berita Indonesia yang diunggah pada Mei—Agustus 2012. Kajian bertujuan mendeskripsi ketaksantunan berdasarkan bidal penyebab. Kajian ini bersifat pragmatik dengan memanfaatkan teori parameter pragmatik dan terori muka yang dikemukakan Brown dan Levinson (1987). Penerapan teori dimaksudkan untuk memastikan santun tak santunnya sebuah tuturan. Pada analisis diterapkan metode agih (lih. Sudaryanto, 1993). Penerapan metode agih dimaksudkan untuk melihat ketaksantunan dalam hubungan dengan fenomena lingualnya. Berdasarkan kajian diketahui bahwa ketaksantunan pada kolom Komentar terjadi karena penggunaan bidal-bidal pelanggar muka. Pada muka positif berkenaan dengan penggunaan kedelapan bidal, yaitu penghinaan, penolakan, keemosionalan, ketabuan, kesombongan, sara, pengabaian, atau salah penyapaan. Pada muka negatif berkenaan dengan penggunaan dua bidal, yaitu perintah atau kebencian. Ketaksantunan pada muka negatif karena penggunaan bidal penagihan tidak ditemukan.
KOSAKATA WARNA BAHASA SUNDA (PENDEKATAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI) Santy Yulianti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.645 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.39

Abstract

Natural Semantic Metalingua is the approach that is used in this writting to describe colours in Sundanesse compared with Indonesian. Colours is an interesting topic in this area because colours in every language has their own uniqueness. Colours in Sundaness are influenced by natural condition. Based on  Natural Semantic Metalanguage, the colours of Sundaness are classified into three categories, i.e. basic colours, natural condition, and adjektive/adverb. The writer found an interesting original meaning of colours of both Sundaness and Indonesian. Basic colours in Sundaness has one dissent with Indonesian,i.e. the colour of Blue. Sundaness originally do not know the concept of blue. In addition, colour in Sundaness has tight gradation, such as the concept of green which use natural condition and adjective to describes its density. ABSTRAKPada kesempatan ini penulis menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (Natural Semantic Metalanguage) untuk mendekripsikan warna dalam bahasa Sunda yang dipadankan dengan bahasa Indonesia. Warna menjadi bahasan yang menarik untuk dianalisis karena kosakata warna dalam setiap bahasa memiliki keunikannya tersendiri. Warna dalam bahasa Sunda banyak dipengaruhi oleh keadaan alam. Berdasarkan pada pendekatan MSA, kosakata warna diklasifikasikan berdasarkan warna dasar, tanda alam dan keterangan/kata sifat. Penulis melihat adanya makna asali kosakata warna yang dapat diperoleh dengan memperbandingkan dengan kosakata warna bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Warna dasar dalam bahasa Sunda memiliki perbedaan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Sunda awalnya tidak mengenal konsep warna biru sebagai warna dasar. Selain itu, variasi warna dalam bahasa Sunda sangat rapat, seperti warna hijau yang memiliki banyak ciri dengan menggunakan tanda alam dan kata sifat.
FRASA BAHASA ACEH Mohammad Rizqi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 1 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.654 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v6i1.261

Abstract

The study aims to describe the structure and the constituents of phrases, to describe the types of phrases, to explain the sense relation of the phrase constituents, and to illustrate the possibility of the Acehnese phrases to be placed in each syntactic function. This research is a qualitative descriptive research that focuses on phrase study on Acehnese. The written data is taken from primary school books, the spoken data is taken from local news of RRI Banda Aceh and folklore. The results show that there are uniqueness of the constituents which form the coordinative phrase constructions in which they are always related by conjunctions. Numeral phrases which are formed by numeral and noun always use classifier. The structure of noun phrases which is formed of noun and noun is permanent. It means that the position of the modifier is always behind main constituents. The structure of verbal phrases, adjectival phrases, numeral phrases, and pronominal phrases are not permanent. It means that the constituent that become a modifier can be placed before or after the main constituent. The prepositional phrase has a permanent structure. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memerikan struktur dan unsur pembentuk frasa, mendeskripsikan jenis frasa, menjelaskan hubungan makna antarunsur pembentuk frasa, dan menggambarkan kemungkinan frasa dalam bahasa Aceh untuk dapat menduduki setiap fungsi sintaksis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian linguistik deskriptif kualitatif dengan memusatkan perhatiannya pada telaah frasa dalam bahasa Aceh. Sumber data tulis dalam penelitian ini berupa buku pelajaran tingkat sekolah dasar, sedangkan data lisan diambil dari berita daerah RRI stasiun Banda Aceh dan data dari cerita rakyat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada keunikan dari unsur-unsur yang membentuk konstruksi frasa koordinatif, yaitu selalu dihubungkan oleh konjungsi. Frasa numeralia yang terbentuk atas konstituen numeralia dan nomina selalu menggunakan penggolong. Struktur frasa nomina yang terbentuk dari konstituen nomina dan nomina bersifat permanen. Artinya, posisi modifikator selalu di belakang konstituen inti. Frasa verba, frasa adjektiva, numeralia, dan frasa pronomina mempunyai struktur yang tidak permanen. Artinya, konstituen yang menjadi modifikator dapat berada di depan atau di belakang konstituen inti. Frasa preposisional mempunyai struktur yang permanen.
Konstruksi Interogatif Polar dalam Bahasa Jepang Abdul Gapur; Mhd. Pujiono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.284 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.477

Abstract

Each language has its own characteristics, which can be seen by the interrogative construction themselves. Polar interrogative construction in Japanese will be discussed in this research. The research is kind of qualitative reasearch by using descriptive method. The data of the research is the polar interrogative construction consisted in the textbooks minnano nihongo shokyuu I and nameraka nihongo kaiwa. The theory of interrogative construction by Seimund (2011) was used as the theory in this research. The results of the research showed that the finding of polar interrogative construction was formed by the intonation, the addition of interrogative particle, and the interrogative tag. Meanwhile, the polar interrogative construction formed by the change of constituent order, verbal inflection, and disjunction was not found. The finding of polar interrogative construction in the textbook minna no nihongo shokyuu I is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the adding of interrogative particle, while in the textbook nameraka nihongo kaiwa is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the intonation. AbstrakSetiap bahasa memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari konstruksi interogatifnya. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai konstruksi interogatif polar dalam bahasa Jepang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang terdapat dalam bukuMinna No Nihongo Shokyuu I, Nameraka Nihongo Kaiwa,dan komikOremonogatariChapter1karangan Kazune Kawahara danAruko.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksi interogatif Siemund (2001). Hasil dari penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang wujud terbentuk dari intonasi, penambahan partikel interogatif,dan taginterogatif. Sementarakonstruksi interogatif polar yang terbentuk dengan perubahan urutan konstituen, infleksi verbal dan disjungsi tidak ditemukan. Konstruksi interogatif polar yang wujud dalam buku Minna No Nihongo Shokyuu I dankomikOremonogatariChapter 1 didominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari penambahan partikel interogatif,sementara pada buku Nameraka Nihongo Kaiwadidominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari intonasi.
PENERAPAN PRINSIP KERJASAMA GRICE DALAM INTERAKSI TAWAR MENAWAR (ANALISIS ETNOGRAFI KOMUNIKASI DI PASAR SIMPANG TIGO, PASAMAN BARAT) Astuti Samosir
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6592.293 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v4i2.30

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk membahas dan mereview penerapan prinsip kerja sama Grice dalam interaksi tawar-menawar di Pasar Simpang Tigo dengan cara mereview empat maksim: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Pendekatan penelitiannya adalah pendekatan kualitatif, sementara kajian ini menggunakan metode etnografi komunikasi. Hasil kajian atas interaksi tawar-menawar di pasar, yaitu penerapan dan pelanggaran prinsip kerja sama Grice (maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara). Penerapan yang secara luas digunakan di dalam interaksi tawar-menawar adalah maksim relevansi dan maksim cara, sementara pelanggaran terhadap maksim adalah maksim kuantitas dan maksim kualitas.
DAMPAK KEHADIRAN STASIUN TELEVISI BERBAHASA LOKAL PAL TV (PALEMBANG TV) PADA PELESTARIAN BAHASA LOKAL DI KOTA PALEMBANG Desmalinda Desmalinda; Piky Herdiansyah; Rahmadina Naripati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.46 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.153

Abstract

This research aims to describe the function and role of the television in preserving Palembang language. The method used in this research is qualitative descriptive method. The data were collected from direct interviews to seven informants reside in Palembang with various backgrounds, professions and education levels to discover the impact of Palembang-speaking local television station. The research shows that national television stations have not performed their role in education and language preservation as they should be. The level of local language preservation in national television stations is still low. This condition is covered by the presence of local stations, such as PAL TV. Televisions can be a strategic tool in language preservation with proper management by adding diverse programs that are in accordance with the public interests.  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peran televisi dalam pelestarian bahasa Palembang. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskripptif kualitatif. Data di peroleh dari wawancara langsung kepada tujuh narasumber yang berdomisisli di kota Palembang, beragam latar belakang, profesi, dan tingkat pendidikan untuk mengetahui dampak adanya televisi lokal berbahasa Palembang. Temuan penelitian ini adalah stasiun televise berjaringan nasional belum menjalankan fungsinya edukasi dan pelestarian bahasa daerah sebagaimana mestinya. Tingkat pelestarian bahasa lokal pada televise berjaringan nasional masih rendah. Kekurangan televise berjaringan ini sedikit tertutupi dengan hadirnya televise lokal, seperti PAL TV. Televisi dapat menjadi sarana strategis dalam pelestarian bahasa dengan pengelolaan yang baik berupa penambahan acara yang beragam dan sesuai dengan minat masyarakat.
DIAGNOSA DISLEKSIA MENGGUNAKAN APLIKASI PREDIKSI KATA Tri Wahyu Retno Ningsih; Ichwan Suyudi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5390.969 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v4i1.21

Abstract

Aplikasi word prediction adalah suatu alat bantu pengetikan kata secara otomatis untuk memprediksi kata yang akan diketik. Tujuan penelitian ini adalah menguji aplikasi prediksi kata untuk proses pemerolehan kata pada anak. Aplikasi ini dapat mengoreksi huruf yang salah sehingga dapat meminimalkan kesalahan pengetikan. Dengan aplikasi ini anak dapat memilih kata yang diinginkan berdasarkan daftar kata yang muncul di layar komputer sehingga anak tidak perlu mengetik alfabet berikutnya. Anak yang mempunyai kendala visual dapat terbantu dengan mengenali huruf yang akan dipilih untuk mengetik kata yang diinginkan.
KARAKTERISTIK PEMAKAIAN BAHASA DALAM TULISAN PADA BODI BEMO DAN TRUK DI SURABAYA Foriyani Subiyatningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9411.133 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v2i1.53

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pemakaian bahasa dalam tulisan pada bodi bemo dan truk di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Data penelitian adalah penggunaan satuan lingual berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat pada bodi bemo dan truk yang melintas di sepanjang jalan di Surabaya dan tulisan pada truk yang dimuat di internet. Penyediaan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dan catat, dengan teknik sadap dan dengan teknik lanjutan teknik catat. Analisis data menggunakan metode agih (beserta teknik-tekniknya). Penelitian ini menghasilkan hal-hal, antara lain berupa (1) perubahan fonem, (2) pelesapan dan penambahan fonem, (3) kata bahasa Inggris dibaca dengan lafal bahasa Indonesia atau bahasa Jawa, (4) kata bahasa Inggris ditulis sesuai dengan lafal bahasa Indonesia, (5) bilangan dan angka sebagai representasi huruf, suku kata, atau kata, (6) singkatan, (7) akronim, (9) bentuk plesetan, (10) penulisan kata yang bervariasi, dan (12) tulisan yang disertai lukisan.
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Ranah, Volume 7, Nomor 2, Desember 2018
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.868 KB)

Abstract

Kesantunan Tindak Tutur Bamamai dalam Bahasa Banjar: Berdasarkan Skala Kesantunan Leech NFN Jahdiah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.103 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.530

Abstract

This study discusses speech act of bamamai (nagging) in Banjar language. Bamamai is an expressive speech act. Bamamai usually involves the speaker's emotion toward the speech partner when the speech is not in accordance with what the speaker wants. This research aims to describe bamamai speech acts based on Leech’s politeness scale. The method used in this research is descriptive qualitative. The data collected are descriptive, taken from the speakers’ conversations in Banjar language’s oral variety. The theory used in this research is the politeness scale by Leech, namely (1) cost and benefit scale, (2) optionality scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale and (5) distance scale. The research shows that there are polite speeches in the bamamai (nagging) speech act because they are in accordance with Leech’s politeness scale, namely the indirectness, authority and optionality scale. On the other hand, there are impolite speeches in bamamai (nagging) speech act because they are not in accordance with the indirectness scale and social distance scale. AbstrakPenelitian ini membahas mengenai tindak tutur bamamai (mengomel) dalam bahasa Banjar. Bamamai termasuk tindak tutur ekspresif. Bamamai biasanya melibatkan emosi penutur kepada mitra tutur ketika tuturan mitra tutur tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur bamamai berdasarkan skala kesantunan Leech.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsif kualitatif. Data yang dikumpulkan berbentuk deskriptif percakapan penutur berbahasa Banjar dalam ragam lisan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu (1) skala kerugian dan keuntungan, (2) skala pilihan, (3) skala ketidaklangsungan, (4) skala keotoritasan, dan (5) skala jarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang santun karena sesuai dengan skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu skala ketidaklangsungan, keotoritasan, dan pilihan. Sebaliknya, dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang tidak santun karena tidak sesuai dengan skala ketidaklangsungan dan skala jarak sosial.

Page 8 of 32 | Total Record : 312