cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
STRATEGI KAMPANYE DALAM JARINGAN PASANGAN CALON WALI KOTA SOLO DI MASA PANDEMI COVID-19 Permata Sari, Qurnia Indah
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus Sosiologi Perkotaan
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.47637

Abstract

This study discusses the Virtual Campaign conducted by the spouses of Solo Mayoral candidates who will contest the 2020 Regional Head Elections. Virtual campaigns are used as candidates' partner strategies to attract voters in constituencies without descending directly onto the field and avoiding crowds. This study uses review literature as a research method. This study analyses political campaigns conducted by Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa in attracting voters during the Covid-19 pandemic. The study found that a Virtual Campaign is an effective strategy for candidates' spouses to attract voters. The strategy used by the candidate's spouse is the use of a Campaign Box in which there is a screen connected to the internet. This screen works so that the candidate's spouse can interact directly with the prospective constituent. The Existence of Campaign Box makes Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa can greet citizens one by one, present the vision and mission directly to prospective constituents and listen to the community's aspirations directly. This research uses the theory of political communion and theory of capital boerdieu. This study's practical implications encourage the use of Virtual Campaign as an innovation to attract voters during the Covid-19 Pandemic.  Keywords: Virtual Campaign, Political Strategy, Covid-19. AbstrakStudi ini membahas tentang kampanye dalam jaringan yang dilakukan oleh pasangan calon Walikota Solo yang akan berkontestasi pada Pemilihan Kepala Daerah tahun 2020. Kampanye dalam jaringan digunakan sebagai strategi pasangan calon untuk menjaring pemilih pada daerah pemilihan tanpa turun langsung ke lapangan dan menghindari kerumunan massa. Studi ini menggunakan literatur review sebagai metode penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kampanye politik yang dilakukan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dalam menjaring pemilih selama masa pandemi Covid-19. Studi ini menemukan bahwa kampanye dalam jaringan merupakan strategi efektif bagi pasangan calon untuk menjaring pemilih. Strategi yang digunakan oleh pasangan calon adalah penggunaan kampanye Box yang didalamnya terdapat layar yang tersambung dengan internet. Layar ini berfungsi agar pasangan calon dapat berinteraksi langsung dengan calon konstituen. Adanya Kampanye Box membuat Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dapat menyapa warga satu per satu, memaparkan visi dan misi secara langsung kepada calon konstituen serta mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung. Penelitian ini menggunakan teori komunukasi politik dan teori Modal Boerdieu. Implikasi praktis dari studi ini mendorong pemanfaatan Virtual Campaign sebagai inovasi baru menjaring pemilih pada masa Pandemi Covid-19. Kata Kunci: Virtual Campaign, Strategi Politik, Covid-19
RELATIONSHIP BETWEEN WOMAN-VOTERS' CHARACTERISTICS AND PARTICIPATION IN POLITICS TO THEIR PREFERENCES Suarmini, Ni Wayan; Nuswantara, Kartika; Zain, Ismaini; Bhawika, Gita Widi; Sani, Nisfu Asrul
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus ICOSAPS "Strengthening Resilient Society in the Disruptive Era"
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.46205

Abstract

Discrepancies between the number of women voters and their low legislative representation is an interesting topic of study. The laws and regulations on parties’ eligibility for elections have assigned the proportions of women candidates. These laws have been reformed continuously during elections. However, the result remained the same until the recent 2019 election. This contradicts the reality that the number of women voters, which is more than half the total population, should supply the threshold quota. Therefore, this study examines the relationship between women's preferences and other elements, including voters' characteristics and their participation in political organizations. Online questionnaires were distributed to elicit responses from 1,042 women voters. The analysis of data was performed using descriptive and inferential statistics. Primarily, inferential statistics were used to examine the relationship between the variables utilizing the Chi-Square Test of Independence. The findings confirmed that more women voted for male candidates. However, regardless of occupation, women are interested in joining political parties and assuming leadership roles. Due to the snowballing sampling procedure, it is difficult to generalize the findings of this research. For this reason, future research should target the respondents that have frequently participated in elections to accommodate more generalized findings. Keywords: woman voters, under-representation, woman legislative candidates AbstrakKesenjangan antara jumlah pemilih perempuan dengan keterwakilan legislatif yang rendah menjadi topik kajian yang menarik. Undang-undang dan peraturan tentang kelayakan partai untuk pemilihan telah menetapkan proporsi kandidat perempuan. Undang-undang ini telah direformasi terus menerus selama pemilu. Namun, hasilnya tetap sama hingga pemilu 2019 baru-baru ini. Hal ini bertolak belakang dengan kenyataan bahwa jumlah pemilih perempuan yang lebih dari separuh jumlah penduduk harus memenuhi ambang batas kuota. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji hubungan antara preferensi perempuan dengan elemen lainnya, termasuk karakteristik pemilih dan partisipasi mereka dalam organisasi politik. Kuesioner online dibagikan untuk mendapatkan tanggapan dari 1.042 pemilih perempuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Terutama, statistik inferensial digunakan untuk menguji hubungan antara variabel menggunakan Uji Independensi Chi-Square. Temuan menegaskan bahwa lebih banyak perempuan memilih calon laki-laki. Namun, terlepas dari pekerjaan, perempuan tertarik untuk bergabung dengan partai politik dan mengambil peran kepemimpinan. Karena prosedur pengambilan sampel bola salju, sulit untuk menggeneralisasi temuan penelitian ini. Untuk alasan ini, penelitian masa depan harus menargetkan responden yang sering berpartisipasi dalam pemilu untuk mengakomodasi temuan yang lebih umum.Kata kunci: Pemilih Perempuan, Keterwakilan, Caleg Perempuan
CHINA’S NATIONAL INTEREST AS THE MAIN CONDUCTOR OF UIGHUR ISSUES Antar Zidane
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.42995

Abstract

This scientific paper examines the main factors causing the Uighur issue. The problems contained in the Uighur issue are complex problems that make the existence of a scientific work examining this issue urgent. Because, this problem has become one of the popular issues, especially in the study of International Relations in the contemporary period. So that encourages the writer to study this problem and provide a spectrum of Uighur issues through this scientific paper. This scientific paper is made by the writer using qualitative methods that refer to credible sources as a reference related to the main factors that are conductors of Uighur issues. In this scientific paper, the author has found that China's national interest in the form of territories in places used as homes by ethnic Uighurs are the main variable on the conductors of Uighur issues.Keywords: China; Issue; National Interest; Uighur. AbstrakKarya tulis ilmiah ini mengkaji tentang faktor-faktor utama yang menyebabkan isu Uighur. Masalah yang terkandung dalam isu Uighur merupakan permasalahan kompleks yang menjadikan eksistensi karya tulis ilmiah yang mengkaji isu ini berurgensi tinggi. Karena isu ini telah menjadi salah satu masalah yang populer, terutama dalam studi Hubungan Internasional di masa kontemporer. Sehingga hal ini mendorong penulis untuk mengkaji masalah ini dan memberikan spektrum isu Uighur melalui karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ini dibuat oleh penulis menggunakan metode kualitatif yang merujuk pada sumber-sumber yang bersifat credible sebagai referensi terkait dengan faktor utama yang menjadi konduktor isu Uighur. Dalam karya tulis ilmiah ini, penulis telah menemukan bahwa kepentingan nasional China dalam bentuk teritori di tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh etnis Uighur adalah variabel utama pada konduktor masalah Uighur.Kata kunci: China; Issue; National Interest; Uighur. 
KONSTRUKSI SOSIAL UPACARA ADAT KARO SUKU TENGGER DI DESA TOSARI, KECAMATAN TOSARI, KABUPATEN PASURUAN Endang Kumala Ratih; Anik Juwariyah
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.42103

Abstract

Nowadays social relations in a society are less aware of, be it with nature, society, and society with God, especially in today's young people who are mostly influenced by digital technology that is growing very rapidly and is inherent in life which makes them very focused with cellphones and indirectly make them individualistic creatures. Through this article, the writer hopes to provide insight, especially to young people, that awareness of social relations is needed that can be realized through culture. The relationship between humans and God, humans and nature, and humans with each other has indirectly formed a social relationship, such as the Karo traditional ceremony, which is worship of the spirits of the ancestors in which there are several rituals as an expression of gratitude for a good harvest. . The Karo Day traditional ceremony involves village communities, one of which is in Tosari Village. The relationship between society and God, society and nature, society and each other, which is formed from the implementation of the Karo Day traditional ceremony, indirectly has a social relationship. This relationship was investigated using the social construction approach of Peter L. Berger and Thomas Luckmann. Data collection includes: 1) observation, by looking at the phenomena that are directly or indirectly related to the subject and object of research; 2) interview with the perpetrator; and 3) literature study and documents in the form of photos. The results of this study indicate that traditional ceremonies have an important role in maintaining and forming a social relationship. The Karo traditional ceremony is carried out every year by the Tengger tribe who believe in their ancestors, making a community that is full of tolerance, and adheres to values.Keywords: Karo Traditional Ceremony, Tengger Tribe Community, Social Construction AbstrakPada jaman sekarang hubungan sosial dalam suatu masyarakat kurang disadari, baik itu dengan alam, masyarakat sesamanya, dan masyarakat dengan Tuhan, khususnya dilingkungan anak muda jaman sekarang yang kebanyakan sudah terpengaruh oleh tekonologi digital yang berkembang sangat pesat dan melekat dalam kehidupan yang menjadikan mereka sangat terfokus dengan handphone dan secara tidak langsung menjadikan mereka makhluk individualis. Melalui artikel ini penulis berharap dapat memberikan wawasan khususnya kepada anak muda bahwa diperlukan kesadaran tentang hubungan sosial yang dapat direalisasikan melalui kebudayaan. Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya secara tidak langsung telah membentuk sebuah hubungan sosial, seperti pada upacara adat Hari Raya Karo yang merupakan pemujaan terhadap roh para leluhur yang didalamnya terdapat beberapa ritual sebagai pengungkapan rasa syukur atas hasil panen yang bagus. Upacara adat Hari Raya Karo melibatkan masyarakat desa, salah satunya didesa Tosari. Hubungan antara masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan alam, masyarakat dengan sesamanya yang terbentuk dari pelaksanaan upacara adat Hari Raya Karo secara tidak langsung telah terjadi suatu hubungan sosial. Hubungan tersebut diteliti dengan menggunakan pendekatan konstruksi soial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Pengumpulan data meliputi : 1) observasi, dengan melihat fenomena yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan subjek dan objek penelitian; 2) wawancara dengan pelaku; dan 3) studi kepustakaan dan dokumen berupa foto. Hasil dari penelitian ini bahwa upacara adat memiliki peranan penting dalam menjaga dan membentuk sebuah hubungan sosial. Upacara adat Karo yang dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat suku Tengger yang percaya dengan leluhur, menjadikan masyarakat yang penuh toleransi, dan mentaati nilai-nilai.Kata Kunci : Upacara Adat Karo, Masyarakat Suku Tengger, Konstruksi Sosial
KONDISI SOSIAL EKONOMI BURUH PENGRAJIN BATU BATA DI KELURAHAN CAMPANG RAYA KECAMATAN SUKABUMI KOTA BANDAR LAMPUNG Gietha Putri Aroem; Tubagus Hasanuddin
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.42172

Abstract

The limited job field encourages the society to look for other alternatives by utilizing the existing environmental conditions to satisfy the needs of their families. One of the work as a brick worker. Research aims to know the socioeconomic conditions of brick workers from November- Desember 2019. This research used qualitatif descriptive methods. The respondents were bricker workers which was determined purposively amounted to 15 people. The results of this research show that bricker workers have a productive age (100%) ,the formal education is still low(67%), the average household net income per month of Rp 3.320.000,- − Rp 3.433.000,- with per-capital income per month of Rp 1.106.000,- −Rp 1.147.000,- has not fulfilled the standard UMR in Bandar Lampung city.of Rp 2.445.141,-. Qualitatively, based on perceptions, 66.7% of bricker workers said that the income they earned was still insufficient to fulfill their daily needs. The conditions and housing facilities are still inadequate.Keywords: Brick Worker, household, income AbstrakTerbatasnya lapangan pekerjaan mendorong masyarakat mencari alternatif lain dalam mencari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Salah satu alternatif tersebut adalah dengan menjadi buruh produksi batu bata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi social ekonomi buruh pengrajin batu bata. Penelitian dilakukan di Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung dari bulan November - Desember tahun 2019. Responden adalah buruh pengrajin batu bata yang ditentukan secara purposive berjumlah 15 Orang. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan buruh pengrajin batu berusia produktif (100%),  sebagian besar (67%) memiliki tingkat pendidikan yang rendah, dan memperoleh pendapatan bersih rata-rata sebesar Rp 3.320.000,- − Rp 3.433.000,-  per bulan dengan pendapatan per kapita per bulan sebesar 1.106.000,- −Rp 1.144.000,- dan belum memenuhi standar UMR Kota Bandar Lampung sebesar Rp 2.445.141,- Secara kualitatif, berdasarkan persepsi, 66,7 % buruh pengrajin batu bata memaknai penghasilan yang didapat masih kurang tercukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan dan fasilitas tempat tinggal masih belum tercukupi dengan baik.Kata kunci: Pendapatan, Rumahtangga, Buruh Batu Bata.
PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM ARENA POLITIK (STUDI PEMILIHAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DI KABUPATEN MIMIKA, PROPINSI PAPUA DALAM PRESPEKTIF PIERRE BOURDIUE) Sopia Wadanubun; Antik Tri Susanti; Elly E. Kudubun
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.43026

Abstract

Women are constructed as second-class creatures. This prejudice then gets reinforced in the moral structure of society manifested in religious and customary regulations. However, in the political arena an effirmative policy has been set up by giving a 30% quota of permaan. This study wants to find out how women struggle in the political arena, using the perspective of Pierre Bourdieu. The approach used in this study is a qualitative research approach, which is a research procedure that produces descriptive data using interview, observation, and document utilization techniques. This study concludes that gender is not a matter of unsuccessful person in the election stage. This means that men and women have the same opportunity to be chosen. Election is determined by the amount of economic capital. Because economic capital is the dominant determinant of victory, not because of the issue of women's struggle, in practice it can be predicted that the struggle against women's rights will not have a place in the political arena in Mimika Regency, Papua Province.Keywords: Women, Politics, Arena, Pierre Bourdieu, Capital AbstrakPerempuan dikonstruksikan sebagai makhluk kelas dua, prasangka ini kemudian mendapatkan penguatan dalam struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama maupun adat, namun demikian dalam arena politik telah di tetapkan kebijakan affirmative dengan memberi perempuan tkuota 30%.Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana perjuangan perempuan dalam arena politik, dengan menggunakan perspektif Pierre Bourdiue, pendekatan yang di lakukan dalam penilitian ini adalah jenis pendekatan penelitian kualitatis yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif menggunakan teknik wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen.Penelitian ini menyimpulkan bahwa gender bukan merupakan persoalan ketidak berhasilan seseorang dalam tahap pemilihan, artinya laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama untuk di pilih. Tentununya keterpilihan seseorang di tentukan oleh jumlah modal ekonomi.Kata kunci : Perempuan,Politik, Pierre Bourdiue, Modal
ACEHNESE AWARENESS OF PHYSICAL DISTANCING POLICY DUE TO COVID-19 Angga Syahputra; Devi Nurtiyasari; Zani Anjani
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.45160

Abstract

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) has spread to more than 190 countries around the world. Covid-19 in Indonesia was first reported on March 2, 2020, i.e. as much as 2 cases. As of June 12, 2020, there were 36.406 confirmed cases (positive) and 2048 deaths cases. In Aceh, as of June 12, 2020, there were 115 total cases with 20 confirmed cases (positive) and 1 death case. In dealing with Covid-19, Indonesia Government has issued various policies based on studies of expertise and direction from the World Health Organization (WHO). One of the policies is to implement Physical Distancing. This policy becomes a challenge to be implemented in Indonesia. The Aceh Provincial Government also urged citizens to implement this policy. This study conducted to see the factors affecting Acehnese awareness in implementing Physical Distancing policy. The result shows that it is significantly affected by job factor, whereas other factors such as age and salary have no significant effect. Keywords: Covid-19; Society Awareness; Public Awareness; Physical Distancing AbstrakVirus Covid-19 telah menyebar ke lebih dari 190 negara di dunia. Covid-19 di Indonesia pertama kali dilaporkan pada 2 Maret 2020 yaitu sebanyak 2 kasus. Hingga 12 Juni 2020, terdapat 36.406 kasus terkonfirmasi (positif) dan 2048 kasus kematian. Di Aceh, per 12 Juni 2020, terdapat total 115 kasus dengan 20 kasus terkonfirmasi (positif) dan 1 kasus kematian. Dalam menangani Covid-19, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan berdasarkan kajian keahlian dan arahan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Salah satu kebijakannya adalah dengan menerapkan physical distancing social. Kebijakan ini menjadi tantangan untuk diterapkan di Indonesia. Pemerintah Provinsi Aceh pun mengimbau warganya menerapkan kebijakan ini. Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat Aceh dalam menerapkan kebijakan menjaga jarak fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pekerjaan dipengaruhi secara signifikan, sedangkan faktor lain seperti umur dan gaji tidak berpengaruh signifikan. Kata Kunci: Covid-19; Kesadaran Masyarakat; Kesadaran Publik; Jarak Fisik.
STRATEGI PENGUATAN IDENTITAS KULTURAL MELALUI PENGGUNAAN SELENDANG LURIK OLEH INSTANSI PEMERINTAHAN SEBAGAI IMPELEMENTASI KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN KLATEN Riska Aryani Damayanti; Supriyadi Supriyadi; Ahmad Zuber
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.43175

Abstract

This research aims to examine deeply the meaning of the use of lurik shawls as obligatory attribute for government officials in Klaten Regency, as the implementation of local wisdom. Lurik shawls as attributes of official clothing which must be worn every Wednesday by employees of government agencies in Klaten Regency. So that, the use of lurik shawls become a cultural identity in Klaten Regency. This research was examined using qualitative research methods with descriptive research type, then supported by a phenomenological approach strategy. The selection of informants uses purposive sampling technique. In this study 10 informants were selected, consisting of key informants, secondary informants and supporting informants, then interviewed. Methods of data collection include steps of observation, interviews, and documentation. Techniques of data analysis, as proposed by Glaser and Strauss, consist of data reduction, data categorization, researcher synthesis, data validity, and conclusions and suggestions. Data verification uses triangulation, with source triangulation techniques. The result showed that the use of local wisdom-based lurik shawls must be worn by employees of government agencies, encouraging efforts to strengthen cultural identity strategies in Klaten Regency. In addition, there is the concept of embeddedness between the economy of lurik Micro small and Medium Enterprises (UMKM) and the socio-cultural aspects.Keywords: Lurik, Cultural Identity, Local wisdom, Government Agency, Embeddedness. AbstrakStudi ini bertujuan mengkaji pemaknaan penggunaan selendang lurik yang wajib dikenakan oleh pegawai instansi pemerintahan di Kabupaten Klaten, sebagai implementasi kearifan lokal, yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten tentang Pemakaian Atribut Pakaian Dinas pada tanggal 21 Oktober 2019. Penggunaan selendang lurik sebagai kearifan lokal merupakan kebijakan baru yang mulai resmi diberlakukan tanggal 6 November 2019. Selendang lurik sebagai atribut pakaian dinas wajib dikenakan pada setiap hari Rabu oleh pegawai instansi pemerintahan di Kabupaten Klaten. Penelitian ini dikaji dengan metode penelitian kualitatif jenis penelitian deskriptif, serta didukung dengan strategi pendekatan fenomenologi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini 10 informan terpilih, yang meliputi kategorisasi informan kunci, informan sekunder dan informan pendukung, kemudian keseluruhan informan diwawancarai secara mendalam. Teknik pengumpulan data melalui kegiatan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisa data, berdasarkan konsep yang disampaikan oleh Glaser dan Strauss, terdiri dari reduksi data, kategorisasi data, sintesisasi peneliti, keabsahan data, serta kesimpulan dan saran. Verifikasi data menggunakan teknik triangulasi sumber. Temuan menunjukkan penggunaan selendang lurik berbasis kearifan lokal yang wajib dikenakan oleh pegawai instansi pemerintahan, mendorong upaya strategi penguatan identitas kultural di Kabupaten Klaten. Selain itu, adanya konsep ketertambatan antara perekonomian UMKM lurik dengan aspek sosial budaya.Kata kunci: Selendang lurik, Kearifan Lokal, Identitas Kultural, Strategi penguatan, Ketertambatan.
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBUKA NON HIJAU SEBAGAI REPRESENTASI RUANG SOSIAL DI KAWASAN KUMUH (STUDI WILAYAH PANCURAN KOTA SALATIGA) Septi Anggi Prawesti; Daru Purnomo; Suryo Sakti Hadiwijoyo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus Sosiologi Perkotaan
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.47638

Abstract

The increased the number of population leads to imbalanced space and the stress effect on space makes the open space narrower, so that the area develops dirtiness. The narrow space availability occurs in Pancuran area, Salatiga City, Central Java, Indonesia. As the solution to the narrow space, a non-green open space has been constructed in Pancuran area in 2018 in the form of a landmark called Zero Point. This research aimed to analyze the form of non-green open space utilization in Pancuran slum areas. Henry Lefebvre's theory of spatial production which consists of spatial practice, spatial representation, and space representation will be an analytical tool to explain the phenomenon of the slum area. This study used a qualitative method with a case study approach and primary and secondary data sources. The data collection technique was carried out using observation, interview, and documentation. The data analysis technique used is to sort the data, explain the data and draw conclusions. The result of the research showed that (1) the form of non-green open space (Zero Point) utilization as the representation of social space in Pancuran slum area is currently limited to the playground area for children, stopover place for the visitors coming into Pancuran area, and photographing area; (2) the social space constructed in Zero Point is the result of children’s playing activity process, in turn making the space alive; (3) Zero Point can be said as an icon or symbol that can change Pancuran slum area into the organized and quality modern village one. Keywords: Non-Green Open Space, Space Representation, Social Space, Slum Area. AbstrakPeningkatan jumlah penduduk menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ruang dan efek tekanan terhadap ruang mengakibatkan ketersediaan ruang terbuka semakin sempit sehingga wilayah mengalami kekumuhan. Sempitnya ketersediaan ruang tersebut terjadi di wilayah Pancuran, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia. Solusi dari sempitnya ruang, pada tahun 2018 di wilayah Pancuran telah dibangun sebuah ruang terbuka non hijau berupa landmark yang diberi nama Zero Point. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pemanfaatan ruang terbuka non hijau di kawasan kumuh Pancuran. Teori produksi ruang dari Henry Lefebvre yang terdiri atas praktik spasial, representasi ruang dan ruang representasi akan menjadi alat analisis untuk menjelaskan fenomena kawasan kumuh tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta dengan pengambilan sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara serta dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah memilah data, memaparkan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bahwa (1) bentuk pemanfaatan ruang terbuka non hijau (Zero Point) sebagai representasi ruang sosial di kawasan kumuh Pancuran saat ini sebatas digunakan sebagai wilayah aktivitas bermain anak-anak, tempat singgah bagi pengunjung yang memasuki wilayah Pancuran serta menjadi area berfoto, (2) ruang sosial yang terbentuk di Zero Point merupakan hasil dari proses aktivitas bermain anak-anak yang akhirnya menjadikan ruang tersebut hidup, (3) Zero Point       bisa dikatakan sebagai simbol yang mampu merubah wilayah kumuh Pancuran menjadi wilayah kampung modern yang tertata dan berkualitas. Kata Kunci: Kawasan Kumuh, Representasi Ruang, Ruang Sosial, Ruang Terbuka Non Hijau.
SOCIAL CAPITAL AND RESOURCE MOBILIZATION DURING PANDEMIC: INSIGHT FROM JOGO TONGGO PROGRAM IN CENTRAL JAVA Retna Hanani; Amni Zarkasyi Rahman; Yuliana Kristanto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus ICOSAPS "Strengthening Resilient Society in the Disruptive Era"
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.46207

Abstract

The impacts of the Covid19 pandemic are not only limited to the health sector. It also affects economic growth and more importantly our social fabrics. Due to its extensive impacts, governments especially in low-middle-income countries are facing tremendous challenges in mitigating covid19. In Indonesia, the government’s efforts in mitigating the impact of covid19 have been criticized for being inadequate, ineffective, and too late. The number of covid19 victims has surpassed 70,000 cases and economic growth is contracted significantly. One important element of the government’s effort during the pandemic is mobilizing social capital to support the government’s efforts. Theoretically, community-based activities and mobilization of social capital during outbreaks are positive attributes. The emergence of volunteers and mutual aid initiatives are generally considered good examples of social capital mobilization. However, this article highlights a different angle to the relationship between social capital, community-based resource mobilization, and the pandemic. Looking at the implementation of the Jogo Tonggo program in Central Java, we argue that state mobilization does not always lead to positive resource mobilization in coping with the impact of covid19. We employ discourse network analysis to examine the implementation of the Jogo Tonggo program through news from a local newspaper in Central Java. From our research, we argue that despite the ambitious vision of Jogo Tonggo, it does not appear to be the main discourse at the societal level. Moreover, much of the implementation of the Jogo Tonggo program is top-down and does not invoke a deep level of participation from the community. Keywords: social capital, resiliency, covid19, Jogo tonggo AbstrakDampak pandemi covid19 tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan yang lebih penting adalah tatanan sosial kita. Karena dampaknya yang luas, pemerintah terutama di negara berpenghasilan menengah ke bawah menghadapi tantangan yang luar biasa dalam menanggulangi COVID19. Di Indonesia misalnya, upaya pemerintah dalam menanggulangi dampak Covid19 dikritik karena kurang memadai, tidak efektif dan terlambat. Jumlah korban covid19 telah melampaui 70.000 kasus dan pertumbuhan ekonomi menurun secara signifikan. Salah satu elemen penting dari upaya pemerintah selama pandemi adalah memobilisasi komunitas untuk mendukung upaya pemerintah. Secara teoritis aktivitas berbasis komunitas dan mobilisasi modal sosial selama wabah adalah atribut positif. Munculnya relawan dan inisiatif gotong royong umumnya dianggap sebagai contoh yang baik dari mobilisasi modal sosial. Namun, artikel ini menyoroti sudut pandang yang berbeda tentang hubungan antara modal sosial, mobilisasi sumber daya berbasis komunitas, dan pandemi. Melihat implementasi program Jogo Tonggo di Jawa Tengah, kami berpendapat bahwa mobilisasi negara tidak selalu mengarah pada mobilisasi sumber daya yang positif dalam mengatasi dampak COVID-19. Kami menggunakan discourse analysis network (DNA) untuk mengkaji implementasi program Jogo Tonggo melalui berita dari koran lokal di Jawa Tengah. Dari penelitian kami, kami berpendapat bahwa terlepas dari visi Jogo Tonggo yang ambisius, program ini tampaknya tidak menjadi wacana utama di tingkat masyarakat. Terlebih lagi, banyak pelaksanaan program Jogo Tonggo yang top down dan tidak melibatkan partisipasi masyarakat. Kata Kunci: modal sosial, ketahanan, covid19, jogo tonggo