cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SEJARAH UANG REPUBLIK INDONESIA BANTEN (URIDAB) (1945-1949) Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.583 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.159

Abstract

AbstrakSetelah  Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, di Serang Banten terdapat dua peristiwa penting, yaitu  revolusi sosial dan tempat pencetakan uang daerah untuk Banten. Tahun 1947, di Serang, tentara Belanda di bawah naungan Pasukan Sekutu melakukan blokade  darat dan laut. Pemerintahan di Serang pun putus komunikasi dengan Pemerintah RI yang berada di Yogyakarta. Agar perekonomian di Serang tetap berjalan, pemerintah pusat  mengizinkan  daerah Banten untuk mencetak uang daerah sendiri bernama Uang Republik Indonesia Daerah  Banten (URIDAB).  Menjadi pertanyaan tersendiri mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemeritah pusat untuk mencetak uang dan mengapa pasukan Belanda melakukan blokade ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemerintah pusat untuk mencetak uang sendiri, adakah hubungannya antara URIDAB dan revolusi sosial. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.  Melalui  hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa pencetakan uang daerah di Banten diawali dengan perpindahan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta. Belanda yang datang ke Indonesia dengan cara membonceng NICA melakukan kekacauan, penyerangan, dan memblokade ekonomi. Daerah-daerah yang lokasinya  jauh dengan  ibu kota RI sangat kesulitan  berkomunikasi, sehingga pemerintah pusat yang berkedudukan di Yogyakarta memberikan wewenang kepada Residen Banten Achmad Chatib untuk mencetak mata uang sendiri dengan nama URIDAB kepanjangan dari Uang  Republik Indonesia Daerah Banten. AbstractThere were two important things that happened in Serang (Banten) after the Indonesian independence was proclaimed on August 17, 1945: social revolution, and printing of money for Banten. In 1947 the Dutch army under the protection of the Allies blockaded either land and sea, cutting off communications between central (Yogyakarta) and regional (Serang) government. The central government in Yogyakarta gave permission to Serang to print money so that economic activity could still be running. The money was called URIDAB (Uang Republik Indonesia Daerah Banten, or the money of the Republic of Indonesia in Banten). The research questions are why central government gave permission to Banten to print money and why the Dutch army blockaded the economy. To answer these questions the author conducted histoy methods: heuristic, critique, interpretation, and historiography. Research finds that when the capital of Indonesia moved from Jakarta to Yogyakarta during the Dutch military aggression, communications were cut off and it was difficult for central government in Yogyakarta to make contact to regional governments. Therefore, the central government authorized the Resident of Banten, Achmad Chatib, to print its own money.
BEAS PERELEK: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN PURWAKARTA Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.095 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.11

Abstract

Beas perelek, merupakan tradisi lama yang terlupakan, kini dihidupkan kembali oleh Bupati Purwakarta. Tujuannya  sebagai salah satu strategi dalam pemerataan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam satu upaya memenuhi kebutuhan dasar warga. Manfaatnya untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pembangunan khususnya dalam mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat. Di samping itu manfaat lainnya memberi makna teladan, melatih jiwa berkorban dari hal yang paling kecil, melatih kebersamaan dan kepedulian antar sesama dan semangat gotong royong.  Namun dalam perkembangannya, akan menghadapi tantangan dan mengalami perubahan mengingat budaya lokal ini tidak lepas dari budaya global melalui inovasi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pranata sosial (ekonomi) dalam program beas perelek sebagai sebuah pemberdayaan bagi masyarakat di Kabupaten Purwakarta. Setelah dicermati, ternyata dalam program beas perelek memiliki nilai-nilai yang bersinergi dengan falsafah hidup manusia Sunda, yaitu silih asah, silih asah dan silih asuh. Beas  perelek ini representasi dari nilai-nilai itu semua.Oleh karena itu perlu peran pemerintah daerah dalam melestarikan sikap hidup yang berazaskan kebersamaan. Beas perelek merupakan solusi atas persoalan kesenjangan sistem sosial karena kalangan masyarakat yang sudah mampu dapat berbagi pada masyarakat kurang mampu.
SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT GIRI JAYA Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.363 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.210

Abstract

AbstrakPada hakekatnya pengobatan tradisional merupakan bagian kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya secara lisan atau tulisan. Oleh sebab itu kepercayaan terhadap pengobatan tradisional dapat terus bertahan, walaupun praktik biomedik kedokteran mengalami perkembangan. Untuk penyembuhan penyakit, dalam sistem pengobatan tradisional dicari lebih dahulu penyebab sakit atau etiologinya. Konsep etiologi ini perlu diketahui sebagai dasar untuk mendiagnosa penyakit yang kemudian diperlukan untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Demikian pula pada masyarakat di Desa Giri Jaya Kabupaten Sukabumi yang menjadi lokasi penelitian, sebagian besar masyarakatnya masih melakukan pengobatan tradisional meskipun pengobatan modern telah dikenal. Untuk itu tulisan ini akan mengupas bagaimana persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit, etiologi (sebab sakit), ciri penyakit, dan cara pengobatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian deskriptif. AbstractIn essence, traditional medicine is part of culture passed from generation to generation orally or in writing. Therefore, trust to the traditional treatment can continue to survive, although the practice of biomedicine medical growth. To cure disease, the traditional treatment system first sought the cause of illness or etiology. The concept of etiology is necessary to know as a basis for diagnosing a disease that then needed to determine the ways of treatment. Similarly in Desa Giri Jaya the regency of Sukabumi who became the location of research, most people still make traditional medicine even though modern medicine has known. Therefore this writing will discuss how the public perception of healthy and sick, etiology (cause pain), characteristic of the disease and how to treat it. This research uses qualitative approach and descriptive research type.
SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL (Studi Kasus di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu) Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.908 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.127

Abstract

Abstrak Sejak dahulu nenek moyang kita telah menciptakan berbagai ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengobati sakit atau memelihara kesehatan. Tradisi tersebut di antaranya tertulis dalam naskah-naskah kuno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya disebutkan berbagai jenis penyakit yang sering diderita masyarakat dan berbagai jenis tumbuhan yang diramu untuk obatnya. Dalam perkembangannya, hasil riset para ahli mengungkapkan bahwa herbal yang digunakan dalam pengobatan tradisional tersebut terkandung berbagai zat yang bermanfaat bagi kesehatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sistem pengetahuan tentang pengobatan tradisional di Desa Juntinyuat merupakan warisan dari leluhurnya. Masyarakat Juntinyuat hanya meneruskan tradisi pengobatan yang sudah ada. Pengobatan tradisional yang mereka lakukan mencakup semua jenis penyakit yang diderita. Mulai dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat, bahkan untuk memelihara kebugaran  dan kesehatan badan.  Mereka merasakan manfaat pengobatan tradisional meskipun tingkat kemanjuran obat tersebut memerlukan waktu yang lebih lama. Bahkan lebih efektif digunakan untuk memelihara kesehatan daripada untuk penyembuhan. Dari situ  muncul tradisi minum jamu di kalangan masyarakat untuk memelihara kesehatan badan. Pengobatan tradisional ditempuh sebagai  upaya pertolongan pertama atau darurat sebelum berobat ke medis. Namun demikian, apabila penyakit tidak dapat disembuhkan secara medis atau pengobatan secara medis tidak terjangkau biayanya, masyarakat kembali lagi ke pengobatan tradisional.      Abstract  Our ancestors has created herbal remedies either to cure illnesses or for health care. Those recipes were written in old manuscripts and are scattered around Indonesia, mentioning some common diseases and herbs that cure them. Modern research reveals that herbs used by our ancestors contain elements that are beneficial to human health. The result of this research shows that knowledge system about traditional medicine in Desa/village Juntinyuat is inherited from their ancestors. The remedy covers ailment to severe diseases, as well as health care and body fitness. Although it takes quite long enough to get well, the people of Juntinyuat feel the remedies are very useful. They are even more useful for health care than to cure illnesses. This fact leads to practice of taking jamu (herbal medicine) for caring health, and this is the first aid before seeing the doctor. But, if seeing the doctor does not work and the cost is considered high, they will turn back to the traditional medicine.   
SATE MARANGGI: KULINER KHAS KABUPATEN PURWAKARTA Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.319 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.9

Abstract

Istilah khas pada sate maranggi adalah cara halus untuk menyembunyikan kata tradisional yang terkadang dimaknai secara sensitif oleh sebagian kalangan khususnya pada jenis kuliner tradisional. Strategi ini tidak lain diarahkan pada upaya mengundang daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang dan menikmati sate maranggi di Kabupaten Purwakarta. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengangkat salah satu kuliner tradisional Kabupaten Purwakarta dengan menitikberatkan pada sisi sejarah berikut asal mula penamaan sate maranggi, proses pembuatan dan upaya pelestarian yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta. Diperoleh data di lokasi penelitian sebuah hasil yang cukup positif dari upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kaupaten Purwakarta sehingga nama sate maranggi sudah bergaung dari tingkat nasional hingga ke mancanegara. Upaya kreatif baik dari segi variasi rasa, pola sajian, dan promosi yang gencar terbukti ampuh untuk mengangkat salah satu warisan budaya tak benda yang ada di Kabupaten Purwakarta.Kata kunci: Sate maranggi, kuliner, khas, Purwakarta.
BATU TELAPAK KAKI CADASARI PANDEGLANG: KETERKAITANNYA DENGAN PRASASTI CIARUTEUN Effie Latifundia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.100

Abstract

AbstrakBatu telapakkaki Cadasari merupakan permasalahan umum yang dibahas pada tulisan ini. Tulisan ini mencoba mengungkap adakah keterkaitan antara  telapak kaki Cadasari Pandeglang dengan  telapak kaki Purnawarman prasasti Ciaruteun.Metode penelitian arkeologi dipergunakan untuk menjawab permasalahan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, survei, dan wawancara. Batu tapak dipandang sebagai salah satuwujud kebudayaan materi yang digunakan oleh masyarakat masa lalu dalam mengekspresikan kebudayaannya muncul dan berkembang pada masa klasik/Hindu-Buddha. Menurut para ahli, bahwa tadisi batu telapak kaki mulai berkembang bersamaan dengan berkembangnya masa Tarumanagara. Masa Tarumanagara ditandai dengan sejumlah prasasti. Hasil analisis melalui aspek kebudayaan, dimensi ruang, waktu dan bentuk serta menelaah simbol dan makna mengindikasikan bahwa telapak kaki Cadasari  memiliki keterkaitan dengan batu telapak kaki Purnawarman dalam prasasti Ciaruteun. Telapak kaki Cadasari dengan telapak kaki Purnawarman memiliki simbol dan makna budaya sejajar. Telapak  kaki Cadasari menunjukkan simbol pengesahan atau legitimasi dari penguasa pada masa itu. Dengan demikian batu telapak Cadasari mengandung arti/makna bahwa kawasan Cadasari merupakan  bagian dari kekuasaan Tarumanagara di bawah pemerintahan Purnawarman.AbstractCadasari stone foot is a common problem that is discussed in this paper. This paper attempts to uncover the relationship between the feet of Cadasari Pandeglang and the feet of Purnawarman in the inscription of Ciaruteun. The archaeological method research is used to answer the problem. The data was collected through literature studies, surveys, and interviews. Stone footprint is seen as one of the cultural artifact materials used by past societies in expressing culture emerged and developed in the classical period / Hindu-Buddhist.  According to experts, the stone feet tradition began and developed spreadly during Tarumanagara kingdom. Several numbers of inscriptions marked Tarumanagara kingdom period. The results of the analysis through the aspect of culture, dimensions of space, time and form as well as examine the symbols and meanings indicate that the soles of the feet of Cadasari has been linked to the foot stone inscription of Purnawarman in the inscription of Ciaruteun. Cadasari and Purnawarman’s foot have equal cultural symbols and meanings. Footprint of Cadasari shows the symbol of endorsement or legitimacy of the ruler at the time. Therefore, the stone of Cadasari means / implies that the region of Cadasari is a part of the power of Tarumanagara under the Purnawarman Governance.
PERKEMBANGAN SOSIAL DI KABUPATEN MAJALENGKA (Berdasarkan Data Statistik 2004 – 2006) H. Iwan Roswandi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.772 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.266

Abstract

AbstrakTujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimanaperkembangan pemerintahan Kabupaten Majalengka tahun 2006. Adapun metodepenelitian yang digunakan adalah metode sejarah, melalui empat tahapan, yaituheuristik (menemukan), kritik, interpretasi, dan historiografi. PerkembanganKabupaten Majalengka (2004-2006) dapat diilustrasikan dari segi pemerintahanyang sebagian wilayahnya berada di daerah perbukitan. Hal ini memperlihatkansemakin beragamnya karakteristik yang ada, sehingga merupakan suatu modal untukkemajuan daerahnya. Pengaruh pembangunan dan modernisasi berdampak jelasterhadap perubahan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dankeamanan.Tinjauan demografis menunjukkan bahwa jumlah penduduk KabupatenMajalengka mulai tahun 2004 sampai dengan 2006 berdasarkan hasil Survei SosialEkonomi Nasional (Susenas) terus mengalami peningkatan. Jumlah pendudukperempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Untuk tahun 2004,kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Kadipaten dan terendah diKecamatan Kertajati. Seperti halnya dengan pertumbuhan penduduk, jumlah rumahtangga mengalami peningkatan dari 392.544 rumah tangga pada tahun 2005 menjadi395.834 rumah tangga pada tahun 2006 atau meningkat menjadi 0,84 %. Dikondisikandengan luas wilayah administratif 1.204,24 km2, maka rata-rata kepadatan pendudukdi wilayah Kabupaten Majalengka pada tahun 2006 adalah sebesar 979 jiwa per km2.Kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan2.049 jiwa/ km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengankepadatan 325 jiwa per km2.Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalahtersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Melalui jalur pendidikanpemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagaiprogram. Seperti halnya program wajib belajar 9 tahun, Gerakan Nasional OrangTua Asuh (GNOTA) dan berbagai program pendukung. Berdasarkan fakta jumlahpenduduk yang cukup besar dari tahun ke tahun cukup sulit menyatukan komponenyang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan pemerintahan yang kurang optimal.AbstractThis research aims to analyse the development of Kabupaten Majalengkain 2006. The author conducted history method in four steps: heuristics, critique,interpretasition, and historiography. The conclusion is that the impacts of developmentand modernization can be clearly seen on the changes in socio-cultural, political and economical life of a society as well as on defense and security. Human resource isan important thing for the success of development, and education is very crucial inmaking it possible.
DINAMIKA TEATER TRADISIONAL MENDU DI KALBAR (1712 - 2014) Dewi Juliastuty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.251 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.182

Abstract

Abstrak Mendu adalah teater tradisional di Kalimantan Barat. Mendu berasal dari Kabupaten Pontianak, terpusat di Dusun Malakian Desa Sengkubang Kecamatan Mempawah Hilir. Masa jaya teater mendu pada tahun 1876–1942. Tahun 1980 mendu bangkit kemudian menjadi  primadona dan berkembang pesat di Provinsi Kalimantan Barat selama tahun 1980-an. Perlahan mendu meredup dan akhirnya mati suri. Masalah dalam kajian ini adalah bagaimana dinamika mendu di Kalbar. Tujuannya adalah mendeskripsikan dinamika mendu di Kalimantan Barat. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dan studi dokumentasi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan didukung oleh pendekatan sosiologi sastra serta menggunakan teori sosiologi teater. Kajian ini merupakan kajian awal sehingga berpeluang dilakukan kajian lanjutan. Simpulan penelitian ini adalah mendu Kalimantan Barat merupakan penggabungan antara wayang Cina dengan syair Melayu. Keberadaan mendu di Kalbar mengalami pasang surut. Semakin derasnya arus globalisasi membuat mendu semakin tersisih pada zaman modern. Jika hal ini dibiarkan, maka kesenian mendu bukan hanya mati suri bahkan punah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dan tindakan nyata pemerintah dan masyarakat untuk menghidupkan kembali dan melestarikan mendu. AbstractMendu is a traditional theatre in West Kalimantan.  Mendu Theatre is from Pontianak, in Malakian Sengkubang village, Mempawah Hilir sub district.  The Golden era of Mendu theatre was around 1876-1942.  In 1980, Mendu Theatre raised and became the greatest and drew up in the province of West Kalimantan. As time as goes by, the theatre was abandoned.  The question of the research is about the dynamics of Mendu Theatre in West Kalimantan.  The purpose of the research is to describe of mendu theatre cycle in West Kalimantan.  The techniques of collecting the data are in depth interview and documentation studies.  The method is qualitative method, and also uses the theory of literature and theatre sociology.  This research is only the beginning and it will continue.  The summary of this research mendu theatre in west Kalimantan was the collaboration of Chinese puppet with Malay’s verse.  Globalization impact is one of the biggest factors that affecting mendu theatre’s.  If this problem still appeared, then the result is mendu theatre will vanish.  Government alongside the society should take an action in conserving the Mendu Theatre.
KONSTRUKSI NILAI MULTIKULTURALISME PADA MASYARAKAT HAURGEULIS KABUPATEN INDRAMAYU Suciyadi Ramdhani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.96 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.326

Abstract

Tulisan ini menjelaskan proses pembentukan nilai multikulturalisme pada masyarakat Haurgeulis, Indramayu yang dikaji melalui metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa kehidupan multikultural di Haurgeulis dibentuk oleh empat kelompok etnik pendatang: Jawa, Sunda, Arab, dan Tionghoa di awal abad ke-20. Setiap kelompok etnik memiliki keahliannya masing-masing, seperti pertanian yang didominasi keturunan Jawa dan Sunda, sebagaimana keturunan Arab dan Tionghoa di bidang perdagangan. Adanya keahlian pekerjaan membentuk hubungan antaretnik menjadi saling ketergantungan dalam kehidupan ekonomi. Dengan saling ketergantungan, masyarakat di Haurgeulis menunjukkan sikap penerimaan dan tidak diskriminatif kepada liyannya. Pengalaman hidup bersama tersebut semakin membentuk nilai-nilai multikulturalisme pada masyarakat Haurgeulis. This paper describes the process of value creation of multiculturalism in Haurgeulis Indramayu society which is studied through qualitative method. The Data is collected through observational techniques, in-depth interviews, and literature studies. The results show that multicultural life in Haurgeulis was formed by four ethnic groups of immigrants: Java, Sunda, Arabian and Chinese in the early 20th century. Each ethnic group has its own expertise, such as agriculture that dominated by Javanese and Sundanese descent, while the Arab and Chinese descendants of trade. The existence of job skills forms inter-ethnic relations into interdependence in economic life. With interdependence, people in Haurgeulis shows acceptance and non-discriminatory attitude to the others. Life experience in living together increasingly shapes the values of multiculturalism in Haurgeulis society.
PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI JAKARTA ABAD XVII - XIX Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.731 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.234

Abstract

AbstrakPenyebaran agama Islam di Jakarta dimulai sejak Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Namun setelah Batavia diserang oleh Belanda, sebagian tokoh penyebar agama Islam berpindah dari Pelabuhan Pasar Ikan ke Kampung Melayu, mereka  mendirikan masjid Al-Atiq. Sedangkan yang melarikan diri ke Jatinegara Kaum mereka mendirikan masjid As- Salafiah. Para tokoh penyebar Agama Islam di Jakarta, disamping melakukan syiar dakwah mereka juga mendirikan masjid.Penyebaran Agama Islam  pada abad XVII -  XIX ditandai dengan berdirinya  beberapa masjid kuno.  Masjid-masjid tersebut disamping sebagai tempat sholat  juga dijadikan sebagai tempat dakwah guna menyebarkan agama Islam. AbstractSpreading of Islam in Jakarta is started  since Fatahillah successfully gives in Portugis in Sunda Kelapa. But after Batavia attacked by Dutch, some of Islam spreader figures makes a move from Pelabuhan Pasar Ikan to Kampung Melayu, they build mosque Al-Atiq. While running away to Jatinegara Kaum they to build mosque AsSalafiah. The Islamic Religion spreader figures in Jakarta, beside does syiar mission they also builds mosque.Spreading of Islamic Religion at century XVII - XIX is marked with forming of some ancient mosques. The mosques beside as place of sholat also made as place of mission to propagate Islam.

Page 4 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue