ABSTRAKKua Ci adalah upacara adat sembahyang kubur, untuk mengenang jasa dan menghormati leluhur yang telah meninggal dunia, sebagai bentuk bhakti kepada leluhur. Kua Ci adalah istilah untuk sembahyang kubur dalam dialek Bahasa Cina khek atau Hakka. Kua Ci di Kabupaten Sanggau dilaksanakan dalam penanggalan kalender Masehi yaitu pada bulan April dan bulan Agustus. Dalam melaksanakan upacara adat Kua Ci, Secara singkat tahapan paling utama sebelum melakukan upacara adat Kua Ci yaitu membersihkan kuburan leluhur, menyiapkan makanan dan minuman, dan peralatan sembahyang. Selanjutnya, tata cara dalam melakukan upacara adat ini yang pertama yaitu penyembahan atau ucapan salam kepada Dewa tanah. Setelah penyembahan kepada Dewa, maka selanjutnya ucapan salam dan penyembahan kepada leluhur. Setelah upacara dilaksanakan maka tahap terakhir adalah mengirimkan uang kertas dan replika barang. Setelah semuanya selesai dibakar, selesailah segala ritual upacara dan keluarga kemudian membersihkan makam kembali, dan berpamitan pulang kepada leluhur.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu "Apakah pelaksanaan upacara adat Kua Ci masyarakat etnis Tionghoa di Kelurahan Ilir Kota Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau masih dilaksanakan dengan ketentuan adat aslinya?". Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode penelitian Hukum Empiris dengan Sifat Deskriptif Analisis, yaitu penelitian untuk mengambarkan suatu fenomena atau keadaan sebagaimana adanya pada saat penelitian dan mengumpulkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan untuk dianalisis, sampai pada kesimpulan akhir. Pengumpulan data dilakukan dengan Teknik Komunikasi Langsung dengan informan melalui wawancara, yaitu Ketua Perkumpulan Bakhti Sentosa Sanggau dan Sesepuh atau orang yang dituakan yang melaksanakan dan memahami secara mendalam mengenai upacara adat Kua Ci, dan Teknik Komunikasi Tidak Langsung yaitu dengan responden menggunakan kuesioner (angket) terhadap 20 masyarakat etnis Tionghoa di Kelurahan Ilir Kota Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau. Data hasil penelitian kemudian diolah dalam bentuk tabel sederhana dan juga secara desrkiptif agar mudah dipahami.Seiring perkembangan zaman, pada faktanya adat istiadat juga seringkali dilakukan tidak sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh leluhur, terutama pada upacara adat. Hal ini dapat penulis perhatikan dalam upacara adat Kua Ci etnis Tionghoa di Kabupaten Sanggau yang masih dilaksanakan dengan mengalami pergeseran, yang mana masyarakat etnis Tionghoa masih melakukan upacara adat Kua Ci, namun peralatan dan perlengkapan serta tata cara pelaksanaan seperti contohnya hanya membawakan Nasi bungkus dan air putih, tidak ada buah maupun kue, tidak ada melakukan pai-pai dan tidak melakukan pembakaran replika uang dan barang, ada juga yang hanya membawakan bunga dan menghidupkan lilin. Hal inilah yang tidak sesuai dengan ajaran leluhur atau ketentuan aslinya. Pergeseran dalam pelaksanaan upacara adat Kua Ci oleh masyarakat entis Tionghoa di Kelurahan Ilir Kota disebabkan oleh faktor ekonomi dan faktor agama. Akibat sosial apabila pelaksanaan Kua Ci tidak sesuai ketentuan aslinya ialah tergantung kepercayaan masing-masing individu. Sedangkan upaya untuk mempertahankan dan melestarikan upacara adat Kua Ci masyarakat etnis Tionghoa di Kelurahan Ilir Kota Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau adalah dengan cara selalu memberikan himbauan masyarakat agar selalu melaksanakan Kua Ci pada hari yang telah ditentukan, sebagai bentuk pelestarian adat istiadat etnis Tionghoa sehingga adat istiadat ini tidak dilupakan dan tidak menjadi langka.Kata Kunci : Upacara, Adat, KuaCi, Tionghoa Kua Ci is a traditional grave prayer ceremony, to commemorate the services and honor ancestors who have passed away, as a form of devotion to the ancestors. Kua Ci is the term for grave prayer in the khek or Hakka dialect of Chinese. Kua Ci in Sanggau Regency is held according to the Gregorian calendar, namely in April and August. In carrying out the Kua Ci traditional ceremony, briefly, the most important stages before carrying out the Kua Ci traditional ceremony are cleaning the ancestral graves, preparing food and drinks, and prayer equipment. Next, the first procedure for carrying out this traditional ceremony is worship or greeting the God of the land. After worshiping the Gods, the next step is greeting and worshiping the ancestors. After the ceremony is carried out, the final stage is to send banknotes and replicas of goods. After everything has been burned, all the ceremonial and family rituals are finished, then the grave is cleaned again and said goodbye to the ancestors.The formulation of the problem in this research is "Is the implementation of the Kua Ci traditional ceremony of the ethnic Chinese community in Ilir Kota Village, Kapuas District, Sanggau Regency still carried out according to the original customary provisions?". The type of research that the author uses in this research is the Empirical Legal research method with Descriptive Analysis, namely research to describe a phenomenon or situation as it exists at the time of research and collect facts found in the field for analysis, arriving at a final conclusion. Data collection was carried out using Direct Communication Techniques with informants through interviews, namely the Chairman of the Sentosa Sanggau Bakhti Association and Elders or elders who carry out and understand in depth the Kua Ci traditional ceremony, and Indirect Communication Techniques, namely with respondents using questionnaires (questionnaires) regarding 20 ethnic Chinese people in Ilir Kota Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The research data is then processed in the form of a simple table and also descriptively so that it is easy to understand.As time goes by, the fact is that customs are often carried out not in accordance with the procedures taught by their ancestors, especially during traditional ceremonies. The author can note this in the Kua Ci ethnic Chinese traditional ceremony in Sanggau Regency which is still carried out with a shift, where the ethnic Chinese community still performs the traditional Kua Ci ceremony, but the equipment and supplies as well as the procedures for carrying it out, for example, only bring packed rice and water. white, no fruit or cake, no pies and no burning replicas of money and goods, some only bring flowers and light candles. This is not in accordance with ancestral teachings or original provisions. The shift in the implementation of the Kua Ci traditional ceremony by the ethnic Chinese community in Ilir Kota Subdistrict was caused by economic and religious factors. The social consequences if the implementation of Kua Ci does not comply with the original provisions depend on the beliefs of each individual. Meanwhile, efforts to maintain and preserve the traditional Kua Ci ceremony of the ethnic Chinese community in Ilir Kota Subdistrict, Kapuas District, Sanggau Regency is by always giving an appeal to the community to always carry out Kua Ci on a predetermined day, as a form of preserving ethnic Chinese customs so that these customs not forgotten and not become rare.Keywords: Ceremonies, Customs, Kua-Ci, Chinese