cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SISTEM KEPERCAYAAN PADA KOMUNITAS ADAT KAJANG DESA TANAH TOWA KECAMATAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA Abdul Hafid
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.56 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.150

Abstract

AbstrakTulisan ini mendeskripsikan sistem kepercayaan asli komunitas adat Kajang yang dikenal dengan istilah Patuntung yang bersumber dari kepercayaan leluhur bercirikan animisme dan dinamisme. Pada awalnya sistem kepercayaan Patuntung adalah sebuah agama adat, berasal dari kata tuntungi berarti sumber kebenaran. Kepercayaan Patuntung pada dasarnya memiliki keyakinan dan pandangan tentang Tuhan (Turi’e A’ra’na), alam dan manusia. Dalam praktiknya, ajaran Patuntung yang mengkiblatkan diri pada Pasang ri Kajang yaitu pesan-pesan, firman, wasiat, amanat dari Sang Pencipta. Seluruh interaksi dalam kehidupan komunitas adat Kajang mengharuskan pola hidup yang sederhana (tallasa kamase-masea), menghindari sikap berlebih-lebihan, memperlakukan makhluk-makhluk di sekelilingnya dengan bersahaja, dan apa adanya. Isi Pasang ri Kajang merupakan himpunan dari sejumlah sistem kehidupan, meliputi sistem kepercayaan, sistem ritus dan sejumlah norma sosial, yang sarat dengan pesan-pesan moral yang luhur dan ajaran-ajaran kebijaksanaan. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan sistem kepercayaan komunitas adat Kajang yang tertuang dalam Pasang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanah Towa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi-Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik pengamatan dan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat dan warga komunitas adat. AbstractThis paper describes the belief system of indigenous peoples of Kajang known as Patuntung which is derived from ancestral beliefs characterized by animism and dynamism. At first Patuntung belief system is an indigenous religion, derived from the word tuntungi which means source of truth. Belief system of Patuntung basically has a belief and view of God (Turi'e A'ra'na), mother nature and humankind. In practice the teachings of Patuntung direct itself to Pasang ri Kajang namely messages and words from the Creator. The whole interaction in the lives of indigenous community of Kajang requires a simple lifestyle (tallasa kamase-masea), avoiding exaggerated attitude, and being gentle to every creature around him. The contents of Pasang ri Kajang are a set of living systems, including the system of beliefs, rites and a system of social norms, which are laden with messages of morality and wisdom teachings. The purpose of this study is to reveal the belief systems of indigenous community of Kajang that is contained in the Pasang. This research was conducted in the village of Tanah Towa, Bulukumba, the Province of South Sulawesi. The author conducted a qualitative-descriptive method. Data were collected through observation and interview to several community leaders and the members of the community as well. 
KONFRONTASI REPUBLIK INDONESIA DENGAN MILITER JEPANG MENJELANG MASUKNYA SEKUTU 1945-1946 M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.122 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i1.346

Abstract

Perlawanan pejuang (laskar, BKR kemudian TKR) dengan militer Jepang di Indonesia ditandai dengan peristiwa perlucutan senjata oleh pejuang tersebut. Berbagai insiden terjadi disebabkan baru saja Jepang memperlihatkan sikap tegas dalam menjajah, tiba-tiba semua berubah dengan sikap menyerah kepada Sekutu.  Bagi Indonesia kondisi ini sebenarnya merupakan peluang untuk melengkapi diri dari segi peralatan perang yang akan menjadi aset bagi pasukan perangnya. Tetapi hal itu menjadi sulit karena sesuai aturan hukum perang internasional tentang tawanan perang, selain pasukan Jepang  turut diserahkan seluruh peralatan perangnya.  Beberapa daerah sempat menerima atau pun merampas persenjataan tersebut, namun kemudian direbut kembali oleh Militer Jepang. Militer Jepang yang mempertahankan senjata mereka dan patuh pada konvensi Jenewa 1929, berhadapan dengan semangat kemerdekaan dari seluruh rakyat Indonesia. Di Jawa Barat insiden perlucutan senjata tersebut sempat terjadi tetapi tidak meluas, berbeda dengan di Jawa Timur yang hampir seluruh pejuangnya memiliki senjata rampasan. Perbedaan tersebut ternyata terletak pada lambatnya informasi yang sampai dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.Jawa Barat diuntungkan karena jaraknya yang relatif dekat dengan Jakarta sehingga dengan cepat pemerintah daerah dan pimpinan BKR/TKR dapat mengkonsolidasi anggota pasukannya. Penulisan ini menggunakan metode kepustakaan dan historiografi yang dihasilkan bersifat deskriptif analisis. Untuk mendukung penulisan ini digunakan teori konfrontasi.The resistance of fighters (paramilitary troops, BKR then the TKR) with the Japanese military in Indonesia was marked by events of disarmament by fighters. Various incident occurred just due to Japan showed a firm stance in colonizing, suddenly all changed with the attitude of surrender to the Allies. For Indonesia, this condition was actually an opportunity to equip themselves in terms of armaments that became an asset to the troops for war. But it was difficult because according to the rules of international law concerning prisoners of war, not only Japanese forces but also entirety of the war equipment were also should be handed. Some areas could receive or seize such weapons, but was later recaptured by the Japanese military. Japanese military retained their weapons and abided by the 1929 Geneva Convention, dealing with the spirit of independence of the entire people of Indonesia. In West Java, the disarmament incident had occurred but did not extend, unlike in East Java, where nearly all of the fighters had looted weapons. The difference lied in the slow of turning up information from central government to the regions. West Java had benefit because it was relatively close to the Jakarta, so the local government and the leadership of BKR / TKR could quickly consolidate the fighters. This study uses literature and historiography that produces a descriptive analysis. To support this study, the theory of confrontation is used.
ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH BETAWI Suwardi Alamsyah P.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.265 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.225

Abstract

AbstrakArsitektur tradisional rumah Betawi dalam tulisan ini difokuskan pada arsitektur tradisional rumah tinggal, yakni rumah Gudang, rumah Joglo, dan rumah Bapang/Kebaya. Rumah-rumah tersebut masih dapat disaksikan di perkampungan masyarakat Betawi di daerah Condet Kelurahan Balekambang, Jakarta Timur. Bentuk-bentuk rumah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Betawi terbuka terhadap pengaruh luar. Hal tersebut dapat dilihat dan dipelajari dari pola tapak, pola tata ruang dalam, dan terutama dari sistem struktur dan bentuk serta detail dan ragam hias rumah. AbstractTraditional Architecture forms house of Betawi in this article load traditional architecture of house remain, namely Warehouse house, house of Joglo, and house of Bapang / kebaya, what still see and can be witnessed is countrified society of Betawi in area of Condet Sub-District Of Balekambang, Jakarta East. The Forms House indicate that society of Betawi much more open from external influence. The mentioned can be seen and studied from tread pattern, planology pattern in, and especially from structure system and form and also decorative manner and detail which owned it.
POLA KAMPUNG DAN RUMAH KAMPUNG BUNISAKTI DESA WARGALUYU KECAMATAN ARJASARI KABUPATEN BANDUNG Suwardi Alamsyah P.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.256 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.141

Abstract

AbstrakPola kampung dan rumah dalam tulisan ini difokuskan pada pola kampung dan rumah tinggal Kampung Bunisakti Girang, yakni pola kampung, batas kampung, tata ruang kampung, dan ragam hias kampung; juga pola rumah tinggal, bentuk dan organisasi ruang, bagian-bagian rumah dan fungsinya, teknik dan cara pembuatan serta mendirikannya. Perkampungan dan rumah tinggal tersebut masih dapat disaksikan di Kampung Bunisakti Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari KabupatenBandung. Pola kampung dan rumah tinggal ini, sepintas tidak ada yang salah. Hanya sejak puluhan tahun silam, kampung ini berpenduduk tak lebih dari 13 kepala keluarga (KK). Padahal, tak ada hukum adat apa pun yang membatasi jumlah kepala keluarga (KK) di kampung itu, karena Kampung Bunisakti memang bukan kampung adat. Bentuk rumah warga layaknya kampung biasa. Tak ada pantangan apa pun dalam pembangunan rumah atau kehidupan sosial lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat dalam hubungannya dengan Pola Kampung dan Rumah Kampung Bunisakti Desa Wargaluyu. Metode penelitian ini didasarkan pendapat yang dikemukakan Winarno Surakhmad (1985:139), bahwa: suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada penggumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi sampai pada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian tersebut. AbstractVillage pattern in this manuscript refers to the pattern of village and settlement in Kampung (village) Bunisakti Girang, including the pattern itself, village border, zoning and decorations as well. There is no custom law to manage the village and to determine the numbers of family that should inhabit the village but since tens of years ago the village has been inhabited by not more than 13 families. There are no taboos in building houses as well as in social life.
PERANG BUBAT, REPRESENTASI SEJARAH ABAD 14 DAN RESEPSI SASTRANYA yeni mulyani supriatin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.564 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap peristiwa Perang Bubat yang terjadi pada abad ke-14 atau tahun 1357 M dan resepsi sastranya. Masalah yang dibahas adalah bagaimana latar belakang terjadinya Perang Bubat, reaksi, dan tanggapannya. Teori yang digunakan adalah resepsi sastra. Metode untuk pengumpulan data adalah kualitatif dengan menerapkan prinsip resepsi sastra. Hasil penelitian menggambarkan bahwa terjadinya Perang Bubat adalah Raja Sunda tidak tunduk pada kehendak Gajah Mada dan Gajah Mada ingin menyatukan Nusantara. Resepsi sastra terhadap Perang Bubat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu resepsi dari aspek kesejarahannya, resepsi pengaruhnya terhadap penciptaan karya baru, dan resepsi terhadap struktur sastra.  Simpulan penelitian ini adalah peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16  dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an. Hasil resepsi sastra  dari abad ke-18 sampai dengan abad ke-20 cukup beragam. Keberagaman resepsi itu menunjukkan bahwa terdapat perbedaan horizon harapan pembaca.  This study aims to reveal the events of the Bubat War that occurred in the 14th century or the year 1357 AD and literary receptions that emerged after the incident occurred. The issue discussed is how the background of the Bubat War and the reactions and responses to the event through literary receptions. The theory used in analyzing data is literary receptions. The method used for data collection is qualitative by applying the principle of literary receptions. The results of this study illustrate that the background of the Bubat War have two versions and both controversial, the first version because the King of Sunda entourage do not obey to the will of Gajah Mada, on the other hand, the second version is that Gajah Mada tactics in unifying the archipelago while the Kingdom of Sunda is a state that has not been submitted. Literary receptions to the War of Bubat can be grouped into three, they are the reception of its historical aspect, the reception of its influence on the creation of new works, and the reception of the literary structure. The conclusion of this research is  Bubat event was perceived after two centuries passed, in the 16th century and the event was redrawn in the 20th century. Results of literary receptions in the 18th century until the 20th century quite diverse. The diversity of the receptions shows the difference in the horizon of readers' expectations.    
PERKEMBANGAN PERGURUAN ISLAM Al-KHAIRIYAH CILEGON BANTEN (1916-1950) Herry Wiryono
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.664 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.123

Abstract

AbstrakPerjuangan masyarakat Cilegon Banten dalam menghadapi kaum penjajah dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang dianggap paling efektif untuk menghadapinya adalah melalui pendidikan.  K.H Syam’un sebagai salah seorang ulama di Cilegon mempunyai harapan dan idealisme yang tinggi untuk mengembangkan potensi masyarakat Cilegon dan sekitarnya  melalui pendidikan. Ia mendirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Al-Khairiyah  dengan mengambil tempat di daerah asalnya, yaitu Citangkil. Kiai Syam’un berkeinginan agar keberadaan  Pesantren Al-Khairiyah menjadi suatu lembaga yang  bermanfaat bagi perkembangan dan kesejahteraan umat manusia khususnya daerah Cilegon dan Banten. Keinginan  dan harapan Kiai Syam’un  menjadi kenyataan.  Pesantren Al-Khairiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak tahun 1916 sampai tahun 1930 Pesantren Al-Khairiyah Citangkil  berhasil memasuki masa keemasan. Pesantren Al-Khairiyah dapat mengimbangi sekolah Pemerintah Belanda  di Wilayah Cilegon.  Pada masa perang kemerdekaan,  ulama Banten di samping sebagai tokoh agama, juga mampu  memegang jabatan  di pemerintahan. Jabatan yang dipegang adalah jabatan residen, bupati, wedana,  sampai birokrasi di bawahnya. Ulama Banten yang memegang jabatan di pemerintahan, antara lain;  KH. Ali Jaya di Delingseng (Pulomerak-Cilegon); dan KH. Abdul Haq  di Padarincang (Ciomas-Serang). AbstractEducation is considered to be affecting in fighting colonialism in Cilegon, Banten. K.H. Syam’un built a pesantren called Pesantren Al-Khairiyah in Citangkil to fulfill the need, with the hope that it could be beneficial to the development and prosperity of humankind especially in Cilegon and Banten. The pesantren reached its golden age between 1916-1930. It could compete with school administered by the Dutch. 
PERKEMBANGAN TAMAN KOTA DI BANDUNG MASA HINDIA BELANDA (1918-1942) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.823 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.91

Abstract

AbstrakPenelitian ini berusaha menguraikan tentang perkembangan taman kota serta analisis persebarannya di Bandung pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Penelitian ini penting untuk dilakukan agar diketahui contoh pola perancangan taman kota yang baik dalam perkembangan kota. Penelitian ini menggunakan metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi) dengan pendekatan sosio-spatial. Adapun konsep yang digunakan adalah “dialektika sosiospatial”, yaitu di suatu sisi masyarakat menciptakan dan memodifikasi ruang-ruang perkotaan namun di sisi lain, pada saat bersamaan, berbagai ruang berusaha disesuaikan agar sesuai dengan ruang-ruang tempat mereka tinggal dan kerja. Melalui penelitian ini diketahui bahwa pembangunan taman-taman kota dipengaruhi oleh peranan elit Eropa (Preangerplanters dan pejabat pemerintah) di Bandung. Pembangunan taman kota terjadi sepanjang tahun 1918  hingga 1925 bersamaan dengan rencana perpindahan ibu kota Hindia Belanda ke Bandung. Taman kota dibangun sebagai fasilitas publik yang berada di dekat lingkungan pendidikan, perumahan, dan pemerintahan. Pengambil kebijakan di masa itu  menyadari pentingnya penyediaan ruang hijau ketika jumlah penduduk dan kehidupan kota semakin berkembang.  AbstractThis study tried to describe the development of the city park and the analysis of their distribution in Bandung during the reign of the Dutch East Indies. This research is important to do in order to know the examples of design pattern of a city park in both of the development of the city. This study uses historical methods (heuristic, criticism, interpretation, and historiography) with socio-spatial approach. The concept used in this research is the "dialectic sosiospatial" ; a society creates and modifies the urban spaces, but on the other hand, at the same time, a variety of space is tried to be adjusted to fit the spaces where they live and work.Through this research, can be inferred that the construction of city parks affected by the role of the European elite (Preangerplanters and government officials) in Bandung. City park development occurs throughout the 1918 to 1925 along with plans to transfer the capital of the Dutch East Indies to Bandung. City Park was built as a public facility that was located near an educational environment, housing, and governance. Policy makers at the time realized that the importance of providing green space when the population of city life is growing.
SISTEM PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT CIDAUN – CIANJUR SELATAN SEBAGAI WUJUD ADAPTASI BUDAYA Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.049 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i3.173

Abstract

AbstrakSistem pengetahuan lokal, kearifan lokal atau kearifan tradisional (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal-balik antara masyarakat dengan lingkungannya. Masyarakat Cidaun di kawasan selatan Kabupaten Cianjur memiliki banyak keunikan, baik alam maupun penduduknya. Kondisi geografis Cidaun yang penuh tantangan, memberikan dorongan kepada masyarakatnya untuk lebih memahami lingkungan alamnya. Berbagai peristiwa dan fenomena alam yang mereka hadapi sehari-hari tersebut serta hubungan intensif dengan lingkungan alamnya telah membentuk sistem pengetahuan lokal yang sekaligus menjadi strategi adaptasi budaya masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tulisan ini mengkaji sistem pengetahuan lokal masyarakat Cidaun dalam kaitannya dengan lingkungan tempat mereka berpijak dan melakukan aktivitas dalam menggeluti mata pencaharian hidupnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif serta menggunakan metode deskriptif dengan teknik memaparkan berbagai fenomena budaya, apa yang mereka alami, mereka ketahui, dan interpretasi mereka terhadap fenomena-fenomena yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. AbstractLocal knowledge systems, indigenous or traditional knowledge  are typical knowledge belonging to a particular community or culture that has evolved over many years as a result of the reciprocal relationship between people and their environment. Cidaun communities in southern Cianjur has many unique, both nature and its inhabitants. Cidaun geographical conditions challenging, giving encouragement to the people to better understand the natural environment. Various events and natural phenomena that they face daily and intensive built a relationship with the natural environment and has established a system of local knowledge as well as a strategy of cultural adaptation in living everyday life. This article examines the system of local knowledge Cidaun community in relation to the environment in which they stand and wrestle activity in his livelihood. This research is qualitative and descriptive methods with techniques explained various cultural phenomena, what they experienced, they know, and their interpretation of the phenomena encountered in daily life.
NILAI ESTETIKA DALAM SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG Enden Irma Rachmawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.07 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.114

Abstract

AbstrakSisingaan merupakan salah satu jenis kesenian khas Kabupaten Subang. Keberadaannya muncul ketika bangsa Indonesia sedang dijajah oleh Belanda. Fakta sejarah ini berdasar pada konsep awal pembentukan berdirinya kesenian sisingaan yang filosofinya bersifat patriotisme. Pada waktu itu, keberadaan kesenian ini merupakan wujud perlawanan rakyat Kabupaten Subang terhadap penjajahan Belanda. Dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan, baik dalam bentuk boneka singanya maupun dalam bentuk pertunjukannya. Adanya perubahan ini selain mencari bentuk yang sempurna juga mengikuti perkembangan zaman. Pengumpulan data tentang kesenian ini menggunakan metode deskriptif. Penggunaan metode ini untuk mengambarkan keberadaan sisingaan pada saat ini. Kesenian sisingaan merupakan jenis kesenian pertunjukan yang dilaksanakan dalam bentuk pawai atau arak-arakan. Pertunjukannya biasanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan hajatan. Sisingaan ini memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Nilai estetika tersebut berhubungan dengan pengalaman indah yang dihasilkan oleh daya estetika yang memberikan kesenangan batin, seperti terkandung dalam gerak tari, harmoninasi irama, dan perpaduan warna, baik perpaduan warna dalam boneka singa maupun perpaduan dalam warna kostum para pemain. Kreasi pertunjukan yang digelar dalam bentuk arak-arakan ini, mengkolaborasi perpaduan gerak tari, tempo dalam irama, dan estetika dalam boneka singa yang menambah suasana hiburan bagi masyarakat yang cukup menyenangkan. Selain itu, nilai estetika terkandung pula dalam unsur kebersamaan sebagai masyarakat agraris. Asas ini sejalan dengan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam jiwa budaya masyarakat Indonesia, khususnya nilai budaya masyarakat Jawa Barat. AbstractSisingaan (lion puppet) is one of performance arts belonging to Subang Regency. It is usually held in activities related to celebration in the form of a procession. It was first emerged when Indonesia was being colonized by the Dutch. The art was formerly carrying patriotism as philosophy, a kind of resistance against Dutch colonialism then. In the course of time it is experiencing many changes, both in the performance and in the puppet design. Data concerning the art were collected through descriptive method. Sisingaan has high aesthetic value contained in the dance, harmonization of the rhythm, and color combination both in the costume of the dancers and in the puppet itself.
NGARUWAT SOLOKAN DI DESA CIHIDEUNG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT Lina Herlinawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.157 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.280

Abstract

AbstrakPelaksanaan upacara tradisional suatu masyarakat pada umumnya sangat menarik untuk diteliti, karena memiliki keunikan, kesakralan, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Hal itulah yang mendorong penulis untuk mengunjungi masyarakat Cihideung di Kabupaten Bandung Barat, yang hingga kini setiap tahun masih melaksanakan upacara tradisional yang berkaitan dengan pertanian, yaitu Ngaruat Solokan atau Hajat Cai. Upacara yang merupakan sisa kepercayaan leluhur dan masih diyakini mereka adalah tradisi ritual untuk memelihara mata air dan selokan. Mereka memohon kepada Allah, karuhun, dan penunggu mata air, agar air selalu dalam keadaan lancar. Mereka pun sangat bersyukur dengan limpahan air, yang membuat mereka bisa bercocok tanam serta memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga kini. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan metode kualitatif. Dari pelaksanaan upacara tersebut terkandung berbagai macam norma serta nilai budaya yang berguna untuk mengukuhkan rasa solidaritas atau kebersamaan antarsesama warga masyarakat, yaitu nilai-nilai religius, sosial, ekonomi, pendidikan, dan rekreatif. AbstractTraditional ceremonies are interesting things to study because they are unique,sacred, and have moral values. Ngaruat solokan or hajat cai is a kind of ceremony that is conducted every year by Cihideung people in Kabupaten Bandung Barat. The ceremony is a remnant of ancestral beliefs and perceived as ritual tradition to preserve springs and streams. The people request for the mercy of God, ancestors and the spirit of the spring asking the water to be in abundance. They would be grateful for the abundance of the water that makes them cultivate and fulfill their daily needs up  to this day. Solidarity can be built through this kind of ceremony, e.g. religious, social, economical, educational and recreational values. This is a descriptive research with qualitative method.

Page 5 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue