cover
Contact Name
Ahadiyat Yugi R., SP., MSi., D.Tech.Sc.
Contact Email
psi.faperta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahadiyat_yugi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian
ISSN : 14100029     EISSN : 25496786     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrin provides facilities for publishing articles or quality papers in the form of research results in various aspects of agriculture and agricultural commodities widely including ; agronomy, agroecology, plant breeding, horticulture, soil science, plant protection, agribusiness, agroforestry, food science and technology , agricultural techniques, agricultural innovations, agricultural models and agricultural biotechnology. This journal is published twice a year, ie the April and October. The Agrin Journal invites researchers, academics and intellectuals to contribute critical writing and contribute to the development of agricultural science.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
PENGEMBANGAN METODE PENETAPAN KADAR AIR BENIH SAGA POHON (Adenanthera pavoninaL) DENGAN METODE OVEN SUHU RENDAH DAN TINGGI Agustin, Heny; Prananda, Yudha
Agrin Vol 21, No 1 (2017): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2017.21.1.335

Abstract

Pengujian kadar air benih secara umum telah diatur oleh International Seed Testing Association untukberbagai keperluan, namun beberapa komoditi belum diatur secara jelas termasuk benih saga pohon. Oleh karenaitu pengembangan uji kadar air pada benih saga pohon dirasa perlu untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untukmengembangkan uji kadar air benih saga pohon dengan dua metode oven yaitu suhu rendah dan tinggi. Penelitiandilaksanan di Lab. Agroekoteknologi, Universitas Trilogi sejak September-Desember 2016. Penelitian terdiri atasdua percobaan yaitu dengan metode oven suhu rendah (103±2)oC dan suhu tinggi (133±2)oC yang keduanyamenggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor yaitu perlakuan benih saat di oven dan lamanya pengovenan.Untuk metode oven suhu rendah, faktor perlakuan benih saat di oven terdiri atas tiga taraf yaitu benih utuh, benihdibelah dua, benih dihaluskan dan lamanya pengovenan terdiri atas empat taraf yaitu 17 jam, 19 jam, 21 jam, dan23 jam. Untuk metode oven suhu tinggi, faktor perlakuan benih saat dioven terdiri atas tiga taraf yaitu benih utuh,benih dibelah dua, benih dihaluskan dan faktor lamanya pengovenan terdiri atas lima taraf yaitu 1 jam, 2 jam, 3jam, 4 jam, dan 5 jam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar air benih saga pohon dapat dilakukan denganmetode oven suhu rendah selama 17 jam dengan perlakuan benih dibelah dua atau selama 19-23 jam denganperlakuan benih utuh. Pengujian kadar air dengan metode suhu tinggi untuk perlakuan lamanya pengovenan dapatdilakukan selama 1 jam dan untuk perlakuan benih saat di oven dapat dilakukan dalam keadaan benih utuh.Kata kunci: benih utuh, benih dibelah dua, benih dihaluskan, lamanya pengovenan.ABSTRACTInternational Seed Testing Association generally rules the testing method of seed moisture content forvarious purposes. However, some commodities have not been clearly regulated including saga seeds. Therefore,the development of seed moisture content testing for saga seeds is considered necessary. The objective of the studywas to develop seed moisture content testing using two oven methods, namely low and high constant temperature.It was conducted at Integrated Lab. of Agroecotechnology, Department of Agroecotecnology, Trilogi Universitystarting from September to December 2016. Two experiments which were low constant temperature oven method(103±2) oC and high constant temperature oven method (133±2) oC were tested using two factors randomizedgroup design. The factors were seed treatment in the oven and period of seed drying. Low constant temperaturemethod used 3 levels of seed treatment (whole seed, half seed, and ground seed, respectively) and 4 levels of dryingperiod (17, 19, 21, and 23 hours, respectively). While high constant temperature method used 3 levels of seedtreatment (whole seed, half seed, and ground seed, respectively) and 5 levels of drying period (1, 2, 3, 4, and 5hours, respectively). The results showed that saga moisture content could be determined using low temperaturemethod with 17-hour drying period for half seeds or 19-23 hours of drying period for whole seeds. As for hightemperature method, seed moisture content testing could be done when seeds were dried for 1 hour, while for seedtreatment in the oven conducted for whole seeds.Key words: whole seed, half seed, ground seed, period of seed drying.
VARIASI VIRULENSI ISOLAT Fusarium oxysporum f.sp.cepae PADA BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH Nugroho, Bambang; Astriani, Dian; Mildaryani, Warmanti
Agrin Vol 15, No 1 (2011): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2011.15.1.114

Abstract

Penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp.cepae merupakan penyakit utama bawangmerah yang selalu ditemukan di setiap daerah penanaman dengan intensitas penyakit yang bervariasi. Variasi inididuga berkaitan dengan variasi virulensi patogennya dan variasi ketahanan varietas bawang merah. Beberapaisolat patogen diuji pada beberapa varietas bawang merah untuk mengetahui variasi virulensinya dan ketahananbawang merah terhadap penyakit moler. Lima varietas bawang merah yaitu Tiron, Filip, Kuning, Thailan, danBiru diinokulasi dengan empat isolat patogen yang berasal dari Kulonprogo (isolat Kp), Bantul (isolat Bt),Brebes (isolat Br), dan Nganjuk (isolat Ng). Sebelum inokulasi dengan cara perendaman umbi bibit dalamsuspensi mikrokonidium patogen konsentrasi 106, umbi didisinfeksi dengan perendaman dalam kloroks 1%selama 1 menit, dicuci dengan akuades steril, dan dikeringanginkan semalam. Umbi yang sudah diinokulasikemudian ditanam dalam polibeg yang berisi medium tanam yang berupa campuran tanah:pupuk kandang sapi2:1 v/v. Isolat Bt menunjukkan virulensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan 4 isolat yang lain pada semuavarietas bawang merah yang diuji. Isolat Bt menyebabkan penyakit dengan intensitas yang lebih tinggi, danmenyebabkan kematian total pada varietas Kuning. Varietas Filip dan Biru adalah varietas yang paling tahan,sebaliknya varietas Kuning adalah yang paling rentan terhadap penyakit moler.Kata kunci: variasi virulensi, Fusarium oxysporum f.sp.cepae, resistensi, bawang merah ABSTRACTMoler (shallot twisting disease) caused by Fusarium oxysporum f.sp.cepae is a major disease on shallotthat is always found in every shallot plantation with various disease intensity. The variation of disease intensitymay be related to variation of virulence of the pathogen and the resistance of shallot varieties. Several isolatesof the pathogen were tested on several shallot varieties to know the variation of their virulence as well as theresistance of the shallot varieties. Five varieties of shallot i.e. Tiron, Filip, Kuning, Thailan, and Biru wereinoculated with four isolates of the pathogen originated from Kulonprogo (Kp isolate), Bantul (Bt isolate),Brebes (Br isolate), and Nganjuk (Ng isolate). Before inoculation by deeping the bulbs in 106/ml microkonidiumsuspension for 30 minutes, the bulbs were disinfected with 1% NaOCl for about 1 minute, washed with sterilizedaquadest, and air dryed overnight. The inoculated bulbs were then planted in polybags containing plantingmedium of soil:organic fertilizer 2:1 v/v. Bt isolate showed the higher virulence compared to 4 other isolates onall varieties tested. The isolate gave the higher disease intensity, and it caused total plant death on Kuningvariety. Filip and Biru varieties were the most resistant, whilst Kuning variety was the most susceptible to thedisease.Key word: variation of virulence, Fusarium oxysporum f. sp. cepae, resistance, shallot 
TEKNIK BUDIDAYA SINGKONG OLEH PETANI DI KOTA BENGKULU Supanjani, Supanjani
Agrin Vol 16, No 2 (2012): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2012.16.2.138

Abstract

Singkong dapat menjadi sumber pangan alternatif dan sumber bioenergi yang paling efisien dibandingkandengan tebu dan jagung, yang menjadi sumber utama bioetanol dunia. Penelitian ini bertujuan untukmengumpulkan informasi teknologi budidaya singkong, dari sisi klon, pengolahan lahan, penanaman danpemupukan, yang diterapkan oleh petani di Kota Bengkulu beserta produktivitasnya. Survey dilakukan denganmengidentifikasi pertanaman singkong yang sudah tumbuh dan cukup umur untuk dipanen, mendiskusikandengan petani teknik budidaya yang diterapkan, membeli, mengukur pertumbuhan dan memanen tanamansampel singkong untuk menduga produktivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya yangditerapkan oleh petani beragam sehingga produktivitasnya beragam dengan rentang 19 – 75 ton ha-1. Petanimemilih klon-klon yang telah terbukti berproduksi tinggi di daerahnya maupun di daerah lain. Produktivitasingkong yang tinggi disebabkan oleh penggunaan bibit unggul produksi tinggi, pengolahan lahan sempurna danpemupukan kandang yang dicampur pada saat pengolahan lahan. Fleksibilitas pemanenan ubi dapatdimanfaatkan oleh petani untuk mengatasi deteriorasi fisiologis pasca panen. Penelitian lebih lanjut perludifokuskan tentang keseuaian klon dan teknik budidaya yang meliputi pemupukan anorganik dan hayati denganmikroba pemacu pertumbuhan tanaman, serta kualitas singkong untuk bahan pangan dan bioethanol.Kata kunci: singkong, petani, produktivitas, teknik budidayaABSTRACTCassava can be the most efficient crop for food and altervative energy as compared with sugarcane andcorn, currently main feeding sources of world bioethanol. A survey was conducted to gather informationregarding cultural techniques used for growing cassava, with regard to clone/genetic selection, soil tillage,planting pattern and fertilization applied by farmers in Bengkulu City, and their related root productivity. Plotsof cassava crops reaching their maturity were identified. Discussions were accomplished farmers regarding withcultural techniques in growing cassava, follwed by measuring plant growth and taking samples for assessingroot growth and yield. The results demonstrated that farmers varied in applying cultural techniques for growingcassava hence their cassava yields varied greatly from 19 to 75 ton ha-1. Farmers selected cassava propagulesbased on information, both from their own vicinity or from other places, that they are high yielding. High rootproductivity was related to the use of high-yielding varieties, full tillage combined with manure fertilization. Theadvantage of flexibility in harvesting root were employed by farmers with daily harvesting to aleviate postharvestphysiological deterioration in selling fresh root. Based on this informastion, further researches shouldbe focused on the suitability of cassava clones with specific environment, cultural techniques, includinganorganic fertilization, the use of plant growth promoting rhizobacteri and their related root qualities for foodand bioethanol.Key words: cassava, farmers, cultural techniques, yield
KONTRIBUSI USAHA HUTAN RAKYAT DI BAGIAN HULU SUB DAS LOGAWA KABUPATEN BANYUMAS (Kajian Kelayakan Usaha Kayu Sengon di Kecamatan Kedungbanteng) Ethika, Dyah; Purwanto, Ris Hadi; Senawi2, Senawi; Masyhuri, Masyhuri
Agrin Vol 18, No 2 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.2.217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumbangan pendapatan hutan rakyat dan kelayakan usaha dari tanaman kayu (khususnya albasia/sengon) dan non kayu (hortikultura) di bagian hulu Sub DAS Logawa di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Desa sampel yang terpilih adalah Desa Baseh dan Desa Kalisalak dengan pertimbangan desa tersebut mempunyai wilayah hutan rakyat terluas (43%) dari luas hutan rakyat di bagian hulu Sub DAS Logawa Kecamatan Kedungbanteng. Diperoleh sampel sebanyak 18 responden untuk Desa Kalisalak dan 12 responden untuk Desa  Baseh. Rata-rata luas kepemilikan lahan sekitar 0.80 ha. Total pendapatan petani hutan rakyat sebesar Rp19.841.011,00/thn. Rata-rata pendapatan dari hutan rakyat sebesar Rp13.437.507,00/thn, terdiri dari pendapatan dari kayu sebesar Rp10.227.560,00/thn dan pendapatan dari non kayu sebesar Rp3.209.947,00/thn. Sumbangan pendapatan usaha hutan rakyat terhadap pendapatan petani sebesara 67.72 %. Besarnya NPV usaha kayu sengon dengan umur 8 tahun pada tingkat bunga sebesar 16 persen adalah sebesar Rp17.164.380,00, artinya investasi yang ditanam saat ini akan memberi manfaat sebesar  Rp17.164.380,00. Nilai Net B/C sebesar 1,80, artinya  bahwa usaha hutan rakyat di daerah tersebut memperoleh keuntungan sebesar 1,80 kali dari modal yang dikeluarkan. Nilai IRR menunjukkan sebesar 49.07 persen, di atas suku bunga yang berlaku (16 persen),  artinya bahwa investasi usaha hutan rakyat di bagian hulu Sub DAS Logawa di Kedungbanteng menguntungkan terutama untuk kayu sengon, sehingga layak untuk diusahakan. Kata kunci: hutan rakyat, hulu Sub DAS Logawa, pendapatan, kayu sengon ABSTRACTThis research aims to determine the income of private forest farmers from the analysis of financial and feasibility analysis of the wood (especially albizia/sengon ) and non-wood in the upstream sub-watershed in the District Kedungbanteng Logawa Banyumas. The study was conducted by using descriptive analysis. The selected sample villages is the Village and Village Kalisalak Baseh considering the village has the largest private forest areas (43%) of the people of the forest area in the upstream Sub-watershed Logawa District of Kedungbanteng. Obtained a sample of 18 respondents to the Village Kalisalak and 12 respondents to the Village Baseh. Total revenues for private forest growers Rp19.841.011,00/ha/thn. Average income from community forests for Rp13.437.507,00/ha/thn, consists of revenue from the wood of Rp10.227.560,00/ha/thn and income from non-timber for Rp3.209.947,00/ha/thn. Contribution of community forest revenues on the income of farmers sebesara 67.72%. The magnitude of the NPV for 8 years from the timber business sengon at an interest rate of 16 percent for Rp17.164.380,00. This means that investments are planted to 8 years will be net benefits obtained by Rp17.164.380,00. Net value of B/C of 1.80, meaning that the business community forests in the region of 1.80 times the gain of the issued capital. Business IRR of 49.07 percent. This means that the investment community forest enterprises in the upstream Sub-watershed Logawa in Kedungbanteng profitable, making it feasible to run. Key words: community forests, upstream Sub-watershed Logawa, income, wood feasibility sengon
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ENAM GENOTIPE BAWANG MERAH YANG DIPERLAKUKAN DENGAN VARIASI PUPUK K DAN SAAT PANEN Ubad Badrudin; Sunarto Sunarto; Ponendi Hidayat
Agrin Vol 11, No 2 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2007.11.2.71

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K dan saat panen enam genotipe bawangmerah yang tetap, sehingga diperoleh hasil maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan PusatPenelitian dan Pengembangan Kedelai (SRDC) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, sejak bulanJuni sampai September 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT)dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah pepumukan K, K0: kontrol dan K1=150 kg KCl/ha, dan anakpetak berupa kombinasi antara genotipe bawang merah dan saat panen. Keenam genotip bawang merahmenunjukkan pertumbuhan dan hasil bervariasi, tetapi bukan disebabkan oleh variasi pemupukkan K. Hasilumbi bervariasi ketika panen dilakukan pada saat yang berbeda. Umur panen 70 hst (U2) memberikan hasillebih baik daripada umur panen 60 hst (U1). Bobot kering askip tanaman per rumpun, dan diameter umbisetiap genotip bawang merah ditentukan oleh saat panen. Galur K (V3) pada umur panen 70 hst (U2)menunjukkan hasil yang paling tinggi. Jumlah umbi per rumun keenam genotip bawang merah ditentukanoleh pemberian pupuk K dan saat panen. Jumlah umbi per rumun Galur K (V3) dan varietas Tiron (V6)meningkat sejalan dengan pemberian pupuk K (K1) dan jika dipanen pada umur 70 hst (U2), sehinggadiameter umbinya menjadi kecil-kecil.Kata Kunci: bawang merah, genotipe, pupuk K, saat panen. ABSTRACTThis research project aimed to find out the proper dose of K fertilizer and harvest time for shallot, soas to gain their maximal yield. Its was carried out in Soybean Research and Development Center (SRDC)field of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, since June until September 2006. A three replication ofSplit Plot Design arranged in Randomized Completely Block Design was employed. The main plot consistedof K0: control and K1: 150 kg KCL per hectare, whilst sub plot was combination between six shallotgenotype and harvesting time. The growth and yield of six shallot varieties varies and its variation dependedon K fertilizer and harvesting time. K application (K0 and K1) was not affect all of observed variables. Bulbyield varies when its harvest was done in different time. Harvesting time in 70 days after planting (U2)resulted higher yield than those of 60 days after planting (U1). Askip dry weight of crop per clump and bulbdiameter of each variety depended on harvesting time. K line (V3) produced the highest yield when shallotwaa harvested in 70 days after planting (U2). The number of tuber per clump for all varieties was determinedby both K application and harvesting time. The number of tuber for K line (V3) and Tiron variety (V6)increased when K fertilizer was applied and shallot was harvested in 70 days after planting (U2), and hencethe diameter of tuber decreased.Key words: shallot, genotype, K fertilizer, harvesting time.
OPTIMALISASI MEDIA PERKECAMBAHAN DALAM UJI VIABILITAS BENIH SELADA DAN BAWANG MERAH Agustin, Heny; Lestari, Dessy Indah
Agrin Vol 20, No 2 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.2.318

Abstract

Seed viability testing using appropriate media is important to know the proper results. The objective of thisresearch was to determine the optimum germination media in the seeds viability testing of lettuce and onion. Thisresearch was conducted in the Integrated Laboratory of Trilogy University, Jakarta from September until October2016. The experiment used was a randomized block design (RAK) with single factor which was different types ofgermination substrates consists of flannel tested, newsprint, towel tissue, cotton, stencil paper, rock wool, filterpaper on lettuce and onion seeds. The experimental results showed that all media can be used to test germinationof seed viability for germination (DB) and normal seedling dry weight (BKKN) were equally well. The use of tissuetowel was to test the viability of seeds of lettuce and onions into medium germination best shown in the speed ofgrowth (KCT) 75.18% KN/etmal, vigor index (IV) 97.33%, and the growth potential maximum (PTM) 100% in theseeds of lettuce and speed of growth (KCT) amounted to 59.35% on onion seeds.Key words: germination, speed of growth, maximum growth potential,tissue towel ABSTRAKPengujian viabilitas benih dengan media yang tepat penting diketahui guna memperoleh hasil yang sesuai.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui media perkecambahan yang optimum dalam pengujianviabilitas benih selada dan bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Trilogi,Jakarta pada bulan Agustus - September 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satufaktor tunggal yaitu berbagai jenis substrat perkecambahan yang terdiri atas kain flanel, kertas koran, kertassamson, tisu towel, kapas, kertas stensil, rockwool, dan kertas saring yang diujikan pada benih selada dan bawangmerah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa seluruh media perkecambahan dapat digunakan untuk uji viabilitasbenih karena menghasilkan daya berkecambah (DB) dan bobot kering kecambah normal (BKKN) yang samabaiknya. Pemakaian tisu towel untuk uji viabilitas benih selada dan bawang merah menjadi media perkecambahanterbaik yang ditunjukkan pada kecepatan tumbuh (KCT) 75.18 % KN/etmal, indeks vigor (IV) 97.33 %, dan potensitumbuh maksimum (PTM) 100 % pada benih selada dan kecepatan tumbuh (KCT) sebesar 59.35% pada benihbawang merah.Kata kunci: daya berkecambah, kecepatan tumbuh, potensi tumbuh maksimum, tisu towel,
ANALISIS PEMASARAN MANGGA “GEDONG GINCU” (Studi kasus di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat) Supriatna, Ade
Agrin Vol 14, No 2 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.2.105

Abstract

Mangga Gedong Gincu mempunyai prospek baik untuk dikembangkan karena mempunyai karakteristik yangsesuai dengan permintaan pasar, yaitu mempunyai kulit mangga berwarna merah, komponen serat pada daging buahcukup banyak dan mempunyai aroma sangat tajam. Penelitian ini dilaksanakan tahun 2006 di Kabupaten Cirebon,sebagai sentra produksi mangga di Jawa Barat. Tujuan penelitian, yaitu: (i) menggambarkan rantai tataniaga mangga(ii) mempelajari karakteristik pelaku lembaga pemasaran dan (iii) menganalisis margin tataniaga. Penelitianmenggunakan metoda survai. Dimana data primer dikumpulkan dari 50 petani yang diambil secara acak (RandomSampling) dan pelaku lembaga pemasaran dengan metode snowball sampling. Data sekunder diperoleh dari DinasPertanian, Badan Pusat Statistik dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menginformasikan, bahwa buah GedongGincu dipasarkan dalam bentuk grade A/B dan grade C (non grade). Pemasaran grade A/B melalui dua saluran,yaitu, pertama: petani – pengumpul - pedagang besar – agen - toko/kios buah – konsumen dan kedua: petani –pengumpul – pedagang besar – agen – suplayer – supermarket – konsumen sedangkan grade C melalui satu saluran,yaitu saluran ketiga: petani – pengumpul – pedagang besar – pedagang pasar tradisional – konsumen. Marjinpemasaran saluran pertama Rp.10.920,-/kg, berasal dari pedagang besar (48,1%), toko/kios (35,4%), agen (14,2%)dan pengumpul (2,3%). Marjin pemasaran saluran kedua Rp.15.000,-/kg, berasal dari pedagang besar (34,9%),suplayer (26,6%), supermarket (26,6%), agen (10,2%) dan pengumpul (1,7%). Keuntungan pedagang besar lebihtinggi dibandingkan agen, yaitu masing-masing Rp.3.350,-/kg dan Rp.1.460,-/kg. Permasalahan pemasaran manggaGedong Gincu yaitu posisi petani seringkali lemah dalam penentuan harga jual, jumlah serta mutu produk yangdihasilkan tidak selalu sesuai permintaan pasar, petani bermodal lemah sering terperangkap ke pelepas uang (moneylender) dan ditemukan pungutan-pungutan liar dalam kegiatan transportasi pengiriman mangga ke agen di pasar-pasarinduk. Dalam hal ini, perlu peningkatan aksesibilitas petani terhadap informasi pasar termasuk permintaan, variasi hargamusiman dan trend harga dengan demikian mereka dapat menyesuaikan rencana penjualan mangga untuk mencapaipenjualan efisien dan menguntungkan.Kata kunci: mangga, analisis pemasaran, Jawa Barat ABSTRACTGedong Gincu have a good prospect to be developed because it has some characteristics as good as marketrequest, namely mango’s skin is red, mango contains a lot of fiber components and aroma of ripe mango is verysharply This study was conducted in 2006 and took place in Cirebon District, as centre of mango production of WestJava. The objectives of study were; (i) to describe the marketing channel, (ii) to learn the characteristics ofmarketing institution and (iii) to analyze marketing margin of mango. This research used method of survey applyingstructured questionnaires. Primary data were collected from 50 farmers selected by random sampling and somemarketing institutions using snowball method. Secondary data were collected from the Agriculture Office, the CentreAgency of Statistic and the Research Institutions. Results showed, that mango was marketed in the form of grade A/Band grade C (non grade). Grade A/B had two marketing channels, namely; (i) farmers – collector – wholesaler –agent – fruit shop – consumer and (ii) farmers – collector – wholesaler – agent – supplier – supermarket –consumer. While grade C had one channel, namely (iii) farmers – collector – wholesaler – nonstore retailer –consumer. The first channel got marketing margin of Rp.10,920,- coming from wholesaler (48.1%), fruit shop(35.4%), agent (14.2%) and collector (2.3%). The second channel got marketing margin of Rp.15,000,- comingfrom wholesaler (34.9%), supplier (26.6%), supermarket (26.6%), agent (10.2%) and collector (1.7%). Theproblems in marketing were the farmers have a low bargaining position in determining the mango’s price, theamount and quality of product did not always accord to market request, the farmers that have weak capital wereoften fallen on money lender and there were found the illegal charges in activity of transportation. Somerecommended efforts in farmer’s level, namely to increase the farmer’s knowledge and skill to produce mango’squality according to market request by low cost technology, to improve the farmer’s accessibility to marketinformation inclusive of request, variation of seasonal price and trend price thereby they can plan the mango sale toreach effective, efficient and profit sale.Key words: mang, marketing analysis, West Java
DAMPAK BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP EROSI DAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB DAS CISANGKUY Abraham Suriadikusumah; Ganjar Herdiansyah
Agrin Vol 18, No 1 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.1.208

Abstract

Penelitian ini didasari oleh semakin berkurangnya lahan hutan di Sub DAS Cisangkuy, yang berubah menjadi lahan pertanian. Luas Sub DAS Cisangkuy yaitu 34.024 Ha.Tujuan dari penelitian ini untuk : 1) mengetahui perubahanluas dari setiap jenis penggunaan lahan di Sub DAS Cisangkuy, 2) Mengetahui perubahan penggunaan lahan yang dapat meningkatkan laju erosi rata-rata dan tingkat bahaya erosi di Sub DAS Cisangkuy.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, deskriptif, dan survai lapangan menggunakan metode survai fisiografis secara bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama kurun waktu 15 tahun (1997-2011),terjadi penurunan luas jenis penggunaan lahan hutan 9.849Ha (65,76%) dan sawah 2.221 Ha (11,6%) dari area total Sub DAS Cisangkuy, terjadi peningkatan pada luas jenis penggunaan lahan perkebunan 8.172 Ha (73,57%), ladang 66 Ha (1,17%), kebun campuran 1.431 Ha (45,94%), permukiman 2.401 Ha (59,24%). Terjadi peningkatan besar erosi rata-rata dari 45,24ton/ha/tahun pada tahun 1997 menjadi 303 ton/ha/tahun pada tahun 2010,terjadi peningkatan tingkat bahaya erosi dengan indeks bahaya erosi dari 1,84 (sedang) pada tahun 1997 menjadi 14,03 (sangat tinggi) pada tahun 2010 di Sub DAS Cisangkuy. Kata kunci : penggunaan lahan, erosi, tingkat bahaya erosi, sub Das Cisangkuy ABSTRACTThe research was based on the diminishing of land forest in the Cisangkuy Sub Watershed converted to land agricultural. Area in the Cisangkuy Sub Watershed is 34.024 ha. The research aims to : 1) know the area change of each type of land use in the Cisangkuy Sub Watershed, 2) Knowing the changes in land use can increase the average erosion rate and erosion rate in the Cisangkuy Sub Watershed. This research used qualitative methods, descriptive and field survey by physiographic approach survey. The result showed that during the period of 15 years (1997-2011), there were a decreasing in land use forest area of 9.849 ha (65,76%) and rice field area of 2.221 ha (30,93%) of the total in theCisangkuy Sub Watershed, an increasing in land use plantation area of 8.172 ha (73,57%), field area of 66 ha (1,17%), garden area of 1.431 ha (45,94%), village area of 2.401 ha (59,24%). An increase in the erosion ofthe average of 45,24 tonnes/ha/year in 1997 to 303 tonnes/ha/year in 2010, an increase in the rate of erosion with erosion hazard index of 1.84 (average) in 1997 to14.03(very high) in 2010 in the Cisangkuy Sub Watershed. Keywords: land use, erosion, the level of erosion hazard, Cisangkuy sub watershed
PENGARUH UKURAN BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAKADAMIA (Macadamia integrifolia) Heryana, Nana; Rusli, Rusli; Indriati, Gusti
Agrin Vol 12, No 1 (2008): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2008.12.1.77

Abstract

Makadamia merupakan tanaman tahunan penghasil biji berkadar lemak lebih tinggi dibandingkan dengankacang-kacangan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Produk makadamia berupa kacang yang bernilaiekonomi tinggi di pasaran internasional dan menjadi bahan baku industri yang dapat diolah menjadi berbagaibentuk makanan dan telah dipasarkan di beberapa kota besar di Indonesia. Penelitian bertujuan untukmengetahui ukuran benih makadamia yang tepat untuk dijadikan bibit. Penelitian dilaksanakan di BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) Pakuwon, Parungkuda, Sukabumi, JawaBarat pada bulan April 2006 sampai April 2007. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan3 perlakuan dan 9 ulangan, adapun perlakuannya sebagai berikut : A (benih besar: berat biji 6-7 g, diameter biji2,1-2,3 cm), B (benih sedang : berat biji 5-6 g, diameter biji 1,8-2,0 cm) dan C (benih kecil : berat biji 4-5 g,diameter biji 1,5-1,7 cm). Jumlah pohon contoh yang diamati tiap perlakuan terdiri atas 45 pohon, sehinggaseluruhnya menjadi 135 pohon. Variabel yang diamati meliputi : tinggi tanaman, diameter batang, jumlahcabang, jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran benih sedangdan besar, pertumbuhannya lebih baik bila dibandingkan dengan benih kecil tetapi ukuran benih sedang danbesar pada semua parameter tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dan hasil pengamatan, tinggi tanaman26,63 cm, diameter batang 0,50 cm, jumlah cabang 0,50 cabang, jumlah daun 19,70 helai, panjang daun17,68 cm dan lebar daun 2,72 cm yang terbaik diperoleh pada benih ukuran sedang.Kata kunci: makadamia, Macadamia integrifolia, ukuran, benih, bibit, pertumbuhanABSTRACTMacadamia is a perennial plant which produce seed contains higher fat rather than other legumesin Indonesia. Macadamia has high economic value in International market and becomes raw material for industrythat could be processed onto many variety of food and have been sold in several big cities in Indonesia. Theobjectives of research were to know the appropriate Macadamia’s seed size for seedling. This research was heldat The Research Institute of Spices and Industrial Crop (Balittri) in Pakuwon, Parungkuda, Sukabumi, West Javaon April 2006 until April 2007. the experimental design of research was using randomized block design with 3treatment and 9 replications. The treatment were: A (large seed: seed weigh was 6-7 g, seed diameter was 2.1-2.3cm), B (middle seed: seed weigh was 5-6 g, seed diameter was 1.8-2.0 cm), C (small seed: seed weigh was 4-5g, seed diameter was 1.5-1.7 cm). The amount of tree sample for every treatment were 45 tree, so for whole therewere 135 tree. Variable consist height, stem diameters, number of branch’s and leaves , length and width ofleaves. Result of research showed that seed size for medium and large have better growth than smaller seed, thusseed size for medium and large for all variable did not show significant difference, i.e. plant weight was 26.63cm, stem diameter was 0.50 cm, amount of branch was 0.50 branch, lenght of leaves was 17.68 cm and width ofleaves was 2.72 cmKey Words: macadamia, Macadamia integrifolia, size, seed, growth 
KERAGAAN HASIL GABAH DAN KARAKTER AGRONOMI SEPULUH VARIETAS PADI UNGGUL DI SLEMAN, YOGYAKARTA Bambang Sutaryo; Joko Pramono
Agrin Vol 20, No 1 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.1.309

Abstract

Yied and agronomic characters performance of ten superior rice varieties in Sleman, Yogyakarta. Study onyied and agronomic characters performance usin superior rice varieties was conducted at Blendangan,Tegaltirto,Berbah, Sleman, Yogyakarta from June to September of 2015. Six superior rice varieties namely Sidenuk, Inpari1, Inpari 10, Inpari 19, Inpari 23, and Inpari 30 were planted using seedling of 15 days with one seedling per hillin jajar legowo 4:1 system, with plant spacing of 25 x 12,5 x 50 cm. Plot size per variety was 1000 m2.Meanwhile,four populair varieties such as Sintanur, Pepe, Ciherang, and Situ Bagendit planted using the same populationby farmers were used as checks. Data were analyzed using t test. Inpari 19 and Inpari 30 gave the highest yield of7.5 and 7.3 t/ha, respectively, compared with check varieties and the other varieties tested. The highest yield onInpari 19 and Inpari 30 were contributed by the highest of the number of filled grains, total grain number, andthe panicle number. Inpari 19 showed earliest maturity (104 days), meanwhile, the other varieties were mediummaturity (107-124 days). Inpari 19 gave the highest profit compared with the others superior varieties tested andthe most preferred by farmers because of more taste, more white color, more shiny, and more fragrant.Key words: yield, agronomic characters, Inpari, “jajar legowo” ABSTRAKPenampilan hasil dan karakter agronomi sepuluh varietas unggul di Sleman, Yogyakarta. Pengkajianterhadap penampilan hasil dan karakter agronomi menggunakan varietas unggul padi dilaksanakan diBlendangan,Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta dari Juni hingga September 2015. Enam varietas yaituSidenuk, Inpari 1, Inpari 10, Inpari 19, Inpari 23, dan Inpari 30 ditanam dengan bibit berumur 15 hari dengan satubibit per lubang pada teknik jajar legowo 4:1, dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm. Ukuran plot size per varietasadalah 1000 m2. Sedangkan empat varietas yang sudah dikenal petani yaitu Sintanur, Pepe, Ciherang, dan SituBagendit ditanam dengan cara yang sama oleh petani digunakan sebagai pembanding. Data dianalisismenggunakan uji t. Inpari 19 dan Inpari 30 masing-masing memberi hasil tertinggi sebesar 7,5 dan 7,3 t/ha,dibandinkan dengan varietas pembanding dan varietas lain yang dikaji. Hasil tertinggi pada Inpari 19 dan Inpari30 dikontribusi oleh jumlah gabah isi, jumlah total gabah dan jumlah malai yang tinggi. Inpari 19 menunjukkanumur paling cepat (genjah) yaitu 104 hari, sementara varietas lainnya berumur sedang (107-124 hari). Inpari 19memberi keuntungan tertinggi dibandingkan dengan varietas unggul lainnya, dan paling disukai petani karenalebih pulen, lebih putih, lebih berkilap, dan lebih wangi.Kata kunci: hasil, karakter agronomi, Inpari, “jajar legowo”

Page 6 of 31 | Total Record : 303