Articles
157 Documents
Sabalong Samalewa: Falsafah Lokal sebagai Bukti Eksistensisme dan Harmonisasi Relasi Tau Samawa di Tana Sumbawa
Yaspis Edgar Funay
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 7, No 2 (2020): Modernitas Lanjut dan Masyarakat Berisiko (Tatanan Sosial, Pengorganisasian dan
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v7i2.55825
Tulisan ini akan menganalisa falsafah sabalong samalewa sebagai salah satu kekuatan penting dalam menjaga eksistensi hidup orang Sumbawa. Penulis mencoba melihat bagaimana Refleksi sabalong samalewa juga dapat menghasilkan sebuah pemahaman bahwa seluruh kehidupan yang ada di tana Sumbawa harus di jaga dengan sebaik-baiknya. Karenanya, tulisan ini bertujuan untuk menganalisa falsafah hidup orang Sumbawa, yaitu sabalong samalewa untuk mengupayakan sebuah pegangan hidup bersama yang dekat dengan masyarakat dan tidak terbatas oleh ruang dan kelas masyarakat tertentu. Berdasarkan konsep ini, penulis menggunakan perspektif sosiologis untuk mengkaji sejauh mana falsafah ini dapat berperan dalam harmonisasi kehidupan masyarakat. Pada bagian akhir, tulisan ini akan mengeksplorasi konsep hubungan ideal masyarakat yang tertuang dalam falsafah lokal sebagai sebuah kesadaran yang akan menuntun orang Sumbawa (tau Samawa) menghargai makhluk hidup lain sebagai sesama ciptaan yang memiliki nilai.
Jarak Sosial antara Keturunan Cina dan Pribumi dalam Proses Pembauran Di Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang
Lia Yulia;
Soni Akhmad Nulhaqim
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 2 (2021): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v8i2.58564
Penelitian ini membahas jarak sosial yang terjadi antara etnik keturuna Cina dan Pribumi sehingga terjadi ketidakharmonisan kehidupan sosial dalam upaya proses pembauran di Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu metode deskriptif analitis untuk mencari faktor apa yang menimbulkan terjadinya jarak sosial antar etnik, terutama antara keturunan Cina dengan masyarakat pribumi dan bagaimana persepsi masyarakat keturunan Cina dan masyarakat Pribumi terhadap perwujudan pembauran di Kecamatan Rengasdengklok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga faktor penentu terjadinya jarak sosial yang mempengaruhi proses pembauran antar etnik keturunan Cina dan Pribumi, yaitu: stereotip, prasangka sosial, dan perilaku diskriminasi. Sedangkan persepsi masyarakat keturunan Cina dan Pribumi terhadap perwujudan pembauran di Kecamatan Rengasdengklok adalah bahwa pembauran atau asimilasi merupakan kesadaran yang datang dari hati nurani masyarakat itu sendiri yang mau menerima perbedaan budaya antar etnik, terutama di wilayah Kecamatan Rengasdengklok.
Hasrat Konsumsi Virtual dalam Permainan Daring Mobile Legends: Perspektif Deleuze dan Guattari
Rino Andreas;
Dian Arymami
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 2 (2021): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v8i2.67351
Konsumsi virtual, lekat dengan kehidupan masyarakat yang dimediasi oleh teknologi komunikasi dan informasi digital. Salah satunya dapat dilihat dalam ekosistem permainan daring (game online). Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi kompleksitas hasrat konsumsi virtual para pemain Mobile Legend: Bang Bang (MLBB) dari perspektif Deleuze dan Guattari serta memaparkan siasat para pemain MLBB yang berupaya keluar dari nilai-norma yang dimapankan oleh kapitalisme digital abad-21. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode etnografi virtual yang menempatkan peneliti dalam aktivitas observasi dan partisipasi aktif di ruang virtual. Berdasarkan observasi dan FGI (focus group interview) peneliti melihat bahwa hasrat konsumsi pemain MLBB berada di tataran mikro dan makro. Mesin hasrat dari perspektif Deleuze dan Guattari menghubungkan individu sekaligus sistem sosial sebagai (machinic assemblage). Hasilnya, hasrat konsumsi pemain MLBB tidak hanya di jelaskan dari relasi pemain dan objek virtual itu sendiri melainkan, juga mencakup jaringan kepentingan kapital yang lebih luas meliputi, pihak penyedia jaringan komunikasi, produsen perangkat mobile, perusahaan energi listrik, maupun perusahan finansial teknologi. Hasrat konsumsi sebagai aliran konstruktif, menghadirkan dinamika pemain yang melakukan deteritorialisasi. Proses ini meninggalkan garis batas (line of flight) nilai-nilai yang dibangun oleh wilayah kapitalisme digital dengan cara melakukan praktik cheating. Pada gilirannya praktik cheating sebagai materialisasi hasrat “chaos” itu ditangkap kembali melalui proses reteritorialisasi oleh pengembang ke dalam sistem pengawasan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yakni dengan memberikan hukuman. Memastikan para pemain melakukan konsumsi virtual sesuai dengan tatanan yang berlaku. Maka, hasrat “chaos” telah dikodekan kembali oleh wilayah industri permainan daring, sehingga mendorong pemain mengeluarkan uangnya untuk membeli barang virtual secara terus menerus.
Saminisme Dalam Sengketa Pembangunan Pabrik Semen: Analisis Semiotik Film Sikep Samin Semen
Mohamad Yusuf
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 2 (2021): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v8i2.68083
Ketegangan antara masyarakat penolak pabrik semen dengan pemerintah daerah serta perusahaan semen di Pegunungan Kendeng masih terjadi hingga sekarang. Salah satu unsur dari kelompok masyarakat penolak yang memiliki peran sangat signifikan adalah mereka pengikut ajaran Samin atau secara umum dikenal dengan nama Sedulur Sikep. Namun, keikutsertaan mereka menimbulkan pro dan kontra baik dari dalam pengikut ajaran Samin sendiri dan dari luar. Sikap pro dan kontra ini dimanifestasikan dalam bentuk dua film. Dari pihak kontra dengan pabrik semen diwakili oleh film Samin vs Semen (2015) sementara dari pihak pro diwakili oleh film Sikep Samin Semen (2015). Film Sikep Samin Semen mengklaim diri sebagai yang paling berhak mendefinisikan ajaran Samin dan menegasikan pengikut ajaran samin yang ada pada film Samin vs Semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana film Sikep Samin Semen membentuk makna atas sedulur sikep dalam sengketa pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng? Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika dari Roland Barthes guna mendapatkan data dari relasi tanda pada tahap pertama (denotasi) dan relasi tanda pada tahap kedua (konotasi). Guna memperdalam analisis, penelitian ini akan mengelaborasikan konsep mitos dari Roland Barthes (1991) dan konsep representasi dari Stuart Hall (1997). Penelitian ini menemukan sedulur sikep dalam film Sikep Samin Semen merupakan orang-orang pendukung privatisasi ruang dan barang publik yang berakhir pada akumulasi kapital oleh perusahaan semen.
Pembatasan Hak Masyarakat Tionghoa di Daerah Istimewa Yogyakarta: Bias Kelas Demokrasi Agraria?
Josef Christofer Benedict
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 2 (2021): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v8i2.68305
Konsep demokrasi tidak pernah terbatas pada pemilihan elektoral belaka. Diskursusnya juga mencakup penerapan akan keadilan dan kesetaraan. Dalam pemahaman menyeluruh tersebut, Surat Instruksi Kepala Daerah DIY Nomor K.898/I/A/1975 yang membatasi hak kepemilikan tanah dan bangunan bagi masyarakat Tionghoa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi wujud negasi atas konsep demokrasi agraria sendiri. Kehadirannya yang telah berlangsung selama 46 tahun dan tetap eksis membatasi hak milik Tionghoa di DIY secara de jure, memunculkan pertanyaan sendiri mengenai ketimpangan pelaksanaannya. Pada kenyataanya, tidak semua masyarakat Tionghoa di DIY mengalami diskriminasi tersebut. Banyak dari mereka yang kemudian mengakali kebijakan tersebut. Penelitian yang membahas aspek historis kemunculan kebijakan ini pun semakin banyak, dengan titik penemuan bahwa kehadirannya tidak lagi relevan karena merupakan warisan devide et impera masa kolonial. Dengan situasi demikian, mempertanyakan kehadirannya dalam konteks masa kini menjadi penting – terutama mengenai atas dasar apa keberlakuannya saat ini di tengah-tengah masyarakat Tionghoa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan teknik studi literatur dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya, tampak bahwa hegemoni ekonomi menjadi determinan atas keberlakuannya, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Kehadiran penulisan ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru terhadap pelaksanaan demokrasi agraria di DIY, tidak hanya secara historis dan hukum, tetapi juga sosiologis.
Petani Muda dalam Kewirausahaan Sosial Kubis di Desa Cisanta
Didi Kurniasandi;
Rudi Hartono;
Ait Maryani
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 2 (2021): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v8i2.68471
Saat ini, jumlah rumah tangga petani muda di Indonesia sangat sedikit, sedangkan untuk pertanian keberlanjutan sangat diperlukan keterlibatan petani muda. Teknologi GAP belum banyak diterapkan padahal sangat penting untuk menjamin produk panen yang aman dikonsumsi. Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis secara deskriptif kapasitas kewirausahaan dan penerapan GAP serta faktor-faktor yang berhubungan dengan strategi peningkatannya. Penelitian dilaksanakan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat terhadap 31 petani muda sebagai responden. Variabel yang diteliti adalah karakteristik responden, dukungan penyuluhan, dan minat petani muda menggunakan metode observasi, pengisian kuisioner, serta wawancara. Data dianalisis deskriptif, korelasi rank spearman, dan non-parametrik kendall’s W. Hasilnya penelitian menunjukan bahwa kapasitas kewirausahaan petani muda dan penerapan budidaya GAP kubis yang termasuk dalam kategori sedang. Dukungan penyuluhan secara signifikan berhubungan kuat dengan kapasitas kewirausahaan petani muda, sedangkan karakteristik pengalaman pelatihan dan karakteristik luas lahan secara signifikan berhubungan kuat dengan penerapan GAP. Untuk strategi peningkatan disajikan dalam rencana kegiatan penyuluhan materi administrasi GAP dan keterampilan sosial. Pemilihan media dan metode penyuluhan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pemikiran Pedagogi Kritis Henry Giroux
Rizqyansyah Fitramadhana
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v9i1.72188
Berbeda dengan mayoritas penelitian pendidikan sebelumnya yang berfokus di ranah tematik, artikel ini berusaha mengetengahkan kajian pemikiran ke permukaan. Pemikiran pedagogi kritis Henry Giroux akan menjadi pusat perhatian dalam studi kali ini. Secara ringkas, artikel ini mempunyai tiga tujuan utama. Pertama, menjelaskan latar belakang perkembangan teoretis pedagogi kritis Henry Giroux. Kedua, memperlihatkan kritik Henry Giroux terhadap pendidikan a la neoliberal. Ketiga, menampilkan alternatif serta visi pendidikan yang dipikirkan oleh Henry Giroux. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutik kritis untuk menyingkap intisari manuskrip-manuskrip kuncinya. Bersamaan dengan itu maka metode yang digunakan adalah studi pustaka. Karya tulis Henry Giroux yang sesuai dengan pembahasan akan dibaca, ditampilkan, dan dianalisis secara mendalam. Dengan menggunakan piranti metode tersebut, penelitian ini berpendapat bahwa (a) pemikiran pedagogi kritis Giroux sangat dipengaruhi oleh kritiknya terhadap teori korespondensi dan reproduksi, (b) penolakan kerasnya kepada cara pandang sempit neoliberal yang merasuk ke dunia pendidikan membuatnya menawarkan visi baru bernama pendidikan sebagai ruang publik politik, dan (c) Giroux memperlakukan sekolah sebagai tempat produksi agensi demokratis yang mampu menciptakan tatanan normatif demokrasi radikal dan keadilan sosial.
Dualitas Peran Pembangunan Korporasi: CSR dalam Kerangka Kebijakan PROPER dan Lanskap Sosial Pemanfaat Program
Muhamad Arifin
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v9i1.73793
Studi ini bertujuan mengeksplorasi sudut pandang sosiologis gagasan Giddens tentang dualitas struktur untuk mengkaji CSR korporasi (Corporate Social Responsibility) dan komunitas pemanfaat dibawah kebijakan pemerintah Proper. Studi terdahulu tentang CSR menunjukkan sebuah dikotomi antara struktur dan agensi yang meninggalkan sebuah kehampaan pada praktik CSR dalam konteks pembangunan. Oleh karena itu, studi ini berfokus pada relasi antara kebijakan Proper dianggap sebagai struktur dan komunitas pemanfaat CSR melalui berbagai bentuk agensi yang belum banyak mengemuka. Unit analisis terdiri dari sebuah korporasi di sektor hilir industri migas dan komunitas pemanfaat program CSR yang berlokasi di Provinsi Sumatera Selatan. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif yaitu observasi, wawancara terstruktur, dan wawancara mendalam. Informan kunci yang terlibat yakni petugas senior bidang CSR, petugas pemberdayaan komunitas, elit aktor komunitas, dan kelompok komunitas pemanfaat program CSR. Hasil studi ini menekankan peran signifikan para elit lokal komunitas dalam menentukan keberlanjutan program CSR. Sebagai kesimpulan, analisis dualitas struktur Giddens mampu menggambarkan proses dinamis dalam relasi yang saling mempengaruhi antara peran korporasi dan komunitas pada praktik CSR dalam kerangka kebijakan Proper. Sejumlah aspek berdampak sangat konstruktif. Namun, terdapat aspek lainnya yang belum mengarah pada keberlanjutan program CSR korporasi.
Pendidikan Kespro Wanita Penderita Polycystic Ovary Syndrome Melalui Media Sosial (Studi Akun Instagram @pcosfighter)
Akhriyadi Sofian;
Safira Ayuningtyas;
Ririh Megah Safitri
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v9i1.74067
Instagram adalah media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Instagram banyak melahirkan komunitas-komunitas virtual yang banyak membagikan edukasi. Salah satunya adalah akun komunitas @pcosfighterindonesia yang membagikan edukasi pendidikan kesehatan reproduksi wanita. Artikel ini berdasar pada riset kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah netnografi dengan analisa media siber. Metode analisa media siber menggunakan dua unit level makro (objek media berupa tindakan pemeliharaan kesehatan reproduksi akun @pcosfighterindonesia dan pengalaman berupa bagaimana dampak para followers setelah mengikuti beragam konten yang dibagikan) serta mikro (ruang media berupa akun komunitas @pcosfighterindonesia dimana terjadinya interaksi dan dokumen media berupa alat berkomunikasi secara virtual yang digunakan kepada followers) yang dapat memberikan gambaran komunitas dalam media virtual. . Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadinya tindakan pemeliharaan kesehatan wanita penyandang PCOS oleh followers mereka. Tindakan ini dilakukan setelah mereka mendapatkan edukasi melalui konten-konten yang dibagikan oleh akun @pcosfighterindonesia.
Relasi Sosial Hizbut Tahrir dan Militer di Indonesia
Heriansyah Heriansyah;
Muhammad Syaroni Rofii;
Muhammad Imdadun
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jps.v9i1.74246
Hizbut Tahrir (HT) sebuah gerakan pemikiran dan politik transnasional bercita-cita mendirikan Khilafah global melalui peralihan kekuasaan di suatu negara secara revolusioner, menyeluruh dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Menurut doktrin HT peralihan kekuasaan yang demikian hanya dapat dilakukan oleh militer. Penelitian ini mengkonstruksi hubungan Hizbut Tahrir dengan militer di Indonesia, dari sejak lahirnya grup kajian yang pertama halaqah ula (1985) sampai sekarang (2021). Berdasarkan legalitasnya, ada tiga fase yang dilalui oleh Hizbut Tahrir Indonesia yaitu fase sebelum terdaftar sebagai organisasi resmi (1985 - 2006), fase menjadi organisasi kemasyarakatan resmi (2006 - 2017) dan fase menjadi gerakan ilegal (2017 – sekarang). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis konten berbasis data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, kemudian dilakukan uji validasi data dengan triangulasi data. Ditemukan beberapa pola dan pendekatan hubungan sosial yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, serta respon yang sepadan dari militer sesuai situasi sosial dan politik saat itu.