cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Majalah Farmasi dan Farmakologi (Trends in Pharmacy and Pharmaceutical Sciences)
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 14107031     EISSN : 26556715     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmasi dan Farmakologi diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin tiga kali setahun, yaitu pada Bulan April, Agustus, dan Desember dengan ISSN 1410-7031 dan e-ISSN 2655-6715 yang berisi tulisan atau artikel tentang hasil penelitian atau telaah literatur dalam bidang kefarmasian seperti farmakologi, farmakognosi, fitokimia, kimia farmasi, teknologi farmasi, dan mikrobiologi.
Arjuna Subject : -
Articles 170 Documents
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA BIOAKTIF ANTIBAKTERI METABOLIT BAKTERI YANG BERASOSIASI SPONS LAUT (Agelas oroides) Risna Risna; Rismayanti Fauziah; Subehan; Natsir Djide
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.18632

Abstract

Spons merupakan salah satu kelompok biota laut yang terdapat di perairan Indonesia dengan jumlah 850 spesies dan berpotensi menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang bersifat bioaktif. Kemajuan penelitian melaporkan bahwa banyak produk alami bioaktif dari invertebrata laut telah memiliki kesamaan dengan metabolit mikroorganisme yang berasosiasi termasuk bakteri, dengan demikian penting untuk mengeksplorasi kemungkinan peran bakteri laut yang bersimbion pada spons dalam memberikan solusi untuk masalah infeksi oleh patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri dari bakteri asosiasi spons terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Escherichia coli serta karakterisasi senyawa bioaktifnya berdasarkan data spektrofotometri UV-Vis dan IR.  Isolasi bakteri asosiasi spons laut dilakukan dengan metode agar tuang pada marine agar selanjutnya dilakukan pemurnian dan uji antagonis untuk mengetahui isolate yang paling potensial terhadap bakteri uji. Isolat terpilih selanjutnya dilakukan fermentasi dan ekstraksi lalu dilanjutkan dengan uji aktivitas antimikroba ekstrak isolat bakteri. Langkah selanjutnya dilakukan isolasi senyawa, uji kemurnian dan karakterisasi senyawa yang diperoleh. Hasil isolasi bakteri asosiasi spons laut diperoleh sebanyak 5 isolat dengan Kode BSS-1, BSS-2, BSS-3, BSS-4 dan BSS-5. Hasil pengujian antagonis diperoleh isolate BSS 2 memiliki daya hambat terhadap bakteri uji S. aureus dan E. coli  yang selanjutnya dilakukan fermentasi terhadap ekstrak tersebut.  Ekstrak etil asetat isolat bakteri BSS-2 dengan konsentrasi 1% dan 2% mampu menghambat bakteri uji S.aureus dengan diameter hambatan masing-masing sebesar 10,86 mm dan 14,28 mm  sedangkan aktivitas terhadap bakteri uji E. coli pada konsentrasi 1% dan 2 % memiliki diameter hambatan sebesar 9,96 mm dan 12,65 mm. Berdasarkan hasil karakterisasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan FTIR, senyawa yang diperoleh dari ekstrak etil asetat isolat BSS-2  memiliki panjang gelombang 271 nm dan memiliki gugus fungsi C-N dan N-H pada bilangan gelombang 3443,05 dan 1082,10. Hasil karakterisasi tersebut diduga bahwa senyawa ekstrak etil asetat isolate BSS-2 merupakan senyawa alkaloid. Hal ini diperkuat oleh hasil karakterisasi menggunakan pereaksi dragendorf diindikasikan senyawa alkaloid.
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ARIPRIPRAZOL DENGAN OLANZAPIN PADA PASIEN RAWAT INAP SKIZOFRENIA DI RUANG TENANG RSKD DUREN SAWIT Tri Murtini; Yusi Anggriani; Fredrik Dermawan Purba
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.19099

Abstract

Masalah kesehatan jiwa di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang sangat penting dan harus mendapatkan perhatian yang serius.  Terapi pasien skizofrenia di ruang tenang dapat diberikan obat Olanzapin (generik), Aririprazol (Abilify®) dan Olanzapin (Sopavel®). Harga Aripriprazol (Abilify®) lebih mahal dari Olanzapin generik dan Olanzapin (Sopavel®). Penelitian ini bertujuan melihat efektivitas biaya. Desain penelitian adalah kohort, pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling  dan dilaksanakan pada bulan Juni – September 2019 di ruang tenang RSKD  Duren Sawit.  Data diambil dari rekam medis yang meliputi skor PANSS awal dan akhir, biaya total medis langsung. Total sampel yang diperoleh dari penelitian ini adalah 206 pasien yang terdiri dari 30 pasien kelompok aripriprazol  (abilify®), 62 pasien kelompok olanzapin generik dan  114 pasien kelompok olanzapin (sopavel®). Rerata biaya total medis langsung aripriprazol (abilify®) adalah Rp 1.748.652,07 lebih tinggi dibandingkan olanzapin generik seharga Rp 1.430.129,79 dan olanzapin (sopavel®) Rp 1.718.436,68. Hasil uji pre dan post terapi menunjukkan perbedaan bermakna untuk penurunan skor PANSS. Uji beda ketiga terapi dengan uji statistik Kruiskall Wallis menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,006,P<0,05) untuk rerata penurunan skor PANSS, aripriprazol(abilify®)  45,43, Olanzapin  26,48 dan Sopavel® 44,55.  Akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p>0,005)terhadap lama hari rawat (LOS)
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP TERHADAP LAMA MENDERITA PASIEN PENYAKIT DIABETES MELITUS DI KABUPATEN KUDUS Meki Pranata; Rizqia Pramudita Nugraha; Dian Handayani
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.20733

Abstract

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronis pada masalah kesehatan yang ditandai kekurangan insulin baik secara absolut maupun relative. Menderita diabetes melitus dalam waktu yang Panjang akan meningkatkan tingkat komplikasi semakin tinggi sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas hidup terhadap lama menderita pasien diabetes melitus di Kabupaten Kudus. Jenis penelitian ini termasuk observational analytic dengan design penelitian cross sectional. Penelitian menggunakan pasien yang menderita diabetes melitus sebagai responden. Tempat penelitian di Puskesmas Kaliwungu, Kendal.  Alat penelitian yang digunakan kuesioner Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionaire  (DQLCTQ) dengan metode analisis  uji independent sample T-test untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien diabetes melitus. Responden dengan kualitas hidup baik sebanyak 57,7% dan responden dengan kualitas hidup buruk sebanyak 42,3%. Terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kualitas hidup dengan nilai signifikansi p<0,05. Rata-rata kualitas hidup responden < 5 tahun sebesar 76,30±12,06 dan > 5 tahun sebesar 75,44±11,22 dengan hasil signifikansi p=0,721 (p>0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan pada kualitas hidup pasien dengan lama menderita diabetes melitus.
KARAKTERISASI SIMPLISIA MADU KELULUT (Heterotrigona itama) SEBAGAI BAHAN BAKU SEDIAAN OBAT PENYEMBUHAN LUKA Nurlaila Afriliah; Wintari Taurina; Mohamad Andrie
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.20969

Abstract

Karakterisasi bahan alam merupakan langkah untuk mengetahui kejelasan identitas bahan alam. Identitas bahan alam merupakan aspek penting pada produksi suatu obat herbal. Madu kelulut (Heterotrigona itama) adalah salah satu bahan alam yang diperoleh dari lebah kelulut. Madu kelulut berkhasiat sebagai obat penyembuhan luka karena bersifat antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi proses pembuatan simplisia dan simplisia madu kelulut yang berasal dari Desa Pangkalan 2, Kabupaten Bengkayang, sebagai bahan baku sediaan obat penyembuhan luka. Simplisia dikarakterisasi secara biologi meliputi habitat dan morfologi, secara fisika meliputi organoleptis, kadar air, kadar abu total, pH, dan bobot jenis, serta secara kimia meliputi skrining fitokimia. Proses pembuatan simplisia madu kelulut terdiri dari pengumpulan sampel, penyaringan, pengemasan, dan penyimpanan. Rendemen simplisia madu kelulut yang diperoleh sebesar 89,6%. Hasil karakterisasi yaitu lebah kelulut (Heterotrigona itama) hidup di daerah dataran rendah dengan iklim tropis, wilayah yang hangat dan lembap, serta memiliki sistem vegetasi yang didominasi 60% pohon kelapa (Cocos nucifera L.), 5% pohon kaliandra (Calliandra haematocephala), 5% tanaman air mata pengantin (Antigonon leptopus), serta 30% terdiri atas pisang (Musa paradisiaca L.), pinang (Areca catechu), rambutan (Nephelium lappaceum L), durian (Durio zibethinus), ceri (Prunus cerasus), buah naga (Selenicereus polyrhizus), dan beberapa tanaman liar. Morfologi lebah kelulut terbagi menjadi bagian kepala, dada, dan perut, berukuran panjang 6 mm, dan berwarna hitam. Simplisia madu kelulut memiliki rasa asam sedikit manis, berwarna hitam, beraroma khas madu kelulut, kadar air 27,11%, kadar abu total 0,28%, pH 3,07, bobot jenis 1,34 g/mL, serta mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil karakterisasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan simplisia madu kelulut yang diperoleh memiliki kualitas yang baik.
SINTESIS HIJAU NANOPARTIKEL PERAK (AgNP) MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN SERAI (Cymbopogon citratus) SEBAGAI BIOREDUKTOR siti qurrataayun; yusnita rifai; herlina rante
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.21047

Abstract

Sintesis hijau Nanopartikel perak (AgNP) adalah proses reduksi ion Ag+ menjadi Ag0 dengan menggunakan senyawa bioaktif tanaman. Proses sintesis hijau dinilai lebih aman, ramah lingkungan, dan ekonomis, sedangkan proses sintesis kimia-kimia diikuti oleh hasil samping yang menyebabkan toksisitas dan pencemaran lingkungan. AgNP berpotensi dimanfaatkan di berbagai bidang dengan sifat, bentuk, dan fungsi AgNP yang dipengaruhi selama proses sintesis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi reaksi yang optimal dalam proses sintesis hijau yang menggunakan ekstrak etanol daun serai. Adapun metode sintesis hijau dalam penelitian ini adalah dengan melakukan preparasi terhadap kondisi pH ekstrak, yaitu kondisi yang dapat membentuk AgNP segera ketika sintesis berjalan, selanjutnya pH dipilih untuk digunakan pada tahap optimalisasi konsentrasi Ag dan ekstrak, dan waktu kontak yang dievaluasi melalui monitoring puncak SPR (Surface Plasmon Resonance) UV-Vis antara 400-500 nm selama 2 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa AgNP terbentuk pada reaksi antara ekstrak etanol konsentrasi 5% pH 12 dan Ag 2 mM pada menit ke 15 dengan nilai SPR pada 403 nm, panjang gelombang UV-Vis selama 2 hari cenderung stabil antara 400-403 nm tetapi jumlah Absorbansi menunjukan adanya indikasi ketidakstabilan pada larutan AgNP yang dimonitoring sehingga perlu pertimbangan agen penstabil agar tidak terjadi aglomerasi
ISOLASI α-SELULOSA, PEMBUATAN & KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA (MCC) DARI LIMBAH KULIT JERUK BABY (Citrus sinensis) Yulianita Pratiwi Indah Lestari; Yuniarti Falya; Uswatun Chasanah; Djati Wulan Kusumo; Maulidwina Bethasari
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.22070

Abstract

Obat memiliki kebermanfaatan yang penting dalam pelayanan kesehatan yang dapat digunakan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, industri farmasi di Indonesia masih sangat tergantung dengan bahan baku impor. Pemanfaatan buah jeruk baby java masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari limbah jeruk yang hanya dibuang, yang terdiri dari kulit dan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mikrokristalin selulosa dari limbah Kulit Jeruk Baby (MCCKJB), kemudian dilakukan karakterisasi dengan Avicel PH 101 sebagai bahan baku pembanding. Karakterisasi dari MCCKJB terdiri dari uji kualitatif (pemeriksaan organoleptis, identifikasi menggunakan iodinate zinc chloride, pengujian kelarutan, uji pH) dan uji sifat fisik, antara lain: penetapan titik lebur, uji sudut diam, uji laju alir, uji kerapatan, susut pengeringan, & kompresibilitas, dimana setiap uji pada karakterisasi tersebut (uji kualitatif dan uji sifat fisik) akan dibandingkan dengan senyawa pembanding komersial yaitu Avicel PH 101. Berdasarkan hasil penelitian rendemen α-selulosa sebesar 66,75% terhadap serbuk simplisia, rendemen MCCKJB sebesar 82,53% terhadap α-selulosa dan karakterisasi serbuk MCCKJB meliputi reaksi warna, organoleptis, kelarutan, dan pH menunjukkan kemiripan karakteristik dengan Avicel® PH 101 sebagai pembanding, titik lebur 270° C, sudut diam 28,86°, laju alir 1,52 g/s, kerapatan curah 0,349 g/cm3, kerapatan mampat 0,466 g/cm3, susut pengeringan 10,3%, & kompresibilitas 25%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, karakteristik serbuk MCCKJB memiliki kemiripan dengan Avicel® PH 101.
PENERAPAN PELAYANAN INFORMASI OBAT DI BEBERAPA PUSKESMAS KOTA MAKASSAR A. Anggriani; Yulia Yusrini Djabir; Nurhaeni; Nabila Hakim; Rahyunita; St. Atifah Ananda Usman
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 26 No. 3 (2022): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v26i3.23846

Abstract

Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan salah satu bentuk pelayanan farmasi klinik yang esensial untuk dilakukan di Puskesmas. Hal ini juga diatur pada Permenkes Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan PIO pada sarana pelayanan kesehatan yaitu empat Puskesmas di Kota Makassar yang dipilih sebagai tempat penelitian yang dapat menggambarkan pelaksanaan PIO dikarenakan telah memiliki Apoteker aktif dan representatif dalam pelaksanaan PIO. Kegiatan pengumpulan data dilakukan selama dua bulan, sejak bulan Agustus hingga Oktober 2022 dengan total pasien sebagai subjek penelitian sebanyak 277 orang, yang diambil berdasarkan kriteria yaitu pasien rutin berobat dengan penyakit kronis pada periode pengambilan data tersebut agar dapat dievaluasi dan dikonfirmasi terkait dengan pelaksanaan PIO di Puskesmas. Kuesioner survei tertutup dan terstruktur digunakan dalam penelitian ini untuk menilai parameter layanan PIO, kuesioner ini diadaptasi berdasarkan literatur berupa regulasi pada petunjuk teknis pelayanan kefarmasian di Puskesmas yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2019 sebagai penjelasan lebih lanjut dan melengkapi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas dalam Permenkes Nomor 74 Tahun 2016. Kuesioner survei berisi total 7 pertanyaan terkait pemberian PIO pada pasien dan kuesioner pengumpulan data untuk mengetahui proses pemberian PIO berupa dokumentasi, sumber informasi, kualifikasi pemberi PIO, serta hal lainnya yang terkait dengan kebijakan pelaksanaan PIO di Puskesmas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PIO yang diberikan kepada pasien di Puskesmas, pada tiga aspek informasi yaitu terkait waktu, lama atau durasi, dan cara penggunaan obat telah (100%) disampaikan, namun empat dari tujuh aspek masih belum optimal meliputi efek samping obat dan cara penyimpanan obat, bahkan untuk informasi interaksi obat dan cara pembuangan obat masih belum diberikan. Hal ini perlu menjadi perhatian oleh Apoteker dan staf farmasi yang ada di Puskesmas untuk mendukung keamanan penggunaan obat dan keberhasilan pengobatan.
EXTENDED SPECTRUM BETA LACTAMASE (ESBL); INDIKATOR RESISTENSI ANTIBIOTIKA GOLONGAN SEFALOSPORIN UNTUK PASIEN TERINFEKSI BAKTERI Pseudomonas aeruginosa di RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Muhammad Subhan A. Sibadu; M. Natsir Djide; Muh. Nasrum Massi; Nurul Muhlisa Mus
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 1 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i01.13574

Abstract

β-laktamase spektrum luas (ESBL) merupakan suatu kelompok enzim laktamase yang bertanggungjawab terhadap sebagian besar kasus resisten bakteri yang sebagian besar merupakan bakteri gram negatif, terhadap antibiotika β-laktam generasi baru yang kini telah teridentifikasi dalam jumlah besar di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh data prevalensi dari resistensi antibiotika golongan sefalosporin pada bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Mengetahui frekuensi kejadian Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) pada 25 spesimen klinis di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar selama periode April – Juli 2017. Pengujian yang dilakukan meliputi uji sensitivitas antimikroba yang dilakukan dengan mengguakan metode difusi agar Kirby-Bauer dan uji produksi ESBL dengan menggunakan metode double disc synergy test (DDST) dan phenotypic confirmatory test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas aeruginosa berhasil diisolasi dari semua sampel dengan tingkat keakuratan sebesar (90% - 99%). Pada uji sensitivitas antimikroba ditemukan bahwa dari 25 sampel klinik yang diuji terhadap antibiotika sefalosporin, yang telah mengalami resistensi secara berurutan dari yang terbesar adalah cefotaxime 19 sampel (76%), ceftriaxone 16 sampel (64%), dan ceftazidime 7 sampel (28%). Pada uji produksi ESBL ditemukan 21 sampel (84%) positif ESBL pada antibiotika cefotaxime+as. klavulanat, 21 sampel (84%) positif ESBL pada antibiotika ceftriaxone+as.klavunalat, dan 16 sampel (64%) positif ESBL pada antibiotika ceftriaxone.
FORMULASI TABLET KUNYAH ANTIKARIES GIGI EKSTRAK TEH HIJAU (Camellia sinensis) DAN UJI KARAKTERISTIK FISIKNYA KIKI SRI RIZQI MUTHMAINNAH A.R; SARTINI; ALIYAH
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 1 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i01.22065

Abstract

Ekstrak teh hijau diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini untuk memformulasi tablet kunyah antikaries gigi dan menguji karakteristik fisiknya. Serbuk teh hijau diekstraksi secara maserasi dengan pelarut n-heksan 1:10 untuk menghilangkan senyawa non polarnya, kemudian bagian yang tidak larut n-heksan diremaserasi menggunakan pelarut etanol 50% dengan perbandingan 1:10. Tiap tablet kunyah dirancang menggunakan ekstrak teh hijau 100 mg dengan variasi bahan pengisi yaitu manitol, sorbitol dan xilitol. Tablet yang diperoleh diuji kestabilan fisiknya meliputi uji keseragaman bobot, uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan, uji cemaran mikroba dan uji hedonik. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh ekstrak dengan rendamen 20,74 % dengan kadar polifenol total sebesar 74,7 ± 1,66 % b/b dihitung ekivalen dengan asam galat. Berdasarkan analisis statistika Analysis of Variance (ANOVA), ketiga formula memiliki perbedaan yang signifikan (p-value <0,0001) pada uji keseragaman bobot, namun pada uji keseragaman ukuran (tebal) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar formula. Pada uji kekerasan (p-value <0,0001) terdapat perbedaan yang signifikan antara formula F2 terhadap F1 dan F3, serta perbedaan yang tidak signifikan antara formula F1 dan F3. Kerapuhan yang terendah dimiliki oleh F3, sedangkan kerapuhan tertinggi dimiliki oleh F2. Dari segi kualitas mikroorganisme, semua formula memenuhi syarat nilai ALT (Angka Lempeng Total) ≤104 koloni/ml, dan hanya formula F3 yang memiliki nilai ALT terendah yaitu 5,4 x 102 koloni/ml. Formula F3 merupakan tablet kunyah yang paling disukai oleh responden pada uji hedonik. Berdasarkan hasil evaluasi fisik, uji cemaran mikroba dan tanggapan rasa, diperoleh hasil tablet kunyah yang memiliki karakteristik fisik yang terbaik adalah formula 3 yang menggunakan bahan pengisi xilitol.
PENGARUH BAHAN PENINGKAT PENETRASI KOMBINASI PROPILENGLIKOL DAN GLISERIN TERHADAP KESTABILAN FISIK DARI GEL ANTIBAKTERI EKSTRAK TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Nur Faizah -; SARTINI; ALIYAH; Subehan; Latifah; Risfah
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 1 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh hijau (Camellia sinensis L.) diketahui terbukti memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Optimalisasi aktivitas antibakteri dilakukan dengan pengembangan teknologi farmasi berbasis karbopol pada sediaan gel. Teknologi gel dapat digunakan sebagai sistem pengiriman obat yang dapat meningkatkan efektivitas obat, sehingga dosis obat dapat dikurangi dan tidak menimbulkan efek samping. Namun, gel yang sifatnya hidrofilik yang sulit menembus pada kulit sehingga efek teraupetik yang kurang. Sehingga dilakukan penambahan enhancer, seperti propilenglikol dan gliserin. Selain dipengaruhi oleh bentuk sediaan, teh hijau memiliki komponen utama yaitu katekin yang bersifat hidrofilik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh bahan peningkat penetrasi kombinasi propilenglikol dan gliserin terhadap kestabilan fisik, laju penetrasi dari gel ekstrak teh hijau. Serbuk teh hijau  diekstraksi secara maserasi dengan n-heksan (1:10), bagian tidak larut heksan diekstraksi kembali secara maserasi dengan pelarut etanol 50 % (1:10), selanjutnya  ekstrak etanol cair dikeringkan menggunakan rotary evaporator, dan dilanjutkan pengeringannya  menggunakan freeze drier. Ekstrak etanol ditentukan kadar total polifenolnya  dengan metode spektrofotometri menggunakan reagen Follin-ciaucalteu. Ekstrak teh hijau 3% diformulasi dalam sediaan gel berbasis Carbopol dengan variasi bahan peningkat penetrasi, yaitu: F1 (Propilen glikol 2,5% dan Gliserin 5%), F2 (Propilen glikol 5% dan Gliserin 2,5 %), F3  (Propilen glikol 7,5 %),  dan F4 (Gliserin 7,5 %). Hasil yang diperoleh berdasarkan analisis statistika ANOVA, perbandingan konsentrasi propilenglikol dan gliserin menunjukkan bahwa pada ke-empat formula memiliki perbedaan yang signifikan (P-value<0,05) yang meliputi, pH (setelah penyimpanan 3 minggu terjadi penurunan perbedaan yang signifikan), viskositas (bahwa setelah penyimpanan 3 minggu, F2 mengalami penurunan viskositas yang signifikan dan memiliki nilai yang paling rendah dibandingkan formula F3 dan F4 yang tidak dikombinasikan), daya sebar (ke empat formula cenderung mengalami peningkatan setelah penyimpanan 3 minggu), daya lekat (menunjukkan terdapat tidak signifikan p– value >0,05 dari awal terbentuk hingga penyimpanan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi kestabilan fisik semua formula memenuhi syarat.