cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
ULAS: Ketercapaian Pelayanan Publik yang Efektif Berbasis Digital di Kota Surakarta Valinda Calonica Rosidi; LV Ratna Devi Sakuntalawati
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 2 (2022): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i2.76232

Abstract

Data Bappenas menunjukan rendahnya skor pelayanan publik pada tubuh pemerintahan. Kondisi ini mengharuskan adanya perbaikan kualitas pelayanan publik. Perbaikan dapat dilakukan salah satunya melalui aspek kemudahan pengaduan masyarakat. Layanan pengaduan masyarakat dinilai signifikan dalam memperbaiki kualitas pelayanan, yang disebabkan dapat secara langsung merespon kebutuhan dan keluhan yang dirasakan oleh masyarakat (bottom up). Merespon urgensi pelayanan pengaduan masyarakat, pemerintah Kota Surakarta saat ini telah mengadopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Maka dibuatlah inovasi pelayanan pengaduan dengan mengintegrasikan TIK yang dinamakan Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS) sehingga membuka kemudahan akses bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan pemerintah secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesiapan masyarakat menggunakan TIK, partisipasi penggunaan teknologi terhadap ketercapaian pelayanan publik yang efektif. Digunakan Theory Acceptance Model (TAM) dan teori partisipasi untuk mengkaji penelitian ini. Pengaplikasian TAM untuk menganalisis kesiapan memanfaatkan dan penerimaan terhadap teknologi. Sedangkan teori partisipasi menganalisis tingkat keterlibatan pengambilan keputusan yang mempengaruhi kepuasan penggunaan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatori dan menggunakan metode survei, yaitu jenis penelitian untuk menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan dengan cara menyebarkan kuesioner. Hasil yang diperoleh adalah terdapat hubungan tidak murni antara kesiapan masyarakat memanfaatkan TIK dengan ketercapaian pelayanan publik yang efektif yaitu sebesar 0,211 terkategori rendah. Maknanya, harus melalui variabel partisipasi penggunaan teknologi sebagai faktor uji variabel intervening. Akan tetapi, terdapat hubungan bersama-sama antara kesiapan masyarakat memanfaatkan TIK, partisipasi penggunaan teknologi, ketercapaian pelayanan publik yang efektif. Hasil ini sesuai dengan teori TAM milik Fred Davis dan teori partisipasi milik Everett Rogers.
Hiperrealitas Cantik bagi Mahasiswa Pemakai Skincare Imam Fawaid; Muhammad Hayat; Mochamad Aan Sugiharto
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 2 (2022): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i2.77475

Abstract

Hiperrealitas merupakan konsep yang digunakan oleh Jean Baudrillard untuk menjelaskan fenomena lahirnya realitas-realitas buatan yang melampaui realitas nyata, yang ditandai dengan berkembangnya media sosial yang memfasilitasi individu dalam mengekspresikan diri melalui kode-kode visual sebagai tanda untuk merepresentasikan diri mereka. Implikasinya, individu-individu dalam masyarakat modern menjadi terobsesi untuk selalu tampil cantik sempurna. Oleh karena cantik dipahami sebagai the body as physical, maka untuk menjadi cantik seseorang harus melakukan perawatan dengan memakai skincare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teknik penentuan subjek penelitian menggunakan metode snowball. Adapun pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa hiperrealitas cantik yang terjadi pada mahasiswa pemakai skincare dikelompokkan menjadi tiga fase, yaitu fase simulasi sebagai fase awal, fase simulakra sebagai fase tengah, dan fase simulakrum sebagai fase akhir. Fase simulasi terjadi didukung oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan, dan idola yang mengenalkan konstruksi cantik pada subjek penelitian yang kemudian menjadi rujukan untuk ditiru sebagai identitas diri. Fase simulakra terjadi ketika subjek penelitian mulai mempelajari lebih banyak tentang skincare, bereksperimen mencoba berbagai merek skincare, mengikuti akun-akun media sosial skincare, hingga berkonsultasi ke klinik perawatan kulit. Adapun fase simulakrum terjadi ketika subjek penelitian merebut otoritas untuk mereproduksi cantik versinya tetapi terus berproses dalam bayang-bayang negativitas sampai pada titik di mana skincare menjadi kebutuhan baru.
Stuktur Sosial Masyarakat Petani Bawang Merah di Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Haryono R Rinardi; Nazala Noor Maulany; Noor Naelil Masruroh; Yety Rochwulaningsih; Rabith Jihan Amaruli
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i1.77627

Abstract

Brebes saat ini dikenal sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia. Usaha pertanian bawang merah Brebes melibatkan sebagian besar penduduknya yang menggantungkan hidup mereka pada sektor tersebut. Secara sosiologis, struktur sosial masyarakat petani bawang merah di daerah itu sangat kompleks, dengan keterlibatan berbagai pihak dengan berbagai peran dan kedudukannya. Demikian pula pola-pola hubungan kerja yang terjalin di dalamnya antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Penelitian ini bermaksud mengungkap gambaran struktur sosial dan pola-pola hubungan kerja dalam masyarakat petani bawang merah Brebes yang dilakukan melalui studi kasus di Desa Sigentong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Penelitian ini adalah sebuah penelitian kualitiatif yang disusun menggunakan metode observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan secara umum bahwa terdapat pelapisan sosial masyarakat petani di Desa Sigentong pada masa produksi dan masa pascapanen. Pelapisan sosial pada masa produksi terdiri dari kelompok para juragan yang terdiri dari juragan pemilik tanah, petani dan buruh. Sementara pada pelapisan sosial masa pascapanen, secara umum terdiri atas kelompok juragan pada lapisan paling atas dan buruh pada lapisan paling bawah. Terkait dengan pola hubungan kerja dalam masyarakat petani bawang merah secara umum, hubungan antara juragan dan petani diikat oleh sistem penguasaan tanah dengan sewa, gadai dan bagi hasil. Di antara petani dan buruh, bentuk hubungan kerja yang ada bersifat borongan dan lepas. Secara umum pola-pola hubungan di antara mereka satu sama lain tidak terikat dan cenderung dianggap saling menguntungkan.
Keterlekatan Etika Moral Islam dan Budaya Jawa Petani Kopi Arjuno Ronny Ersya Novianto Putra
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 2 (2022): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i2.79771

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (a) menggambarkan tipologi nilai etika moral Islam dan Jawa pada tindakan ekonomi petani kopi Arjuno, (b) menggambarkan pembentukan jaringan, relasi ekonomi, nilai, norma dan tindakan ekonomi individu petani kopi Arjuno dan, (c) keterlekatan etika moral  ekonomi Islam dan Jawa dalam  tindakan ekonomi petani kopi Arjuno. Penelitian ini menggunakan kualitatif sebagai metode penelitian dengan pendekatan studi kasus, latar tempat dalam penelitian ini perkebunan kopi rakyat lereng gunung Arjuno. Hasil penelitian ini menunjukkan: (a) petani kapitalis Islam dan Jawa memegang teguh tipologi nilai dasar manusia Jawa, nilai “Gak Gelem di ndas-endasi”, petani kopi kapitalis Islam membentuk nilai adil, sabar dan jujur dalam mempertahankan eksistensinya, sementara petani kopi kapitalis Jawa membentuk nilai nerimo ing pandum, eling lan waspodo serta tepo sliro, prasojo lan temen untuk mempertahankan eksistensinya. (b) jaringan dan hubungan ekonomi yang terbentuk intens menguatkan trust antar aktor serta nilai, norma dan tindakan ekonomi  individu petani kopi Arjuno bersifat kolektif dan inklusif. (c) keterlekatan etika moral ekonomi Islam dan Jawa dalam tindakan ekonomi petani kopi Arjuno, petani kopi kapitalis Islam mampu berkembang dan membuka tindakan ekonomi bersifat kolaboratif aktif dalam mempertahankan eksistensinya, berbanding terbalik dengan petani kopi kapitalis Jawa.
Handling of Human Trafficking in the Modern Era in Indonesia Difta Anggraeni Syawal Li Idul Fitri; Salahuddin Salahuddin; Syamsulrizal Syamsulrizal; M. Syaprin Zahidi
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 2 (2022): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i2.79832

Abstract

This article aims to analyze, namely by describing and participating in how to handle human traffic in the modern era that is happening today. The research method used in this research is a systematic literature review (SLR), where the articles are analyzed using 161 scientific articles sourced from previous articles. The purpose of this method is to look for a problem on the issue being studied. This study tries to examine a country's efforts to eradicate human trafficking. In this study, how to deal with trafficking cases that occur, because of the rise of developing technology, which has led to increasing cases of human trafficking. In the modern era, what can be done is to form a community or team to search for or monitor human trafficking activities on social media. In addition, the need for awareness of the surrounding environment also raises awareness of human trafficking. With collaborative efforts with NGO institutions such as the International Organization for Migration (IOM) we hope to minimize cases of human trafficking that occur in Indonesia.
Analisis Media Representasi Citra Diri (Studi Kasus Lesti dan Billar dalam Membangun Citra Diri Sebagai Keluarga Harmonis) Widya Ayu Nirmala Sari; Sugeng Harianto
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 2 (2022): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i2.80526

Abstract

Di era modernisasi seperti saat ini, keberadaan teknologi begitu marak di kehidupan masyarakat. Teknologi juga menjadikan masyarakat mengenal adanya media sosial. Dalam sebuah media sosial seringkali menunjukkan adanya perbedaan antara panggung depan dengan panggung belakang. Hal tersebut sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Lesti dan Billar di media sosial mereka yang justru sangat berbeda dengan apa yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Keluarga yang seharusnya harmonis dan bahagia tersebut justru diberitakan oleh media bahwa Billar melakukan tindak kekerasan terhadap Lesti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara Lesti dan Billar dalam mencitrakan diri mereka sebagai keluarga harmonis dalam perspektif teori dramaturgi. Adapun kebaruan dalam penelitian ini terdapat pada teknik analisis data yang menggunakan teknik analisis semiotika dari Roland Barthes. Teknik tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana cara Lesti dan Billar dalam mencitrakan diri mereka sebagai keluarga harmonis. Dengan penggunaan teknik analisis tersebut, maka metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan sumber data berupa konten YouTube Lesti dan Billar, jurnal-jurnal ilmiah, buku, internet, serta sumber-sumber lain yang relevan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa cara Lesti dan Billar mencitrakan dirinya sebagai keluarga yang harmonis di media sosial YouTube yaitu dengan menunjukkan kepedulian terhadap satu sama lain di depan media, bersikap romantis terhadap istrinya dengan sering memberi kejutan, menunjukkan kekompakan antara keduanya, dan perhatian terhadap satu sama lain.
Generasi Z dalam Komunitas Keagamaan: Potensi Intoleransi Beragama melalui Budaya Eksklusif dalam Memahami Agama Qolbi Mujahidillah Adzimat Sukmayadi; Sardin Sardin; Nindita Fajria Utami
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 10, No 1 (2023): June
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v10i1.81066

Abstract

Intoleransi merupakan salah satu bentuk konflik dan diskriminasi umat beragama yang hingga kini termanifestasi dalam bentuk-bentuk pelarangan, penyerangan, sampai pemaksaan terhadap umat agama minoritas. Faktor yang memberikan pengaruh terhadap intoleransi adalah eksklusivisme beragama, khususnya pada generasi Z yang berpotensi terpapar pemahaman keagamaan yang ekstrem, terlebih dalam komunitas keagamaan yang dianggap dapat mengembangkan budaya eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara eksklusivisme beragama dengan intoleransi beragama. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui model analisis regresi linear sederhana. Teknik random sampling digunakan dengan menarik 100 sampel dari keseluruhan populasi melalui rumus Lemeshow dengan menggunakan teknik pengumpulan data Google Form. Instrumen penelitian telah teruji dengan uji validitas pearson product moment, uji reliabilitas cronbach alpha, uji normalitas kolmogorov-smirnov, dan uji linearitas deviation from linearity. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya terdapat pengaruh eksklusivisme beragama terhadap intoleransi beragama dengan persentase koefisien korelasi sebesar 36%, koefisien determinasi sebesar 13%, serta thitung   = 3,835 > ttabel =1,984.
Modal Sosial dalam Graduasi Sejahtera Mandiri Program Keluarga Harapan di Provinsi Bali Ni Luh Putu Manasaputri Indrasawarni; Gede Sri Darma
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 10, No 1 (2023): June
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v10i1.81752

Abstract

Graduasi sejahtera mandiri merupakan fenomena keluarnya Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari kepesertaan Program Keluarga Harapan (PKH) secara sukarela baik atas inisiatif pribadi maupun dorongan dari pendamping. Menariknya, di saat terjadi kenaikan angka kemiskinan dan mayoritas KPM ingin tetap mempertahankan status kepesertaan PKH, masih terdapat KPM yang mampu mencapai graduasi sejahtera mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor pendorong KPM dalam mencapai graduasi sejahtera mandiri ditinjau dari aspek modal sosial, serta menggali kendala-kendala dalam pencapaiannya, sehingga dapat dirumuskan strategi kebijakan untuk meningkatkan jumlah graduasi sejahtera mandiri PKH. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Desa Candikuning dan Sumerta Kaja dengan metode kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini antara lain Kepala Dinas Sosial P3A Provinsi Bali, Administrator Pangkalan Data PKH, Kepala Kewilayahan, Pendamping, dan KPM PKH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berkontribusi dalam mewujudkan graduasi sejahtera mandiri PKH. Namun masih ditemukan kendala-kendala baik dari internal KPM maupun kendala eksternal seperti belum stabilnya perekonomian pasca pandemi, serta belum optimalnya program-program pemberdayaan. Berdasarkan hal tersebut, maka disusun strategi kebijakan menggunakan analisis SWOT yang menghasilkan alternatif strategi antara lain: penguatan pendamping PKH, melaksanakan program pemberdayaan yang lebih sistematis dan bekelanjutan, sinergi dengan stakeholders terkait untuk melaksanakan pelatihan kewirausahaan, mempermudah akses permodalan, serta melanjutkan program komplementer untuk mendukung stabilitas ekonomi KPM pasca pandemi.
Analisis Wacana Kritis Tentang Pekerjaan Petani Muda di Media Sosial Ivanda Normalita; Sugeng Harianto
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 10, No 1 (2023): June
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v10i1.81843

Abstract

Fenomena terkait krisis regenerasi petani muda menjadi masalah di Indonesia. Hasil statistik menunjukkan petani didominasi oleh golongan tua berusia 45-55 tahun dengan 28.22%. Adapun faktor penyebab yaitu, stigma masyarakat, keluarga kurang mendukung, dan lainnya. Namun demikian, ternyata masih ada pemuda yang masih bertahan menjadi petani dan memiliki kehidupan yang layak. Terlihat dari empat media sosial meliputi: Youtube akun Capcapung, Facebook akun Petani Muda Indonesia Sukses (PMIS), Instagram akun @akupetani.id, serta tiktok akun @petanimilenial_indonesia. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis wacana kritis tentang pekerjaan petani muda di media sosial melalui aspek teks, konteks sosial, kognisi sosial dari Van Dijk. Metode penelitian ini kualitatif dengan pisau analisis wacana kritis dari Van Dijk. Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan dokumentasi dan observasi terbagi atas video dan teks. Sedangkan sekunder berupa buku, jurnal, dan lainnya. Analisis data mengacu Van Dijk meliputi, teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Guna mempertajam penelitian ini menggunakan perspektif James S. Coleman mengenai tindakan pemuda menjadi petani dengan memanfaatkan media sosial sebagai tujuannya. Hasil menunjukkan media sosial mampu meningkatkan kondisi petani muda dalam menghadapi tantangan keterbatasan modal, alat pertanian dan lahan pertanian. Selanjutnya, hasil analisis elemen teks menunjukkan perbedaan pada setiap akun media sosial baik dari segi visual maupun isi konten. Namun, persamaan pada keempat media sosial tersebut menunjukkan mematahkan stigma pekerjaan petani bagi pemuda. Hasil bagian kognisi sosial memperlihatkan terdapat kesadaran yang dilakukan petani muda untuk mengatasi masalah krisis regenerasi petani dengan melakukan kampanye sosial. Sedangkan, hasil konteks sosial yaitu kekuasaan petani muda melalui pengetahuan dengan menggunakan akses media sosial.
Otonomi Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara: Dari Ontologi Menuju Pengembangan Metodologi Riset Sampean Sampean; Raudlatul Jannah
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 10, No 1 (2023): June
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v10i1.82278

Abstract

Artikel ini membahas tentang kajian Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara yang banyak dipengaruhi oleh pengetahuan Barat, meskipun karakteristik desa di Asia Tenggara berbeda dengan desa di Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ontologi Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara dengan menggunakan metode studi literatur pada tiga artikel yang diterbitkan pada tahun 1959 dan satu artikel tahun 2022. Penggunaan teori Pierre Bourdieu membantu peneliti menjelaskan praktik dominasi Barat terhadap kajian Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara. Penelitian ini menemukan bahwa sejarah perkembangan Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara tidak bisa dilepaskan dari orientalisme, kolonialisme, dan fenomena Perang Dunia II. Ilmuwan asing memainkan peran penting dalam memperkenalkan dominasi pengetahuan "ilmiah" Barat. Ontologi Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara diwarnai oleh tipe positivisme logis, tipe naturalistik, dan tipe materialisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kajian Sosiologi Pedesaan di Asia Tenggara pada tahun 1959 dirancang untuk melayani kolonialisme dan kepentingan Barat, dan perlu adanya otonomi kajian Sosiologi Pedesaan yang memberikan  sudut pandang baru melalui pembaruan metodologi di Indonesia. Data Desa Presisi adalah salah satu bentuk pembaharuan metodologi dalam sistem penelitian di Indonesia yang berupaya membangun otonomi Sosiologi Pedesaan.