cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI HOMESCHOOLING MELALUI PEMBELAJARAN REFLEKTIF Irfan Fatkhurrahman; Ahmad Zuber; Supriyadi Supriyadi; Afif Muchlisin
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.43174

Abstract

This study aimed to analyze 1) Homeschooling as an Alternative to Non-Formal Education with the support of Paulo Freire’s educational theory for freedom, 2) The Implementation of Character Education through Reflective Learning at PKBM Homeschooling Primagama Solo. The study used qualitative research methods with case study strategy. The determination of informants used purposive sampling techniques. The informants consisted of one key informant, 4 main informants, and 7 supporting informants. The data collection was carried out using a participant observation technique in the field, in-depth interviews, and documentation studies. The data were analyzed in three stages, including data reduction, data display, and drawing conclusions. The data were verified by source triangulation. The results showed that 1) Primagama could be an alternative to non-formal education with the facilities and services provided. However, referring to Freire’s educational theory for freedom which revealed 4 important points: the relationship between teacher and student, educational methods, educational curriculum, and educational goals, it obtained that education in homeschooling had not been fully liberated because the curriculum was still followed the rules and due to problems of education costs which caused not all people could experience this type of education, 2) The implementation of the four levels of reflective learning hierarchy: habitual action, understanding, reflection, and critical reflection had an impact on the self-development and critical thinking of homeschooling students. The more students move to the right and have broader critical thinking in the continuum of the hierarchy, the learning outcomes in homeschooling are expected to be of higher quality. Keywords: Character Education, Freedom Education, Homeschooling, Reflective learning.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis 1) Homeschooling Sebagai Alternatif Pendidikan Nonformal dengan didukung teori pendidikan untuk pembebasan dari Paulo Freire, 2) Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Reflektif di PKBM Homeschooling Primagama Solo. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif  dengan strategi studi kasus. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Informan terdiri dari satu informan kunci, 4 informan utama, dan 7 informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipan di lapangan, wawancara (in-depth interview), dan studi dokumentasi. Data dianalisis dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Data diverifikasi dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan 1) Primagama bisa menjadi salah satu alternatif pendidikan nonformal dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan. Namun mengacu pada teori pendidikan untuk pembebasan dari Freire yang mengungkap 4 poin penting : hubungan guru dan murid, metode pendidikan, kurikulum pendidikan, dan tujuan pendidikan, ternyata ditemukan bahwa pendidikan dalam homeschooling belum sepenuhnya membebaskan dikarenakan kurikulum yang masih mengikuti aturan dan masalah biaya pendidikan sehingga tidak semua masyarakat bisa untuk menikmati pendidikan jenis ini, 2) Penerapan empat hierarki pembelajaran reflektif : tindakan rutin, pengertian, refleksi, dan refleksi kritis berdampak bagi pengembangan diri dan pemikiran kritis siswa homeschooling. Semakin siswa bergerak ke kanan dan mempunyai pemikiran kritis yang lebih luas dalam kontinum hierarki, maka hasil belajar dalam homeschooling diharapkan menjadi lebih bermutu.Kata kunci: Pendidikan karakter, Pendidikan Pembebasan, Homeschooling, Pembelajaran reflektif.
PRAKTIK SOSIAL CYBER BULLYING DALAM JARINGAN Natasya Pazha Denanda; Fitria Rismaningtyas
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus Sosiologi Perkotaan
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.47641

Abstract

Bullying is an act of insulting someone present without realizing it in a form of social relationship. Bullying behaviour varies, such as verbal bullying, physical bullying, sexual bullying, emotional bullying, and cyber bullying. Cyber bullying is a crime that is committed deliberately in the form of slander, ridicule, harsh words, harassment, threats and insults. This article tries to parse the cyber bullying that has occurred to one of the many influencers in Indonesia and on social media Youtube. This paper uses a qualitative method with a case study approach. The approach is used because they want to see more than why bullying occurs and the impact that bullying has. This paper will try to parse the phenomenon of cyber bullying based on the perspective of Anthony Giddens' structuration theory. In this case, some institutions and structures influence social practice.The presence of agents can create a new structure or change an old structure. However, agents can also continue pre-existing structures. In the case of society, it can be said to produce a new structure, namely cyber bullying, because cyber bullying gets a consensus in the community. Meanwhile, it can be said that it reproduces the structure because the act of intimidation has already existed, namely bullying. Macro agents, which is in this case are people who commit cyber bullying. Meanwhile, micro agents are victims of cyber bullying. Where social media are dynamic, fluid and processual. This also perpetuates cyber bullying, in which the structure of society also supports the action. Keywords: Cyber bullying, Social Media, Structuration. AbstrakBullying merupakan tindakan penghinaan terhadap seseorang yang seringkali hadir tanpa disadari dalam suatu bentuk relasi sosial. Perilaku bullying memiliki keragaman seperti verbal bullying, physical bullying, sexual bullying, emosional bullying, dan cyber bullying. Perkembangan teknologi dan tingkat konsumsi social media yang makin meningkat juga menjadi salah satu faktor terjadinya perilaku bullying, khusunya cyber bullying. Cyber bullying merupakan tindakan kejahatan yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk fitnah, cemooh, kata-kata kasar, pelecehan, ancaman, dan hinaan. Tulisan ini mencoba mengurai tentang cyber bullying yang terjadi pada salah satu dari sekian banyak influencer di Indonesia dan terjadi pada social media Youtube. Dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan ini digunakan karena ingin mengetahui lebih mengapa bullying terjadi serta dampak yang ditimbulkan dari bullying tersebut. Tulisan ini akan mencoba mengurai fenomena cyber bullying dari pandangan teori strukturasi Anthony Giddens. Dalam kasus ini, terdapat agen dan struktur yang mempengaruhi munculnya praktik sosial. Di mana agen mempunyai kekuasaan penuh untuk memproduksi maupun mereproduksi struktur. Kehadiran agen dapat membuat struktur yang baru atau mengubah struktur yang lama. Namun agen juga dapat melanjutkan struktur yang sudah ada sebelumnya. Dalam kasus ini masyarakat bisa dikatakan memproduksi struktur baru yaitu cyber bullying, karena cyber bullying mendapatkan konsensus di masyarakat. Sedangkan dapat dikatakan mereproduksi struktur karena tindakan intimidasi tersebut sudah ada sebelumnya yakni bullying. Agen makro yang mana dalam kasus ini merupakan masyarakat yang melakukan tindak cyber bullying. Sedangkan agen mikro adalah korban dari cyber bullying. Dimana social media ini memiliki sifat dinamis, cair, dan prosesual. Hal ini juga ikut melanggengkan tindakan cyber bullying, dimana struktur masyarakat juga ikut mendukung terjadinya tindakantersebut. Kata Kunci: Cyber bullying, Media Sosial, Strukturasi.
TRANSMISSION OF SOCIAL CAPITAL IN THE SOR GRENG MARKET EMPOWERMENT LEADERSHIP STYLE IN BOJONEGORO REGENCY Rofi'i Rofi'i; Yuanita Dwi Hapsari
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus ICOSAPS "Strengthening Resilient Society in the Disruptive Era"
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.46129

Abstract

This study aims to describe the transmission strategy of some social, economic, cultural, and symbolic capital in the social arena of Bourdieu's thoughts. Transition and exchange of capital in individuals in the sor greng market community. This study examines the phenomenon of one of community empowerment in Ledok Wetan Bojonegoro Urban Village, based on the empowerment that utilizes the modest environmental conditions and empowerment of the empowerment until now. What has become more valuable in empowerment has survived to this day. By carrying out the concept of the romantic past it turns out to have a positive impact on the exchange of forms of capital in the social world. This study uses qualitative research methods with the type of field research (field research). Data mining techniques to obtain information are through observation, in-depth interviews, and structured. While the technique of determining informants uses purposive sampling techniques with the informants of the sor greng market community which includes the chairman, members, and surrounding residents. Keywords: social capital, leadership style, community empowerment AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi transmisi beberapa modal social,ekonomi,budaya, dan simbolik dalam arena sosial dari pemikiran Bourdieu. Peralihan serta pertukaran modal dalam individu pada paguyuban pasar sor greng. Penelitian ini mengkaji fenomena salah satu pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Ledok Wetan Bojonegoro, dengan dasar pemberdayaan yang memanfaatkan kodisi lingkungan seadanya dan kelanggengan pemberdayaan tersebut hingga kini. Hal apa yang menjadi nilai lebih dalam pemberdayaan tersebut hingga bertahan sampai hari ini. Dengan mengusung konsep romantisme masa lalu ternyata membawa dampak positif bagi pertukaran bentuk-bentuk modal dalam dunia social. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Teknik penggalian data untuk memperoleh informasi ialaha melalui observasi, wawancara secara mendalam dan tersturktur. Sementara teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan karakter informan paguyuban pasar sor greng yang meliputi ketua, anggota, dan warga sekitar. Kata Kunci: modal sosial, gaya kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat
PERAN LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA & LINGKUNGAN HIDUP (LPPSLH) DALAM PEMBERDAYAAN PETANI PENDERES Arum Tri Astuti
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.41961

Abstract

Plantation is one of the potential agricultural sub-sectors in Indonesia and coconut is a commodity that is developed as a raw material for the coconut sugar industry. Rancamaya has great potential in the coconut sugar business, but the craftsmen, namely taper farmers, are still living in poverty. This study aims to describe the role of the LPPSLH as a facilitator in the coconut sugar empowerment program for tanters farmers, the empowerment process and efforts to build the independence of Teres farmers in Rancamaya Village, Cilongok District, Banyumas Regency. The research subjects were LPPSLH and taper farmers in Rancamaya Village. The research method used a qualitative method with a descriptive approach and the sampling was done purposively. Data collection was carried out through interviews, observation and literature study. Anthony Giddens' structuration theory regarding agents and structure is used to examine the role of agents and structures in the empowerment process of taster farmers. The results showed that LPPSLH played a role in education, facilitation and advocacy for smallholders in empowerment programs, the empowerment process was carried out through the stages of area assessment, program socialization, training, organic certification, development of market access, and monitoring evaluation. Efforts to build independence are carried out by encouraging farmers to form farmer groups and cooperatives as a forum for learning together, strengthening farmers' bargaining positions and developing coconut sugar businesses.Keywords: Role, Community Empowerment, Facilitator, Penderes Farmer. AbstrakPerkebunan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang potensial di Indonesia dan kelapa menjadi komoditas yang dikembangkan sebagai bahan baku dalam industri gula kelapa. Rancamaya memiliki potensi besar dalam usaha gula kelapa, namun pengrajinnya yaitu petani penderes masih hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana peran LPPSLH sebagai fasilitator dalam program pemberdayaan gula kelapa terhadap petani penderes, proses pemberdayaan dan upaya membangun kemandirian petani penderes di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok , Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian yaitu LPPSLH dan petani penderes di Desa Rancamaya. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Teori struktursasi miliki Anthony Giddens mengenai agen dan struktur digunakan untuk mengkaji bagaimana peran agen dan struktur dalam proses pemberdayaan petani penderes. Hasil penelitian menunjukkan LPPSLH melakukan peran edukasi, fasilitasi dan advokasi kepada petani penderes dalam program pemberdayaan, proses pemberdayaan dilakukan melalui tahapan assesment wilayah, sosialisasi program, pelatihan, sertifikasi organik, dan pengembangan akses pasar, serta monitoring evaluasi. Upaya membangun kemandirian dilakukan dengan cara mendorong petani untuk membentuk kelompok tani dan koperasi sebagai wadah untuk belajar bersama, menguatkan posisi tawar petani dan mengembangkan usaha gula kelapa.Kata kunci: Peran, Pemberdayaan Masyarakat, Fasilitator, Petani Penderes.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK MENJADI PAVING BLOCK DI “UD. WONG CILIK” DESA JETIS, KECAMATAN KEMANGKON, KABUPATEN PURBALINGGA Alifan Nurin Anamti Dieningrum; Muslihudin Muslihudin; Edy Suyanto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.44430

Abstract

Participation is someone's participation in the development process either in the form of statements or in the form of activities by providing input on thoughts, energy, time, expertise, capital and material. This utilization is carried out so that the plastik waste produced can become goods that are more valuable. This study aims to determine community participation in the use of plastik waste into paving blocks at "UD. Wong Cilik ”Jetis Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. This study used descriptive qualitative method. Research data collection techniques are in-depth interviews, observation, namely non-participatory observation, and documentation. The research location was conducted in Jetis Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. The technique of taking informants was purposive sampling. The data analysis technique in this study used an interactive analysis model of Milles and Habberman. The results of this study indicate that the use of plastik waste into paving blocks builds participation. The form of participation from residents is in the form of goods, namely giving plastik waste to "UD. Wong Cilik” voluntarily. The form of participation from government agencies, namely the Environmental Agency provides in the form of goods and thoughts and the UKM Service (small and medium enterprises) provides in the form of thoughts. While the form of participation from the Jetis Village Government is money and thoughts. Factors that influence the motivating factor for citizens to participate in donating waste and the inhibiting factor are the lack of socialization regarding the existence of the "UD. Wong Cilik ”and each person has a different perspective.Keywords: Participation; Utilization; WasteAbstrakPartisipasi merupakan peran serta seseorang dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan atau bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan materi. Nilai-nilai yang  dikandungnya  bisa  dijadikan acuan mempunyai  peran  penting  dalam menciptakan  kondisi  lingkungan. Lingkungan pun  bisa  dijaga  atau  dikembalikan fungsinya melalui partisipasi masyarakat. Pemanfaatan ini dilakukan agar sampah plastik yang dihasilkan dapat menjadi barang yang lebih bernilai jual. Penelitian ini tujuannya yaitu untuk mengetahui partisipasi masyarakat pada pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block di “UD. Wong Cilik” Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian yaitu wawancara mendalam, observasi yaitu observasi non partisipatif, dan dokumentasi. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Teknik pengambilan informan dengan purposive sampling. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif model Milles dan Habberman. Hasil penelitian ini bahwa pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block membangun sebuah partisipasi. Partisipasi tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, maka “UD. Wong Cilik” ini tidak akan berkembang.  Bentuk partisipasi dari warga berupa barang yaitu memberikan sampah plastik ke “UD. Wong Cilik” secara sukarela. Bentuk pastisipasi dari instansi pemerintah yaitu  Dinas Lingkungan Hidup  memberikan berupa barang dan pemikiran dan Dinas UKM (usaha kecil dan menengah) memberikan berupa keahlian. Sedangkan bentuk partisipasi dari Pemerintah Desa Jetis yaitu uang dan pemikiran. Faktor yang mempengaruhi faktor pendorong warga ikut berpartsipasi dalam menyumbangkan sampah dan faktor penghambat yaitu masih kurang sosialisasi mengenai keberadaan usaha “UD. Wong Cilik” dan setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda - beda.Kata Kunci : Partisipasi; Pemanfaatan; Sampah
SOCIAL CAPITAL TO CONTROL GENERATION Z’S SCREEN TIME BEHAVIOR Addin Kurnia Putri, M.A.; Supriyadi Supriyadi; Mahendra Wijaya; Sri Hilmi Pujihartati
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus ICOSAPS "Strengthening Resilient Society in the Disruptive Era"
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.50485

Abstract

The rise of technology has an impact on social behavior. One of them is the use of digital media devices, especially in Generation Z. Unrestricted screen time has an impact on Gen Z's physical, mental and social disorders. This study analyzes the tendency for screen time devices to be used more for entertainment, less for social communication, and even learning media. The behavioral pattern of excessive screen time device usage indicates addictive behavior. It has an impact on learning difficulties, reduces learning achievement, and even causes deviant behavior. The purpose of this study was to determine the strength of social capital in controlling screen time behavior in Generation Z. The method used in this study was a mixed-method, a research approach that combines qualitative research with quantitative research. The concept of social capital is used to analyze social control over screen time behavior. Social capital is an ability that arises from trust in a community. The results showed that social capital can control the negative impact of screen time behavior on Generation Z, which is divided into three forms, namely ties: family, relatives, and neighbors; bridging: community leaders, communities; and linking: Schools, Education Offices, Youth Social Organizations. Social capital has the function of controlling the use of screen time on the device, selective time control, access to education, and motivation to prepare for a better future for Generation Z. Keywords: Generation Z; Screen Time; Social Capital  AbstrakMaraknya teknologi berdampak pada perilaku sosial. Salah satunya adalah penggunaan perangkat media digital, khususnya pada Generasi Z. Screen time yang tidak dibatasi berdampak pada gangguan fisik, mental dan sosial. Studi ini menganalisis kecenderungan waktu layar lebih banyak digunakan untuk hiburan, bukan untuk aktivitas sosial komunikasi dan bahkan media pembelajaran. Pola perilaku penggunaan perangkat waktu layar yang berlebihan menunjukkan perilaku adiktif. Hal tersebut berdampak pada kesulitan belajar, menurunkan prestasi belajar, bahkan menimbulkan perilaku menyimpang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan modal sosial dalam mengendalikan perilaku screen time pada Generasi Z. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran, yaitu pendekatan penelitian yang menggabungkan penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Konsep modal sosial digunakan untuk menganalisis kontrol sosial atas perilaku waktu layar. Modal sosial adalah kemampuan yang muncul dari kepercayaan dalam suatu komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial dapat berpengaruh terhadap pengendalian dampak negatif dari perilaku waktu layar pada Generasi Z yang terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu bonding: keluarga, kerabat, dan tetangga; bridging: tokoh masyarakat, komunitas; dan linking: Sekolah, Lembaga Pendidikan, Organisasi Sosial Pemuda. Modal sosial memiliki fungsi kontrol terhadap penggunaan waktu layar pada perangkat, kontrol waktu selektif, akses edukasi, dan motivasi dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik pada Generasi Z. Kata Kunci: Generasi Z; Waktu Layar; Modal Sosial
DILEMA DWIFUNGSI PEMANFAATAN INFORMASI DALAM PEMBENTUKAN KETIMPANGAN SOSIAL BARU DI INDONESIA (TELAAH SOSIOLOGI DIGITAL MELALUI PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK) Sarvianto, Dwiki Faiz
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.43452

Abstract

In addition, access to digital devices and platforms, there are other factors for individuals to utilize information appropriately. If the information on the rampant is not considered in depth, then it is possible that a new social inequality will be formed because there are hoaxes and other content in it. The symbolic interactionism perspective can be an analytical tool to find the advantages and disadvantages that are formed on the meaning of individuals on the acquisition of information around them. The purpose of this study is to describe the new social inequality that is present through the analysis of symbolic interactionism related to functions that present information from an individual. The study is written using a qualitative approach with descriptive analysis methods and literature study techniques whose content must be related to digital sociology in the perspective of symbolic interaction. The results of the study show that the meaning of the individual as the recipient of information will result in two information utilization functions which in turn can form a new social statement. One side can be used as self-formation according to the correct meaning of information it receives. The other side can be used to disseminate misinformation according to the misinterpretation of information. But before that, these two functions were behind the meaning formed by the knowledge of each individual.Keywords: Symbolic Interactionism, Social Inequalities, Meaning AbstrakSelain dipengaruhi oleh akses terhadap perangkat dan platform digital, terdapat faktor lain bagi individu untuk memanfaatkan informasi dengan tepat. Apabila maraknya informasi ini tidak diperhatikan dengan secara mendalam, maka bisa saja suatu ketimpangan sosial baru akan terbentuk lantaran terdapat hoaks dan konten lain di dalamnya. Perspektif interaksionisme simbolik dapat menjadi salah satu alat analisis untuk menemukan keuntungan dan kerugian yang terbentuk atas pemaknaan individu terhadap perolehan informasi di sekitarnya. Tujuan kajian ini hadir untuk mendeskripsikan ketimpangan sosial baru yang hadir melalui analisis interaksionisme simbolik terkait fungsi kehadiran informasi dari seorang individu. Kajian ini ditulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif dan teknik studi literatur yang isinya harus terkait dengan sosiologi digital dalam perspektif interaksionisme simbolik. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemaknaan dari individu sebagai penerima informasi akan menghasilkan dua fungsi pemanfaatan informasi yang akhirnya dapat membentuk sebuah kesenjangan sosial baru. Satu sisi dapat digunakan sebagai formasi diri sesuai pemaknaan informasi yang tepat diterimanya. Sisi lain dapat digunakan untuk penyebaran informasi yang salah sesuai pemaknaan informasi yang kurang tepat. Namun sebelumnya, dua fungsi ini hadir di balik pemaknaan yang terbentuk atas pengetahuannya masing-masing individu.Kata kunci : Interaksionisme Simbolik, Kesenjangan Sosial, Pemaknaan
DINAMIKA IDENTITAS GAY DI RUANG PUBLIK TOBOALI BANGKA SELATAN Rahmawan, Alfin Dwi; Sujadmi, Sujadmi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.47615

Abstract

Gay is known as a sexual attraction that is included in the group of Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT). It is the practice of same-sex sexual attraction that has been existed for a long time, from various times to this day, whether in big cities or various areas with a rare touch of modernity. This research intends to find out the dynamics of the existence of a gay identity, in which gay identity is usually stigmatized and becomes a marginalized group in society. This research was conducted in Toboali, the Regency of South Bangka. Toboali area is known for many groups of gay that interact and do their activities as the society in general. To analyze this research, it utilizes the theory of Identity by Manuel Castells. The research method used a descriptive qualitative research design. The technique of this research used snowball and also purposive sampling. The snowball technique is utilized to obtain the data from the gay informant, by gaining the data and the informant from the acquired key informant. The technique of purposive sampling is used for the community as a comprehensive data comparison. The result of the finding in the field shows that there are factors forming a gay identity of individual as follow social experience in childhood, lifestyle needs, family disharmony, and also the peers group. The result of the research also points out that the existence of gay identity in Toboali South Bangka in the stage of resistance identity.Keywords: Dynamics, Gay, Identity, Public Area. AbstrakGay diketahui sebagai satu ketertarikan seksual yang tergabung ke dalam kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Yaitu praktik ketertarikan seksual sesama jenis yang sudah sejak dulu ada dari berbagai zaman hingga saat ini, baik di kota-kota besar maupun di berbagai daerah yang jarang tersentuh modernitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika eksistensi identitas gay, yang mana identitas gay ini biasanya terstigmatisasi, dan menjadi kelompok termarjinalkan di dalam masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Toboali Kabupaten Bangka Selatan. Dimana di daerah Toboali Bangka Selatan diketahui banyak kelompok gay yang berinteraksi dan melakukan aktivitas seperti masyarakat pada umumnya. Untuk menganalisis penelitian ini digunakan teori identitas dari Manuel Castells. Metode penelitian yang digunakan yakni menggunakan desain penelitian kualitatif fenomenologi. Sedangkan teknik yang digunakan dengan teknik snowball dan juga purposive sampling. Teknik snowball digunakan untuk memperoleh data dari informan gay, dengan cara memperoleh data dan informan dari informan kunci yang telah didapatkan. Teknik purposive sampling digunakan untuk kalangan masyarakat sebagai perbandingan data yang komperhensif. Pembahasan dari penelitian ini meliputi, faktor-faktor yang mempengaruhi, pergaulan sosial gay di Toboali Bangka Selatan dan stigma sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi identitas gay di Toboali Bangka Selatan pada tahap resistance identity.Kata Kunci: Dinamika, Gay, Identitas, Ruang Publik.
RESISTENSI SIMBOLIK TENUN KORKASE PADA MASYARAKAT AMARASI Namah, Jimris Edison
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i1.35420

Abstract

This research aims to describe and analyze symbolic resistance through the korkase woven cloth (foreign birds) of the Amarasi community to the government system during the time of the Amarasi king H.R Koroh (Uis Pah Koroh). The method used is a qualitative research method with a descriptive approach, using interview techniques, documentary studies and literature studies. The results showed that the korkase weaving symbol is one of the motives that has an important role in the Amarasi community. For the Amarasi people on one hand, korkase is a symbol of the king's identity. But on the other hand, it is used as a symbol of resistance to the structure or system of government that is not in accordance with the values of truth and justice. The korkase weaving symbol as a sacred text represents the voice of the Amarasi people to fight for the values of love, justice, brotherhood and equality. This paper wants to revive the appreciation of the Amarasi community symbolized in korkase woven fabric as an identity that needs to be respected and upheld.Keywords: Amarasi; Korkase Weaving; Symbolic Resistance; Sacred Text.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa resistensi simbolik melalui kain tenun korkase (burung asing) masyarakat Amarasi terhadap sistem pemerintahan pada masa raja Amarasi H.R Koroh (Uis Pah Koroh). Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, memakai teknik wawancara, studi dokumenter dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol tenun korkase merupakan salah satu motif yang memiliki peranan penting dalam masyarakat Amarasi. Bagi masyarakat Amarasi disatu sisi, korkase merupakan simbol identitas raja. Namun di sisi yang lain, dipakai sebagai simbol perlawanan terhadap struktur atau sistem pemerintahan yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran dan keadilan. Simbol tenun korkase sebagai teks suci mewakili suara masyarakat Amarasi untuk memperjuangkan nilai-nilai cinta-kasih, keadilan, persaudaraan, dan kesetaraan. Tulisan ini ingin mengangkat kembali penghargaan terhadap masyarakat Amarasi yang disimbolkan dalam kain tenun korkase sebagai identitas yang perlu dihargai dan dijunjung tinggi. Kata kunci : Amarasi; Resistensi Simbolik; Tenun Korkase; Teks Suci.
NILAI KARAKTER DALAM UNGKAPAN HIKMAH BERSUMBERKAN WACANA BERITA Wardani, Lupita Sari Pitra; Al-Ma’ruf, Ali Imron; Prayitno, Harun Joko
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.43177

Abstract

The purpose of this study is to describe the value of character education in wisdom expressions sourced from news discourse. This research utilizes descriptive qualitative approach. The data of research are in the form of phrase, words, and sentense in news discourse that contain wisdom expressions. The data source is news discourse that contain character value in expressions of wisdom. Data collection techniques utilized are observation and note taking. The object of this study is the expressions of wisdom sourced from news discourse. The data analysis method utilizes the referential identity method and the constituent analysis method. Data analysis uses content analysis method. The result of this study indicate that are various value of character education in expressions of wisdom in news discourse, namely the value of religiosity, professionalism, national defense, creativity, peace loving, fighting spirit, love of environment, love of the motherland, harmony, and honesty. The conclusion of this research is that news discourse contain multidisciplinary wisdom expressions, which can be used in character education for the nation's successors.Keywords: Character Value, Wisdom, Discourse. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memaparkan nilai pendidikan karakter pada ungkapan hikmah bersumberkan wacana berita. Penilitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, serta kalimat yang ada pada wacana berita yang mengandung nilai karakter dalam ungkapan hikmah. Sumber data adalah wacana berita yang mengandung nilai karakter dalam ungkapan hikmah. Simak dan catat merupakan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Objek dalam penelitian ini adalah ungkapan hikmah yang bersumber dari wacana berita. Metode analisis data menggunakan padan referensial dan metode agih. Analisi data dengan menggunakan analisis isi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat berbagai nilai pendidikan karakter dalam ungkapan hikmah dalam wacana berita yakni nilai religiusitas, profesionalisme, bela negara, kreativitas, cinta damai, semangat juang, cinta lingkungan, cinta tanah air, kerukunan, kejujuran. Simpulan dari penelitian ini adalah wacana berita banyak mengandung ungkapan hikamah multidisipliner yang dapat dijadikan sebagai pendidikan karakter bagi insan penerus bangsa.Kata kunci: Nilai Karakter, Hikmah, Wacana.