cover
Contact Name
Ahadiyat Yugi R., SP., MSi., D.Tech.Sc.
Contact Email
psi.faperta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahadiyat_yugi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
DAMPAK PERUBAHAN POLA CURAH HUJAN TERHADAP TANAMAN PANGAN LAHAN TADAH HUJAN DI JAWA BARAT Ruminta Ruminta; T. Nurmala
Agrin Vol 20, No 2 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.2.323

Abstract

Climate changes and global warming had a great impacts on rainfall patterns. The rainfall patternschanges can influence on rainfed land cropping system. In relation to that fact, study on change of rainfall patternand it’s impacts on rainfed land cropping system had been carried out at the West Java. The study based onrainfall and crop production data that was analyzsed by Adaptive Neuro-Fazzy Inference System. The resultsshowed that the pattern of rainfall at West Java region in the last 30 years has changed and tend to decline. Longrainy season becomes shorter and extreme rainfall (droughts or floods) has increase. Long rainy season changedfrom 6-7 months to 4-6 months and led to a shorter period of growing season. Early planting changed and backabout 1-2 dasarian of early planting is usually done in 14th dasarian. In the area of West Java, production of riceand corn trend to increase while soybean production tends to decline. Model production of food crops which wereanalyzed by ANFIS very accurate and can be used for projecting the production of rice, corn, and soybeans.Key words: climate change, rainfall pattern, rainfed land cropping system ABSTRAKPerubahan iklim dan pemanasan global sangat mempengaruhi perubahan pola curah hujan. Perubahan polacurah hujan tersebut berdampak pada sistem pertanian tanaman pangan lahan tadah hujan. Sehubungan dengan halitu telah dilakukan penelitian mengenai perubahan pola curah hujan dan dampaknya terhadap sistem pertaniantanaman pangan lahan tadah hujan di Jawa Barat. Penelitian menggunakan data curah hujan dan produksi tanamanpangan yang dianalisis menggunakan model Adaptive Neuro-Fazzy Inference System. Hasil penelitianmenunjukan bahwa pola curah hujan di wilayah Jawa Barat pada 30 tahun terakhir mengalami perubahan dancenderung menurun. Lama musim hujan menjadi lebih pendek dan curah hujan ekstrim (kekeringan atau banjir)semakin meningkat. Lama musim hujan berubah dari 6-7 bulan menjadi 4-6 bulan dan menyebabkan periodemasa tanam lebih pendek. Awal tanam mengalami perubahan dan mundur sekitar 1-2 dasarian dari awal tanamsebelumnya yang biasa dilakukan pada dasarian ke 14. Di wilayah Jawa Barat, produksi tanaman padi dan jagungcenderung meningkat sedangkan produksi tanaman kedelai cenderung menurun. Model produksi tanaman panganhasil analisis ANFIS sangat akurat dan dapat dipergunakan untuk memproyeksikan produksi padi, jagung, dankedelai.Kata kunci : perubahan iklim, pola curah hujan, sistem tanaman lahan tadah hujan
EVALUASI ENAM VARIETAS KENTANG DI DATARAN TINGGI KARO – SUMATERA UTARA Fatiani Manik; Setyorini Widyayanti; Jesron Saragih
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.133

Abstract

Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi.Dalam tahun 2011, nilai produktivitas kentang di propinsi Sumatera Utara mencapai.7,49 ton/ha. Salah satufaktor dominan yang berperan dalam meningkatkan produksi kentang adalah varietas. Balai Penelitian TanamanSayuran dan Hortikultura telah merilis berbagai jenis varietas kentang bernilai produksi tinggi. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui varietas yang diintroduksikan di dataran tinggi Karo. Penelitian dilakukan di KebunPercobaan Berastagi jalan Dolat Rayat, Kecamatan Dolat Rayat; Berastagi pada ketinggian tempat 1.340 m dplpada bulan September – Desember 2011. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompokdengan varietas kentang sebagai perlakuan yaitu Cipanas, Ping, Merbabu, Margahayu, GM 05 dan GM 08.Masing-masing perlakuan diulang 3 kali dan dilakukan pada total lahan seluas 1000 m2. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa produksi tertinggi adalah varietas Merbabu dengan peningkatan produksi 30,9 % (25,357ton/ha) dari varietas GM 08 dan diikuti varietas Ping dan Cipanas dengan tingkat produktivitas 23,887 ton/hadan 20,195 ton/ha.Kata kunci : evaluasi, varietas, produksi, kentang .ABSTRACTPotato is one of the horticulture commodities which have a high economic value. In 2011, potatoproductivity value in North Sumatra reach 7.49 ton / ha lower. The dominant case which could increase potatoproductivity is variety. Indonesian Vegetables Research Institute has released various types of potato variety ofhigh productivity value. The purpose of this research was to evaluate potato variety which introduces in theKaro highlands. The experiment was carried out in Berastagi experimental unit in Dolat Rayat, Berastagi at1.340 m above sea level from September-December 2011. The experiment was arranged in a randomized blockdesign with varieties as treatments: Cipanas, Ping, Merbabu, Margahayu, GM 05 and GM 08. Each treatmenthad three replicates and conducted in the total area of 1,000 m2. The results showed that Merbabu varietieshad the highest productivity which could increased 30.9% (25.357 tons / ha) from GM 08 varieties and than,followed by Ping (23.887 tons / ha) and Cipanas (20.195 ton / ha).Key words: evaluation, varieties, yield, potato
SELEKSI MUTAN ANTIBIOSIS Bacillus subtilis B315 UNTUK PENGENDALIAN Ralstonia solanacearum Pr7 Nur Prihatiningsih; Triwidodo Arwiyanto; Bambang Hadisutrisno; Jaka Widada
Agrin Vol 18, No 1 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.1.213

Abstract

Bacillus subtilis B315 adalah bakteri antagonis terhadap patogen tanaman seperti Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri.  Salah satu mekanisme antagonisme adalah antibiosis.  Mutan antibiosis dibuat untuk membuktikan bahwa B. subtilis B315 mempunyai mekanisme antibiosis dalam mengendalikan R. solanacearum.  Tujuan penelitian adalah untuk menyeleksi mutan antibiosis B. subtilis B315 dibandingkan dengan B. subtilis B315 tipe alaminya, 2) mendeteksi sifat antibiosis dari  B. subtilis B315.  Metode yang digunakan adalah eksperimen melalui mutagenesis dengan EMS, seleksi mutan berdasarkan pengujian antibiosis, waktu generasi, pola nutrisi dan konsistensi koloni.  Sifat antibiosis dideteksi dengan ekstraksi metabolit sekunder.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutagenesis dengan EMS yang optimum adalah pada waktu 274,7 menit dengan kematian maksimum 81,7%, Terdapat tiga kelompok mutan antibiosis yaitu yang tidak menghambat R. solanacearum, menghambat dengan zona hambatan 1-3 mm dan menghambat  dengan zona hambatan >3 mm. Mutan antibiosis terpilih yang kehilangan sifat  menghambat, namun waktu generasi dan pola nutrisi serta konsistensi koloni sama dengan B. subtilis B315 tipe alami adalah mutan M16.  Sifat antibiosis B. subtilis B315 ditunjukkan dengan metabolit sekunder yang diekstrak dengan metanol, menghasilkan puncak spot yang berbeda dengan mutan antibiosis M16. Kata kunci: Bacillus subtilis B315, mutan antibiosis, pengendalian, Ralstonia solanacearum  Pr7 ABSTRACT            Bacillus subtilis B315 is an antagonistic bacterium against plant pathogens such as Ralstonia solanacearum that causes bacterial wilt disease.  One of the antagonistic mechanisms is antibiosis. Antibiosis mutant is made to prove that B. subtilis B315 has an antibiosis mechanism in controlling R. solanacearum.  Aims of the research were 1) to select the B. subtilis B315 antibiosis mutant compared with B. subtilis B315 wild type, and  2) to detect antibiosis characters owned by B. subtilis B315.  The method used was an experiment through mutagenesis with EMS, mutant selection based on antibiosis test, generation time, nutrition pattern and colony consistency.  Antibiosis characters were detected by extraction of secondary metabolites.  Results of the research performed that optimal mutagenesis with EMS was at 274.7 minutes by maximum lethality of 81,7%.  There were 3 groups of antibiosis mutants i.e. not inhibiting R. solanacearum, inhibition with 1-3 mm of inhibiting zone, and inhibition with >3 mm of inhibiting zone.  The selected antibiosis mutant lost its inhibiting character, but the generation time and the nutrition pattern  and the colony consistency similar to B. subtilis B315 wild type was the M16 mutant.  Antibiosis characters of B. subtilis B315 were shown by secondary metabolites extracted with methanol to produce the peak spot that was different from the M16 antibiosis mutant. Key words: Bacillus subtilis B315, antibiosis mutant, control, Ralstonia solanacearum  Pr7 
KINERJA PEMASARAN DAN DAYA SAING EKSPOR KAKAO INDONESIA (Studi Kasus di Propinsi Sulawesi Tenggara) Supriatna, Ade; Dradjat, Bambang
Agrin Vol 12, No 2 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.2.85

Abstract

Penelitian dilaksanakan tahun 2005 di Kabupaten Kolaka, daerah sentra produksi kakao SulawesiTenggara. Tujuan penelitian, yaitu: (1) menganalisis pemasaran kakao di tingkat petani dan (2) menganalisiskinerja ekspor kakao terutama daya saing kakao Indonesia di pasar internasional. Penelitian menggunakanmetoda survai. Hasil penelitian menunjukan, bahwa petani menjual kakao melalui tiga saluran pemasaran, yaitu:pertama, petani menjual kakao ke pengumpul, dari pengumpul ke pedagang besar lalu pedagang besarmenjualnya ke eksportir; kedua petani menjual kakao ke pengumpul lalu pengumpul menjualnya ke eksportir;ketiga, petani menjual kakao ke pedagang besar lalu pedagang besar menjualnya ke eksportir. Saluran pertamapaling sering digunakan oleh petani dibandingkan saluran lainnya. Pada setiap saluran, eksportir selalumemperoleh keuntungan paling besar (antara Rp.1.000 sampai Rp.1.050/kg) dibandingkan pelaku pasar lainnya.Hal ini sudah wajar karena mereka mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan mutu barang sesuaipermintaan importir, menanggung resiko akibat perubahan harga di pasar dunia serta perubahan nilai tukarrupiah terhadap mata uang asing. Ekspor kakao Indonesia belum berorientasi pasar, melainkan masihberorientasi produksi dimana perkembangan volume ekspor tidak sejalan dengan perkembangan nilai ekspor.Hasil analisis RCA selama sembilan tahun (1995-2004) menunjukkan bahwa daya saing kakao Indonesiacenderung menurun (0,11%/tahun) dan juga Ghana (3,98%) dan Pantai Gading (2,59%) per tahun. Sementara,negara eksportir lainnya mengalami kenaikan seperti Belgia (35,09%), Belanda (8,15%), Nigeria (4,82%) danKamerun (1,52%) per tahun. Pemerintah perlu memberikan dukungan kebijakan yang kondusif untukmeningkatkan daya saing kakao Indonesia. Perbaikan diperlukan mulai dari tingkat usahatani melalui penerapanteknologi unggulan, perbaikan pasca panen dan pemasaran.Kata kunci: kakao, analisis pemasaran dan eksporABSTRACTThis study was conducted in 2005 and taken place in Kolaka District, a centre of cacao production ofSulawesi Tenggara. The objectives of study were : (1) to analyze the marketing of cacao in farmer level and (2)to analyze the performance of cacao export especially its competitiveness in international market. This studyused the method of survey. Result showed, that the farmer sold cacao through three marketing channels, that is:the first channel, the farmer sold cacao to collector, from collector to wholesaler then the wholesaler sold it toexporter; the second channel, the farmer sold cacao to collector then the collector sold it to exporter; the thirdchannel, the farmer sold cacao to wholesaler then wholesaler sold it to exporter. The first channel was the mostoften used by farmer compared to other channels. In each marketing channel, exporter always obtained thehighest benefit (from IDR.1,000 to IDR.1,050/Kg) compared to other market actors. The exporter spend a lot ofcost to get quality of cacao according to importer request, took some risks caused by the price change in theworld market and also change of the exchange rate of rupiah to foreign money. The export of Indonesia cacaowas not yet oriented to the market, but still oriented to production. Where the growth of export volume did not inline with the growth of export value. The result of RCA analysis during nine years (1995-2004) indicated thatIndonesia cacao competitiveness showed decreasing (0.11%/year) and also Ghana (3.98%) and Ivory Coast(2.59%). While the others countries showed increasing like Belgium (35.09%), Netherlands (8.15%), Nigeria(4.82%) and Cameroon (1.52%) per year. Government required doing some conductively policy to supportincreasing the competitiveness of Indonesia cacao. Some improvements were needed from on-farm level throughadopting recommended technology, post-harvest handling and marketing.Key words: cacao, marketing and export
KERAGAAN AGRONOMIS GALUR-GALUR PADI SAWAH TADAH HUJAN GREEN SUPER RICE (GSR) DI INDONESIA Untung Susanto; Umi Barokah
Agrin Vol 20, No 1 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.1.314

Abstract

This research was aimed to initially test 40 rainfed lowland dedicated GSR lines along with 3 checks, i.e.PSBRC68, Situbagendit, and Silugonggo. The trial was conducted in ICRR experimental station in Sukamandiwith irrigation only until 2 weeks after transplanting and during flowering. The trial was conducted during DS2012 following Randomized Complete Block Design of three replication in 1 m x 1 m plot size and planting spaceof 20 cm x 20 cm. Transplanting was conducted to 21 days old seedings. The results showed that identified fiveline that have higher yields than the best check Silugonggo ( 4.22 t/ha ), which Luyin 46 ( 5.18 t/ha ), 926 ( 5.12t/ha ), SACG - 7 ( 4.46 t/ha ), LH1 ( 4.36 t/ha ) and Weed Tolerant Rice ( 4.30 t/ha ). A total of three lines , namelyZX788 ( 84 HSS ), 08FAN4 ( 89 HSS ) and D100 ( 91 HSS ) has a ripe age is significantly more early maturity ofthe check is very early maturing Silugonggo ( 95 HSS ). GSR lines tested had similar agronomic characters withexisting varieties, among others, from 46.67 to 100.2 cm plant height, number of productive tiller 6-10 fruit,flowering age 56-86 HSS, or physiological maturity round 84 -102 HSS, filled grain 47-185 grains per panicle,1000 grain weight 17.94 to 32.34 g, and the results ranged from 0.95 to 5.18 t/ha.Key words: GSR, rainfed lowland, agronomic performance, yield ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji awal daya adaptasi 40 galur GSR untuk padi sawah tadah hujan(GSR-Rainfed Lowland/GSR-RFLL) yang diintroduksi dari IRRI sebagai salah satu set pengujian dalam INGER(International Network for Rice Genetic Evaluation) beserta 3 varietas cek, yaitu PSBRC68, Situbagendit, danSilugonggo. Pengujian dilakukan pada kondisi sawah irigasi di Kebun Percobaan BB Padi di Sukamandi, namundengan perlakuan kering fase vegetatif, yaitu pengairan diberikan hingga dua minggu setelah tanam dan pada saattanaman berbunga, sebagai simulasi kondisi kering di lahan tadah hujan. Penelitian dilakukan pada MK 2012menggunakan rancangan acak kelompok tiga ulangan pada plot berukuran 1 m x 1 m dan jarak tanam 20 cm x 20cm. Tanam pindah dilaksanakan pada saat bibit berumur 21 HSS. Hasil pengujian mengidentifikasi lima galuryang memiliki daya hasil lebih tinggi daripada cek terbaik Silugonggo (4,22 t/ha), yaitu Luyin 46 (5,18 t/ha), 926(5,12 t/ha), SACG-7 (4,46 t/ha), LH1 (4,36 t/ha) dan Weed Tolerant Rice (4,30 t/ha). Sebanyak tiga galur, yaituZX788 (84 HSS), 08FAN4 (89 HSS) dan D100 (91 HSS) memiliki umur masak yang secara nyata lebih genjahdari cek sangat genjah Silugonggo (95 HSS). Galur-galur GSR yang diuji memiliki karakter agronomi setaradengan varietas unggul yang telah ada, antara lain tinggi tanaman 46,67-100,2 cm, jumlah anakan produktif 6-10buah, umur berbunga 56-86 HSS, atau masak fisiologis sekitar 84-102 HSS, gabah isi per malai 47-185 butir,bobot 1000 butir 17,94-32,34 g, dan hasil berkisar 0,95-5,18 t/ha.Kata kunci: GSR, sawah tadah hujan, keragaaan agronomis, hasil
ANALISIS GRAFIK GGE-BIPLOT GENOTIP, LINGKUNGAN DAN INTERAKSINYA PADA KANDUNGAN FE BERAS Suwarto Suwarto; Nasrullah Nasrullah; Taryono Taryono; Endang Sulistyaningsih
Agrin Vol 14, No 1 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.1.101

Abstract

Data konsentrasi Fe beras 10 genotip padi pada 4 lingkungan musim hujan tahun 2007 – 2008 dianalisismenggunakan metode GGE-biplot. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh genotip, lingkungandan interaksi genotip lingkungan pada konsentrasi Fe beras. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan AcakKelompok Lengkap, tiga kali ulangan pada tiap lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan lingkungan, genotipdan interaksinya berpengaruh nyata terhadap konsentrasi Fe beras. Lingkungan menjelaskan 66.55% dari variasitotal (G + E + GE), sedangkan G dan GE menjelaskan 10.07% dan 23.38%. Dua principal component (PC1 andPC2) digunakan untuk membuat grafik GGE-biplot, menjelaskan 74.10% dan 14.55% dari JK (jumlah Kuadrat)GGE. Genotepe G4 (Barumun) merupakan genotip ideal karena memiliki konsentrasi Fe beras tertinggi danpaling stabil. Lingkungan L4 (Cilongok) merupakan lingkungan terbaik karena paling representative mewakilisemua lingkungan dan paling kuat untuk membedakan genotip.Kata Kunci : Fe beras, genotip, lingkungan, interaksi, GGE-biplot ABSTRACTFe concentration in rice data of 10 genotypes tested across 4 paddy field environments during the 2007 –2008 wet season were analyzed using the GGE-biplot method. The objective of this study was to explore theeffect of genotype and genotype x environment interaction on the Fe rice concentration of 10 rice genotypes.Experiments were conducted using a randomized completely block design with three replications at 4environments. Results indicate that environment, genotype and genotype x environment interaction weresignificantly effect on Fe rice concentration. Environment explained 66.55% of total (G + E + GE) variation,whereas G and GE captured 10.07% and 23.38%, respectively. The first two principal components (PC1 andPC2) were used to create a two-dimensional GGE-biplot and explained 74.10% and 14.55% of GGE sum ofsquares. Genotype G4 (Barumun) was desirable in terms of highest Fe rice concentration ability and stability.Environment L4 (Cilongok) was the best representative of the overall environments and the most powerful todiscriminate genotypes.Key words : Fe rice concentration, genotype, environment, interaction, GGE-biplot
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR KOSARINE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca Sativa L) Ratna Nirmala
Agrin Vol 17, No 2 (2013): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2013.17.2.204

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh pupuk organik cair kosarine terhadappertumbuhan dan hasil tanaman selada; dan (2) konsentrasi pupuk organik cair kosarine yang tepat dalammempengaruhi pertumbuhan dan hasil sayur selada yang terbaik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februarisampai April 2013 di lokasi lahan pada Jalan Kenyah Sempaja Kelurahan Sempaja Kecamatan Samarinda Utara.Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas empat perlakukankonsentrasi POC kosarine yang diulang sebanyak sembilan kali yaitu : 0 mL/L air sebagai kontrol (k0), 10 mL/Lair (k1), 20 mL/L air (k2) dan 30 mL/L air (k3). Sehingga terdapat 36 populasi tanaman yang masing-masingditanam pada polibag yang berisi tanah bekas ditanami selada, yang medianya diberi pupuk Trichokompos. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pengaruh berbagai konsentrasi POC kosarine terhadap pertumbuhan dan hasilsayur selada tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada semua variabel pengamatan baik rata-rata tinggitanaman, jumlah daun, panjang daun pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari setelah tanam (HST) maupun berat segartanaman pada saat panen. Namun cenderung pada konsentrasi 30 mL/L air (k3) pengaruh lebih baikdibandingkan pada konsentrasi yang lebih rendah terutama pada berat segar saat panen.Kata kunci : pupuk organik cair kosarine, pertumbuhan dan hasil, seladaABSTRACTAims of this research were to know the effect of several concentration of Kosarine liquid organicfertilizer on the growth and yield of lettuce (Lactuca sativa L) and to find proper concentration of kosarine forbetter growth and production of of lettuce. It was conducted at Kenyah street, Sempaja Village North Samarinda,starting from February until April 2013. This research used Randomized Completely Block Design with fourtreatments concentration of kosarine liquid organic fertilizer, consisting of 0 ml kosarine/l water as control (k0),10 ml kosarine/l water (k1), 20 ml kosarine/l water (k2), and 30 ml kosarine/l water (k3). Each treatment wasreplicated nine times, so that all treatments were 36 polybags. The polybag contained top soil mixed residuetrichocompose manure. One seedling of lettuce was planted in one polybag. Results of the research showed thatall treatments were insignificantly different in all variables of the growth and yield of lettuce like : increasingheight of plant, number of leaves, length of leaves at 7, 14, 21 and 28 days after transplanting and fresh weightof plant. Nevertheless, there was a tendency at 30 ml kosarine/l water (k3) concentration to peform better resultthan the lowest concentration on fresh weight of plant at harvest time.Key words : kosarine organic liquid fertilizer,growth and yield, lettuce
STUDI KELAYAKAN INDUSTRI RUMAH TANGGA PANGAN (IRTP) SAGU Timisela, Natelda R.
Agrin Vol 12, No 1 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.1.78

Abstract

Sagu dapat dimanfaatkan sebagai substitusi terigu dan mengurangi ketergantungan terhadap beras karenamengandung karbohidrat dalam jumlah tinggi. Sagu bahkan dapat diandalkan menjadi sumber pangan pokok,sehingga jika budidaya dan pemanfaatan tanaman sagu dikembangkan menjadi tanaman komersil di bidangpertanian maka tanaman sagu bisa setara popularitasnya dengan pangan lain. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui kelayakan industri rumah tangga pangan (IRTP) sagu; kepekaan IRTP sagu terhadap perubahanharga output dan harga input, produktivitas tenaga kerja pada IRTP sagu dan kontribusi IRTP sagu terhadappendapatan total rumah tangga. Berdasarkan hasil analisis finansial dan analisis kelayakan, IRTP sagumenguntungkan dan layak diusahakan. Nilai produktivitas tenaga kerja juga sangat tinggi lebih besar dari UpahMinimum Provinsi, selain itu juga IRTP sagu memberikan kontribusi yang sangat tinggi terhadap pendapatantotal rumah tangga yaitu sebesar 87,9 %.Kata kunci: IRTP sagu, kelayakan, kontribusi, kepekaan, produktivitas ABSTRACTSago could be consumed as a substitute of flour and decrease dependency of rice due to high contents ofcarbohydrate. Sago could become as main food so it is possible to develop its cultivation as well as utilization inorder to improve as a commercial crop similar to other crops. The objectives of this study were to evaluate thefeasibility of sago household industries, sensitivity of these household industries upon the change of output andinput price, the productivity of its labors and contribution upon the household income. The results of this studyindicated that sago was profitable and feasible to develop. The labors productivity was higher than the minimumprovincial wage. The contribution of this business on the total household income was to 87.9 percent.Key words: Sago household industries, feasibility, contribution, sensitivity, productivity.
PENGELOLAAN CABAI MERAH DENGAN FOKUS PENGENDALIAN VEKTOR DAN VIRUS MOSAIK Neni Gunaeni
Agrin Vol 19, No 2 (2015): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2015.19.2.244

Abstract

Virus mosaik pada tanaman cabai sebagai penyakit yang mudah menyebar dan pembawanya kutudaundisebabkan oleh virus CMV, ChiVMV, TMV, ToMV, PVY dan TEV. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkankomponen pengendalian dengan fokus pengendalian vektor dan penyakit virus mosaik. Penelitian dilakukan diBalai Penelitian Tanaman Sayuran pada ketinggian 1250 m dpl pada bulan Juli - Desember 2011. Penelitianmenggunakan Rancangan Petak Terpisah. Petak utama adalah barier yang terdiri atas 3 level (jagung, kasa 50mesh dan tanpa barier) dan anak petak adalah rakitan komponen input produksi yang terdiri dari atas 3 level yaitu: PTT-1 (Kasa 50 mesh, Varietas Tanjung-2, pupuk kandang 30 ton/ha, pupuk anorganik NPK 1 ton/ha, predatorMenochilus sexmaculatus, biofungisida, bioinsektisida, perangkap likat kuning). PTT-2 (Kasa 50 mesh, VarietasTanjung-2, pupuk kandang 30 ton/ha, pupuk anorganik NPK 1 ton/ha, predator M.sexmaculatus, biofungisidadiselingi kimia selektif, bioinsektisida diselingi kimia selektif, perangkap likat kuning. Cara Petani (Tanpa kasa,Varietas Tanjung-2, pupuk kandang 30 ton/ha, pupuk anorganik NPK 1 ton/ha, Tanpa predator, fungisida,insektisida, insektisida + perangkap likat kuning). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tidakmempengaruhi tinggi dan lebar kanopi tanaman, serta penyakit yang disebabkan patogen cendawan. Penggunaankasa mengurangi serangan virus dan antraknos, tapi tidak dapat menghalangi masuknya hama serangga kepertanaman cabai. Barier jagung meningkatkan populasi M. sexmaculatus dan hasil panen. Kombinasi perlakuanyang paling baik adalah lahan terbuka dengan PTT -1 dan cara petani.Kata kunci: Capsicum annuum L., vektor, penyakit virus mosaikABSTRACTMosaic virus in hot pepper as easily spread diseases and afid carrier caused by virus CMV, ChiVMV, TMV,ToMV, PVY and TEV. The purpose of this study was to gain control of the corresponding components with a focuson the control of vectors and Mosaic Virus Diseases. The study was conducted at the Indonesia Vegetable ResearchInstitute on altitude of 1250 m above sea level in July to December 2011. The study uses draft separated plots. Themain plot is a barrier crop consists of 3 levels (corn, gauze 50 mesh and without barrier) and subplot areassemblies consisting of production inputs on 3 levels: IPM (Integreated Plants Management) -1: (gauze 50 mesh,Tanjung – 2 variety, manure 30 t/ha of inorganic fertilizer NPK 1 ton/ha, predators Menochilus sexmaculatus,biofungisida, biopesticide, yellow sticky traps). IPM (Integreated Plants Management) – 2: (gauze 50 mesh,Tanjung – 2 variety, horse manure 30 t/ha of inorganic fertilizer NPK 1 ton/ha, predators M. sexmaculatus,interspersed biofungisida selective chemistry, chemical interspersed selective biopesticide, yellow sticky traps.Farmers Method: (without netting, Tanjung Variety - 2, manure 30 t/ha of inorganic fertilizer NPK 1 ton/ha,without predators M. sexmaculatus, chemical of fungicides, chemical of insecticides, chemical of insecticides +yellow sticky trap). The results showed that the combination treatments applied did not affect plant height andwidth of the plant canopy, as well as diseases caused by pathogenic fungi. The use of gauze as a barrier mayslightly reduce the attack virus and anthracnose, but can not prevent the entry of insect pests to crop chili. Plantcorn edge M. sexmaculatus increase predator populations and harvest. The best treatment combination is openland with IPM-1 and farmers method.Key words : Capsicum annuum L., vectors, mosaic virus diseases
PEWARISAN SIFAT PANJANG POLONG PADA PERSILANGAN BUNCIS TEGAK (Phaseolus vulgaris L.) KULTIVAR FLO DAN KULTIVAR RICH GREEN Joko Pinilih; Sartono Putrasamedja
Agrin Vol 12, No 2 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.2.92

Abstract

Persilangan buncis kultivar FLO yang mempunyai hasil rendah dan kultivar Rich Green yang mempunyaihasil tinggi telah dilakukan di Wonogiri , Jawa Tengah dan Lembang, Jawa Barat sejak bulan September 2002sampai bulan November 2004. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pewarisan sifat panjang polong.Parameter yang diamati adalah panjang polong. Penelitian dilakukan tiga tahap : (1). Pembentukan F1 yaitupersilangan antara FLO (P1) dengan Rich Green (P2) dan persilangan resiproknya (F1r). (2). Pembentukan F2yaitu dari F1 yang diselfing, pembentukan BC11 yang merupakan persilangan antara F1 dengan P1 danpembentukan BC12 yaitu persilangan dari F1 dengan P2. (3). Evaluasi P1, P2, F1, F2, BC11 dan BC12. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sifat panjang polong diwariskan secara kuantitatif, dikendalikan oleh banyak gen(poligenik). Nilai duga heritabilitasnya tergolong tinggi dan nilai duga kemajuan genetiknya cukup tinggi. Tidakterdapat pengaruh tetua betina dalam pewarisan sifat panjang polong, Sifat panjang polong dikendalikan olehgen-gen di dalam inti.Kakta kunci: buncis, pewarisan sifat, panjang polong, heritabilitas, kemajuan genetik ABSTRACTCrossing of beans ( Phaseolus vulgaris L ) between FLO Cultivar that have law yield and Rich Greencultivar that have high yield has been done at Wonogiri , Central Java and at Lembang, West Java sinceSeptember 2002 to November 2004. The objective of research was to study the inheritance of pod length .Parameters observed was pod length. The research was done in three stages : (1). Establishment of F1 fromcrossing between FLO (P1) and Rich Green (P2) and its reciprocal crossing (F1r). (2). Establishment F2 fromselfing of F1. BC11 was made from crossing between F1 with P1 and BC12 was made between crossing F1 andP2. (3). Evaluation of P1, P2, F1, F1r,F2, BC11 and BC12. Result of the research showed that Pod lengthcharacter was inherited quantitatively , it was controlled by many genes. The heritability estimate of pod lengthcharacter was categorized of high and the expected genetic advance was rather high. There was no mathernaleffect in inheritance of pod length character. The character of pod length was controlled by the nuclear genes.Key words: Phaseolus vulgaris,Inheritance, pod length, heritability, genetic advance 

Page 8 of 31 | Total Record : 303