cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
PENGORGANISASIAN KELOMPOK TANI DALAM MEMPERJUANGKAN PERHUTANAN SOSIAL (STUDI KASUS PENGORGANISASIAN STAM DI DESA MENTASAN, KECAMATAN KAWUNGANTEN, KABUPATEN CILACAP) Titin Marliyana
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.41369

Abstract

Forest can be considered as rich natural resources, but many people who lives near the forest is living in poverty because of agrarian conflicts and wrong management of the forest by Perhutani. StaM organized farmers group to resolve the agrarian conflicts in Cilacap regency. Mantesan village experiences some problems with Perhutani, and STaM conducts assistancing program by proposing Social Forestry. From the explanation above, researcher wants to investigate the motivation of StaM doing the organizing program, how the organizing program is carried, and the difficulty in carrying the organizing program. Social Movement theory from Tarrow is used to investigate the organizing program which can be a social movement. Qualitative study with case study approach is conducted to answer the research questions. Research partcipants are selected by using purposive sampling method. The data in this research will be collected through interview and supporting documment. Technique of data collection will be conducted through observation, interview, and docummentation. The data validity will be tested by carrying out triangualtion of data source and data analysis of Miles and Huberman interactive model.The results of the research reveal that the need of the farmer is causing certain behaviour which lead them to form farmers group to fullfill the farmers’ need. Organizing program is carried out to fight the powerless farmer to create some changes for the farmer can adapt to resolve their problems. Organizing program is carried out because there are problem and potential solution, intervention to the direction of change, and people who involved in intervention. To carry out Organizing Program, StaM considers the principle, the model, the media and the procedure of organising. The difficulties found in this research are agrarian reformation issue which become the sensitive issue, farmers group who’s experiencing burnout, the lack of cooperativeness from the government, and the lack of respond from the society to change.Keywords: Agrarian Conflict, Community Organizing, Social Forestry.AbstrakHutan merupakan sumber daya alam tergolong kaya, namun banyak masyarakat sekitar hutan dalam kategori miskin akibat adanya konflik agraria dan pengelolaan hutan yang salah oleh Perhutani. STaM melakukan pengorganisasian pada kelompok tani untuk menyelesaikan konflik agraria di Kabupaten Cilacap. Desa Mentasan mengalami konflik dengan perhutani dan STaM melakukan pendampingan dengan mengusulkan perhutanan sosial. Peneliti ingin mengetahui motivasi STaM melakukan pengorganisasian, bagaimana pengorganisasian dilakukan, dan kendala yang dihadapi dalam melakukan pegorganisasian. Teori gerakan sosial dari Tarrow digunakan untuk melihat pengorganisasian yang dilakukan menjadi sebuah gerakan sosial. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Infoman penelitian ditentukan melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara langsung dan dokumen pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data melalui teknik triangulasi sumber dan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kebutuhan petani, menyebabkan tingkah laku untuk membentuk kelompok tani dengan tujuan memenuhi kebutuhan petani. Pengorganisasian dilakukan untuk melawan ketidakberdayaan petani guna menciptakan perubahan agar petani mampu beradaptasi menghadapi permasalahannya. Pengorganisasian dilakukan karena adanya persoalan dan potensi penyelesaian, intervesi ke arah perubahan, dan pihak yang terlibat dalam intervensi. Dalam melakukan pengorganisasian, STaM mempertimbangkan prinsip pengorganisasian, bentuk model dan media pengorganisasian, dan langkah-langkah maupun tahapan pengorganisasian. Kendala yang dihadapi yaitu isu reforma agraria merupakan isu yang sangat sensitif, kelompok tani mengalami kejenuhan, kurangnya kerjasama dari aktor-aktor pemerintahan, dan kurangnya respon dari masyarakat untuk menuju perubahan.Kata kunci: Konflik Agraria, Pengorganisasian Masyarakat, Perhutanan Sosial.
PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA JEKAWAL KABUPATEN SRAGEN DI ERA PANDEMI COVID-19 Arima Andhika Ayu; Royke Roberth Siahainenia; Elly Esra Kudubun
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.43738

Abstract

Village is the smallest administrative area in Indonesia that has an autonomous government and is given the authority to manage all government affairs (Law No. 6 of 2014) regarding villages. Jekawal Village receives village funds to prioritize, its use in increasing empowerment and dealing with unexpected disasters, such as Covid-19 pandemic. The purpose is determine the priority of village fund-spend in improving community and emergency respon’s village to Covid-19 pandemic era in 2020 fiscal year. This study used a qualitative-descriptive method. Techniques of data collections are from observation, interviews, and literature study. This research is analising to data reductions, data presentations, and found the conclusions. The research’s use structural-functional theory "AGIL" from Tallcot Parsons. And the results are shows that each village received village funds, that is Jekawal village that the village funds were prioritized for community empowerment and emergency response to village in the Covid-19 pandemic era.Keywords: Priority Of Village Funds Spend, Community Development, Covid-19 Emergency Response. AbstrakDesa merupakan wilayah administrasi terkecil di Indonesia yang memiliki pemerintahan otonom dan diberikan kewenangan untuk mengurusi mengatur semua urusan pemerintahan (Undang-Undang No. 6 tahun 2014) tentang desa. Desa Jekawal mendapatkan bantuan dana desa untuk memprioritaskan penggunaan dalam meningkatkan pemberdayaan dan menangani bencana yang tak terduga, seperti saat ini di era pandemi covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prioritas penggunaan dana desa dalam pemberdayaan masyarakat dan tanggap darurat desa di era pandemi covid-19 tahun anggaran 2020. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif, teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian membuktikan setiap desa mendapatkan dana desa salah satunya Desa Jekawal dimana dana desa dalam prioritas penggunaan untuk pemberdayaan masyarakat dan tanggap darurat dana desa di era pandemi covid-19 dengan penggunaan teori struktural fungsional “AGIL” dari Tallcot Parsons.Kata Kunci : Prioritas Penggunaan Dana Desa; Pemberdayaan Masyarakat; Tanggap Darurat Covid-19.
TAHAP PEMBERDAYAAN KAMPUNG WISATA BERBASIS POTENSI DAN KEARIFAN LOKAL Siti Zunariyah; Akhmad Ramdhon; Argyo Demartoto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.50331

Abstract

Tourism sector has grown to be the superior one with the fastest growth in the world and has been a locomotive of economic growth. Setabelan, Surakarta attempts to develop a culture and locality-based tourism village. This action research aims to analyze the process of empowering villagers conducted in participative manner by involving stakeholders with Friedman’s community empowerment theory. The result of research shows that community empowering process was conducted through the stage of producing citizens’ knowledge on village’s history, potency, need, and problem. The result of knowledge production was used as the data to design workshop to citizens through Focus Group Discussion (FGD) mechanism. A series of workshops have been implemented because people have interest in packaging the village’s cultural potency as tourist attraction. Citizens’ cultural potency was packaged in the forms of village profile book, village diary, documentary video, village sketch, Open Street Map (OSM) and infographic published through website and social media in order to be accessible broadly. Thus, empowering village through the potency owned in cultural context will provide knowledge, belief, understanding, and custom or habit or ethics guiding human behavior in living within its community.  Keywords: Empowerment, Tourism Village, Culture and Locality AbstrakSektor pariwisata telah tumbuh menjadi sektor unggulan dengan pertumbuhan tersepat di dunia dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi. Setabelan, Surakarta berupaya mengembangkan kampung wisata berbasis budaya dan lokalitas. Action research ini bertujuan untuk menganalisa proses pemberdayaan warga kampung yang dilakukan secara partisipatif dan melibatkan para stakeholders dengan teori pemberdayaan masyarakat dari Friedman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui tahap produksi pengetahuan warga tentang sejarah, potensi, kebutuhan dan problem kampung. Hasil produksi pengetahuan digunakan sebagai data untuk merancang workshop bagi warga melalui mekanisme Focus Group Discussion (FGD). Rangkaian workshop terlaksana karena masyarakat punya kepentingan untuk mengemas potensi budaya kampung sebagai daya tarik wisata.  Potensi budaya warga dikemas dalam bentuk buku profil kampung, diary kampung, video dokumenter, sketsa kampung, peta Open Street Map (OSM) maupun infografis dipublikasikan melalui website dan media sosial agar dapat diakses secara luas. Dengan demikian memberdayakan kampung melalui potensi yang dimiliki dalam konteks budaya   akan memberi bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman  serta  adat  kebiasaan  atau  etika  yang menuntun  perilaku  manusia  dalam  kehidupan  di  dalam  komunitasnyaKata kunci: Pemberdayaan, Kampung Wisata, Budaya dan Lokalitas
DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA KOMUNITAS PENGRAJIN PURUN (ELEOCHARIS DULCIS) DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, PROVINSI SUMATERA SELATAN, INDONESIA Ulfa Sevia Azni; Alfitri Alfitri; Yunindyawati Yunindyawati; Riswani Riswani
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.50433

Abstract

COVID-19 does not only have an impact on the health side. But it also has an impact on the MSME communities in Indonesia. This study aims to determine the impact of the COVID-19 pandemic on the rural community of Purun craftsmen. This research is qualitative research using the method of observation and in-depth interviews. The findings or results obtained from the impact of COVID-19 on Purun craftsmen caused changes in turnover, decreased orders and income, as well as other obstacles related to business activities such as disrupted production processes and hampered marketing and distribution activities. However, some of the craftsmen affected by the COVID-19 pandemic are still trying to maintain production and others are trying to shift their activities to other types of businesses in order to keep earning income. With the impact of the pandemic being so intensely felt, the community of Purun craftsmen has the opportunity and hope for cooperation from the government and the private sector in establishing an appropriate institutional framework for skills development during the recovery period, assisting the cost and process of making technology infrastructure to facilitate the work of Purun craftsmen, as well as a platform digital for people to promote online sales. Sociologically, the COVID-19 pandemic on Purun craftsmen in rural peatlands can be said to experience the social vulnerability that can cause community social changes, disrupt livelihoods, and community economic resilience. Keywords: Eleocharis dulcis, Purun, Purun crafters, COVID-19. AbstrakCOVID-19 ternyata tidak hanya berdampak pada sisi kesehatan saja. Namun juga berdampak pada komunitas-komunitas UMKM di Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pandemi COVID-19 pada komunitas pengrajin purun di perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam. Adapun temuan atau hasil yang diperoleh dari dampak COVID-19 pada pengrajin purun menyebabkan adanya perubahan omset, penurunan order dan pendapatan, serta kendala lain terkait dengan kegiatan usaha seperti proses produksi yang terganggu dan kegiatan pemasaran dan distribusi yang terhambat. Namun sebagian dari pengrajin yang terdampak oleh pandemi COVID-19 ini tetap berusaha untuk mempertahankan produksi dan sebagian lain berusaha untuk mengalihkan kegiatan ke jenis usaha lain agar tetap mendapatkan penghasilan. Dengan dampak pandemi yang begitu sangat dirasakan, komunitas pengrajin purun memiliki peluang serta harapan kerjasama dari pemerintah dan sektor swasta dalam menetapkan kerangka kerja kelembagaan yang sesuai untuk pengembangan keterampilan selama masa pemulihan, membantu biaya dan proses pembuatan infrastruktur teknologi untuk mempermudah pekerjaan pengrajin purun, serta platform digital bagi masyarakat untuk mempromosikan penjualan secara online. Secara sosiologis, pandemi COVID-19 pada pengrajin purun di lahan gambut perdesaan dapat dikatakan mengalami kerentanan sosial yang dapat menyebabkan perubahan sosial komunitas, menganggu mata pencaharian, serta ketahanan ekonomi komunitas. Kata Kunci: Eleocharis dulcis, Pengrajin Purun, COVID-19.
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN: GRAFITI GUA JATIJAJAR SEBAGAI DAYA TARIK WISATA GUA Hindarto, Teguh; Ansori, Chusni
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.51096

Abstract

Since 1975, Jatijajar Cave has undergone a redesign of the area and has been introduced as a public tourism property owned by the Kebumen Regency Government. In addition to the geological aspect which is the selling point of the existence of this cave, there are historical values and sociological values found on the cave walls in the form of handwriting (graffiti) from the colonial to post-colonial periods. If the caves generally contain symbolic images in the cave walls, the walls of the Jatijajar Cave show their unique characteristics in the form of handwriting containing descriptions of names and years of writing from 1816-1974. This study focuses on analyzing the social status of cave visitors through graffiti trails in the form of names and the period of the year they write with the aim of being a guide material for cave tourism (cave tourism). This study uses a qualitative method using sociological analysis tools which include the sociology of language, structural sociology, tourism sociology and sign semiotics with the aim of a comprehensive picture of the existence of Jatijajar Cave graffiti from several aspects, namely historical and geological and especially sociological. The choice of qualitative method is also related to the pandemic situation which causes the absence of sources to be interviewed, both traders, guards, visitors and related sources. The final result of this research becomes a recommendation for relevant parties, especially tourism stakeholders in Kebumen Regency to make Jatijajar Cave graffiti as a historical text and an attraction for the development of cave tourism (cave tourism) as part of tourism with sustainable goals (SDG's). Keywords: Historical Text, Tourist Attraction, Graffiti Text Meaning, Cave Tourism, Sustainable Tourism Abstrak: Sejak tahun 1975, Gua Jatijajar mengalami penataan ulang desain kawasan dan mulai diperkenalkan sebagai wisata publik milik Pemerintahan Daerah Kabupaten Kebumen. Selain aspek geologis yang menjadi nilai jual keberadaan gua ini terdapat nilai sejarah dan nilai sosiologis yang terdapat pada dinding gua berupa tulisan tangan (grafiti) dari periode kolonial hingga pasca kolonial. Jika gua-gua pada umumnya berisikan gambar simbolik di dalam dinding guanya maka dinding Gua Jatijajar memperlihatkan keunikan karakteristiknya berupa tulisan tangan berisikan keterangan nama dan tahun penulisan dari tahun 1816-1974. Tulisan tangan berisikan keterangan nama dan tahun penulisan dari tahun 1816-1974. Penelitian ini memfokuskan menganalisis status sosial pengunjung gua melalui jejak grafiti berupa nama dan periode tahun mereka menuliskan dengan tujuan sebagai materi panduan pariwisata gua (cave tourism). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan perangkat analisis sosiologis yang meliputi sosiologi bahasa, sosiologi struktural, sosiologi pariwisata serta semiotika tanda dengan tujuan gambaran menyeluruh mengenai keberadaan grafiti Gua Jatijajar dari beberapa aspek yaitu historis dan geologis serta khususnya sosiologis. Pilihan metode kualitatif berkaitan pula dengan situasi pandemi yang menyebabkan ketiadaan narasumber untuk diwawancarai baik pedagang, petugas penjaga, pengunjung dan sumber terkait. Hasil akhir penelitian ini menjadi sebuah rekomendasi bagi pihak-pihak terkait khususnya pemangku kepentingan pariwisata di Kabupaten Kebumen untuk menjadikan grafiti Gua Jatijajar sebagai teks historis dan daya tarik pengembangan pariwasata gua (cave tourism) sebagai bagian dari pariwisata dengan tujuan berkelanjutan (SDG’s) Kata Kunci: Teks Historis, Daya Tarik Wisata, Makna Teks Grafiti, Pariwisata Gua, Pariwisata Berkelanjutan
INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DAN KONSERVASI MASYARAKAT SEKITAR DESA PENYANGGA TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Setiawan, Eko; Triyanto, Joko
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.51888

Abstract

This research describes the lives of the people around the buffer village of Alas Purwo National Park, Kalipait Village. Traditional communities have local wisdom in the form of a number of traditions, rules and restrictions that still apply for generations. This local wisdom has the value of ecological intelligence that is maintained and developed about the relationship of human activities with its ecosystems. Local wisdom owned by traditional communities is used as a reference in the management of forest areas and coastal waters, both in the form of myths and abstinence. The center of attention of ecological studies according to Julian Steward is the process of cultural adaptation to the environment, by instilling values contained in local culture. This process is seen as a form of dialectical relationship in the context of inter-influencing relationships with others. The type of research used is qualitative descriptive with case study design. Analysis of social change will be adapted to Talcott Parsons' AGIL theory. The results showed that, the community around the Alas Purwo National Park area has local wisdom in the form of a number of traditions in the form of rules, abstinence that still applies for generations which is then maintained and adhered to until now. The abstinence is in the form of a ban on killing peacocks and abstinence in the payang system. The ecological value contained in local wisdom can help human awareness in environmental management so as to shape ecological attitudes.  Keywords: Local Wisdom, Conservation, Alas Purwo National Park AbstrakAbstrakPenelitian ini menggambarkan kehidupan masyarakat sekitar desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo, Desa Kalipait. Masyarakat tradisional memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi, aturan maupun pantangan yang masih berlaku secara turun temurun. Kearifan lokal yang tersebut memiliki nilai kecerdasan ekologis yang dipelihara dan dikembangkan tentang hubungan aktivitas manusia dengan ekosistemnya. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat tradisional digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan kawasan hutan dan perairan pantai, baik berupa mitos maupun pantangan. Pusat perhatian dari kajian ekologi menurut Julian Steward adalah proses adaptasi kultural terhadap lingkungan, dengan menanamkan nilai yang terkandung dalam budaya lokal. Proses ini dipandang sebagai suatu bentuk hubungan dialektika dalam konteks hubungan saling mempengaruhi dengan yang lain. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Analisis terhadap perubahan sosial akan disesuaikan dengan teori AGIL Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Alas Purwo memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi berupa aturan, pantangan yang masih berlaku secara turun temurun yang kemudian dipelihara dan ditaati sampai sekarang. Pantangan tersebut berupa larangan membunuh burung merak serta pantangan dalam sistem payang. Nilai ekologis yang terkandung dalam kearifan lokal dapat membantu kesadaran manusia dalam pengelolaan lingkungan sehingga membentuk sikap ekologisKata Kunci: Kearifan Lokal, Konservasi, Taman Nasional Alas Purwo.
KESENJANGAN DIGITAL PADA KELUARGA JAWA DI KABUPATEN WONOSOBO Lawang, Robert Markus Zaka; Meilani, Nur Laila; Puteri, Bunga Pertiwi Tontowi; Ekoriano, Mario
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.50502

Abstract

Advances in digital technology often have a negative impact on the quality of relationships between parents and children, especially adolescents in the family. The study aims to describe the responses of parents and adolescents in responding toward the digital divide in the javanese family structure. Theoretically, the digital divide is approached through Bourdieu's constructivism framework with the concept of digital capital as one of its derivatives. This study uses a quantitative descriptive approach. The survey of 225 parents and 225 adolescents in Kretek and Wonosobo sub-districts, in Wonosobo regency, was conducted using installed structured questionnaire in the Open Data Kit / ODK platform. Focus Group Discussion was conducted to further explore the survey findings. The results show that the digital divide in the family has fostered a culture of "solitude" for Z-generation adolescents who can "isolate" their parents who are not familiar with digital technology. Therefore, a collective-based approach is an option that can be considered to reduce the risk of the digital divide Keywords: Family, Digital Divide, Parents Adolescent, Java AbstrakKemajuan teknologi digital seringkali membawa dampak negatif terhadap kualitas hubungan orang tua dengan anak khususnya anak remaja dalam keluarga. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan respon orang tua dan anak remaja dalam menyikapi adanya kesenjangan digital pada struktur keluarga Jawa. Secara teoretis, kesenjangan digital (digital divide) didekati melalui kerangka konstruktivisme Bourdieu. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Survei terhadap 225 orang tua dan 225 anak remaja di Kecamatan Kretek dan Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang di-install dalam Open Data Kit/ODK platform. Focus Group Discussion/FGD dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut atas temuan hasil survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan digital dalam keluarga telah menumbuhkan budaya “kesendirian” kaum remaja generasi Z atau generasi alpha yang serta merta dapat “menyendirikan” orang tua mereka yang kurang terbiasa dengan teknologi digital. Oleh karena itu, pendekatan berbasis kolektif menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan untuk mereduksi risiko kesenjangan digital tersebut. Kata Kunci: Keluarga, Kesenjangan Digital, Orang Tua, Remaja, Jawa
DI BALIK REALITAS SEMU: STUDI KRITIS IDEOLOGI DAN KUASA POLITIK JAWA DI PEMILIHAN WALI KOTA SURAKARTA 2020 Muhammad Alif Alauddin; Rezza Dian Akbar
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.52534

Abstract

The role of ideology in political contestation reflects political spectrum hand-in-hand. In order to achieve the highest position of the power, there are many ways to impress individuals to preferably elect candidates which then leads to political orientation. This study attempts to explore the meaning of ideology and power which is constructed inward the people of Surakarta’s perspective in the 2020 Mayoral Election. The nature of research is interpretive qualitative through descriptive approach. Authors elaborate structuration theory proposed by Anthony Giddens in investigating power within the political orientation. This study likewise uses critical study technique to reveal the in-fact phenomenon beyond the interpretive does. In collecting the data, this study uses interviews, observations, and documentation studies of supporting literature. The selected informants are divided into two groups; political elite of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) and the Prosperous Justice Party (PKS) as well as the individuals. Surakarta city is the location of this study with all sub-districts are taken by each one person as an informant of the whole population. The results of this study are divided into two major parts; 1) the meaning of ideology remains infiltrated in the people of Surakarta City which is represented by the Pancasilaist group, Gibran Rakabuming Raka is manifested as Joko Widodo, and the political orientation of the community is formed due to the strong social capital of the party thus further reconstruct the preferences of voters, 2) critical studies conceives party has been only sheltering in false consciousness of ideology and society interprets ideology in partial way. To conclude, authors define that circumstance as an ideological manipulation through political interests and pseudo-use of Javanese power as it describes symbolic glorification of individuals Keywords: Political Ideology, Javanese Power, Pseudo Reality, Political Orientation, Surakarta Mayoral Election 2020 AbstrakPeranan ideologi dalam kehidupan berpolitik merupakan pergelaran wajib bagi setiap spektrum politik. Demi mencapai pucuk kekuasaan tertinggi, berbagai cara untuk menarik minat masyarakat untuk memilih calon sangat gentar dilancarkan yang kemudian mengarahkan kepada orientasi politik. Studi ini mencoba menggali makna ideologi dan kekuasaan yang terkonstruksi di masyarakat Kota Surakarta selama Pemilihan Wali Kota 2020. Dengan desain penelitian berupa kualitatif interpretif melalui pendekatan deskriptif, penulis mengelaborasi teori strukturasi yang digagas oleh Anthony Giddens. Studi ini juga menggunakan studi kritis untuk menggali fenomena di balik data interpretif. Dalam mengambil data, penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi berupa literatur pendukung. Informan yang dipilih dibagi menjadi dua kelompok yaitu elit politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan juga masyarakat umum. Kota Surakarta merupakan tempat pengambilan lokasi penelitian ini dengan seluruh kecamatan peneliti ambil masing-masing satu orang sebagai informan masyarakat umum. Selain itu, studi ini juga menggunakan telaah kritis dari pemaknaan ideologi dan kekuasaan yang dibayangkan oleh masyarakat. Hasil penelitian ini terbagi menjadi dua bagian besar; 1) pemaknaan ideologi masih sangat mengakar di masyarakat Kota Surakarta yang dalam ini diwakilkan oleh kelompok Pancasilais, Gibran Rakabuming Raka dimanifestasikan sebagai Joko Widodo, dan orientasi politik masyarakat terbentuk akibat kuatnya modal sosial partai sehingga merekonstruksi preferensi pilihan konstituen, 2) studi kritis melihatnya bahwa partai selama ini hanya berlindung dalam selimut ideologi dan masyarakat memaknai ideologi secara parsial. Sebagai kesimpulan, penulis mendefinisikan keadaan itu sebagai manipulasi ideologis melalui kepentingan politik dan penggunaan kekuasaan Jawa secara semu karena menggambarkan pengagungan simbolis terhadap individu.Kata Kunci: Ideologi Politik, Kuasa Jawa, Kesadaran Semu, Orientasi Politik, Pemilihan Wali Kota Surakarta 2020
DECONSTRUCTION OF HEALTH PROTOCOL IMPLEMENTATION AS AN ATTEMPT OF PREVENTING COVID-19 IN SURAKARTA Argyo Demartoto; Siti Zunariyah; Sri Hilmi Pujihartati
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.54076

Abstract

Health protocol implementation is the front guard in preventing Coronavirus Disease (Covid-19). Community behavior habituation to wear mask, wash hand using soap under flowing water and social distancing is expected to be the culture in community and society life, so that Covid-19 pandemic can be controlled. This research aims to deconstruct a variety of measures in health protocol implementation as an attempt of preventing Covid-19 in Surakarta Indonesia. This research with explorative approach employed purposive sampling technique. Informants of research were Surakarta people, Head of Surakarta City’s Health Office (DKK), Head of Disease Control and Environmental Health Division of DKK of Surakarta, Chief Executive of Covid-19 Response Acceleration Task Force of Surakarta City, and pulmonologists and nurses in UNS Hospital of Surakarta. Primary and secondary data were collected through observation, in-depth interview, and documentation. Method and data source triangulations were used to validate data. Interactive model of analysis was used with Derrida’s Deconstruction theory. The result shows that people can be either disciplined or undisciplined in implementing health protocol. People have disciplined behavior because they are aware of positive effect of health protocol discipline on health. Thus, people attempt to be disciplined in wearing mask, washing hand, social distancing, avoiding crowd, and reducing mobility. However, people can be undisciplined as well, because they do not think of the health effect of health protocol discipline. People receive this pandemic condition and submit their fate to God. Meanwhile, the objective of Covid-19 prevention will not be achieved if people are undisciplined in implementing health protocol. Keywords: Social Deconstruction, Health Protocol, Covid-19 Prevention     AbstrakPenerapan protokol kesehatan menjadi garda terdepan dalam pencegahan Coronavirus Disease (Covid-19). Habituasi perilaku masyarakat untuk memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir dan menjaga jarak diharapkan membudaya dalam kehidupan komunitas dan masyarakat, sehingga pandemi Covid-19 dapat dikendalikan. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi berbagai langkah dalam penerapan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan Covid-19 di Surakarta Indonesia. Penelitian dengan pendekatan eksploratif ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat Surakarta, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan DKK Surakarta, Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta, serta Dokter Spesialis Paru dan perawat di RS UNS Surakarta. Data primer dan sekunder dikumpulkan dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Triangulasi metode dan sumber data untuk menguji validitas data. Interactive Model of Analysis menggunakan teori Dekonstruksi dari Derrida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat bisa disiplin dan tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat berperilaku disiplin karena mereka menyadari bahwa terdapat dampak positif bagi kesehatan dari kedisiplinan melaksanakan protokol kesehatan. Sehingga masyarakat berusaha untuk disiplin dalam melakukan kegiatan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Namun, masyarakat juga bisa menjadi tidak disiplin, dikarenakan mereka tidak memikirkan dampak kesehatan yang ditimbulkan dari kedisiplinan melakukan protokol kesehatan. Masyarakat berfikir untuk pasrah dan menerima keadaan pandemi ini dan menyerahkan takdirnya kepada Tuhan. Padahal apabila masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan maka tujuan pencegahan Covid-19 tidak tercapai. Kata Kunci: dekonstruksi sosial, protokol kesehatan, pencegahan Covid-19
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN PANGAN LOKAL DI MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN SUKOHARJO Trisni Utami; Argyo Demartoto; Bagus Haryono; Yuyun Sunesti; Rahesli Humsona
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i2.54788

Abstract

Pandemi Covid-19 makes the pattern of consumption of society changing, which in the beginning is accustomed to relying on the market as a place to get food, now the awareness of developing lokal food barns independently. The existence of lokal food barns helps increase food security and food diversification efforts. This study aims to examine the process of the formation of lokal food barns, examining what factors become supporters and inhibiting the formation of food barns, and examine the pattern of partnerships that have been built to cooperate in realizing lokal food barns. The method used in this study is qualitative. Data collection used with interviews and observations. The technique of determining the informant using purposive sampling. The findings obtained from this study indicate that local food barns were formed because of the awareness to fulfill the needs of vegetables and medicines during the pandemi, so they tried to grow both types of plants. This shared desire was formed through the formation of the Women Farmers Group (KWT). The inhibiting factor in the development of local food is the limited land that can be planted by residents and the supporting factor is the culture of togetherness and the value of mutual cooperation which is growing rapidly during the pandemi. Keywords: Food Diversification, Lokal Food Lumbung, Food Security AbstrakPandemi Covid-19 membuat pola konsumsi masyarakat berubah, yang pada mulanya terbiasa mengandalkan pasar sebagai tempat mendapatkan bahan pangan, kini mulai muncul kesadaran dengan mengembangkan lumbung pangan lokal secara mandiri. Adanya lumbung pangan lokal membantu meningkatkan upaya ketahanan pangan dan diversifikasi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses terbentuknya lumbung pangan lokal serta menelaah faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat terbentuknya lumbung pangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan dengan wawancara dan observasi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Hasil temuan yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa lumbung pangan lokal terbentuk karena adanya kesadaran untuk pemenuhan kebutuhan sayuran dan obat-obatan di masa pandemi sehingga berusaha menanam kedua jenis tanaman tersebut. Keinginan bersama tersebut terbentuk melalui pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT). Adapun faktor penghambat dalam pengembangan pangan lokal tersebut adalah terbatasnya lahan yang dapat ditanami oleh warga dan faktor pendukungnya adalah budaya kebersamaan dan nilai gotong royong yang tumbuh pesat dimasa pandemi. Kata Kunci: Diversifikasi Pangan, Lumbung Pangan Lokal, Ketahanan Pangan