cover
Contact Name
Yoga Adwidya
Contact Email
-
Phone
+6289619714482
Journal Mail Official
baktibudaya.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Zoetmulder/G Building, 1st Floor, Faculty of Cultural Sciences Sosiohumaniora 1 St., Bulaksumur, UGM, Yogyakarta, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 26559846     DOI : https://doi.org/10.22146/bb
Bakti Budaya mempublikasikan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tulisan yang dimuat berupa temuan penelitian atau re?eksi pengajaran yang terhilirkan untuk pemanfaatan secara lebih luas oleh masyarakat. Hilirisasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak terbatas pada konsep, metode, objek material penelitian dan kajian, tetapi juga aspek aspek penguatan kapasitas masyarakat dalam mengidentifkasi dan menyelesaikan permasalahan. Bakti Budaya terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober dan diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Articles 65 Documents
Digitalisasi Cagar Budaya di Indonesia: Sudut Pandang Baru Pelestarian Cagar Budaya Masa Hindu-Buddha di Kabupaten Semarang Aditya Revianur
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.032 KB) | DOI: 10.22146/bb.55505

Abstract

AbstractOur recent technologies, such as digital photography, 3D scanner, and augmented reality, provide an alternative idea to preserve cultural heritages, i.e. building, artefact, and structure. The main point of this article is to continue the discourse on the advantages of digital preservation on several cultural heritage sites in Semarang, called Ancient Medang Project. Semarang Regency located in Central Java Province that has many cultural heritages from ancient Java period, such as temples, artefact, sculptures, etc. However, mostly cultural heritages in Semarang Regency have been lost due to rapid modernization. The writer and several local communities who concern about cultural heritage preservation created a project to digitalize the cultural heritage in Semarang to prevent further destruction and encourage the importance of the cultural heritage sites to the public through digital media. This project is a multidisciplinary project that involved archaeologists, IT experts, and the local community to create an interactive system database regarding cultural heritages in Semarang. Three main perspectives were carried out to develop the project, i.e. content information based on archaeological surveys, construction of website design, and evaluation. The first perspective was used to collect information regarding the archaeological aspects of cultural heritage in Semarang. The second perspective was conducted to develop website prototype based on data from previous study. The final perspective was to evaluate and enhance the website prototype. The results show that the cultural heritage digitization is not only useful for preservation, but also for public engagement and facilitate cultural learning.----------AbstrakKemajuan teknologi terkini, seperti fotografi digital, pemindai 3D, dan augmented reality, memberikan ide alternatif untuk melestarikan warisan budaya, misalnya bangunan, artefak, dan struktur. Poin utama dari artikel ini adalah untuk melanjutkan wacana tentang manfaat digitalisasi pelestarian pada beberapa situs warisan budaya di Semarang, yang disebut dengan Proyek Medang Kuno. Kabupaten Semarang terletak di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki banyak warisan budaya dari zaman Jawa kuno, seperti kuil, artefak, patung, tetapi sebagian besar warisan budaya di Kabupaten Semarang telah hilang karena modernisasi yang cepat. Penulis dan beberapa komunitas lokal yang peduli dengan pelestarian cagar budaya menciptakan sebuah proyek untuk mendigitalkan cagar budaya di Semarang untuk mencegah perusakan lebih lanjut dan mendorong pentingnya situs cagar budaya kepada publik melalui media digital. Proyek ini adalah proyek multidisiplin yang melibatkan arkeolog, pakar IT, dan masyarakat setempat untuk membuat basis data sistem interaktif mengenai warisan budaya di Semarang. Tiga perspektif utama dilakukan untuk mengembangkan proyek, yaitu informasi konten berdasarkan survei arkeologi, konstruksi desain situs web, dan evaluasi. Perspektif pertama digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai aspek arkeologis warisan budaya di Semarang. Perspektif kedua dilakukan untuk mengembangkan prototipe situs web berdasarkan data dari penelitian sebelumnya. Perspektif ketiga adalah untuk mengevaluasi dan meningkatkan prototipe situs web. Hasilnya menunjukkan bahwa digitalisasi warisan budaya tidak hanya berguna untuk pelestarian, tetapi juga untuk keterlibatan publik dan memfasilitasi pembelajaran budaya.
Pendekatan Interdisiplin dalam Pengembangan Kesadaran Gaya Hidup Bijak dan Ramah Lingkungan Aris Munandar; Karlina Maizida; Rahmawan Jatmiko
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.187 KB) | DOI: 10.22146/bb.55506

Abstract

AbstractThe rapid development of technology triggers  attitudes and behaviors of consumerism. The two things have a cause and effect relationship that cause multiple pressures on the environment in the form of resource exploitation to support innovation, and waste from innovation products of short use duration to meet consumer desires. Therefore, it is necessary to be aware of consumerism behavior that is triggered by the innovation of various technology products and their impact on the environment. With this awareness, it is expected that the community can develop a wise and environmentally friendly lifestyle as an effort to reduce the rate of exploitation of natural resources and increase the uncontrolled waste of technological innovation products. The interdisciplinary approach by combining cultural sciences and psychology provides a formulation of conceptual and practical solutions to environmental problems due to consumerism that is increasingly rampant both in urban and rural areas. This interdisciplinary approach applied in the community service program for the labor force group provides sustainable benefits because it increasingly empowers this group in disseminating wise and environmentally friendly lifestyles to the living environment and work environment.-----------AbstrakPerkembangan teknologi yang pesat memicu sikap dan perilaku konsumerisme. Kedua hal yang memiliki hubungan sebab akibat tersebut menimbulkan tekanan yang berlipat ganda terhadap lingkungan berupa eksploitasi sumber daya untuk mendukung inovasi dan limbah dari produk inovasi berdurasi pemakaian pendek untuk memenuhi hasrat konsumen. Oleh karena itu, perlu penyadaran akan perilaku konsumerisme yang dipicu oleh inovasi beragam produk teknologi serta dampaknya bagi lingkungan. Dengan kesadaran ini diharapkan masyarakat dapat mengembangkan gaya hidup yang bijak dan ramah lingkungan sebagai upaya menekan laju eksploitasi sumber daya alam serta peningkatan limbah produk inovasi teknologi yang tidak terkontrol. Pendekatan interdisipliner dengan menggabungkan ilmu budaya dan psikolog memberikan rumusan solusi yang bersifat konseptual dan praktis bagi persoalan lingkungan akibat perilaku konsumerisme yang semakin merajalela baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Pendekatan interdisipliner ini diterapkan dalam program pengabdian kepada masyarakat bagi kelompok angkatan kerja dalam memberikan manfaat yang berkelanjutan karena semakin memberdayakan kelompok ini dalam menyebarluaskan gaya hidup bijak dan ramah lingkungan kepada lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja.
TANDUK ALIT Volume 3(1), April 2020 Bakti Budaya
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.005 KB) | DOI: 10.22146/bb.55507

Abstract

Pencegahan Faham Radikalisme melalui Khotbah yang santunPelatihan Penulisan Folklor bagi Siswa SMAN 1 Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa YogyakartaSosialisasi Rupa Bumi di Pemerintah Kabupaten MagelangOmotenashi sebagai Strategi Pengelolaan Homestay: Pembelajaran bagi Pengelola Kampung Homestay Borobudur Desa Ngaran II,  Borobudur,  Magelang,  Jawa Tengah
April 2020 Tjahjono Prasodjo
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.874 KB) | DOI: 10.22146/bb.55508

Abstract

Jurnal Bakti Budaya, sesuai dengan misinya, selalu berupaya untuk memublikasikan artikel yang berkaitan dengan konsep, strategi, refleksi, dan hilirisasi hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan mengingat pentingnya saling berbagi informasi tentang permasalahan keterlibatan dan kemanfaatan perguruan tinggi bagi kehidupan bermasyarakat. Kemudian, upaya itu diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih baik dalam mengembangkan dan meningkatkan fungsi kemanfaatan perguruan tinggi bagi masyarakat. Permasalahan yang mendesak saat ini, antara lain, adalah bagaimana hilirisasi kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat menyentuh langsung dan memenuhi kebutuhan masyarakat luas.
Pelatihan Pembuatan Virtual Tour bagi Kelompok Sadar Wisata Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, Bali Ni Made Ary Widiastini; Made Aristia Aristia Prayudi; Putu Indah Rahmawati; I Gede Rasben Dantes
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.59518

Abstract

The presence of increasingly sophisticated information technology has implications for the emergence of various innovations and creativity, by utilizing the development of information technology. One that is growing rapidly during the pandemic is a virtual tour, as a substitute for a tour to a place directly, which is brought to a screen using either a laptop, PC or mobile phone. Sidatapa Village, as one of the tourist villages in Buleleng Regency, has recently developed tourism products, one of which is a tour to get to know the culture in the village, experiencing obstacles due to the social restrictions. Tourists cannot visit the village directly and get to know the culture in the ancient village. Seeing the trend of virtual tours that are well developed in Indonesia, in this community service program, tourism community group who act as tour guides are given virtual tour training. Sidatapa village is unique, namely as the village of Bali Aga and has an old house called Bale Tumpang Salu, as well as ancient cultural activities which are still preserved until now, has the potential to develop a virtual tour. In village mentoring activities, tourism awareness groups are given virtual tour training involving the role of the industry, namely the Trex Tour. Through training and mentoring provided by academics and industry, the tourism awareness group of Sidatapa Village was able to design and carry out virtual tours. ==== Kehadiran teknologi informasi yang semakin canggih berimplikasi pada munculnya berbagai inovasi dan kreativitas, dengan memanfaatkan perkembangan dari teknologi informasi tersebut. Salah satu yang sedang berkembang pesat pada masa pandemik adalah virtual tour sebagai pengganti perjalanan wisata ke suatu tempat secara langsung, yang dibawa ke dalam sebuah layar baik menggunakan device berupa laptop, PC, maupun mobile phone. Desa Sidatapa sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Buleleng yang baru saja mengembangkan produk wisata, salah satunya beriwisata mengenal budaya di desa tersebut, mengalami hambatan yang disebabkan oleh pembatasan sosial. Wisatawan tidak dapat berkunjung langsung ke desa tersebut dan mengenal budaya di desa tua tersebut. Melihat tren virtual tour yang berkembang baik di Indonesia maka pada program pengabdian kepada masyarakat ini, kelompok desa wisata yang berperan sebagai pemandu wisata diberikan pelatihan virtual tour. Desa Sidatapa memiliki keunikan, yakni sebagai desa Bali Aga, memiliki rumah tua yang disebut Bale Tumpang Salu, serta aktivitas budaya kuno yang hingga saat ini masih dipertahankan berpotensi untuk mengembangkan virtual tour. Pada kegiatan pendampingan desa, kelompok sadar wisata diberikan pelatihan virtual tour dengan melibatkan peran industri, yakni Trex Tour. Melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh pihak akademisi dan industri, kelompok sadar wisata Desa Sidatapa mampu merancang dan melaksanakan virtual tour.
Pelibatan Masyarakat dalam Persiapan Penetapan Situs Gunung Wingko, Bantul sebagai Cagar Budaya Anggraeni Anggraeni
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.60453

Abstract

The use of Gunung Wingko for modern settlements has a significant impact on the preservation of the site. One of the efforts that can be done to prevent the widespread damage to the site is by disseminating important values and determining the site as a cultural heritage. Considering that this stipulation can trigger conflict, it is necessary to carry out careful preparation accompanied by socialization of the values (culture and knowledge) and dialogue with stakeholders through FGD. Sanden Fair, which is an annual event, is one of the means of disseminating research results that have long been carried out at the Mount Wingko Site and the importance of the site. In order to maintain awareness of the importance of the site, an embryo of Gunung Wingko Site Information Center was created. In the future, local communities can be involved in filling out the materials and managing the Information Center that has been initiated. In a FGD involving all stakeholders in Bantul Regency and the DIY Cultural Heritage Conservation Office, it was found that the designation of Gunung Wingko as a cultural heritage was constrained by the absence of site delineation. The Department of Archaeology FIB UGM team proposes gradual protection, starting from the determination of the area of the core zone which refers to the results of previous research. Communities living around the site also need to be involved in the activity of determining Gunung Wingko as a cultural heritage and need to get accurate information about the consequences and impacts of determining the site.====Pemanfatan Situs Gunung Wingko untuk permukiman baru telah membawa dampak yang signifikan terhadap kelestarian situs. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah meluasnya kerusakan situs adalah dengan melakukan sosialisasi nilai penting dan penetapan situs sebagai Cagar Budaya. Mengingat penetapan tersebut dapat memicu konflik, maka perlu dilakukan persiapan matang disertai sosialisasi nilai penting (kebudayaan dan pengetahuan) dan dialog dengan para stakeholder melalui FGD. Sanden Fair yang merupakan acara tahunan menjadi salah satu sarana sosialisasi hasil penelitian yang telah lama dilakukan di Situs Gunung Wingko dan nilai penting situs. Guna menjaga kesadaran tentang nilai penting situs tersebut, maka dibuatlah embrio Pusat Informasi Situs Gunung Wingko. Masyarakat setempat ke depan dapat dilibatkan dalam pengisian materi dan pengelolaan Pusat Informasi yang telah dirintis. Dalam FGD yang melibatkan seluruh stakeholder di Kabupaten Bantul dan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY diketahui bahwa penetapan Gunung Wingko sebagai Cagar Budaya terkendala oleh belum adanya delineasi situs. Tim Departemen Arkeologi FIB UGM mengusulkan pelindungan bertahap, dimulai dari penetapan luasan zona inti yang mengacu pada hasil penelitian terdahulu. Masyarakat yang tinggal di sekitar situs juga perlu dilibatkan dalam kegiatan penetapan Gunung Wingko sebagai Cagar Budaya dan perlu mendapat informasi yang tepat mengenai konsekuensi dan dampak penetapan situs.
Memperkenalkan Jenis Kerusakan Kertas dan Penanganan Konservasi Interventif Sederhana kepada Staf Museum-Museum di Yogyakarta Mahirta Mahirta
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.60461

Abstract

Papers and old books are important part of museum collections in many museums in Yogyakarta, even some of them have very significant value and become masterpiece collections. Some old books such as from Islamic and colonial period have unique binding structures that should be preserved too as it become a historical marker. Therefore, special care for paper collections and old books should be carried out by museum conservator. Unfortunately, not all museums in Yogyakarta have professional conservator. Bear in mind that many museums in Yogyakarta has significant value of paper collection, a workshop of paper conservation was conducted on 18-19 September 2019 in Museum UGM, as a community service for museum communities in Yogyakarta. Through this workshop, participants managed to identify types of damage on paper collections, identify the cause of damage, and conduct simple interventive conservation.====Kertas dan buku tua merupakan bagian penting dari koleksi museum di banyak museum di Yogyakarta, bahkan beberapa memiliki nilai yang sangat penting dan menjadi koleksi istimewa. Beberapa buku tua, contohnya dari masa Islam dan kolonial, memiliki struktur jilid yang unik yang juga harus dilestarikan karena menjadi penanda sejarah. Maka dari itu, penanganan khusus untuk koleksi kertas dan buku tua harus dilakukan oleh konservator museum. Sayangnya, tidak semua museum di Yogyakarta memiliki konservator profesional. Mengingat bahwa banyak museum di Yogyakarta memiliki koleksi kertas dengan kandungan nilai penting, workshop konservasi kertas dilaksanakan pada 18—19 September 2019 di Museum UGM sebagai bentuk pengabdian masyarakat kepada komunitas museum di Yogyakarta. Melalui workshop ini, peserta berhasil mengidentifikasi tipe kerusakan dan penyebabnya pada koleksi kertas serta melakukan konservasi interventif sederhana pada koleksi kertas. 
Pelatihan dan Pendampingan bagi Peningkatan Kapasitas Aparat dan Institusi Desa dalam Perencanaan dan Implementasi Pembangunan Setiadi Setiadi; Henny Ekawati; Fadlan Habib
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.60463

Abstract

The implementation of Law No. 6 2014 faces obstacles due to the weak quality of village officials and institutions. This has an impact on the weakening role of the village government in its function as a development accelerator. It is necessary to increase the capacity of the apparatus in order to understand how development planning processes should be carried out at the village level, and how these processes are supported by strong village government institutions. In addition, there needs to be a control mechanism for the village government. This can be done by strengthening the role of the BPD. With the increased quality and capacity of village government apparatus and institutions, as well as strong civil society control played by the BPD, there will be a synergy in implementing good development at the village level. Village officials are no longer the sole player in village development. Efforts to create these ideal conditions continue to be in progress at the village level and will always be dynamic due to the influence of supralocal powers which are sometimes not in line with the development and will of the local community.====Implementasi UU No. 6 Tahun 2014 menghadapi kendala akibat lemahnya kualitas aparat dan kelembagaan desa. Hal ini berdampak pada semakin lemahnya peran pemerintah desa dalam fungsinya sebagai akselerator pembangunan. Perlu adanya peningkatan kapasitas aparat agar memahami bagaimana proses-proses perencanaan pembangunan harus dilakukan di tingkat desa serta bagaimana proses-proses tersebut didukung oleh kuatnya kelembagaan pemerintah desa. Selain itu, perlu ada mekanisme kontrol terhadap pemerintah desa. Hal ini bisa dilakukan dengan penguatan peran BPD. Dengan meningkatnya kualitas dan kapasitas aparat dan kelembagaan pemerintah desa serta kontrol masyarakat sipil yang kuat yang diperankan oleh BPD, akan ada sinergi pelaksanaan pembangunan yang baik di tingkat desa. Aparat desa tidak lagi menjadi pemain tunggal pembangunan desa. Upaya penciptaan kondisi ideal ini terus berproses di tingkat desa dan akan selalu dinamis akibat pengaruh kekuasaan supralokal yang terkadang tidak sejalan dengan perkembangan dan kehendak masyarakat lokal.
Pendampingan UKM Bidang Fashion pada Masa Pandemi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta Hayatul Cholsy; Aprillia Firmonasari; Wening Udasmoro
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.60725

Abstract

The Covid-19 pandemic has affected various aspects of human life, including to the fashion sector. The negative impact of the pandemic has disrupted the business operations of MSME (Micro, Small and Medium Enterprises) players, that exports cannot be carried out so that production does not run properly. This program, in collaboration with FFTI (Forum Fair Trade Indonesia) and IFC (Indonesian Fashion Chamber), aims to assist MSMEs in preparing products that can be made and marketed during the new normal in the local and global markets. The online seminar, which was held twice by presenting competent speakers, is expected to be able to help as well as open the insights of MSMEs in the fashion sector to be ready to run their business during the pandemic and new normal by continuing to be creative and think positively.====Pandemi Covid-19 telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang fashion. Dampak negatif pandemi mengganggu jalannya bisnis para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), di antaranya ekspor tidak bisa dilakukan sehingga produksi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Program yang bekerja sama dengan FFTI (Forum Fair Trade Indonesia) dan IFC (Indonesian Fashion Chamber) ini bertujuan untuk mendampingi UMKM dalam menyiapkan produk yang dapat dibuat dan dipasarkan selama masa new normal di pasar lokal dan pasar global. Seminar daring yang dilakukan sebanyak dua kali dengan menghadirkan narasumber yang kompeten diharapkan dapat membantu sekaligus membuka wawasan para pelaku UMKM bidang fashion untuk siap menjalani bisnisnya pada masa pandemi dan new normal dengan terus berkreasi serta berpikir positif. 
Pemakaian Bahasa Persuasif Media Luar Ruang Selama Masa Pandemik Covid-19 di Dusun Nyangkringan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul, DIY Rudi Ekasiswanto; Ridha Mashudi Wibowo
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bb.60726

Abstract

The use of appropriate language by speakers has been proven to be able to convey messages clearly to the speech partners that they want, and it can even further change the behavior of the speech partners. This can be exemplified by the use of persuasive language in outdoor media. In order to get considerable attention, outdoor media installation is usually installed in a strategic location. The billboards that are installed, for example, are designed to be large and permanently installed within a certain period of time. The information displayed in billboards is arranged with the right diction, special sentence structure, and has a strong persuasive impact supported by an attractive design. Unfortunately, not all community members have the ability to make representative billboards. Community service activities in Nyangkringan village are aimed to develop two abilities, namely the ability to use language effectively and also to design attractive and informative-persuasive billboards. After receiving adequate guidance, the community service activity participants have been able to create billboards that are memorable and informative-persuasive. The installation of billboards at a later stage of the project indicates a significant change in behavior due to increased public awareness of the Covid-19 pandemic. It is hoped that with the abilities that they already have, in the future, the community service participants can make the necessary outdoor media according to their designation.====Pemakaian bahasa penutur secara tepat telah terbukti dapat menyampaikan pesan dengan jelas kepada mitra tutur yang dikehendakinya, bahkan lebih jauh lagi dapat mengubah perilaku mitra tutur. Hal ini dapat dicontohkan dengan pemakaian bahasa persuasif di media luar ruang. Agar dapat memperoleh perhatian yang cukup besar pemasangan media luar ruang biasanya dilakukan di lokasi yang strategis. Baliho yang dipasang, misalnya, didesain berukuran besar dan dipasang secara permanen dalam rentang waktu tertentu. Informasi yang dipajang di dalam baliho disusun dengan diksi yang tepat, struktur kalimat khusus, dan berdampak persuasif yang kuat didukung dengan desain yang menarik. Sayangnya, tidak semua anggota masyarakat memiliki kemampuan membuat baliho yang representatif. Aktivitas pengabdian kepada masyarakat di Dusun Nyangkringan kali ini ditujukan untuk mengembangkan dua kemampuan, yakni kemampuan menggunakan bahasa secara efektif dan mendesain baliho yang menarik dan informatif-persuasif. Setelah mendapat bimbingan yang memadai, peserta kegiatan pengabdian dapat mewujudkan baliho yang mengesankan dan informatif-persuasif. Pemasangan baliho pada tahap selanjutnya mengindikasikan perubahan perilaku yang signifikan atas meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pandemi Covid-19. Diharapkan dengan kemampuan yang telah dimiliki pada masa depan, para peserta pengabdian dapat membuat media luar ruang yang diperlukan sesuai dengan peruntukannya.