Numeracy : Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika
Numeracy Journal is a journal on mathematics education. The Journal publishes articles comprising on mathematics learning, critical study of mathematics learning, classroom action research research on mathematics curriculum, learning method of mathematic, learning media of mathematic, research on mathematics assessment, and research on the development of mathematics learning.
Articles
201 Documents
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING
Mirunnisa
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (221.954 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.434
Mathematics has an important role in the development of science, because mathematics is a science with regard to ideas, structures and relationships are arranged logically associated with abstract concepts. Students will understand the mathematical concepts when students have high mathematical reasoning abilities. But in reality the reasoning skills of students is still relatively low. Reasoning skills students can be grown if students are given the opportunity to rediscover the mathematical concepts learned. One model of learning that can improve the ability of reasoning is discovery learning, because this model will help the students to understand and analyze the decision-making process in its findings. This study aims to: 1) determine an increase in the ability of mathematical reasoning with models of discovery learning, 2) understand the interaction between learning models and grouping of students to increase the ability of mathematical reasoning. This study was an experimental study with pretest-posttest study design group design. The study population throughout the class X SMA Negeri 1 Peukan Pidie with samples of class X 5 (experimental class) and class X 4 (control group). The data collection was done by using reasoning ability tests. Data were analyzed using ANOVA two lanes with α = 5%. Based on the results of data analysis can be concluded that: 1) increase the ability of students taught mathematical reasoning with models of discovery learning is better than being taught by conventional. 2) there is no interaction between the learning model and student level to the improvement of mathematical reasoning abilities. Abstrak Matematika memiliki peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, karena matematika merupakan ilmu yang berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang secara logis yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak. Siswa akan lebih dapat meningkat memahami matematika apabila siswa telah mempunyai kemampuan penalaran matematis. Namun kenyataannya kemampuan penalaran siswa masih tergolong rendah. Salah satu model yang dapat meningkatkan kemampuan penalaran siswa adalah model discovery learning. Penalaran siswa dapat ditumbuhkan jika siswa aktif dalam kegiatan menemukan kembali konsep sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk:1) mengetahui peningkatan kemampuan penalaran matematis dengan model discovery learning, 2) mengetahui interaksi antara model pembelajaran dan pengelompokan siswa terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian pretest-postes group design. Populasi penelitian seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Peukan Pidie dengan sampel kelas X5 (kelas eksperimen) dan kelas X4 (kelas kontrol). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan uji ANAVA dengan α=5%. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa: 1) peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang diajarkan dengan model discovery learning lebih baik dari pada yang diajarkan dengan konvensional. 2) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan level siswa terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis. Kata kunci: Kemampuan penalaran matematis, Model Discovery Learning
APLIKASI MODEL STATISTIKA INFERENSIA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA EKONOMI
Rahmattullah
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (564.755 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.437
This study aims to observe the application of inferencing statistical models in economic mathematics learning. The data used are panel data consisting of 6 zones, namely the central, north, east, southeast, south and west zones in the Aceh Province in 2010-2016. The method used is panel data regression with the selection between the Commond Pool Model, Fixed Effect Model or Random Effect Model. The results obtained from the three models are pool, fixed and commond effect that the fixed effect model is quite good in explaining the economic growth of strategic areas in Aceh Province. Another important finding in this study is the Human Development Index (HDI) does not affect economic growth both in conditions of intra and inter-zone development disparities. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengamati aplikasi model statistika inferensia dalam pembelajaran matematika ekonomi. Data yang digunakan adalah data panel yang terdiri dari 6 zona yaitu zona pusat, utara, timur, tenggara, selatan dan barat di Provinsi Aceh tahun 2010-2016. Metode yang dipakai adalah regresi data panel dengan pemilihan diantara Pool Commond Model, Fixed Effect Model atau Random Effect Model. Hasil yang diperoleh menunjukkan dari ketiga model yaitu pool, fixed dan commond effect bahwa model fixed effect cukup baik dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi kawasan strategis di Provinsi Aceh. Temuan penting lain dalam penelitian ini adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM) tidak menpengaruhi pertumbuhan ekonomi baik dalam kondisi kesenjangan pembangunan intra maupun antar zona. Kata kunci: Commond Pool Model, Fixed Effect Model, Random Effect Model
PERSEPSI GURU PAMONG TERHADAP KOMPETENSI MAHASISWA PPL JURUSAN TADRIS MATEMATIKA IAIN LHOKSEUMAWE
Abdul Kadir
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (241.569 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.438
This study aims to describe the perception of tutor teachers on the competence of PPL students in the Mathematics Department Tadris IAIN Lhokseumawe. Competencies reviewed include pedagogical competencies, personality competencies, professional competencies and social competencies. This study uses a quantitative descriptive research approach with a type of survey research. The population in this study were junior high school / MTs teachers and high school / MA in Lhokseumawe City and North Aceh. The sample in this study were 13 tutors. Data collection is done by distributing Likert scale questionnaires to tutor teachers. The data analysis technique uses descriptive statistics. From the results of data analysis, it was found that pedagogical competence of PPL students was in good criteria with a percentage of 81.77%, professional competency was in good criteria with a percentage of 79.23%, personality competencies were very good criteria with a percentage of 88.46% and student social competence The PPL majoring in mathematics is very good with a percentage of 87.43%. Based on these results the competence of PPL students majoring in mathematics is classified as a good percentage. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru pamong terhadap kompetensi mahasiswa PPL Jurusan Tadris Matematika IAIN Lhokseumawe. Kompetensi yang ditinjau meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif dengan jenis penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah guru pamong SMP/MTs dan SMA/MA Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 13 guru pamong. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket skala likert kepada guru pamong. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil analisis data diperoleh bahwa kompetensi pedagogik mahasiswa PPL berada dalam kriteria baik dengan persentase 81,77%, Kompetensi profesional berada pada kriteria baik dengan persentase 79,23%, Kompetensi kepribadian berada kriteria sangat baik dengan persentase 88,46% dan kompetensi sosial mahasiswa PPL jurusan tadris matematika berada pada kriteria sangat baik dengan persentase 87,43%. Berdasarkan hasil tersebut kompetensi mahasiswa PPL jurusan tadris matematika tergolong dalam persentase yang baik. Kata kunci: Persepsi, Kompetensi Guru, Praktek Pengalaman Lapangan
PENGURANGAN BEBAN KOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA SMA
Wilda Syam Tonra;
Hasriani Ishak
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (204.426 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.440
Classroom action research aims to improve mathematics learning outcomes through reducing cognitive load. The research subjects were High School students with 37 participants. The study began by identifying problems in by giving mathematics ability test, then proceeding with the provision of cognitive style tests to determine the tendency of students to receive lessons. PTK consists of two cycles, namely cycle I and II by giving treatment according to the dominant cognitive style in the class, namely visualizer in order to reduce the cognitive burden felt by students. The results showed that mathematics learning outcomes had increased. This can be seen in the average score of the mathematics learning outcomes test in the first cycle was 66.27 in the categorization table in the low category, while the average score of the mathematics learning outcomes of students in the second cycle was 78.92 in the medium category. While the classical completeness of students in the first cycle was only 51.35% and as many as 18 students had not yet reached KKM. Classical completeness in the second cycle reached 89.19% and as many as 7 students had not yet reached KKM. From these results it was concluded that cognitive load reduction can improve the mathematics learning outcomes of high school students. Abstrak Penelitian tindakan kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pengurangan beban kognitif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA 4 Ternate berjumlah 37 orang. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah di kelas X dengan memberikan tes kemampuan awal, kemudian dilanjutkan dengan pemberian tes gaya kognitif untuk mengetahui kecendrungan siswa dalam menerima pelajaran. PTK terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan II dengan memberikan treatment sesuai dengan gaya kognitif yang dominant di kelas tersebut yaitu visualizer dalam rangka mengurangi beban kognitif yang dirasakan oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil belajar matematika mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada skor rata-rata skor tes hasil belajar matematika pada siklus I adalah 66,27 dalam tabel kategorisasi berada dikategori rendah, sedangkan rata-rata skor tes hasil belajar matematika siswa pada siklus II adalah 78,92 berada dikategori sedang. Sedangkan ketuntasan klasikal siswa pada siklus I hanya 51,35% dan sebanyak 18 siswa yang belum mencapai KKM. Ketuntasan klasikal pada siklus II mencapai 89,19% dan sebanyak 7 siswa yang belum mencapai KKM. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa pengurangan beban kognitif dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMA. Kata kunci: Beban Kognitif, Penelitian Tindakan Kelas, Hasil Belajar Matematika
PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA
Muhsin;
Zulfa Razi
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (662.428 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.441
Mathematical communication skills are very important abilities possessed by students in the process of learning mathematics, especially in understanding mathematics. One important goal in mathematics learning is that students are able to provide arguments for their answers and provide responses to answers given by others, and what is being learned becomes more meaningful to them. Mathematical communication is essential from teaching, learning and acsess mathematics, we will need communication if we want to reach in full the purpose such as understanding. Therefore, it is very important to develop and improve students' mathematical communication skills in the learning process of mathematics. This study aims to examine the improvement of mathematical communication skills between students who get learning with contextual approaches and students who get conventional learning. This research is an experimental study using a pre-test post-test control group design. The population in this study were eighth grade students of MTsN 4 Pidie, Aceh in the 2018/2019 academic year. Through Purposive Sampling, two parallel classes were chosen, namely class VIII1 as the experimental class and VIII2 as the control class. The instrument used to collect research data is a test of mathematical communication skills. The statistical test used t test to analyze data on increasing mathematical communication skills. The results of the studyshowed that the improvement of mathematical communication skills of students who obtained learning with contextual approaches was better than students who obtained conventional learning. Abstrak Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan yang sangat penting dimiliki oleh siswa dalam proses pembelajaran matematika khususnya dalam memahami matematika. Salah satu tujuan penting dalam pembelajaran matematika bahwa siswa mampu memberikan argumen atas jawabannya serta memberikan tanggapan atas jawaban yang diberikan oleh orang lain, serta apa yang sedang dipelajari menjadi lebih bermakna baginya. Komunikasi matematis merupakan hal esensial dari mengajar, belajar dan meng-acsess matematika, kita akan memerlukan komunikasi jika hendak meraih secara penuh tujuan seperti memahamai. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dalam proses pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatkan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan desain pre-test post-test control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN 4 Pidie, Aceh pada tahun pelajaran 2018/2019. Melalui Purposive Sampling dipilihlah dua kelas secara paralel yaitu kelas VIII1 sebagai kelas eksperimen dan VIII2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian berupa tes kemampuan komunikasi matematis. Uji statistik yang digunakan adalah uji-t untuk menganalisis data peningkatan kemampuan komunikasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Kata kunci: Kemampuan Komunikasi Matematis, Pendekatan Kontekstual
PROFIL VALIDITAS DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL MATEMATIKA UJIAN AKHIR SEMESTER KELAS VIII SMP DI BANDA ACEH
Intan Kemala Sari;
Nurul Fajri;
Sri Mulyani
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (396.031 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.442
Evaluation of learning is activity that is done after the learning process is completed. This activity have to do to measure the success of the teaching and learning process in the class, follow-up, and make improvements to the next learning activity. But what happens if the evaluation instrument cannot measure the success of the process that has been carried out? This study aims to study how the profile of validity and reliability of semester exam questions in mathematics is used by the teachers to measure the learning process of teaching and learning. This research was conducted by analyzing mathematical questions consisting of 40 multiple choice questions and 5 description questions. The results of the analysis show that 40% of multiple choice questions are valid but not same condition with reliability score. The level of validity is included in the medium and low category. While one of the five description questions is invalid but the rest fulfill valid and reliable requirements with very high categories. It is known that teachers often repeat the same questions year after year. However, by asking questions about validity and reliability, it is expected that the teacher can make relevant revisions to invalid and reliable questions, and ask valid and reliable questions to become the teacher's personal question bank and can be a necessary problem. Abstrak Evaluasi pembelajaran herupakan hal yang mutlak dilakukan setelah proses pembelajaran telah diselesaikan. Hal ini dilakukan untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar, merencanakan tindak lanjut, dan melakukan perbaikan. Namun apa jadinya jika instrument evaluasi tidak dapat mengukur keberhasilan proses yang telah dijalankan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana profil validitas dan reliabilitas butir soal tes ujian semester pelajaran matematika yang digunakan guru untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajarnya. Penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisis butir soal ujian matematika siswa yang terdiri dari 40 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Hasil analisis menunjukkan bahwa 40% soal pilihan ganda valid namun tidak satu pun soal yang reliable. Tingkat validitas pun termasuk dalam kategori sedang dan rendah. Sedangkan satu dari lima soal uraian tidak valid namun selebihnya memenuhi syarat valid dan reliable dengan kategori sangat tinggi. Diketahui guru sering mengulang pemberian soal yang sama dari tahun ke tahun. Namun dengan adanya uji validitas dan reliabilitas ini diharapkan guru dapat melakukan revisi yang relevan terhadap soal yang tidak valid dan reliable, serta memasukkan soal yang valid dan reliabel menjadi bank soal pribadi guru dan dapat menjadi masukan jika dibutuhkan soal tes yang memadai. Kata kunci: Validitas, reliabilitas, butir soal
ANALISIS KESESUAIAN ANTARA LATAR BELAKANG PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DENGAN MATA PELAJARAN YANG DIAMPU
Samsul Bahri
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (398.125 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.443
Teachers must have academic qualifications and educational backgrounds in accordance with the field of duty. The teacher as a professional means that the teacher's work can only be done by someone who has academic qualifications, competencies, and educator certificates in accordance with the requirements for certain types and levels of education. The objectives of the research in this study are: To what extent is the degree of conformity between the education background of the Madrasah ibididaiyah teachers and elementary schools in the North Aceh environment with the subjects taught. In this study using qualitative research. The conclusions were that there were 27.86% or as many as 102 out of 366 teachers who had educational backgrounds that were not in accordance with heresy skills. Many factors influence the teachers of madrasah ibtidaiyah and elementary schools in the North Aceh environment in teaching subjects are: "a) knowledge in terms of educational background relations with subjects taught; b) skills; c) ability (talent) and motivation; d) attitudes and responsibilities and e) behavior of the teachers in the school; f) teaching experience. Abstrak Guru harus memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah: Sejauh mana tingkat kesesuaian latar belakang pendidikan guru madrasah ibdidaiyah dan sekolah dasar di lingkungan aceh utara dengan mata pelajaran yang diampu. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitataif. Adapun kesimpulan tersebut ada 27,86% atau sebanyak 102 dari 366 guru yang memiliki latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan bidah keahlian. Banyak faktor yang mempengaruhi guru madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar di lingkunagn Aceh Utara dalam mengampu mata pelajaran adalah: “a) pengetahuan dalam artian relasi latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang diajarkan; b) keterampilan; c) kemampuan (bakat) serta motivasi; d) sikap serta tanggung jawab dan e) perilaku dari para guru yang ada di dalam sekolah; f) pengalaman mengajar. Kata kunci: Latar Belakang Pendidikan, Mata Pelajaran yang Diampu
ANALISIS TINGKAT KEMAMPUAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL BERDASARKAN TAKSONOMI SOLO
Faisal;
Leny Maryulianty
Jurnal Numeracy Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (633.201 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i1.444
In learning, students have different levels of ability to solve math problems. One way to find out and classify a student's level of ability is with the taxonomy of SOLO. SOLO Taxonomy is a way to find out students' abilities by looking at the quality of student responses in solving math problems. This taxonomy consists of five levels from a low level to a higher level, namely the level of structural, unstructural, multistructural, relational, and extended abstract. This article is the result of a study that aims to determine the level of students' ability to solve story problems based on SOLO taxonomy on material systems of three-variable linear equations. This type of research is descriptive with a qualitative approach. The subjects of this study were 3 students who had different levels of ability from class X MIA 1 of Vocational High School 2 Senior High School. Data collection methods used are test and interview methods. The results showed that in general the level of students' ability to solve the story problems system of three variable linear equations based on SOLO taxonomy in class X MIA 1 Vocational High School 2 has a different level, for subjects with high ability levels have reached the highest level or extended abstract , for subjects who have a level of ability being at a multistructural level or level, for subjects who have a low level of ability are at the structural level or unistructural level. Abstrak Dalam pembelajaran, siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam menyelesaikan soal matematika. Salah satu cara untuk mengetahui danmengklasifikasikan tingkat kemampuan siswa adalah dengan taksonomi SOLO. Taksonomi SOLO adalah cara untuk mengetahui kemampuan siswa dengan melihat kualitas respon siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Taksonomi ini terdiri dari lima tingkatan dari tingkatan yang rendah hingga ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkat prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract. Arikel ini merupakan hasil sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita berdasarkan taksonomi SOLO pada materi sistem persamaan linear tiga variabel. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah 3 siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dari kelas X MIA 1 SMA Negeri 2 Kejuruan Muda. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel berdasarkan taksonomi SOLO di kelas X MIA 1 SMA Negeri 2 Kejuruan Muda memiliki tingkatan yang berbeda diantaranya, untuk subjek tingkat kemampuan tinggi telah mencapai tingkatan tertinggi atau level extended abstract, untuk subjek yang memiliki tingkat kemampuan sedang berada pada tingkatan atau level multistruktural, untuk subjek yang memiliki tingkat kemampuan rendah berada pada tingkatan atau level unistruktural. Kata kunci: Tingkat Kemampuan Siswa, Soal Cerita Sistem Persamaan Linear, Taksonomi SOLO
KEMAMPUAN MENGKONSTRUKSI MODEL MATEMATIKA SISWA DENGAN PENDEKATAN MODEL ELICITING ACTIVITIES (MEAs) DI SMP NEGERI 3 PALEMBANG
Yulianita Maharani;
Cecil Hiltrimartin;
Yusuf Hartono;
Indaryanti
Jurnal Numeracy Vol 6 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (594.085 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i2.449
This research is descriptive research that aims to describe the ability to construct a mathematical model of students with model-eliciting activities (MEAs) approach in Palembang State Middle School 3. The subjects in this study were students of class VII.8 Palembang State Middle School 3 which numbered 31 people. This study uses data collection techniques in the form of tests, namely problem-solving questions with the competence to construct mathematical models, and interviews to obtain additional data. Based on the results of student tests, it is known that the percentage of the ability to construct mathematical models of students is not evenly distributed in each category, It can be said that the ability of students to construct mathematical models are good enough after using MEAs approach. Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan mengkonstruksi model matematika siswa dengan pendekatan model eliciting Activities(MEAs) di SMP Negeri 3 Palembang. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII.8 SMP Negeri 3 Palembang yang berjumlah 31 orang. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes yaitu lembar soal-soal pemecahan masalah dengan kompetensi mengkonstruksi model matematika, dan wawancara untuk memperoleh data tambahan. Berdasarkan hasil tes siswa, diketahui bahwa persentase kemampuan mengkonstruksi model matematika siswa tidak merata pada setiap kategorinya. secara keseluruhan rata-rata kemampuan siswa dalam mengkonstruksi model matematika sudah cukup baik setelah menggunakan pendekatan MEAs. Kata Kunci: Kemampuan mengkontruksi matematika, MEAs, Aljabar, Deskriptif
ANALISIS KESALAHAN KONSEP MAHASISWA PADA POKOK BAHASAN INDUKSI MATEMATIKA DI STKIP BINA BANGSA GESEMPENA BANDA ACEH
Nurul Fajri;
Ahmad Nasriadi;
Dewi Nirmala
Jurnal Numeracy Vol 6 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.861 KB)
|
DOI: 10.46244/numeracy.v6i2.469
One of the subjects that is often considered difficult for students in mathematics is learning and proof and needs for good thinking and requires logical abstraction. Accepting students 'mathematical abilities can be seen from students' mastery of the material. One way is to provide evaluations to students. Student mistakes in working on this problem can be one of the instructions to find out where students understand and understand the material. Because the problem needs to be questioned and searched for any factors that influence it then sought solutions to solve it. Thus, information about problems in aligning mathematical problems can be used to improve the efficiency and efficiency of mathematics learning. The type of research used is qualitative research. The subjects of the study were the fifth semester students of the STKIP Bina Bangsa Getsempena mathematics program in Banda Aceh in 2018/2019. Judging from the overall mistakes made by students complete all types of errors due to concept errors, technical validity, misinterpretation of language, and mistakes in the selection of conclusions. Concept errors, errors made by students amounted to 36% consisting of errors in the use of the concept of understanding is still low. Technical errors, mistakes made by students amounted to 29% with the cause of errors made by students namely as mistakes. Misinterpretation of language, errors made by students is 19% with students' mistakes in interpreting symbols in mathematical language. Error in making conclusions, mistakes made by students amounted to 16% with the cause of errors of students who are students make conclusions without any supporting reasons that are correct and not in accordance with logical reasoning. Abstrak Salah satu pokok bahasan yang sering dianggap sulit bagi mahasiswa dalam mata pelajaran matematika adalah penelaran dan pembuktian dan membutuhkan pemikiran yang kritis serta memerlukan abstraksi yang logis. Mengingat Kemampuan matematika mahasiswa dapat dilihat dari penguasaan mahasiswa terhadap materi. Salah satunya adalah dengan memberikan evaluasi kepada mahasiswa. Kesalahan mahasiswa dalam mengerjakan soal tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa menguasai dan memahami materi.Oleh karena itu, adanya kesalahan-kesalahan tersebut perlu diidentifikasi dan dicari faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya kemudian dicari solusi penyelasainnya. Dengan demikian, informasi tentang kesalahan dalam menyelasaikan soal-soal mateamatika tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran matematika. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester V program studi matematika STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh tahun 2018/2019. Dilihat dari keseluruhan kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa mencakup semua jenis kesalahan yaitu kesalahan konsep, kesahahan teknis, kesalahan interpretasi bahasa, dan kesalahan penarikan kesimpulan. Kesalahan konsep, kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah sebesar 36% yang berupa kesalahan dalam penggunaan rumus pemahaman konsepnya masih rendah. Kesalahan teknis, kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah sebesar 29% dengan penyebab kesalahan yang dilakukan mahasiswa yaitu berupa kesalahan penyelesaian. Kesalahan interpretasi bahasa, kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah sebesar 19% dengan penyebab kesalahan mahasiswa salah dalam menginterpretasikan simbol-simbol dalam bahasa matematika. Kesalahan penarikan kesimpulan, kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah sebesar 16% dengan penyebab kesalahan mahasiswa yang berupa mahasiswa melakukan penarikan kesimpulan tampa adanya alasan pendukung yang benar dan tidak sesuai panalaran yang logis. Kata Kunci: Analisi, Kesalahan Mahasiswa, Induksi Matematika