cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
MAKNA DAN NILAI BUDAYA TAPIS INUH PADA MASYARAKAT PESISIR DI LAMPUNG SELATAN Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.596 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.116

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul Makna dan Nilai Budaya Tapis Inuh pada Masyarakat Pesisir di Lampung Selatan. Inuh merupakan salah satu jenis Tapis yang berkembang di tengah masyarakat beradat Sai Batin, umumnya tinggal di pesisir Lampung. Inuh dibuat dengan bahan benang sutera yang pewarnaannya menggunakan teknik celup tradisional. Pembuatan Inuh dilakukan dengan teknik tenun ikat, yaitu kain yang proses pembentukan motifnya dilakukan melalui pengikatan benang-benang. Inuh menarik untuk dikaji karena motif dan ragam hias di dalamnya menggambarkan cara pandang masyarakat pesisir terhadap lingkungannya, yang berbeda dengan masyarakat di pedalaman (beradat Pepadun). Penelitian ini difokuskan untuk menjawab apa dan bagaimana makna yang tersirat dari motif dan ragam hias yang terdapat pada Inuh, juga untuk mengetahui bagaimana penggunaan serta nilai-nilai budaya yang tekandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Penelitian ini menggunakan konsep kebudayaan fisik dan nilai budaya. Ciri khas Inuh terlihat dari motifnya yang bernuansa laut. Tapis Inuh yang dibuat secara tradisional, dewasa ini sangat sulit ditemukan karena pewarisannya tidak sembarangan. Bagi masyarakat pesisir Lampung, Inuh merepresentasikan status sosial. Semakin tinggi tingkat kerumitan Inuh, semakin tinggi status sosial pemakainya. Dilihat dari pembuatannya, Inuh mengandung nilai-nilai keuletan, kerja keras, kecermatan, dan penghargaan terhadap kaum wanita.AbstractThis research entitled The Meaning and Cultural Values of Tapis Inuh in South Lampung Coastal Communities. Inuh is one kind of tapis that evolved in Sai Batin society. Inuh is made from silk material which colored by traditional dye techniques and the motif by weaving techniques. Inuh is an interesting subject, because the motif represents Coastal Communities way of life, which is different from rural communities in Lampung. This research focused to answer the implicit meaning of Inuh’s motif, also to know how Inuh used in Sai Batin society and its cultural values. This research used qualitative method with descriptive analytical approach and concept of physical culture and culture value. Inuh’s characteristic can be seen from a nautical motif. Nowadays Tapis Inuh, which made traditionally, is hard to find because its inheritance not given arbitrary. In Lampung Coastal Communities, Inuh represent social status. The more complex isInuh’s motif, the more high social status it represent. In terms of making Inuh, it contained of perseverance, hard work, and frugality values, also reflected of respect for women.
Komunitas Adat Kampung Mahmud di Tengah Arus Perubahan Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.923 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.282

Abstract

AbstrakKampung Mahmud adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnyateguh memegang dan melaksanakan tradisi yang diwarisi dari leluhurnya. Namunarus modernisasi ternyata membawa dampak terhadap kehidupan sosial budayamasyarakat setempat yang sudah mulai menampakkan perubahan. Beberapatradisi yang semula dipegang teguh oleh warga komunitas Kampung Mahmud, kinimulai melonggar. Komunitas adat ini berdomisili di wilayah Kabupaten Bandung.Penelitian ini mencoba mengkaji perubahan-perubahan pada aspek-aspek sosialdan budaya yang terjadi di kalangan komunitas adat Kampung Mahmud. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatandeskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terbuka denganbeberapa tokoh masyarakat dan warga komunitas terpilih, serta pengamatan langsungdi lapangan (observasi). AbstractKampung (village) Mahmud is an adat kampung that strictly preserves theircustoms inherited from their ancestors. But, modernization has given strong impactsto the community in terms of socio-cultural life which has gradually changed. Someof their traditions have become loosened. This adat commuity lives in KabupatenBandung. The research tries to study socio-cultural changes that has occurredamongst adat community of Kampung Mahmud. The author has conducted aqualitative method with descriptive approach. Data were collected through openedinterview with several key persons and selected community member as well asobservation.
PESANTREN CIPASUNG DI BAWAH KEPEMIMPINAN K.H. RUHIAT (STUDI KETERLIBATAN KIAI DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN) Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.355 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.198

Abstract

AbstrakPondok pesantren merupakan  lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam secara tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren tradisional berubah menjadi pondok pesantren modern dengan tidak meninggalkan agama sebagai pijakan. Perkembangan ini sudah mulai tampak sejak awal abad ke-20, dengan berdirinya pesantren-pesantren modern dan atau berubahnya pesantren tradisional menjadi pesantren modern. Pesantren tersebut mengalami pergeseran orientasi, dengan tidak hanya mengajarkan masalah uhkrowi (keagamaan/akhirat) semata tetapi juga masalah keduniawian. Hal ini tercermin dari penyesuaian-penyesuaian yang telah pesantren lakukan dalam menghadapi zaman yang semakin maju, salah satu pesantren tradisional yang berkembang menjadi pesantren modern adalah Pesantren Cipasung Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sejarah perkembangan Pesantren Cipasung Singaparna. Fokus bahasan mendeskripsikan secara historis tentang gerak perjalanan Pesantren Cipasung mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, dan kiprah pesantren di Nahdlatul Ulama (NU).  Penulisan sejarah Pesantren Cipasung Singaparna dilakukan dengan menggunakan metode sejarah, yaitu: heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi. Pondok pesantren sekarang ini tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi ilmu pengetahuan dan masalah keduniawian. Oleh karena itu, pondok Pesantren Cipasung Singaparna mempunyai tiga peranan penting, yaitu: sebagai lembaga pendidikan Islam, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan masyarakat.  AbstractMuslim boarding school (pesantren) is an educational institution and study of Islamic which develop in the middle of the society in the traditional ways.  Along with the developing of the era, traditional Muslim boarding school also become modern but still keep the religion values.  This era can be seen in the 20th century, the appearance of modern Muslim boarding school or the changes of traditional Muslim’s boarding school into modern one.  Thus boarding school got the displacement of orientation because they are not only teaching about ukhrowi (religiousness/the hereafter) but also about worldliness.  It is because they need to adjust the period that they live right now.  One of the Muslim’s Boarding schools that has changed is Pesantren Cipasung Singaparna, Tasikmalaya Regency.  The objective of this research is to reveal the history of Pesantren Cipasung Singaparna since the Dutch and Japanese colonialism, the era of Indonesian independence, until in the pace of NadhlatulUlama (NU) as the biggest Muslims organization in Indonesia.  The method that the writer used is historical method, which contains; heuristic, criticism, interpretation, and historiography.  Muslim boarding schools in this era are not only taught about religiousness or the hereafter but also teach about worldliness or scientific knowledge.  That is why Pesantren Cipasung Singaparna have three important roles; the institution of Islamic Study, the developing of human resources, and the developing of the society. 
POTENSI BUDAYA MASYARAKAT BAJO DI PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA Damardjati Kun Marjanto, Syaifuddin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.712 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.84

Abstract

AbstrakMasyarakat Bajo di Pulau Bungin, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, merupakan masyarakat laut yang berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka bermigrasi sejak ratusan tahun yang lalu dan akhirnya menetap di kawasan pantai Pulau Sumbawa. Pada awalnya mereka tidak mendiami daratan seperti sekarang ini, melainkan hidup di laut sekitar pantai dengan sistem perumahan di atas air laut. Lama-kelamaan sebagai akibat adanya pertumbuhan penduduk, mereka mulai mengusahakan daratan dengan cara menimbun air laut dengan batu maupun karang yang sudah mati. Sebagai akibat dari pengaruh lingkungan, kebudayaan suku Bajo di Pulau Bungin saat ini mempunyai ciri khas kebudayaan dua lingkungan yaitu lingkungan laut dan daratan. Lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat Bajo tersebut menghasilkan potensi, di mana potensi dimaknai sebagai kemampuan yang memungkinkan untuk dikembangkan. Potensi laut meliputi wilayah laut dan pantai yang kaya dengan sumberdaya alam, sedangkan wilayah daratan menjadi penting sebagai tempat tinggal dan wahana interaksi masyarakat. Potensi budaya di laut dan daratan yang meliputi sistem mata pencaharian tradisional, kesenian tradisional dan pengobatan tradisional tersebut apabila dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, akan menjadi kekuatan bagi kemajuan masyarakat Bajo baik dalam bidang sosial maupun ekonomi. Dengan demikian penelitian ini penting dilakukan salah satu alasannya untuk menemukenali potensi budaya yang ada. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, adapun pengumpulan datanya dengan pengamatan dan wawancara. AbstractThe Bajo people in Bungin Island, Sumbawa regency, West Nusa Tenggara Province, is a marine society from South Sulawesi. They migrated to the island hundreds of years ago and eventually settled in the coastal region of Sumbawa Island. At first they did not inhabit the land as it is today; instead they lived at the sea around the coast with on-the-sea-water housing system. Due to population growth over time, they began to seek more land by piling up the sea with rocks and dead coral. As a result of environmental influences, the Bajo of Bungin Island has currently two environmental cultural characteristics, both marine and terrestrial. These are potential environments to be developed. The sea around them is very rich in natural resources while the mainland is important as a place to live in as well as for community interaction. The cultural potential they have are, among others, traditional subsistence, traditional art, and traditionalmedicine. All of these have to be well-managed so that they can support the Baja people either socially and economically. This research conducted with a qualitative approach, the data obtained through observations and interviews.
HARI JADI KOTA JAKARTA Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.785 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.250

Abstract

AbstrakSejak tahun 1956, tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta. Ironisnya, sejak itu pula, penetapan itu menjadi polemik di antara para ahli sejarah dan pengamat sejarah. Pada konteks inilah, penelitian sejarah dapat mencarikan solusi untuk mengakhiri kontroversi yang berkepanjangan.Melalui penelitian sejarah ini, dilakukan beberapa langkah yang meliputi: (1) penelusuran literatur untuk mendapatkan data baru yang dapat dijadikan fakta baru, (2) Mengkaji kembali pendapat para ahli agar dapat diketahui akar permasalahan dari kontroversi yang selama ini terjadi, (3) dilakukan intrerpretasi baru. Dari penelitian sejarah ini, akhirnya, dapat ditemukan akar permasalahan yang sebenarnya dan dapat dicarikan solusi untuk mengakhiri kontroversi yang berkepanjangan.  AbstractSince 1956, June 22nd was celebrated as Jakarta City’s birthday. Ironically, since the beginning this matter still on dispute between the history exprets and history observer. On this context, an history research is expected to give a solution to end this prolonged controversy.Throught this history research, there are some steps to do i.a. (1) literature investigation to get new data for proofing as new facts, (2) re-study the experts’ opinion as a root of controversy, (3) choose a theory which could explain the problem, (4) get the new interpretation done. From that history research, finally there will be a real source of problem and the final solution to end this prolonged controversy.
HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA DALAM TRADISI BA-AYUN MAULID DI MASJID BANUA HALAT KABUPATEN TAPIN, KALIMANTAN SELATAN Wajidi Wajidi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.781 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.166

Abstract

AbstrakBa-ayun Maulid di Masjid Banua Halat menarik untuk dikaji karena memperlihatkan adanya hubungan antara Islam dan budaya. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara Islam dan budaya  pada upacara ba-ayun maulid. Kajian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui gambaran pelaksanaan upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat; (2) Mengetahui pengaruh tradisi Pra-Islam dalam upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat; (3) Mengetahui latar belakang munculnya pengaruh tradisi Pra-Islam pada upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat.  Lokasi penelitian mengambil tempat di desa  Banua Halat Kabupaten Tapin. Secara metodologis, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis, sejarah, budaya dan keagamaan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Banua Halat dahulunya pernah dihuni komunitas pra-Islam yang tinggal cukup lama dan berlanjut sampai datangnya pengaruh Islam. Ketika Islam berkembang di wilayah ini, terjadilah interaksi Islam dengan  kepercayaan lama sebagaimana tercermin dalam upacara ba-ayun maulid. Upacara ba-ayun maulid  sebenarnya berasal tradisi lama yakni upacara bapalas bidan atau ma-ayun anak sebagai sebuah tradisi yang berlandaskan kepada kepercayaan Kaharingan. Ketika Islam masuk dan berkembang di Banua Halat, upacara bapalas bidan tidak lantas hilang dan malah mendapat pengaruh unsur Islam sebagaimana terlihat pada  upacara ba-ayun maulid yakni upacara mengayun anak sambil membaca syair maulid yang dilaksanakan bersamaan dengan perayaan maulid Nabi Besar Muhammad SAW.  AbstractBa’ayun Maulid in Banua Halat Mosque is interesting study, because  the ceremony shows the interaction between Islam and the local culture. The main problem in this research is to know the relationship between Islam and the culture in the Ba-ayun Mawlid ceremony. This study aims to: (1) Knowing the implementation overview Ba-ayun Maulid ceremony at Banua Halat Mosque; (2) Determine the influence of pre-Islamic traditions in the Ba-ayun Maulid ceremony at Banua Halat Mosque; (3) Knowing the background of the pre-Islamic tradition's effect in Ba-ayun Mawlid ceremony at Masjid  Banua Halat. Location of this research took place in the village of Halat Banua Tapin regency. This research used descriptive-qualitative and multidimensional approaches , which consists of anthropological, historical, cultural and religious perspective. The results of this study indicate that the Banua Halat  village was once inhabited pre-Islamic community. The community settled in a long periods until the advent of Islamic influence. When Islam developed in this region, there was interaction between Islam with the old religion as reflected in the Ba-ayun Maulid  ceremony. The Ba-ayun Maulid ceremony that held at Banua Halat Mosque remnants of the old religion  is still there, but has been acculturated to Islam. The ceremony is originated by the old tradition, Bapalas bidan or ma-ayun anak  as the tradition based on the Kaharingan belief. When Islam came and develop in Banua Halat, the Bapalas bidan ceremony is not  vanished, hence it got the Islam influence as reflected in Ba-ayun Maulid ceremony, in the process of Ma-ayun anak while reciting maulid verse, together with the celebration of Maulid of Profet Muhammad SAW.
PERANAN SURAT KABAR SOERAPATI DALAM PERLAWANAN INTELEKTUAL PRIBUMI DI JAWA BARAT TAHUN 1923-1925 Dharyanto Tito Wardani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.117 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.54

Abstract

AbstrakPerlawanan intelektual pribumi yang dilakukan oleh organisasi berideologi komunis menggunakan beberapa media, diantaranya surat kabar Soerapati. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas empat tahapan kerja: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Konsep dan teori yang digunakan adalah konsep ruang publik Habermas dan teori konflik Dahrendorf. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa surat kabar Soerapati pertama terbit setelah kongres PKI dan SR di Sukabumi pada tahun 1923. Hal ini diawali dengan perpecahan SI saat kongres di Madiun yang menghasilkan disiplin partai. PKI dan SR menggunakan media surat kabar Soerapati untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial dan pemerintah lokal, selain itu surat kabar Soerapati menjadi media perdebatan ideologi di internal organisasi pergerakan. Simpulan dari penelitian ini adalah perlawanan yang dilakukan oleh PKI dan SR berakhir dengan penangkapan dan pembuangan yang diberitakan di surat kabar Soerapati. Hal ini menjadi salah satu faktor surat kabar Soerapati harus disita dan dilarang terbit pada tahun 1925. AbstractThe Indigenous intellectual resistance carried out by communist ideology organizations using multiple media, including Soerapati newspapers. By used the historical method consists of four stages of work: heuristics, criticism, interpretation and historiography. Concepts and theories used is the public sphere concept of Habermas and conflict theory of Dahrendorf. The results concluded that newspapers first published after the congress Soerapati PKI and SR in Sukabumi in 1923. It was preceded by a split time SI congress in Madiun who produce a discipline party. PKI and SR Soerapati using the press to fight against the colonial and local governments, in addition to the Soerapati newspaper became the ideological debates media movement organizations internally. The conclusions is carried out by the resistance of the PKI and SR ended with the capture and disposal by newspapers Soerapati. This is one factor newspaper Soerapati be confiscated and banned in 1925.
POLA PENGASUHAN ANAK PADA KOMUNITAS ADAT GIRI JAYA (Suatu Tinjauan Sosial Budaya) Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.732 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.217

Abstract

AbstrakPada prinsipnya, pola pengasuhan anak merupakan proses sosialisasi. Pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan, menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut. Keluarga sebagai unit sosial terkecil, merupakan tempat seorang anak tumbuh dan berinteraksi. Keluarga juga memegang peran yang sangat penting dalam proses sosialisasi bagi anak-anak ketika ia beranjak dewasa dan bergaul dengan individu lainnya di dalam maupun di luar lingkungan masyarakat. Pola pengasuhan ini, pada gilirannya akan berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mengetahui salah satu aspek kebudayaan mengenai kehidupan sosial budaya, terutama mengenai sistem dan pola pengasuhan anak pada komunitas adat Giri Jaya Padepokan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penelaahan data yang bersifat kualitatif. AbstractNurturing is basically a process of socialization. As the smallest social unit, family plays the main role in nurturing their children. Family is the place where children are grown up and interact with other members of the family. They also learn how to build character and face another environment in their future life. The purpose of this research is to reveal social life in a traditional community of Padepokan Giri Jaya, focusing on their nurturing pattern. A desctiptive method was conducted along with qualitative data review.
PERJUANGAN RAKYAT SUKABUMI MELAWAN SEKUTU PADA MASA REVOLUSI 1945 – 1946 Sulasman Sulasman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.885 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.134

Abstract

AbstrakTulisan ini menggambarkan perjuangan rakyat Sukabumi dalam melawan Sekutu pada masa revolusi. Untuk merekontruksi itu digunakan Metode Sejarah  yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan  bahwa Revolusi Sukabumi sangat erat kaitannya dengan peran para kiai, ulama, dan pemimpin pesantren. Mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membangkitkan  semangat dan emosimassa. Keberhasilan tersebut didapatkan melalui komunikasi  keagamaan. Mereka menggunakan konsep jihad fisabilillah. Mobilisasimassayang dilakukan oleh para pemimpin pesantren dipadukan dengan taktik dan strategi militer dari tentara Resimen TKR Sukabumi  melahirkan  kekuatan revolusi yang luar biasa sehingga dapat memporakporandakan kekuatan Sekutu.  Puncak dari revolusi di Sukabumi adalah perang melawan Sekutu sepanjang jalan Cigombong-Ciranjang yang kemudian diikuti oleh peristiwa pertempuran Bojongkokosan yang menyebabkan dibombardirnya Cibadak oleh Angkatan Udara Sekutu, Perang Gekbrong dan Serangan Umum  yang melibatkan tentara, ulama, organisasi massa dan santri. Peristiwa  Pertempuran di Sukabumi memberikan gambaran mengenai   strategi perjuangan kaum republik dalam menghadapi Sekutu  yaitu diplomasi dan bertempur dalam revolusi diIndonesia. AbstractSukabumi Revolution was closely associated with the role of the kyai (Islamic scholars), ulama (Islamic clerics), and leaders of pesantren (Islamic boarding schools). They had a great influence in awakening the spirit and emotions of the masses. Success was obtained through religious communications. They practised the concept of jihad fisabilillah (being at war, in a very broad sense, in the name of Allah). Mass mobilization by pesantren leaders combined with tactics and military strategy of the army regiment of TKR Sukabumi spawned tremendous revolutionary power that has devastated Allied forces. The highlight of the revolution in Sukabumi was the battle  against the Allies all the way Cigombong-Ciranjang followed by the battle of Bojongkokosan which led to bombardment of Cibadak by Allied Air Forces, the battle of Gekbrong and Serangan Umum (massive attack) involving soldiers, scholars, organizations and santri (Islamic school students). The battle in Sukabumi described an overview of the republican’s strategy in facing the Allied forces: diplomacy and fought in the revolution.
TRADISI LISAN HAHIWANG PADA PEREMPUAN DI PESISIR BARAT LAMPUNG Ali Gufron
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.8 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.291

Abstract

Artikel ini bertujuan menguraikan bagaimana tradisi hahiwang berkembang pada masyarakat 16 marga di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, yang dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama membahas hahiwang sebagai salah satu bentuk tradisi lisan. Bagian kedua membahas sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal dan konsep patriarki pada masyarakat Lampung Saibatin. Bagian ketiga membahas tentang bentuk dan struktur hahiwang. Dan, bagian terakhir membahas hahiwang dan dominasi laki-laki. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Adapun teknik untuk menjaring data dan informasi adalah wawancara dan observasi. Hasilnya, menunjukkan bahwa hahiwang lahir akibat dominasi patriarki yang mensubordinasikan perempuan Lampung Saibatin dalam bentuk aturan adat. Hahiwang merupakan ungkapan pengalaman dan perasaan jiwa perempuan Lampung Saibatin atas ketidakberdayaannya dalam menghadapi dominasi laki-laki. Hahiwang tidak bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan patriarki, melainkan hanya sebagai ungkapan atas ketertindasan perempuan dalam bentuk ratapan yang dilantunkan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, hahiwang dieksploitasi kaum patriakh menjadi sarana siar agama, pelengkap begawi adat, dan bahkan penarik simpatisan dalam Pemilukada.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue