cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 152 Documents
Domestifikasi Etnisitas: Pemekaran Wilayah dan Rutinisasi Kekerasan Antar Etnis di Maluku Utara Nurul Aini
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 1, No 1 (2012): Menerobos Kemandekan Demokrasi di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.554 KB) | DOI: 10.22146/jps.v1i1.23434

Abstract

“ Tulisan ini melakukan analisis tentang sejauh mana pemekaran wilayah memiliki dampak pada terjadinya proses rutinisasi kekerasan, khususnya kekerasan yang berbasis pada etnik atau identitas tertentu. Pemekaran wilayah, juga menjadi arena konflik baru, dimana tujuan awal dari ide desentralisasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal menjadi diabaikan. Justru pemekaran wilayah telah menyulut adanya konflik di berbagai daerah, khususnya karena etnik, identitas, agama, dan solidaritas primordial, lebih banyak digunakan sebagai pertimbangan bagi sebuah daerah yang hendak dimekarkan, dibanding dengan berdasarkan pertimbangan penguatan masyarakat sipil.”Kata Kunci: Etnisitas, rutinisasi kekerasan, konflik, pemekaran
Human Trafficking and the Challenges for Social Development in Indonesia Muhammad Ulil Absor
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 5, No 1 (2018): Dimensi Kesejahteraan Dalam Perspektif Sosiologi Kritis
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.64 KB) | DOI: 10.22146/jps.v5i1.35401

Abstract

Perdagangan manusia merupakan masalah serius di Indonesia meskipun negara telah mengesahkan dan menerbitkan Rencana Aksi Nasional dan membentuk Gugus Tugas untuk menghentikan kejahatan ini. Kajian ini mencoba untuk mengkaji hubungan antara perdagangan manusia dan pembangunan, terutama mempertanyakan mengapa beberapa daerah lebih rentan dibandingkan dengan daerah lain. Kajian ini juga membahas jenis eksploitasi di daerah tujuan serta bagaimana strategi dalam mengurangi dan menghentikan praktik perdagangan manusia. Terungkap bahwa perdagangan manusia memiliki keterkaitan dengan isu pembangunan di mana ketimpangan pembangunan, pengaruh budaya dan eksposur terhadap globalisasi meningkatkan kerentanan individu terhadap perdagangan manusia di daerah yang lebih maju. Karena perdagangan manusia melibatkan jaringan kriminal internasional, partisipasi dari semua pemangku kepentingan melalui pendekatan yang sistematis dan penguatan jaringan adalah suatu keharusan dalam mencegah dan memberantas hal ini terjadi.
Transformasi Kultural Menuju Demokrasi Substansial Sugeng Bayu Wahyono
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 1, No 1 (2012): Menerobos Kemandekan Demokrasi di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.455 KB) | DOI: 10.22146/jps.v1i1.23421

Abstract

“ Demokrasi diyakini telah membawa perubahan politik dan kultural. Namun, sebenarnya masyarakat telah mempunyai tradisi yang sesuai dengan prinsip demokrasi tersebut. Nilai-nilai demokrasi seperti menghargai pendapat orang lain, toleransi, dan keterbukaan, terus hidup laten di kalangan akar rumput. Kondisi tersebut menunjukkan potensi akar rumput sebagai agen pembaruan menuju masyarakat transformatif secara kultural ke arah demokratisasi sepertinya jauh lebih besar, dibandingkan dengan kelas menengah. Ini artinya, budaya politik kalangan akar rumput yang bertingkah laku politik yang bersih justru perlu ditiru oleh kalangan elite politik. Tingkah laku politik yang bersih akan menghasilkan budaya politik yang menjunjung tinggi nilai kejujuran sebagaimana yang ditunjukkan oleh kalangan akar rumput pada level komunitas RT-RW justru perlu ditiru oleh elite politik pada level politik nasional.”Kata Kunci: transformasi, agen, akar rumput
Melawan Kredo Aborsi: “Gerakan Abortion Is Not A Crime Sebagai Sebuah Wacana Tandingan” Ade Yulfianto; Fullah Jumaynah
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 2 (2016): Tantangan Gerakan Sosial
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.908 KB) | DOI: 10.22146/jps.v3i2.23536

Abstract

Aborsi di Indonesia masih menjadi perdebatan panjang dan selama itu pula perempuan kerap kali menjadi pihak yang ada dalam posisi rentan nan riskan. Pasalnya, banyak aborsi yang berlangsung secara tidak aman. WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan per tahun, 750.000 hingga 1,5 juta dilakukan di Indonesia, 2.500 orang di antaranya berakhir dengan kematian (Wijono, 2000). Aborsi juga kerap dikaitkan dengan persoalan moral, budaya, sosial, hingga agama. Perempuan yang melakukan aborsi dapat serta merta divonis tidak bermoral dan menjadi bagian dari pelaku seks bebas. Padahal kehamilan yang tidak diinginkan tentu disebabkan oleh banyak faktor. Dewasa ini, barulah mulai tumbuh gerakan-gerakan yang membawa pada harapan yang lebih cerah mengenai isu aborsi. Gerakan #AbortionIsNotaCrime merupakan gerakan sosial dan aktivisme digital global yang menentang kriminalisasi perempuan terhadap aborsi. LSM Samara merupakan salah satu lembaga swadaya yang membawa gerakan ini ke Indonesia. Mereka hadir guna mengurai simpul kusut akan penyelesaian isu aborsi yang sarat akan ketidakadilan sosial. Perempuan sebagai sebuah entitas sosial, tak pernah luput dari dominasi kuasa pengetahuan, baik yang sifatnya patriarkis hingga yang sifatnya politis. Penelitian ini bermaksud melihat dan memahami bagaimana Gerakan #AbortionIsNotaCrime ini berlangsung dan praktik-praktik aktivisme seperti apa yang dilakukan oleh LSM Samara dalam melawan wacana dominan tentang aborsi di Indonesia.
Kerohanian Islam (Rohis) dalam Jurang Globalisasi Aktivisme Rohis SMAN di Eks Se-Karesidenan Surakarta (Solo Raya) dalam Menjawab Tantangan Zaman Fachri Aidulsyah; Nurrahmad Wibisono; Yustia Atsanatrilova Adi
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 2, No 2 (2013): Tantangan Global Dalam Perubahan Lokal
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.523 KB) | DOI: 10.22146/jps.v2i2.30014

Abstract

Perbincangan antara Islamization dan globalization masih menjadi topik yang hangat untuk didiskusikan lebih jauh karena diantara keduanya terjadi pertentangan sistem peradaban yang saling bertolak belakang. Namun, sesusai dengan perkembangan zaman telah muncul berbagai macam pendekatan yang bervariasi dari kalangan umat muslim dalam menyikapi globalisasi itu sendiri. Tulisan ini mencoba meneropong tentang berbagai variasi yang terjadi terhadap agenda globalisasi melalui aktivisme Rohis di SMA Negeri di Eks Se-Karesidenan Surakarta dalam menjawab tantangan globalisasi itu sendiri. Hasil temuan menunjukkan para aktivis Rohis di beberapa sekolah justru mendukung globalisasi selama itu membawa kebaikan (ideology modernis), namun ada pula aktivis rohis yang menentang globalisasi yaitu pada mereka yang menganut ideology revivalis, serta ada pula aktivis rohis yang menganut paham transformatif yang bersifat humanis, tidak menentang globalisasi dan menerapkan ajaran islam sercara kaffah.
Budaya Gotong Royong Masyarakat Dalam Perubahan Sosial Saat Ini Tadjudin Noer Effendi
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 2, No 1 (2013): Kontestasi Mendidik Bangsa di Era Reformasi
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.884 KB) | DOI: 10.22146/jps.v2i1.23403

Abstract

Artikel ini menguraikan tiga isu pokok: gotong royong sebagai perasan dari Panca Sila dan penerapannya dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari, gotong royong mengandung beberapa unsur-unsur modal sosial serta kondisi masyarakat kontemporer yang berada dalam situasi kekacauan sosial karena lemahnya penerapan nilai-nilai gotong royong dalam interaksi sosial. Di duga perubahan sosial yang cepat serta kuatnya tekanan dari luar, terutama ideologi liberal yang berdasarkan individualis memenjadi penyebab kekacauan sosial. Agenda ke depan untuk menguatkan kembali budaya gotong royong juga dibahas dalam tulisan ini.Kata Kunci: Gotong Royong, Panca Sila, Modal Sosial, Perubahan Sosial
Kelompok Rentan dalam Pembangunan Kawasan Kota Bandara di Kulon Progo: Studi Kasus New Yogyakarta International Aiport (NYIA) Wahyu Kustiningsih
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 1 (2017): Menerjemahkan-ulang Konsep Ruang dan Urbanisme
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.889 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i1.23632

Abstract

Pembangunan bandara merupakan infrastruktur transportasi yang dinilai strategis dalam upaya peningkatan perekonomian lokal. Salah satunya pembangunan bandara baru di Yogyakarta berlokasi di Kulon Progo, yaitu New Yogyakarta International Airport (NYIA). Pembangunan bandara baru yang jauh melebihi target waktu yang ditentukan mengindikasikan adanya problematika sosial khususnya resistensi warga dan isu keberlanjutan aktivitas ekonomi dari warga setempat akibat aglomerasi ekonomi dan privatisasi di area yang terdampak pembangunan kawasan kota bandara. Kritik terhadap pembangunan bandara ini muncul karena adanya privatisasi oleh investor asing dalam pembangunan kawasan bandara atau airport city dianggap mengancam keberlangsungan aktivitas ekonomi kelompok rentan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme yang dapat mengakomodasi kepentingan kelompok rentan sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan di kawasan bandara. Kajian ini menghasilkan tiga rekomendasi, yaitu: keperluan adanya grand design pembangunan bandara yang mempertimbangkan keberlanjutan kelompok rentan, inisiasi program community development guna memberdayakan kelompok rentan, dan perlunya perumusan kebijakan afirmatif bagi kelompok rentan dengan mendasarkan pada asas keadilan sosial. 
Aksi Bela Islam dan Ruang Publik Muslim: Dari Representasi Daring ke Komunitas Luring Arie Setyaningrum Pamungkas; Gita Octaviani
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1937.07 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i2.28581

Abstract

Narasi bergerak mengenai Islam dimungkinkan karena media moderen mempengaruhi landskap budaya dan politik kehidupan kaum Muslim sehari-harinya. Kasus ‘Aksi Bela Islam’ pada tahun 2016 menuntut Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama, atau yang biasa dikenal dengan nama Ahok, dipenjara karena dianggap telah menista Islam. Kasus ini menunjukkan bahwa para penyelenggara aksi telah berhasil memobilisasi dukungan massa melalui kampanye di media sosial. Kajian ini melacak bagaimana strategi melalui mediatisasi dakwah (propaganda yang mengatasnamakan Islam) dilakukan dalam Aksi Bela Islam dengan mengeksplorasi representasi online ‘daring’ (dalam jaringan) di media sosial sepeti Facebook, Instagram, dan aplikasi pesan personal WhatsApp, sehingga menunjukkan suatu lokasi pada ruang yang disebut sebagai ‘Publik Muslim’. Kemampuan media sosial untuk memungkinkan komunikasi interaktif secara khusus menempatkan ‘narasi bergerak’ tentang keshalehan kaum Muslim urban di Indonesia. Studi etnografi juga dilakukan untuk melihat bagaimana komunitas offline – luring (luar jaringan) yang memiliki akses internet terbatas mendukung gagasan ‘membela Islam’ di Indonesia. Dengan mengkaji baik representasi ‘daring’ maupun observasi komunitas ‘luring’, kajian ini ditujukan untuk menganalisis bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk mengkonstruksi strategi dakwah dan politik moralitas publik yang mengutamakan kode-kode dan etika keshalehan dalam Islam di Indonesia saat ini.
PENGARUH INTERAKSI DALAM PEER GROUP TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING SISWA Arsa Ilmi Budiarti
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 1 (2016): Menggagas Kajian Digital Humanities di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.52 KB) | DOI: 10.22146/jps.v3i1.23522

Abstract

Seiring dengan teknologi, informasi dan komunikasi yang semakin modern, muncul fenomena baru yaitu cyberbullying sebagai dampak negatif atas perkembangan tersebut. Seringkali sifat tanpa-batas dan anonimitas dalam dunia maya seakan menjadi faktor yang tidak bisa terhindarkan dalam mendukung cyberbullying. Dalam artikel ini, penulis melihat faktor lain dengan asumsi bahwa semakin positif interaksi dalam peer group dan semakin rendah pengalaman bullying serta pengetahuan siswa tentang peraturan sekolah terkait kekerasan maka semakin rendah perilaku cyberbullying. Unit analisis penelitian ini adalah individu yaitu siswa Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Data penelitian diperoleh dari hasil survei kuisioner terhadap 336 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara ketiga variabel yang digunakan, interaksi dalam peer group menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku cyberbullying siswa. Hal ini menunjukkan bahwa teman sebaya melalui interaksinya memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam mendukung perilaku cyberbullying siswa.
Car Free Day: Transformasi Ruang dan Globalisasi Urbanisme Kontemporer di Bandung Frans Ari Prasetyo
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 1 (2017): Menerjemahkan-ulang Konsep Ruang dan Urbanisme
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.849 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i1.23623

Abstract

Car Free Day telah menjadi arena kontestasi produksi-konsumsi sekaligus transformasi ruang sosial-kultural kontemporer baru dalam pembentukan agensi komposit (publik) perkotaan di kota Bandung, Jawa Barat. Agensi inilah yang ikut membentuk identitas baru dalam citra landmark kota. Wujud kota mengkonsentrasikan keberadaan infrastruktur dengan merasionalisasikan waktu dan aktivitas warganya. Melalui cara mengatur aktivitas (ke)warga(an) kota ditujukan untuk menjadi pusat aktivitas sosial serta (a)kulturasi dalam pembentukan citra. Lebih lanjut, pengaturan semacam itu menujukkan adanya eksistensi kota, peranan kota sebagai sumber pengetahuan, distribusi informasi dan persebaran tata-nilai ( yang secara moral dilakukan oleh penyelenggara otoritas kota) dengan upaya penciptaan ruang publik. Artikel ini berupaya memahami rangkaian pengetahuan spatialsosial-kultural. Pengetahuan itu ter(di)susun melalui suatu periode waktudalam proses mengalami dan membentuk infrastruktur yang diproduksi Car Free Day sebagai sebuah taktik dan strategi urbanisme di Bandung. Memenuhi tantangan ini termasuk mempelajari infrastruktur, melihat paradoks fisik dan sosio-kulturalnya sebagai narasi lansekap antara transparan dan buram dalam sebuah formasi ruang (ketiga). Kajian ini juga bertujuan mencari konstruksi dan pemeliharaan melalui praktek sehari-hari dalam konteks (visual) etnografi tertentu.

Page 6 of 16 | Total Record : 152