cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Mikologi Indonesia
ISSN : 25798766     EISSN : 25798766     DOI : -
Jurnal Mikologi Indonesia (JMI) adalah jurnal nasional tentang diversitas Fungi di Indonesia yang mempublikasi artikel penelitian, review, metodologi, dan artikel-artikel taksonomi seperti monograf, jenis baru, catatan baru, checklist yang terkait dengan diversitas dan penyebaran Fungi, termasuk Lichen. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Indonesia. JMI akan mempublikasi setiap manuskrip sesegera mungkin setelah diterima oleh editor dan melalui proses peer review.
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Ectomycorrhizal Fungi on South Kalimantan Serpentine Soil Rudy Hermawan; Witiyasti Imaningsih; Badruzsaufari Badruzsaufari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.689 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v4i1.71

Abstract

Serpentine soil contains highly heavy metals, such as manganese, chromium, cobalt, and nickel,which could bean inappropriate growthmediaofmostplants. Someplants thatfound able to grow optimally on South Kalimantan serpentine soil have been known to do association with ectomycorrhizal fungi. This research aimed to obtain and characterize mushrooms assumed as ectomycorrhizal fungi indigenous South Kalimantan serpentine soil. This study used field exploration of fungal fruiting bodies and identified the genus based on morphological characters of fruiting bodies such as shape, size, and ornamentation, which are unique for the genus identification, then compared the characteristics on mushroomexpert.com. The mushrooms were also confirmed of genera assumed as ectomycorrhizal fungi based on mycorrhizas.info. Seven fruiting bodies were obtained and classified as Cantharellus (Ct), Chlorophyllum (Ch1 and Ch2), Lycoperdon (Ly), Ramaria (Rm1 and Rm2), and Thelephora (Tp). The results showed that all of those fruiting bodies belong to Basidiomycetes. There were 4 genera of Cantharellus, Lycoperdon, Ramaria, and Thelephora, assumed as ectomycorrhizal fungi. But Chlorophyllum genus was never reported as ectomycorrhizal fungus
Potensi Cendawan Pelapuk Putih Indonesia Sebagai Agen Biodekolorisasi Limbah Pewarna Sintetik: Artikel Ulasan Oktan Dwi Nurhayat; Sita Heris Anita; Dede Heri Yuli Yanto
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.827 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v4i1.75

Abstract

Limbah pewarna sintetik yang dihasilkan oleh industri tekstil dapat membahayakan ekosistem perairan dan organismenya pada konsentrasi tertentu. Proses dekolorisasi secara biologis menjadi fokus penelitian dalam beberapa tahun terakhir karena prosesnya yang relatif murah dan ramah lingkungan. Cendawan pelapuk putih merupakan salah satu mikroorganisme yang dimanfaatkan untuk memproses limbah pewarna melalui proses enzimatik maupun adsorpsi. Fokus dari review ini adalah untuk membahas cendawan pelapuk putih asal indonesia yang berpotensi sebagai agen biodekolorisasi limbah pewarna industri tekstil. Beberapa spesies cendawan pelapuk putih asal indonesia dari genus Ganoderma, Trametes, Pleurotus, dan Leiotrametes telah dilaporkan memiliki kemampuan mendekolorisasi beberapa jenis pewarna sintetik golongan antrakuinon dan azo. Faktor-faktor seperti jenis cendawan, pH, mediator, aktivitas dan jenis enzim, konsentrasi dan jenis pewarna yang diujikan, waktu inkubasi, dan teknik imobilisasi miselia atau ekstrak enzim ligninolitik berpengaruh terhadap proses dekolorisasi secara biologis.
Teknik Memanen Makrokonidia dari Dermatofita Microsporum gypseum dan Trichophyton mentagrophytes Ana Rufaidah; Eko Sugeng Pribadi; I Ketut Mudite Adnyane
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.87

Abstract

Dermatofitosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita. Penelitian ini bertujuan menentukan teknik yang sesuai untuk memanen makrokonidia dan waktu fase eksponensial Microsporum gypseum dan Tricophyton mentagrophytes. Media 1 dan 2 digunakan untuk pembiakan isolat Microsporum gypseum dan Trichophyton mentagrophytes. Media 1 mengandung pepton, dekstrosa, dan kloramfenikol dan pada media 2 memiliki komposisi yang sama dengan media 1 dengan tambahan sikloheksamida. Teknik penggoresan pada permukaan koloni dan penggoyangan tabung dengan vortex digunakan untuk memanen makrokonidia. Makrokonidia dipanen pada hari ke 10, 12, 14, 16, 18, dan 20. Hasil yang didapatkan menunjukkan jumlah rata-rata makrokonidia kapang yang dipanen dengan penggoresan pada permukaan koloni lebih tinggi daripada penggoyangan tabung menggunakan vortex selama masa pertumbuhan hingga hari ke-20. Hasil yang didapatkan juga menunjukkan fase eksponensial telah dimulai pada hari ke-14.
Isolasi dan Identifikasi Cendawan Patogen pada Umbi Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) Pasca Penyimpanan Fitria Dewi Sulistiyono; Tri Saptari Haryani
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.91

Abstract

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan agribisnis. Pengelolaan OPT pascapanen dan pasca penyimpanan yang tepat dapat mempertahankan kualitas produk yang baik. Infeksi OPT yang sering muncul pada umbi talas adalah cendawan. Adanya jeda waktu dari pemanenan hingga ke tangan konsumen dimungkinkan adanya cendawan yang berasosiasi dengan busuk penyimpanan pada umbi talas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi cendawan patogen yang terdapat pada umbi talas setelah penyimpanan. Metode yang digunakan adalah identifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil identifikasi secara morfologi menunjukkan cendawan yang berasosiasi dengan busuk penyimpanan pada umbi talas adalah genus Mucor, Fusarium, dan Alternaria.
Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Gigaspora spp sebagai pupuk hayati pada pembibitan Mete (Anacardium occidentale L.) Meitini Wahyuni Proborini; Ida Bagus Gede Daymayasa; Deny Suhernawan Yusup; Job Nico Subagio
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.97

Abstract

Cendawan yang mampu bersimbiosis dengan akar tanaman membentuk simbiosis mutualisme adalah Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA). Salah satu jenis CMA yang dapat digunakan untuk pupuk hayati adalah Gigaspora sp. yang dapat diinokulasikan sebagai pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan benih jambu mete (Anacardium occidentale L.). Penelitian tentang peran Gigaspora sp. indigenus Bali hasil propagasi diberikan dalam bentuk spora dan propagul telah dilakukan di Rumah kaca. Perlakuan inokulum yang di coba adalah empat kombinasi propagul dan spora Gigaspora sp. dan satu sebagai kontrol (tanpa Gigaspora sp. maupun propagul). Jumlah spora Gigaspora sp. yang diinokulasikan adalah 150 spora dan jumlah propagul CMA adalah 0 (tanpa propagul Gigaspora sp.), 12,5; 25, dan 37,5 gram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap (RAL) dengan 5 ulangan sehingga diperoleh 25 unit percobaan. Masing-masing unit percobaan terdiri dari 3 polibeg sebagai subunit sehingga total unit percobaan adalah (5×5×3) = 75 polibeg. Paramater yang diamati meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, berat kering brangkasan, berat kering akar, kolonisasi CMA pada perakaran, dan serapan P pada jaringan tanaman. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di rumah kaca sampai tanaman mete berumur 90 hari (3 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi spora Gigaspora sp. dan campuran propagul 12,5; 25 dan 37,5 gram menghasilkan pengaruh yang berbeda nyata (P
Trichaleurina javanica from West Java Rudy Hermawan; Mega Putri Amelya; Za'Aziza Ridha Julia
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.85

Abstract

Trichaleurina is a fleshy mushroom with goblet-shaped within Pezizales. Many genera have a morphology similar to Trichaleurina, such as Bulgaria and Galiella. Some previous reports had been described fungi like Trichaleurina as Sarcosoma. Indonesia has been reported that has Trichaleurina specimen (the new name of Sarcosoma) by Boedijn. This research aimed to obtain, characterize, and determine the Trichaleurina around IPB University. Field exploration for fungal samples was used in the Landscape Arboretum of IPB University. Ascomata of Trichaleurina were collected, observed, and preserved using FAA. The specimen was deposited into Herbarium Bogoriense with collection code BO 24420. The molecular phylogenetic tree using RAxML was used to identify the species of the specimen. Morphological data were used to support the species name of the specimen. Specimen BO 24420 was identified as Tricahleurina javanica with 81% bootstrap value. Molecular identification was supported by the morphological data, such as the two oil globules and the size of mature ascospores.
Analisis Kekerabatan Jamur Ordo Agaricales Berdasarkan Karakter Morfologi di Kawasan Kamojang (Berdasarkan Data Sekunder) Nazhira Azzahra; Betty Mayawatie Marzuki; Suryana Suryana
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.89

Abstract

Lima belas spesies jamur Agaricales di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kamojang, Jawa Barat, koleksi Arko et al. (2017), memiliki beragam karakter morfologi. Jamur tersebut telah dianalisis hubungan kekerabatannya dengan taksonomi numerik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi literatur dengan menganalisis data sekundernya menggunakan program SPSS 26.0. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan kekerabatan terdiri dari lima kelompok. Hubungan kekerabatan terdekat yaitu Marasmius sp. 1 dan Marasmius sp. 2 dengan nilai kemiripan sebesar 97,8%. Hubungan kekerabatan terjauh yaitu Armilaria sp. dan Schizophyllum commune dengan nilai kemiripan sebesar 39%. Karakter morfologi penentu hubungan kekerabatan ialah karakteristik lamela, tangkai, dan volva. Kata ku
Sphaerobolus stellatus: Cannonball Mushroom from West Java Rudy Hermawan; Indra Maulana
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.86

Abstract

Cannonball mushroom is known as the unique genera in Basidiomycetes. This micro-mushroom is the first recorded in Indonesia. The specimen was deposited into Herbarium Bogoriense with code BO 24422. The Sphaerobolus was found on the rotten wood in Landscape Arboretum of IPB University. The fruiting body has similar morphology between Geastrum and Pilobolus. The mushroom has an exoperidium (like Geastrum outer) and endoperidium (like Pilobolus head). The basidiospore is hyaline, globose to elongate, and having circular gradation on the surface. Sphaerobolus is known as lignicolous, phototrophic, and sometimes as coprophilous fungus. Sphaerobolus was classified into Geastrales and Sphaerobolaceae. BO 24422 specimen is classified as S. stellatus.
Identifikasi Jenis Kapang Kontaminan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) di Pasar Tradisional Kota Malang Fitria Maulita; Utami Sri Hastuti; Sitoresmi Prabaningtyas
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v5i1.139

Abstract

Biji kedelai dapat mengalami kerusakan, antara lain: karena pemanenan yang kurang cermat, serangan serangga hama di lahan pertanian, gigitan serangga di tempat penyimpanan biji sebelum dijual, serta terkontaminasi oleh kapang penghasil mikotoksin di pasar. Fokus dari penelitian ini ialah: 1) mengisolasi dan mengidentifikasi semua jenis kapang kontaminan pada biji kedelai yang dijual di beberapa pasar di Kota Malang, 2) menentukan jenis kapang kontaminan yang paling dominan dalam biji kedelai yang diteliti, dan 3) mengkaji dampak cemaran kapang kontaminan terhadap penurunan kualitas biji kedelai berdasarkan kajian pustaka. Data diperoleh melalui metode observasi, deskripsi, dan identifikasi semua jenis kapang kontaminan yang ditemukan pada biji kedelai yang diteliti. Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan deskripsi morfologi koloni dan mikroskopis kapang. Hasil yang diperoleh yaitu tujuh isolat jenis kapang kontaminan, yakni Scopulariopsis brevicaulis, Penicillium frequentans, Aspergillus tamarii, mycelia sterilia I, Aspergillus oryzae, Aspergillus ochraceus, dan mycelia sterilia II; 2) jenis kapang kontaminan yang paling dominan yaitu Aspergillus ochraceus; 3) cemaran kapang berdampak terhadap penurunan kualitas biji kedelai, yaitu: tekstur biji berserbuk, hancur, keriput, berbau apak, dan berpotensi tercemar oleh mikotoksin yang dihasilkan kapang kontaminan.
Jenis-jenis Jamur Makroskopis di Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa Limaryadi Limaryadi; Susi Sumaryati
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v5i1.168

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang terletak di utara Laut Jawa dengan luas kawasan mencapai 111.625 ha. Kawasan ini memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, pantai, mangrove, terumbu karang, dan lamun. Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 27 pulau, dengan lima pulau utama yang dihuni oleh 9784 penduduk. Dikenal sebagai kawasan konservasi perairan, Taman Nasional Karimunjawa memiliki keaneragaman jamur yang patut diperhitungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis jamur makroskopis yang ada di Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Survei melalui eksplorasi dilakukan di Pulau Kemujan yaitu di Legon Jelamun, Legon Gede, Legon Pinggir, Mrican, dan Telogo. Area tersebut merupakan hutan mangrove, vegetasi pantai dan kebun penduduk. Hasil eksplorasi di Pulau Kemujan menemukan 65 jenis dari 24 suku. Jenis dari suku Polyporaceae merupakan jenis yang paling sering dijumpai, dari suku ini teridentifikasi 24 jenis. Jenis dari suku Polyporaceae yang teridentifikasi diantaranya adalah Daedaloleopsis confragosa, Lentinus arcularius, Microporus sp. Dari suku Tricholomataceae teridentifikasi empat jenis antara lain Pleurotus ostreatus, dan Colybia cf. cookei. Dari suku Agaricaceae ditemukan lima jenis, suku Ganodermaceae ditemukan tiga jenis, suku Cortinariaceae ditemukan tiga jenis. Jamur ditemukan pada bermacam-macam substrat yaitu tanah, tanah berpasir, serasah, batang pohon mati dan serbuk bekas penggergajian.