cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 507 Documents
Analisis Proses Pengadaan, Penerimaan dan Penyimpanan dengan Pendekatan Lean Hospital di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada Luthfi Himawan; Marchaban Hadimartono; Satibi Satibi
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.58658

Abstract

Instalasi Farmasi jika dikelola dengan baik memberikan pendapatan terbesar terhadap rumah sakit, dan sebaliknya akan menjadi sumber pengeluaran yang besar bagi rumah sakit karena instalasi farmasi menggunakan anggaran terbesar. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengambilan data diperoleh melalui wawancara, dokumen pengelolaan obat, standar prosedur operasional dan perhitungan cycle time melalui observasi pada proses pengelolaan obat. Identifikasi waste menggunakan Big Picture Mapping dan Fishbone Diagram digunakan untuk menganalisis sebab dan akibat suatu permasalahan sehingga ditemukan akar permasalahan dari waste kritis yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan persentase value added pada proses pengadaan 48,27%, proses penerimaan 20,5% dan proses penyimpanan 12,83%. Persentase necessarry but non value added pada proses pengadaan yaitu 51,72%, proses penerimaan 59% dan proses penyimpanan 5,3%. sedangkan non value added pada proses pengadaan yaitu 0,005%, proses penerimaan 20,5% dan proses penyimpanan 81,87%. Proses pengadaan, penerimaan dan penyimpanan dapat diidentifikasi dengan lean thinking, waste yang banyak terjadi diantaranya waste of overproduction, waste of waiting, waste of defect, waste of motion, waste of transportation., akar masalah sebagian besar terjadi pada pihak distributor/kurir, jika dibiarkan akan berdampak pada kekosongan obat pada pasien. Rumah sakit masih dapat melakukan perbaikan misalnya pada Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.
Analisis GAP Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Pasien di Instalasi Farmasi RSU PKU Muhammadiyah Delanggu Menggunakan Metode SERVQUAL Qory Addin; Marchaban Marchaban; Sumarni Sumarni
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.58692

Abstract

Penerapan kebijakan rujukan berjenjang oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dikhawatirkan akan berimbas pada lamanya waktu tunggu pelayanan yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang dapat memuaskan pasien ditinjau dari dimensi SERVQUAL yaitu tangible, empathy, assurance, responsiveness, dan reliability. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gap dan peringkat gap yang terbentuk dari kualitas pelayanan IFRS dalam memenuhi kepuasan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional, pengumpulan data menggunakan metode non probability sampling berdasarkan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data kualitatif hasil wawancara dengan karyawan Instalasi Farmasi rumah sakit, dan data kuantitatif dari hasil kuesioner kepuasan pasien rawat jalan menggunakan skala likert dengan jumlah responden sebanyak 385 pasien. Analisis data menggunakan analisis gap lima untuk mendapatkan nilai gap, dan analisis kepentingan kinerja untuk menentukan posisi kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat gap pada seluruh dimensi pelayanan yang diberikan oleh IFRS dengan urutan gap terbesar pada dimensi Responsiveness (-0,57), diikuti dimensi Empathy (-0,39), dimensi Reliability (-0,29), dimensi Assurance (-0,26), dan dimensi Tangible (-0,22). Analisis matriks kinerja-kepentingan menunjukkan dimensi Tangible dan Assurance masuk pada kuadran B yang artinya telah berhasil dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi PKU Muhammadiyah Delanggu sehingga wajib dipertahankan karena dianggap sangat penting dan memuaskan pasien, sedangkan dimensi Reliability, Responsiveness, dan Empathy masuk pada kuadran C, yang artinya dinilai kurang penting pengaruhnya bagi pasien dan pelaksanaannya oleh Instalasi Farmasi PKU Muhammadiyah Delanggu. Hal ini berarti tidak ada dimensi kualitas pelayanan yang harus dijadikan prioritas utama dalam upaya perbaikan kualitas dalam pelayanan kepada pasien.
Penggunaan Lean Hospital Untuk Meningkatkan Efisiensi Pelayanan Resep Rawat Jalan RSU PKU Muhammadiyah Delanggu Nurlaila Winarno; Marchaban Marchaban; Endang Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.58990

Abstract

Instalasi Farmasi merupakan pintu terakhir dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Baik buruknya pelayanan di instalasi farmasi menentukan tingkat kepuasan pasien secara umum. Oleh karena itu instalasi farmasi selalu dituntut untuk meningkatkan mutu yang berfokus pada kepuasan pasien dengan cara mengeliminasi pemborosan (waste) yang terjadi dalam proses pelayanan. Pasien menunggu pelayanan untuk waktu yang lama merupakan waste. Adanya waste berupa waiting akan menurunkan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan resep di depo farmasi rawat jalan dengan menurunkan waktu tunggu (lead time) menggunakan konsep lean hospital. Penelitian dilakukan dengan desain action research dengan pendekatan Partisipatory Action research (PAR). Gambaran proses pelayanan dipetakan dengan value stream mapping, gambaran adanya waste berupa waiting diperoleh dari  Focus Group Discussion (FGD) dengan petugas farmasi, dan pengukuran lead time dilakukan langsung di tempat penelitian. Perbaikan dilakukan dengan lean tools. Hasil penelitian setelah dilakukan perbaikan dengan konsep lean hospital terjadi peningkatan efisiensi pelayanan dilihat dari penurunan lead time dari 54’35” menjadi 39’23”. Pada pengukuran kepuasan pasien, secara keseluruhan pasien belum merasa puas terhadap pelayanan depo farmasi rawat jalan dengan nilai gap terbesar pada dimensi daya tanggap (responsiveness), kemudian diikuti dimensi berwujud (tangible), keandalan (reliability), empati (empathy) dan jaminan (assurance).
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Oleh Bakteri Penghasil Esbl (Extended Spectrum Beta-Lactamase) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Ervina Damayanti; Djoko Wahyono; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.59067

Abstract

Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) merupakan enzim hasil mutasi β-lactamase yang mampu menghidrolisis penicillin, cephalosporins dan aztreonam. Patogen penghasil ESBL berhubungan dengan perburukan luaran klinik, salah satunya pada infeksi saluran kemih (ISK). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISK oleh bakteri penghasil ESBL serta mengetahui hubungan kesesuaian penggunaan antibiotik terhadap luaran klinik pasien di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui penelusuran rekam medik periode 1 Januari 2019-31 Desember 2019. Kriteria inklusi subjek usia ≥18 tahun didiagnosis ISK oleh bakteri penghasil ESBL. Subjek dengan terapi antibiotik selama <72 jam dieksklusi. Rasionalitas antibiotik dievaluasi mengikuti algoritma Gyssens. Hubungan kesesuaian antibiotik dengan luaran klinik dianalisis dengan uji Chi-Square. Terdapat 69 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemberian antibiotik rasional ditemukan pada 41 subjek (59,42%) dengan luaran klinik membaik ditemukan pada 33 subjek (80,50%). Sementara sisanya, yaitu 28 pasien (40,58%) menerima antibiotik tidak rasional dengan luaran klinik membaik ditemukan pada 20 subjek (71,40%). Jenis ketidakrasionalan yang ditemukan menurut algoritma Gyssens yaitu kategori IVA (5%), kategori IVB (1,67%), kategori IIB (5%), kategori IIA (11,67%) dan kategori IIB (12,50%). Penelitian ini tidak dapat menentukan hubungan kesesuaian terapi antibiotik pada pasien dengan ISK oleh bakteri penghasil ESBL dengan luaran klinik (p = 0,381). 
Pola Pengobatan Pasien Skizoafektif Tipe Depresif di RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang Yurida Ni&#039;ma Annisa; Zullies Ikawati, Apt.
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.59068

Abstract

Tatalaksana depresi tunggal tanpa gejala psikotik erat kaitannya dengan antidepresan, namun identifikasi tatalaksana yang tepat khususnya pada sindroma depresi sebagai satu bagian gejala yang menyertai gangguan jiwa tentunya lebih rumit. Salah satu diagnosa terbanyak untuk gangguan jiwa yang disertai sindroma depresi adalah Skizoaktif Tipe Depresif/STD (F21.5). Penelitian ini bertujuan menggambarkan pola pengobatan pasien STD yang diterapkan di RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang. Penelitian ini merupakan studi non-eksperimental dengan metode evaluasi deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data catatan rekam medis pasien dengan diagnosa STD yang menjalani terapi rawat jalan (RJ) dan atau rawat inap (RI) pada tanggal 1 Januari - 31 Desember 2018. Jumlah kasus STD dalam penelitian ini adalah 123 kasus yang terdiri dari 38 kasus RJ dan 85 kasus RI. Monoterapi dengan fluoksetin merupakan pola pengobatan antidepresan terbanyak di RJ (52,63%) dan RI (69,14%) dengan jumlah penggunaan antidepresan terbanyak adalah fluoksetin (77,14%). Penggunaan antipsikotik terbanyak adalah risperidon (32,13%) dengan terapi ajuvan yang paling umum digunakan adalah triheksifenidil (65,38%). Presentase kesesuaian terapi antidepresan adalah 100% sesuai obat pada seluruh kasus dan sebagian besar sesuai dosis dengan standar Kepmenkes dan guideline APA tahun 2010.
Evaluasi Kesesuaian Dosis dan Clinical Outcome Amikasin dan Gentamisin di Picu (Pediatric Intensive Care Unit) RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Novrilia Atika Nabila; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.59233

Abstract

Pemakaian amikasin dan  gentamisin yang memiliki kisaran terapi sempit perlu dilakukan monitoring terapi. Monitoring terapi dilakukan melalui tinjauan secara farmakokinetika dengan menghitung estimasi kadar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat estimasi kadar amikasin dan gentamisin pada pasien PICU (Pediatric Intensive Care Unit) dan mengetahui hubungannya terhadap outcome klinis pasien serta kejadian nefrotoksisitas. Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien pediatrik yang di rawat di PICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2017 – 2019. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 54 pasien. Hasil estimasi kadar diamati berdasarkan 2 parameter PK-PD yaitu kesesuaian rasio Cmax/MIC dan Cmin>MIC. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada penggunaan amikasin mencapai target rasio Cmax/MIC 17 (74%), dan Cmin > MIC yaitu 3 (13%) pasien. Pada penggunaan gentamisin mencapai target rasio Cmax/MIC 16 (46%), Cmin > MIC yaitu 7 (20%) pasien. Hasil analisis dengan uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan kedua parameter tersebut terhadap outcome klinis dengan nilai p > 0.05. Kesesuaian estimasi kadar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian nefrotoksisitas. Tanda-tanda nefrotoksisitas terdapat pada 3 pasien (6%).
Studi Docking Molekuler Senyawa Dalam Minyak Atsiri Pala (Myristica fragrans H.) Dan Senyawa Turunan Miristisin Terhadap Target Terapi Kanker Kulit Alfian Bagas Pratama; Rina Herowati; Hery Muhamad Ansory
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.59297

Abstract

Kanker kulit adalah penyakit di mana kulit kehilangan kemampuannya untuk regenerasi dan tumbuh secara normal. Penyebab umum terjadinya kanker kulit adalah intesitas paparan sinar UVB. Penelitian terdahulu telah membuktikan kandungan senyawa di dalam minyak atsiri pala (Myristica fragrans H.) khususnya miri stsin memiliki khasiat sebagai antioksidan dan efek cytotoxic. Telah dilakukan skrining target molekuler dari kandungan kimia minyak atsiri pala beserta turunan miristisin-nya terhadap target molekuler antikanker kulit antara lain Heat Shock Protein 90 (HSP90A), Prostaglandin Synthase 2 (PTGS2) dan Dihydroorotate Dehidrogenase (DHODH), dan memprediksi interaksi senyawa dari ke 61 ligan uji dengan target molekuler tersebut, kemudian dilakukan docking molekuler menggunakan perangkat lunak PyRx 0.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa dalam minyak atsiri pala yaitu Guanicin memiliki nilai ΔGbind yang baik pada  HSP90A dengan nilai -8,2 kkal/mol. Hasil docking antara protein PTGS2 dan DHODH dengan ligan baik dari senyawa dalam minyak atsiri pala maupun senyawa turunan miristisin menunjukkan bahwa hampir semua ligan dapat berinteraksi dengan kedua target dengan ligan yang nilai ΔGbind paling kecil dan memiliki model interaksi terbaik dari senyawa minyak atisi pala adalah asam dihidroguaiaretik, dengan nilai ΔGbind secara berurut-urut sebesar  -8,1 kkal/mol dan -9,3 kkal/mol.
Estimasi Nilai Years Lived with Disability (YLD) Terhadap Penyakit Kardiovaskular Akibat Rokok di Indonesia Nurul Faizah; Susi Ari Kristina
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60071

Abstract

Merokok merupakan salah satu kekhawatiran terbesar yang dihadapi dunia kesehatan karena menyebabkan hampir 6 juta orang meninggal dalam setahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak rokok terhadap penyakit kardiovaskular di Indonesia menggunakan Years Lived with Disability (YLD).Penelitian ini merupakan studi epidemiologi dengan perspektif govermental. Pemilihanjenis penyakit kardiovaskular akibat rokok diperoleh berdasarkan nilai relative risk >1 dan ketersediaan data pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Proporsi kontribusi rokok terhadap penyakit-penyakit diestimasi dengan mengaplikasikan smoking attributable fraction (SAF) yang didapatkan dengan mengalikan hasil prevalensi merokok di Indonesia dengan relative risk. Selanjutnya estimasi YLD penyakit kardiovaskular akibat rokok dihitung berdasarkan data riil jumlah pasien yang diperoleh dari database BPJS tingkat nasional.Nilai YLD tertinggi pada penyakit kardiovaskular akibat rokok dalam penelitian ini adalah hipertensi kemudian disusul oleh stroke, penyakit jantung iskemik dan penyakit jantung koroner.
The Description of Knowledge of Type 2 Diabetes Mellitus Patient Measured by Simplified Diabetes Knowledge Scale Indonesia Version (SDKS-INA) Perdani Adnin Maiisyah; Zullies Ikawati; Zainol Akbar Zainal
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60140

Abstract

Knowledge of diabetes is the important determinant to practice the self-care thus, the therapy goals of diabetes achieved. The aim of the study is to assess the knowledge of type 2 DM patients using SDKS-INA. This research is an observational study, with data collected in the community of the Yogyakarta province from January - May 2020. The assessment of knowledge of type 2 DM patients was measured by Simplified Diabetes Knowledge Scale in Bahasa Indonesia 1 for the non-insulin user (SDKS-INA1) and SDKS-INA2 for insulin user. Ninety-six of the non-insulin user and 28 insulin user type 2 DM participated in this study. The percentage of non-insulin user type 2 DM patients with a high level of knowledge was 53.13%, while in those in insulin user was 60,70%. However, high knowledge level is not the intention to discontinue giving education. The knowledge level also should be assessed routinely as well as delivering sustainable diabetes education.
Comparison Review of Two Regulatory Agencies Regulation: Therapeutic Goods Administration (TGA) and the European Medicine Agency (EMA) in Relation to Good Manufacturing Practice (GMP) Guideline Farida Aziza
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.60237

Abstract

There are some regulatory bodies in the world that impacting the pharmaceutical industry to operate and perform Good Manufacturing Practice (GMP) principles. These regulatory bodies exist to ensure that the pharmaceutical product and other human supporting products have a high standard of quality, safety, and efficacy from product registration to product distribution to the patient. This article reviews some aspects which is regulated by two of regulatory entities including Therapeutic Goods Administration (TGA) and European Medicines Agency (EMA) in relation with Good Manufacturing Practice (GMP) principles. The GMP principles which is structured by these regulatory agencies may be originally created by the agencies or influenced by other regulatory body concepts. The guidance can be a primary source or second reference for the pharmaceutical industry in impacting countries depending on the guideline’s legal status. It is noticeable that both regulatory bodies have some similar concepts to support GMP implementation and some differentt practices which may be considered by the pharmaceutical industry when it is aimed to market their product in the regulated countries.