cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Perancangan Buku Ilustrasi Cerita Rakyat Suku Malind (Malind Tribal Illustration Book Design) Lejar Daniartana Hukubun
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.329 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3225

Abstract

AbstrakMerauke merupakan tempat yang istimewa, karena berada di ujung timur pulau Indonesia. Salah satu budaya asli dari daerah tersebut adalah suku Malind, yang memberikan keunikan dan kekhasan Kota Merauke. Namun belum banyak dokumentasi secara tertulis. Tujuan yang ingin dicapai adalah merancang buku ilustrasi buku cerita rakyat suku Malind dalam bentuk karakter Wayang Papua, dengan begitu memberikan kebaruan dalam menyampaikan sebuah pesan, serta melestarikan cerita rakyat suku Malind. Metode yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan analisis 5W 1H dan design thinking. Metode yang bervariasi bertujuan untuk mendapatkan data secara valid. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori Desain Komunikasi Visual. Manfaat yang dapat diperoleh dari teori adalah untuk mendapatkan jawaban dari masalah melalui strategi, pengamatan, referensi, serta pengalaman yang mereka alami. Perancangan ini ditujukan untuk anak-anak usia 7 hingga 12 tahun. Perancangan ini menerapkan konsep komunikasi dan ungkapan daya kreatif agar dapat diterima oleh target audience. Selain itu, target audience diharapkan dapat memecahkan masalah melalui pesan visual. Perancangan buku ilustrasi cerita rakyat suku Malind merupakan solusi, agar salah satu kebudayaan Malind berupa cerita rakyat dapat dilestarikan. Misinya agar anak-anak sejak dini mulai mengenal kebudayaan mereka, dengan begitu kebudayaan ini dapat dilestarikan.AbstractMerauke is a special place because it is on the eastern tip of the island of Indonesia. One of the indigenous cultures of the area is the Malind tribe, which gives uniqueness and distinctiveness to the city of Merauke. But not many have documented it in writing. The cool goal is to design a book of illustrations of Malind folklore books in the form of Papuan puppet characters, thus giving newness in delivering a message, as well as preserving Malind tribal folklore. The method used in this design uses 5W 1H analysis and design thinking. Varied methods aim to obtain data validly. Data collection is done through observation, interviews, and documentation. The theory used is the theory of Visual Communication Design. The benefits that can be obtained from theory are to get answers to problems through strategies, observations, references, and experiences they experience. This design is intended for children aged 7 to 12 years. This design applies the concept of communication and expression of creative power so that it can be accepted by the target audience. Also, the target audience is expected to solve problems through visual messages. The design of an illustrated Malind folklore book is a solution so that one of the Malind cultures in the form of folk tales can be preserved. Its mission is that children start to recognize their culture early so that this culture can be preserved. 
Metode Revitalisasi Koreografi Gubang di Jemaja, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau Widyanarto Widyanarto; Denny Eko Wibowo; Siguti A. Sianipar
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.809 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3498

Abstract

ABSTRAKGubang merupakan tarian tradisional yang ada di Desa Jemaja, Kabupaten Anambas, Pulau Letung. Tarian Gubang menurut masyarakat setempat dipercaya secara turun-temurun sebagai tarian bunian. Bentuk penyajian tarinya khas dengan menggunakan topeng. Pertunjukan tari Gubang biasanya dipertontonkan pada hari-hari tertentu, seperti acara pesta perkawinan, perayaan hari kemerdekaan, atau acara pentas seni, dan pesta kebudayaan daerah di waktu malam hari. Tarian ini kini mengalami penurunan eksistensi, berkaitan dengan berkurangnya acara-acara yang memerlukan sajian Gubang. Kondisi ini mendorong upaya penggalian, pembentukan, dan evaluasi melalui aspek koreografi sehingga eksistensi tari Gubang masih terpelihara tanpa mengurangi esensi dari pertunjukannya. Proses revitalisasi pada tari Gubang di Pulau Letung, Jemaja, Kepulauan Anambas, memanfaatkan metode kualitatif dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk koreografi baru. Hasil revitalisasi terwujud dalam penggarapan pola lantai dan tata busana yang baru. Koreografi tari tersebut kemudian akan mendorong minat serta bentuk tindakan pelestarian yang lain.ABSTRACT Gubang is a traditional dance that appearance in Jemaja village, Anambas region, Letung island. According to the community, Gubang dance trusted as a bunian dance. The mode of representation of this dance used the masks. Gubang dance usually only performed at the night on certain days, such as wedding party, a celebration of the independent day, and culture celebration. This dance has a decrease in existence related to reduced events that need Gubang to performed. This condition encourages some effort to study, composing, and evaluating in the choreography aspects, to maintain the existence of Gubang without reducing the essence of performance. The process of revitalizing in Gubang dance in Jemaja used qualitative method intended to re-compose choreography. The result of this action is arranging in the new floor design and costume design. After that, the revitalize method can motivate the community interest for another preserve activities.
Studi Gaya Tari Inai pada Sanggar Sri Kemuning, Panggak Laut, Lingga dalam Perspektif Antropologi Tari Denny Eko Wibowo; Maria Regita Marpaung; Rudy Hartono; Willy Monet Cahyanti; Andy Wijaya Tie
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.088 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3464

Abstract

Abstrak Tari Inai hampir dikenal di seluruh wilayah persebaran masyarakat Melayu di Indonesia. Tari Inai berhubungan dengan pelaksanaan upacara adat perkawinan masyarakat Melayu dalam prosesi Ber-Inai Besar dan Tepuk tepung Tawar. Lingga merupakan daerah yang melestarikan tari Inai, salah satu buktinya dengan pengakuan Unesco terhadap tari Inai pada tahun 2007 sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang didukung dengan tahap pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan langsung pada seniman tari Inai di Panggak Laut, Lingga. Tujuan penelitian ini adalah melakukan studi terhadap gaya tari Inai di sanggar Sri Kemuning, Lingga asuhan Mawardi. Identitas komunal dari tari Inai terdapat pada adab-adab Islami bagi penari laki-laki dan perempuan dalam menyajikan tari Inai di depan majlis. Studi tentang gaya tari dalam perspektif Antropologi Tari dibedakan dalam dua yakni gaya komunal (emblemic style) dan gaya personal (assertive style). Gaya komunal dan personal menjadi dua hal yang berbeda namun tak terpisahkan karena keduanya bersifat saling pengaruh-mempengaruhi. Aspek gerak, iringan tari, rias dan busana, properti tari, durasi penyajian, dan penari dari tari Inai asuhan Mawardi masih mengandung identitas tari Inai secara umum meskipun beberapa diantaranya telah disesuaikan dengan gaya personal yang diperoleh melalui pewarisan turun temurun dari keluarganya. Gaya komunal tari Inai Lingga juga secara umum juga didasarkan pada gaya antar seniman tari Inai yang telah menjadi pengetahuan bersama. The Inai Dance Style Studies in Sanggar Sri Kemuning, Panggak Laut, Lingga in Anthropology of Dance Perspective Abstract The Inai dance almost known in the all of Melayu peoples distribution domain in Indonesia. The Inai dance style related with traditional wedding ceremonies performance of Melayu people in Ber-Inai Besar and Tepuk Tepung Tawar procession. Lingga is a region that conserving Inai dance, one proof of that is Unesco’s recognition for Inai dance in 2007 as one of Intagible Heritage. This research use qualitative method that support by collecting datas through interviews and directly observation to Inai dance artist in Panggak Laut, Lingga. The aim of this research is studying Inai dance style in sanggar Sri Kemuning, Lingga by Mawardi. Communal identity of Inai dance there is Islamic culture for male and female dancer in the public. Dance style studies in Anthropology of Dance perspectives distinguished in communal style (emblemic style) and personal style (assertive style). Communal and personal style are different two things yet inseparable because has interaction or influence. Dance movement, dance music, make-up and costumes, dance property, dance duration, and dancer from Inai dance by Mawardi still contains common Inai dance identity, although there are be adapted with personal style that obtained through hereditary inheritance form his family. Communal style of Inai dance in Lingga commonly based on style of many Inai dance artist that be a shared knowledge.
Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Simbolik Motif Gurda pada Batik Larangan Yogyakarta Septianti Septianti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.131 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.4125

Abstract

ABSTRAKMotif gurda merupakan ragam hias yang terbentuk dari refleksi kebudayaan kita, akan tetapi dalam pemahaman beberapa masyarakat Indonesia terhadap makna motif gurda yang berbeda, adanya perubahan makna konseptual. Beranjak dari hal tersebut penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai bentuk, fungsi, dan makna simbolik yang ada pada motif gurda pada batik larangan Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan multidisiplin, yaitu pendekatan estetika, pendekatan sejarah, dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk gurda yang bervariatif disebabkan oleh hasil penyelesaian dalam pembuatan pola gurda selain itu adanya deformasi dan stilisasi terhadap bentuknya, sementara perbedaan gurda Yogyakarta dengan daerah lain disebabkan adanya faktor internal dan eksternal yaitu sosial kultural. Pada fungsi gurda, perubahan fungsi dari gurda sebagai benda sakral, bentuk status sosial, dan perubahan menjadi komoditas industri. Pada analisis kosmologi yang ada pada motif gurda yang ada pada batik larangan Yogyakarta, gurda melambangkan dunia atas yaitu seseorang yang mengendalikan hidupnya dapat mencapai kebenaran yaitu termasuk dunia atas. Pada batik semen yang terdapat motif sawat ageng melambangkan kekuasaan, keperkasaan yang hanya dikenakan oleh raja, mengacu pada mitologi Hindu-Jawa garuda mewakili dari bentuk manusia.ABSTRACT Gurda motifs are a variety of decorations that are formed from the reflection of our culture, but in the understanding of some Indonesian people towards the different meanings of the Gurda motif, there is a change in conceptual meaning. Starting from this, this study aims to provide knowledge about the forms, functions, and symbolic meanings that exist in gurda motifs in larangan batik of Yogyakarta. The method used in this research is a descriptive qualitative method, with a multidisciplinary approach, namely the aesthetic approach, historical approach, and sociological approach. The results of this study address the varied forms of gurda caused by the results of completion in the making of gurda patterns besides the deformation and stylization of the shape, while the difference between Yogyakarta and other regions is due to internal and external factors, namely social and cultural. In the gurda function changes the function of the gurda as a sacred object, a form of social status, and change into industrial commodities. In the cosmological analysis of the existing motifs of gurda in larangan batik of Yogyakarta, gurda symbolizes the upper world, namely someone who controls his life can achieve the truth, including the upper world. In the cement batik there is a motif of Sawat Ageng symbolizing power, might that is only worn by the king, referring to the Hindu-Javanese mythology of Garuda representing the human form.
Strategi Perancangan Infografik di Layanan Jejaring Sosial Instagram dalam Perspektif Desainer. Designer's perspective on the Strategy of Designing Infographics on Social Network Services (SNS): Instagram Muhammad Harun Rosyid Ridlo
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.541 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3850

Abstract

Penerbitan infografik di Instagram memiliki tantangan berat. Infografik di Instagram harus berhadapan dengan berbagai jenis terbitan dan keberagaman motivasi pengguna. Tujuan kajian ini adalah untuk mengeksplorasi berbagai strategi perancangan infografik di Instagram. Responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 perancang yang ditanya melalui angket daring. Seluruh data dianalisis berdasarkan hubungan antara kualitas dan strategi perancangan infografik. Hasilnya, ada beberapa strategi yang dilakukan para perancang: kesegaran dan urgensi topik, tampilan yang atraktif dan kejelasan informasi, resonansi terhadap emosi dan memori, serta validitas informasi.Infographics posting on Instagram faces some major challenges. It needs to deal with the various types of posts and the diverse motivations of the users. Hence, this study aims to explore various strategies of infographics design on Instagram. The total respondents are 32 designers who have answered an online questionnaire. Meanwhile, the collected data were analyzed based on the relation between the infographics design quality and strategy. The result shows that there are several strategies implemented by the designers, those are; immediacy and urgency of the topics, attractive displays and information clarity, resonance with emotion and memories, and information validity.
Partisipasi Aktif OMK dalam Mengembangkan Inkulturasi Musik Liturgi di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem Yogyakarta Melania Septian Desti Saraswati
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.82 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3865

Abstract

AbstrakFokus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana partisipasi orang muda katolik dalam mengembangkan inkulturasi musik liturgi di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem Yogyakarta. Teori yang digunakan berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan ke II dan landasan inkulturasi musik liturgi menurut Karl-Edmund Prier, SJ dan Emanuel Martasudjita, Pr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, wawancara terstrutur dan tidak terstruktur serta menggunakan model purposive sampling. Hasil dari penelitian ini adalah sebagian besar OMK telah terlibat aktif dalam kegiatan Gereja maupun sebagai petugas musik liturgi. Kendala yang dihadapi OMK saat ini adalah mengenai bahasa, cara menyanyikan melodi, alat musik dan kurangnya pemahaman makna yang terkandung dalam inkulturasi musik liturgi. Oleh sebab itu, OMK membutuhkan pendamping yang menjadi rujukan yang dekat dan dapat dipercaya serta konsisten dalam melatih dan membimbing untuk dapat ikut serta berpartisipasi dalam mengembangkan inkulturasi musik liturgi.Kata kunci: partisipasi, orang muda katolik, inkulturasi, musik liturgi
Seni Tari sebagai Metode Pembinaan di Lapas Kota Jantho Aceh Besar Nadra Akbar Manalu; Fentisari Desti Sucipto; Tria Ocktarizka
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.391 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3429

Abstract

ABSTRAKSeni tari mempunyai peran yang penting dalam kehidupan kita, yaitu sebagai media ekspresi, media komunikasi, media berpikir kreatif, dan media pengembangan bakat. Pelatihan seni tari sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemandirian dan hal positif bagi warga binaan pemasyarakatan. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Jantho Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mendeskripsikan proses pembinaan kepada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Jantho dalam bidang seni tari Rapa’i Geleng. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain non-eksperimental dengan metode “Ex post facto casual comparative research” di mana akan diobservasi pengaruh dari penerapan metode pembinaan melalui seni tari terhadap perilaku dan sikap dari warga binaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembinaan terhadap warga binaan Lapas Kota Jantho tepat sesuai sasaran dan memenuhi ekspektasi penulis. Hasil pembinaan juga memberikan dampak yang positif terhadap warga binaan Lapas Kota Jantho yang ditandai dengan adanya peningkatan karakter, mental, disiplin, rasa gotong-royong, dan kekeluargaan. Selanjutnya, lapas bukanlah sebuah lingkungan yang memaksakan seseorang untuk berada dalam tekanan psikologis. Hal ini dapat dicegah dengan adanya proses pembinaan-pembinaan dan pengembangan karakter terhadap warga lapas. Proses pembinaan ini juga memberikan manfaat yaitu terjalinnya hubungan baik antara ISBI Aceh dan Lembaga Pemasyarakatan Kota Jantho.ABSTRACT Dance performance plays an important role in human life as an expression media, communication media, creative thinking media, and gaining talent media. These include the people who spend their time in prison or inmate. The coaching of dance performance can improve their positive mind and activities especially becoming an autonomous person. The design method used Ex post facto casual comparative research which observed the influence of coaching method through dance performance towards to behavior and attitude of inmates. The conclusion of this research is the coaching method for inmates got a positive impact. Several activities have been applying to maintain their character building. The aim is for preventing them from doing bad things for the second time. Some of those activities are religion life and activities on arts. Prison is not a place where force someone to live in high psychological pressure. It can be prevented by doing the coaching process and character building to the inmates. This process also transferred some relationship beneficial from ISBI Aceh to the Jantho Prison.
RETRACTED ARTICLE: Perspektif Pendidikan Seni Musik Berorientasi Humanistik Anarbuka Kukuh Prabawa; A.M Susilo Pradoko; Cipto Budi Handoyo
INVENSI Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i1.4793

Abstract

Artikel ini telah ditarik kembali oleh penerbit berdasarkan temuan kesamaan publikasi (publikasi ganda) pada jurnal Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, Volume 19 Nomor 1, April 2021: 55-63 (https://journal.uny.ac.id/index.php/imaji/article/view/37093). Artikel ini telah mengikuti prosedur yang berlaku pada manajemen jurnal INVENSI, yaitu Penulis telah menerima hasil ulasan dan telah memperbaiki artikel sesuai dengan hasil ulasan. Namun, salah satu syarat penyerahan naskah artikel untuk publikasi dalam jurnal ini adalah bahwa penulis menyatakan secara eksplisit bahwa karya mereka asli dan belum muncul dalam publikasi di tempat lain, dan juga sedang tidak dipertimbangkan oleh jurnal lain telah dilanggar oleh Penulis. Karena itu, artikel ini menunjukkan penyalahgunaan parah terhadap sistem penerbitan ilmiah.
Representasi Kesadaran Budaya Lokal Perupa dalam Penciptaan Karya Seni Rupa dan Desain Era Kontemporer Ernawati Ernawati; Renny Nirwana Sari
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.4371

Abstract

Era kontemporer sudah tidak terikat kekakuan dan penjara peraturan, tetapi lebih kepada berkarya dengan berangkat dari akar yang bersifat tradisional, namun di sisi lain merindukan kreasi dan inovasi dalam kebaruan. Fenomena kontemporer dalam seni rupa dan desain bukan ekplorasi estetis semata, tetapi selain dari pengalaman pribadi perupa dipengaruhi situasi sosial budaya yang membangun konteks dengan representasi visual yang diselaminya. Representasi dapat berupa praktik kebudayaan, dapat berupa artefak, maupun konsep. Tujuan dari penelitian ini difokuskan untuk dapat mengetahui sejauhmana representasi nilai budaya lokal dalam berkarya, ideologi yang memengaruhi perupa untuk memilih jalan berkarya dengan tumbuh bersama budaya lokal di era kontemporer, serta bentuk dan makna pada karya perupa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-naturalistik dengan menggali data dari setting alamiah lapangan dengan pendekatan tekstual-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perupa memilih kesadaran akan budaya sebagai cara pandang, pilihan, dan kelahiran karya-karya perupa dengan penegasan memosisikan diri sebagai jembatan di antara keberagaman guna membangun sebuah dialog dirinya dengan cita-rasa kehidupan di sekelilingnya, yaitu budaya kosmologi. Representasi dapat dibentuk oleh tradisi dan terpengaruhi budaya lain, namun memiliki watak ‘setempat’, sehingga memiliki akar. Representasi kesadran lokal dalam karya dapat disajikan melalui Re-aktualisasi Tradisi: Re-Imajinasi, Perekaman Tradisi, Pemaknaan Simbolik bahkan Kontra-Tradisi.Representation of Artist Local Cultural Awareness in the Creation of Art and Design Works Contemporary EraABSTRACTThe contemporary era has not bound yet by rigidity and prison regulations, but the works are rather started from traditional roots. On the other hand, they miss the creation and innovation of novelty. The contemporary phenomenon in art and design is not merely aesthetic exploration. However, it is a part of the artists' personal experience influenced by social and cultural situations that build the context with the visual representations they delve into. A representation can be in the form of cultural practices, artifacts, or concepts. This research aims to focus on knowing to what extent the representation of local cultural values in work, the ideology that influences artists to choose their work manner by growing with local culture in the contemporary era, and the forms and meanings of the artists' works. This study used a qualitative naturalistic research method by collecting data from natural settings with a textual, contextual approach. The results showed that the artists chose cultural awareness as the perspective, choice, and birth of artists' works by asserting their positions as a bridge between diversities to build a dialogue with the tastes of life around them, namely cosmological culture. Representations can be formed by traditions and influenced by other cultures; however, they have a "local" character, so they have roots. Representations of local awareness in works can be presented through the Reactualization of Traditions: Re-Imagination, Recording of Traditions, Symbolic Meanings, and Counter-Traditions.
Pengaruh Teknik Pukul pada Tatah Timbul Kulit Yonata Buyung Mahendra
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v5i2.3864

Abstract

Teknik pukul merupakan teknik yang dilakukan dengan cara memukulkan/mengetukkan alat pukul ke permukaan benda dengan bantuan tangan dan otot sebagai poros kekuatan. Tatah timbul kulit merupakan teknik dalam kerajinan yang terbuat dari kulit tersamak sebagai media eksplorasi untuk memberikan efek timbul dari permukaan karya yang dibuat. Penelitian ini untuk mengetahui cara seniman mendayagunakan tubuhnya, perlakuan khusus yang diberikan, dan pelacakan mengenai teknik pukul yang digunakan oleh seniman. Peneliti menggunakan pengalaman kualitatif sebanyak lima kali untuk mendapatkan proses pengerjaan secara utuh, mulai dari perancangan hingga proses penatahan selesai. Hasilnya, keputusan seniman bergantung pada proses pengerjaan dan pengalaman seniman dalam berkarya. Perbedaan perlakuan pada pembasahan dan proses perancangan, pengenalan bahan, dan pemolaan adalah bentuk keputusan seniman dalam berkarya. Kegagalan dan keberhasilan tatah timbul kulit bergantung pada sudut pukul dan kelembaban kulit. Kekuatan pukul yang cukup besar akan memengaruhi kerusakan dan melesetnya pukulan yang dilakukan.The Impact of Hit Technique in Leather Carving ABSTRACT The hit technique is a technique carried out by striking/tapping the instrument against the object's surface with hands and muscles as the axis of strength. Leather carving is a craft technique made from tanned leather as an exploration medium to give an embossed effect on the surface of the work being made. This research is to find out how artists utilize their bodies, special treatment given, and tracking of the technique used by artists. Researchers use the qualitative experience as much as five times to get the whole work process from design to the carving process. As a result, artists' decisions depend on the process of work and artists' experience in their work. Differences in treatment in the wetting and design process, the introduction of materials, and patterning are forms of artists' decision to work. Failure and success of the skin's appearance depend on the skin's angle of hit and moisture. The strength of a large enough hit will affect the damage and miss the blow made.

Page 7 of 15 | Total Record : 150