cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Al-'Adl
ISSN : 19794916     EISSN : 26155540     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Al-'Adl merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah IAIN Kendari. Al-'Adl secara spesifik mempublikasikan tulisan ilmiah baik naskah ilmiah maupun hasil penelitian yang berorientasi pada masalah hukum Islam dan pranata sosial serta kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 290 Documents
POLITIK ISLAM: TELAAH HISTORIS MONARCHISME MU’AWIYAH DAN KONFLIK YANG MENGITARINYA Muhammad Ikhsan AR.
Al-'Adl Vol 6, No 2 (2013): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.47 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v6i2.202

Abstract

AbstrakMuawiyah bin Abu Sufyan adalah satu di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAWyang paling kontroversial. Muawiyah lahir dari kedua orangtua yang sebelumnya sangatmemusuhi Islam, yaitu Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah. Sikapnya terhadapKhalifah Ali bin Abi Thalib, dianggap makar dan tergolong bughat (pemberontak).Tindakan Muawiyah mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah, dituding telahmenciptakan sistem monarchy (turun-temurun), sistem baru yang tak pernah adasebelumnya.Di sisi lain, jasa Muawiyah tak bisa dipungkiri. Pencatat wahyu ini tak hanya mampumengakhiri konflik antar kaum Muslimin di masanya, tapi juga berhasil menancapkanpondasi sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam:Dinasti Umayyah.Maka, sosok Muawiyah pun mendapat banyak sorotan—pro dan kontra—dari berbagaikalangan. Di satu sisi, ada yang membencinya habis-habisan. Berbagai julukan ditabalkan.Ia disebut licik, culas, musang berbulu domba dan pengkhianat. Namun di lain sisi, iadipuji dan disanjung oleh umat Islam karena Muawiyah memiliki kontribusi besar dalamperubahan struktur sosial dan politik umat pada waktu itu. Muawiyah memisahkan Qadhidan Ulama, sehingga posisi qadhi atau hakim menjadi sebuah jabatan profesi. Beliau jugamemodernisasi militer sehingga lebih profesional dalam menjalankan tugas, kendati seringdigunakan untuk menghadapi lawan-lawan politiknya.Kata Kunci: politik Islam, monarchy, Mu’awiyah.
Menimbang Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam Husain Insawan
Al-'Adl Vol 2, No 1 (2009): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3594.359 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v2i1.848

Abstract

Bolting of interpretation of emancipatory contemporary trodden on at “ freedom “ type of gender selected, the legal counter draft of Kompilation Punish Islam ( KHI ) designed. Learn from bleak past experience, likely movement especial influence of gender (This PUG) try to lift degree of womankind which during the time feel “to be harmed” by KHI. In consequence, there is some important point needing up di-blow nakedly by the compiler teams of [so that/to be] correct looked to be wanted by the picture is this movement. This matter at the same time give an opportunity to society to criticize, so that impress that legal counter of a draft of KHI this follows to be owned by process society. A point which is urgency peeped out the among others the problem of marriage ground, dowry, foundation, and marriage duration. Keyword: KHI, marriage ground, dowry, foundation, and marriage duration. 
PERIKATAN (ILTIZAM) DALAM HUKUM BARAT DAN ISLAM Umi Rohmah
Al-'Adl Vol 7, No 2 (2014): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.35 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v7i2.225

Abstract

AbstrakKajian hukum bisnis atau ekonomi Islam memiliki tantangan dalam pengembangan hukumperikatan (iltizam) karena berbagai lembaga ekonomi dan keuangan Islam berkembangdengan pesat baik di Indonesia dan negara-negara berkembang maupun di negara-negaramaju di Barat. Kajian-kajian terkait perikatan perlu kajian perbandingan, termasuk diantaranya antara hukum perikatan Islam dan Barat. Selain itu, kajian hukum perikatanIslam perlu formalisasi dalam kerangka hukum perikatan nasional dan internasional.Kata kunci: iltizam, perjanjian, hukum barat, hukum Islam.
TRANSFORMASI HUKUM ISLAM TENTANG QANUN AL DUALI DAN QANUN AL-DUSTURI Sitti Halimang
Al-'Adl Vol 6, No 1 (2013): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.684 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v6i1.193

Abstract

Motivasi dari judul adalah karena hukum Islam di Indonesia telah fluks dan refluks sedangkan hukum politik yang diterapkan oleh kekuasaan negara. Selain dari mereka semua, ia berakar dari kekuatan sosial dan budaya berinteraksi dalam pengambilan keputusan kebijakan politik. Salah satu kondisi yang harus diperlukan dalam mentransformasikan nilai syariah dan norma dalam hukum Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah filosofi dasar / islamic hukum phisosophy hukum Islam mengandung nilai moral dan etika. Diskusi ini adalah transformasi substansi hukum Islam dalam Qanun al-Duali bentuk dan qanun al-Dustu, proses transformasi hukum Islam dalam Qanun al-Duali dan qanun al-Dusturi. Perkembangan hukum Islam di Indonesia memiliki kesempatan yang cerah dalam membangun hukum nasional, socioantropologisly dan emosional hukum Islam sangat dekat dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar dari mereka adalah Muslim. Hukum Islam juga bahan dalam membuat hukum nasional. Secara kuantitatif itu mempengaruhi tatanan sosial-budaya, politik dan hukum dalam masyarakat. Prinsip dan aturan hukum Islam memiliki kesempatan untuk diubah ke hukum nasional (al-qanun al-Dusturi) Kata kunci: transformasi, Hukum Islam, qanun al-duali, qanun al-dusturi
Hadis Tahlili tentang Jumlah Raka`At Shalat Tarawih Pairin Pairin
Al-'Adl Vol 1, No 2 (2008): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.536 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v1i2.837

Abstract

The growth of deeds after the Prophet died, because for the practice of worship solely to Allah swt. Various worship in Islam is more of a pious charity and spiritual practice in accordance with human nature. Implementation of worship is a regulation of the life of a Muslim, whether through the implementation of prayer, zakat, fasting and so forth. What is clear, the implementation of worship has united the Muslims in one goal, namely servitude to God alone. Through the worship of many things that many obtained by a Muslim whose interests not only cover the individual but broadly and universally important with sincere conditions and on the basis of obedience to Allah swt.From here, one of the most highly recommended worship of the Messenger of Allah, which is only done in the month of Ramadan is tarawih prayer. Tarawih prayers at first only said al-lail prayer because it is done especially on the night in the month of Ramadan. It is said tarawih (jama` from tarwihah word) because every two or four rakaat congregation of rest prayer is due to the length of the verses of the Qur'an which are read on every rakaat.Tarawih problem first and now is still an interesting topic to be studied, discussed and researched first, because there are some things that are still questioned by the ummah of Islam, among which is the number rakaat. In this case, the scholars are different opinions so that Muslims are also different in implementing it. The irony of the difference in this problem has occurred since the first Muslim generation since the days of the Companions, when they see firsthand the Prophet tarawih Messenger of Allah, at least they have obtained a direct explanation from him. Muslims among the laity become confused to choose and determine which is really true. While in the Muslim intellectuals more incentive to criticize by finding various reasons. And some assume that his opinion is the most correct, and people who do not agree with him actually think of him as a bid'ah expert. aka in a society, there is often unbalance between the Muslim groups with each other, because of differences in tarawih problems. To prevent such things from happening above, Muslims should develop their religious knowledge insight so as to grow mutual understanding between brothers and sisters.
Wawasan Gender Dalam Perundang-Undangan Perkawinan Di Indonesia St. Halimang
Al-'Adl Vol 9, No 1 (2016): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.934 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v9i1.669

Abstract

Gender adalah Suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, dan karakter emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat, hokum Islam tidak ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan untuk berkipra karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban. Wujud wawasan gender dalam Perundang-undangan dapat dilihat dalam kedudukan sebagai istri, Suami sebagai kepala keluarga dan istri sebagai ibu rumah tangga,masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum, juga terhadap harta bersama pun istri mempunyai hak yang seimbang dengan suami, hak terhadap anak tetap ada pada suami istri, jika seandainya perkawinannya putus, dalam Proses Perceraian, begitu juga kedudukan wanita dalam hukum kewarisan diharapkan supaya dalam menggali dasar-dasar yang digunakan oleh para ulama dalam menetapkan suatu hukum yang berkaitan dengan gender supaya mengelaborasi antara hokum normative dengan hokum positif utamanya yang terkait perempuan, sehingga perempuan semakin mampu berperan secara lebih dinamis dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemberian Nafkah Suami Terpidana bagi Keluarga (Studi Kasus di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kendari) Batmang Batmang
Al-'Adl Vol 10, No 1 (2017): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.521 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v10i1.686

Abstract

The purpose of this study was to determine the provision for the family convicts when left by the head of the family in prison, in order to find a solution for the family convicts economic difficultiesafter being left by the head of the family based on the perspective of a review of Islamic law and thelegislation relating to the liabilities convict husband in providing a living for the family. This study useskualitatif- sociological approach. The data collection is done by observation, interviews related to the reality of the fulfillment of family income. The results showed that the convict husband living on the family is still given according to ability. Overview of Islamic law and the laws pertaining to the obligations of convicts husband in providing the family income is confirmed in QS. Al-Baqarah 2: 233, legislation duty of the husband to provide a living stated in Law No. 1 of 1974 on marriage Chapter VI of Article 30 to Article 34 and the Islamic Law Compilation (KHI) CHAPTER XII Article 77 to Article 84.
Sejarah Peradaban Islam Siti Halimang
Al-'Adl Vol 2, No 2 (2009): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.479 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v2i2.867

Abstract

Jurisdiction is one of the Institution in fulfilling intention live society in straightening of justice and law, has been recognized by before Islam. Nation Arab before Islam have owned qadi to finish all their dispute, but they not yet owned code/law written able to be made by hold all qadi. They verdict among them by corresponding to hereditary them habit, and from opinion of tribe heads or from their people who of wise approach is known as his opinion exact people who, and confiscate rights with marking and hunch, intelligence of their jurist is caused them more prioritize to decide law with marking and priest from at by means of…other evidence, like confession or eyewitness.            In study jurisdiction of Islam in Indonesia and jurisdiction in general, recognized by various special term or word which become device from a concept, among others religion court, the jurisdiction of Islam, the jurisdiction of Islam, justice of religion and so on. But to avoid by mistake of[is understanding of, if which meant “jurisdiction of Islam in Indonesia”, is “religion court” besides there are also other term related to that terms, both for having a meaning of-of a kind and related to him and become explain of position from each; every that term. That terms can know them by the meaning of in so many sources that are in dictionary, law and regulation and encyclopedia. All that term or words is told in different understanding. Is sometimes told also in is same understanding. That thing is to have jetty to form two more term of the public, that is justice and jurisdiction.
Teknik Periwayatan Hadis: Cara Menerima dan Meriwayatkan Hadis Sulaemang Sulaemang
Al-'Adl Vol 1, No 1 (2008): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.033 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v1i1.753

Abstract

Umat Islam telah sepakat bahwa hadis merupakan salah satu sumber ajaran islam. Ia menempati kedudukannya setelah Al-Qur’an. Keharusan mengikuti hadis bagi umat islam baik berupa perintah maupun larangannya, sama halnya dengan kewajiban mengikuti Al-Qur’an. Hal ini karena hadis merupakan mubayyin terhadap    Al-Qur’an, yang seharusnya siapapun tidak akan bisa memahami Al-Qur’an tanpa dengan memahami dan menguasai hadis. Begitu pula halnya, menggunakan hadis tanpa Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan dasar hukum pertama yang didalamnya berisi garis besar syariat. Dengan demikian, antara hadis dengan al-qur’an memiliki kaitan sangat erat, yang untuk memahami dan mengamalkannya tidak bisa dipisah-pisahkan atau berjalan sendiri-sendiri.Oleh karena itu maka perlu diketahui Teknik Periwayatan Hadis dari Nabi terhadap sahabat, serta cara sahabat meriwayatkan hadis, sehingga kita dapat membedakan mana hadis shahih dan mana yang ditolak.Nabi Muhammad SAW dalam kedudukannya sebagai nabi dan rasul Allah, telah berhasil membimbing umat kepada ajaran agama yang dibawanya. Walaupun ia sukses dalam membimbing umatnya, tetapi kehidupan sehari-harinya tetap sederhana, tidak jarang ia terlihat menjahit sendiri pakaiannya yang sobek dimana ia juga berstatus sebagai kepala rumah tangga yang hidup ditengah-tengah masyarakat.Apabila kedudukan Nabi tersebut dilihat dan dihubungkan dengan bentuk-bentuk hadis yang terdiri dari sabda, perbuatan, taqrir dan hal ihwalnya, maka dapatlah dinyatakan bahwa hadis Nabi telah disampaikan oleh Nabi dalam berbagai cara. Pertama, Nabi menyampaikan hadisnya secara lisan dan perbuatan dihadapan orang banyak di masjid pada waktu malam dan subuh. Kedua, terkadang Nabi menyampaikan Hadisnya berupa teguran terhadap orang yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Ketiga, Nabi manyampaikan Hadisnya berupa jawaban atas pertanyaan dari sahabatnya. Keempat, dengan cara berupa permintaan penjelasan, berupa taqrir yang harus dicontohkan perbuatan Nabi yang menyangkut ibadah dan sebagainya.Selanjutnya cara menerima dan meriwayatkan Hadis Nabi SAW. adalah suatu proses penerimaan hadis oleh seorang Rawi dari seorang gurunya, yang setelah dipahami, dihafal, dihayati, diamalkan, ditulis lalu disampaikan kepada orang lain sebagai murid dengan menyebutkan sumber pemberitaan riwayat tersebut.Jadi ada tiga hal yang harus dipenuhi dalam periwayatan Hadis yakni, kegiatan menerima Hadis dari Periwayat hadis, kegiatan menyampaikan Hadis itu kepada orang lain, dan ketika Hadis itu disampaikan susunan rangkaian periwayatan disebutkan.
Al-Amtsal Al-Mu'Miniin Muh Daming K.
Al-'Adl Vol 4, No 1 (2011): Al-'Adl
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3637.826 KB) | DOI: 10.31332/aladl.v4i1.522

Abstract

Al-Quran tidak hanya mengandung aturan hukum, pesan moral pendidikan, etika sosial kemasyarakatan, dan berita-berita saja, tetapi juga memiliki kisah-kisah yang cukup fantastis yang dapat dijadikan sebagai pelajaran hidup di dunia dan di akhirat. Kisah-kisah yang fantastis dan menghebohkan secara ubudiayh tersebut dikenal dengan istilah al-Amtsal. Al-Amtsal yang dikaji pada bagian ini adalah al-Amtsal al-Mu'minin. Untuk memahami amtsal dimaksud, maka akan diketengahkan tentang pengertian, bentuk-bentuk, makna, manfaat, dan hikmah penggunaan amtsal. Amtsal dalam kajian ini berkenaan dengan amtsal al-mu'minin

Page 9 of 29 | Total Record : 290