cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2: November 2025" : 12 Documents clear
Logos sebagai Titik Temu Teologi dan Filsafat: Kajian Eksegesis Biblikal atas Yohanes 1:1 dalam Dialog dengan Filsafat Stoa Purwonugroho, Daniel Pesah
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.364

Abstract

This paper aims to find theological and philosophical common ground regarding Logos through a biblical exegesis of John 1:1 in dialogue with Stoic philosophy. Logos is a theological concept in the Gospel of John. Logos in the Christian faith highlights the existence of Jesus Christ before creation and the ontological connection of Jesus Christ as God. In addition, Logos in the Christian faith affirms a divine entity that actively shapes the universe. At the same time, Logos is a crucial Stoic term that affirms a rational principle of the cosmos. Logos in Stoic philosophy is regarded as an active force that guides the universe. Logos is also a manifestation of orderly energy that impacts existence. Through a descriptive qualitative approach, it was found that there is a theological and philosophical meeting point regarding the term Logos. This meeting point opens up a space for deep dialogue between the Christian faith and Stoic philosophy. This convergence does not obscure the uniqueness of the Christian faith. Rather, it converges on Jesus Christ as the fulfillment of divine revelation. This paper offers a dialogical approach to the relationship between biblical exegesis and Stoic philosophy.     Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mencari titik temu teologis dan filosofis mengenai Logos melalui kajian eksegesis biblikal atas Yohanes 1:1 dalam dialog dengan Filsafat Stoa. Logos adalah konsep teologis dalam Injil Yohanes. Logos dalam iman Kristen menyoroti keberadaan Yesus Kristus sebelum penciptaan dan keterkaitan ontologis Yesus Kristus sebagai Tuhan. Selian itu, Logos dalam iman Kristen menegaskan sebuah entitas ilahi yang berperan aktif dalam membentuk alam semesta. Di saat yang sama, "logos" juga merupakan terminologi krusial dalam filsafat stoa yang menegaskan sebuah prinsip rasional kosmos. Logos dalam filsafat stoa diyakini sebagai sebuah kekuatan aktif yang membimbing alam semesta. Logos juga merupakan manifestasi energi yang teratur dan berdampak pada keberadaan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, ditemukan bahwa ada titik temu teologis dan filosofis mengenai istilah Logos. Titik temu tersebut membuka sebuah ruang dialogis yang mendalam antara iman Kristen dengan filsafat stoa. Titik temu tersebut tidak mengaburkan keunikan iman Kristen. Melainkan titik temu tersebut mengerucut kepada Yesus Kristus sebagai pemenuhan wahyu ilahi. Tulisan ini menawarkan pendekatan dialogis antara eksegesis biblika dan filsafat Stoa.    
Kasih yang Tidak Menyimpan Kesalahan: Implikasi Teologis terhadap Rekonsiliasi Gereja di Era Masa Kini Sugito
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.432

Abstract

Love is the core of Christian theology, serving not only as a Christian teaching but also as the ethical and practical foundation of church life. However, in today's church, the concept of love often loses meaning, especially when the church faces internal conflicts. The tension between the teaching of love that does not hold grudges and church practices that tend to perpetuate conflict reveals theological issues that have not been adequately addressed. The phenomenon of church divisions and conflicts exacerbated by digital culture shows that churches often find it difficult to live out reconciliation rooted in Christian love. This study aims to analyze the theological implications of the concept of love that does not hold grudges for the practice of church reconciliation in today's context. The research method is a qualitative literature review, which concludes that God's love that does not hold grudges is the theological foundation for relational and transformative Christian reconciliation. Reconciliation is understood as a continuous theological process that transcends pragmatic conflict resolution. The implications of liberating love demand a renewal of church practices oriented toward the restoration of relationships.   Abstrak Kasih merupakan inti teologi Kristen yang tidak hanya berfungsi sebagai ajaran kekristenan, tetapi juga sebagai dasar etis dan praksis kehidupan gereja. Namun, dalam realitas gereja masa kini, konsep kasih sering kali mengalami reduksi makna, terutama ketika gereja berhadapan dengan konflik internal. Ketegangan antara ajaran kasih yang tidak menyimpan kesalahan dan praktik bergereja yang cenderung memelihara konflik menunjukkan adanya persoalan teologis yang belum terjawab secara memadai. Fenomena perpecahan gereja dan konflik yang diperkuat oleh budaya digital memperlihatkan bahwa gereja kerap kesulitan menghidupi rekonsiliasi yang berakar pada kasih Kristiani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi teologis dari konsep kasih yang tidak menyimpan kesalahan terhadap praksis rekonsiliasi gereja di era masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka. Disimpulkan bahwa kasih Allah yang tidak menyimpan kesalahan merupakan fondasi teologis bagi rekonsiliasi Kristen yang bersifat relasional dan transformatif. Rekonsiliasi dipahami sebagai proses teologis berkelanjutan yang melampaui resolusi konflik pragmatis. Implikasi kasih yang membebaskan menuntut pembaruan praksis gerejawi yang berorientasi pada pemulihan relasi.    
Kehadiran Mendahului Aktivitas: Tafsir Integratif Lukas 10:38-42 sebagai Respons terhadap Burnout dalam Pelayanan Pastoral Kontemporer Surahman, Sukma Hendra Wahyudi; Andoko, Onny Nugroho; Karwur, Edwin J.G.
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.480

Abstract

The phenomenon of burnout in pastoral ministry has become a serious concern, characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and reduced achievement. Research shows that a ministry without a strong foundation of faith increases the risk of burnout that disrupts overall ministry effectiveness. The narrative of Mary and Martha in Luke 10:38-42 provides a relevant reflection on the tension between ministry busyness and the longing to remain close to God. This study employs a qualitative-exegetical method combining narrative exposition and pastoral theological reflection to reinterpret the faith styles of Mary and Martha as sources of reflection in modern ministry practice. Unlike previous studies that portray Mary and Martha as opposing poles, this research presents an integrative approach demons-trating how both faith styles complement each other and need to be balanced. The main contribution lies in concrete implications for addressing pastoral burnout and forming wise spiritual ministry patterns, affirming that spiritual presence must precede ministry activity so that every action arises from intimate fellowship with Christ.     Abstrak Fenomena burnout dalam pelayanan pastoral semakin menjadi perhatian serius, ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian. Penelitian menunjukkan bahwa pelayanan tanpa landasan iman yang kuat meningkatkan risiko burnout yang mengganggu efektivitas pelayanan secara menyeluruh. Narasi Maria dan Marta dalam Lukas 10:38-42 menjadi cerminan relevan terhadap ketegangan antara kesibukan pelayanan dan kerinduan tinggal dekat dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksegetis yang memadukan eksposisi naratif dan refleksi teologis pastoral untuk menginterpretasikan ulang gaya iman Maria dan Marta sebagai sumber refleksi dalam praktik pelayanan modern. Berbeda dari kajian sebelumnya yang menggambarkan Maria dan Marta sebagai kutub bertentangan, penelitian ini menghadirkan pendekatan integratif yang menunjukkan bagai-mana kedua gaya iman tersebut saling melengkapi dan perlu diseimbangkan. Kontribusi utama terletak pada implikasi konkret dalam mengatasi burnout pastoral dan membentuk pola pelayanan rohani yang bijak, menegaskan bahwa kehadiran rohani harus mendahului aktivitas pelayanan agar setiap tindakan lahir dari persekutuan intim dengan Kristus.
Resiliensi Iman dalam Pembacaan Teologis Mazmur 46 Sirait, Rinto Francius
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.499

Abstract

Crisis is an inevitable part of modern life. In the current context—marked by a global pandemic, geopolitical conflicts, natural disasters, and increasing mental stress—Christian faith is often subjected to tremendous shocks. Psalm 46 offers a profound and contextual perspective on how God's people can remain steadfast in their faith when the world seems shaken from various sides. This study aims to explore the theological meaning of Psalm 46 through biblical exegesis, contextual hermeneutics, and pastoral reflection. The results of this study indicate that this Psalm is not only a beautiful poem of comfort but also a solid and hopeful statement of faith. God is portrayed as a protector, a present ruler, and a source of calm amid chaos. These findings emphasize the importance of a deep and resilient Christian spirituality, especially in times of global challenges and uncertainty. This study also highlights the church's role as a community that fosters the serenity of faith and spiritual solidarity. It offers a profound reflection on the faith responses of Christians today. By employing a theological interpretation that draws on linguistics, literature, systematic theology, and pastoral studies, this article demonstrates that Psalm 46 is not only spiritually relevant but also socially and pastorally relevant.     Abstrak Krisis merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia modern. Dalam konteks kekinian—yang ditandai oleh pandemi global, konflik geopolitik, bencana alam, dan meningkatnya tekanan mental—iman umat Kristen sering kali mengalami guncangan yang luar biasa. Mazmur 46 menawarkan perspektif yang mendalam dan kontekstual tentang bagaimana umat Tuhan dapat tetap teguh dalam iman ketika dunia tampak terguncang dari berbagai sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis Mazmur 46 melalui pendekatan eksegesis biblika, hermeneutika kontekstual, dan refleksi pastoral. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Mazmur ini tidak hanya merupakan puisi penghiburan yang indah, melainkan juga pernyataan iman yang kokoh dan penuh pengharapan. Allah digambarkan sebagai pelindung, penguasa yang hadir, dan sumber ketenangan dalam kekacauan. Temuan ini menegaskan bahwa spiritualitas Kristen yang mendalam dan tangguh sangat diperlukan, khususnya dalam menghadapi zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian global. Studi ini juga menyoroti peran gereja sebagai komunitas yang memfasilitasi ketenangan iman dan solidaritas spiritual, serta refleksi mendalam terhadap respons iman umat Kristen masa kini. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang melibatkan aspek linguistik, sastra, teologi sistematika, dan studi pastoral, artikel ini membuktikan bahwa Mazmur 46 tidak hanya relevan secara spiritual, tetapi juga sosial dan pastoral.   ]
Pemberitaan Injil dengan Demonstrasi dan Kuasa Roh Kudus: Eksegesis 1 Korintus 2:4-7 dalam Perspektif Pentakostal Sitanggang, Vernineto
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.500

Abstract

This article presents an in-depth analysis of the passage of 1 Corinthians 2:4-7 from a Pentecostal perspective to examine the essential role of the demonstration and power of the Holy Spirit in the preaching of the gospel. Through qualitative textual exegesis, it is found that the preaching of the Gospel is not an action centered on man but on God. The conclusion of the study shows that the preaching of the gospel by demonstration and the power of the Holy Spirit based on 1 Corinthians 2:4-7 from a Pentecostal perspective is: the preaching of the gospel by the wisdom of God not the wisdom of man, by the belief in the power of the Holy Spirit, who gives courage in the proclamation of the Gospel, and performs miracu-lous signs. The foundation of true faith must be laid in the real power of God, manifested through the work of the Holy Spirit, a principle that remains crucial to the mission of the Pentecostal.     Abstrak Artikel ini menyajikan analisis mendalam terhadap perikop 1 Korintus 2:4-7 dari perspektif Pentakostal untuk mengkaji peran esensial demonstrasi dan kuasa Roh Kudus dalam pemberitaan Injil. Dengan metode kualitatif melalui eksegesis teks, ditemukan bahwa pemberitaan Injil bukanlah sebuah tindakan yang berpusat pada manusia, melainkan pada Allah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan Injil dengan demonstrasi dan kuasa Roh Kudus berdasarkan 1 Korintus 2:4-7 dari perspektif Pentakostal adalah: pemberitaan Injil oleh hikmat Allah bukan hikmat manusia, oleh keyakinan akan kuasa Roh kudus, yang memberikan keberanian dalam proklamasi Injil, dan mengadakan tanda-tanda ajaib. Fondasi iman yang sejati harus diletakkan pada kuasa Allah yang nyata, yang dimanifestasikan melalui pekerjaan Roh Kudus, sebuah prinsip yang tetap krusial bagi misi kaum Pentakostal.  
Pemberitaan Injil dengan Tanda-tanda Heran: Eksegesis Markus 16:15-18 dalam Perspektif Pentakostal Harseno, Han Denny
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.550

Abstract

The purpose of this study is to provide an in-depth analysis of the preaching of the Gospel with signs of astonishment based on the exegesis of Mark 16:15-18 from a Pentecostal perspective. This verse has greatly influenced the theology and practice of the church, particularly among Pentecostal churches. By the bibliological descriptive method, through scriptural exegesis, it is found that Mark 16:15-18 records spiritual signs: exorcism, the gift of tongues, divine protection, and healing, which are manifestations of the power of Christ through believers in the context of preaching the Gospel. From a Pentecostal perspective, this verse emphasizes that signs of wonder follow the preaching of the gospel, that certain people received the gift of performing miraculous signs, that signs of wonder continue to this day, and that Christians must be on guard against false signs of wonder.     Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan analisis mendalam tentang pemberitaan Injil dengan tanda-tanda heran berdasarkan eksegesis Markus 16:15-18 dalam perspektif Pentakostal. Ayat ini sangat memengaruhi teologi dan praktik gereja terutama Gereja-gereja Pentakostal. Dengan metode deskriptif bibliologis, melalui eksegesis nas ditemukan bahwa Markus 16:15-18 mencatat tanda-tanda rohani: pengusiran setan, karunia bahasa roh, perlindungan Ilahi, dan penyembuhan, merupakan manifestasi kuasa Kristus melalui orang percaya dalam rangka pemberitaan Injil. Dari perspektif Pentakostal ayat ini menekankan bahwa: tanda-tanda heran mengikuti pemberitaan Injil, orang-orang tertentu menerima karunia untuk mengadakan tanda-tanda ajaib, tanda-tanda heran masih berlanjut hingga masa kini, dan orang Kristen harus waspada terhadap tanda-tanda heran yang palsu.
Inses Digital dan Budaya Narsistik: Krisis Teologi Tubuh dalam Gereja Kontemporer Simajuntak, Markus A.
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.558

Abstract

This study examines the crisis of body theology in the contemporary church resulting from digital incest phenomena and narcissistic digital culture through an interdisciplinary approach. By integrating exegetical analysis of Leviticus 18 and 1 Corinthians 6:18-20, Jean M. Twenge's cultural psychology perspective, and empirical data from KPAI (2025) and Barna Group (2024), this research reveals threats to bodily sanctity extending beyond the physical realm. Empirical findings demonstrate significant involvement in online incest content consumption and a strong correlation between social media usage and body image obsession that objectifies the body as a virtual commodity. Exegetical analysis affirms incest prohibition as a covenantal community identity marker, while the body is understood as the temple of the Holy Spirit that must not be commodified. Holistic pastoral interventions are effective in increasing youth participation and reducing the risk of deviance. Research implications demand integrated reform: liturgy affirming bodily sanctity, an empirically grounded body-theology curriculum, and empathetic, adaptive church leadership. The church must respond to digital dynamics through robust exegesis, empirical monitoring, and contextual pastoral intervention to restore the integrity of body theology as the foundation of Christian identity.   Abstrak Penelitian ini mengkaji krisis teologi tubuh dalam gereja kontemporer akibat fenomena digital incest dan budaya narsistik digital melalui pendekatan interdisipliner. Dengan mengintegrasikan analisis eksegetis Imamat 18 dan 1 Korintus 6:18–20, perspektif psikologi budaya Jean M. Twenge, serta data empiris KPAI (2025) dan Barna Group (2024), penelitian ini mengungkap ancaman terhadap kekudusan tubuh yang melampaui ranah fisik. Temuan empiris menunjukkan keterlibatan signifikan dalam konsumsi konten inses daring serta korelasi kuat antara penggunaan media sosial dan obsesi body image yang mengobjektifikasi tubuh sebagai komoditas virtual. Analisis eksegetis menegaskan larangan inses sebagai penanda identitas komunitas perjanjian, sementara tubuh dipahami sebagai bait Roh Kudus yang tak boleh dikomodifikasi. Intervensi pastoral holistik terbukti efektif meningkatkan partisipasi pemuda dan mengurangi risiko penyimpangan. Implikasi penelitian menuntut reformasi terintegrasi: liturgi yang menegaskan kekudusan tubuh, kurikulum pendidikan teologi tubuh berbasis data empiris, dan kepemimpinan gereja yang empatik-adaptif. Gereja perlu merespons dinamika digital melalui eksegesis kokoh, pemantauan empiris, dan intervensi pastoral kontekstual untuk memulihkan integritas teologi tubuh sebagai fondasi identitas kristiani.
Revitalisasi Pastoral Gerejawi dan Krisis Etika: Studi tentang Kepemimpinan Gerejawi di tengah Fenomena Komersialisasi Pelayanan Tiwa, Jerry F.; Rahayu, Yohana Fajar
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.560

Abstract

Commercialization in contemporary church life has generated an ethical crisis that threatens the integrity of pastoral ministry. The paradigm of ministry, which originally focused on spiritual devotion, has now shifted toward a business-oriented management approach. This shift creates a dilemma for church leadership between faithfulness to pastoral calling and economic demands, reflected in paid ministry practices, spiritual marketing, and hedonistic lifestyles that contradict the principles of simplicity exemplified by Jesus Christ. This study aims to examine the ethical crisis in church leadership amid the widespread commercialization of ministry through a qualitative method. The findings reveal that the essence of church leadership lies in the calling to shepherd the congregation according to biblical values. However, in adapting to contemporary demands, churches often become entangled in commercialization. Amid increasingly complex economic pressures, theological spirituality becomes essential as a critique of commercialization theology that disregards the sacredness of ecclesiastical calling. Therefore, the church needs to return to a pure spirituality grounded in the theology of the cross as the foundation for restoring the integrity of pastoral ministry.   Abstrak Komersialisasi dalam kehidupan gereja masa kini telah memunculkan krisis etika yang mengancam integritas pelayanan pastoral. Paradigma pelayanan yang semula berfokus pada pengabdian spiritual kini bergeser ke arah pengelolaan bercorak bisnis. Pergeseran ini menimbulkan dilema bagi kepemimpinan gereja antara kesetiaan pada panggilan pastoral dan tuntutan ekonomi, yang tercermin dalam praktik pelayanan berbayar, pemasaran spiritual, hingga gaya hidup hedonisme yang bertentangan dengan prinsip kesederhanaan Yesus Kristus. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis krisis etika kepemimpinan gereja di tengah maraknya komersialisasi pelayanan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat pemimpin gereja terletak pada panggilan menggembalakan umat berdasarkan nilai-nilai alkitabiah. Namun, dalam adaptasi kontekstual terhadap tuntutan zaman, gereja kerap terjebak dalam arus komersialisasi. Di tengah tekanan ekonomi yang kompleks, spiritualitas teologis menjadi penting sebagai kritik terhadap teologi komersialisasi yang mengabaikan kesakralan panggilan gerejawi. Oleh karena itu, gereja perlu kembali pada spiritualitas murni berbasis teologi salib sebagai dasar pemulihan integritas pelayanan pastoral.    
Amanat Agung dalam Bayang-bayang Disinformasi: Strategi Gereja Menghadirkan Kebenaran Injil di Era Post-Truth Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.561

Abstract

In the post-truth era, the abundance of conflicting news and hoaxes often overshadows objective truth, as personal opinions and subjective values predominate. Even relativity determines truth, leading to widespread disinformation in digital and social spaces. The Church, as the recipient of the Great Commission, currently faces challenges in communicating the Gospel in its pure form. This challenge is due to the presence of biased and manipulative information that distorts the truth. The inability of some Christians to distinguish between theological truth and false narratives has weakened the Church's witness. The purpose of this study is to formulate theological and practical strategies for the Church in communicating the Great Commission authentically amid the truth crisis. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that an understanding of the essence of the Great Commission in theology, as well as knowledge of the post-truth crisis and the church's challenges in proclaiming the truth, are crucial. It is hoped that the results will not hinder the actualization of the Great Commission as a mandate to proclaim truth amid the post-truth crisis and that the church will develop strategies to address disinformation in its mission to proclaim truth in a world darkened by disinformation.   Abstrak Banyaknya berita simpang siur dan hoak di era post-truth, kebenaran objektif sering kali tersingkir oleh opini dan nilai subjektif pribadi manusia.  Bahkan adanya relativitas juga menentukan kebenaran sehingga menimbulkan disinformasi yang meluas dalam ruang digital dan sosial. Gereja sebagai penerima mandat dari Amanat Agung dewasa ini menghadapi problem dalam menyampaikan Injil secara murni. Sebab adanya informasi yang bias dan manipulatif terkait kebenaran yang dinarasikan. Ketidakmampuan sebagian umat Kristen dalam membedakan antara kebenaran teologis dan narasi palsu telah melemahkan daya kesaksian gereja. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan strategi teologis dan praktis bagi gereja dalam mengkomunikasikan Amanat Agung secara otentik di tengah krisis kebenaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa peran pemahaman akan hakikat Amanat Agung dalam teologis dan juga pengetahuan akan Krisis di era post-truth dan tantangan gereja dalam mewartakan kebenaran. Diharapkan tidak menghalangi untuk mengaktualisasikan mandat Amanat Agung sebagai mandat pewartaan kebenaran di tengah krisis post-truth dan juga adanya strategi gereja menghadapi disinformasi dalam misi pewartaan dalam dunia yang gelap oleh disinformasi.    
Dari Laut ke Salib: Narasi Kehidupan Iman Orang Bajau Laut Kristen di Sabah Malaysia dalam Perspektif Misiologi Pastoral Widyastuti, Zohra; Rotty, Ryo Feens; Mauso, Grace Missela Julia; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.572

Abstract

This article examines the faith life of the Christian Bajau Laut community in Sabah through a descriptive, narrative, qualitative approach to understand religious, social, and pastoral dynamics within the context of marginalization and statelessness. The purpose of this study is to interpret the community's experiences theologically and pastorally and to identify challenges and opportunities for the development of relevant and contextual pastoral missiology. The research methodology involved field observations in the context of ministry and a targeted literature review of academic sources. The results indicate that the Bajau Laut's faith life is shaped by fragile socio-economic conditions, maritime mobility, limited access to education and health care, and a legacy of local beliefs that influence daily religious practices. Field observations reveal tensions between cultural identity and Christian identity, particularly in situations of eviction, administrative discrimination, and minimal church support. This emphasizes the importance of an incarnational, dialogical, and advocacy-based model of pastoral care that not only focuses on spiritual nurturing but also seeks access to education, health, and social protection.     Abstrak Artikel ini mengkaji kehidupan iman komunitas Bajau Laut Kristen di Sabah melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan naratif untuk memahami dinamika religius, sosial, dan pastoral dalam konteks kemarginalan dan ketidakberkewarganegaraan. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan pengalaman komunitas secara teologis-pastoral serta mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi pengembangan misiologi pastoral yang relevan dan kontekstual. Metodologi penelitian melibatkan observasi lapangan dalam konteks pelayanan dan kajian pustaka terarah atas literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan iman Bajau Laut dibentuk oleh kondisi sosial-ekonomi yang rapuh, mobilitas maritim, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta warisan kepercayaan lokal yang berdampak pada praktik religius sehari-hari. Observasi lapangan mengungkap ketegangan antara identitas budaya dan identitas kristiani, khususnya dalam situasi penggusuran, diskriminasi administratif, dan minimnya pendampingan gereja. sehingga hal ini dapat menegaskan pentingnya model penggembalaan yang inkarnasional, dialogis, dan advokatif, yang tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani tetapi juga mengupayakan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Page 1 of 2 | Total Record : 12