Deny Suhermawan Yusup
Departemen Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana, Bali, Indonesia

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Biomonitoring Escherichia coli and Coliform Contamination in Abalone (Haliotis squamata) Cultivation Pond in Musi Village, Gerokgak Sub-District, Buleleng-Bali. Wiradana, Putu Angga; Yusup, Deny Suhernawan; Soegianto, Agoes
Aquacultura Indonesiana Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Aquaculture Society (MAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.013 KB) | DOI: 10.21534/ai.v20i1.143

Abstract

Abalone (Haliotis squamata) is one of the fisheries commodities that have high economic value. This study was conducted to investigate contamination of Escherichia coli and coliform in Abalone cultivation ponds in the Musi Village area, Buleleng Regency, Bali. An experiment was carried out by taking water samples in the abalone pond every week for one month. The results showed that there was no difference between the total number of Escherichia coli and coliform. Water samples that were positive for coliform in the determination test had no differences in each sample with total coliform values (Colonies / 100mL) of 4, 3, 7 and 9 (MPN / 100mL) respectively. While the total number of Escherichia coli is shown after being grown in EMBA selective media which are 4, 3, 7, 4 (MPN / 100mL) respectively. Meanwhile, when compared with the number referenced from the Decree of the State Minister of Environment Number 51 of 2004 concerning Sea Water Quality Standards, the quality of seawater for aquatic cultivation in this study is still classified as Safe (<1000 MPN / 100mL).
Komunitas Padang Lamun dan Ikan Pantai di Perairan Kendari, Sulawesi Tenggara (Seagrass and Coastal Fish Communities in Kendari Waters, South-East Sulawesi) Susi Rahmawati; Fahmi Fahmi; Deny S Yusup
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.032 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.190-198

Abstract

Salah satu peran ekologis padang lamun adalah tempat pemeliharaan ikan yang ditunjang oleh struktur vegetasi lamun. Keberadaan lamun dapat memengaruhi kelimpahan ikan pada suatu perairan dangkal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi lamun dan fungsi lamun sebagai area pemeliharaan ikan dalam menunjang kelimpahan ikan. Penelitian dilakukan di Perairan Kendari, Sulawesi Tenggara. Stasiun penelitian ditentukan pada enam lokasi, yaitu tiga lokasi bervegetasi lamun dan tiga lokasi tanpa vegetasi lamun. Parameter penelitian antara lain struktur komunitas lamun dan kelimpahan ikan. Data dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA dan korelasi Person program Grahpad Prism 5.0 (Trial session). Penutupan lamun rata-rata berkisar antara 25 - 51% dan kerapatan berkisar 327,78 - 597,22 ind m-2.Struktur komunitas pada ketiga vegetasi lamun tidak berbeda secara signifikan. Ikan tercatat 73 jenis dan 1815 individu, antara lain ikan-ikan yang biasa ditemukan di ekosistem lamun seperti Apogon margaritophorus, Lutjanus gibbus, dan Achreichthys tomantosus. Jenis ikan yang paling melimpah adalah Siganus canaliculatus dengan rata-rata kelimpahan 0,378 ind m-2. Rata-rata kelimpahan ikan lebih besar pada stasiun bervegetasi dibandingkan stasiun yang tidak bervegetasi. Kerapatan lamun memiliki korelasi positif terhadap kelimpahan ikan (p<0,05). Kondisi lamun di Perairan Kendari tergolong cukup baik dan dapat menunjang kekayaan dan kelimpahan ikan pantai.Kata kunci: kerapatan lamun, peran ekologi, pemeliharaan ikan, SulawesiOne of ecological role of seagrass is as nursery area which hold by their own vegetation structure. Seagrass community can influence the abudance of fish in a shallow water. This study aimed to identify the seagrass bed condition as nursery area for supporting fish abudance. The study was conducted in Kendari Waters, South-East Sulawesi. Research station was set in six location .i.e. three location at seagrass vegetated and three location without seagrass. Parameter of the study was community structure of seagrass and abudance of fish. Data were analised statistically using one way ANOVA and Person correlation Grapad Prism 5.0 (Trial session). Mean of seagrass coverage was about 25 to 51% and density 327.78 to 597.22 ind m-2. There were no difference on community structure of seagrass at each location. There were 73 species of fish and 1815 individuals, there were fish that usually find in seagrass ecosystem for example Apogon margaritophorus, Lutjanus gibbus, and Achreichthys tomantosus. The most abundant species was Siganus canaliculatus (Siganidae) with mean abundance 0.378 ind m-2. Mean of fish abundance was higher in vegetated area than unvegetated. Seagrass density positively correlated with fish abundace (p<0.05). Seagrass community in Kendari Water showed a fairly good and good condition to support coastal fishes richness and abundance.Key words: seagrass density, ecologi role, nursery area, fish communities, Sulawesi
Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Gigaspora spp sebagai pupuk hayati pada pembibitan Mete (Anacardium occidentale L.) Meitini Wahyuni Proborini; Ida Bagus Gede Daymayasa; Deny Suhernawan Yusup; Job Nico Subagio
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v4i2.97

Abstract

Cendawan yang mampu bersimbiosis dengan akar tanaman membentuk simbiosis mutualisme adalah Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA). Salah satu jenis CMA yang dapat digunakan untuk pupuk hayati adalah Gigaspora sp. yang dapat diinokulasikan sebagai pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan benih jambu mete (Anacardium occidentale L.). Penelitian tentang peran Gigaspora sp. indigenus Bali hasil propagasi diberikan dalam bentuk spora dan propagul telah dilakukan di Rumah kaca. Perlakuan inokulum yang di coba adalah empat kombinasi propagul dan spora Gigaspora sp. dan satu sebagai kontrol (tanpa Gigaspora sp. maupun propagul). Jumlah spora Gigaspora sp. yang diinokulasikan adalah 150 spora dan jumlah propagul CMA adalah 0 (tanpa propagul Gigaspora sp.), 12,5; 25, dan 37,5 gram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap (RAL) dengan 5 ulangan sehingga diperoleh 25 unit percobaan. Masing-masing unit percobaan terdiri dari 3 polibeg sebagai subunit sehingga total unit percobaan adalah (5×5×3) = 75 polibeg. Paramater yang diamati meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, berat kering brangkasan, berat kering akar, kolonisasi CMA pada perakaran, dan serapan P pada jaringan tanaman. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di rumah kaca sampai tanaman mete berumur 90 hari (3 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi spora Gigaspora sp. dan campuran propagul 12,5; 25 dan 37,5 gram menghasilkan pengaruh yang berbeda nyata (P
KEANEKARAGAMAN KERANG (MOLLUSCA: BIVALVIA) DI KAWASAN SERANGAN, DENPASAR, BALI Suratul Wahyuda; Ni Made Suartini; Deny Suhernawan Yusup
SIMBIOSIS Simbiosis Volume 12 No. 2 2024
Publisher : Program Studi Biologi Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JSIMBIOSIS.2024.v12.i02.p01

Abstract

Throughout the waters of the island of Bali, clam are a very valuable biological resource. The Serangan area in Denpasar, Bali, is one of the areas that has lots of clam which are widely used as food. The objective of this research is to identify clam species found in the Serangan Area, those that are collected for consumption by the community, and to determine the values of diversity index, evenness, and dominance of clams in the Serangan Area. The research stations are divided into three with a distance between stations of 250 m. At each station a transect is made perpendicular to the shoreline with a distance between transects of 10 m. Each transect at the station was made 10 sampling quadrants measuring 50x50 cm. The research results revealed that there were eight species of clams found. Four of these species were commonly collected for consumption by the community, namely Marcia hiantina, Anadara antiquata, Meretrix meretrix, and Pinna muricata. The Marcia hiantina species was the most frequently collected for consumption. The diversity index values fell within the moderate category, ranging from 1.10 to 1.39. The evenness index values were categorized as high, ranging from 0.92 to 1.00, and were supported by low dominance index values ranging from 0.25 to 0.33.
Daya Tetas Telur Pada Suhu Ruangan Yang Berbeda dan Pertumbuhan Kopepoda Acartia spp. Sephia Anjani; Deny Suhernawan Yusup; Suko Ismi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p13

Abstract

Salah satu jenis kopepoda dari ordo Calanoida, Acartia spp. meski maih terbatas telah dimanfaatkan sebagai pakan alami yang potensial pada hatchery ikan dikarenakan mudah diperoleh, memiliki nilai nutrisi tinggi serta secara teknis mudah dikultur. Namun, hasil produksi kultur Acartia spp. masih relatif rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi kopepoda adalah keberhasilan daya tetas telur, yang sangat dipengaruhi oleh kualitas telur dan faktor lingkungan terutama suhu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya tetas telur Acartia spp. pada suhu ruangan penetasan (hatching) 21oC dan 27oC dan pertumbuhan Acartia spp. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan,Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng-Bali, pada bulan Maret hingga bulan April 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penetasan dengan suhu air 27oC mencapai 100% dalam kurun waktu 48 jam. Sedangkan penetasan pada suhu air 21oC yang hanya mencapai 20% dengan kurun waktu 48 jam. Pertumbuhan Acartia spp. menunjukkan bahwa satu siklus Acartia spp. dari fase nauplii sampai mencapai fase dewasa memerlukan waktu 12 hari, dengan rincian nauplii (hari ke-1 hingga hari ke-6), fase kopepodit (hari ke-7 hingga hari ke-11), dan fase dewasa (hari ke-12). Kopepoda dewasa menunjukkan dimorphisme seksual, dengan fekunditas berkisar antara 11 hingga 30 butir telur.
Daya Tetas Telur Pada Suhu Ruangan Yang Berbeda dan Pertumbuhan Kopepoda Acartia spp. Sephia Anjani; Deny Suhernawan Yusup; Suko Ismi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p13

Abstract

Salah satu jenis kopepoda dari ordo Calanoida, Acartia spp. meski maih terbatas telah dimanfaatkan sebagai pakan alami yang potensial pada hatchery ikan dikarenakan mudah diperoleh, memiliki nilai nutrisi tinggi serta secara teknis mudah dikultur. Namun, hasil produksi kultur Acartia spp. masih relatif rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi kopepoda adalah keberhasilan daya tetas telur, yang sangat dipengaruhi oleh kualitas telur dan faktor lingkungan terutama suhu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya tetas telur Acartia spp. pada suhu ruangan penetasan (hatching) 21oC dan 27oC dan pertumbuhan Acartia spp. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan,Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng-Bali, pada bulan Maret hingga bulan April 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penetasan dengan suhu air 27oC mencapai 100% dalam kurun waktu 48 jam. Sedangkan penetasan pada suhu air 21oC yang hanya mencapai 20% dengan kurun waktu 48 jam. Pertumbuhan Acartia spp. menunjukkan bahwa satu siklus Acartia spp. dari fase nauplii sampai mencapai fase dewasa memerlukan waktu 12 hari, dengan rincian nauplii (hari ke-1 hingga hari ke-6), fase kopepodit (hari ke-7 hingga hari ke-11), dan fase dewasa (hari ke-12). Kopepoda dewasa menunjukkan dimorphisme seksual, dengan fekunditas berkisar antara 11 hingga 30 butir telur.
Keanekaragaman Filum Echinodermata di Pantai Nyang Nyang, Kabupaten Badung, Bali Parela, Ni Kadek Meilani; Juliantara, I K. Putra; Yusup, Deny Suhernawan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i02.p2

Abstract

Pantai Nyang Nyang terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Pantai Nyang Nyang memiliki karakteristik pantai yang didominasi oleh bebatuan dan substrat karang, yang menjadi habitat sebagian besar spesies dari Filum Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas echinodermata di Pantai Nyang Nyang berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi. Metode penelitian yang dipakai adalah transek garis dengan lima garis sejajar pantai yang masing-masing terdiri dari lima kuadrat pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 16 spesies echinodermata yaitu Aquilonastra sp., Linckia multifora, Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinoneus cyclostomus, Mespilia globules, Tripneustes gratilla, Holothuria atra, Holothuria edulis, Holothuria sp., Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma scolopendrina, Ophiocoma sp. 1, Ophiocoma sp. 2, Ophiomastix annulosa, dan Ophioplocus imbricatus. Struktur komunitas di Pantai Nyang Nyang yaitu indeks keanekaragaman (H') sebesar 1,108 termasuk kategori sedang, indeks keseragaman (E) sebesar 0,399 termasuk kategori rendah, dan indeks dominasi (C) sebesar 0,600 termasuk kategori sedang. Parameter lingkungan meliputi suhu, pH dan salinitas air di Pantai Nyang Nyang mendukung keberadaan serta keanekaragaman spesies echinodermata. Kata kunci: struktur komunitas, zona intertidal, transek garis
Keanekaragaman Filum Echinodermata di Pantai Nyang Nyang, Kabupaten Badung, Bali Parela, Ni Kadek Meilani; Juliantara, I K. Putra; Yusup, Deny Suhernawan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i02.p2

Abstract

Pantai Nyang Nyang terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Pantai Nyang Nyang memiliki karakteristik pantai yang didominasi oleh bebatuan dan substrat karang, yang menjadi habitat sebagian besar spesies dari Filum Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas echinodermata di Pantai Nyang Nyang berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi. Metode penelitian yang dipakai adalah transek garis dengan lima garis sejajar pantai yang masing-masing terdiri dari lima kuadrat pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 16 spesies echinodermata yaitu Aquilonastra sp., Linckia multifora, Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinoneus cyclostomus, Mespilia globules, Tripneustes gratilla, Holothuria atra, Holothuria edulis, Holothuria sp., Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma scolopendrina, Ophiocoma sp. 1, Ophiocoma sp. 2, Ophiomastix annulosa, dan Ophioplocus imbricatus. Struktur komunitas di Pantai Nyang Nyang yaitu indeks keanekaragaman (H') sebesar 1,108 termasuk kategori sedang, indeks keseragaman (E) sebesar 0,399 termasuk kategori rendah, dan indeks dominasi (C) sebesar 0,600 termasuk kategori sedang. Parameter lingkungan meliputi suhu, pH dan salinitas air di Pantai Nyang Nyang mendukung keberadaan serta keanekaragaman spesies echinodermata. Kata kunci: struktur komunitas, zona intertidal, transek garis