cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
GERAKAN PROTES HAJI SARIP DI KABUPATEN MAJALENGKA 1947 Tia Dwi Nurcahya
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.578 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.177

Abstract

AbstrakPenelitian ini menggambarkan gerakan protes yang dilakukan Haji Sarip terhadap Pemerintah Republik Indonesia tahun 1947 di Kabupaten Majalengka. Untuk merekontruksi permasalahan ini digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah penelitian, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data digunakan studi literatur dan wawancara, yaitu mengkaji sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dikaji dan mewawancarai saksi sejarah atau pelaku sejarah sebagai narasumbernya. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap gerakan protes yang dilakukan Haji Sarip di Kabupaten Majalengka tahun 1947. Berdasarkan hasil penelitian didapat beberapa simpulan: pertama, Haji Sarip melakukan gerakan protes terhadap Pemerintah RI dan desa karena kebijakan yang diambil pemerintah RI, yaitu kebijakannya India Rice (penjualan beras ke India dengan harga murah); kedua, Haji Sarip menganggap Pemerintah RI 1947 sudah gagal dan menyiakan-nyiakan hidup masyarakatnya sendiri, sehingga Haji Sarip akan mengubah tatanan pemerintahan dan menggantikannya dengan pemerintahan baru, yang berlandaskan sama rata sama rasa, sama warna, sama bangsa, dan benderanya putih hitam; ketiga, setelah Haji Sarip melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan cara melakukan provokasi terhadap masyarakat Kabupaten Majalengka, masyarakat dan pemerintah tidak tinggal diam, melainkan masyarakat bersikap antipati terhadap Haji Sarip dan Pemerintah RI menindak Haji Sarip dengan tuduhan membangkang pemerintah, meresahkan masyarakat, menghina tentara dan menjalankan penipuan. AbstractThis study describes the movement of Haji Sarip protest against the Government of the Republic of Indonesia in 1947 at Majalengka. This research used historical method which consists of four steps of research: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The techniques used in data collection trough literature review and interviews, including reviewing the sources of literature relating to the issues being studied and interviewed witnesses or perpetrators of history. The purpose of this study is to reveal the protest movement Haji Sarip in Majalengka 1947. Based on the results obtained some conclusions: first, Haji Sarip protest movement against the Government and the village because of measures taken by the government of Indonesia, the Indian policy of Rice (rice sales to India with cheap price); second, Haji Sarip assume GOI 1947 has failed and wasted waste life of his own people, so that Hajj Sarip will change the system of government and replace it with a new government, which is based equally the same taste, same color, same nation, black and white flag; Third, after Haji Sarip resistance to the government by way of provocation against Majalengka community, society and the government is not standing still, but the people being antipathy towards Haji Sarip and the government crack down on charges Haji Sarip government's defiant, disturbing the public, insulting the army and run fraud.
“MENGENANG” UPACARA NGALOKAT WALUNGAN CIMANUK DI WILAYAH GENANGAN WADUK JATIGEDE KABUPATEN SUMEDANG Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.037 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.63

Abstract

AbstrakWaduk Jatigede merupakan sebuah megaproyek pemerintah yang telah dicanangkan jauh sebelum tahun 1960-an dan baru mengalami taraf penyelesaian berupa penggenangan waduk pada akhir tahun 2015. Di wilayah penggenangan, banyak aset budaya yang menjadi bagian cukup penting bagi sejarah asal usul Kabupaten Sumedang yaitu Kerajaan Sumedanglarang. Selain itu, lokasi aset budaya tersebut kerap digunakan untuk melaksanakan kegiatan ritual yang salah satunya adalah Upacara ngalokat Walungan Cimanuk. Sebuah upacara permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberkati leluhur Sumedang sekaligus memohon dijauhkan dari bencana amukan Sungai Cimanuk. Upacara tersebut saat ini dapat dikatakan tidak dapat dilaksanakan lagi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendokumentasikan dan mendeskripsikan sebuah kearifan lokal yang diambang kepunahan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, hasil dari penelitian dapat memperkuat asumsi bahwa dinamika budaya berjalan seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia dengan mengesampingkan unsur kearifan lokal yang sebenarnya berfungsi untuk memperkuat jatidiri manusia sebagai satu-satunya mahluk yang seharusnya menjaga keseimbangan alam. AbstrakJatigede reservoir is a government mega-projects that have been implemented long before the 1960s and experienced a new level of reservoir inundation completion by the end of 2015. In the area of inundation, many cultural assets that become part quite important for the history of the origin of the Sumedang that is Sumedanglarang Kingdom. In addition, the location of the cultural assets often used to perform rituals, one of which is the ngalokat Walungan Cimanuk ceremony. A ceremony requests to God Almighty to bless ancestor once pleaded Sumedang kept away from the Cimanuk River raging disaster. The ceremony are no longer be implemented anymore. This research was conducted in order to documenting and describing a local wisdom on the verge of extinction. By using qualitative research methods, the results may reinforce the assumption that the dynamics of culture go hand in hand with the development of human needs to the exclusion of local wisdom actual elements serve to reinforce human identity as the only creatures who are supposed to keep the balance of nature.
POLA INTERAKSI MASYARAKAT ARAB – SUNDA DI KABUPATEN PURWAKARTA Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.075 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.229

Abstract

AbstrakInteraksi sosial sebagai faktor utama dalam kehidupan sosial, didasarkan pada komunikasi. Proses interaksi adalah suatu proses yang mengharuskan adanya suatu kerja sama antara dua atau lebih kelompok. Kondisi itu terjadi dalam proses asosiatif antara masyarakat Arab dan Sunda di Kabupaten Purwakarta. Interaksi sosial antara kedua etnis tersebut sangat mewarnai kehidupan sosial di daerah Purwakarta. Abstract Social interaction is a primary factor in social life, based on communications. The main interaction process is an associative process. It is a process that requires teamwork between two people or more. This condition occurs in associative process between the Arabian people and Sundanese people in Purwakarta. The social interaction between two ethnics greatly affects the social life in Purwakarta.
1 CINGCOWONG DARI SAKRAL KE PROFAN Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.28 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.145

Abstract

AbstrakCingcowong sebagai sebuah ritual tradisional yang berasal dari masyarakat agraris Desa Luragung Landeuh, Kabupaten Kuningan, merupakan wujud aktifitas kolektif masyarakat yang bersumber pada kepercayaan terhadap roh-roh gaib yang dipercaya memiliki kekuatan mampu mendatangakan hujan untuk mengatasi kekeringan, khususnya pada lahan pertanian yang disebabkan oleh kemarau berkepanjangan. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan masyarakat terhadap konsep keagamaan dan nilai-nilai spiritual, ritual Cingcowong yang dahulu dianggap memiliki nilai sakral, saat ini mulai luntur dan berganti dengan nilai-nilai yang bersifat profan. Pada perkembangannya saat ini Cingcowong tidak saja dianggap sebagai ritual sakral tetapi juga dianggap sebagai bentuk budaya yang bersifat hiburan karena telah bertansformasi dalam bentuk kesenian khususnya seni tari Cingcowong. Adanya perubahan paradigma terhadap nilai-nilai sakral ke profan dalam ritual Cingcowong oleh sebagian besar masyarakat, selain disebabkan oleh faktor eksternal perubahan fungsi, juga disebabkan oleh adanya faktor internal dalam ritual Cingcowong itu sendiri. Faktor internal tersebut berkaitan dengan perubahan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya, sehingga ritual Cingcowong menjadi komersial. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif dengan pemaparan deskriptif analitik untuk menghasilkan gambaran dan analisa lengkap terhadap fenomena yang diajukan. AbstractCingcowong is atraditional ritual of agrarian community in Desa (village) Luragung Landeuh, Regency of Kuningan. It is a manifestation of collective activities that has root in belief on spirits which is believed to have power to make rain during drought. As the community have more knowledge about religious concepts and spiritual values, cingcowong ritual which was considered sacred is beginning to vanish, turned into profane values. Today cingcowong is also considered as a form of entertaining culture due to its transformation into a kind of art, especially cingcowong dance. The switch of paradigm was caused by external factor in term of its function, and internal factors as well. The internal factors are related to changes in subsistence faced by the community sothat cingcowong has become commercial. The author conducted a qualitative research method with a brief descriptive analytics exposition to produce comprehensive overview and analysis of the phenomenon proposed.
REPRESENTASI TENTARA DAN RELASI SIPIL-MILITER DALAM SERIAL PATRIOT Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.318 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.332

Abstract

Penelitian ini mencoba membedah muatan ideologis yang terdapat dalam serial televise Patriot. Selain itu, penelitian ini juga membaca representasi tentara dan hubungan sipil-militer yang terlihat dalam serial tersebut. Serial Patriot dinilai penting karena menjadi serial televisi pertama yang mengangkat kisah militer sejak jatuhnya Orde Baru pada 1998. Serial Patriot dalam penelitian ini dilihat sebagai media massa yang merefleksikan nilai atau norma dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatatan kualitatif dengan memakai konsep codes of television yang dikemukakan oleh John Fiske. Ia menyatakan bahwa kode dalam televisi memiliki tiga tingkatan: reality, representation, dan ideology. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa serial Patriot memiliki pesan ideologis yang tersirat, antara lain: nasionalisme, patriotisme, didaktisme, dan menempatkan tentara sebagai penjaga nilai moral. Hubungan sipil-militer dalam Patriot terlihat lebih didominasi oleh pihak militer. Peran pemimpin sipil tidak nampak dalam Patriot. Pihak sipil digambarkan bergantung kepada pemimpin yang memiliki latar belakang tentara.  This research tries to analyze the ideological contents that exist in the television series Patriot. In addition, this study also review the representation of soldiers and civil-military relations in the series. The Patriot series is important because it became the first television series to raise the military stories since the fall of the New Order Regime in 1998. The Patriot series in this study is seen as a mass media that reflects the value or norm in the society. This study uses a qualitative approach using the concept of codes of television proposed by John Fiske. He stated that is the code in television has three levels: reality, representation, and ideology. From this research, it can be seen that the Patriot series has an implied ideological message, among others: nationalism, patriotism, didactism, and placing the army as a guardian of moral values. The civil-military relationship in the patriot appears to be more dominated by the military. The role of civilian leaders is not seen in the Patriot. The civilian side is depicted depending on the leader who has a military background.
STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT TERDAMPAK PEMBANGUNAN WADUK JATIGEDE DI DUSUN CIPONDOH DESA PAWENANG KECAMATAN JATINUNGGAL KABUPATEN SUMEDANG Risa Nopianti; Triesya Melinda; Junardi Harahap
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.613 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.338

Abstract

Pasca penggenangan Waduk Jatigede pada tahun 2015,  sejumlah permasalahan  muncul pada masyarakat terdampak, seperti kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan baru, antisipasi pengetahuan yang minim,  perubahan kondisi, dan mata pencaharian yang terbatas. Keterbatasan  juga terjadi pada kondisi sanitasi di lingkungan tempat tinggal mereka. Adaptasi dilakukan untuk menyiasati keadaan alam dan lingkungan yang berimbas pada pemenuhan sarana sanitasi. Maka, penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana kondisi lingkungan dan sanitasi masyarakat Dusun Cipondoh Desa Pawenang Kecamatan Jatinunggal sebagai akibat pemukiman kembali pembangunan Waduk Jatigede, dengan menggunakan metode etnografi dan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengelolaan lingkungan dan sanitasi warga Dusun Cipondoh merupakan bagian dari proses adaptasi mereka di lingkungan barunya. Proses adaptasi ini merupakan sebuah tindakan yang diawali oleh adanya pengetahuan mengenai keterbatasan yang dihadapi, kemudian disusunlah strategi untuk memunculkan tindakan yang nyata dalam menyikapi keterbatasan tersebut yang dioperasionalkan dengan pengelolaan lingkungan dan sanitasi warga terdampak.  After the flooding of Jatigede dam in 2015, a number of problems arise in impacted communities in their daily activities, such as difficulties in adapting to a new environments, minimizing knowledge anticipation, changing conditions, and limited livelihoods. This limitation also occurs in sanitary conditions in their neighborhoods. Adaptation is done to deal with the natural and environmental conditions that impact on the fulfillment of sanitation facilities. So, this research is done to see how the environmental condition and sanitation of Cipondoh Village Pawenang Village Jatinunggal Subdistrict as a result of resettlement of Jatigede dam development by using ethnography approach to capture the point of view of indigenous people, their relationship with life, and to realize their vision and world. The results of this study is that environmental management and sanitation of Dusun Cipondoh residents is part of their adaptation process in their new environment. This adaptation process is an action initiated by the knowledge of the constraints faced, and then devised a strategy to bring tangible action in addressing the limitations that are operated with environmental management and sanitation of affected people.
PESANTREN RIYADLUL AWAMIL Kabupaten Serang-Banten Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.595 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.220

Abstract

AbstrakTantangan dunia pesantren semakin besar dan berat di masa kini dan masa mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik”, benar-benar penting untuk direnungkan kembali. Permasalahannya adalah karena dunia pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi lama saja, tradisi lama itu tidak harus relevan untuk masa kini. Tidak bisa disangkal bahwa modernitas telah menawarkan banyak hal untuk direnungkan, terutama oleh kalangan pesantren. Karena hal tersebut maka dilakukan penelitian mengenai Sejarah Pesantren Riyadlul Awamil dengan tujuan untuk mengungkap latar belakang sejarah serta perkembangannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah. Pada kenyataannya tidak semua pesantren melakukan perubahan. Bahkan sebagian besar tetap bartahan dengan sistem salafiyah atau tradisional. Salah satunya adalah Pesantren Riyadlul Awamil Kabupaten Serang yang telah berdiri sejak tahun 1908, dan tetap konsisten dengan tradisi salafiyahnya. AbstractThere are many challenges for pesantren. The challenges are getting bigger and heavier now as well as for the future. It would be important to reconsider the paradigm stated “preserving relevantly old heritage and taking a better new one”. The problem is that pesantren does not merely preserving old traditions but they also have to take modernization into consideration. By conducting methods used in history, this research has main goal to reveal historical background dan development of Pesantren Riyadlul Awamil. The result is that making changes is not an easy way for pesantrens. Many pesantrens are still preserving their traditional system of education (salafiya), one of them is Pesantren Riyadlul Awamil in Serang which was founded in 1908.
1 NASKAH AJARAN ISLAM DALAM PENCAK SILAT AMENG TIMBANGAN Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.706 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.136

Abstract

AbstrakPencak silat aliran Timbangan merupakan buah dari ajaran Islam yang bersumber pada naskah Timbangan yang ditulis oleh R. Moezni Anggakoesoemah pada tahun 1920-an. Masyarakat Jawa Barat, khususnya pecinta bela diri pencak silat, lebih mengenal Ameng Timbangan sebagai bela diri ketimbang sebuah ajaran mengenai pokok-pokok agama Islam. Padahal sesungguhnya Ameng Timbangan bukan tujuan akhir dari seorang penganut ajaran Timbangan. Ajaran Timbangan terdapat dalam teks naskah yang terdiri atas 3 bagian, yaitu (1) Gurinda alam majaji (Guaroma), (2) Iman Bener anu jadi Tetengger Allah Ta’ala (Ibtat); (3) Syareat Tarekat Hakekat Marifat (Syatahama). Keistimewaan naskah ini adalah tidak menguraikan sedikit pun mengenai gerak pencak silat. Bahkan sebaliknya mewajibkan para penganutnya untuk berakhlak mulia sebagai buah pemahaman teksnya. Guna mengetahui ajaran Timbangan yang terdapat dalam teks naskah digunakan metode analisis isi dengan mengacu pada jenis penelitian deskripsi. Diharapkan tulisan ini dapat memberi pencerahan sekaligus menjawab pertanyaan mengapa Ameng Timbangan sangat melarang merusak atau menyakiti lawan, dan mengapa tidak pula mempunyai jurus-jurus, baik menyerang maupun bertahan. AbstractPencak silat (a kind of Indonesia’s traditional martial art) of Timbangan is a result of Islamic teachings based on the manuscript of Timbangan written by R. Moezni Anggakoesoemah in 1920s. It is known better as martial art rather than as moral teachings. The teachings of Timbangan consist of three parts: (1) Gurinda alam majaji (Guaroma), (2) Iman Bener anu jadi Tetengger Allah Ta’ala (Ibtat); (3) Syareat Tarekat Hakekat Marifat (Syatahama). The author has analysed the content of the manuscript to study moral teachings of Timbangan. Hopefully, the research would give insight and answer the question of why it is forbidden in Ameng Timbangan to destroy or hurt the enemies and why there is no defence or attack movements in this martial art.
KOTA SUKABUMI: DARI DISTRIK MENJADI GEMEENTE (1815-1914) Setia Nugraha; Nina Herlina Lubis
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.488 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.35

Abstract

Kota Sukabumi merupakan suatu wilayah di Jawa Barat yang mengalami perkembangan pesat dibanding daerah lainnya. Pada awalnya Sukabumi merupakan pemukiman penduduk bagian dari wilayah pemerintahan District Goenoeng Parang, Onderafdeeling Tjiheulang. bagian dari Afdeeling Tjiandjoer, Residentie Preanger. (Regeerings Almanaks tahun 1872).  Andries  Christoffel  Johannes de Wilde, seorang berkebangsaan Belanda yang pertama kali mengenalkan  nama Soekaboemi (Soeka Boemi) ke dunia luar. Awalnya ia menjelajah di Sukabumi untuk mencari lokasi tanah yang cocok bagi perkebunan. Dari sebuah pemukiman, selanjutnya Sukabumi mengalami perkembangan pesatmelampaui Cianjur yang sebelumnya berada di depan garis pacu. Perkembangan ini menarik perhatian penulis. Untuk menjabarkan dinamika Kota Sukabumi (1914-1942), dilakukan kajian historis dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini memokuskan perhatian pada asal usul  terbentuknya Kota Sukabumi, dinamika pemerintahan, sosial dan ekonomi Kota Sukabumi dan Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan Kota Sukabumi berkembang pesat dari district menjadi gemeente.
PENDIDIKAN KOLONIAL DAN POLITIK ASOSIASI: KAJIAN ATAS MEMOAR PANGERAN ARIA ACHMAD DJAJADININGRAT (1877-1943) Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.142 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.118

Abstract

AbstrakPenulisan artikel ini didasari perdebatan bagaimana sesungguhnya peranan para pangreh praja didikan Barat dalam perjuangan kemerdekaan. Oleh karena berada dalam pemerintahan Hindia Belanda, mereka dianggap tidak berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan, mereka dianggap merintangi gerak langkah kaum pergerakan sehingga sering dianggap sebagai lawan politik. Penelitian ini bertujuan mengungkap sejarah pemikiran dan mentalitas dari salah seorang bupati  terkemuka pribumi asal Banten, Ahmad Djajadiningrat, melalui memoarnya yang berjudul Memoar Pangeran Aria Djajadiningrat. Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat mengikuti pendidikan mulai dari HIS, ELS, hingga HBS di Batavia. Berbagai jabatan di pemerintahan diembannya, mulai dari bupati, anggota Volksraad, mindere welvaart comissie, hingga anggota Raad van Indie. Penelitian ini mempergunakan metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan Ahmad Djajadiningrat di satu sisi menjadi pemimpin tradisional yang kharismatis dan aparat pemerintah yang loyal, namun di sisi lain bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda dan mendorong berkembangnya pergerakan nasional di tanah Banten. AbstractThe writing of this article is based on the actual debate on what the role of Western-based education of pangreh pradja is in the struggle for independence. Because it is in the Dutch East Indies, they are considered not to be contributing to the struggle for independence. In fact, they were considered to hinder the movement of the steps that are often regarded as political opponents. This study aims to reveal the history of thought and mentality of anative and famousleader from Banten, Ahmad Djajadiningrat, through his memoirs entitled Memoirs of Prince Aria Djajadiningrat. The Prince Aria Ahmad Djajadiningrat started his education in HIS, ELS, to HBS in Batavia.  The various positions in government was held, ranging from the regents, members of the Volksraad, mindere Welvaart comissie, until become a member of the Raad van Indie. This study uses historical method which consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results shows that Ahmad Djajadiningrat isa traditional charismatic leader and a loyal government official. On the other hand, he is critical to the Dutch East Indies government policies and encouraging the development of a national movement in Banten.

Page 2 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue