cover
Contact Name
Faradila Hasan
Contact Email
Faradila Hasan
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.alsyirah@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah
ISSN : 16934202     EISSN : 25280368     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah, with registered number ISSN 1693-4202 (Print), ISSN 2528-0368 (Online) is a peer-reviewed journal published twice a year in June and December by Faculty of Sharia, State Islamic Institute of Religious Affairs (IAIN) Manado. Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah is a Communication Media between Sharia and Law Scholars (Law, Islamic Law, Sharia Economic Law and Social Society). Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah invites enthusiasts and experts in Islamic Law and Legal Sciences to write or disseminate research results relating to Sharia and Law issues.
Arjuna Subject : -
Articles 606 Documents
PARADIGM AND REALITY OF LAW ENFORCEMENT IN INDONESIA Rosdalina Bukido
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 4, No 1 (2006)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v4i1.214

Abstract

The research on "PARADIGM AND REALITY OF LAW ENFORCEMENT IN INDONESIA" is a library research, which aims to investigate about the factors influencing failed law enforcement in Indonesia. The good law enforcement is one of the criterions success nation to increase the dignity specially in law. Law should protect all societies living anywhere. So, it can create stability and safety life of our societies. There are many functions of law. Law can make the good thing for all sectors, for example economic, politic, trade, etc. Paradigm and reality of law enforcement in Indonesia is not carried out well yet. It is caused by two factors. They are officers of law enforcement (judge, police, advocate, and public prosecutor). If they have the good morality and integrity, law enforcement can run well. The second is Indonesian legislative assembly as the makers of law. Although the makers of law are not socialization with societies directly, but the result of them can reach and cover all problems in Indonesian societies. 
The Urgency of Bajo Traditional Law as a Form of Law Enforcement Against the Performers of the Samenleven Delic Lusiana Margareth Tijow; Hoiruddin Hasibuan; Hayat Hayat
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v19i2.1422

Abstract

Life in Indonesia does not recognize Samenleven's relationship because the rules of law and religion do not justify it, but there are still many things like that in Bajo Village. Bajo customary law includes the Bajo Customary Institution. In this institution, its existence helps the village government develop and regulate matters relating to local customs and solving problems regarding adultery, namely Samen Leven. This paper describes how customary law can be used as a law enforcement instrument to resolve the Samenleven offense. Semenleven is living together between a man and a woman without a legal marriage bond. This research uses the type of empirical normative research. The data types used are primary and secondary data sources using several approaches. The results show that the use of Bajo customary law, as a form of law enforcement against the perpetrators of the Samen Leven offense, will create a bargaining justice where customary law is used as the first route in resolving a conflict between victims, perpetrators, and the community. The consequence is that the perpetrator must admit that he has been guilty and is willing to take responsibility for his mistake following applicable customs. The Bajo Customary Council uses customary law as a reference to resolve any problems that occur in Bajo Village, Tilamuta District, namely customary law by deliberation/mediation.
PERLINDUNGAN HAK ASASI (ANAK) DI ERA GLOBALISASI (Antara Ide dan Realita) Muliadi Nur
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v9i1.11

Abstract

Perlindungan anak di era globalisasi sangat dibutuhkan demi kelangsungan generasi muda ke depan. Dalam perundang-undangan di Indonesia, kebutuhan demi kelangsungan hidup anak telah diakomodasi dengan dibentuknya beberapa perangkat aturan. Namun realita yang terjadi di lapangan, meskipun hukum di Indonesia secara umum telah memberikan perlindungan terhadap anak, tetapi di tengah masyarakat masih berlangsung berbagai bentuk eksploitasi anak yang sangat memprihatinkan baik yang dilakukan oleh negara, corporate, maupun non-state-actors. Beberapa usaha dalam mewujudkan Indonesia layak anak dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya: mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas sosial budaya masyarakat, meningkatnya pemahaman hak-hak anak sebagai dasar penegakan hukum, lahirnya generasi global berbasis kearifan lokal.
ASAS-ASAS HUKUM KEWARISAN DALAM ISLAM (Studi Analisis Pendekatan Al-Qur'an dan Al-Hadis Sebagai Sumber Hukum Islam) Naskur Naskur
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v10i2.253

Abstract

Judul tulisan ini adalah Asas-asa Hukum Kewarisan dalamIslam (Studi Analisis Pendekatan Nash Al-Qur'an dan Al-Hadist). Tulisan ini merupakan sebuah kajian yang berkailan dengan salah satu Materi hukum Islam. Materi hukum Islam yang dimaksud adalah hukum kewarisan dalam Islam Dalam memahami pembagian kewarisan dalam Islam tulak lepas dari pemahaman tentang asas-asas hukum kewarisan itu sendiri yang merupakan panda\i atau pijakan pembagianwaris dalam Islam. Secara garis besarny a. al-Qur’an dan al-Hadis telah memberikan gambaran bahwaa asas-asas hukum kelarisan Islam diantaranya adalah asasJibari, bilateral, individual, dan ta’abbudi(penghambaan diri). Paparantentang asas-asas hukum kewartsait Islam dapat dibaca pada pembahasan tulisan ini
Jurimetrics Implementation of Determining Wife's Rights in Divorce in Talu Religious Court Defi Rahmi Fadhilah; Salma Salma; Elfia Elfia; Arini Alfa Mawaddah
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 21, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v21i2.2498

Abstract

This study delves into post-divorce wives' rights, particularly examining the impact of Jurimetrics. Divorce rulings often inadequately support these rights. The Talu Religious Court, part of the Padang High Religious Court, employs Jurimetrics due to disputes over divorce-related issues. Through normative legal research and content analysis, it's evident that Jurimetrics-influenced decisions notably enhance wives' rights compared to non-Jurimetrics rulings. These decisions prioritize fairness by considering factors like minimum wage, husband's income, and marriage duration. Notably, the application of Jurimetrics in divorce proceedings consistently leads to more equitable and just outcomes for wives, presenting a systematic and fair approach rooted in principles of fairness and justice. Overall, employing Jurimetrics significantly bolsters the protection of post-divorce wives' rights, providing a methodological framework founded on fairness and equity within divorce adjudications.
KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (PROBLEM DAN SOLUSINYA) Ridwan Jamal
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v7i2.44

Abstract

Korupsi, kolusi dan nepotisme dapat menjatuhkan sebuah rezim dan bahkan menyengsarakan suatu bangsa sebab korupsi merupakan suatu penyelewengan untuk kepentingan pribadi, sedangkan kolusi merupakan suatu persekongkolan rahasia untuk maksud dan tujuan yang tidak terpuji dan npotisme merupakan suatu kecenderungan untuk mengutamakan sanak saudara sendiri dalam suatu jabatan dilingkungan pemerintahan. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang dipahami dari segi agama Islam jelas menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan suatu pelanggaran hukun dalam arti merugikan orang lain, melanggar hak asasi manusia. Penyebab terjadinya hal tersebut disebabkan rapunya kualitas moral.
SISTEM PILKADA DALAM SOROTAN HUKUM ISLAM Salma Salma
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v11i1.167

Abstract

Islam adalah agama yang mengatur kehidupan manusia menuju kehidupan yang paripurna. Sebab Islam merupakan suatu system kehidupan yang komprehensif dan tuntas yang mengatur pondasi yang bijak hingga hal-hal yang terkeci jadi Islam pada hakekatnya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai satu membawa ajaran yang bukan hanya mengenai satu dimensi kehidupan saja, tetapi multi dimensi dari kehidupan manusia yaitu dimensi teologi, ibadah, moral, filsafat, hukum termaasuk dalam hal politik. Walaupun demikian, kontroversi mengenai Islam dan urusan kenegaraan atau politik. Pertama, golongan yang berpendapat bahwa islam bukanlah semata-mata agama dalam arti hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi system ajaran lengkap yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia termasuk politik. Kedua, golongan yang berpendapat bahwa Islam sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan (politik), dan ketiga, golongan yang menolak pemikiran pertama dan kedua. Golongan ini berpendapat bahwa Islam tidak terdapat prinsip-prinsip nilai etika dan aturan dalam kehidupan bernegara.
Methodological and Sociological Analysis About The Fatwa Of Majelis Tarjih Muhammadiyah Concerning To The Muslim Marriage With An Ahl Al-Kitab Chamim Tohari
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v16i2.744

Abstract

Relation between the different of religion comunity in the multicultural nation as in Indonesia be a natural phenomenon that it cannot be avoided. As to one of the problem that had appeared in this case is about wedding problem betweena moslem with the difference religion womans. Majority of the Indonesia religious scholars as scholar in Majelis Tarjih Muhammadiyah had been prohibiting wedding like that with various reason. while a part little of the contemporary moslem scholars have been permiting the wedding. The points which will discussed in this research is how is opinion of Majelis Tarjih Muhammadiyah about the law of wedding with the woman from Ahl Al-Kitab and its ijtihad methodology. This research should analyze the argumentation of the Majelis Tarjih that make forbidding a muslem married with the difference religion womans. This research using library research approach dan content analysis. The results of this research are: (1) Majelis Tarjih of Muhammadiyah forbidding the wedding with sad al-dzari’ah as its argumentation; (2) Majelis Tarjih’s opinion has been irrelevant because two reason, the mistake of methodology and the change of the Indonesian contemporary society (based on an empiric data). Keywords: Ahlu Kitab; Majelis Tarjih; Different Religion Marriage
KEWARlSAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM ISLAM, HUKUM PERDATA DAN HUKUM ADAT Ridwan Jamal
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 4, No 2 (2006)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v4i2.203

Abstract

Tulisan ini merupakan karangan ilmiah tentang kewarisan anak sangat  dalam Hukum Islam, Hukum Perdata dan  Hukum Adat. Melalui penelitian dan  pengkajian terhadap literatur-literatur  yang berkaitan dengan judul ini penulis  ingin mengungkapkan pokok  permasalahan yaitu bagaiman kewarisan  anak angkat dalam hukum Islam, Hukum  Perdata dan Hukum Adat, serta  bagaimana hukum Islam merespon  kewarisan anak angkat dalam Hukum  Perdata dan Hukum Adat. Bertitik tolak dari hasil  pengkajian dengan menelaah secara  cermat, ternyata kewarisan anak angkat  dalam hukum Islam dan Hukum  Perdata berdasarkan Staatblad 1917  nornor 129 pasal 5 sampai 15 maupun  yang dirumuskan oleh hukum Adat,  pada dasarnya ketiga hukum tersebut  terdapat perbedaan pandangan dan  persamaan serta perbedaan hukum. Untuk mencari penjelasan  secara kongkrit tentang kewarisan anak  angkat dalam hukum Islam, Hukum  Perdata dan hukum Adat. penulis telah  melakukan pengkajian dan rnenelaah kemudian membanding-bandingkan  antara ketiga hukum tersebut sehingga  dapat diketahui di mana letak  kekurangan maupun kebaikan dari  masing-masing hukum tersebut. Adapun kekurangannya adalah ketiga  hukum tersebut masing-masing  bervariasi dalam mem berikan  pandangan maupun status terhadap  anak angkat, sedangkan kebaikannya adalah ketiga hukum tersebut sama­sarna membenarkan pengangkatan anak dengan tujuan untuk memelihara anak tersebut sebagai usia yang merupakan bagian yang berbeda . dalam lingkungan keluarganya
The Role of Modern Observation in Understanding the Beginning of the Hijri Month Frangky Suleman; Djamila Usup
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 19, No 1 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v19i1.1128

Abstract

This study aims to observe the determination of the beginning of the Hijri month in the implementation of Islamic holidays and contribute to modern society. The implementation of this research uses phenomenological methods and scientific approach methods, where both methods will combine several conjunction theories that occur with the results of observations. The Ministry of Religion of the Republic of Indonesia made observations with several criteria used from observations in 1970 with the height of the new moon 2°, the elongation distance between the moon and the sun reaching 3° is the distance between the moon and the sun. The age of the sun and moon when it reaches 8 hours from ijtima. The results found are that for now, with light pollution, the new moon, an object, cannot reach a height of < 2° because the parameter in determining the image of the crescent moon is the object in the form of a thin and dim line. It is concluded that the observation of the new moon with a height of < 2° could not observe, either by using tools or with the naked eye. So science is the solution to understand the theory and implementation of determining the beginning of the Hijri month.