cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TOTOBUANG
Published by Kantor Bahasa Maluku
ISSN : 23391154     EISSN : 25976184     DOI : -
Totobuang is a journal that publish results of research or conceptual idea in linguistics and literary studies, also aspects of teaching. Totobuang is published twice a year, on June and December. Totobuang editors accept article submission from researchers, experts, academician, and teachers of language and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 187 Documents
PERBANDINGAN FONEM SEGMENTAL BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA HITU DI NEGERI HITU LAMA, KECAMATAN LEIHITU, KABUPATEN MALUKU TENGAH [Comparison of Indonesian Segmental Phonemes with Hitu Language in Negeri Hitu Lama, Leihitu District, Central Maluku District] Erniati Erniati
TOTOBUANG Vol. 7 No. 2 (2019): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i2.161

Abstract

Tulisan ini membicarakan tentang perbandingan fonem bahasa Indonesia dengan bahasa Hitu. Bahasa Hitu  merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Provinsi Maluku yang dituturkan oleh masyarakat di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki 22 buah fonem konsonan, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /m/, /n/, /ŋ/, /ñ/, /l/, /f/, /s/, /z/, /ʃ/, /x/, /h/, /r/, /w/, /y/ dan lima buah fonem vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/. Sementara itu, bahasa Hitu memiliki fonem segmental sebanyak 24 fonem segmental, yang terdiri dari 5 buah fonem vocal dan 19 fonem konsonan. Konsonan-konsonan bahasa Hitu yang berhasil dideskripsikan yaitu: /p/, /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ň/, /?/,dan /G/.This paper discusses the comparison of Indonesian phonemes with Hitu. Hitu Language is one of the regional languages in Maluku Province that is spoken by the community in Leihitu District, Central Maluku Regency. The results of the study show that Indonesian has 22 consonant phonemes, namely / p /, / b /, / t /, / d /, / c /, / j /, / k /, / g /, / g /, m /, / n /, / ŋ /, / ñ /, / l /, / f /, / s /, / z /, / ʃ /, / x /, / h /, / r /, / w /, / y / and five vowel phonemes, namely / a /, / i /, / u /, / e /, / o /. Mean while, Hitu has 24 segmental phonemes, consisting of 5 vocal phonemes and 19 consonant phonemes. The consonants of Hitu language that have been successfully described are: / p /, / b /, / c /, / d /, / g /, / h /, / j /, / k /, / l /, / l /, / m /, / n /, / r /, / s /, / t /, / w /, / y /, / ň /, /? /, and / G /.   
REPRESENTASI MAKNA ADAT DALAM PAJAAQ DAYAK TONYOOI: ANALISIS WACANA KRITIS [Representation of Customary Meaning in Pajaaq Dayak Tonyooi: Critical Discourse Analysis] Ali Kusno
TOTOBUANG Vol. 7 No. 2 (2019): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i2.148

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan representasi beragam makna tentang hukum adat masyarakat adat Dayak Tonyooi yang terkandung dalam kesenian Pajaaq. Identifikasi melalui analisis dalam Pajaaq. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis Model Fairclough. Data penelitian diambil dari  Pajaaq: Ungkapan Kearifan Lokal Dayak Tonyooi dan Benuaq. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memegang teguh hukum adat. Berbagai persoalan diselesaikan dengan hukum adat. Adat istiadat selalu dijunjung tinggi. Adat mengatur berbagai realitas kehidupan yang jelas aturannya. Adat dan tradisi diikuti sesuai dengan keadaan setempat. Adat masing-masing suku sudah memiliki ketentuan. Dewan adat menjadi solusi persoalan yang objektif. Tanda adat pada wajah harus diikuti agar tidak terkena tulah dan bencana. Orang besar/bangsawan selalu menjadi panutan. Masyarakat adat dalam menyelesaikan persoalan mengutamakan musyarawah keluarga dan adat. Kalau ada yang perlu dirundingkan, semua keluarga, atau tetua adat berkumpul bersama di suatu tempat. Jalan musyawarah mencari kata sepakat.  Para pemangku adat harus berlaku adil. Meskipun demikian, dalam penerapan hukum adat, ketidakadilan penerapan adat juga dirasakan masyarakat adat yang berperkara.This research aims to reveal the representation of diverse meaning towards society’s customary law of Dayak Tonyooi indigenous contained in the Pajaaq arts. The Identification through analysis in Pajaaq. This research uses a critical discourse analysis of the Fairclough Model. The research was taken from Pajaaq: Local Wisdom expression of Dayak Tonyooi and Benuaq. Data analysis techniques use an interactive model. The result of this research shows that indigenous peoples adhere to customary law: various issues are solved by customary law. Customs are always glorified. Custom regulates various life realities with obvious rules. Custom and traditions are followed according to local conditions. The customs of each tribe already had provisions. The customary council is an objective solution for the problem. Custom marks on the face must be followed  as a sign to be spared of plagues and disasters. Great people/nobles are always be a role model. Indigenous people resolve the issues through prioritize family and customs discussion. If there is something that needs to be negotiated, all families or traditional elders will gathering in one place. Deliberation is a way to seek for agreement. The customary rulers must be just. However, in the application of customary law, the injustice of custom implementation is also felt by indigenous people who have litigation.  
WACANA POLITIK SPANDUK MIILENIAL ROAD SAFETY FESTIVAL: ANALISIS WACANA KRITIS NOURMAN FAIRLOUGH [Political Discourse of Milenial Road Safety Festival: Nourman Fairlough's Critical Discourse Analysis] Nursalam -; Irvan Mustafa; Nurhikmah -
TOTOBUANG Vol. 7 No. 2 (2019): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i2.144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana politik dalam spanduk millenial road safety millennial. Metode penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis Norman Fairlough. Sumber data penelitian ini adalah gambar spanduk millenial road safety festival dan tuturan verbal masyarakat millenial. Teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Tahap analisis data dalam penelitian ini ada tiga, yakni tahap (1) reduksi, (2) penyajian, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) wacana politik dalam teks spanduk millenial road safety festival ditonjolkan melalui foto Jokowi sebagai ikon dalam spanduk tersebut sehingga dinilai dapat menguatkan citranya, (2) discourse practice (penciptaan teks dan konsumsi teks) dalam wacana politik spanduk millenial road safety festival menegaskan bahwa sasaran utamanya adalah kalangan remaja atau millennial demi menekan tingkat pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, dan (3) sociocultural practice (praktik sosial) dalam wacana politik spanduk millenial road safety festival didasarkan tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang didominasi oleh kalangan  millennial.This study aims to analyze political discourse in millennial road safety  banners. This research method uses Norman Fairlough's critical discourse analysis. The data source of this research are the millennial picture of the road safety festival banner and the verbal speech of the millennial community. Data collection techniques are done through documentation study and in-depth interviews. This research is a qualitative research by descriptive analysis. There are three data analysis stages in this study, they are (1) reduction, (2) presentation, and (3) conclusion drawing. The results of this study indicate that (1) political discourse in the millennial road safety festival banner text is highlighted through Jokowi's photo as an icon so it is able to strengthen his image, (2) discourse practice (text creation) in the political discourse of the millennial road safety festival banner confirms that the main target is adolescents or millennial in order to reduce the level of violations and traffic accidents, and (3) sociocultural practice in the political discourse of the millennial road safety festival banner based on the high level of traffic accidents in Indonesia which is dominated by millennial.
TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM KHOTBAH JUMAT DI KOTA BANDUNG DAN SUKABUMI [Directive Speech Acts in Friday Sermons at Bandung and Sukabumi] Cipto Wardoyo; Lina Marlina
TOTOBUANG Vol. 7 No. 2 (2019): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v7i2.162

Abstract

Khotbah Jumat adalah rangkaian dari ibadah salat Jumat yang dilakukan oleh setiap muslim setiap pekan. Aspek kebahasaan dalam penyampaian khotbah Jumat sangat menarik untuk diteliti dan diulas lebih dalam dari sisi linguistik terutama dengan pendekatan pragmatik. Penelitian ini mencoba menganalisis penggunaan tindak tutur direktif yang terealisasi dalam khotbah Jumat di kota Bandung dan Sukabumi. Sumber data diambil dari rekaman dan observasi khotbah Jumat yang ada di beberapa masjid yang dipilih secara acak di kota Bandung dan Sukabumi. Hasil analisis data menunjukan bahwa tindak tutur tutur khotbah dengan menggunakan bentuk ajakan terlihat lebih dominan dengan menggunakan kata “ayo, kita, ayo kita, mari”. Tuturan memerintah dengan beberapa pola: verba yang diikuti partikel “lah”, verba yang diberi sufiks “kan”, dan verba yang diikuti oleh sufiks “i”. Selanjutnya, tuturan melarang yang disampaikan oleh khotib secara lugas dengan kata “tak usah, tak perlu, jangan, jangan sekali-kali. Tuturan direktif tak langsung juga disampaikan sang khotib dilakukan dengan menggunakan kalimat berita dengan memberikan gambaran manfaat, keuntungan atau sesuatu yang akan diperoleh jikalau melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Friday’s sermon is a series of weekly prayers performed by every Muslim . The linguistic aspects in delivering Friday sermon is fascinating to be discussed and analyzed deeply in terms of religious language, especially from the pragmatic point of view. This research tries to explain the use of directive speech act that realized in Friday sermon at Bandung and Sukabumi. Sources of data were taken randomly from the recording and observation of Friday sermon in several mosques in Bandung and Sukabumi. The result of data analysis shows that the speech act of Friday sermon which using the invitation forms is more dominant by some  words, such as “ayo, kita, ayo kita, mari”. Directive speech acts use several imperative patterns such as verbs followed by "lah" particles, Verb followed by suffix "kan", and verbs followed by the suffix "i". Furthermore, the prohibition speech acts were directly deliveredthrough the words "“tak usah, tak perlu, jangan, jangan sekali-kali”. Indirect directive speech acts are also performed by the khotib by using the declarative sentence through providing an overview  the benefits, advantages or something to be gained if doing or not doing something. 
DEKONSTRUKSI DALAM NOVEL DADAISME [Deconstruction On Dadaisme] David Rici Ricardo
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.819 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.201

Abstract

This research  entitled "Deconstruction on Dadaisme by Dewi Sartika". This research was intended to describe the forms of deconstruction contained in the novel of Dadaisme and to e inform figures in the Dadaisme novel that shape of deconstruction. Deconstruction explained forms of deviations from the perspective that found in the Dadaisme novel. This research method was using heuristic and hermeneutic methods. The conclusion of this research proved that there were forms od decontruction in the novel. Types of deconstruction from Nedena were sky color deconstruction, sun color deconstruction, protect deconstruction, heaven image deconstruction, hell image deconstruction, and ocean color deconstruction. Types of deconstruction from dr. Aleda were human respiration deconstruction, romantic feelings deconstruction, and sound deconstruction. Types of deconstruction from Isabella was first night deconstruction. Types of deconstruction from Rendi was children’s laughter. Types of deconstruction from Jo was devil’s clothes deconstruction. Types of deconstruction from Flo was killing deconstruction. Types of deconstruction from Michail are angel deconstruction, angel deconstruction consists of wing color deconstruction and wing amount deconstruction.Penelitian ini berjudul “Dekonstruksi dalam Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika”. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dekonstruksi yang terdapat di dalam novel Dadaisme dan menginformasikan tokoh-tokoh di dalam novel Dadaisme yang memunculkan adanya bentuk dekonstruksi. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekonstruksi. Dekonstruksi menjelaskan bentuk penyimpangan cara pandang yang dilakukan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Dadaisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode heuristik dan hermeneutik. Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah benar bahwa di dalam novel Dadaisme menunjukkan adanya bentuk-bentuk dekonstruksi. Bentuk dekonstruksi Nedena terdiri atas dekonstruksi warna langit, dekonstruksi warna matahari, dekonstruksi melindungi, dekonstruksi gambaran surga, dekonstruksi gambaran neraka, dan dekonstruksi warna air laut. Bentuk dekonstruksi dr. Aleda terdiri atas dekonstruksi alat pernapasan manusia, dekonstruksi perasaan romantis, dan dekonstruksi suara. Bentuk dekonstruksi Isabella adalah dekonstruksi malam pertama. Bentuk dekonstruksi Rendi adalah dekonstruksi tawa anak-anak. Bentuk dekonstruki Jo adalah dekonstruksi pakaian iblis. Bentuk dekonstruksi Flo adalah dekonstruksi membunuh. Bentuk dekonstruksi Michail adalah dekonstruksi malaikat, dekonstruksi malaikat terdiri atas dekonstruksi warna sayap dan dekonstruksi jumlah sayap.
KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA: CERITA RAKYAT LAKIPADADA DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT [An Antropology Study on Literature: The Folklore of Lakipadada and Its Influence in Social Life] Mustafa -
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.447 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.180

Abstract

Lakipadada is one of the    Toraja Literary which is filled with the values and concepts of life. it has delivered orally from generation to generation. This paper describes one type of local literary works that felt under legend category. The story told about a noble young man who has death paranoid, therefore he tried to find ‘tang mate’ ‘ternal’ so not being haunted by death.  To make this  story become more interesting to read and digest, the author  put a lot of superstitious contents. Moreover, the story can be an advicing and learning source  for the next generations so they will live in the right path of life. . The basic problem that arise in this article is about common belief on how Toraja people (Lakipadada ) will never be crowned as king beyond its own community (Toraja), and also will hard to socialize with other community than Toraja people.. Does this common assumption have any correlations with the content of the story?. The theory that used in this story was structurilism based on Levi-Staruss as exemplified by Ahimsa in the book Structurilism of Levi-Staruss, A myth and Literary Works (2001: 216-256) and it also used descriptive analysis method. The results indicated a structured relationship among elements in the story and social conditions in society.Lakipadada adalah salah satu karya sastra daerah masyarakat Toraja yang sarat dengan nilai-nilai dan konsep-konsep kehidupan. Karya sastra ini disampaikan secara lisan dan turun temurun. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan salah  satu karya sastra daerah yang masuk  kategori legenda. Cerita ini berkisah tentang seorang pemuda bangsawan yang paranoid akan kematian sehingga dia berusaha mencari mustika tang mate ‘kekal abadi’ agar tidak lagi dihantui kematian. Kisah ini   banyak dibumbui cerita supranatural sehingga  menarik untuk dibaca dan dipahami. Disamping itu, kisah ini dapat menjadi bahan nasihat dan pembelajaran bagi anak cucu untuk bekal di hari mendatang agar tidak salah langkah/tersesat. Masalah  mendasar  yang  muncul  dalam  artikel  ini  adalah  adanya asumsi bahwa manusia Toraja (Lakipadada ) tidak bisa menjadi raja di luar daerah Toraja  dan  tidak bisa membaur dengan masyarakat di luar orang Toraja. Apakah anggapan masyarakat ini mempunyai relasi dengan muatan cerita? . Teori yang digunakan adalah teori strukturalisme berdasarkan Levi-Staruss  seperti yang dicontohkan Ahimsa dalm bukunya Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra (2001: 216-256) dengan metode analisis deskriptif. Hasil yang ditemukan menunjukkan adanya hubungan yang terstruktur antarelemen dalam cerita dan kondisi sosial di masyarakat.
LEKSIKON IKAN DALAM SAMPIRAN PANTUN MELAYU [Fish Lexiconin Sampiranof Malay Pantun] Sahril -
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.939 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.202

Abstract

Damaging the environment and high level of fish exploitation are feared for the extinction of fish habitats. The extinction of fish habitat resulted to the extinction of local languages. In the context of tradition, the preservation of ecological lexicon, one of which is found on sampiran of the pantun. This study discusses the existence of fish lexicon contained in the pantun’s sampiran. The purpose of this study is  examining the level of survival of the Malay language of Barus related to the fish lexicon. The threat of this research uses ecolinguistic theory. The method used is a mixed research method between quantitative and qualitative research methods. Based on the research data, there are 10 fresh water fish lexicon and 30 sea fish lexicon originating from 40 pantun’s couplet. From 40 respondent’s answers, it is known that the marine fish lexicon is in the defensive category, slightly decreasing, that is 23.3%. Meanwhile, the freshwater fish lexicon is classified as threatened.Rusaknya lingkungan dan tingkat eksploitasi ikan yang tinggi dikuatirkan akan berdampak pada punahnya habitat ikan. Konsekuensinya itu juga berdampak pada punahnya bahasa lokal. Pada konteks tradisi, pelestarian leksikon ekologi, salah satunya terdapat pada sampiran pantun. Penelitian ini membahas keberadaan leksikon ikan yang terdapat pada sampiran pantun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji tingkat kebertahanan bahasa Melayu Barus berkaitan dengan leksikon ikan. Ancangan penelitian ini menggunakan teori ekolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode penelitian gabungan (mixed methods) antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan data penelitian terdapat 10 leksikon ikan air tawar dan 30 leksikon ikan laut yang berasal dari 40 bait pantun. Dari 40 jawaban responden diketahui bahwa untuk leksikon ikan laut berada dalam kategori bertahan, sedikit mengalami penurunan, yaitu 23,3%. Sementara untuk leksikon ikan air tawar masuk pada kategori terancam.
MEMAKNAI WABAH DAN ISOLASI DALAM ROMAN LA PESTE KARYA ALBERT CAMUS: KAJIAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR [Interpretation of Plague and Isolation in The Romance of Albert Camus La Peste: Hermeneutic Study of Paul Ricoeur] Sunahrowi -; Widya Eka Safitri
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.338 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.181

Abstract

Interpretation in literary works is very open. The problem examined in this study is the looking for meaning that related to the plague and isolation that exists in the romance ‘La Peste’. So, this research aims to provide a view of the relationship of the text in literary works and describe the content by the realities of Paul Ricoeur hermeneutics studies through descriptive methods. The results of the analysis of the romance ‘La Peste’ are divided into two parts, namely sens and reference. With this analysis, the romance ‘La Peste’ is easier to be understand both in terms of intrinsic and the relationship of meaning in the text with the realities of life.Sastra adalah sebuah karya yang terbuka terhadap interpretasi dan penafsiran. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pencarian makna terkait wabah dan isolasi yang ada dalam roman La Peste. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu memberikan pandangan terhadap hubungan teks dalam karya sastra serta mendeskripsikan isinya sesuai dengan realitas kehidupan dengan menggunakan kajian hermeneutika Paul Ricoeur melalui metode deskriptif. Hasil analisis roman La Peste terbagi menjadi dua bagian, yaitu sens dan reference.  Adanya analisis ini membuat roman La Peste lebih mudah dipahami baik dari segi instrinsik maupun keterkaitan makna dalam teks dengan realitas kehidupan.
MITOLOGI DALAM HIKAYAT MERONG MAHAWANGSA [Mythology in Hikayat Merong Mahawangsa] Chyntia Dyah Rahmadhani; Asep Yudha Wirajaya
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.171

Abstract

The study commented about Hikayat Merong Mahawangsa: The Salasilah Negeri Kedah Darulaman.  Hikayat Merong Mahawangsa consists of five chapters that showed the lineage of Merong Mahawangsa and the founder of Kedah. The problems in this study are(1) Which events were categorized as myth in  Hikayat Merong Mahawangsa?; (2) how those myths appeared in Hikayat Merong Mahawangsa?; (3) How is the difference in the depiction of events occurring between Hikayat Merong Mahawangsa and Merong Mahawangsa films? The research aimed  (1) to mention the events that could be classified as myths in the Hikayat Merong Mahawangsa; (2) to bring out the events which was the myth; (3) to describe the differences of delination of events that occured in both  Hikayat Merong Mahawangsa and Merong Mahawangsa films.  This research used  qualitative descriptive method of research becauseresearchers intend to describe and interpret all events in Hikayat Merong Mahawangsa and film Merong Mahawangsa as detail without changing the actual state. The manuscript that used as the source of data in this research was the Hikayat Merong Mahawangsa: The Salasilah state of Kedah Darulaman with script number MS134 collection from the Digital Library of Malay Manuscript. Penelitian ini mengulas tentang Hikayat Merong Mahawangsa:  Salasilah Negeri Kedah Darulaman.  Hikayat Merong Mahawangsa terdiri atas lima bab yang mengisahkan tentang silsilah keturunan Merong Mahawangsa dan pendiri Kedah. Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu (1) Apa saja peristiwa yang dapat dikategorikan mitos dalam Hikayat Merong Mahawangsa?; (2) Bagaimana  peristiwa-peristiwa mitos bermunculan dalam Hikayat Merong Mahawangsa?; (3) Bagaimana perbedaan penggambaran peristiwa yang terjadi antara Hikayat Merong Mahawangsa dan film Merong Mahawangsa? Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menyebutkan peristiwa-peristiwa yang dapat digolongkan sebagai mitos dalam Hikayat Merong Mahawangsa; (2) Memunculkan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian dalam Hikayat Merong Mahawangsa yang merupakan mitos; (3) Mendeskripsikan perbedaan penggambaran peristiwa yang terjadi antara Hikayat Merong Mahawangsa dan film Merong Mahawangsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah   kualitatif deskriptif karena penulis bermaksud menjabarkan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam Hikayat Merong Mahawangsa dan film Merong Mahawangsa secara detail tanpa mengubah keadaan yang sesungguhnya. Naskah yang digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini merupakan naskah Hikayat Merong Mahawangsa: Salasilah Negeri Kedah Darulaman dengan nomor naskah MS134 koleksi dari Digital Library of Malay Manuscript.
FENOMENA UNGKAPAN TRADISIONAL BAHASA SUNDA DI KOTA BANDUNG: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK [The Phenomenon of Sundanese Language Traditional Expression in Bandung City: Sociolinguistics Analysis] Asri Soraya Afsari; Cece Sobarna; Yuyu Yohana Risagarniwa
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.217

Abstract

The purpose of this study is  describing the existence and utilization of Sundanese language traditional expressions in Bandung speech community today. The method  was  descriptive. Data collection techniques was done by direct interviews with informants in the field using Sundanese and in natural situation communication. The main informant was a culture-supporting community who  really known-well the traditional expressions. The informant was assumed,  at least, to understand it as a form of culture. Moreover, notes techniques was used too. The analytical method  used distributional. The results showed that: there are 206 data traditional expressions which is still known by the people in Bandung. The sub-district that is still familiar with traditional expressions is Ujungberung with a percentage of 100%. The sub-district that is unknow-well of traditional expressions is Sumur Bandung with a percentage of 15%. In terms of usage, Sundanese language traditional expressions are still used in the domain of: family, intimate, neighborliness, education, government, employment, and religion. The function of using expessions is to remind, to advise, to admonish, to calm, to affirm, to appeal, and to express  the feelings. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan penggunaan ungkapan tradisional bahasa Sunda yang ada di lingkungan masyarakat tutur Kota Bandung dewasa ini. Metode yang digunakan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada informan di lapangan dengan menggunakan bahasa Sunda dan dalam situasi yang asli (natural situation communication). Informan utama yang dipilih adalah masyarakat pendukung budaya yang memahami ungkapan tradisional. Informan tersebut diasumsikan paling tidak mengetahui ungkapan tradisional sebagai sebuah bentuk kebudayaan. Di samping itu, digunakan pula teknik catat. Metode analisis yang digunakan adalah distribusional. Hasil analisis menunjukkan bahwa: ungkapan tradisional yang masih dikenal oleh masyarakat tutur di Kota Bandung berjumlah 206 data. Kecamatan yang masih mengenal ungkapan tradisional dengan baik adalah Ujungberung dengan jumlah persentase 100%. Kecamatan yang sudah tidak lagi mengenal ungkapan tradisional dengan baik adalah Sumur Bandung dengan jumlah persentase 15%. Dari segi penggunaan, ungkapan tradisional bahasa Sunda masih digunakan dalam ranah: keluarga, kekariban, ketetanggan, pendidikan, pemerintahan, kerja, dan agama. Fungsi penggunaan ungkapan untuk mengingatkan, menasihati, menegur, menenangkan, mengiaskan, mengimbau, dan mengungkapkan perasaan.

Page 10 of 19 | Total Record : 187