cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
Kesenian Bantengan Malang: Memahami Makna Simbolis sebagai Kajian Budaya Lokal Wahyuningtyas, Dinda Nastiti
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.14249

Abstract

Kota Malang merupakan kota yang terkenal dengan kota pendidikan, pariwisata, maupun kebudayaan yang beragam. Salah satu kebudayaan yang saat ini berkembang di kota Malang adalah kesenian pertunjukan Bantengan. Seni pertunjukan ini pada umumnya menggabungkan seni musik gamelan dan tarian silat yang memiliki makna simbolik dan biasanya diakhiri dengan kesurupan (trance). Saat ini, masyarakat di daerah Kidal Tumpang Kabupaten Malang dihebohkan dengan adanya eksistensi Kesenian Bantengan di mana banyak sanggar yang mempertontonkan pertunjukan ini sehingga banyak pertunjukan yang berkreasi dan meninggalkan aturan yang ada. Berdasarkan persoalan tersebut penulis memiliki tujuan untuk melestarikan budaya lokal dengan mengkaji makna simbolik yang ada dalam kesenian ini dengan upaya mempertahankan aturan yang ada sehingga kesenian ini tetap sakral dan terjaga. Untuk terwujudnya tujuan tersebut maka penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui sumber primer observasi wawancara dan sekunder melalui media cetak maupun online. Penulis juga menggunakan metode pendekatan semiotika oleh C.S Pierce. Makna simbolik yang ada meliputi simbol-simbol dari atribut utama yakni topeng kepala banteng sampai prosesi puncaknya yakni kesurupan (keranjingan). Simbol tersebut memiliki makna utama yakni sebagai sarana pengajaran nilai moral dan spiritual bagi masyarakat yang perlu diketahui dan diteladani. The Bantengan Performance in Malang: Interpreting Symbolic Meanings in the Context of Local Cultural Studies ABSTRACTMalang is a city known for its diverse education, tourism and culture. One of the cultures that is currently developing in Malang is the Bantengan performance art. According to this performance art generally combines gamelan music and martial arts dances that have symbolic meanings and usually end with trance. Currently, the community in the Kidal Tumpang area of Malang Regency is excited by the existence of Bantengan art where there are so many studios that perform this performance that many performances are creative and leave the existing rules. Based on this problem, the author aims to preserve local culture by examining the symbolic meaning in this art with an effort to maintain existing rules so that this art remains sacred and maintained. To realize this goal, the author uses a descriptive skin approach method through primary sources of observation interviews and secondary through print and online media. The author also uses the semiotic approach method by C.S Pierce. The existing symbolic meaning includes symbols from the main attribute, namely the bull's head mask to the peak procession, namely trance (keranjingan). The simbol has the main meaning as a means of teaching moral and spiritual values for the community that need to be known and emulated.  
Kajian Estetika Thomas Aquinas pada Peranan Musik Gereja Terhadap Spiritual Formation Gen Z Sihaloho, Disraedon Bill Romero
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.11649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat melihat seberapa pentingnya musik gereja berperan dalam Spiritual Formation Gen Z jika dilihat dari sisi kajian estetika Thomas Aquinas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dari literatur yang berkaitan dengan disiplin ilmu estetika dan musik liturgi. Hasil analisis data kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan kesimpulan yang sesuai terkait kajian estetika Thomas Aquinas pada peranan musik gereja terhadap Spiritual Formation Gen Z. Dalam ibadah Kristen, musik merupakan suatu media yang digunakan oleh jemaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan menjadi media untuk menyampaikan rasa persekutuan. Musik gereja dan Generasi Z tidak dapat dipisahkan karena mereka merupakan salah satu masa depan musik gereja. Penulis melihat Gen Z mulai meninggalkan lagu-lagu himne dan musik gereja, lalu mulai membawa musik-musik sekuler ke dalam gereja atau bahkan lebih ekstrim lagi akhirnya memilih untuk beribadah ke tempat ibadah yang mempunyai fasilitas musik layaknya sebuah konser. Musik gereja hingga saat ini masih berada pada porosnya, tergantung pada denominasi dan dogma masing-masing gereja. Pada hakikatnya, pemikiran Thomas Aquinas mengenai tiga kualitas keindahan (integritas, consonantia, dan claritas) dapat membantu dalam mengevaluasi musik gereja pada saat ini.  An Aesthetic Studies of Thomas Aquinas on the Impacts of Church Music for the Spiritual Formation of Gen Z ABSTRACTThis research aims to examine the role of church music in the Spiritual Formation Gen Z through the perspective of Thomas Aquinas’s aesthetic studies. The research method used is qualitative with data collection techniques through literature review from relevant literature in the disciplines of aesthetics and liturgical music. The data analysis results are then interpreted to derive appropriate conclusions regarding Thomas Aquinas’s aesthetic study on the role of church music in the Spiritual Formation of Gen Z. In Christian worship, music serves as a media through which congregants to communicate with God and is a media to convey a sense of fellowship. Church music and Generation Z are inseparable because both are the future of church music. The author observes Gen Z is starting to abandon from hymns and church music, opting instead to introduce secular music into churches or, in more extreme cases, choosing for places of worship equipped with music facilities resembling to concert music. The church music up to this day still revolves around its axis, contingent upon the denomination and dogma of each church. Essentially, Thomas Aquinas’ thoughts on the three qualities of beauty (integrity, consonantia, and claritas) can assist in the evaluation of church music today.  
Analisis Visual dalam Film “Sang Prawira”: Estetika Visual Hartono, Dwi Edi; Adiprabowo, Vani Dias
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.11585

Abstract

Seni sinema merupakan medium yang mengintegrasikan gambar bergerak dan elemen audiovisual untuk menyampaikan pesan dan emosi melalui estetika visual. Film “Sang Prawira”, menawarkan peluang menarik untuk menganalisis elemen-elemen visualnya secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana elemen visual seperti komposisi gambar, penggunaan warna, pencahayaan, dan pengaturan set digunakan untuk memperkuat narasi serta menciptakan pengalaman visual yang emosional dan artistik. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan melakukan observasi mendalam terhadap adegan-adegan kunci untuk mengidentifikasi pola, simbolisme, dan interaksi antar elemen visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi gambar dalam film ini menonjolkan aspirasi besar dan konflik emosional tokoh utama, sementara palet warna dan pencahayaan memperkuat suasana emosional di setiap adegan. Desain set yang kaya dengan budaya Batak Toba memberikan konteks visual yang autentik, dengan simbolisme seperti Danau Toba dan ulos yang menambahkan dimensi budaya pada cerita. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa estetika visual bukan hanya elemen pendukung tetapi juga alat utama dalam menyampaikan pesan naratif yang kompleks. Visual Analysis in the Film Sang Prawira: Visual Aesthetics ABSTRACTThe art of cinema is a medium that integrates moving images and audiovisual elements to convey messages and emotions through visual aesthetics. The film Sang Prawira provides an intriguing opportunity to analyze its visual elements in depth. This study aims to explore how visual elements such as composition, color usage, lighting, and set design are employed to strengthen the narrative and create an emotionally and artistically engaging visual experience. A qualitative descriptive approach was adopted by conducting in-depth observations of key scenes to identify patterns, symbolism, and interactions between visual elements. The findings reveal that the film's composition highlights the protagonist's aspirations and emotional conflicts, while the color palette and lighting enhance the emotional tone of each scene. The set design, enriched with Batak Toba cultural elements, provides an authentic visual context, with symbolism such as Danau Toba and ulos adding cultural dimensions to the story. The study concludes that visual aesthetics are not merely supporting elements but primary tools for delivering complex narrative messages.  
Musik sebagai Doa: Eksplorasi Metafora pada Musik Taizé di Skolastikat SCJ Yogyakarta Vania, Sabina Stella; Maarif, Samsul; B. Koapaha, Royke
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.11972

Abstract

Tulisan ini mengkaji perwujudan relasi seni dan agama pada musik Taizé. Lebih khusus, membedah komposisi musik Taizé yang mempunyai peran penting dalam memberikan sensasi makna yang lebih dari sekadar melodi, dan memaparkan data terkait cara berdoa musisi yang menggunakan musik sebagai doa. Tulisan ini menggunakan data lapangan yang mencakup observasi partisipatif dan wawancara selama empat bulan pada tahun 2023 di Skolastikat SCJ Yogyakarta. Data dianalisis dengan pendekatan teologi dan musikologis. Hasilnya, musisi melibatkan aspek metaforis dalam memaknai musik sebagai doa. Melalui instrumen dan melodi yang dimainkan yang memiliki peluang dan pengaruh paling dekat untuk difungsikan sebagai doa bagi musisi. Hal tersebut didukung oleh penggunaan non-harmonic tone pada melodi memberikan kesan komposisi musik yang sangat sederhana, tenang dan damai mendengar setiap langkah melodi yang muncul sama seperti sedang berdoa. Selain melodi, ada tekstur musik heterofoni dilakukan dengan pengembangan nada pada teknik arpeggio yang disusun berdasarkan akor nada utama vokal, ada yang mengenai nada utama untuk beberapa birama, dan ada juga yang terdengar multilinier sehingga hal tersebut dapat membantu para musisi untuk berdoa melalui musik. Music as Prayer: Exploration of Music and Metaphor in Taizé Music at Skolastikat SCJ Yogyakarta ABSTRACTThis research examines the unnecessary relationship between art and religion in Taizé music. More specifically, it dissects the musical compositions of Taizé, which have an important role in providing a sensation of meaning that is more than just a melody, and presents data regarding the way musicians who use music as prayer pray. Research uses field data, which includes participant observation and interviews, for 4 months in 2023 at the Skolastikat SCJ Yogyakarta, including data that were analyzed using theological and musicological approaches. As a result, musicians involve metaphorical aspects in interpreting music as prayer. Through the instruments and melodies played have the closest opportunity and influence to function as prayer for musicians. This is supported by using non-harmonic tones in the melody, giving the impression of a straightforward musical composition, calm and peaceful. Hearing every step of the melody that appears is the same as praying. Apart from melodies, there are heterophonic musical textures carried out by developing notes using the arpeggio technique, which are arranged based on chords of the main vocal notes. Some are about the main notes for several bars, and there are also those that sound multinier so that this can help musicians to pray through music. 
Persepsi dan Keterlibatan Masyarakat dalam Pengolahan Sampah untuk Desain Alat Estetis Vidyaprabha, Khansa; Priyanto, Octavianus Cahyono
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.14434

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan dan memahami persepsi masyarakat terhadap pengolahan sampah plastik secara mandiri dan hambatan-hambatan yang dihadapinya, sebagai dasar bagi desainer dalam merancang alat daur ulang yang mudah digunakan dan menarik secara visual. Menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini mengintegrasikan teknik kualitatif dan kuantitatif untuk mengeksplorasi pandangan masyarakat mengenai praktik daur ulang plastik mandiri. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi literatur, dan survei kuesioner. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode oleh Miles & Huberman untuk mengidentifikasi pola persepsi dan tantangan yang dialami. Temuan menunjukkan bahwa meskipun masyarakat memiliki sikap positif terhadap daur ulang plastik, partisipasi aktif masih terhambat oleh keterbatasan akses terhadap alat yang mudah digunakan dan kurangnya pemahaman mengenai metode daur ulang yang efektif. Responden juga menekankan bahwa alat daur ulang yang intuitif dan estetis memiliki potensi besar untuk memfasilitasi serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik secara mandiri. Community Insights and Involvement in Waste Handling For Designing Aesthetic Devices ABSTRACTThe aim of this study is to explore and understand public perceptions regarding home plastic recycling and the challenges associated with it, providing a foundation for designers in creating recycling tools that are user-friendly and visually engaging. Employing a mixed-methods approach, the research combines qualitative and quantitative techniques to examine community views on self-managed plastic recycling practices. Data was collected through observation, interviews, literature review, and a survey questionnaire. For data analysis, the Miles & Huberman interactive model was applied to identify patterns in perceptions and challenges encountered. Findings indicate that while the public holds a positive attitude toward plastic recycling, active participation remains hindered by limited access to user-friendly tools and a lack of understanding of effective recycling methods. Respondents also noted that intuitive and visually appealing recycling tools have significant potential to facilitate and encourage community involvement in managing plastic waste independently. 
Perancangan Motion Graphic sebagai Media Kampanye Tentang Bahaya Sampah Plastik Mustika, Candra Krida
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.14801

Abstract

Sampah plastik menjadi ancaman serius bagi bumi di masa mendatang. Di sisi lain, penggunaan plastik sebagai bahan material produk ataupun kemasan tetap dibutuhkan masyarakat karena berbagai fleksibilitas dan efisiensi yang ditawarkan. Sampah plastik terbukti menjadi bahan yang mencemari lingkungan. Hal ini disebabkan karena plastik memiliki rantai karbon yang panjang, dan zat pada plastik tidak terurai dengan baik karena alam tidak menyediakan penguraian secara cepat. Plastik yang telah menjadi sampah membutuhkan 10-1.000 tahun lamanya untuk hancur dan terurai. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis menawarkan solusi dalam bentuk perancangan motion graphic berjudul “Planet Plastik” sebagai media komunikasi visual untuk mengkampanyekan tentang bahaya sampah plastik bagi kelangsungan hidup di masyarakat. Target audiens dari kampanye ini berusia sekitar 18–24 dan 25–34 tahun yang merupakan generasi Y dan Z. Proses perancangan motion graphic menggunakan metode double diamond. Perancangan motion graphic ini diawali dengan mengumpulkan data-data melalui teknik wawancara dengan pendiri Ecohalal, observasi langsung di Pasar Taman Griya, dan studi pustaka yang relevan. Karya berdurasi 120 detik ini mengangkat konsep “Dangerous & Hopeful” yang divisualisasikan menggunakan penggabungan gaya visual  flat design  dan impresionisme, sedangkan tipografinya menggunakan gaya huruf script cursive. Keunikan motion graphic ini adalah berupaya untuk mengkampanyekan sebuah pesan visual yang sarkastik dengan meniru bentuk visual dari sampah dengan produk-produk yang banyak menyumbangkan sampah plastik. Pesan visual sarkastik ini difungsikan sebagai kritik secara implisit kepada audiens dan juga produk-produk industri yang banyak menyumbang sampah plastik. Selain itu, perancangan ini juga berupaya mengomunikasikan pesan yang persuasif dengan mengajak audiens untuk berkontribusi mengurangi penggunaan sampah plastik.  Designing Motion Graphics as a Campaign Medium on the Dangers of Plastic WasteABSTRACTPlastic waste poses a serious threat to the Earth in the future. On the other hand, plastic remains an essential material for products and packaging due to its flexibility and efficiency. However, plastic waste has been proven to be a major pollutant, as plastics contain long carbon chains and their components do not decompose easily because nature does not provide a rapid breakdown process. Plastic waste takes approximately 10 to 1,000 years to degrade and decompose. Based on this issue, the author proposes a solution in the form of a motion graphic design titled "Planet Plastic" as a visual communication medium to campaign about the dangers of plastic waste for the sustainability of life in society. The target audience for this campaign is individuals aged 18–24 and 25–34, representing Generation Y and Z. The motion graphic design process follows the Double Diamond method. The design process begins with data collection through interviews with the founder of Ecohalal, direct observations at Pasar Taman Griya, and relevant literature studies. The 120-second-long motion graphic adopts the concept of "Dangerous & Hopeful," which is visualized through a combination of flat design and impressionism, while the typography uses a script cursive style.The uniqueness of this motion graphic lies in its approach to delivering a satirical visual message by mimicking the appearance of waste with products that significantly contribute to plastic waste. This satirical visual message serves as an implicit critique directed at the audience and industrial products that generate large amounts of plastic waste. Additionally, this design aims to communicate a persuasive message, encouraging the audience to take part in reducing plastic waste. 
Memahami Pengguna sebagai Tahap Awal Perancangan Interior Bus Double Decker Jarak Jauh Kamadani, Atina Rohmah; Priyanto, Octavianus Cahyono
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.14456

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan metode Design Thinking dan prinsip Human-Centered Design (HCD) dalam perancangan interior bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) jenis double decker, dengan fokus utama pada tiga tahapan kunci, yaitu Empathize, Define, dan Ideate. Pendekatan ini dipilih karena HCD menekankan pentingnya berpusat pada kebutuhan dan pengalaman pengguna, yang memungkinkan desainer untuk menghasilkan solusi desain yang lebih relevan dan efektif. Pada tahap awal, yaitu Empathize, dilakukan observasi serta wawancara mendalam dengan para pengguna bus AKAP untuk menggali informasi terkait kebutuhan, preferensi, serta masalah-masalah yang sering mereka hadapi selama perjalanan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dan diintegrasikan pada tahap define, di mana masalah-masalah utama yang perlu dipecahkan dalam desain interior bus diidentifikasi secara jelas. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa desain yang dikembangkan dapat memberikan solusi yang tepat sasaran dan berkelanjutan bagi pengalaman pengguna. Pada tahap Ideate, dilakukan sesi brainstorming untuk menghasilkan ide-ide kreatif yang mempertimbangkan berbagai aspek penting seperti kenyamanan, keamanan, dan estetika interior bus, sambil tetap berfokus pada bagaimana meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Hasil dari tahap Empathize dan Define menunjukkan bahwa pengguna bus AKAP membutuhkan kenyamanan, privasi, serta fleksibilitas selama perjalanan panjang. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini kemudian mengembangkan solusi desain inovatif yang mencakup pengaturan tempat duduk, pemilihan material, pencahayaan yang optimal, serta sistem sirkulasi udara yang efisien. Semua solusi ini difokuskan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung kualitas interaksi antar penumpang serta kenyamanan perjalanan, sejalan dengan prinsip HCD yang mengutamakan kepuasan dan kesejahteraan pengguna sebagai prioritas utama.  User-Centered Insight for Designing Long-Distance Bus InteriorABSTRACTThis research aims to explore the application of the Design Thinking method and the principles of Human-Centered Design (HCD) in the interior design of AKAP (Intercity-Interprovincial) Double Decker buses, with a primary focus on three key stages: Empathize, Define, and Ideate. This approach was chosen because HCD emphasizes the importance of focusing on the needs and experiences of users, allowing designers to create more relevant and effective design solutions. In the initial stage, Empathize, observations, and in-depth interviews were conducted with AKAP bus passengers to gather information regarding their needs, preferences, and the problems they frequently encounter during their journeys. The data collected was then analyzed and integrated into the Define stage, where the key problems that need to be addressed in the bus interior design were clearly identified. This process aims to ensure that the developed design can provide targeted and sustainable solutions for the user experience. In the Ideate stage, brainstorming sessions were held to generate creative ideas considering important aspects such as comfort, safety, and the bus interior’s aesthetics, while maintaining a focus on how to improve the overall user experience. The findings from the Empathize and Define stages show that AKAP bus passengers require comfort, privacy, and flexibility during long journeys. Based on these findings, this research developed innovative design solutions, including seating arrangements, material selection, optimal lighting, and an efficient air circulation system. All these solutions are focused on creating a comfortable environment that enhances the quality of interaction among passengers and the overall comfort of the journey, in line with the HCD principles that prioritize user satisfaction and well-being. 
Penerapan Metode Motor-Kinestetik untuk Mengatasi Gangguan Bicara Fungsional Penyanyi Seriosa Sekar Murdani, Christiana Krisvi
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.9613

Abstract

Functional Speech Disorder (FSD) yang dialami penulis menjadi sebuah hambatan pada saat bernyanyi. FSD yang dialami penulis disebabkan karena tongue tie, di mana frenulum terletak tidak pada tempatnya sehingga penulis terhambat dalam pelafalan konsonan /R/ dan menyebabkan penyampaian pesan dari repertoar tersebut tidak dapat tersampaikan dengan baik. FSD juga memengaruhi teknik vokal dikarenakan penulis mencoba memperjelas pelafalan kata yang lainnya. Oleh karena itu pemilihan repertoar dalam bahasa Prancis yang dibantu dengan penerapan metode motor-kinestetik dapat menjadi sebuah solusi untuk mengatasi FSD pada penulis. Konsep Practice as Research dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus dalam penelitian menggunakan Aria “Bell Song” dari opera Lakmè karya Leo Delibes yang dibagi menjadi tiga langkah kerja yaitu wawancara, studi dokumentasi, dan observasi melalui pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa repertoar dalam bahasa Prancis dapat menjadi sebuah solusi untuk seorang penyanyi yang mengalami FSD. Applying the Motor-Kinesthetic Approach to Manage Functional Speech Disorders in Classical Vocalists ABSTRACTFunctional Speech Disorder (FSD) experienced by the author poses an obstacle while singing. The author’s FSD is caused by tongue-tie, where the frenulum is not positioned correctly, making it difficult for the author to articulate the consonant /R/, thereby hindering the effective delivery of messages in the repertoire. FSD also affects vocal technique as the author attempts to clarify the pronunciation of other words. Therefore, selecting a French repertoire combined with applying the moto-kinesthetic method can be a solution to overcome the author’s FSD. The concept of Practice as Research, using a qualitative method with a case study approach, is applied in this study through the aria “Bell Song” from the opera Lakmé by Léo Delibes. The research is divided into three steps: interviews, documentation studies, and observations using a case study approach. Based on the research findings, it is concluded that repertoire in French can be a viable solution for singers experiencing FSD. 
Badak Jawa sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Dekoratif dengan Teknik Digital Pramana Putra, Bryan; Gde Rai Arimbawa, Anak Agung; Rahman Prasetyo, Abdul
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.14183

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat beragam, terutama pada hewan endemiknya. Badak Jawa merupakan salah satu hewan endemik Indonesia yang terancam punah. Badak Jawa hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa tepatnya pada Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Terancam punahnya badak Jawa membuat pencipta prihatin dan terdorong untuk menjadikannya sumber inspirasi dalam memvisualisasikan objek badak Jawa ke dalam karya seni lukis digital bergaya dekoratif. Tujuan penciptaan karya ini adalah untuk mendeskripsikan konsep penciptaan karya seni lukis gaya dekoratif dengan teknik digital dari inspirasi badak Jawa sebagai ide kreasi seni, mendeskripsikan proses penciptaan karya seni lukis gaya dekoratif dengan teknik digital dari inspirasi badak Jawa sebagai ide kreasi seni, dan mendeskripsikan visualisasi hasil karya seni lukis gaya dekoratif dengan teknik digital dari inspirasi badak Jawa sebagai ide kreasi seni. Dalam menciptakan karya seni ini menggunakan metode penciptaan L. H. Chapman yang terdiri dari tiga tahapan, di antaranya adalah tahap permulaan, tahap penyempurnaan, dan tahap visualisasi. Karya yang dihasilkan yaitu karya seni lukis gaya dekoratif bertema badak Jawa sebanyak enam karya dengan judul sebagai berikut: 1. “Barang yang Berharga”, 2. “Diburu”, 3. “Menunggu”, 4. “Tersembunyi”, 5. “Ku Ingin Bebas”, dan 6. “Lestarikan”. Keenam karya dijadikan pencipta sebagai pembelajaran kepada masyarakat untuk lebih menjaga tempat konservasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.  Javan Rhino as a Source of Inspiration for Decorative Painting with Digital TechniqueABSTRACTIndonesia has a very diverse biodiversity, especially in its endemic animals. The Javan rhino is one of Indonesia's endemic animals that is threatened with extinction. Javanese rhinos can only be found on the island of Java, precisely in Ujung Kulon National Park, Banten. The endangerment of the Javan rhino made the creator concerned and encouraged to be a source of inspiration in visualizing the Javan rhino object into a decorative digital painting. The purpose of the creation of this work is to describe the concept of creating decorative style paintings with digital techniques from the inspiration of Javan rhino as an idea of art creation, describe the process of creating decorative style paintings with digital techniques from the inspiration of Javan rhino as an idea of art creation, and describe the visualization of the results of decorative style paintings with digital techniques from the inspiration of Javan rhino as an idea of art creation. In creating this artwork, I used L. H. Chapman's creation method, which consists of three stages, including the initiation stage, the refinement stage, and the visualization stage.  The resulting artworks are six decorative style paintings with the theme of Javan rhino,s with the following titles: 1. “Precious Goods”, 2. “Hunted”, 3. “Waiting”, 4. “Hidden”, 5. “I Want to Be Free”, and 6) “Preserve”. The six works are used by the creator as a lesson to the public to better protect the Javan rhino conservation area in Ujung Kulon National Park.  
Burung Enggang Gading sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis Yulanda, Yerie
INVENSI Vol 10, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i1.11146

Abstract

Penciptaan karya seni lukis dengan judul “Burung Enggang Gading Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis” ini merupakan media untuk menyampaikan keresahan dari penulis terhadap fauna yang ada di Indonesia yang dikategorikan hewan yang terancam punah. Terancamnya tingkat populasi dan kelangkaan hewan pada kemajuan masa kini yang begitu pesat. Pulau Kalimantan memiliki banyak spesies burung, bahkan ada salah satu jenis spesies burung endemik yang dijadikan simbol akan maskot Provinsi Kalimantan Barat yaitu burung Enggang Gading, memiliki ciri khas pada paruh yang menyerupai tanduk dan tubuh yang besar serta merupakan salah satu fauna yang ada di Indonesia yang dikategorikan hewan yang terancam punah. Semakin terancamnya tingkat populasi dan kelangkaan hewan tersebut disebabkan hilangnya tempat tinggal dan pemburuan liar seperti diberitakan melalui media massa dan media sosial. Banyak hal menarik dan keindahan burung Enggang Gading yang membuat penulis takjub serta kekhawatiran penulis yang tidak menginginkan burung Enggang Gading hanya menjadi hewan mitos di masa mendatang. Penulis tidak hanya melihat burung Enggang Gading sebagai burung khas Kalimantan saja, namun mencoba membawa nilai estetika melalui eksplorasi keindahan visual, nilai filosofi, dan fenomena alam serta budaya saat ini. Nilai keindahan burung Enggang Gading mengandung makna yang dalam, kemudian divisualisasikan dengan penyimbolan makna untuk memperkuat dan memperindah visual yang nantinya akan diterapkan dalam karya seni lukis. The Hornbill as an Inspiration for Creating Painting ArtworksABSTRACTThe creation of works of painting with the title The Ivory Hornbill Birds as the Idea of the Creation of Artworks is as a medium to convey the unrest of the writer to the fauna in Indonesia which are categorized as endangered animals. Threatened population levels and animal scarcity in today's rapid progress. Kalimantan Island has many bird species, there is even one species of endemic bird species which is used as a symbol of the mascot of West Kalimantan Province, ivory hornbill, has a characteristic beak that resembles a horn and a large body which is one of the faunas in Indonesia which is categorized as an endangered animal. Increasingly threatened population levels and animal scarcity due to loss of shelter and poaching as reported by the mass media and social media. Many interesting things and the beauty of ivory hornbills that make the writer amazed and worries of writers who do not want ivory hornbills only to become mythical animals in the future. The author does not only see ivory hornbills as typical birds of Borneo but tries to bring aesthetic value through exploration of visual beauty, philosophical values, and natural and cultural phenomena today. The beauty value of ivory hornbills contains deep meaning, then visualized by symbolizing meaning to strengthen and beautify the visual that will later be applied in painting.