cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Mikologi Indonesia
ISSN : 25798766     EISSN : 25798766     DOI : -
Jurnal Mikologi Indonesia (JMI) adalah jurnal nasional tentang diversitas Fungi di Indonesia yang mempublikasi artikel penelitian, review, metodologi, dan artikel-artikel taksonomi seperti monograf, jenis baru, catatan baru, checklist yang terkait dengan diversitas dan penyebaran Fungi, termasuk Lichen. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Indonesia. JMI akan mempublikasi setiap manuskrip sesegera mungkin setelah diterima oleh editor dan melalui proses peer review.
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Enzim Selulase Kasar Aspergillus niger FNCC 6018 untuk Produksi Bioetanol melalui Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak Vita Taufika Rosyida; Septi Nur Hayati; Anastasia Wheni Indrianingsih; Roni Maryana; Yekti Asih Purwesti; Clara Sinta Ayesda
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.429 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.45

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi pertumbuhan optimum pH, suhu, dan waktu inkubasi dari Aspergillus niger FNCC 6018 untuk produksi enzim selulase kasar dengan aktivitas spesifik maksimum pada substrat bagas tebu. Aktivitas spesifik maksimum A. niger FNCC 6018 dioptimasi dengan perlakuan variasi pH 5, 6, 7; suhu 27, 37, 50°C dan waktu inkubasi 5, 7, 9 hari. Kondisi optimum yang diperoleh digunakan untuk memproduksi enzim selulase kasar dan selanjutnya digunakan dalam proses produksi bioetanol. Produksi bioetanol dilakukan dengan metode Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) pada suhu ruang, pH 5, selama 5 hari menggunakan substrat bagas tebu, enzim selulase kasar A. niger FNCC 6018, khamir Saccharomyces cerevisiae FNCC 3012, dan medium SSF. Pada akhir tahap SSF, kadar glukosa diukur dengan metode DNS (Dinitro Salisilat) sedangkan kadar etanol diukur dengan metode Gas Chromatography.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk produksi enzim selulase kasar A. niger FNCC 6018 berada pada pH 5, suhu 37oC, waktu inkubasi 9 hari dengan aktivitas spesifik selulase kasar sebesar 0.107 U/mg. Kadar glukosa dan etanol maksimal dengan metode SSF adalah 0.59 mg/mL dan 1.217%. Metode ini cukup potensial untuk produksi bioetanol dari bagas tebu.
Analisis Numerik Khamir dari Nektar Bunga Kebun Raya Baturraden dan Panggeran Hargobinangun Chris Elian Beryl Setiady; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.446 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.43

Abstract

Khamir pada nektar bunga masih belum banyak diteliti di Indonesia. Padahal keragaman tanaman di Indonesia sangat tinggi karena letak geografis dan iklimnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan kekerabatan khamir pada nektar bunga melalui pendekatan taksonomi numerik. Metode yang dilakukan adalah mengisolasi khamir dari nektar bunga di Kebun Raya Baturraden dan Padukuhan Panggeran, Hargobinangun. Hasil isolasi kemudian dipurifikasi hingga menjadi isolat murni, kemudian diamati karakter morfologi, fisiologis, dan biokimia. Data dianalisis dengan koefisien Jaccard, dikelompokkan dengan metode UPGMA, dan disajikan dalam bentuk dendogram. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dendogram Jaccard’sCoefficient dengan menggunakan cut-off 70%, didapatkan 3 kluster dan 1 outlier. Kluster I dan outlier IV yang berasal dari Padukuhan Panggeran diduga merupakan khamir Basidiomycetes, memiliki indeks kesamaan 63%. Sementara kluster II dan III yang berasal dari Kebun Raya Baturraden, diduga merupakan khamir Ascomycetes dan memiliki indeks kesamaan 62%.
Penapisan Isolat Khamir Oleaginous dari Nektar Bunga dan Madu Hutan Kirana Dira Anjani; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.472 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.42

Abstract

Khamir oleaginous mampu mengakumulasi lipid lebih dari 15% dari berat kering selnya. Pada kondisi nitrogen yang terbatas, khamir tersebut mampu mengakumulasi lipid hingga 70%. Lipid yang dihasilkan mengandung asam lemak seperti palmitat, oleat, dan linoleat, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biodiesel. Khamir oleaginous umumnya hidup dilingkungan dengan konsentrasi karbon yang tinggi, antara lain nektar bunga dan madu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisankhamiroleaginous yang diisolasi darinektar bunga dan madu hutan. Sampel nektar bunga diambil dari Kebun Raya Baturraden, Purwokerto,dan tempat pembibitan bunga di Kaliurang, Yogyakarta. Sedangkan sampel madu hutan diambil dari 11 kabupaten di Sulawesi. Uji kualitatif dilakukan dengan teknik pewarnaan sudan III dan uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur berat lipid per berat kering biomassanya. Penelitian menghasilkan 6 isolat khamir oleaginous dari 47 isolat: PG12.2 (17,88%), PG12.3 (17,13%), PG5.4 (18,25%), AP1 (19,07%), PM2.1 (17,55%), dan PM3.2 (18,56%).Profil pertumbuhan isolat AP 1 menunjukkan bahwa kandungan lipid yang diproduksi masih menunjukkan peningkatan setelah penumbuhan selama 70 jam.
Aktivitas Antagonisme Khamir Asal Daun Jati (Tectona grandis) terhadap Aspergillus sp. Asal Pakan Ayam Retno Widowati; Dalia Sukmawati; HD Marham
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1681.428 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.53

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat-isolat khamir phylloplane yang berasal dari permukaan daun jati (Tectona grandis) sebagai agen pengendali hayati kapang pathogen Aspergillus sp. yang diisolasi dari pakan ternak ayam di daerah Bogor. Sebanyak 14 isolat khamir dan kapang Aspergillus sp. yang diuji merupakan koleksi UNJ Culture Collection. Metode co-culture dengan medium Potato Dextrose Broth (PDB) digunakan untuk uji antagonis khamir terhadap kapang. Pengamatan pertumbuhan khamir dilakukan dengan melihat adanya endapan, warna endapan, terbentuknya pelikel, dan perubahan pH medium. Adapun kapang diamati dengan melihat adanya hifa atau miselium, sporulasi, warna koloni dan pH medium. Hasil menunjukkan terdapat Sembilan isolat khamir yang paling berpotensi dalam menekan pertumbuhan Aspergillus sp., yaitu isolat-isolat khamir dengan kode T1D1 WU 2.2a; T3D2 DU 1.7; T4D2 WU2J2; T4P2-DU 2.1; T4D2 DU 2.1; T5D2 WU 1.5; T5D2 DU 1.1; CL1 PW1; dan T5D1 DU 2.2.
Diversitas Jamur Makro di Hutan Rubatn, Kalimantan Barat Elis Piolita; Rahmawati Rahmawati; Linda R
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3106.788 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.55

Abstract

Jamur makro diketahui memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas jenis-jenis jamur makro yang terdapat di Hutan Rubatn, Kecamatan Sompak, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2018 menggunakan metode jelajah. Identifikasi jamur makro dilakukan berdasarkan ciri morfologi. Sebanyak 21 spesimen dari 15 marga jamur makro ditemukan di Hutan Rubatn, yaitu Earliella, Lignosus, Cerioporus, Pycnoporus, Trametes, Fomes, Lentinus, Ganoderma, Rigidoporus, Schizophyllum, Marasmius, Pleurotus, Mycena dan Stereum (Basidiomycetes), dan Daldinia (Ascomycetes). Jamur-jamur tersebut ditemukan di berbagai substrat, yaitu tanah, serasah dan pohon mati.
Nomenklatur Jamur, Review Iman Hidayat
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.956 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.54

Abstract

Kongres internasional botani pada tahun 2011 di Melbourne telah merubah nama Code, dari The International Code of Botanical Nomenclature (ICBN) menjadi The International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN). ICN mencakup aturan-aturan dan rekomendasi yang berkaitan dengan penamaan dan sistematika jamur. Poin penting dari perubahan sejak Melbourne Code (2011) sampai Shenzhen Code (2017) adalah (1) disahkannya jurnal elektronik sebagai media untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (2) memperbolehkan penggunaan bahasa Inggris atau Latin untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (3) penghilangan konsep anamorph (anamorf) dan teleomorph (teleomorf) (untuk jamur) serta morphotaxa (morfotaksa) (untuk fosil) dari Code, (4) pengakuan Index Fungorum dan Mycobank sebagai tempat repositori specimen jamur yang diakui oleh Code, (5) penghapusan Art. 14.13 dan 57.2 dari Code.
Reduksi Logam Merkuri (Hg) Menggunakan Strain Jamur Lokal yang Diisolasi dari Kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin Kuansing, Riau Roy P Malau; Martina A
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.67 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.52

Abstract

Pencemaran lingkungan dari penambangan emas berhubungan dengan kandungan logam berbahaya Hg dari limbah tailing. Aplikasi isolat-isolat jamur di dalam menghilangkan logam berat di dalam air limbah dilaporkan lebih murah dan lebih aman terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan isolat-isolat jamur lokal yang diisolasi dari kawasan penambangan emas tanpa izin, Kuansing, Riau, di dalam mereduksi kandungan Hg pada air limbah penambangan emas. Jamur disiapkan pada medium PDA selama 7 hari dan ditumbuhkan dalam medium air sungai yang mengandung limbah Hg pada kondisi agitasi 150 rpm selama 7 hari. Kemampuan pengurangan logam Hg oleh isolate jamur dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat mampu mereduksi kadar Hg pada limbah. Isolat jamur LMBO4 dan Penicillium sp. strain PN6 masing-masing memiliki kemampuan tertinggi untuk mengurangi Hg yaitu 0,0492 mg/L (82%) dan 0,0470 mg/L (78,42%).
Perbandingan Efektivitas Antifungi Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum) dan Nistatin dengan Metode Difusi Cakram terhadap Candida albicans Sarwendah Paramesti; Ratna Sofaria Munir; Pepy Dwi Endraswari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6736.339 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.49

Abstract

Bawang putih (Allium sativum) merupakan obat yang sudah dimanfaatkan sejak zaman dahulu oleh Hippocrates, Pliny, dan Aristotle untuk kegunaan terapi. Bawang putih mempunyai efek sebagai antivirus, antibakteri, antifungi, dan antioksidan. Selain itu, bawang putih dapat digunakan sebagai anti-atherosklerosis dan anti-kanker (Bongiorno, 2008). Di sisi lain, nistatin merupakan antibiotik yang sangat efisien dalam pengobatan mikosis. Dalam sehari-hari, nistatin digunakan sebagai obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh jamur genus Candida. Penyebab utama penyakit tersebut adalah sistem imun tubuh yang melemah akibat penyakit sistemik. Penyebab lainnya yaitu akibat adanya infeksi nosokomial yang ditularkan melalui tenaga medis mau pun alat-alat kesehatan yang telah terkontaminasi. Sejauh ini penelitian yang dilakukan sebelumnya untuk menentukan aktivitas antifungi yang dihasilkan oleh bawang putih saja, tanpa mengetahui perbandingan efektivitasnya dengan obat-obatan lain, sehinga perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum) dan nistatin sebagai antifungi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah uji difusi menggunakan kertas cakram dengan 6 perlakuan. Konsentrasi ekstrak yang dipilih adalah 4g/ml (100%), 3g/ml (75%), 2g/ml (50%), dan 1g/ml (25%). Replikasi yang dilakukan dalam penelitian ini sebanyak 5 kali. Hasil data diperoleh dari pengukuran besar diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar media perbenihan jamur Candida albicans yang sudah diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam, dalam satuan milimeter. Kemudian, hasil tersebut akan dibandingkan dengan besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh obat nistatin untuk dinilai efektivitas keduanya. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh nistatin jauh lebih besar dibandingkan ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum). Perlu dilakukan evaluasi baik dari segi tanaman, jamur, obat, cara ekstraksi mau pun metode penelitian agar dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
Produksi Konsentrat Pakan Ruminansia dari Kulit Kopi dan Dedak yang Difermentasi dengan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Muhammad Yusuf Abduh; Lina Oktaviani; Intan Taufik
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.05 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.50

Abstract

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menentukan penambahan dedak yang optimal bagi remediasi limbah kulit kopi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) untuk menghasilkan sumber pakan ruminansia. Media kulit kopi diberi penambahan dedak dengan variasi persentase 0%, 25%, 50%, dan 75% dari total keseluruhan berat kering substrat. Media ditambahkan Ca(OH)2 sebanyak 1-2 gram dan air sebanyak 130 ml untuk mencapai pH media sebesar 6-7 dan kelembapan 55%-60%. Media dimasukkan ke dalam botol kultur dan disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1,5 atm. Bibit jamur tiram pada media jagung sebanyak 10 gram dikultivasi pada setiap variasi substrat. Kondisi inkubasi diatur pada suhu 23°C-25°C dalam keadaan gelap. Panjang miselium jamur tiram diukur setiap 5 hari. Kadar kafein, tanin, protein, lemak, dan abu diukur setiap 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan media campuran kulit kopi dan dedak dengan persentase 25% kulit kopi dan 75% dedak dapat mengoptimalkan degradasi senyawa beracun pada kulit kopi dan meningkatkan kandungan protein miselium jamur. Kultivasi jamur tiram putih pada kombinasi media tersebut dapat mengurangi kadar kafein sebesar 7,3% dan tanin sebesar 79%, serta meningkatkan kadar protein sebesar 8%. Pemanfaatan kombinasi limbah ini dapat mengurangi polutan dan menghasilkan produk sumber pakan ruminansia yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.
Uji Simbiosis Kapang Endofit pada Tanaman Chinese cabbage (Brassica rapa) dan Cabai (Capsicum annuum) R Hapipah; Gayuh Rahayu; Iman Hidayat
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2052.378 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i1.37

Abstract

Kapang endofit berperan membantu tanaman inang beradaptasi pada lingkungan yang kurang mendukung, dan membantu penyerapan nutrisi sehingga memperbaiki pertumbuhan inang melalui berbagai mekanisme.Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi simbiosis lima kapang endofit akar koleksi IPBCC (IYT11, IYT23, IYT42, IYT72, dan IYT84) dengan tanaman chinese cabbage dan cabai. Simbiosis diuji pada media Oat Meal Agar (OMA) dan zeolit selama 3 minggu. Potensi simbiosis diamati melalui kolonisasi akar dan respon tumbuh tanaman (tinggi tajuk, panjang akar, jumlah daun, dan bobot kering biomassa tanaman). Kolonisasi akar diamati menggunakan teknik pewarnaan biru tripan 0,005%. Hasil uji menunjukkan bahwa kelima isolat tidak mengkolonisasi akar chinese cabbage, namun mampu mengkolonisasi akar cabai pada medium OMA. Hasil uji pada medium zeolit menunjukkan bahwa isolat Leohumicola sp. IYT23 and Hortea sp. IYT42 mampu mengkolonisasi akar tanaman cabai, tetapi tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman.