cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Perancangan Komunikasi Visual Daur Ulang Sampah Plastik Menggunakan Teknik Molding dari Aktivitas Pendakian Gunung Afifudin Afifudin
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.5340

Abstract

Gunung menjadi salah satu tempat yang kini dekat dengan permasalahan sampah. Penyebab permasalahan sampah yang muncul di gunung merupakan dampak dari meningkatnya aktivitas pendakian. Hal tersebut tentunya mengakibatkan peningkatan barang konsumsi yang dibawa saat mendaki dan kemudian menghasilkan sampah yang luar biasa banyak di lingkungan gunung. Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemui di gunung. Hal tersebut tentunya akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan seperti, tercemarnya air bersih, rusaknya struktur tanah, mengganggu pertumbuhan tanaman, mengubah perilaku hewan, hingga yang paling berbahaya adalah kebakaran hutan. Dari permasalahan tersebut dibutuhkan sebuah solusi yang diharapkan dapat mengurangi permasalahan sampah plastik dari hasil aktivitas pendakian gunung. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah perancangan komunikasi visual tentang daur ulang sampah plastik menggunakan teknik molding. Metode yang digunakan yaitu design thinking oleh Tim Brown, yang meliputi beberapa tahapan di antaranya empathy, define, ideate, prototype, dan test. Perancangan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap permasalahan sampah plastik dari aktivitas pendakian gunung supaya menjadi produk baru yang fungsional. Designing Visual Communication of Plastic Waste Recycle Using Molding Techniques from Mountain Climbing Activities ABSTRACT Mountain is one of the locations that is closely related to waste problems. The cause of the increase of waste problems in the mountain is the impact of the rising number of mountain climbing activities. It indeed leads to the rise of consumer goods brought on mountain climbing and produces a tremendous amount of waste in the mountain areas. Plastic waste is one of the most common wastes found in the mountain. It can affect the destruction of the environment, for example, water pollution, the harmful of soil structure, interfere plant growth, change animal behavior, and the most dangerous is forest fires. It needs a solution to the problems that is expected to reduce the plastic waste problem from mountain climbing activities. One of the solutions offered in designing visual communication of plastic waste recycles using molding techniques. Methods that are used are design thinking by Tim Brown, which consists of some stages which are empathy, define, ideate, prototype, and test. This design is expected to contribute towards plastic waste problems from mountain climbing activities to become a functional new product.
The One Smart Piano Classroom: Integrasi Teknologi dalam Sekuen Belajar Piano Zelika Alin Kuncoro
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3944

Abstract

Sebagai salah satu cara alternatif yang berperan membentuk keterampilan bermain piano, konsep kelas pintar The One Smart Piano Classroom dinilai mempunyai keuntungan kompetitif yang mempunyai fungsi triggering, accelerating, dan sharpening. Triggering karena penggunaan teknologi membuat lompatan masuk ke dunia musik dari titik manapun seseorang belajar. Accelerating mempercepat pengembangan musikalitas murid, dan sharpening karena mampu mempertajam pedagogi musik konvensional sehingga lebih berorientasi dengan dunia nyata. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi integrasi The One dalam sekuen belajar piano dan kemudian berimplikasi pada skill pianistik yang terbentuk. Ditandai dengan adanya substitusi skor piano cetak dengan skor piano digital, teknologi diintegrasikan dalam setiap tahap dalam sekuen. Dengan kata lain, seluruh sekuen tidak lepas dari keberadaan jaringan berkabel dan nirkabel dalam teknologi The One. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, analisis dilakukan dengan mengoperasionalkan kerangka pemikiran Ruben Puentedura tentang teori integrasi teknologi pendidikan SAMR. Hasil menunjukkan adanya integrasi The One berimplikasi pada beberapa hal di antaranya peralatan, perlengkapan, infrastruktur, hingga skill pianistik meliputi pemahaman dan pengaplikasian konten tonal, konten ritme, aural, asosiasi verbal. Diketahui pula jika ditinjau dari prosesnya menuju target hasil belajar, integrasi dalam The One Smart Piano Classroom berlangsung hingga tahap redefinisi dengan beberapa catatan pergeseran makna. The One Smart Piano Classroom: Integration of Technology in Piano Learning ABSTRACT As an alternative way that plays a role in shaping pianistic skills, the concept of The One Smart Piano Classroom is considered to have a competitive advantage that has the functions of triggering, accelerating, and sharpening. Triggering because of the use of technology makes the leap into the world of music from any point someone learns. Accelerating, accelerating the development of student musicality, and sharpening because it is able to sharpen conventional music pedagogy so that it is more oriented to the real world. This paper aims to evaluate The One's integration in piano learning sequences and then have implications for the formed pianistic skills. Characterized by the substitution of printed piano scores with digital piano scores, technology is integrated at each stage in the sequence. In other words, the whole sequence is inseparable from the existence of wired and wireless networks in The One technology. Using a case study approach, the analysis was carried out by operationalizing Ruben Puentedura's framework of the theory of integration of SAMR education technology. The results show the integration of The One has implications for several things including equipment, equipment, infrastructure, to pianistic skills including understanding and applying tonal content, rhythmic content, aural, verbal associations. It is also known that when viewed from the process towards the target of learning outcomes, integration in The One Smart Piano Classroom goes to the redefinition stage with some notes of shifting meaning.
Respons Pengendara Terhadap Kehadiran Kelompok Pengamen Musik Angklung Lampu APILL (Studi Kasus: Pengendara di Lampu APILL Brigjend Katamso Yogyakarta) Mentari Cklaudita Walalayo
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.4468

Abstract

Respons merupakan salah satu aspek pendukung terbangunnya interaksi sosial. Dalam konteks pertunjukan musik, respons penonton atau pendengar sangat memengaruhi keaktifan interaksi sosial yang dibangun. Dalam konteks aktivitas pengamen musik angklung lampu APILL, kehadiran pengendara yang terjebak macet dapat disebut sebagai penonton meskipun motivasi kehadirannya tidaklah untuk menyaksikan penampilan kelompok pengamen tersebut. Hal ini berdampak pada interaksi yang dibangun antara pendengar dan kelompok pengamen yang terlihat pasif. Oleh sebab itu, penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi pola respons yang dibangun penonton serta hal-hal yang mendasari atau mendukung pola respons tersebut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif. Berdasarkan proses penelitian yang telah ditempuh, penulis mendapati bahwa pola respons yang dibangun oleh pengendara adalah pola respons dalam ruang pribadi dan ruang bersama, dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal yang mendasarinya adalah berbagai media yang pengendara miliki untuk membangun batas privasi maupun kebersamaan dengan kelompok pengamen. Pada dasarnya, semua ini berlangsung atas kendali dari para pengendara. Road Users Responses to the Appearance of the Traffic Light's Angklung Performers (case study: Brigjen Katamso Traffic Light) ABSTRACT The response is one of the supporting aspects of social interaction. In musical performances, the audience or listener's response greatly affects the active social interactions that are built. In the context of the traffic light angklung musicians' activity, the presence of a road users who is stuck in traffic can be called an audience even though the motivation for his presence is not to witness the performance of the musician group. This has an impact on the interactions that are built between listeners and groups of buskers who look passive. Therefore, the research aims to identify the audience's response patterns and the things that underlie or support these response patterns. The research was conducted using qualitative methods and descriptive analysis. Based on the research that has been taken, the authors found that the pattern of response was built by road users is the pattern of response in a private room and shared room, in the short term and long term. The basis for this is the various media that drivers have to build privacy boundaries and togetherness with groups of buskers. All of this takes place under the control of the road users.
Kerajinan Kayu Ornamen Cukli dengan Teknik Mozaik untuk Menambah Nilai Estetik Swastika Dhesti Anggriani; Lisa Sidyawati; Abdul Rahman Prasetyo
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.4441

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menambah nilai fungsi (multifungsi) pada produk kerajinan kayu dengan menambahkan ornamen kerang cukli. Produk kerajinan yang digunakan adalah nampan dan sendok-garpu dari material kayu. Ornamen ditambahkan pada permukaan kayu dengan mengaplikasikan material kerang cukli. Pemilihan produk nampan dan sendok-garpu kayu didasari dari melimpahnya material kayu di Indonesia dan produk kayu dinilai relatif mudah untuk dikombinasikan dengan material lain dengan menggunakan teknik mozaik. Metode yang digunakan adalah metode perancangan yang meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil yang diproleh adalah karya kerajinan kayu nampan dan sendok-garpu yang telah diberi ornamen dari kerang cukli. Hasil karya kerajinan memiliki banyak fungsi/multifungsi setelah diberi ornamen dari kerang cukli. Cukli Ornament Wood Craft with Mosaic Techniques to Add Value to the Function ABSTRACTThis article aims to add value to the function (multifunction) of wooden handicraft products by adding ornament from cukli shells material. Craft products used are wooden trays and cutlery. Ornaments are added to the surface of the wood by applying cukli shell material. The selection of wooden trays and cutlery is based on the abundance of wood materials in Indonesia and wood products are considered relatively easy to combine with other materials using mosaic techniques. The method used is the design method which includes the exploration, design, and embodiment stages. The results obtained are the work of woodcraft trays and cutlery that have been given ornaments from cukli shells material. The handicraft works have many functions (multifunction) after being given ornamentation from cukli shells material.
Perancangan Aplikasi Pariwisata Relawan Berdasarkan Pilar-Pilar Makna Hidup Dian Puspasari
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.4631

Abstract

Perkembangan tren pariwisata relawan bersama dengan motivasi perjalanan kaum muda saat ini mengindikasi adanya tuntutan baru dalam industri pariwisata. Keberadaan turis relawan kini menuntut cara baru dalam berkontribusi dengan kegiatan yang lebih beragam, durasi lebih pendek, dan konsep hemat anggaran sebagai upaya untuk meningkatkan mentalitas dan kapabilitas diri. Seiring dengan jumlah ketertarikan yang meningkat, kebutuhan akan informasi dan kemudahan dalam pengajuan kontribusi masih menjadi kendala bagi para peminat kegiatan. “Vacation” hadir sebagai solusi untuk menghubungkan turis, aktivitas relawan, dan mitra akomodasi potensial dalam satu platform aplikasi secara lebih praktis, bernilai, dan inovatif. Aplikasi ini didesain melalui empat tahapan perancangan hasil filtrasi metode desain milik Brown, Kumar, Garrett, dan Natoli meliputi tahapan menemukan, menentukan, mengembangkan, dan mengirim. Tiap tahapan memperoleh informasi yang didapat melalui pendekatan kuantitatif pada survei daring, dan kualitatif pada pengamatan etnografi, wawancara, literatur, dan diskusi kelompok. Dari tahapan ini, perancangan menghasilkan aplikasi pariwisata relawan “vacation” sebagai media penghubung yang menyediakan daftar kegiatan sukarelawan dengan lebih terkategori, pengajuan permintaan kontribusi yang lebih praktis, kesempatan mendapatkan akomodasi, dan penerimaan laporan kegiatan perjalanan berdasarkan prinsip empat pilar makna hidup untuk mendukung konsep hemat anggaran, peningkatan mentalitas, dan kapabilitas diri. Perancangan aplikasi telah melalui proses pengujian dan disimpulkan bahwa selain dapat memenuhi kebutuhan praktis pengguna, perancangan aplikasi vacation juga telah membuka ruang personal bagi para pengguna dalam proses pengembangan diri. Designing A Volunteer Tourism App Based On Pillars of Meaningful Life ABSTRACTThe consolidation of voluntary tourism trends along with the motivation of young people's travel now indicates new demands in the tourism industry. The existence of volunteer tourists is now demanding new ways to contribute, with more diverse activities, shorter duration, and the concept of the low budget as an effort to improve mentality and capability. With an increasing amount of interest, the need for information and ease in submitting contributions is still an obstacle for enthusiasts of activity. "Vacation" designed as a solution to connect tourists, volunteer activities, and potential accommodation partners in one single application in a more practical, valuable, and innovative way. The four stages of designing based on Brown, Kumar, Garrett, and Natoli's design method consisting of discovering, determining, developing, and delivering. Each stage obtains information through a quantitative approach to online surveys, and qualitatively on ethnographic observations, interviews, literature, and group discussions. Through this process, the design produced a volunteer tourism application called “vacation” as a liaison media that provides a more categorized list of volunteer activities, submits requests for more practical contributions, opportunities for accommodation, and receives reports on travel activities based on the four pillars of the meaningful life to support the low budget concept, increased mentality, and self capability. The design of the application has been tested and concluded that in addition to meet the user's practical needs, the design of the vacation application has also opened a personal space for the users in the process of self-development.
Analisis Parergon Penyintas Bencana Terhadap Visual Prangko Tsunami Aceh Tahun 2005 Fentisari Desti Sucipto; Rino Yuda
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.5066

Abstract

Prangko merupakan salah satu rujukan pembacaan visual sebagai bukti penanda zaman. Seri prangko bencana alam menandakan bahwa pada sekitar masa itu telah terjadi bencana alam di Indonesia. Salah satu seri prangko bencana alam yang dicetak pada tahun 2005 sebagai petanda bahwa akhir tahun 2004 telah terjadi bencana tsunami di Aceh, mempunyai visual yang berbeda dari semua seri prangko bencana alam sebelumnya yang pernah diterbitkan oleh PT Pos Indonesia. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan pembacaan makna pada hasil karya prangko melalui salah satu cabang analisis dekonstruksi yaitu parergon. Parergon yaitu sudut pandang berbeda dari sebuah sistem tanda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah non-participant observation pada foto dan video realitas kejadian tsunami, serta wawancara semi terstruktur kepada penyintas tsunami. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan teknik pengodean. Penelitian ini bertujuan untuk menambah referensi yang sangat kurang dalam topik dekonstruksi terutama parergon pada prangko serta desain komunikasi visual di Aceh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pemaknaan yang bervariasi dari berbagai penyintas, sehingga memperkaya ilmu interpretasi atas visual sebuah prangko.Analysis of Parergon of Disaster Survivors on 2005 Visual Aceh Tsunami Stamps ABSTRACT A stamp is a reference for visual reading as evidence to mark the times. Series of natural disaster stamps indicate that there was a natural disaster happening in Indonesia around that time. One of the stamp series issued in 2005, as a mark that there was a tsunami in Aceh by the end of 2004, has different visuals from series of natural disaster stamps previously issued by PT. POS Indonesia. Therefore, the researcher was interested in reading the meaning stamps through a deconstruction analysis branch, parergon. Parergon is a different viewpoint of a sign system. The research was conducted by qualitative design with Jacques Derrida's deconstruction theory. The data collection method used was the non-participant observation on pictures and videos of tsunami disaster reality and semi-structured interviews with tsunami survivors. Data were analyzed using descriptive analysis by coding techniques. This research aims to add the lack of reference on deconstruction, especially parergon on stamps and visual communication designs in Aceh. The research result showed varied meanings from different survivors so that enriching the visual interpretation knowledge of stamps.
Teknik Ukir Ornamen Pendhok di Yogyakarta Noor Rachman Maulana
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3861

Abstract

Ornamen pendhok dibuat dengan cara manual menggunakan alat yang masih tradisional. Berbagai macam ornamen diukir pada media pendhok dengan rapi. Media pendhok yang sangat kecil namun bisa diterapkan ukiran yang rumit dan indah. Tujuan kajian ini untuk mengetahui teknik ukir ornamen pendhok dan mengetahui berbagai macam alat yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pencarian data melalui observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini ditemukan berbagai macam alat ukir yang digunakan, masing-masing alat ukir memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Teknik ukir pendhok mempunyai tiga tahapan, tahap menggambar motif, tahap mengukir, dan mendetailkan motif. Hasil akhir ukiran dipengaruhi keahlian yang dipelajari oleh kriyawan, kecermatan, ketekunan, dan ketelitian, serta kesabaran. Selain itu, penggunaan alat ukir dan tekanan pukulan memengaruhi tinggi rendahnya volume ornamen yang berbentuk relief. Pendhok Ornament Carving Technique in Yogyakarta ABSTRACT Pendhok ornaments are made manually using traditional tools. Various kinds of ornaments are carved neatly on the media. Very small pendhok media but can be applied to intricate and beautiful carvings. This study aims to learn the techniques of carving ornament pendhok and knowing various kinds of tools used. This study uses qualitative methods by finding data through observation and interviews. This study found a variety of carving tools used; each carving tool has its function. Pendhok carving technique has three stages, lottery motifs, lottery motifs, and detailed motives. The result is the carving of skills learned by the craftsman, carefulness, perseverance, accuracy, and patience. In addition, use a carving tool and punch pressure that increases the low volume of ornamentation that forms a relief.
Taktik Kreatif Pengamen Tunanetra Membangun Interaksi Sosial Studi Kasus: Pengamen Tunanetra Malioboro di Yogyakarta Anantha Angriany Sitio
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.4465

Abstract

Mengamen merupakan kegiatan pertunjukan untuk menghibur orang lain di tempat-tempat umum (dengan bernyanyi, menari, maupun bermain alat musik, pantomim, badut) guna mendapatkan uang. Setiap pengamen memiliki taktik kreatifnya sendiri dalam membangun interaksi sosial dengan pendengar atau penontonnya. Artikel ini membahas tentang taktik kreatif pengamen tunanetra di kawasan Malioboro Yogyakarta. Tujuan kajian ini adalah mengeksplorasi berbagai taktik kreatif yang digunakan pengamen tunanetra. Keterbatasan penglihatan yang mereka miliki melahirkan taktik kreatif yang berbeda dengan pengamen pada umumnya (sempurna secara fisik). Menelaah taktik kreatif yang diaplikasikan tunanetra kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Observasi dan wawancara, kombinasi metode mengumpulkan data pada kajian ini. Pemilihan narasumber dengan metode purposive sampling. Seluruh data dianalisis berdasarkan hubungan taktik kreatif dengan tujuan taktik tersebut. Kajian ini menghasilkan, taktik kreatif itu ada di berbagai elemen seperti, speaker dan mic, volume, arah hadap, berbagi tugas, dan jeda. Creative Tactics of Blind Busker in Building Social Interactions A Case Study: Blind Busker in Malioboro Yogyakarta ABSTRACT Singing is a performance activity to entertain other people in public places (by singing, dancing, playing musical instruments, pantomimes, clowns) to earn money. Each busker has their creative tactics in building social interactions with their listeners or audience. This article discusses the creative tactics of blind buskers in the Malioboro Yogyakarta area. This study is to explore various creative tactics used by blind buskers. Their limited vision gave birth to different creative tactics from street singers (physically perfect). They are examining the creative tactics applied by the blind in this study using a qualitative method with a toilet study approach. Observation and interview method combination collected data in this study. Selection of sources using method purposive sampling. Researchers analyzed overall data based on the relationship between creative tactics and the goals of these tactics. This study results in creative tactics in various elements such as speaker and mic, volume, face direction, share tasks, and pause.
Lahirnya Kembali Neoklasikisme melalui Bangunan di Yogyakarta Jalung Wirangga Jakti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3859

Abstract

Neoklasik adalah gerakan utama selama pertengahan abad ke-18 hingga akhir abad ke19 dalam seni dan arsitektur Eropa. Karya dengan gaya ini berfokus pada bentuk seni klasik barat Yunani Kuno dan Roma. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Seni Neoklasik dalam arsitektur di Kota Yogyakarta. Penelitian ini menjadi menarik karena belum ada yang mengkaji bangunan neoklasik yang hadir di tengah keramaian Yogyakarta. Seni neoklasik dapat menjadi sarana hidupnya kembali zaman pencerahan Eropa dalam bentuk bangunan. Kita bisa melihat bentuk ideal dari arsitektur neoklasik dengan kekhasan kolom yang digunakan untuk menahan beban berat dari struktur bangunan. Dan atap yang biasanya memiliki bentuk pokok datar dengan bentuk minor yang lain. Gaya arsitektur neoklasik tidak memiliki kubah atau menara. Eksterior tersebut dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan gaya klasik yang sempurna, seperti pada pintu dan jendela. Pada bagian eksterior penggunaan dekorasi sangat minimalis namun dengan penekanan geometris. Penelitian ini menghasilkan sebuah konklusi yaitu pembangunan berbagai lokasi dengan gaya neoklasik di Yogyakarta, membawa kembali semangat neoklasik sebagai pendorong kelahiran kembali gaya seni dengan kemurnian. Selain itu peraturan daerah dan kecenderungan komunitas membuat gaya ini semakin diminati.The Revival of Neoclassicism through Building in Yogyakarta ABSTRACT Neoclassicism was a major movement during the mid-18th century and continued into the early 19th century in European art and architecture. The creation of this style focuses on classical western art from Ancient Greece and Rome. This research aims to understand neoclassical art in Yogyakarta architecture. This research is interesting because there is no study yet of neoclassical buildings in Yogyakarta. Neoclassical art can be a way to relive the European Enlightenment in the form of buildings. We can see the ideal form of neoclassical architecture with unique columns that can withstand the heavy loads of standard building and roof structures with the main flat and other minor shapes. Neoclassical architectural styles have no domes or towers - the exterior is built to create the perfect classic style, especially for doors and windows. On the exterior, the use of decoration is very minimalist with geometric emphasis. These results suggest that the neoclassical style construction in several locations in Yogyakarta has revived the spirit of neoclassicism as the driving force for the revival of the pure art style. Moreover, local regulations and community tendencies make this style even more desirable.
Proses Pembentukan Kerja Sama Team Section Colour Guard Drum Corps Saraswati ISI (DCSI) Yogyakarta Gilang Abdi Pamungkas
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.5204

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan kerja sama serta kecerdasan sosial dalam proses kreatif section colour guard. Pertunjukan marching band terdapat aspek-aspek pendukung salah satunya mengedepankan aspek uniformity atau biasa dikenal dengan aspek keseragaman. Section colour guard merupakan kelompok di dalam marching band yang menggunakan aspek visual dengan media gerak. Anggota dari Section Colour Guard Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta memiliki latar belakang disiplin ataupun kemampuan yang berbeda-beda. Melalui pengamatan awal peneliti terdapat beberapa anggota yang memiliki latar belakang tari, sedangkan anggota yang lainnya merupakan anggota yang tidak memiliki latar belakang tari. Sehingga hal ini membawa dinamika tersendiri bagi kelompok serta menjadi salah satu masalah dalam menghadirkan lingkungan sosial yang bersifat kohesif. Penelitian ini berupaya menemukan hubungan antara kecerdasan sosial yang dimiliki individu dalam mencapai keseragaman yang menjadi aspek utama dalam pagelaran marching band. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti melakukan observasi, studi pustaka, dan wawancara semi terstruktur terhadap lima narasumber sebagai data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukannya keseimbangan antara aspek teknis dan nonteknis untuk mencapai uniformity. Aspek teknis yang berisi tentang hal-hal teknik untuk menghasilkan pertunjukan yang baik harus memiliki keseimbangan dengan aspek nonteknis yang berisi tentang kecerdasan sosial, sehingga bisa terciptanya sebuah tim yang solid. Dengan demikian, dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa aspek teknis dan nonteknis harus dikolaborasikan dengan baik untuk menciptakan sebuah tim yang ungul. The Process of Forming Teamwork Section Color Guard Drum Corps Saraswati ISI (DCSI) ABSTRACT This study aims to explore matters relating to the ability to cooperate and social intelligence in the creative process of the colour guard section. Marching band performances have supporting aspects, one of which is promoting the uniformity aspect, commonly known as the uniformity aspect. Section colour guard is a group in a marching band that uses visual aspects with motion media. Members of the colour guard section of the Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta have different disciplinary backgrounds or abilities. Through the researcher's initial observations, several members have a dance background, while the other members do not have a dance background. So this brings its dynamics to the group and becomes one of the problems in presenting a cohesive social environment. This study seeks to find the relationship between social intelligence possessed by individuals in achieving uniformity which is the central aspect in marching band performances—using qualitative research methods with a case study approach. Researchers conducted observations, literature studies and semi-structured interviews with five sources as primary data. The study results indicate that a balance between technical and non-technical aspects is needed to achieve uniformity. To produce a good show, the technical aspect that contains technical matters must balance with the non-technical aspect that includes social intelligence to create a solid team. Thus, this study concludes that technical and non-technical aspects must be well collaborated to create a superior team.

Page 8 of 15 | Total Record : 150