cover
Contact Name
Ahadiyat Yugi R., SP., MSi., D.Tech.Sc.
Contact Email
psi.faperta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahadiyat_yugi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
KANDUNGAN NUTRISI Fe DAN KUALITAS BERAS EMPAT KUTIVAR PADI YANG DITANAM PADA DUA LOKASI Hartati Hartati; Suwarto Suwarto
Agrin Vol 14, No 1 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.1.96

Abstract

Pengujian stabilitas nutrisi mikro penting dalam pemuliaan tanaman untuk meningkatkan kualitas nutrisibahan pangan pokok dalam rangka mengatasi malnutrisi. Pemuliaan untuk meningkatkan kandungan Fe berasakan berhasil jika didukung informasi stabilitas kandungan Fe dan kualitas beras kultivar padi pada berbagailingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis stabilitas kandungan Fe beras dan kualitas berasyang ditanam pada berbagai kondisi lingkungan tumbuh. Empat kultivar padi ditanam pada dua lingkunganberbeda menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap pada musim hujan tahun 2008. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada pengaruh nyata kultivar, lingkungan dan interaksinya pada sifat kandungan Fe beras,tapi tidak ada pengaruhnya pada sifat kualitas beras. Kandungan Fe beras semua varietas yang ditanam diCilongok lebih tinggi dibanding yang ditanam di Gombong. Kandungan Fe beras pada semua kultivar tidakstabil, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Tidak ada perbedaan kualitas beras pada semua varietas yangditanam akibat perbedaan lingkungan tumbuh.Kata kunci : konsentrasi Fe beras, kualitas beras, kultivar  ABSTRACTPengujian stabilitas nutrisi mikro penting dalam pemuliaan tanaman untuk meningkatkan kualitas nutrisibahan pangan pokok dalam rangka mengatasi malnutrisi. Pemuliaan untuk meningkatkan kandungan Fe berasakan berhasil jika didukung informasi stabilitas kandungan Fe dan kualitas beras kultivar padi pada berbagailingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis stabilitas kandungan Fe beras dan kualitas berasyang ditanam pada berbagai kondisi lingkungan tumbuh. Empat kultivar padi ditanam pada dua lingkunganberbeda menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap pada musim hujan tahun 2008. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada pengaruh nyata kultivar, lingkungan dan interaksinya pada sifat kandungan Fe beras,tapi tidak ada pengaruhnya pada sifat kualitas beras. Kandungan Fe beras semua varietas yang ditanam diCilongok lebih tinggi dibanding yang ditanam di Gombong. Kandungan Fe beras pada semua kultivar tidakstabil, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Tidak ada perbedaan kualitas beras pada semua varietas yangditanam akibat perbedaan lingkungan tumbuh.Kata kunci : konsentrasi Fe beras, kualitas beras, kultivar
PERTUMBUHAN POPULASI PEMULIAAN SALAK DI KABUPATEN KAMPAR Sri Hadiati; Agus Susiloadi; Tri Budiyanti
Agrin Vol 16, No 1 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.1.128

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan beberapa populasi pemuliaan salak di KabupatenKampar. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari – Desember 2008 di Desa Tanjung Rambutan KabupatenKampar – Riau. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan 13 aksesi salakdan diulang dua kali. Setiap unit perlakuan terdiri dari 20 tanaman dan yang diamati sebanyak 10 tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi yang berasal dari salak Sidempuan atau salah satu tetuanya berasaldari salak Sidempuan mempunyai ukuran tanaman yang lebih besar ( tinggi tanaman, panjang tangkai, panjangdan lebar thothok, panjang dan lebar lamina), tetapi mempunyai jumlah daun yang relatif sedikit dibandingkandengan aksesi-aksesi lainnya. Pada umur 36 bulan setelah tanam semua aksesi yang diuji telah berbunga,dengan persentase jumlah tanaman berbunga bervariasi antar aksesi. Tanaman salak yang telah berbungamempunyai jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan aksesi yang belum berbunga. Terdapat korelasi yangpositif antara jumlah daun dan persentase tanaman berbunga (r = 0,92*). Aksesi yang sudah berbunga lebih dari50% adalah PH-MWR, SJG, dan PH-MJ, sebaliknya yang berbunga kurang dari 10% adalah SDS-SJG, SDMSJG,SDP, dan SDS. PH-MWR mempunyai persentase tanaman jantan terbanyak (46,67 %) dan PH-MJmempunyai persentase tanaman betina terbanyak (32,37%).Kata kunci : Salak (Salacca spp.), pertumbuhan, populasi pemuliaanABSTRACT.The objectives of the research was to evaluate the growth of few breeding populations of snake fruit inKampar district. The experiment was conducted from January to December 2008 at Tanjung Rambutan village,Kampar district . The Experimental design used was Randomized Complete Block, consist of 13 snake fruitacessions as the treatment, and two replications. The result showed that the snake fruit accessions, which werefrom Sidempuan or one out of parent stocks used, had more bigger plant size (i.e. plant height, peduncle length,thothok length and width, lamina length and width), but they had leaf number relatively a little more than theother accessions. All of accessions had been flowered at 36 months old and percentage of flowered plant numberwere variation. Snake fruit plants which flowered had more leaves number than the accession had not beenflowered yet. There was positive correlation between leaves number and percentage of flowered plant (r =0.92*). PH-MWR, SJG, PH-MJ accessions had been flowerd more than 50%, but SDS-SJG, SDM-SJG, SDP,and SDS accessions less than 10%. PH-MW accession had the most percentage of male plant (46.67%), and PHMJhad the most percentage of female plant (32.37%).Key words: Snake fruit (Salacca spp.), growth, breeding population
PENGARUH PERLAKUAN PRA-KULTUR TERHADAP EFISIENSI REGENERASI IN VITRO LIMA VARIETAS KEDELAI Yesi Safitri; Akari Edy; Setyo Dwi Utomo
Agrin Vol 17, No 1 (2013): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2013.17.1.199

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan pra-kultur (imbibisi atau pengecambahan)terhadap efisiensi regenerasi in vitro lima varietas kedelai. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium KulturJaringan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, dari bulan November 2011 sampai dengan Maret 2012.Percobaan ini disusun dalam rancangan acak kelompok yang terdiri atas 6 ulangan. Perlakuan disusun secarafaktorial (5x2); faktor pertama adalah varietas kedelai sebagai sumber eksplan (Anjasmoro, Willis, Kaba,Sinabung, dan Seulawah); dan faktor kedua adalah perlakuan pra-kultur (imbibisi dan pengecambahan). Setiapsatu satuan percobaan terdiri atas lima eksplan yang dikulturkan dalam satu botol. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa rata-rata jumlah tunas adventif per eksplan (RJTA) nyata dipengaruhi oleh perlakuan prakultur;tetapi tidak nyata dipengaruhi oleh varietas dan interaksi antara varietas dan perlakuan pra-kultur. RJTAperlakuan imbibisi yaitu 15,4 tunas per eksplan nyata lebih tinggi daripada perlakuan pengecambahan yaitu 12,9tunas per eksplan. Presentase eksplan yang menghasilkan tunas adventif (PEMTA) pada 30 hari setelah tanamperlakuan imbibisi dan pengecambahan tidak berbeda nyata jika digunakan eksplan varietas Wilis, Sinabung,dan Seulawah. Jika menggunakan eksplan varietas Anjasmoro, PEMTA perlakuan imbibisi nyata lebih tinggidaripada pengecambahan; sebaliknya pada varietas Kaba, perlakuan pengecambahan nyata lebih tinggi daripadaimbibisi. Pada perlakuan imbibisi, PEMTA varietas Anjasmoro (87%) nyata lebih tinggi daripada Kaba (67%);sebaliknya pada perlakuan pengecambahan, PEMTA Anjasmoro (67%) nyata lebih rendah daripada Kaba(87%). Disimpulkan bahwa prosedur regenerasi menggunakan pra-kultur imbibisi atau germinasi termasukefisien.Kata kunci: buku kotiledon, kedelai, imbibisi, pengecambahan, organogenesisABSTRACTThe objective of this study was to evaluate effect of pre-culture treatment on the efficiency of in vitroregeneration of five soybean cultivars. The study was conducted in tissue culture laboratory, College ofAgriculture,University of Lampung from November 2011 – March 2012. The experiment was arranged incompletely-randomized block design with six replications. Treatments consisted of two factors; the first wassoybean cultivars as the source of explants (Anjasmoro, Willis, Kaba, Sinabung, dan Seulawah; the second waspre-culture treatment (imbibitions for 20 hours and germination for 6 days). The results showed that the meansof adventive shoots per explants (MASPE)) was significanty affected by pre-culture treatment; but not affectedby the cultivars and the interaction of the two factors. MASPE of imbibitions treatment (15,4 shoots perexplants) was significantly higher than than that of germination (12,9 shoot per explants). The percentage ifexplants producing adventive shoots (PEPAS) observed on 30 days after planting was notsignificantly differentfor the explants of cultivar Wilis, Sinabung, and Seulawah. If using Anjasmoro as the source of explants, PEPASof imbibitions treatment was significanty higher than that of germination; on the other hand, if using Kaba thegermination treatment was significantly higher than that of imbibiton. At imbibiton treatment, PEPASAnjasmoro (87%) was significantly higher than that of Kaba (67%); on the other hand, at germinationtreatment, PEPAS Anjasmoro (67%) was significantly lower than that of Kaba (87%). It was concluded that thisprocedure of in vitro regeneraton using imbibiton or germination was efficient.Key words: cotyledonary node, soybean, imbibition, germination organogenesis
KAJIAN PREFERENSI PRODUSEN TAHU TEMPE TERHADAP BAHAN BAKU MENYONGSONG SWASEMBADA KEDELAI 2014 DI KARESIDENAN SURAKARTA Sugiharti MH; Endang S.R; R. Kunto Adi; Mei Tri Sundari
Agrin Vol 19, No 1 (2015): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2015.19.1.352

Abstract

dan mengkaji atribut kedelai (ukuran, kebersihan, warna, harga, kandungan pati dan keseragaman) yangmenjadi preferensi produsen tahu serta atribut kedelai (ukuran , kebersihan, warna, harga, daya kembang dankeseragaman) yang menjadi preferensi produsen tempe. Penelitian dilakukan secara purposive di Kota Surakartadan 6 kabupaten yang merupakan Eks Karesidenan Surakarta yaitu Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali,Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Klaten. Dari masing-masingdaerah diambil 15 orang produsen tahu dan 15 orang produsen tempe sebagai sampel. Dari seluruh respondenyang dijadikan sampel, hanya 208 yang bisa dianalisis. Penentuan responden menggunakan metode snowballsampling dengan pertimbangan sampel frame tidak tersedia. Hasil analisis dengan menggunakan MultiatributFishbein menunjukkan baik produsen tahu maupun tempe lebih menyukai kedelai impor sebagai bahan bakudibanding kedelai lokal. Secara berurutan atribut kedelai yang dipertimbangkan produsen tahu dalam melakukanpembelian kedelai adalah kebersihan, kandungan saripati, ukuran, keseragaman, warna dan harga. Sedangkanyang dipertimbangkan produsen tempe dalam melakukan pembelian kedelai secara berurutan adalah kebersihan,daya kembang, ukuran, warna, keseragaman dan harga. Kedelai yang menjadi preferensi produsen tahu adalahkedelai yang bersih, kandungan saripatinya banyak dan berwarna kuning. Sedangkan kedelai yang menjadipreferensi produsen tempe adalah kedelai yang bersih, daya kembang tinggi (babar-Jawa), warna kuning, ukuranbesar dan seragam.Kata kunci: swasembada, preferensi, kedelaiABSTRACTThis research aims to examine the preferences of tofu and tempeh producers on soybeans as the rawmaterial and to examine the attributes of soybeans (size, cleanliness, color, price, content of essence, anduniformity) which have been the preferences of tofu producers and also the attributes of soybeans (size,cleanliness, color, price, ability to expand, and uniformity) which have been the preferences of tempeh producers.The research was carried out purposively in Surakarta and 6 regencies in the ex-residency of Surakarta, they are:Karanganyar regency, Boyolali regency, Sukoharjo regency, Wonogiri regency, Sragen regency, and Klatenregency. As many as 15 tofu producers and 15 tempeh producers were taken as samples from each regency. Andfrom all respondents, only 208 of them could be analyzed. These respondents were determined by method ofsnowball sampling considering that sample frames were not available. Analysis results using FishbeinMultiattribute show that both the tofu and tempeh producers prefer imported soybeans to local soybeans for theraw material. Sequentially, the attributes of soybeans considered by tofu producers when purchasing soybeansare cleanliness, content of essence, size, uniformity, color, and price. While tempeh producers sequentiallyconsider cleanliness, ability to expand, size, color, uniformity, and price as the attributes of soybeans duringpurchase. Preferred by tofu producers are soybeans that are clean, contain a lot of essence, and have yellow color.While tempeh producers prefer soybeans that are clean, have high ability to expand (babar – Javanese), haveyellow color, big in size, and uniform.Keywords: self-sufficiency, preference, soybean
PENGARUH BERBAGAI MACAM BOBOT UMBI BIBIT BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) YANG BERASAL DARI GENERASI KE SATU TERHADAP PRODUKSI S. Putrasamedja
Agrin Vol 11, No 1 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2007.11.1.60

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi bibit yang berasal dari generasi ke satu.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Dinas Pertanian Kramat, Tegal, Jawa Tengah pada bulan Maretsampai dengan bulan Mei 2005. Materi yang dijadikan percobaan adalah bibit bawang merah generasi kesatu (G-1) yang berasal dari hasil selfing. Perlakuan ini terdiri atas A1 = 1-2,5 gram; A2 = 2,6-3,5 gram; A3= 3,6-4,6 gram per umbi dan B1 = jarak tanam 10 x 10 cm; B2 = jarak tanam 15 x 15 cm; B3 = jarak tanam15 x 20 cm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan 9kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Hasil akhir diperoleh bahwa pada jarak tanam 15 x 15 cm denganukuran umbi 2,6 - 3,5 gram, diperoleh produksi tinggi diikuti oleh jarak tanam 15 x 20 cm dengan ukuranumbi 2,6 - 3,5 gram dan jarak tanam 15 x 20 cm dengan berat umbi 3,6 - 4,6 gramKata kunci: tanggapan, Allium ascalonicum L., bibit, generasi ke satu, produksi ABSTRACTThe objective of this experiment was to study how many potention of production from one generation.This experiment was conducted simultan usually site in agricultural of service garden Kramat, Tegal, CentralJava, 4 meter sea level from March until May 2000. Material to experiment from bulp of shallot from selfing.Contain 9 of combination every treatment 3 repliation which is A1 = 1 - 2,5 gram; A2 = 2,6 - 3,5 gram; A3 =3,6 - 4,6 gram every bulp and B1 = plant distance 10 x 10 cm; B2 = plant distance 15 x 15 cm; B3 = plantdistance 15 x 20 cm. This treatment were arranged as factorial designed and Randomized block design with 9replication. The result showed planting design 15 x 15 cm and bulp measure 2,6 - 3,5 gram is highest fallowby planting distance 15 x 20 cm bulp measure 2,6 - 3,5 gram and planting distance 15 x 20 cm bulp measure3,6 - 4,6 gram.Key word: respons, seed, Allium ascalonicum L., first generation, production. 
PACLOBUTRAZOL MENINGKATKAN KANDUNGAN KLOROFIL PLANTLET NILAM KULTIVAR SIDIKALANG DAN TAPAKTUAN IN VITRO Suseno Amien; Kinanti Destiana Khirana
Agrin Vol 21, No 1 (2017): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2017.21.1.340

Abstract

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman perdu wangi penghasil minyak atsiriberupa minyak nilam (patchouli oil). Paclobutrazol merupakan retar dan yang dapat meningkatkan vigor plantletsehingga dapat meningkatkan keberhasilan proses aklimatisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui responvigor plantlet nilam varietas Sidikalang dan Tapaktuan pada beberapa konsentrasi paclobutrazol untukmemperoleh plantlet yang memiliki vigor baik. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap(RAL) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah varietas nilam (v) yang terdiri dari duataraf yaitu Sidikalang (v1), dan Tapaktuan (v2). Faktor kedua adalah konsentrasi paclobutrazol (p) terdiri dari limataraf yaitu 0,0 ppm (p1), 0,5 ppm (p2), 1,0 ppm (p3), 1,5 ppm (p4), 2,0 ppm (p5). Hasil penelitian menunjukkanterjadi interaksi antara varietas plantlet nilam dan konsentrasi paclobutrazol. Konsentrasi paclobutrazol 2,0 ppmmemberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi lainnya pada varietas Tapak tuan untukkarakter waktu awal terbentuknya tunas. Paclobutrazol dengan konsentrasi 2,0 ppm dibandingkan dengan darikonsentrasi 0,0 ppm, 0,5 ppm, 1,0 ppm dan 1,5 ppm menunjukkan hasil lebih baik terhadap jumlah klorofil, warnadaun, dan jumlah akar sehingga dapat menunjukkan plantlet nilam memiliki vigor yang baik. Varietas Sidikalangmenunjukkan hasil lebih baik dari Tapaktuan pada karakter jumlah klorofil, jumlah akar, jumlah tunas, dan waktuawal akar terbentuk. Sedangkan varietas Tapaktuan menunjukkan hasil lebih baik dari Sidikalang pada karakterwaktu awal akar terbentuk.Kata kunci: nilam, paclobutrazol, vigor dan klorofilABSTRACTPathchouli (Pogostemon cablin Benth.) is a plant that produces essential oil as fixative agent.Paclobutrazol was reported in several plants can improve plantlet vigor as one of requirements for successfullacclimatization process. The aims of this experiment were to evaluate growth response of shoot of Sidikalang andTapaktuan cultivars in vitro. A completely randomized block design with factorial pattern involved two factorswas used in this experiment and replicated two times. The first factor was patchouli cultivar (v) that consisted ofSidikalang (v1) and Tapaktuan (v2). Second factor was paclobutrazol concentration (p) that consisted of fiveconcentrations namely 0,0 ppm as control (p1), 0.5 ppm (p2), 1,0 ppm (p3), 1.5 ppm (p4), 2,0 ppm (p5). The resultsshowed that there was an interaction between the plantlet cultivar and paclobutrazol concentration of 0.5 ppm,1.0 ppm, 1.5 ppm and 2.0 ppm for the initial time of shoot formation. Paclobutrazol concentration of 2.0 ppm hasbetter effect than the concentrations of 0.0 ppm, 0.5 ppm, 1.0 ppm and 1.5 ppm on the amount chlorophyll, leafcolour, and number of roots that can show patchouli plantlets have good vigor. Sidikalang variety show betterresults than Tapaktuan on the character of chlorophyl, the number of roots, number of shoots and roots formedthe initial time. While Tapaktuan varieties showed better results than Sidikalang on the character of the initialtime the roots are formed.Key words: Pogostemon cablin Benth, Paclobutrazol, Vigor and Chlorophyl
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PENINGKATAN HASIL PADI GOGO VARIETAS SITU PATENGGANG Sunjaya Putra
Agrin Vol 15, No 1 (2011): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2011.15.1.119

Abstract

Peningkatan produksi padi dalammendukung ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemanfaatanlahan kering dengan menanam padi gogo varietas unggul baru dan pengaturan jarak tanam. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui jarak tanam optimal yang dapat meningkatkan hasil padi gogo varietasSitu Patenggang di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di lahan kering Desa Nagrak Utara, Kecamatan Nagrak,Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada bulan Januari-April 2008. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalahpadi gogo varietas Situ Patenggang, pupuk NPK dosis 200 kg/ha, Urea 100 kg/ha dan NPK cair 3 l/ha. Metodepenelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Macamperlakuan yaitu ; 1) Jarak tanam tegel (25x25 cm), 2) Jarak tanam tegel (20x20 cm), 3) Jarak tanam legowo(30x25 x12,5 cm), 4) Jarak tanam legowo (30x20x10 cm), 5) Jarak tanam legowo (30x25xlarikan), dan 6) Jaraktanam legowo (30x20xlarikan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam legowo (30x25x larikan),legowo (30x25x12,5), legowo (30x20xlarikan), dan legowo (30x20x10) dapat meningkatkan hasil padi gogovarietas Situ Patenggang masing-masing sebanyak 27,3%, 34%, 36,6% dan 44,9% dibandingkan dengan hasilproduksi padi gogo di Indonesia dan 1,4 %, 7%, 8,8% dan 15,4% di Jawa Barat. Jarak tanam legowo(30x20x10) dapat menghasilkan padi gogo sebanyak 3,29 ton/ha. Sedangkan hasil terendah diperoleh denganmenggunakan jarak tanam tegel (25x25 cm) sebanyak 2,22 ton/ha.Kata Kunci : jarak tanam, padi gogo, produksi ABSTRACTIncreasing rice production in support of food security can be done through the utilization of dry landplanted with upland rice and plant spacing. The purpose of this research is to determine plant spacing effect toincreased upland rice yield of Situ Patenggang varieties in dry land. Research conducted in the upland villageof North Nagrak, Nagrak Sukabumi district in West Java in January-April 2008. Materials used in the studywere Situ Patenggang upland rice, NPK fertilizer dose of 200 kgha-1, urea 100 kgha-1 and NPK liquid 3 lha-1.Method of research using randomized block design of six treatments and 4 replications. Kinds of treatment,namely: 1) Spacing of square (25x25 cm), 2) Spacing of square (20x20 cm), 3), Spacing of legowo (25x30x 12.5cm), 4) Spacing of legowo (30x20x10 cm), 5) Spacing of legowo (30x25xspreed), and 6) Spacing of legowo(30x20xspreed). The results of experience conclused that spacing of legowo (30x25x spreed), legowo (30x25x12,5), legowo (30x20x spreed), and legowo (30x20x10) can increased yield of upland rice Situ Patenggangrespectively of 27.3%, 34%, 36.6% and 44 , 9% compared with upland rice yield in Indonesia and 1.4%, 7%,8.8% and 15.4% in West Java. The spacing of legowo (30x20x10) can produce about 3.29 tonnesha-1. While, thelowest result obtained by using the spacing of square (25x25 cm) about 2.22 tonnesha-1.Keywords : plant spacing, upland rice, yield
PENGARUH PUPUK KALIUM TERHADAP PENINGKATAN HASIL UBI JALAR VARIETAS NARUTOKINTOKI DI LAHAN SAWAH Sunjaya Putra; Karsidi Permadi
Agrin Vol 15, No 2 (2011): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2011.15.2.189

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kalium pada pertumbuhan dan hasilserta untuk mendapatkan dosis pupuk kalium yang memberikan hasil maksimum pada ubi jalar varietasNarutokintoki. Penelitian dilaksanakan dilahan sawah musim kemarau tahun 2008 di Desa Wanasari, KecamatanWanayasa Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pupuk kalium sebagai perlakuan disusun berdasarkan RancanganAcak Kelompok dengan empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri dari : pupuk kalium dengan dosis60, 120, dan 180 kg K2O/ha dan tanpa pupuk K (kontrol). Ubi jalar yang digunakan adalah varietasNarutokintoki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kalium memberikan pengaruh yangnyata terhadap panjang sulur, berat hijauan, jumlah umbi, berat umbi dan hasil ubi. Pada pemupukan kaliumdengan dosis 120 kg/ha K2O dapat meningkatkan hasil ubi sebesar 10,55 t/ha. Peubah yang memberikan korelasinyata dengan hasil ubi jalar yaitu peubah jumlah umbi per rumpun dan berat umbi per rumpun dengan nilai rmasing-masing sekitar 0,680* dan 0,789*. Hubungan hasil ubi jalar dengan tingkat pemupukan kaliummembentuk regresi kuadratik nyata dengan model persamaan Ŷ = 5,255 + 251 X - X², R2 = 0,90*. Padapersamaan ini untuk mendapatkan hasil optimum ubi jalar varietas Narutokintoki diperoleh pada dosis 125,5 kgK2O/ha.Kata kunci: pupuk kalium, ubi jalar, lahan sawah ABSTRACTThe study aims to determine the effect of potassium fertilizer on growth and yield and to get a dose ofpotassium fertilizer that gives optimum results in sweet potato Narutokintoki varieties. The experiment wasconducted in 2008 dry season at rice field of Wanasari village, Wanayasa District, Purwakarta Regency, WestJava. Potassium fertilizer as treatments have been prepared on randomized block design with four treatmentsand six replications. Treatments consisted of: potassium fertilizer with doses of 60, 120, and 180 kgs K2O ha-1and without K fertilizer (control). Sweet potato used were Narutokintoki varieties. The results showed that theuse of potassium gives a real influence on the long shoots, foliage weight, tuber number, tuber weight and tuberyield. At a dose of potassium fertilization of 120 kgs K2O ha-1 can increase tuber yield into 10.55 tha-1. Variablesthat provide real correlation with the results is variable number of tubers per hill and tuber weight per hill withrespective r values around 0.680* and 0.789*. Relations between tuber yield and potassium fertilization ratewas significantly quadratic regression model equation Y = 5.255 + 251 X - X ², R2 = 0.90 *. In this equation toobtain optimum on tuber yield of Narutokintoki varieties was obtained at doses of 125.5 kgs K2O ha-1.Key words: K fertilizer, sweet potato, kice field
RANCANG BANGUN ALAT PENGGORENG TANPA MINYAK UNTUK MENUNJANG AGROINDUSTRI Siswantoro Siswantoro; Rifah Ediati; Riana Listanti
Agrin Vol 18, No 2 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.2.222

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis unjuk kerja alat penggoreng, efisiensi termis dari unit penggoreng, dan prospek pengembangan alat penggoreng tanpa minyak dan tanpa energi listrik untuk menunjang agroindustri.  Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium yang meliputi tahap perancangan dan tahap uji coba.  Bahan yang digunakan adalah pasir sungai dan kerupuk mentah siap goreng.  Alat yang digunakan meliputi berbagai macam alat dan mesin perbengkelan untuk membuat alat penggoreng tanpa minyak.  Hasil penelitian berupa alat penggoreng tanpa minyak dengan dimensi panjang 100 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 120 cm.  Kapasitas maksimal alat sebesar 16,8 kg/jam, dengan sumber panas dari kompor gas LPG.  Alat ini beroperasi tanpa energi listrik, dan digerakkan dengan sistem semi-mekanis, sehingga cocok untuk industri pedesaan dengan sumber energi listrik yang terbatas. Efisiensi termis dari unit penggoreng sebesar 35,8 %.  Menggunakan analisis titik impas (Break Even Point) diperoleh jumlah minimal kerupuk yang harus digoreng adalah 406 kg/ tahun atau setara dengan 26 jam proses/tahun, dengan penerimaan bersih sebesar 47.386 (Rp/jam) atau setara dengan 4.738.633 (Rp/bulan). Kata kunci: rancang bangun, penggoreng tanpa minyak, efisiensi termis, titik impas. ABSTRACTThe objective of the research were to analysis fryer performance, thermal efficiency of fryer unit, and development prospec of fryer without cooking oil and without electrical energy for supporting agro-industry.    Research conducted with experiment laboratory as follow steps of design and testing performance.  Material used is sand river and chips which is ready to fry.  Instrument used is several kinds of tools and machine workshop for producing fryer without cooking oil.  Research product is fryer without cooking oil with dimension of length 100 cm, width 80 cm, and height 120 cm.  Maximal capacity of fryer about 16.8 kg/hour, with heat source supply from LPG stove.  These fryer is operated without electrical energy, and rotated with semi mechanic system, so that the fryer is appropriate for rural industry with limited of electrical source.  Thermal efficiency of unit fryer is 35.8%.  Using break even point (BEP) analysis is found that  minimal chip must be fried about 406 kg/year or equivalent with 26 hours process/ year, with net income about 47,386 (Rp/hour) or equivalent with 4,738,633 (Rp/mount).  Keywords: design, frying without cooking oil, thermal efficiency, break even point
REGENERASI IN VITRO KEDELAI MELALUI ORGANOGENESIS PADA TIGA KONSENTRASI BENZILADENIN Marveldani Marveldani; M. Barmawi; S. D. Utomo
Agrin Vol 11, No 2 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2007.11.2.67

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan regenerasi eksplan buku kotiledon tiga varietaskedelai pada tiga konsentrasi benziladenin. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan FakultasPertanian Universitas Lampung, mulai bulan Januari sampai Agustus 2006. Perlakuan disusun dalamrancangan kelompok teracak sempurna yang terdiri dari 7 ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi antaravarietas kedelai (Sinabung, Ijen, Anjasmoro) dan konsentrasi BA (0,75; 1,5; 2,25 mg/l). Eksplan berasal daribenih masak yang dikecambahkan secara in vitro selama 7-10 hari. Kecambah dipisahkan dari akarnyadengan cara memotong horizontal hipokotil 3-5 mm di bawah buku kotiledon. Selanjutnya kecambahdibelah vertikal di antara dua kotiledon sehingga diperoleh dua eksplan buku kotiledon. Pucuk poros embriodi atas buku kotiledon dibuang. Terakhir, dibuat 7-12 goresan sepanjang 3-4 mm sejajar dengan porosembrio pada buku kotiledon menggunakan pisau skalpel no. 15. Eksplan dikulturkan pada media MS yangditambahkan BA sesuai perlakuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi BA optimum untukregenerasi ketiga varietas kedelai adalah 0,75 mg/l media. Persentase eksplan membentuk tunas tertinggiditunjukkan oleh varietas Ijen yaitu sebesar 77,5% dan rata-rata jumlah tunas per eksplan tertinggiditunjukkan oleh varietas Sinabung yaitu sebanyak 5 tunas per eksplan.Kata kunci: Kedelai, benziladenin, regenerasi in vitro, organogenesis ABSTRACTThe objective of this study was to evaluate regenerating capability of three soybean varieties in threeconcentrations of BA. The study was conducted in Laboratory of Plant Tissue Culture, University ofLampung, from January to August 2006. The experiment was arranged in a randomized block design with 7replications. The treatment consisted of 2 factors, i.e., varieties (Anjasmoro, Ijen, and Sinabung) and theconcentration of benzyladenine (0.75, 1.5, and 2.25 mg/l BA). Cotyledonary-node explants were preparedfrom in vitro germinated mature seeds for 7-10 days. Seven to twelve 0.5 mm-deep slices were made on thejunction between hypocotyl and cotyledon of an explant. The explants were cultured on shoot initiationmedia containing MS salts amended with BA. The result indicated that optimum concentration of BA for invitro regeneration of the three varieties was 0.75 mg/l. The highest percentage of explants producing shootswas indicated by Ijen (77.5%). The highest average number of shoot per explant was indicated by Sinabung(5 shoots per explant).Key words: Benzyladenine, in vitro regeneration, organogenesis

Page 7 of 31 | Total Record : 303