cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 152 Documents
Konstruksi Media Terhadap Perempuan Terlibat Kasus Korupsi dalam Tayangan Televisi Hadiati Erry; Irwan Abdullah; Wening Udasmoro
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 2, No 2 (2013): Tantangan Global Dalam Perubahan Lokal
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.777 KB) | DOI: 10.22146/jps.v2i2.30001

Abstract

Artikel ini memfokuskan pada konstruksi media-televisi terhadap perempuan yang terlibat kasus tindak pidana korupsi. Dalam sepuluh tahun terakhir fenomena perempuan masuk dunia politik pemerintahan semakin meningkat, tetapi sekaligus juga diikuti oleh semakin banyaknya perempuan yang terjerat perkara korupsi. Pertanyaan pokok yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana media massa mengkonstruksi perempuan terlibat korupsi melalui produksi dan reproduksi wacana yang dilakukan lewat ekspose pemberitaannya. Studi ini menggunakan metode analisis wacana kritis dari Norman Faircloug. Konstruksi media terhadap perempuan terlibat korupsi lebih banyak dibelokan ke isu irotis, domistik, dan suka glamour, bukan pada substansi masalah korupsi itu sendiri. Proses domestikasi oleh media ini mengindikasikan bahwa di ranah politik masih merupakan ranah laki-laki. Konteks sosial budaya akan fenomena tersebut merujuk bahwa dalam masyarakat ternyata masih patriarkis, sehingga jika ada perempuan aktivis politik mengalami kasus politik, media pun kemudian mengkonstruksi perempuan tidak beranjak dari sektor domistik. Produksi wacana seperti itu terus-menerus dilakukan televisi, terlebih lagi ketika mengambil momentum perempuan yang terkena kasus tindak pidana korupsi. Implikasi lebih lanjut, televisi semakin menegaskan dan meneguhkan bahwa ranah politik bukanlah ranah perempuan, melainan laki-laki.
Wacana Pancasila Dalam Era Reformasi (Studi Kebudayaan Terhadap Pasang Surut Wacana Pancasila Dalam Kontestasi Kehidupan Sosial Dan Politik) Arief Rachman; Irwan Abdullah; Djoko Surjo
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 1, No 2 (2012): Dinamika Sosial dalam Masyarakat Indonesia Kontemporer
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.025 KB) | DOI: 10.22146/jps.v1i2.23438

Abstract

“ Pancasila sebagai dasar negara telah mendapat tempat di hati para pemimpin bangsa ini. Sebaliknya, pancasila belum mendapat tempat dalam kehidupan bersosial dan berpolitik bangsa ini. Konflik sosial, politik masih terjadi dibawah kepakan sayap Pancasila, masalah muncul ketika Pancasila dipahami sebagai instrumen negara, tetapi belum menjadi paham negara. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai ritualitas Pancasila yang belum menyentuh keyakinan berbangsa dan bernegara masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan upaya menggeser pemahaman Pancasila dari bentuk instrumental dengan sekadar menghafal sila Pancasila, menuju bentuk kontestasi dengan terlibat dalam “arena” Pancasila.’Kata Kunci : Pancasila, Ideologi, Kontestasi, Cultural Studies
Politik Keshalehan Personal dalam Pemilihan Presiden 2014 dalam Media Sosial Twitter Nurul Hasfi
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1540.316 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i2.28580

Abstract

Ekspresi beragama seringkali problematis, terutama saat berhadapan dengan dilema antara agama yang seringkali berseberangan dengan nilai demokrasi. Di area abu-abu seperti ini agama rentan disalahgunakan dalam kontestasi politik. Studi ini bertujuan mengeksplorasi peran agama dalam dalam proses komunikasi politik mengenai konstruksi kepemimpinan politik (political leadership) capres 2014 di Twitter. Dengan menggunakan analisis wacana kritis studi ini menunjukkan adanya praktik sosial berupa politisasi agama yang bekerja melalui mekanisme politik keshalehan personal (politics of personal piety). Hal ini tersebut dilandasi temuan penggunaan nilai agama mayoritas (Islam) sebagai alat legitimasi kepemimpinan politik ideal dan sebaliknya penggunaan nilai-nilai agama/keyakinan minoritas untuk mengkonstruksi kepemimpinan politik tidak ideal. Hal ini menyiratkan bagaimana hegemoni agama dimanfaatkan secara sistematis untuk meraih kekusaaan politik. Dengan demikian peran agama dalam kontestasi politik di Twitter cenderung bersifat degradatif terhadap proses demokrasi. Hal ini disebabkan karena proses komunikasi politik gagal mendiskusikan nilai agama dengan prosedur dialog netral.
DOKTER GOOGLE: INTERAKSI DOKTER-PASIEN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI Arief Priyo Nugroho
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 1 (2016): Menggagas Kajian Digital Humanities di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.491 KB) | DOI: 10.22146/jps.v3i1.23523

Abstract

Kehadiran teknologi informasi membuat perubahan yang cukup berpengaruh dalam interaksi antara dokter-pasien. Teknologi informasi tidak hanya sekedar menyediakan keterbukaan akses informasi atas pengetahuan mengenai dunia kesehatan akan tetapi juga hadir menjadi komplementer dari pelayanan kesehatan kovensional. Perubahan tersebut berimplikasi pada relasi konvensional dalam pelayanan kesehatan yang telah ada. Pertama, adanya pemberdayaan semu pasien atas pemberian sumber daya informasi mengenai kesehatan menjadikan dokter bukan lagi satu-satunya pemilik informasi tentang kesehatan. Kedua, mulainya pergeseran pola mencari sehat masyarakat dari tipe konvensional beralih menggunakan media-media yang disediakan oleh teknologi informasi. Dua perubahan mendasar tersebut menghasilkan pola mediatisasi relasi dokter-pasien yang perlahan melebarkan jarak sosial antara pasien terhadap dokter dalam bidang pelayanan kesehatan. Alih-alih, terbukanya akses informasi dan pengetahuan tentang kesehatan mendorong pada otonomi pasien yang selama ini bergantung pada dokter, pasien beralih tersub-ordinasi oleh mediatisasi dari produk-produk teknologi informasi.
Gerakan Anti Penuaan: Politik Identitas Usia Lanjut dalam Konstruksi Industri Medis Mahesa Mandiraatmadja; Heru Nugroho; Irwan Abdullah
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 1, No 1 (2012): Menerobos Kemandekan Demokrasi di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.821 KB) | DOI: 10.22146/jps.v1i1.23429

Abstract

“Gerakan Anti Penuaan adalah bagian dari usaha menikmati kehidupan, sehingga hari tua tetap harus dilihat secara sekuleristik. Hidup di masa tua harus dinikmati dengan konstruksi baru, yaitu tetap sehat, tidak sakit-sakitan, dan tetap produktif serta sehat sampai ajal menjemput. Kesehatan tidak harus dipecahkan dengan sebuah pendekatan medis, melainkan perlu dilihat dari berbagai perspektif. Pertama; konstruksi identitas komunitas Lansia mengikuti perkembangan lingkungan sosial yang membentuk identitasnya, kedua; komunitas Lansia dikonstruksikan identitasnya oleh industri medis yang bergerak di bidang anti penuaan. Ketiga; penyebaran wacana sehat dan perlunya gerakan anti penuaan yang berfokus pada relasi kuasa industri medis itu sendiri.”Kata Kunci: Gerakan Anti Penuaan, Relasi Kuasa, Komunitas Lansia.
Gerakan Sosial Baru Indonesia: Reformasi 1998 dan Proses Demokratisasi Indonesia Yongky Gigih Prasisko
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 2 (2016): Tantangan Gerakan Sosial
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.75 KB) | DOI: 10.22146/jps.v3i2.23532

Abstract

Perkembangan masyarakat kontemporer di Indonesia yang sejalan dengan perkembangan teknologi global ternyata juga ikut berdampak pada munculnya konflik sosial secara khusus. Konflik semacam itu melibatkan kelompok kelas menengah yang memiliki nilai-nilai demokrasi. Di sisi lain, konflik itu juga itu ikut membentuk dinamika di dalam pergerakan sosial baru. Gerakan sosial baru di Indonesia adalah anak kandung yang lahir dari sistem demokratis dimana partisipasi politik secara langsung dilakukan sehingga dapat mempengaruhi kebijakan publik, khususnya yang dapat menjawab tuntutan atas kesetaraan dan perlindungan bagi hak-hak minoritas. Reformasi 1998 memang menjadi landasan bagi arah pembentukan tradisi demokratis di Indonesia, meski demikian, membutuhkan waktu hampir enam tahun lamanya setelah 1998 dimana demokrasi secara langsung diterapkan melalui sistem elektoral yakni pada saat PILPRES di tahun 2004. Dengan kata lain, transisis Indonesia menuju suatu bangsa yang demokratis masih harus terus mengembangkan beragam bentuk partisipasi politik.
Sampyuh: Genealogi Konflik Industri Ekstraktif di Lanskap Masyarakat Agraris A.B Widyanta
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 2, No 2 (2013): Tantangan Global Dalam Perubahan Lokal
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.034 KB) | DOI: 10.22146/jps.v2i2.30018

Abstract

Berlatar gaduh ekonomi politik makro nasional, seputar renegosiasi kontrak tambang, tulisan ini hendak mengusung wacana tanding dari sudut bidik diametral, yaitu di tataran mikro kehidupan sosio-kultural warga seputar kawasan tambang. Upaya ini penting untuk memberikan kontra hegemoni atas diskursus politik makro yang cenderung bias ekonomi dan abai terhadap kompleksitas kehidupan warga, kekuatan politik riil, dengan segenap kontestasi kuasa multi-aktor di tingkat lokal. Berbasis pada systematisizing of experiences dari riset di kawasan tambang, tulisan terpilah ke dalam empat bagian: pertama, paparan akan mencuplik sekilas gaduh renegosiasi kontrak tambang termutakhir sebagai latar penjelas existing situation regulasi pertambangan di Indonesia. Kedua, tulisan akan membabar lini masa (timeline) berikut kronologi ringkas hadirnya Gold Mining Company (GMC) di “Bumi Timur”. Ketiga, tulisan akan mendedahkan pembalikan gaya hidup dan laten konflik yang senantiasa membayangi kehidupan warga seputar kawasan tambang. Keempat, tulisan akan menyajikan sejumlah refleksi kritis dan peta jalan pembangunan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan ke depan.
Kurikulum Dan Pendidikan Di Indonesia Proses Mencari Arah Pendidikan Yang Ideal Di Indonesia atau Hegemoni Kepentingan Penguasa Semata? Dedi Ilham Perdana
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 2, No 1 (2013): Kontestasi Mendidik Bangsa di Era Reformasi
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.038 KB) | DOI: 10.22146/jps.v2i1.23412

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menguak bagaimana problematika perubahan kurikulum dan pendidikan yang terjadi di Indonesia dari masa ke masa serta pengaruhnya pada masyarakat sekaligus memetakan berbagai isu terkait kurikulum baru 2013 serta dampaknya bagi dunia pendidikan saat ini. Hegemoni yang dilakukan pemerintah terkait perubahan kurikulum 2013 akan menjadi isu sentral dalam artikel ini sekaligus menganalisanya melalui pemikiran Antonio Gramsci.
Alfred Schutz : Rekonstruksi Teori Tindakan Max Weber Muhammad Supraja
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 1, No 2 (2012): Dinamika Sosial dalam Masyarakat Indonesia Kontemporer
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.581 KB) | DOI: 10.22146/jps.v1i2.23447

Abstract

“ Artikel ini mencoba menjelaskan mengenai rekonstruksi teori tindakan Weber yang dilakukan oleh Alfred Schutz. Menurut Schutz, teori tindakan Weber cenderung tidak jelas, kabur dan inkonsisten. Bagi Weber, tindakan adalah perilaku yang bermakna, tindakan sosial adalah tindakan, yakni perilaku bermakna yang diarahkan pada orang lain. Sedangkan Schutz merekonstruksi dengan mendefinisikan tindakan sebagai durasi yang berlangsung di dalam perbuatan. Dengan kata lain, tindakan merupakan durasi transenden dalam perbuatan. Suatu tindakan secara independen dapat dianggap sebagai subjek yang melakukan tindakan, namun demikian tindakan merupakan serangkaian pengalaman yang terbentuk melalui kesadaran nyata dan kesadaran individual aktor. Dengan kata lain, tindakan menunjukkan adanya ikatan subjek. “Kata Kunci : Tindakan, Rekonstruksi, Makna
Mengembangkan Model Literasi Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial Vibriza Juliswara
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.924 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i2.28586

Abstract

Ujaran kebencian (hate speech) mengiringi kebebasan berpendapat di media sosial. Sejak pilpres 2014 lalu, istilah ‘hater’ pun dikenal luas, yang menandai orang-orang dengan kecenderungan membuat pesan ujaran kebencian pada orang atau kelompok tertentu.  Kebhinnekaan sebagai pengikat sosial diuji karena kecenderungan praktik ujaran kebencian yang dipromosikan melalui media sosial. Kondisi itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial seperti persebaran berita bohong atau informasi palsu (hoax) yang dampaknya menimbulkan permusuhan dan tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang mengutamakan toleransi. Dalam rangka merespon berkembangnya ujaran kebencian, kajian ini mencoba untuk mengembangkan suatu model literasi media yang berkebhinnekaan dalam menganalisis informasi palsu (hoax) dalam berita di media sosial. Melalui pengembangan model kajian literasi media sebagai pendekatan yang memberdayakan pengguna media sosial (netizen) maka diasumsikan para netizen akan lebih mampu mengkonstruksi muatan yang positif dalam memanfaatkan media sosial.

Page 5 of 16 | Total Record : 152