cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TOTOBUANG
Published by Kantor Bahasa Maluku
ISSN : 23391154     EISSN : 25976184     DOI : -
Totobuang is a journal that publish results of research or conceptual idea in linguistics and literary studies, also aspects of teaching. Totobuang is published twice a year, on June and December. Totobuang editors accept article submission from researchers, experts, academician, and teachers of language and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 187 Documents
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA MEDIA MASSA DI KOTA AMBON [The Usage of Bahasa Indonesia on Mass Media at Ambon Town] Harlin Turiah
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.250

Abstract

The purpose of this research was not only to described about the mistake of good and proper Bahasa Indonesia, but also described the language situation and the cause of Bahasa Indonesia’s usage mistake on mass media at Ambon town. The research method was descriptive analysis. The result of research showed that 1) the mistake with preferences great number on printing mass media were found on spelling categorized worst, then diction categorized  bad enough, and  less mistake on sentence categorized good enough, 2) the mistake with preferences great number on electronic mass media were found on diction categorized good enough, then  spelling categorized good enough, and less mistake on sentence categorized excellent, 3) the mistake with preferences great number on online mass media were found on spelling categorized bad, then  diction categorized good enough, and less mistake on sentence categorized good, 4) the mistake of Bahasa Indonesia’ usage on mass media at Ambon town caused by a different the journalist ability, there was not language editor to sort out news, journalists were not from relevant course such as language or communication course, journalist did not know what they had written not fill on grammar of bahasa Indonesia, there was a news target deadline, sometimes communication that from news resource person was  complicated, and institution participation was not optimal yet.        Penelitian ini, selain bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar,  menggambarkan situasi kebahasaan, tetapi juga mengungkapkan penyebab terjadinya kesalahan penggunaan bahasa Indonesia pada media massa di Kota Ambon. Metode penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu memberi gambaran secara apa adanya tentang situasi kebahasaan pada media massa, kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, dan penyebab terjadinya penyimpangan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar pada media massa  di Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kesalahan dengan preferensi banyak pada media cetak terdapat pada ejaan yang  sangat buruk, kemudian diikuti bentuk dan pilihan kata kategori cukup buruk, dan  kesalahan sedikit pada kalimat  kategori cukup baik, 2) kesalahan dengan kecenderungan banyak  pada media elektronik terdapat pada bentuk dan pilihan kata kategori cukup baik, kemudian diikuti ejaan kategori cukup baik pula, dan kesalahan sedikit pada kalimat  kategori sangat baik, 3) kesalahan dengan preferensi banyak  pada media daring terdapat pada ejaan kategori buruk, kemudian bentuk dan pilihan kata kategori cukup baik, dan kalimat kategori baik, 4) penyebab terjadinya kesalahan penggunaan bahasa Indonesia pada media massa  dikarenakan kemampuan bahasa wartawan berbeda-beda, tidak ada redaktur bahasa yang menyortir naskah berita, wartawan tidak berasal dari jurusan yang berhubungan langsung dengan kebahasaan, tidak mengetahui bahwa apa yang ditulis tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia, adanya tenggat atau batas waktu target berita,  bahasa dari narasumber berita cenderung kompleks, dan partisipasi lembaga belum optimal.
PENERAPAN DAN KEMAMPUAN TEKNIK CERITA BERANTAI PADA PEMBELAJARAN MENCERITAKAN KEMBALI ISI FABEL [Application and Capability of Chain Relaxed Story Techniques in Learning Retelling the Fabel Contents] Ferdian Achsani
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.209

Abstract

Speaking skills still seem  a frightening specter for some students. Some of them aren’t brave and skill  to speak in front. Chain stories become one of the learning methods  used to improve students' speaking abilities. The final results  teach students how to be brave and skilled to speak in front. This descriptive qualitative research is designed to describe the application at onceits  final results of the chain story method through learning fable texts. This research was conducted in class VII E 1 Weru State Junior High School in February, with 29 students as a data sample. Data collection is done by observing students speak in front class. The results showed that the application of the serial story method  approving very well.  The final results  showed avalue of 89.5. Applying this method oflearning is also very easy. Itdoes not require a long preparation time.  Keterampilan berbicara tampaknya masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian peserta didik. Kebanyakan mereka belum terampil dan berani  untuk berbicara di depan kelas. Cerita berantai menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik. Hasil akhirnya mengajarkan siswa agar dapat berani dan terampil ketika berbicara di depan. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan sekaligus hasil akhir dari penerapan metode cerita berantai pada pembelajaran teks fabel. Penelitian ini dilakukan di kelas VII E SMP Negeri 1 Weru pada bulan Februari, dengan jumlah 29 siswa sebagai sampel data.  Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati siswa ketika berbicara di depan kelas.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode cerita berantai berjalan dengan sangat baik.  Hasil akhir  menunjukkan nilai 80.17.  Penerapan  metode pembelajaran ini  sangat mudah. Tidak membutuhkan waktu persiapan yang lama.
ANALISIS NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT MALUKU AIR TUKANG [The analysis of Cultural Value in Maluku’s Folklore Air Tukang] Helmina Kastanya
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.251

Abstract

The folklore of Air Tukang is one of the Maluku folktales categorized as a myth. This story was  interesting and had been made into a written manuscrip by Evi Olivia Kumbangsila as literacy material for children at the junior high school and published by the Language Development and Development Agency in 2016. The Maluku’s folklore of Air Tukang  tells  the story of seven angels contained abundance of cultural value. The depiction of several cultural aspects in this story wasso important  included the oral tradition of Maluku that has slowly being abandoned by its society owner. This research was a qualitative research used qualitative descriptive method. The data used was the text of Maluku’s folkloreAir Tukang. The key instrument in this study was the researcher himself. The data analysis technique usedwas the content analysis technique. The results showed that there were some cultural values founded, such as educational values, social values, and moral values. These cultural values are very beneficial for society. Cerita rakyat Air Tukang merupakan salah satu cerita rakyat Maluku yang dapat dikategorikan sebagai mitos. Cerita ini menarik dan telah dibuatkan naskah tertulisnya oleh Evi Olivia Kumbangsila sebagai bahan literasi bagi anak-anak di jenjang sekolah  menengah pertama dan diterbitkan oleh Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2016. Cerita rakyat Maluku Air Tukang yang mengisahkan tentang kehidupan tujuh bidadari ini sarat dengan nilai budaya di dalamnya. Penggambaran beberapa aspek kebudayaan dalam cerita ini sangat penting terutama terkait nilai-nilai budaya termasuk di dalamnya tentang tradisi lisan Maluku yang perlahan mulai ditinggalkan masyarakat pemiliknya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dangan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah teks cerita rakyat Maluku Air Tukang. Instrumen kunci di dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat nilai pendidikan, nilai sosial, dan nilai moral dalam cerita tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut sangat bermanfaat bagi  masyarakat.
KARAKTERISTIK SASTRA POPULER DALAM NOVEL METROPOP RESIGN! KARYA ALMIRA BASTARI [Popular Literature Characteristics in Metropop “Resign!” by Almira Bastari] Tania Intan
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.220

Abstract

Although popular literary works often considered lower value, they are  par with serious or canonical literary works as they become part of cultural products. Popular literature can be identified,  as  the theme, way of presentation, technique, language, and style because it follows the pattern  favoring by the reading society. This study aims to reveal the characteristics of popular literature in the metro pop novel entitled “Resign!” by Almira Bastari. The study used descriptive qualitative method, with an approach of sociology literature and  cultural studies. Collecting data were  through a documentation study. The theoretical foundations used included popular literary theories from Kaplan. The results showed that the novel “Resign!” correspondsto popular literary characteristics  contained light themes, urban-contemporary speech styles, repetition of the themes from other works, predictable plot, unrealistic characters, and a happy ending. All elements  also supported the office-romance theme that consists of fast-progressive plots, balanced characterizations between female and male protagonists, office setting, romance, and first-person perspective.    Meskipun kerap dianggap memiliki nilai yang lebih rendah, karya sastra populer berada pada posisi sejajar dengan karya sastra serius atau kanonik karena merupakan produk budaya. Sastra populer dapat diidentifikasi dari  tema, cara penyajian, teknik, bahasa, dan gaya, karena  mengikuti pola yang sedang digemari masyarakat pembacanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan karakteristik sastra populer di dalam novel metro pop “Resign!” karya Almira Bastari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif  dengan pendekatan sosiologi sastra dan kajian budaya. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. Landasan teoretis yang digunakan termasuk teori sastra populer dari Kaplan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel “Resign!” memenuhi karakteristik sastra populer yang meliputi: tema ringan, gaya tuturan urban-kontemporer, pengulangan tema dari karya lain, alur yang mudah ditebak, karakter tokoh yang tidak realistis, dan akhir cerita yang bahagia. Seluruh elemen  ini juga mendukung tema office-romance yang terdiri dari plot cepat-progresif, penokohan berimbang di antara protagonis perempuan dan laki-laki, latar cerita perkantoran, tema percintaan, dan sudut pandang orang pertama.  
TINDAK TUTUR IRONI DAN KELAKAR DALAM ACARA RUMPI DI TRANSTV: TINJAUAN PRAGMATIK [Action of Ironi and Jokes in Rumpi Program in Transtv: A Pragmatic Review] Nanik Handayani; Dewi Qhuril Malasari Ely
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.166

Abstract

Gossip is an interesting thing to discuss. To obtain the required information, the presenter must be able to rhyme and joke so the program  he was guiding will continue well. The purpose of this study was to describe the forms of irony and jokes in the Rumpi program on TransTV. This research used a descriptive qualitative method. The data source was a speech of the host and guest stars containing acts of irony and jokes. The data collection method used was the method of listening with note-taking techniques. The  discussion’s result  discoveredthe irony and joke acts on declarative hosts who often broke the award maximal. The acts of irony and jokes on guest stars were declaratively breaking the maximum quantity. The gap between irony and joke was when the speech spoken by a speaker could still be responded to by a speaker called Jokes.Orherwise, when the speech was not responded to by a speaker called ironic. Gosip merupakan hal yang menarik untuk dibahas. Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, pembawa acara harus mampu untuk berironi dan berkelakar agar acara yang dipandunya tetap berlangsung dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk ironi dan kelakar dalam acara Rumpi di TransTV. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah tuturan dari pembawa acara dan bintang tamu yang mengandung tindak ironi dan kelakar. Metode penggumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik catat dan rekam. Hasil dari pembahasan penelitian  ini adalah ditemukannya tindak tutur ironi dan kelakar pada pembawa acara yang bersifat deklaratif dan sering melanggar maksim penghargaan, sedangkan tindak ironi dan kelakar pada bintang tamu bersifat deklaratif yang melanggar maksin kuantitas. Adapun batasan antara ironi dan kelakar adalah bila tuturan yang diucapkan oleh penutur masih dapat ditanggapi oleh petutur, maka tuturan itu bersifat kelakar tetapi sebaliknya bila tuturan itu tidak respons oleh petutur maka tuturan itu bersifat ironi.
RELASI HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA AMBAI, ANSUS, DAN SERUI LAUT DI KEPULAUAN YAPEN [Relationship of Religion Relationship Ambai, Ansus, and Serui Laut Languages in Yapen Islands] Yohanis Joko Sanjoko
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.228

Abstract

This study examines the kinship relations of the Ambai, the Ansus, and the Serui Laut language spoken by people living in the Yapen Islands, Papua Province. These three languages are in the same archipelago, made it possible for the kinship of their  vocabulary. It was proven to document the three languages through language research. This study uses a quantitative approach with a lexicostatistic method  to describe the kinship relationship language among Ambai , the Ansus , and the Serui Laut language through a lexicostatistic way. The results showed that based on lexicostatistic calculations that the three languages related as a family of languages with a percentage of cognition that is between Ambai and Ansus by 57%, Ambai by Serui Laut by 67%, and Ansus by Serui Laut by 65%. While the separation time between Ambai and Ansus is estimated about 1,298 years ago, Ambai and Serui Laut were 963 years ago. Ansus and Serui sea were  994 years ago.Penelitian ini mengkaji tentang hubungan kekerabatan bahasa Ambai, Ansus, dan Serui Laut yang dituturkan oleh masyarakat di Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Ketiga bahasa ini berada di wilayah kepulauan yang sama sehingga memungkinkan adanya kekerabatan kosakata. Hal tersebut perlu dibuktikan dengan mendokumentasikan ketiga bahasa melalui penelitian kebahasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode leksikostatistik yang bertujuan mendiskripsikan hubungan kekerabatan bahasa Ambai, bahasa Ansus, dan bahasa Serui Laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bahasa tersebut masih berkerabat sebagai keluarga bahasa dengan persentase kekognatan, yakni antara bahasa Ambai dengan bahasa Ansus sebesar 57%, bahasa Ambai dengan bahasa Serui Laut sebesar 65%, dan bahasa Ansus dengan bahasa Serui Laut sebesar 66%. Sementara, waktu pisah antara bahasa Ambai dan bahasa Ansus diperkirakan 1.298 tahun yang lalu, bahasa Ambai dengan bahasa Serui Laut diperkirakan berpisah 994 tahun yang lalu, dan antara bahasa Ansus dan bahasa Serui laut diperkirakan berpisah sekitar 963 tahun yang lalu.
STATUS DAN PERAN PEREMPUAN DALAM NOVEL BELENGGU KARYA ARMIN PANE: REFLEKSI DAN OBSESI [Status and Role of Women in The Belenggu Novel Armin Pane's Works: Reflection and Obsession] Ninawati Syahrul
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.178

Abstract

The problem  studied in this study was how the status and role of women were reflected in the  Shackles’ novel? What weree the causes of problems?  how were to solve the problems experienced by women solved? This study aimed to describe and interpret the problems experienced by women related to their role in the review of feminism. This study uses a qualitative interpretive method of interpretation with a feminist approach. Analysis data came from the  literature study,the narrative text, and inter-figure dialogue in the novel Shackles. Data collection technique in the form of literature study by listening and recording the main issues e decomposed. Data analysis techniques used narrative analysis s. The results showed: First, the role of women was still limited to public and domestic space, such as as managers of women's organizations in public and the  household in domestic. Second, the issue of gender construction  harmed women. Third, the issue of women as the cause of differences in patriarchal culture  benefited men and gender construction. This issues also placeed women under dignity or not in line with men. Fourth the faint and subdued attitude of women to the problems  faced by escaping ?the messing life. Masalah yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana status dan peran perempuan yang terefleksi dalam novel Belenggu? Apa penyebab permasalahan ?  bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh perempuan? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan permasalahan yang dialami oleh perempuan terkait dengan perannya dengan tinjauan feminisme. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif interpretatif dengan pendekatan feminisme. Data analisis berasal dari studi pustaka, yakni  berupa teks narasi dan dialog antartokoh dalam novel Belenggu. Teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dengan cara menyimak dan mencatat pokok persoalan yang akan diurai. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis naratif. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, peran perempuan masih sebatas ruang publik dan domestik, seperti sebagai pengurus organisasi perempuan di bidang publik dan sebagai ibu rumah tangga di bidang domestik . Kedua, persoalan konstruksi gender yang merugikan pihak perempuan. Ketiga, permasalahan perempuan sebagai akibat perbedaan budaya patriarki yang menguntungkan laki-laki dan konstruksi gender yang menempatkan perempuan di bawah harkat atau tidak sejajar dengan laki-laki. Keempat, sikap perempuan yang lemahdan takluk terhadap permasalahan yang dihadapi dengan cara melarikan diri dari kemelut kehidupan.
KARAKTERISTIK DAN DISTRIBUSI FONEM BAHASA WOIRATA DI KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA [Language Characteristics and Distribution of Woirata Phonems in the District of Maluku Barat Daya] Erniati Erniati
TOTOBUANG Vol. 8 No. 2 (2020): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i2.246

Abstract

Woirata language is the only regional language in Maluku Province which belongs to the non-Austronesian family. It is spoken only in two villages, named Oirata Barat and Oirata Timur on Kisar Island. This study aimed to describe the phoneme distribution of the Woirata language. The research problem  describe the Woirata language phonemes into words. The method used in this research was  qualitative . The results of the research proved  the Woirata language has 19 segmental phonemes consisting of 14 consonant phonemes and five vocal phonemes. The vowel phonemes are / i /, / u /, / e /, / o /, and / a /. All of the five vowel phonemes were completely distributed. They infested all positions in  words, either at the beginning, middle, and end of the word. Meanwhile, the consonant phonemes of Woirata were 14. The phonemes, named: / p /, / t /, / d /, / k /, / m /, / n /, / s /, / r /, / h /, / l /, / w /, / y /, / G /, and /? /. The distribution of the fourteen consonant phonemes varied. Complete distribution of consonant phonemes infested all positions in  words, either at the beginning, middle and end of the word, named / p /, / t /, / k /, / m /, / n /, / s /, / r /, / h /, / l /, / w /, and / y /. Consonant phonemes infested the initial and middle positions of  words, named / d /, and / l /. while the consonant phonemes only infested the middle and back positions of  words, named /G /, and /? /. Bahasa Woirata merupakan satu-satunya bahasa daerah di Provinsi Maluku yang termasuk rumpun non Austronesia. Dituturkan hanya di dua desa yaitu Desa Oirata Barat dan Oirata Timur di Pulau Kisar. Masalah yang akan dibahas dalam  penelitian adalah bagaimana deskripsi fonem bahasa Woirata ke dalam kata. Tujuannya adalah mendeskripsikan fonem bahasa Woirata dan mendistribusikan fonem tersebut ke dalam kata.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa bahasa Woirata memiliki 19 buah fonem segmental yang terdiri atas 14 fonem konsonan dan lima buah fonem vocal. Fonem vokal tersebut, yaitu u /i/, /u/, /e/, /o/, dan /a/. Kelima fonem vokal tersebut, semuanya berdistribusi lengkap, yaitu menempati semua posisi dalam kata, baik pada posisi awal, tengah, dan akhir kata.  Fonem konsonan bahasa Woirata berjumlah 14 buah. Fonem-fonem tersebut, yaitu: /p/, /t/, /d/, /k/, /m/, /n/, /s/, /r/, /h/, /l/, /w/, /y/, /G/, dan /?/.  Distirbusi keempat belas fonem konsonan tersebut bervariasi. Fonem konsonan yang berdistribusi lengkap yang menempati semua posisi dalam kata, baik pada posisi awal, tengah, dan akhir kata, yaitu /p/, /t/,  /k/, /m/, /n/, /s/, /r/, /h/, /l/, /w/, dan /y/. Fonem konsonan yang menempati posisi awal dan tengah kata, yaitu /d/, dan /l/.  Fonem konsonan yang hanya menempati posisi tengah dan belakang kata, yaitu G/, dan /?/.
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PERMAINAN DENGAN MEDIA BAGAN TABEL DARI BARANG [Learning Indoneisan Using the Game Learning Model With Table Chart Media Of Used Goods] Wahyu Bagja Sulfemi; Tri Saptarini; Toni Heryadi
TOTOBUANG Vol. 9 No. 1 (2021): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i1.244

Abstract

This classroom action research is descriptive quantitative research conducted in class III Public Elementary School Kedunghalang 3, totaling 28 people consisting of 14 male students and 14 female students. This study aims to increase motivation, interest, and learning outcomes of participants in Indonesian subjects about antonyms by using the game method through table charts of used goods. In this study, two cycles of learning were carried out. Each cycle consists of planning, implementing, observing, and reflecting. The data collected in this study is quantitative in the form of student learning outcomes. In pre-cycle learning, the average grade was 59. Students who had completed 6 (21%) and 22 students (79%) had not. In the learning cycle 1, there were 11 students (39%) and 17 people who had not completed it (61%). Complete cycle 2 27 people (96%) and not yet 1 person (4%). The results of the analysis of this study indicate an increase in student learning outcomes starting from cycle 1 39% to 96% in cycle 2. The results of the study can be concluded that the use of the game method using table chart media from used goods can increase motivation, interest, and learning outcomes of studentsPenelitian tindakan kelas (PTK) ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang dilakukan di kelas III SDN Kedunghalang 3 yang berjumlah 31 orang peserta didik dan terdiri atas 15 orang laki-laki  dan 16 orang perempuan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar peserta didik pada saat prasiklus yang hanya mencapai rata-rata 64,6. 77,42% peserta didik tidak mencapai criteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 75. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, motivasi dan minat belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang antonim. Penggunaan metode permainan melalui media bagan tabel dari barang bekas dapat menaikan hasil belajar peserta didik pada siklus dua yang mencapai rerata 81,9 dan peserta didik yang tuntas mencapai 29 orang atau 94% serta meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik.Hal ini terlihat pada hasil pengamatan guru. 30 orang peserta atau  97%  dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Penggunaan model pembelajaran permainan dengan media bagan tabel dari barang bekas memberikan pengalaman nyata, berpikir kritis, kreatif dengan pemahaman tingkat tinggi peserta didik, pembelajaran terpusat pada peserta didik, menambah pengetahuan yang lebih bermakna dalam kehidupan yang nyata, terjadi perubahan prilaku peserta didik,  serta dalam pembelajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator 
UMPATAN DALAM BAHASA JAWA DAN BAHASA LAMPUNG: KAJIAN PRAGMATIK LINTAS BUDAYA [The Swearing Words in Javanese and Lampungic Language: A Study of Cross Culture Pragmatics] Tri Wahyuni; M Suryadi Suryadi
TOTOBUANG Vol. 9 No. 1 (2021): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i1.247

Abstract

Swearing words or curse are a part of the communication that exists in a language. Javanese and Lampung languagewhich live side by side in the Lampung region as one of the transmigration destinations are subjects of pragmatic which highlight the swearing words in non-formal communication. This article discusses swearing words in Javanese and Lampung in general. This qualitative descriptive study used the method of elicitation (used DCT) and agih by listening, note-taking technique, and interview. Prime data in form of both languages spoken by respondents. Secondary data in the form of studies that have been conducted become a starting point for studies in this article aimed at describing the types of Javanese and Lampung language swearing words and their functions in non-formal communication. Beside, the purpose of this article is uncovering the implicatures  of swearing words in the two languages which have difference  local tradition and comparing the structure of swearing words that are built up in the expressions of swearing words. After analyzing the data, the result shows that not all cursing came from the ten classifications  defined in two languages. The ten classifications show that curses in Javanese were more complex and varied, while curses in Lampung were limited to certain classifications. The implication of all swearing in two languages, both Javanese and Lampung, was an expression of resentment, anger, and disappointment. However, the use of cursing without reference implicates  the diverting conversation.     Umpatan atau sumpah serapah merupakan bagian dari komunikasi yang ada dalam sebuah bahasa. Bahasa Jawa dan bahasa Lampung—yang hidup berdampingan di wilayah Lampung sebagai salah satu daerah tujuan transmigrasi— menjadi objek kajian pragmatik yang menyoroti umpatan yang ada dalam komunikasi nonformal.  Artikel ini membahas umpatan dalam bahasa Jawa dan bahasa Lampung secara umum. Penelitian berjenis deskriptif kualitatif ini menggunakan metode elisitasi (menggunakan (Discourse Compeltion Task) DCT) dan agih dengan teknik simak, catat, dan wawancara. Data primer berupa tuturan dua bahasa oleh responden. Data sekunder berupa penelitian-penelitian yang pernah dilakukan menjadi titik tolak kajian dalam artikel yang bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis umpatan bahasa Jawa dan bahasa Lampung dan fungsinya di dalam komunikasi nonformal. Selain itu, tujuan dari artikel ini adalah mengungkap implikatur yang ada dalam tindak tutur berupa umpatan dalam dua bahasa daerah yang memiliki tradisi yang berbeda dengan membandingkan struktur umpatan yang terbangun dalam pengungkapan umpatan. Setelah dilakukan telaah data didapatkan hasil bahwa tidak semua umpatan bersumber sepuluh klasifikasi yang ditetapkan ada di dua bahasa. Pada sepuluh klasifikasi menunjukkan bahwa umpatan dalam bahasa Jawa lebih kompleks dan beragam, sementara umpatan dalam bahasa Lampung terbatas pada beberapa klasifikasi tertentu. Implikatur yang ada pada semua umpatan di dua bahasa, baik Jawa dan Lampung adalah pengungkapan kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan. Namun, pada penggunaan umpatan tanpa referen merupakan implikatur untuk mengalihkan pembicaraan.